Anything Can Happen -

- Ai -

- 2014 -

- Mashashi Kishimoto, Naruto-

- Pairing : Sasuke U. Hinata H. -

- Rate : T -

- Romance/Hurt/comfort

Sasuke POV

Mungkin benar kata orang persahabatan itu awal dari semuanya, dan lihatlah sekarang, mereka sungguh merepotkan, berada didepanku dengan tatapan penuh harapan, dan Hell, sejak kapan Shika dan Shino juga memiliki tatapan memohon itu. Ah… ini, mungkin karena perkataan mereka sekitar 15 menit lalu.

Anything Can Happen

Chapter 7 friend

Flash Back 15 menit lalu

Kleteng…

Aku datang terlambat hari ini, yah, dari cerita kemarin kalian tau bahwa aku berada di kantor Hinata, ingin menanyakan keadaan kesehatannya, tapi yang kudapat adalah sebuah persahabatan, hm… ya balik lagi dengan statement ku, persahabatan awal dari semuanya.

Dengan langkah yang tegas, kulangkahkan kakiku kearah perkumpulan sahabat-sahabat ku. "ada yang ingin kutanyakan pada kalian semua." Ucap ku kala mengingat Hinata dan informasi dari Kakashi.

Ku dudukkan tubuh ku di samping Naruto, kami berhadapan dengan Shika, Shino dan Kiba, seketika wajah mereka menjadi terheran dan… tegang?

"Hn."

"Apa?"

Kalian akan tau siapa 2 orang yang menjawab 'Hn' dan 2 orang yang menjawab 'Apa?' kan. Jadi tidak perlu kujelaskan. "Hubungan kalian dengan . .Ta." ucap ku pelan dan penuh penekanan.

Dan dari raut wajah yang ku tangkap, mereka layaknya tersengat aliran listrik 1000 volt milik Pikachu. "Apa… yang kau ketahui?" Shikamaru bertanya sembari menautkan jemarinya khas berpikir.

"Semuanya, dan aku butuh penjelasan!" tekanku, semakin membuat alis mereka bertautan.

Diam beberapa menit membuat tatapan mata ku menjarah malas ke manic 4 sahabatku ini, sungguh menjengkelkan, membuang waktu, Shikamaru bilang 'Mendokudasai'. "Ini Masalah Hinata." Ku perjelas pertanyaanku, dan sebenarnya ku tau bahwa sahabat-sahabat ku ini mengerti tanpa ku perjelas.

"He? Hinata? Hyuga Hinata? Jadi kau bertanya tentang Hinata?" abaikan temanku yang bernama Naruto ini, dia memang sedikit tidak peka, atau paling drastis aku bisa bilang bahwa dia Dobe.

Aku tak membalas perkataannya, tapi mata ku menajam kepada mereka. "Hah…" Nampak Shika, Shino dan Kiba menghela nafas. "Kami akan menjelaskannya. Sebenarnya ini semua kesalahpahaman Hinata saja sih." Lanjut Kiba dengan santainya, dan itu membuat ku marah.

Membully adalah kesalah pahaman? Dari mana perlakuan itu bisa diartikan sebagai salah paham? "Membully kalian bilang salah paham?!" cibirku sedikit ditekankan pada kalimat salah paham.

"Kami menyayangi Hinata, iya kan?" Tanya Shino pada yang lain, dan dibalas dengan anggukan.

Dan aku tetap diam, agaknya mereka masih ingin mendominasi perkataan. "Ya, sejak kecil Hinata itu pemalu dan susah sekali berbaur dengan anak seusianya." Lanjut Kiba.

"Hinata Hyuga, adalah sosok gadis lemah lembut, yang sedari kecil di didik oleh keluarganya menjadi Hime, kegiatannya kalau tidak membaca, les piano, les memasak atau pun les menjahit andalannya, dia tidak akan memiliki aktivitas lain.

"Karena dia lebih suka mempelajari hal seperti itu, dia menjadi tidak punya teman, apalagi saat les pun itu privat, didatangkan kerumahnya, sehingga makin tidak memiliki teman. Awal masuk sekolah dia didekati sebagian anak yang sangat mengagumi Hinata berkat bakat Hinata yang keren menurut mereka, tapi ke-kikuk-kan Hinata membuatnya dijauhi karena sebagian mereka menganggap Hinata adalah anak yang membosankan.

"Hingga suatu hari Hinata mengenal kami, kami bisa bersahabat karena kami bukan tipe yang mempermasalahkan tentang kebosanan, lagi pula aku dan Shino lebih suka berdiam diri sementara Naruto dan Kiba mereka berisik dengan caranya sendiri. Sehingga itu yang membuat Hinata nyaman."

Selesai mendengarkan cerita Shikamaru, Kiba, Shino melanjutkan.

