Tap Tap Tap
Suara langkah seorang pemuda yang beradu dengan lantai kayu menggema di seluruh ruangan. Langkahnya terdengar begitu tergesa-gesa. Entah hanya perasaannya saja atau memang lorong yang menghubungkan beberapa ruangan dikediamannya itu sudah jadi lebih panjang dari biasanya, ia tidak peduli. Ia kambali memacu langkahnya lebih cepat dari biasanya hingga menimbulkan suara berisik yang sangat jarang ditemui di rumah tradisional itu.
Pemuda berambut merah itu terus melangkah setengah berlari dengan raut wajah tegang. Helaian merah darahnya bergoyang seiring langkah kakinya. Hingga ketika ia melihat pintu kamar itu, wajahnya mulai sedikit cerah.
SREEKKK
Pemuda bermarga Sabaku itu menggeser pintu kamar dengan -sangat- kuat dan kasar, membuat semua kepala yang ada di kamar itu sontak mengalihkan perhatian kepada pemuda bertato kanji 'Ai' di dahinya itu.
Matanya bergerak liar memperhatikan satu-persatu orang yang ada di dalam kamar tersebut, memastikan semua temannya berada di sana mengingat hari sudah senja. Dadanya naik turun seiring dengan nafasnya yang tersengal-sengal. Oh, dan jangan lupakan keringat yang membanjiri wajah tampannya itu.
"Ada apa Gaara? Kau tampak berantakan." tegur Pein sambil menaikkan satu alisnya. Ia kini sedang berbaring santai dengan kedua lengan terlipat sebagai bantalnya.
"Ada yang harus kubicarakan dengan kalian, aku- mana Sasori?" belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Gaara harus celingak-celinguk mencari sosok saudara sepupunya tersebut.
"Sasori belum kembali sejak siang. Kami pikir dia bersamamu, karena tadi siang dia bilang ingin bertemu denganmu." jawab Deidara santai sambil mengedikkan bahunya.
"Kalau begitu cepat cari dia," Gaara menatap Deidara tajam, sedangkan Deidara hanya mengangguk santai. "Yang lainnya ikut aku!"
.
.
.
.
.
.
.
Disclaimer Masashi Kishimoto
Story by Minazuki Miharu
Warning :
AU, OOC, Typo's, Gaje, Alur gak jelas, Bahasa Kaku.
Don't Like, Don't Read
No Flame!
.
.
.
.
.
.
.
Cavalier
.
.
.
Happy Reading.
.
.
.
Sunagakure's Training Field
.
.
.
Suasana sore yang seharusnya dingin dan sejuk, berubah menjadi 'sedikit' panas saat sepasang insan berbeda jenis kelamin itu saling bertukar pandangan yang tak biasa. Ya, sangat tidak biasa karena Sakura –gadis berambut merah muda panjang sepunggung itu- menatap tajam pada Sasori -pemuda berambut merah didepannya. Sementara Sasori hanya tersenyum tipis melihat ekspresi Sakura yang sangat langkah mengingat ia selalu kelihatan datar dan tanpa emosi.
"Bagaimana kau bisa tahu. Siapa kau ini sebenarnya." desis Sakura tajam.
"Aku Akasuna Sasori, saudara sepupu dari Sabaku Gaara yang baru saja kau temui. Salam kenal... Senju Sakura." sahut Sasori dengan seringai menyebalkannya.
"..." tatapan Sakura kian menajam. Jika saja di dunia ini tatapan bisa membunuh, maka Sasori adalah salah satu korbannya.
"Aa, maksudku Haruno Sakura." ralat Sasori sambil tersenyum menang.
"Apa yang kau inginkan." desis Sakura masih menatap Sasori dengan tajam dan suaranya terdengar sangat dalam.
"Bukankah sudah kukatakan padamu? Aku ingin kau bergabung dengan kelompok kami. Tujuan kita sama jadi kupikir ada baiknya jika kita melakukannya bersama." jelas Sasori.
"..."
"Kau takkan bisa melakukannya seorang diri, Sakura. Lagipula apakah kau pikir teman-temanmu hanya akan menggangguk setuju dan tersenyum manis saat kau mengatakan yang sebenarnya pada mereka? Begitupun dengan Gaara, Temari dan Kankuro... dan juga aku."
Sasori memelankan suaranya saat mengucapkan kata-kata terakhir agar tak terdengar oleh Sakura. Namun sayangnya Sakura masih bisa mendengarnya walaupun samar, dan itu membuat Sakura tertegun. Tapi layaknya kecepatan cahaya(?) Sakura dapat mengembalikan emosinya seperti semula.
"Mereka tidak seperti yang kau pikirkan, Sasori. Mereka bisa saja melakukan hal yang kau bilang tadi. Manusia tidak bisa ditebak." sanggah Sakura sarkastik.
"Kau benar, manusia memang tidak bisa ditebak. Termasuk olehmu sekalipun. Jadi jangan sampai pikiran-pikiran semacam itu membuatmu meragukan teman-temanmu." balas Sasori sambil menatap Sakura tajam. Sedangkan Sakura hanya menanggapinya dengan tenang.
Cukup lama mereka berpandangan hingga akhirnya sebuah suara memecah konsentrasi diantara mereka.
"Hei, SASORI!"
Tepat di ujung sana, di tepi lapangan, berdiri seorang pemuda berambut pirang ala ponytail tengah melambai(?) ke arah Sasori.
Sasori memandang Sakura sejenak sebelum beranjak menuju Deidara, pemuda berambut pirang tersebut.
Sakura memandang punggung tegap milik Sasori yang mulai menjauh. Lalu tiba-tiba saja hatinya berdenyut sakit. Hanya dengan melihat sosok Sasori saja membuat Sakura mengingat perasaan itu lagi. Perasaan yang sangat Sakura benci karena dirinya tidak bisa menemukan alasan dan penjelasan yang logis akan perasaan yang dirasakannya ini. Sakura bahkan tidak bisa menggambarkan perasaannya dengan kata-kata. Dadanya terasa sakit, ngilu, sesak, lega dan... rindu ? disaat yang bersamaan.
