Chapter 6 : The pain of losing you

Aku berlari keluar ruang I.C.U untuk mencari dokter dan mengabarkan bahwa Oshitari sudah siuman. Dan akhirnya aku bertemu dengan satu dokter, secepatnya aku membawa dia ke I.C.U untuk memeriksa bagaimana keadaannya.

Sementara para dokter memeriksa keadaannya, aku menghubungi orangtua Oshitari kalau putra mereka sudah mulai menunjukkan pergerakkan. Mereka menanggapinya dengan positif, katanya akan segera pergi ke rumah sakit sekarang juga. Aku juga mengirim pesan singkat kepada semua temanku, termasuk teman-teman bermain tenis waktu SMP, mengabarkan kepada mereka tentang ini. Tetapi aku belum bisa berharap banyak dari semua ini. Aku terus berdoa di luar ruangan I.C.U, memohon yang terbaik untuk Oshitari.

Satu dokter lalu keluar dari ruangan itu, dan menemuiku yang masih sibuk menulis pesan singkat di ponselku.

"Untung kau cepat mengabari kami, Nak."

"Bagaimana keadaannya, Dok? Apa yang terjadi…"

"Sesaat setelah kau memanggil kami, ada darah yang keluar dari hidung dan sedikit dari mulutnya. Tetapi kami berhasil mengatasinya. Hanya saja…"

"Kenapa, Dok? Dia baik-baik saja khan?"

"Err…dia memang sudah siuman. Tetapi kondisinya…"

"Katakan terus terang, Dok!"

"…Dia lumpuh…"

"…"

"Ya, seperti yang pernah aku bilang waktu itu. Jika dia harus sadar dari komanya, maka dia akan bertahan hidup dalam keadaan lumpuh. Syaraf tulang belakangnya sudah tidak bisa diperbaikki lagi. Patah pada tulang leher, tangan, dan kakinya sudah permanen. Dia akan hidup dengan kursi roda dan banyak bantuan alat medis."

"Dia…tidak akan bisa berbicara?"

"Hanya akan mengeluarkan suara tidak jelas, begitu lirih. Kami sempat mendengar dia mengeluarkan suara. Mungkin dia ingin memanggil namamu, tetapi tidak bisa dikatakan dengan jelas."

"Saya ingin melihatnya, Dok. Saya ingin…"

Dokter ini tadi mengerti bagaimana perasaanku. Dia mengajakku masuk ke ruang I.C.U kembali. Tempat tidur Oshitari masih dikelilingi banyak dokter dan perawat. Tetapi pemandangan di atas tempat tidur itu sekarang sudah berbeda dari yang tadi aku lihat. Oshitari sudah membuka matanya, meski tidak seluruhnya terbuka. Dia sudah bernafas meski dengan bantuan alat. Dia melihat aku datang dari sudut matanya. Dia tidak bisa lagi menolehkan lehernya karena sudah dipasang penyangga.

"Yuushi…"

Dia tidak bisa bicara, mulutnya membuka dan menutup tetapi tidak ada suara yang keluar. Aku langsung menggenggam tangannya yang berusaha dijulurkan padaku. Aku membelai kepalanya sekali, dan mencium keningnya. Air mataku langsung tumpah seketika, entah karena merasa senang karena dia sudah sadar, atau karena aku tidak tega melihat kondisinya.

0o0o0o0o0

Satu minggu setelahnya, pihak orangtua Oshitari bersikeras ingin merawat anaknya di rumah. Mereka sudah membayar satu tim dokter dan perawat untuk dipekerjakan di rumah besar mereka. Aku rasa ini keputusan ini diambil dengan sangat bijak. Mereka ini orang sibuk, dan tidak bisa seterusnya melakukan kunjungan ke rumah sakit. Mereka memilih membawa pulang anak mereka apa pun keadaannya.

Lalu, bagaimana kabar sekolah?