"Awalnya kami tidak masalah Hinata berdekatan dengan kami, tapi guru Kurenai tiba-tiba datang kepada kami karena khawatir Hinata tidak mempunyai teman perempuan, dan beliau meminta tolong agar sedikit menjauh dari kami, tapi dasar pikiran anak kecil shikamaru yang jenius, dan bercampur dengan pikiran anak kecil Naruto yang –" Shino melirik Naruto. "Ber IQ kecil saat itu." Menekan kata saat itu. "maka terjadilah pembullyan yang tujuannya menjauhkan Hinata dari kami."

"Aku mempunyai ide membully juga karena ingin menumbuhkan keberanian Hinata kok, siapa tau dengan setiap hari dikerjai dia semakin berani menantang kami, dan berani melawan, tidak menjadi gadis pendiam dan menerima keadaan yang ada saja, yang tentu membuatnya terlihat membosankan, monoton. Iya kan Shika?" Naruto mengerling kearah Shika meminta untuk di bela.

"Itu ide terbodoh yang pernah otakku acc selama hidupku." Jawab Shika tanpa ekspresi, dan membuat Naruto kini mencak-mencak, entah mendesiskan kata makian apa pada Shika, aku tidak perduli.

"Dan… Sasuke." Kiba tiba-tiba menatapku miris. "Kami melakukan kerja sama denganmu untuk -hampir- membangkrutkan Hyuga Corp adalah untuk membawa Hinata kembali."

Dan disinilah aku semakin tertarik, aku memang sudah lama ingin menanyakannya, mengapa mereka semudah itu menerima tawaranku yang saat itu adalah main-main pada mereka untuk menjatuhkan Hyuga Corp.

"Saat mengetahui Hinata pergi ke LA, sungguh kami merasa bersalah Sasuke, hum… lagi pula Hinata bebal sekali sih, sudah setiap hari di bully masih saja tidak punya keberanian diri sendiri. Padahal kami berencana meminta maaf jika Hinata mampu memiliki teman 1 saja seorang anak gadis." Lanjut Kiba.

'Dan kurasa hingga detik ini Hinata hanya mempunyai teman pria. Ah memikirkan ini aku, kenapa hatiku jadi panas lagi?'

"Hinata-chan itu gadis yang lembut, sebenarnya aku yakin satu kali meminta maaf saja kami akan dimaafkan, tapi aku kaget Teme, saat Hinata bertemu denganku, kok Hinata jadi takut ya.. apa hari terakhir itu sangat membuatnya takut pada kami ya…" si Dobe mulai membuka suara lagi dengan tampang Dobe nya.

Yah siapa yang tidak takut pada wajahnya saat itu?

"Lalu apa rencana kalian?" baiklah aku memaafkan dan memaklumi tindakan mereka, toh mereka sebenarnya mempunyai niatan baik di balik tingkah bully mereka.

"Rencana kami adalah menemui Hinata langsung ke Hyuga Corp, tapi saat ada Neji, kami tidak bisa dekat-dekat dengan perusahaan itu, karena dia tau, kami salah satu orang yang berpengaruh menjatuhkan Hyuga. Padahal kami tidak akan melakukannya." Shikamaru mengalihkan maniknya kearah Shino dan lainnya.

"Ya, maka dari itu Hyuga Corp masih bisa berdiri, karena kami masih menekannya. Lagi pula kami kan tidak ingin perusahaan itu jatuh dan bangkrut, hanya membuat goyah saja agar Hinata mau kesini, dari yang aku dengar 8 tahun lalu, Hiashi jisan kan meninggal dunia." Jawab Kiba sambil menunduk.

"Sayangnya kami tidak punya nomor Hinata teme, dan Ah. Kau kan makan siang dengannya waktu itu Teme? Jangan bilang kalian melakukan suatu kerja sama?" Naruto berdiri dan menudingku dengan ekspresi horrornya.

"Ya." Balasku sambil menyilangkan tangan di dadaku. "Itu semua karena Tousanku sahabat Hiashi Jisan, jadi dia akan menolong perusahaan Hyuga."

"Miris. Benar-benar Miris. Anaknya kalang kabut menjatuhkan Hyuga Corp, sedangkan Tousannya membantu menstabilkan Hyuga Corp kembali." Balas Naruto dengan wajah "Oh So Wow' nya. Kini kulihat dia kembali duduk masih dengan tampang tak percaya, tapi setelah itu dia menyeringai. Ck kenapa dia menyeringai dengan tampangnya, itu akan membuat kata 'Menyeringai' menjadi ekspresi tidak terfavorite lagi.

"Shika. Kita bisa meminta nomor Hinata-chan dari si Teme kan?" lanjut Naruto, dan aku benci dengan suffix –chan diakhir nama Hinata.

"Kalian pikir aku akan memberikannya, itu secara tidak langsung kalian menggagalkan niatku menjatuhkan Hyuga Corp. Baka."

"Teme… lagi pula walaupun kau tetap tidak memberikan nomor itu, kami tidak akan menjatuhkan Hyuga Corp, kau kan sudah mengerti kenapa kami membantumu?" ujar si Dobe, dan sialnya itu benar.

"Sekali ini saja, bantu kami please… hanya nomor ponselnya."