Sejak bertemu dengan pemuda itu kemarin malam, Sakura berusaha keras mengingat dimana dia pernah bertemu dengan pemuda tersebut sebelumnya. Wajah itu, senyumannya, semuanya terasa sangat familiar di mata Sakura. Dan perasaan ini, entah mengapa ia tidak bisa mengingat alasan mengapa perasaan ini terus muncul tiap kali Sakura melihat Sasori.
Sakura terus memperhatikan Sasori yang tampaknya tengah membicarakan hal yang serius di ujung sana bersama pemuda pirang itu. Namun tak berlangsung lama karena pada detik berikutnya pemuda berambut merah itu segera berbalik dan menghampiri Sakura kembali.
Wajahnya menjadi sedikit serius dan senyumannya terlihat sedikit dipaksakan saat ia berbicara pada Sakura.
"Sakura, aku pergi dulu. Kuberi waktu berpikir sampai besok. Tenang saja, kau tidak perlu mencariku karena aku yang akan menemuimu di penginapan. Dan jika mungkin, ajaklah juga teman-temanmu karena kita juga akan membutuhkan bantuan mereka." ujar Sasori dengan sedikit terburu-buru.
"Kau bahkan mengetahui penginapan kami." sindir Sakura.
"Begitulah," cengir Sasori. "Baiklah, aku pergi!"
Tanpa menunggu persetujuan dari Sakura, Sasori segera melesat meninggalkan lapangan latihan itu bersama dengan Deidara.
Sementara itu Sakura memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang.
.
.
.
.
.
.
.
Somewhere Else
.
.
.
"Akh..." rintih seorang pemuda yang tengah diangkat ke udara hanya dengan satu tangan oleh seorang gadis berambut merah pias. Sang gadis pun menyeringai saat melihat darah segar mulai menggenangi tangan kirinya yang tengah mencekik leher sang lawan.
"Kau bersemangat sekali, Tayuya." ujar seorang laki-laki yang rambutnya diikat ekor kuda, Kidomaru. Kidomaru pun juga berhasil menumbangkan dua orang sekaligus.
"Berani sekali mereka mengirim orang-orang tidak berguna ini untuk menyerang kita," maki Tayuya. "Mereka pikir kita lemah, apa?" Tayuya melirik ke sekitarnya, kira-kira masih tersisa limabelas orang yang bersiap-siap menyerang mereka.
Selesai mengatakan hal itu, Tayuya segera melemparkan tubuh tak bernyawa yang berada di tangannya lalu kembali menyerang musuh-musuhnya yang lain. Ia menendang, memukul, bahkan menebas musuhnya dengan sadis. Teman-temannya yang lain pun tak kalah sadisnya. Bahkan si kembar Sakon dan Ukon, berhasil membelah tubuh salah satu musuh mereka menjadi dua bagian. Membuat darah segar dan organ-organ dalam milik orang tersebut berceceran kemana-mana.
Tak butuh waktu yang lama bagi Kimimaru, Tayuya, Jirobou, Kidomaru, Sakon, Ukon, Suigetsu, Juugo, dan Karin untuk menyingkirkan semua musuh mereka.
"Hei, bukankah seharusnya kita menangkap mereka hidup-hidup? Kenapa malah membantai mereka seperti ini?" tanya Juugo sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Siapa yang peduli? Kita akan mendapatkan Mage yang lebih banyak lagi dari ini!" sahut Sakon.
"Hahaha... mengorbankan pengganggu kecil untuk hal yang lebih besar itu lebih baik." timpal Ukon sambil tertawa nista.
"Tapi siapa mereka ini sebenarnya?" tanya Karin entah kepada siapa.
"Sepertinya mereka berasal dari Amegakure. Mereka pasti sedang berjaga-jaga disini dan memutuskan untuk menyerang kita." sahut Suigetsu.
"Itu hanya pengalih perhatian. Aku yakin mereka sudah menyusun rencana sementara kita menghadapi para cecurut ini." sahut seorang laki-laki berambut perak dengan wajah datarnya.
Tampak di sekeliling laki-laki itu ada sepuluh mayat Mage dengan luka yang sangat mengenaskan ditumpuk menjadi satu. Lalu tak jauh dari tumpukan mayat itu, masih ada sekitar sepuluh mayat lagi yang 'berserakan' dengan kondisi yang tak kalah mengenaskan. Ada yang tubuhnya tercabik-cabik, hangus, bahkan ada yang melotot ngeri menahan rasa sakit yang amat sangat.
"Kalau yang dikatakan Kimimaru itu benar, tampaknya Amegakure akan menjadi lawan yang cukup tangguh. Aku jadi tidak sabar!" Tayuya menyeringai kejam.
"Santai saja, Tayuya. Besok kita akan menyerang mereka, untuk sekarang kita bermalam saja disini." ujar Jirobou santai.
Kidomaru, Juugo, Sakon, Ukon, Karin, Suigetsu, serta Kimimaru mengangguk setuju sementara Tayuya mendengus sebal. Ia paling tidak suka menunda-nunda tugas seperti ini walaupun yang dikatakan Jirobou itu benar. Hari mulai malam dan mereka butuh waktu untuk istirahat, ah ralat, tapi waktu untuk bersantai. Ya, bersantai. Karena mereka tidak perlu memikirkan tentang istirahat, sebab-
"Kau sudah bawa persediaan ramuan kita, Karin?" tanya Kimimaru pada Karin.
Karin mengangguk.
-mereka memiliki semacam ramuan yang dapat memulihkan tenaga mereka dengan cepat.
"Bagus, memang sebaiknya kau membawanya agar membuat keberadaanmu di sini jadi lebih berguna." ejek Tayuya sambil tertawa sinis.
"Diam, Kau! Atau aku akan-"
"Atau kau akan apa? Memangnya apa yang bisa dilakukan gadis lemah sepertimu selain menyusahkan dan meminta perlindungan orang lain?!" Tayuya memotong kata-kata Karin dengan melemparkan kata-kata pedas dan tatapan sengit.