Untukku, tidak ada perubahan. Musim panas telah berakhir. Aku kembali memulai aktifitasku di sekolah. Namun aku kehilangan separuh nyawa karena Oshitari tidak ada di sekolah. Teman-temanku di sekolah sudah tahu mengenai kabar Oshitari ini. Dengan tidak adanya Oshitari, suasana sekolah jadi sedikit suram. Dia ketua OSIS, dan sekarang jabatannya itu diserahkan sepenuhnya kepada wakilnya. Tidak kepadaku, karena aku sudah tidak menginginkan posisi apapun di sekolah ini. Begitu pula dengan klub tenis. Meski posisi kapten sudah diberikan kepadaku, aku menolak. Percuma mempunyai begitu banyak jabatan penting di sekolah jika tidak punya pendukung setia macam Oshitari.

"Hey, Atobe-kun. Seseorang dari kelasnya Oshitari mencarimu."

"Siapa?"

"Kalau tidak salah, dia ini menjabat sebagai sekretaris OSIS. Namanya Katsuragi Sora. Itu dia di luar."

Masaki bilang ada orang dari kelasnya Oshitari mencariku. Aku agak gugup bertemu dengan orang ini. Bukannya apa-apa, karena sepertinya aku pernah melihat dia berjalan mendampingi Oshitari. Saat aku bertemu, rupanya dugaanku benar. Laki-laki berbadan lebih tinggi dariku ini kemudian mengangguk menyapaku. Aku membalasnya, mencoba untuk tersenyum.

"Apa kabar, Atobe?"

"Baik, terima kasih."

"Aku Katsuragi Sora, teman sekelasnya Oshitari."

"Ini pertama kalinya aku berbicara dengan teman sekelasnya. Biasanya kalian…"

"Aku tahu. Bisakah kita bicara di tempat lain? Maksudku, di sini terlalu ramai. Jam istirahat sekolah tidak begitu menyenangkan untuk dipakai bicara serius."

"OK, di mana saja aku ikut."

"Ikut aku ke ruang OSIS."

Sedikit gambaran, orang bernama Katsuragi Sora ini mempunyai tatapan mata sangat dingin di balik kacamata perseginya, tidak begitu ramah dengan orang lain. Dia populer di kalangan para siswa karena beberapa hal. Pertama, dia ini anak seorang pemilik perkebunan teh terkenal di Jepang. Kedua, dia sekretaris OSIS. Ketiga, dia tampan dan sangat misterius. Kira-kira begitulah tanggapan orang mengenai Katsuragi.

"Silakan masuk, Atobe."

"Terima kasih."

"Ceritakan padaku tentang Oshitari."

"Sekarang dia dirawat di rumahnya. Sudah dua bulan lebih dia dirawat di rumah sakit, dan keluargnya menginginkan anaknya mendapat suasana perawatan yang lebih privat."

"Sudah lama dia di rawat di rumah?"

"Sekarang genap dua minggu."

"Bagaimana keadaannya?"

"Dia lumpuh total. Sudah tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya lagi. Makan dan minum harus dibantu dengan selang. Nafasnya pun masih membutuhkan bantuan oksigen. Sehari-harinya habis di tempat tidur, kadang keluar dengan kursi roda ke taman rumahnya sekedar menghirup udara segar."

"Begitu…"

"Dia tidak bisa berbicara juga. Hanya keluar suara, tetapi tidak jelas. Itu kondisi terakhir saat aku menjenguknya ke rumahnya. Kira-kira dua hari yang lalu."

"Aku hanya sempat satu kali menjenguknya ke rumah sakit bersama teman-teman sekelas. Dia masih koma saat itu."

"…"

"Oshitari ini…banyak bicara tentangmu, Atobe."

"Apa?"

"Terus terang, dia sangat mementingkanmu dalam segala urusan. Hanya saja para senior membatasi ruang geraknya."

"Kau tahu sesuatu tentang itu?"