Tunggu-tunggu nomor hp ya? Apa aku melupakan sesuatu? Kuso!

"Aku tidak punya nomor Hinata." Dan saat itu kulihat ada tiga garis hitam horizontal dipelipis mereka.

"Payah." Ucap Naruto, membuatku melotot kearahnya. Dengan sekejap dia berubah ketawa lima jari. "Teme… bantu kami minta nomornya ya. Please…." Aku memag tidak tahan dengan permintaan sahabat-sahabatku. Walaupun mereka aneh, tapi mereka tetap sahabat dari kecilku.

End Flash Back 15 menit.

Setelah menimang positif-negatifnya, serta rugi - UNTUNG nya, aku menelfon Anikiku, dan meminta nomor Hinata padanya, dan untungnya lagi tanpa rasa curiga dia dengan senang hati memberikannya.

Kuberikan nomor itu pada Naruto dan ketiga temanku yang lain, dan dengan segera mereka mendiskusikan rencana, dari yang aku tangkap maksudnya sih, mereka akan mengajak Hinata makan malam di kedai Ichiraku, tongkrongan mereka saat istirahat semasa sekolah. Itu saja. Sungguh karena masalah ini kupikir otak Shika sedikit BUNTU, padahal dia cerdas. Apapun bisa terjadi didunia ini.

"Aku Naruto! Aku saja yang menelfon, kalau kau pasti tidak akan mau!" ujar Kiba sambil menarik ponsel Naruto. Ayolah Kiba, kau punya ponsel sendiri.

"TIDAAAKK! Aku saja, aku kan yang paling mengerti Hinata-chan." Dan mulai saat itu kuputuskan untuk menyinggahi toilet, sungguh aku muak dengan tingkah mereka.

"Aku ke toilet sebentar." Aku berjalan setelah mendengar kata 'Hn' dari Shino dan Shika yang masih melihat ketegangan antara Naruto dan Kiba. Sudahlah…

5 menit kemudian

Aku kembali dengan harapan, masalah telfon menelfon selesai, dan benar saja, setelah aku kembali ke meja, suasana hening, hening? Apa tidak salah? Naruto dan Kiba yang tadi kemana? Tidak ada raut wajah bahagia disana yang kutangkap.

"Hn. Jadi?" tanyaku setelah duduk ditempatku kembali.

"Gagal." Dengus Kiba. "dan Ini Semua karena kau Naruto! Sudah kubilang aku saja yang telfon Hinata!" ah… jadi seperti itu kejadiannya.

"Hey Hey. Aku tidak tau kalau Hinata-chan masih marah padaku. Kiba!"

"Sudah sudah.. aku punya rencana lain, plan B." Ujar Shikamaru sambil menatap kearahku, dan detik itu aku merasa nyaman didalam ketidak nyamanan, entahlah, firasatku selalu benar selama ini.

"Apa?" Tanya Kiba dan Naruto.

"Sasuke. Kau berperan penuh dalam drama ini."

"Aku?!" apa kubilang. Ku pasang wajah stoic ku lagi, walaupun sempat kaget. "Jelaskan!" pintaku.

"Hinata tentu mengenalmu kan, dan kurasa melihat kedekatan Itachi juga, tentu Hinata mengenal keluargamu apalagi kau bilang Tousanmu bersahabat dengan Hiashi jisan."

"Ya?" ku sela kata-katanya.

"Bisa bawa Hinata ketempatmu? Berpura-pura berkunjung mungkin, karena jarang datang kerumah. Dan kami juga akan melakukan hal itu, berkunjung kerumahmu. Lagi pula sudah lama kami tidak berkumpul kerumahmu. Dan ku yakin Hinata tidak akan menghindar dari kami."

Sejak saat itu aku hapus statement ku bahwa otak Shikamaru sedikit BUNTU.

End Sasuke pov

Disis lain Hyuga Hinata sedang tegang, sembari mengeluarkan batrai ponselnya di laci meja kerja.

"Bagaimana dia menemukanku? Kami sama… aku benar-benar belum siap." Ucapnya dengan nada lirih, dia membenamkan kepalanya di meja dengan tumpuan kedua belah tangannya.

Pip pip pip

Alarm jamnya berbunyi, menujukkan jam 12 siang, kepala itu terangkat dan maniknya menoleh kearah jam. "Sudah jam 12 ya, cepat sekali…" Hinata pun beranjak dan pergi kedepan kafe kantornya, kali ini dia tidak membawa bekal, karena Itachi bilang Sasuke akan karumah Hinata.

Hingga dia ketakutan dan bergegas menuju kantor, sungguh konyol, jika mengingat kelakuannya, Hinata jadi ingin tersenyum sendiri, 'ah lupakan, Sasuke sudah menjadi temanku sekarang, eh, kenapa aku memikirkan sasuke ya? Kami sama aku rasa aku mulai menyukai sosok sasuke.'