"Hentikan, Tayuya, Karin. Ini bukan saatnya untuk bertengkar," lerai Sakon dan Ukon. Kedua saudara kembar itu memisahkan kedua gadis berambut merah yang sudah siap untuk saling membunuh itu.
"Lagipula kita membutuhkan Karin sebagai MedicMage." ujar Ukon sambil memegangi Karin, sementara Sakon memegangi Tayuya.
"Cih! Kau pikir untuk apa Sannin gila itu membuat ramuan aneh itu? Gadis itu tidak berguna sama sekali. Menyusahkan saja!" maki Tayuya untuk kesekian kalinya. Tampaknya Tayuya tidak begitu menyukai keberadaan Karin.
"Ramuan itu hanya bisa memulihkan tenaga saja, kau gadis tolol! Jika kalian terluka, kalian pikir siapa yang bisa menolong kalian, HAH!?" teriak Karin ikut emosi.
"HAH! Sampai mati pun aku tidak sudi meminta pertolonganmu!" teriak Tayuya tak kalah sengitnya.
Karin menggeram kesal. Pelupuk matanya mulai menggenang dan wajahnya merah padam. Ia sudah berancang-ancang untuk melepaskan kekangan Ukon dan menyerang wanita menyebalkan di depannya jika saja suara datar itu tidak menginterupsi keinginannya.
"Tayuya, jika kau tidak bisa menutup mulutmu. Maka aku yang akan melakukannya." tegas Kimimaru dengan nada yang datar dan dingin.
Karin berhenti memberontak dan Tayuya mendengus sebal sambil membuang mukanya. Berkali-kali terdengar umpatan kecil dari Tayuya tapi Kimimaru tidak peduli. Yang ia pedulikan kini hanyalah keberhasilan misi mereka.
Ya, keberhasilan misi adalah yang terpenting bagi Kimimaru. Karena hanya dengan cara itulah ia bisa mengabdikan diri pada sang Sannin.
.
.
.
.
.
.
.
Pakura's Inn
.
.
.
Di penginapan, tampak Sakura yang baru saja tiba. Hinata, Ino dan Tenten yang memang menunggu kepulangan Sakura menghela nafas lega karena akhirnya Sakura pulang juga.
Kiba, Sai, Lee, Chouji dan Shino pun juga sudah kembali ke penginapan. Dan Shikamaru? Tidak perlu cemas, Shikamaru masih hidup walaupun ada setidaknya dua benjolan besar dikepalanya.
Setelah membersihkan diri dan menyelesaikan makan malam bersama, barulah Sakura memutuskan untuk menceritakan rencana yang akan dilakukannya kepada teman-temannya.
"Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian semua." ujar Sakura datar, semua mata pun mengalihkan perhatiannya kepada gadis cantik berambut merah muda tersebut.
"Ada apa, Sakura? Katakana saja." sahut Tenten ceria. Ia sangat bersyukur karena Sakura kelihatannya tidak terlalu mempermasalahkan masalah tadi siang dan mau bicara pada mereka semua.
"Untuk sementara kalian akan tinggal di rumah temanku." jawab Sakura singkat sambil memandangi satu-persatu wajah teman-temannya.
"Maksudmu kami akan tinggal di rumah keluarga Sabaku?" tanya Sai dengan kening berkerut, namun ada antusiasme di wajahnya.
"Benar. Tapi itu hanya sementara, hanya sampai Hoy Mage dimusnahkan. Setelahnya kalian bisa kembali ke desa kalian dan membangunnya kembali." jawab Sakura.
"Tapi apakah tidak apa-apa? Maksudku, apakah Sabaku-san tidak akan keberatan dengan keberadaan kami?" tanya Hinata sedikit cemas.
"Dia temanku, itu berarti teman kalian juga. Tidak perlu merasa sungkan padanya." jawab Sakura.
"Yosh! asalkan ada Sakura kita tidak akan merasa canggung, bukan?" ujar Ino bersemangat sambil mengangkat kepalan tangan kanannya ke udara.
"Ya, Ino benar. Asalkan ada Sakura bersama kita, maka kita tidak akan merasa canggung." sanggah Chouji sambil tersenyum lebar.
"Kurasa tidak ada salahnya mencoba." Kiba ikut setuju sambil menganggukkan kepalanya.
"Tidak. Hanya kalian yang akan tinggal di rumah Gaara." bantah Sakura membuat semua yang ada di sana lagi-lagi menatap bingung kearahnya.
"Apa maksudmu, Sakura?" tanya Lee.
"Aku akan pergi untuk menghancurkan Holy Mage. Jadi kalian-" belum sempat Sakura melanjutkan kata-katanya, Shikamaru sudah lebih dulu memotongnya.
"Maksudmu kami harus berlindung dan duduk manis sementara kau maju ke medan perang sendirian untuk menghancurkan Holy Mage? Itukah maksudmu, Sakura? jika iya, maka aku tidak setuju." ujar Shikamaru serius dengan mata mengantuknya.
Semuanya mendadak terdiam, membuat suasana menjadi hening. Sampai akhirnya Shino angkat bicara.
"Shikamaru benar, kami tidak bisa berpangku tangan begitu saja. Setidaknya biarkan kami ikut membantumu." timpal Shino yang disambut oleh anggukan setuju dari Shikamaru.
"Tidak bisa," Sakura menggeleng.
"Aku setuju. Sebagai teman, sudah seharusnya kami membantumu, Sakura!" Tenten juga ikut menyetujui sambil tersenyum lebar.
"Yang sedang kita bicarakan ini adalah perang sungguhan. Bukan perang di mana kita bisa menang dengan mudah seperti yang kallian pikirkan. Kalian tidak perlu mati dalam perang ini untuk membantuku." bantah Sakura, ia masih tidak setuju dengan keinginan teman-temannya.
"Ini sudah keputusan kami, Sakura-chan. Kami akan mengikutimu." ujar Hinata mengangguk mantap.