"Ya, tentu saja. Dia banyak bicara denganku di sekolah. Karena dia sangat populer di sekolah ini, para senior mulai mengatur kesehariannya di sekolah. Dia dipersiapkan untuk menjabat banyak posisi di sekolah. Salah satunya adalah menjabat sebagai ketua OSIS."

"…"

"Aku adalah orang yang selama ini sering mendengar keluh kesahnya. Dia selalu kepikiran dirimu. Dia merasa jarak yang dibuat di antara kalian sudah terlampau jauh. Dia sendiri bingung bagaimana caranya bisa lepas dari jeratan orang-orang itu."

"Aku pikir kau terlibat dalam urusan ini, Katsuragi. Maksudku, kau juga ikut ambil andil untuk membatasi ruang geraknya."

"Aku tidak menyalahkanmu sampai mengeluarkan pendapat seperti itu. Tetapi pada kenyataannya, aku pun berusaha membantunya keluar dari masalah ini. Hanya saja semua itu terlambat, sampai kalian terlibat pertengkaran besar. Lalu disusul dengan kecelakaan fatal yang menimpa dirinya."

"…"

"Atobe, aku ingin tanya sesuatu padamu. Bagaimana rasanya tidak melihat Oshitari di sekolah? Aku tahu kalian berdua sangat dekat, bahkan melebihi orang pacaran sekali pun."

"Kami…hanya teman, itu saja."

"Tidak, aku rasa lebih dari itu. Aku bisa merasakan kedekatan kalian meski pada kenyataannya kalian saling menjauh satu sama lain. Dari cara Oshitari membicarakanmu, itu sudah menunjukkan bahwa ka-"

"Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan, Katsuragi?"

Aku agak menekan nada bicaraku saat menanyakan itu. Aku ingin menakutinya, tetapi Katsuragi malah tersenyum. Dia lalu berdiri dari kursi di balik meja kerjanya. Dia berjalan mendekatiku.

"Apa kau kesepian, Atobe?"

"Eh?"

"Aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang. Tanpa ada Oshitari, kau tidak bisa berbuat apa-apa. Kau kehilangan sesuatu tanpanya."

"Apa maksud-"

"Bagaimana kalau…aku menggantikan Oshitari untukmu?"

"Katsuragi…"

"Apakah kau tidak menemukan sesuatu yang serupa dengan Oshitari, dalam diriku?"

"Aku tidak pernah mengenalmu sebelumnya. Mana mungkin ak-"

BRAK!

Sekarang posisiku bersandar membelakangi pintu keluar ruang OSIS. Tanganku memegang gerendel pintu. Dan yang paling mengejutkan adalah satu tangan Katsuragi ini seperti mencegahku keluar, dia meletakkan tangannya di samping kepalaku. Nafasku tersengal, disusul dengan deru nafas Katsuragi di dekat telingaku ketika dia mencondongkan wajahnya dekat padaku. Tangannya yang lain menyingkirkan tanganku dari gerendel pintu, dan dia mengunci pintunya.

Aku mulai ketakutan sekarang!

"Atobe…aku menyukaimu."

"Tidak mungkin!"

"Aku iri pada Oshitari yang bisa selalu dekat untukmu. Kau tahu? Aku sengaja menjauhkannya darimu karena aku tidak bisa melihat kalian bersama."

"Mengapa kau bicara beg-"

"Bisakah kau diam sekarang? Di ruangan ini sudah tidak ada siapa-siapa, tidak ada yang melihat kita juga. Hanya ada kau dan aku."

"Apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan membuktikan bahwa aku serius dengan kata-kataku, Atobe Keigo."

"Aku tidak suka caramu memanggil namaku, Katsuragi! Biarkan aku pergi dari sini!"

"Apa tidak bisa…aku untukmu, Atobe?"

"Jangan bicara yang aneh-aneh! Oshitari…dia itu…ah, intinya kau tidak akan bisa menggantikan dia! Kau sudah paham jawabanku khan? Sekarang, biarkan aku pergi!"

"Kau tidak akan bisa pergi, Atobe!"