Tidak mempedulikan lagi dengan Sasuke, ia berjalan keluar kantor sambil menenteng tas jinjingnya. Kebetulan di kafe itu ada menu makanan sehat, jadi Hinata bisa makan disana.

"Oke. Waktunya minum obat, Kami sama, kumohon lambatkanlah perkembangan sel kanker ku, semoga aku bisa bertahan hingga aku berhasil melepaskan perusahaan, setidaknya sampai Hanabi lulus."

Sasuke menuruni tangga sambil sesekali mengelus anak rambutnya, pakaian yang ia gunakan sekarang sangat rapi, sejak seminggu yang lalu menjadi teman Hinata, membuatnya setiap hari harus terlihat lebih menawan dari pada biasanya, menaklukkan hati Hyuga Hinata harus butuh aura ekstra, Hyuga Hinata berbeda dari yang lain.

Mikoto Uchiha, sedang memasak makanan untuk acara sarapan pagi keluarga, Itachi yang memang dasarnya anak baik ternyata sudah ikutan membantu dari tadi, dan terlihat memakai celemek biru dongker, sedang sibuk meletakkan sup miso panas kemeja makan.

"Ohayou aniki. Mana kasan?" Tanya Sasuke yang baru saja datang ke ruang makan.

"Kasan masih menyiapkan hidangan lain. Eh baka otoutou – " sanggah Itachi saat Sasuke hendak menarik kursi.

Sasuke tidak jadi duduk dan mengalihkan pandangan kearah Itachi. "Hn?"

"Untuk apa kemarin kau minta no ponsel Hinata-chan? Aku sudah memikirkan ini berkali-kali sih, tidak mungkin karena kalian relasi kan? Setahuku semua nomor ponsel relasimu selalu Yugao yang menyimpan, kecuali sahabat-sahabatmu sih…"

"Hn." Sasuke melanjutkan aktivitas tertundanya, duduk sambil merapikan dasi. "Kau tidak tau aniki? Hinata dan aku, kita sudah jadi sahabat, dan kita…" member jeda sejenak demi melihat wajah Itachi yang sudah penasaran. "Sangat dekat." Katanya sambil menyeringai.

'Dekat? Sasuke? Masa?' batin Itachi.

"Eh Itachi, bantuin kasan bawa jus nya Sasuke dong…" teriak Mikoto dari arah dapur.

"Ya kasan." Setelah menajwab itu, Itachi mengalihkan pandangannya kepada Sasuke. "Heh baka otoutou, ambil sendiri sana minumanmu."

"Sekalian deh, aku kan tidak memakai celemek itu, tolong yah Aniki."

"Hah…" Itachi memutar mata bosan, lalu kembali kearah dapur, demi mengambil jus adik tercintanya.

….

'Sakura-chaaannn…' pagi-pagi sudah menelfon orang, mengganggu acara sarapan, dan mengganggu kenyaman telinga seorang gadis menawan bernama Haruno Sakura.

"Baka Naruto!" bentaknya tak kalah nyaring sambil mendekatkan ponsel yang sedari awal teriakan Naruto sudah ia jauhkan. "Pagi-pagi sudah mengganggu. Ada apa sih?" lanjut Sakura sambil memoles selai strawberry ke rotinya.

'Hehe….' Kelihatannya Naruto sedang nyengir mendengar bentakkan Sakura. 'nanti kau tidak sibukkan?'

Alis sakura terangkat 'apa lagi yang Naruto rencanakan setelah kemarin aku ditugaskan membuat 5 proposal untuk 5 perusahaan, dan harus selesai dalam 3 minggu. Gila!' dengus Sakura dalam hati.

"kenapa? Kau janji kan akan memberikan aku waktu libur 2 hari setelah proposal aneh itu, kau tidak lupakan? Eh? Naruto?"

'Hehe…' lagi-lagi pasti sekarang Naruto nyengir tanpa rasa bersalah. 'Sakura-chan… ku mohon untuk kali ini… saja. Aku ada janji dengan sahabat-sahabatku, aku lupa kalau aku telah membuat janji sama klien, tetapi bersamaan dengan itu aku juga buat janji dengan ke-4 sahabatku, please ya sakura-chan, kau kan sekretarisku… ya…'

'Nah kan benar, dia sekali lagi memberiku tugas.' "Naruto… aku sudah cukup sabar dengan mu, dengan tugas impossible mu itu, dan sekarang kau mau menghancurkan hari liburku? Hell jangan harap!"

Kita beralih ketempat naruto

Duh. Naruto lupa bahwa hari ini Sasuke sudah janji akan menjalankan misi meminta maaf pada Hinata setelah seminggu Sasuke selalu mangkir membantu mereka, katanya belum tepat waktunya, dan sekarang setelah tadi malam didesak, akhirnya Sasuke janji nanti malam akan mempertemukan mereka pada Hinata.

Tapi sial baginya, dia juga kadung berjanji dengan klien yang cukup berpengaruh di perusahaannya, galau memilih antara klien atau Hinata, sementara ia sudah berjanji akan memberikan Sakura libur.