"Benar, kami semua akan membantumu." tambah Ino tak kalah mantapnya dengan Hinata.
"Lagipula kami juga ingin menyelamatkan orang-orang desa, juga mengembalikan kebebasan kita!" tambah Kiba dengan semangat membara dan mata yang berapi-api(?)
Sakura terdiam sejenak sambil memandangi wajah dari teman-temannya lekat-lekat. Semuanya memiliki tekad yang kuat dan... rasa persahabatan yang kuat.
'Kau beruntung memiliki teman seperti mereka, Sakura'
Itu suara Hansu. Suara yang hanya terdengar olehnya. Sakura sudah menceritakan masalah ini pada Hansu dan Hansu sudah menyerahkan segala keputusannya pada Sakura.
Sakura menundukkan kepalanya, membiarkan helaian merah mudanya jatuh menutupi wajah, dan tersenyum sangattt tipis. Senyuman pertama yang terkembang di wajahnya sejak beberapa tahun terakhir.
"Baiklah jika itu keputusan kalian. Sekarang istirahatlah, kita akan kedatangan tamu besok." ujar Sakura setelah ia mengangkat kepalanya lagi dan kembali bersikap datar dan tenang.
Dapat dilihatnya wajah teman-temannya yang tersenyum padanya dengan semangat yang kuat. Sebuah jalianan baru telah terbentuk antara dirinya dan orang-orang ini. Perlahan-lahan hati Sakura menghangat. Suatu hal yang sudah lama tidak dirasakan olehnnya. Dan tanpa disadarinya, segel di pundak kirinya 'sedikit' memudar. Walaupun hanya sedikit, tapi setidaknya segel itu memudar. Bukankah ini suatu hal yang baik? Ataukah malah sesuatu yang buruk?
.
.
.
.
.
.
.
Sabaku's Mansion
.
.
.
Saat ini, tepat ketika matahari sudah menghilang sepenuhnya, Gaara, Temari, Kankuro, Naruto, Sasuke, Sasori, Deidara, Pein, Konan dan Kisame tengah berdiskusi mengenai penyerangan desa oleh Holy Mage.
"Sore ini Tou-san menerima pesan gawat darurat dari salah satu desa terdekat," ujar Gaara memulai pembicaraan. Ia menatap serius ke semua teman-temannya yang ada disana.
"Apa ada kaitannya dengan Holy Mage?" tebak Pein sambil menjentikkan jarinya.
"Ya, Holy Mage lagi-lagi akan menyerang desa dan pemimpin desa tersebut meminta bantuan kepada Sunagakure. Dan..." Gaara menggantung jawabannya, membuat semua orang berharap-harap cemas.
"Dan apa? Ayo cepat katakan!" ujar Naruto yang hampir mati penasaran.
Gaara menghela nafas sejenak. "Dan kabar buruknya, desa yang akan diserang itu adalah desa Amegakure." lanjut Gaara.
Semuanya membelalak kaget kecuali Temari dan Kankuro yang kini tampak cemas. Dan yang paling kaget dan shock adalah Deidara. Bagaimana tidak? karena-
"Apa? Lalu bagaimana dengan adikku? Shion, bagaimana dengan Shion?!" teriak Deidara histeris sambil menjambak rambutnya frustasi.
-nah, itu dia alasannya.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus menyelamatkan adikku! Adikku dalam bahaya!"
Deidara menggebrak meja dan segera berdiri dari tempat duduknya. Jika saja Sasori dan Pein tidak menahan pemuda tersebut, mungkin saja ia sudah nekat kembali ke Amegakure sendirian walaupun harus berjalan kaki. Ia sangat mengkhawatirkan adiknya, Shion. Karena hanya Shion-lah satu-satunya keluarga yang dimilikinya. Dan saat ini, Shion hanya tinggal sendirian di Amegakure.
"Tenangkan dirimu, Deidara. Kita harus berkepala dingin agar adikmu dan Amegakure selamat!" teriak Pein menenangkan Deidara.
Akhirnya setelah beberapa saat ditenangkan oleh Pein dan Sasori, Deidara bisa duduk dengan tenang dan ikut memikirkan bagaimana cara mereka menyelamatkan Amegakure.
"Jadi apa rencanamu, Gaara?" tanya Sasuke setelah situasi mulai tenang.
"Tou-san berencana mengirimku, Temari dan Kankuro beserta pasukan
Mage kami untuk membantu Amegakure," jawab Gaara. "Dan kalian bisa ikut membantu jika kalian mau." lanjut Gaara.
"Aku ikut!" sergah Deidara. Memang sudah dipastikan bahwa dia akan ikut dalam misi ini.
"Kami juga akan ikut," Pein menambahkan. "Amegakure adalah rumah kami."
Naruto, Sasuke, Konan, Sasori dan Kisame mengangguk setuju.
"Lalu bagaimana dengan kalian bertiga, apa kalian akan membantu kami juga?" tanya Sasori sambil menatap trio Sabaku bersaudara.
"Kami sudah memikirkannya dan sudah sepakat," Gaara melirik kedua saudaranya lalu melihat keduanya mengangguk samar. "Kami akan membantu kalian." lanjut Gaara sambil tersenyum tipis.
Mendengar jawaban dari Gaara, membuat semua yang ada disana tersenyum senang. Termasuk Temari dan Kankuro.
"Bagus. Jadi kapan kita akan berangkat?" tanya Deidara tak sabar.
"Besok. Kita akan berangkat besok pagi." jawab Temari. Deidara sedikit menghela nafas kecewa. Pasalnya ia ingin pergi ke Amegakure secepatnya, mungkin malam ini juga?
"Tenang saja Deidara, kita akan menyelamatkan Shion dan Amegakure." ujar Konan berusaha menenangkan Deidara yang terlihat gelisah.
Deidara hanya tersenyum miris sambil mengangguk menanggapi kata-kata Konan.
"Hmm, waktunya tepat sekali." ujar Sasori ambigu tiba-tiba.
"Apanya yang tepat sekali?" tanya Pein penasaran.