Sepertinya tenaga Katsuragi ini lebih besar dariku. Saat aku memberontak dari dekapannya, dia kemudian menarikku dari pintu dan membantingku ke sofa. Aku jatuh terlentang, kepalaku membentur lengan sofa yang keras. Lalu dengan cepat, Katsuragi langsung melompat ke atasku dan melakukan aksinya.

Dia ingin memperkosaku!

Demi Tuhan, dia ingin memperkosaku!

Dia dengan kasar merobek kemejaku. Aku berusaha berteriak minta tolong, tetapi sepertinya percuma karena tidak akan ada yang mendengarku dari dalam. Tangan-tangan Katsuragi sudah mulai menjelajah seluruh tubuhku. Aku bahkan kehabisan tenaga untuk memberontak.

"Hentikan! Aku tidak mau!"

"Berteriaklah, tidak akan ada yang mendengarmu juga, Atobe. Ah, aku membayangkan apakah Oshitari sudah melakukan 'ini' padamu. Menikmati tubuhmu, menikmati sisi terdalam tubuhmu…"

"Jangan sentuh aku, brengsek! Ah, t-tidak!"

Sakit, perih, panas, semuanya bercampur menjadi satu dalam tubuhku. Ini murni pemerkosaan, mana mungkin aku bisa menikmatinya? Kurang ajar orang ini, berani menyentuh tubuhku tanpa persetujuanku. Kenapa ada saja orang yang jahat padaku? Kenapa dia memanfaatkan kekosonganku? Kenapa dia bisa memanfaatkan rasa sakit hatiku saat aku sedang kehilangan Oshitari? Dia menari di atas lukaku, di atas penderitaanku, di atas penderitaan Oshitari juga.

Yuushi…

0o0o0o0o0

30 menit setelahnya, Katsuragi membebaskan aku dari ruang OSIS. Dia meminjamkan kemejanya untuk aku pakai keluar dari sini. Badanku sakit semua, aku merasa ada bagian tubuhku yang terluka. Aku berjalan sempoyongan. Jam pelajaran pasti sudah mulai, dan aku memilih untuk tidak masuk kelas.

Aku keluar dari gedung sekolah dan pergi ke klub tenis. Di ruang gantinya, terdapat shower room. Aku masuk ke sana. Aku membuka seluruh pakaianku dan menenggelamkan diriku di bawah guyuran air dingin. Bersamaan dengan bulir-bulir air pancuran yang membasahi tubuhku, aku merasakan air mataku ikut mengalir, ikut berbicara atas rasa sakit yang tengah melanda diriku. Dan sekilas, aku melihat darah mengalir di antara kedua kakiku.

"Yuushi…maafkan aku…maafkan aku!"

*Atobe's screaming sound*

Aku berteriak kencang, bersamaan dengan suara derasnya air pancuran yang keluar membasahiku. Aku jatuh berlutut, aku mencengkeram kepalaku. Aku memukul lantai berkali-kali, mengeluarkan segala emosi yang terpendam dalam hatiku. Aku menangis, aku berteriak, aku menghujat…

Menghujat diriku…

Menghujat semua orang...

Menghujat Katsuragi yang sudah memperkosaku…

Menghujat Tuhan karena telah memperlakukanku dengan tidak adil…

To be continue~


Atobe : woy, kRieZt!

kRieZt : *mulai cari tempat buat ngumpet*

Atobe : EDAN! Ore-sama diperkosa! Apa maksudnya nih! Mana tuh author sialan? *bawa2 golok*

Oshitari : wah, aku gak ikutan deh…

Atobe : yak iyalah! Khan kamu gak tau aku diperkosa! Males banget deh nih ceritanya, mana tuh bocah? Mau Ore-sama cincang halus!

Halalaaaah…ngeri banget sih? Saya juga gak nyangka bakal bisa nulis begini. Hm…comment/review-nya masih ditunggu lho…^^; *kabur dari Atobe*