Tapi dipikir lagi, toh ini cuma 2 jam, tidak memakan waktu lebih, dan dengan inisiatif sendiri akhirnya Naruto pagi-pagi menelfon Sakura meminta tolong pada sahabatnya itu.

"Sakura… aku tidak menerima penolakan!" nah loh, sekarang nada Naruto dibuat mirip Sasuke.

Ditempat sana, Sakura kaget. 'Naruto bisa setegas itu ternyata… mirip Sasuke kalau sudah seperti ini.' Gumamnya.

"heh! Kau pikir kau bisa seenaknya padaku ha? Setelah kau memberiku tugas yang menjauhkan Sasuke dariku, lalu disaat santainya aku, kau juga ingin merampas hari liburku?!"

"Kumohon Sakura-chan… sekali ini saja… kumohon…" balik lagi nadanya memohon ala Naruto.

'Hah….' Sakura menghela napas. 'baik-baik. Untuk sekali ini aku akan membantu mu Naruto, tapi lain kali tidak ada bantuan lagi untuk mu, mengerti?!'

"Kyaaaaa…. Sakura terimakasih terimakasih…."

'Hn. Eh Naruto…'

"Ya?"

'Kau bilang tadi ada janjian dengan keempat sahabat mu kan?'

"Ya."

'Berarti Sasuke ada disana?' nada Sakura semakin melirih, tampak suara kerinduan yang membuncah, hampir sebulan ia tidak bertemu Sasuke, eh mungkin sudah sebulan lebih.

"Y-Ya."

'Oh… jadi benar begitu?' 'kenapa kalau untuk sahabat-sahabatnya, Sasuke selalu berusaha meluangkan waktu ya?' inner Sakura.

"S-sakura… kau kenapa?"

'Tidak. Salam untuk sasuke-kun ya, bilang padanya kalau aku rindu…. sekali padanya. Katakan padanya, malam minggu besok aku ingin kerumahnya dan memasakkan makanan yang baru saja aku pelajari dari kasan ya Naruto.'

"Hn." 'kau selalu saja memikirkan Sasuke, Sakura… padahal…' inner Naruto.

'Naruto? Kau masih disana? Aku sedang sarapan, aku tutup dulu ya! Jangan lupa salam ku pada Sasuke-kun." Tut tut tut

Hubungan telfon itu terhenti setelah Sakura memutusnya, dan disinilah Naruto dengan segala gundah gulananya. "bahkan sampai sebulan pun Sasuke tidak pernah menanyakan kabarmu padaku Sakura, kau tau aku sedang menguji cinta Sasuke padamu, dengan menambah tugasmu agar tidak pernah punya waktu untuk Sasuke, aku ingin melihat bagaimana sikap Sasuke, apakah dia kehilangan atau… hah…" Naruto menghela napas, lalu duduk di ruang kerjanya.

"Apa… keputusanku salah ya? Rasa-rasanya aku ingin memukul Teme hari ini. Hah…"

….

"Sasuke. Katakan yang jelas. Kau bilang tadi kau bersahabat dengan Hinata-chan?" Sasuke mengangguk.

"Ada yang salah Itachi?" sang Kasan dari tadi sibuk mencerna ucapan Itachi yang masih kekeh mengulang kalimat itu beberapa kali.

"Biasanya Hinata akan melaporkan semuanya padaku tentang teman-temannya kasan. Dia itu friendship addict. Jadi aku selalu mengontrol semua sahabat-sahabatnya yang baru."

"Mendokudasai." Balas Sasuke yang mengerti akan maksud pertanyaan Itachi dari tadi.

"Sasuke!" tegur Fugaku tiba-tiba. Lalu Sasuke mendengus.

"Ngomong-ngomong tentang Hina-chan, Kaasan kangen sama Hina-chan, Itachi. Ajak dia kesini dong."

Seperti mendapat bintang jatuh, Sasuke langsung berbinar, ah akhirnya saat yang tepat datang juga, lagi pula di sudah terlanjur berjanji pada sahabat-sahabatnya, bahwa hari ini adalah puncaknya.

"Hn. Kasan." Sela Sasuke saat Itachi ingin menjawab. "Aku juga berpikir untuk mengundang Hinata kerumah, mungkin barbekyu kecil-kecilan dirumah, menyambut kedatangan Hinata mungkin, dan aku akan mengajak sahabat-sahabatu yang sudah lama tidak berkunjung kesini."

"Aha! Ide bagus, rumah ini sudah terlalu lama sepi karena Kiba dan Naruto jarang kesini." Jawab Mikoto antusias.

"Kenapa aku mencium sebuah rencana usang disini?" tebak Itachi, yang entah mengapa sangat tepat.

"Mendokudasai."

"Sasuke!"

Suasana ramai di kediaman Uchiha sore ini, sejak 2 jam lalu Hinata sudah datang ke rumah Sasuke karena diundang mengadakan barbekyu kecil-kecilan, dan dengan senang hati Hinata mau menghadirinya, karena Hinata sudah menganggap keluarga Uchiha seperti keluarga sendiri, lagi pula Hinata butuh refreshing.