"Ah iya, aku belum menceritakan ini pada kalian kan?" tanya Sasori sambil mengedarkan pandangannya. "Besok kita juga akan mendapatkan bala bantuan untuk melaksanakan tujuan utama kita. Bukankah waktunya tepat sekali? Sesudah kita memukul mundur pasukan Holy Mage itu, kita bisa langsung menuju 'kesana' untuk membuka segel Rikudou Sennin." jelas Sasori dengan senyuman terkembang.
"Bala bantuan? Siapa?" tanya Temari dengan dahi berkerut.
Sasori tersenyum misterius yang entah mengapa membuat Gaara merasakan perasaan yang tidak enak saat melihatnya. Tiba-tiba saja sekelebat bayangan gadis berambut merah muda terlintas di benak putra bungsu keluarga Sabaku tersebut, dan pada detik berikutnya ia terbelalak kaget sambil menatap horor pada Sasori.
"Sakura... jangan-jangan kau..." Gaara menggumam tidak jelas, namun gumaman itu dapat ditangkap dengan jelas artinya oleh Sasori.
"Yap, Sakura dan teman-temannya akan membantu kita. Besok aku akan datang ke penginapan mereka untuk menjemput mereka pergi ke Amegakure." sahut Sasori tersenyum sumbringah.
Mendengar nama Sakura, sontak saja membuat Sasuke terkejut. Secepat kilat ia menatap Sasori lekat-lekat dengan tubuh menegang dan tangan yang terkepal erat.
'Sakura? apakah Sakura yang itu?' tanya Sasuke dalam hati.
Ingin sekali Sasuke menyuarakan pertanyaan yang terlintas di benaknya tersebut, tapi ia urungkan karena tiba-tiba Kankuro bersuara mendahuluinya.
"Yang benar saja! Kau meminta bantuan pada Sakura? itu... itu..." Kankuro juga ikut kaget dan kehilangan kata-katanya. "...itu salah satu ide yang cemerlang!" ujar Kankuro tersenyum aneh, sementara yang lainnya sweatdrop seketika.
"Aku tidak percaya kau melakukan hal ini, Sasori. Seharusnya kita melindunginya bukan melibatkannya secara langsung seperti ini." ujar Gaara dengan nada tak percaya.
"Dia memiliki tujuan yang sama dengan kita, lagipula bukankah kita juga harus mencari Mage yang bersedia membantu kita untuk membuka segel itu?" sahut Sasori tenang. "Ini lebih baik daripada dia harus bertindak sendiri."
"Sasori benar, Gaara. Akan lebih baik jika Sakura ikut dengan kita daripada dia bertindak sendirian." ujar Temari setuju.
"Dan jangan lupakan teman-temannya yang kemungkinan besar juga Mage." tambah Kankuro.
Gaara terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela nafas dan menggangguk pasrah.
"Uhm... begini Gaara, bisakah kau memberitahu kami siapa itu Sakura? kami tidak bisa menangkap kemana arah pembicaraan ini berjalan." ujar Konan seolah menyuarakan pertanyan yang sama seperti yang dimiliki oleh Naruto, Sasuke, Pein, Deidara dan Kisame.
Gaara mengangguk dan mulai menceritakan siapa itu Sakura kepada teman-temannya. Tentunya dengan identitas palsu Sakura sebagai Haruno Sakura. Dan setelah Sasuke mendengar cerita Gaara tersebut, tubuh Sasuke tidak lagi menegang dan ia kembali rileks. Walaupun sebenarnya ia sedikit kecewa bahwa Sakura yang mereka ceritakan bukanlah Sakura yang ada dipikirannya. Ya, nama Sakura di dunia yang luas ini tidak hanya satu kan? Mungkin saja.
"Itu berita bagus." komentar Pein setelah mendengar cerita selengkapnya dari Gaara.
"Benar, dengan begitu kita hanya perlu memastikan apakah mereka Mage dengan elemental yang kita butuhkan atau tidak." timpal Konan.
"Ya, kalian benar. Aku hanya tidak menyangka bahwa Sakura bisa menyetujui ide gila Sasori setelah sebelumnya dia berdiskusi denganku." gumam Gaara sambil menggelengkan kepalanya.
"Sebenarnya..." Sasori menggantung kalimatnya membuat teman-temannya penasaran. Tak terkecuali Gaara yang sedang menyiapkan mentalnya untuk mendengar pengakuan –yang menurut Gaara sangat gila itu- selanjutnya dari Sasori. "...Sakura belum mengatakan bahwa dia setuju untuk bergabung dengan kita. Dia baru akan memberikan jawabannya besok." sambung Sasori dengan wajah tanpa dosa miliknya.
"Hah?!" seru semua orang kaget, minus Sasuke yang hanya memberikan tatapan tidak percaya pada Sasori.
"Lalu bagaimana kau bisa yakin dia akan membantu kita, Baka!?" teriak Kankuro sambil geleng-geleng.
"Intuisi," jawab Sasori dengan senyum misteriusnya. "Perasaanku mengatakan bahwa dia akan membantu kita." terang Sasori yang ditanggapi gelengan serta tatapan 'apa kau bercanda!' dari Gaara, Kankuro dan Temari. Sementara Pein, Konan, Deidara dan Kisame hanya tersenyum penuh arti. Biasanya, intuisi milik Sasori jarang sekali salah. Sedangkan Naruto dan Sasuke? Tidak tahu harus berekspresi seperti apa.
.
.
.
.
Pagi harinya, setelah melalui semacam perdebatan singkat akhirnya Naruto dan rombongannya memutuskan untuk pergi ke Penginapan Pakura secara bersama-sama untuk menjemput Sakura dan teman-temannya.
Sesampainya di penginapan, terlihat Sakura yang sedang duduk santai bersama seorang gadis bercepol dua di beranda penginapan. Sakura tampak memakai yukata berwarna merah dengan obi berwarna putih yang dihiasi sulaman bunga sakura. Sedangkan rambutnya dibiarkan tergerai dengan sedikit kanzashi untuk sekedar merapikan helaian merah mudanya tersebut.
Lalu gadis bercepol dua di sampingnya memakai yukata berwarna putih dengan hiasan sulaman bunga lily berwarna merah dan obi berwarna merah copper.
Gaara, Temari dan Kankuro serta Sasori langsung menghampiri Sakura dan gadis bercepol dua tersebut yang sepertinya memang sengaja menunggu kedatangan mereka. Sedangkan Naruto dan yang lainnya berdiri agak jauh dari beranda penginapan.
"Ohayou, Sakura," sapa Gaara pada Sakura. "Apa dia salah satu dari teman-temanmu yang kau ceritakan waktu itu?" tanya Gaara sekedar berbasa-basi.
"Ohayou, Gaara," balas Sakura datar. "Ya, dia adalah salah satu temanku." jawab Sakura masih dengan nada datar sambil melirik Sasori melalui ekor matanya.
Temari dan Kankuro yang memang baru kali ini bertemu dengan Sakura setelah sekian lama, hanya mengerutkan kening mereka bingung karena perubahan drastis dari Sakura. Pasalnya, Sakura yang mereka kenal itu memiliki sifat yang sangat jauh berbeda dengan yang sekarang ini berada di depan mereka.
Jika saja mereka tidak ingat bahwa Sakura adalah putri tunggal dari Sannin Tsunade, mereka mungkin akan mengira bahwa yang berada di depan mereka ini adalah saudara kembar Sakura yang memiliki kepribadian berkebalikan 180 derajat dari Sakura yang mereka kenal.
Walaupun mereka sudah sering mendengar hal ini dari Gaara maupun Sasori, tapi tetap saja saat menghadapinya secara langsung akan menimbulkan efek kekagetan seperti sekarang ini.
"Hajimemashite, watashi wa Tenten desu. Doozo yoroshiku." ujar Tenten sesopan mungkin sambil tersenyum.
Gaara, Temari, Kankuro dan Sasori mengangguk lalu memperkenalkan diri mereka masing-masing kepada Tenten.
"Jadi, apa jawabanmu, Sakura?" tanya Sasori to the point.
Sakura terdiam sejenak sebelum mengangguk samar. "Baiklah, aku akan membantu. Lagipula kau benar, aku tidak akan bisa melakukannya sendirian. Dan juga, teman-temanku yang lainnya memutuskan untuk ikut." jawab Sakura datar.
"Baguslah. Kukira kau tidak akan setuju membantu kami." ujar Sasori dengan senyuman manisnya pada Sakura.
Sakura yang melihat senyuman milik Sasori hanya bisa ber'hn' pelan sambil merasakan darahnya yang sedikit berdesir dan jantungnya yang mulai berdetak tidak normal melihat senyuman pemuda berwajah babyface itu.
'Ada apa denganku sebenarnya?' ujar Sakura dalam hati.
Ia sangat bingung dengan perasaan yang dirasakannya ini. Perasaan yang sedikit banyak memiiki kesamaan dengan perasaan yang dirasakannya saat bertemu Sasori di lapangan latihan Sunagakure. Hanya saja, perasaannya saat di lapangan latihan tidak sekuat ini karena Sakura masih bisa mengendalikan ataupun menepisnya. Tapi kali ini berbeda, Sakura begitu sulit untuk menepisnya dan satu-satunya cara yang bisa dilakukannya adalah-
"Haruskah sampai sebanyak ini." ujar Sakura sarkastik sambil melirik ke belakang. Ada sekitar lima orang lagi dan enam ekor naga elemental di belakang Gaara, Temari, Kankuro dan Sasori.
-mengalihkan perhatiannya seperti ini.
Saat melirik ke belakang itulah, Sakura menangkap sepasang mata onyx yang menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat dijelaskan oleh Sakura sendiri. Tatapan seperti err... merindu?
"Eh, begini Sakura..." Sasori menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum kikuk, membuat Sakura kembali menatap Sasori.
"Kita harus berangkat sekarang, Sakura. Holy Mage bergerak lagi." potong Temari dengan nada cemas dan khawatir.
Sakura mengangguk lalu beralih pada Tenten yang ada di sebelahnya. "Tenten, cepat beritahu yang lainnya untuk segera bersiap. Kita harus pergi secepat mungkin." titah Sakura.
Tenten mengangguk dengan semangat lalu berlari kecil memasuki penginapan untuk memanggil yang lain.
.
.
'Sakura... ternyata benar-benar kau. Terlihat lebih cantik daripada di lukisan' ujar Sasuke dalam hati sambil memandangi Sakura yang berbincang-bincang dengan trio Sabaku dan Sasori.
"Wah, jadi itu yang namanya Sakura? dia cantik ya, teme?" ujar Naruto riang sambil menyikut Sasuke.
"Hn." gumam Sasuke dengan tatapannya yang tak lepas dari sosok Sakura.
"Aku jadi ingin berteman dengannya. Bagaimana denganmu, teme?" tanya Naruto dengan mata yang berbinar.
"Hn." jawab Sasuke singkat masih dengan tatapan yang terpaku ke depan.
"Hei, aku ini sedang bicara padamu, teme! Setidaknya lihatlah aku saat aku bicara padamu!" cerocos Naruto yang merasa kesal karena merasa diabaikan.
"Berisik, dobe!" cercah Sasuke.
Naruto menggembungkkan pipinya lalu mengikuti arah pandangan Sasuke. Saat melihat ke arah yang sama dengan Sasuke, Naruto tersenyum jahil saat mengetahui hal yang membuat Sasuke mengabaikan dirinya.
"Eh? Jangan-jangan kau terpesona dengan Sakura-chan, ya?" tebak Naruto.
Sasuke mendelik.
"Ayo, mengaku saja. Kau menyukainya kan?" goda Naruto sambil tersenyum menyebalkan.
"Kau tidak tahu apa-apa, Naruto!" desis Sasuke sambil menatap tajam. Lalu ia pun berjalan menjauh.