Sekarang Hinata sedang berada didapur, mengambil bumbu untuk dijadikan bahan pelengkap masakannya, tanpa diduga Itachi berjalan mendekat. "Kau bawa obatnya kan? Jangan lupa, tidak boleh makan makanan yang dibakar." Ucapnya sembari mendekat.

Hinata menoleh lalu tersenyum. "Ita-ni tenang saja, aku akan menjaga kesehatanku, kan sudah biasa…"

"tadaima….." berbarengan dengan Itachi dan Hinata yang akan melangkahkan kaki ke halaman belakang, seseorang-ah tepatnya beberapa orang datang dari arah pintu masuk.

"Ada yang datang, sepertinya itu suara si Inu dan Dobe." Itachi berusaha setenang mungkin saat berkata seperti itu.

"Inu? Dobe? Siapa Ita-ni?" Tanya Hinata bingung.

"Itu, sahabat-sahabat Sasuke." Dan Hinata mangguk-mangguk. Entah mengapa ia jadi loading lama. "Aku kesana sebentar, kau kehalaman saja, pasti sudah ditunggu." Hinata mengangguk lalu berjalan ke halaman belakang tempat acara barbekyu berlangsung. Dan disisi lain Itachi menghela napas karena Hinata belum menyadari satu hal 'Sahabat-sahabat Sasuke' yang dimaksud.

"Tadaima…." Sekali lagi suara itu melengking.

"Diam! Aku sudah dengar." Itachi menyambur mereka yang sudah masuk. "Lagi pula kau seharusnya bilang Ohayou… memangnya ini rumahmu?" ujar Itachi sinis.

"Hehe… bukankah ini rumah kedua kami? Iya kan?" jawab naruto sambil menoleh kearah teman-temannya tanpa rasa bersalah.

"Hah… sudah sana masuk, kalian ditunggu di halaman belakang."

"Ugh… baunya harum sampai kesini, pasti itu daging sapi pilihan." Ujar Kiba.

"Inu… memang suka daging hah?" sindir Itachi.

"Apa Hinata sudah datang?" Tanya Shikamaru. Kini mereka berlima sudah berjalan menuju halaman belakang.

Itachi menoleh kearah Shikamaru yang kebetulan sejajar dengannya. "jadi benar ada konspirasi disini…" dan Shikamaru tidak menanggapi itu.

Sesampainya di halaman belakang.

Sasuke yang tengah membakar daging sapi bersama tousannya menoleh ke empat sahabatnya, lalu tersenyum miring dan melirikkan matanya pada Hinata. Berusaha member kode.

Dan sejurus kemudian, ke 4 pasang bola mata teralihkan ke sudut kiri mereka, melihat sosok sahabat kecil mereka yang sedang bercanda gurau dengan Mikoto.

"Oh. Kalian sudah datang!" ucap Sasuke berusaha meng-ekstensi-kan keberadaan Naruto dkk.

Awalnya Hinata tidak mendengar penuturan Sasuke, tapi saat Mikoto menolehkan kearah pintu penghubung rumah dan halaman belakang, Hinata jadi mengalihkan perhatiannya juga.

Deg.

Pandangan mereka bertemu. "Kami datang basan." Ucap keempat pria itu dengan masing-masing ekspresi mereka. Sementara Hinata diam membisu.

'Kami-sama… bagaimana ini?'

….

Suasan mencekam, awalnya ingin bersenang-senang, tapi malah menjadi berdiam-diaman, apalagi ini ruang kerja milik Uchiha Sasuke, lah, lengkap sudah semua kehorroran yang terjadi.

Setelah sapaan itu, semuanya menjadi biasa saja, tapatnya dibuat sebiasa mungkin oleh Sasuke, yah masa sih langsung to the point? Setelah acara makan memakan dan tentu saja acara menghindari tatapan sahabat Sasuke pada nya-Hinata-. Akhirnya si gadis tidak kuasa lagi menahan diri.

Ia ijin ketoilet karena sedari tadi ada yang berusaha keluar dari tubuhnya yang sedikit panas, terasa sekali termoregulasi nya tidak baik sekarang. Setelah menghilangnya Hinata, Sasuke menganggukkan kepalanya, dan berpamitan dengan Tousan, kaasan dan anikinya, untuk masuk kedalam keruang kerja, dan di ijinkan oleh mereka.

Dan disinilah mereka sekarang, ruang kerja Sasuke. (jangan dipikirkan bagaimana mereka membawa Hinata masuk kedalam ruang kerja, mereka punya taktik sendiri.)

"Lama tidak berjumpa Hinata." Shino memulai pembicaraan.

Hinata terasa tersudut, dia yakin kalau semua ini sudah direncanakan, dia merutuki kebodohannya karena telat membaca situasi, tentu saja sahabat yang dimaksud Itachi tadi adalah mereka. Siapa lagi kalau bukan sekumpulan orang dari masa lalu Hinata itu.