"Lho, kenapa jadi marah-marah tidak jelas begitu? Dasar teme aneh!" Naruto hanya geleng-geleng melihat tingkah Sasuke yang sangat tidak biasa itu. "Woi, teme! Tunggu aku!" teriak Naruto sambil berlari menyusul Sasuke.
.
.
Selama menunggu Tenten dan yang lainnya, terjadi sesi perkenalan yang singkat antara Sakura dengan rombongan Gaara. Pada sesi perkenalan itulah, Gaara sedikit menceritakan tujuan dari kelompok yang mereka buat ini dan kemana tujuan pertama mereka.
Lalu tak lama kemudian, Tenten beserta teman-temannya yang lain keluar dengan perlengkapan mereka masing-masing. Dan sekali lagi, terjadi sesi perkenalan singkat serta pemberitahuan kemana tujuan mereka sekarang. Setelahnya, Sakura, Ino, Hinata serta Shikamaru segera memanggil naga mereka masing-masing. Dengan begitu, sekarang mereka memiliki sepuluh naga elemental.
Menurut perhitungan Sasori saat sesi perkenalan tadi, elemental yang dimiliki teman-teman Sakura banyak mengisi kekurangan Mage yang mereka perlukan dan sangat cocok dengan tipe yang mereka cari. Sekarang mereka hanya kekurangan satu orang Flame Mage saja.
Entah memang hanya kebetulan atau tidak, Shion adalah Flame Mage . Jika Deidara mengizinkan Shion ikut bergabung, maka rencana mereka akan semakin cepat dilaksanakan. Sasori tidak tahu apakah ini hanya kebetulan atau memang sudah digariskan oleh takdir. (ini saya yang buat, Sasori. Bukan kebetulan atau takdir, fufufufu)
"Baiklah, kalau begitu lebih baik kita segera berangkat." putus Gaara yang langsung disetujui oleh yang lainnya.
"Bagaimana pembagian tunggangannya? Apa kami masih harus bertiga mengingat sekarang naga kita ada sepuluh?" tanya Pein sambil melirik Kisame, sedangkan Kisame hanya mendengus sebal.
Gaara terdiam sejenak untuk berpikir sebelum ia membuka suaranya.
"Pertama, tiap pemilik naga menunggangi naga mereka sendiri," jelas Gaara.
Sesuai instruksi, para pemilik naga pun segera menuju ke naga mereka masing-masing lalu menaikinya. Tetapi berbeda dengan Sakura, gadis itu langsung menyeret Tenten untuk ikut bersamanya tak peduli dengan keputusan Gaara berikutnya.
"Aku bersama Tenten." tegas Sakura saat Gaara menatap bingung padanya. Sementara Tenten hanya tersenyum senang melihat lengannya yang ditarik Sakura. Tampaknya gadis berambut merah muda itu mulai menerimanya sebagai teman.
"Hah, baiklah kalau begitu-" belum sempat Gaara melanjutkan, kata-katanya sudah dipotong oleh suara membahana milik Naruto.
"Aku juga! Aku mau bersama Sasuke teme!" Naruto langsung turun dari punggung naganya dan menghampiri Sasuke. "Teme! Teman seperjuangaku!" teriak Naruto super lebay sambil merangkul pundak Sasuke lalu menyeretnya ke arah naganya, sementara Sasuke mendelik pada Naruto dan berusaha melepaskan cengkraman maut bocah pirang tersebut.
"Baiklah. Sekarang dengarkan, Sasori bersama Deidara, Konan bersama Pein, Shikamaru bersama Chouji, Kankuro bersama Kisame, Temari bersama Lee, Hinata bersama Kiba, Ino bersama Sai, dan aku bersama Shino." terang Gaara.
Setelah Gaara mengatakan hal tersebut, semuanya segera bersiap dan menuju tunggangan masing-masing dan segera mengudara untuk menuju ke Amegakure.
.
.
"Jadi kita akan ke Amegakure, ya?" tanya Tenten pada Sakura. Gadis bercepol dua itu teringat dengan percakapan singkatnya bersama dengan Gaara mengenai tujuan dan kemana mereka akan pergi.
Sesekali Tenten melirik Ino yang tampak memerah semenjak mereka mengudara. Entah apa yang dibicarakannya dengan pemuda bernama Sai itu sehingga Ino tak henti-hentinya tersenyum malu. Dan Tenten berani bersumpah bahwa ia sempat mendengar Ino mengucapkan terimakasih dan rasa syukurnya(?) berkali-kali pada Gaara karena pemuda tersebut telah memasangkannya dangan Sai.
"Ya, dan kau harus menyiapkan sihir terbaikmu disana," Sakura sedikit melirik ke arah Tenten. "Di sana perang yang sebenarnya akan dimulai." sambung Sakura sambil kembali melihat ke depan.
"Aku tahu dan aku sudah siap, Sakura!" seru Tenten bersemangat. Ia menggepalkan tangannya kuat-kuat di depan dada sambil tersenyum.
Suasana di antara kedua gadis berelemental Ice itu hening sejenak. Sebelum akhirnya Sakura mulai berbicara.
"Kenapa kalian mau membantuku." ujar Sakura pada Tenten.
Tenten sedikit terkejut dengan pertanyaan datar milik Sakura sebelum akhirnya tawa yang renyah meluncur dari bibirnya.
"Kenapa kau bertanya begitu, Sakura? tentu saja karena kau itu teman kami. Kami sangat senang jika kami bisa membantu teman yang sedang kesulitan, kami senang bisa membantumu, Sakura." jawab Tenten sambil tersenyum hangat.
"Kalian bisa saja terbunuh nanti." Sakura berspekulasi dan sekali lagi membuat tawa Tenten meluncur keluar.
"Kau benar, kami bisa saja mati. Tapi hal itu tidak membuat kami berpangku tangan dan membiarkan teman kami menanggung semuanya sendirian untuk kami. Lihatlah mereka semua, Sakura. Mereka sangat ingin membantumu, mereka sangat tulus. Jadi biarkan mereka membantumu, Sakura, dan biarkan mereka menjadi temanmu." ujar Tenten lembut.
"Kalian semua temanku, bukankah itu yang kalian katakan padaku." ujar Sakura lagi.
Tenten menggeleng lemah. "Itu yang ingin mereka dapatkan, Sakura. Mereka ingin berteman denganmu, bukan hanya sekedar omong kosong."
Sakura terdiam, berusaha memikirkan dan meresapi kata-kata Tenten. Sepertinya setelah sekian lama menyegel emosimu, kau menjadi sangat tidak peka ya, Sakura?
.
.
"Gaara, kau bilang Tou-san mu juga mengirimkan pasukan Mage Sunagakure untuk membantu kita, tapi dimana mereka sekarang?" tanya Sasori penasaran. Saat ini naga milik Sasori dan Konan sedang terbang beriringan dengan naga milik Gaara. Dan yang memimpin jalan adalah Temari dan Kankuro.
"Mereka sudah pergi terlebih dahulu, karena itulah kita bisa menunggu Sakura dan teman-temannya." jawab Gaara.
Sasori, Deidara, Konan dan Pein mengangguk mengerti.
"Lalu, apa kau tahu seberapa banyak pasukan Holy Mage yang berada di Amegakure?" tanya Pein.
"Aku tidak tahu, Tou-san tidak memberitahuku masalah itu. Menurut perkiraanku, mungkin saja ada dua pasukan atau lebih." jawab Gaara sambil menggeleng samar.
"Tidak," bantah Shino yang ada di belakang Gaara. Membuat Gaara, Sasori, Pein, Deidara dan Konan menoleh padanya. "Mereka ada sebelas orang." lanjut Shino membuat semua terbelalak kaget.
"Kau bercanda?! Itu tidak mungkin! Mana mungkin sebelas orang bisa menghancurkan desa Amegakure. Terlebih lagi kami memiliki pasukan Mage yang tak kalah kuatnya dengan desa-desa lain!" teriak Pein tak percaya sambil menatap tajam pada Shino.
"Aku tidak bercanda. Bahkan saat mereka menghancurkan desa kami, Otogakure, mereka hanya mengirim enam orang Holy Mage dan itu sudah berhasil untuk meluluhlantahkan desa kami." sahut Shino tenang namun tersirat amarah yang sangat kuat dari dirinya. Tangannya terkepal erat di atas pahanya untuk menahan amarah.
"Mustahil..." gumam Sasori dengan nada tak percaya.
"A-apa mereka sekuat itu?" tanya Konan entah kepada siapa dengan suara sedikit bergetar dan raut wajahnya yang cemas
"Amegakure meminta bantuan kepada Sunagakure adalah hal yang sangat jarang terjadi. Jika alasan mereka meminta bantuan adalah karena mereka tidak sanggup melawan para Holy Mage dan yang dikatakan Shino benar, itu artinya mereka benar-benar kuat." ujar Gaara menarik kesimpulan, matanya menerawang ke depan.
"Adikku... bagaimana dengan keadaannya?" gumam Deidara sambil tertunduk, membiarkan rambut pirangnya jatuh menutupi wajah.
Hening. Cukup lama suasana bertahan seperti itu.
"Meskipun begitu kita tidak boleh menyerah. Kita tidak akan tahu hasilnya sebelum kita mencoba!" ujar Pein mencoba memberikan semangat pada teman-temannya.
Sasori, Gaara, Deidara, Shino dan Konan menatap Pein yang berusaha menyemangati mereka.
Pein benar.
Yah, kita tidak akan tahu sebelum kita mencoba.
Walaupun mereka sadar,
Perbedaan kekuatan mereka sangatlah jauh.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura akhirnya bergabung bersama Naruto dan kawan-kawannya! Lalu bagaimanakah keadaan Desa Amegakure? Dan bagaimana pula keadaan adik Deidara yang bernama Shion? Apakah mereka akan berhasil menyelamatkan Amegakure dan Shion?
.
.
.
TBC
.
.
Yak, lagi-lagi Miharu mau ngucapin terima kasih banyak pada para readers dan reviewers. Jika kalian sempat, review please? Karena lewat review kalian lah saya bisa semangat buat nulis kelanjutan fic ini lagi.
Arigatou...
Special Thanks for Melody In Sky10 and Clarette Yurisa.
Miharu bener-bener mau ngucapin banyak-banyak terima kasih sama kalian berdua. Karena berkat kalian berdua lah Miharu jadi semangat buat ngelanjutin fic ini. *nangis haru #digeplak
Pokoknya Miharu bener-bener senang karena masih ada yang mau nunggu dan mereview fic Miharu ini. sekali lagi terima kasih, yah!
Balesan Review :
Melody In Sky10 : terimakasih banyak atas dukungannya iya, ini saya udah update chapter selanjutnya. Semoga nggak mengecewakan. :D
Clarette Yurisa : aduh, maaf banget atas kesalahan-kesalahan itu. Saya akan berusaha memperbaikinya agar lebih baik lagi. Dan untuk dialog Sakura, emang saya sengaja nggak pake tanda tanya (?) karena kan Sakura-nya bicaranya datar, jadi kedengarannya dia nggak nanya walaupun sebenarnya nanya. Kecuali untuk tanda seru (!), itu saya tambahin karena emang Sakura-nya teriak-teriak. Saya sengaja ngelakuin itu biar kesan datarnya Sakura itu ada, tapi malah kelihatan typo yah? Haha... saya ini emang payah, semoga Risa-san bisa paham maksud saya yang gak jelas itu :D. Dan selain dialog Sakura, kalau ada yang kurang tanda tanya ataupun tanda yang lainnya, itu mutlak kesalahan saya. Kalau masalah review yang masuk dua kali, itu gak masalah kok. Malahan ngebuktikan bahwa Risa-san memang berniat mereview ceritanya saya. Ok, jadi nyerocos gak penting, kan. Pokoknya terima kasih udah mereview Cavalier sampai sekarang ini. Semoga chapter ini tidak teralu mengecewakan.
Arigatou, Domo Arigatou!