Sedikit menggigil, Hinata gugup, diluar kedinginan tapi didalam tubuhnya kepanasan, dengan keberanian yang sangat sedikit, Hinata mengangguk pelan. Lupa memberikan gambaran situasi.

Sasuke duduk disinggah sananya, berpura mengerjakan tugas-tugasnya, padahal sedari tadi dirinya menguping, Shino duduk sendiri di sofa tunggal membelakangi Sasuke, Shikmaru juga duduk di sofa tunggal tapi ada disamping kanan Shino berhadapan dengan Naruto dan Kiba yang duduk di samping kiri Shino. Sementara Hinata Hyuga duduk di sofa panjang seorang diri berhadapan dengan Shino.

"Hinata, langsung saja, kami ingin minta maaf." Ucap Kiba setelah mendapat anggukan dari Hinata.

Sontak, Hinata langsung menegakkan kepalanya. 'Apa katanya? Minta maaf?'

"Ya. Kami ingin minta maaf atas kejadian 12 tahun yang lalu, saat kita masih SD, dan kita yang membuatmu pindah serta masa SD dengan kenangan buruk." Ucap naruto dengan penuh penyesalan.

Hinata masih diam, mencerna tiap perkataan dari mantan teman SD nya itu.

"Hinata, kami minta maaf karena kami sering mengerjaimu, tapi percayalah, saat itu kami mempunyai niat baik." Kiba melanjutkan.

"Sudah diam dulu, biarkan Hinata menjawabnya, jelaskan secara perlahan-lahan." Sanggah Shikamaru yang sedari tadi melihat kegugupan di wajah Hinata.

Hinata yang menjadi sasaran jadi semakin gugup. "A-ano.. a-aku…" cicit Hinata, masih belum tau bagaimana harus menghadapi situasi ini.

'Cih. Hyuga Hinata…' dengus Sasuke dalam hati.

Karena tidak ada tanggapan, akhirnya shikamaru mengambil sikap. "Hinata, kalau begitu aku akan menjelaskan apa yang terjadi dulu, sebenarnya kami melakukan itu karena ingin membuatmu menjadi berani, dan menjauh dari kami agar kamu mempunyai teman seorang anak gadis, kami tau kamu susah sekali mendapatkan teman, itu semua karena sifat pendiam, pemalu, dan ketakutanmu.

"Walaupun caranya salah, tapi saat itu hanya ide itu yang terlintas dibenak kami, mungkin dengan dikerjai setiap hari akhirnya kamu ambil sikap dan menjadi orang yang berani, sehingga mungkin kamu akan menjauh dan mencoba mencari teman sendiri setelah itu." Penjelasan Shikamaru berhenti saat menatap Shino.

"Kami ingin mengakhiri kesalahpahaman ini, saat kau dikabarkan pindah, kami tau itu semua pasti karena kami menjahilimu terakhir kali dengan bunglon yang kami tangkap waktu itu, memang sih sedikit keterlaluan, tapi kau tau, kami sungguh menyesal karena tidak sempat meminta maaf padamu dan menjelaskan padamu apa yang terjadi, dan kau malah sudah berada di belahan dunia lain." Ini adalah kalimat terpanjang dari Shino dalam hidupnya. Sebelumnya ia juga pernah berkata panjang sih saat edisi bikacho-lupakan saja.

"Hinata…" rengek Naruto, yang mulai pasrah karena Hinata masih tidak menanggapi. "Kami seperti ini karena menganggapmu sahabat kami, sungguh. Kami ingin kau berubah menjadi gadis yang kuat, serta tidak ragu dalam berteman, kami ingin kamu mempunyai banyak teman disekelilingmu, apalagi saat Kurenai sensei memohon pada kami, sungguh kami ingin yang terbaik untukmu Hinata. Maaf kan kami, karena cara kami yang salah Hinata-chan…"

"A-aku… A-aku s-sungguh t-tidak marah kok. S-sungguh…" sukses membuat penghuni ruangan penasaran, minus Hinata.

"M-maksudmu?"

"J-jadi, i-intinya a-aku tidak marah p-pada kalian." Mata hinata berbinar, ia yakin ini hanya kesalahpahaman, disamping itu, Hinata sangat bersyukur mereka ternyata tidak membenci Hinata, karena jika memang benar mereka membenci Hinata, seumur hidup Hinata tidak bisa bertemu mereka.

"H-hinata… kalau kau tidak marah, kenapa kau menghindar dari kami?" Tanya Naruto dengan wajah masih kebingungan.

"I-itu semua… k-karena m-masalahku sendiri Naruto-kun."

'Masalah nya?' inner semua orang yang ada diruangan itu.

Melihat wajah bingung teman-temannya –ya sekarang Hinata berani menganggap mereka teman, mungkin ingin menganggap mereka sahabat lagi, ah dasar Friendship addict- Hinata sedikit menghela napas.

"S-setelah k-kejadian h-hari itu, a-aku bertemu s-sahabat pertamaku." Dan semuanya sukses dibuat kaget. Sahabat pertama? Di konoha maksudnya? "D-dia b-bilang bahwa k-kalau t-tidak bisa melawan, l-lebih baik a-aku kabur dari m-masalah, d-dan k-kembali lagi jika a-aku sudah berubah d-dan bisa menghadapi m-masalah itu."

"Hah? Siapa dia?" Tanya kedua orang yang paling berisik disana.

"E-entahlah…" wajah Hinata jadi sendu. Ia belum sempat bertanya siapa anak itu. "T-tapi… d-dia b-berhasil membuatku b-belajar dengan h-hanya sekali bertemu d-dengannya. D-dia orang pertama y-yang mengajari aku c-cara p-permainan hidup."

"A-awalnya a-aku tidak me-ngerti maksudnya, tapi lama-lama a-aku menyadari, sebuah perubahan a-akan di katakan ekstrime dan berhasil j-jika kita ti-dak melihat proses o-orang itu berubah. M-maka d-dari itu, k-karena aku memilih untuk k-kabur dan b-berubah, aku jadi p-pergi. A-aku ingin k-kalian melihat perubahan ku, m-menunjukkan b-bahwa aku b-bisa menjadi Hinata yang p-percaya d-diri dan b-banyak teman."

"J-jadi… sebenarnya kau tidak takut pada kami kan? Kau tidak marah benar begitu?"

"Y-ya… k-kemarin i-itu, aku hanya takut… a-aku belum siap kembali k-kesini, k-karena aku berpikir, a-aku belum b-banyak berubah, k-kurasa aku gagal, dan a-aku belum siap bertemu kalian…"

"Well, jadi benar-benar kesalahpahaman."

"Y-ya. Mungkin. K-karena m-mendengar p-perusahaan y-yang sedang jatuh, a-aku harus terbang kesini."

"Maafkan kami atas itu semua, sebenarnya kami merencanakan itu, agar kau kembali ke Konoha, kami ingin meminta maaf, dan sekali lagi, mungkin cara itu salah ya. Eh Shika?" naruto mendengus karena lagi-lagi rencana mereka sungguh salah besar.

"He…" Hinata tersenyum sekilas. "T-tidak apa, k-karena dengan ini, kita b-bisa meluruskan ke-salahpahaman k-kita kan?"

"Yosh Hinata! Sekarang kita bershabat lagi kan? Iya kan?" tiba-tiba cengiran dan teriakan Naruto membahana. Dan Hinata hanya mangguk-mangguk mengiyakan.

"Hah…. Leganya…" ujar Kiba.

"Nah sekarang, kita akan membantu memulihkan Hyuga Corp kembali." Dan itu membuat mata Sasuke membelalak. Kok jadi begini sih?

Di balik pintu, seseorang tengah mendengarkan secara sembunyi-sembunyi apa yang di bicarakan oleh sahabat-sahabat adiknya itu, Itachi Uchiha sibuk mencari tau hasil dari diskusi kesalahpahaman yang konyol –menurutnya-

TBC

Well, lama ya updatenya, hehe gomen ne.

Balesan review - ternyata ada yang suka di bales satu-satu. kalo gitu, aku bales satu-satu lagi, ndak seperti kemarin.

enischan silahkan dibaca, gratis kalau punya kuota. hehe. Biru-biru Chan ya... banyak typo soalnya ndak diedit, hehe. kenapa nggak diputus, ada yang request supaya Sasuke dibuat galau milih dulu katanya, ya... begitulah, ini masih dipikirkan galaunya gimana, Arum Junnie, alta0shapphire maybe yes maybe no, soalnya aku tipe penyuka sad ending, entahlah, mungkin juga happy ending, lihat saja nanti, hehe. kapannya ngikutin mood nulis aja dulu, idenya masih campur aduk. astiamorichan, dindachan06. syuchi hyu, AngelsVr, chipana, Shu ya ditunggu chap berikutnya ya... tapi kayaknya ini ndak square soalnya Hinatanya ndak suka Naruto :) siiuchild iya hinatanya sakit, itu nanti ada pada bagian endingnya, sembuh ato ndaknya ditunggu aja. Megami Yozora. Arigato, iya banyak typo nya, ndak diedit kemarin. gomen ne... hm sebisa mungkin Sakuranya disempilin, soalnya ide scene Sakura emang sedikit sih, hehe, tapi diusahain buat cerita Sakura, biar kerasa konfliknya. untuk berapa chapter, Ai juga ndak bisa mastiin, mungkin belasan, paling maksimal ya 20 mungkin, haha muluk-muluk, yah doain aja ndak panjang-panjang. Guest, gomene... aku orang indonesia sih... hm... bahasa inggris mana yang kamu maksud ya? kalau masalah di chap 6, itu lirik lagu kok, dari fairy tale. hm... yang anda maksud yang mana ya? gomen sekali lagi, lain kali diperbaiki, dan makasih sebelumnya :)