You

Disclaimer :

Masashi Kishimoto with Naruto

You by Rinyaow

Pair :

SasuxNaru, NejixGaa, ShikaxKiba

Rated : T

Genre : Romance

Warning :

Gaje, Alur Kecepatan, Banyak typo, Shounen-ai, BL, OOC, ga nyambung dan banyak lagi .

Setting : AU / Alternative Universal

mohon maaf author-author yang sudah lebih berpengalaman. Saya penulis *belum bisa dibilang author* baru yang belum terlalu mengerti.

Key Word for Everyone :

-Do not like? I beg you to do not read this-

Sesosok tubuh terlihat di ruangan kesenian yang terang- karena menghadap langsung dengan taman sekolah- itu. Terangnya ruangan itu bertambah oleh kilau emas dari rambut pirang milik pemuda itu. Dia sedang duduk, menuangkan seluruh konsentrasinya ke atas lembar kanvas putih. Tangan berwarna tan-nya terlihat tegas menggoreskan cat warna dan merubahnya menjadi suatu kumpulan warna abstrak yang teratur.

Dia sedang melukiskan beberapa helai daun yang berguguran dari pohon sekolahnya. Pemandangan itu terasa pas sekali dengan dirinya sekarang.

Dia menghela napas pelan. Diturunkannya tangan yang memegang kuas perlahan. Ditatapnya guratan warna itu. Terasa mati.

Dia tertawa pelan. Tidak ada yang lucu memang. Melihat hasil lukisan sendiri yang tidak sesuai harapan, tentu bukan sesuatu yang lucu. Dia tertawa atas dirinya. Untung saja, dia sedang sendirian di ruangan itu. Jika disitu banyak orang, maka mereka akan mengira Naruto sedikit 'berubah' karena jauh dari Sasuke. Tentu saja, Naruto tidak suka dianggap lemah seperti itu.

Saat-saat dimana dia sendirian, tanpa Kiba dan Gaara- sahabat baru- nya, membuat Naruto sedikit lega. Dia tak perlu memasang 'senyum' andalannya pada mereka. Kiba dan Gaara memaklumi keadaan sahabatnya itu. Mereka ingin membantu, tapi secara non verbal, 'senyum' Naruto menegaskan bahwa dia bisa menghadapi ini. Dan tak ingin membuat mereka ikut campur dan repot.

"Naruto-kun?" suara berat seseorang memanggil namanya.

Naruto pun berbalik. Menghadapi sosok yang menyebut namanya.

"Sai-san," jawab Naruto sopan setelah mengetahui orang yang memanggilnya adalah senpai-nya di klub melukis.

"Melukis apa?" tanya Sai singkat. Tak lupa menyunggingkan senyum yang dirasa Naruto sama setiap harinya.

"Daun yang berguguran, Sai-san,"

"Oh,"

Keduanya sama-sama terdiam. Yang satu sama sekali tidak tahu bagaimana cara berbasa-basi. Yang seorang lagi, sama sekali bukan dalam mood yang bagus untuk memulai pembicaraan.

Jadilah keheningan yang menjadi teman mereka.

"Naruto-kun tidak makan siang? Istirahat sudah hampir habis," kata Sai memulai. Dia mengambil kursi dan duduk di dekat jendela.

"Tidak, Sai-san. Tidak lapar. Senpai sendiri?"

"Aku sudah makan sedikit roti tadi. Dan sebaiknya kau makan,"

"Ya. Hanya saja, aku sedang tidak punya nafsu untuk makan," kata Naruto. Matanya menatap nanar lukisannya.

"Kau ada masalah?" tanya Sai langsung. Tak biasanya dia melihat Naruto seperti ini.

"Tidak apa-apa kok," jawab Naruto sambil tersenyum.

Sai sungguh tahu junpei-nya itu berbohong. Senyum yang dibentuk secara paksa adalah bukti kuat atas pikirannya itu.

"Apa ada yang terjadi selama aku mengikuti festival itu?" batin Sai.

Sai baru saja selesai mengikuti festival untuk remaja yang tertarik pada lukisan dan suka melukis. Event yang diadakan besar-besaran itu sungguh ramai. Meskipun Sai tertarik dengan festival itu, dia tidak terlalu suka berada di tengah keramaian. Hampir saja pemuda berkulit pucat itu menolak jika sang kepala sekolahnya tidak memaksa dengan sungguh-sungguh. Mana mau makhluk seperti Sai ada di kerumunan banyak orang seperti itu.

"Kenapa memandangku seperti itu, Senpai?"

Sai terbangun dari lamunannya. Dia baru sadar kalau dari tadi dia memandangi pemuda di hadapannya ini.

"Tidak. Aku hanya sedang berpikir,"

"Oh, aku kira ada sesuatu yang salah di wajahku," jawab Naruto santai.

"Haha, tidak ada apapun yang salah. Hanya saja, aku suka melihat matamu itu. Penuh semangat, menurutku," kata Sai sambil tertawa pelan.

"E-eh?" Naruto terkesiap melihat pemandangan di depannya. Dia memang sering melihat senpai-nya ini tersenyum. Namun bisa dikatakan, tawa Sai itu jarang dikeluarkan oleh pemiliknya.

"Ya. Aku suka melihatnya. Tapi kenapa sekarang mata itu terlihat sedikit redup?" tanya Sai dengan muka serius. Tanpa senyum.

"…" Naruto diam saja. Dia tertunduk.

"Hei,"

Naruto mendongakkan kepalanya.

"Kalau kau ingin cerita, cerita saja. Anggaplah aku kakakmu, Naruto-kun," kata Sai pelan namun tegas. Dan dalam waktu yang sama terkesan lembut.

"Bagaimana?" tanya Sai setelah lama Naruto tak menjawab.

"Ba-baik, Sai-san. Terima kasih banyak," kata Naruto sambil tersenyum. Ia merasa senang.

Memang dia memiliki banyak orang yang menyayanginya. Iruka, Kakashi, Kiba , Gaara, dan temannya yang lain. Hanya saja sosok 'kakak' yang dia cari tidak dapat dia temukan pada siapapun.

Dan akhirnya, seorang Sai yang memiliki karakter 'dewasa' dan dikagumi Naruto mengatakan bersedia dianggap menjadi 'kakak' olehnya. Tentu saja dia merasa sangat senang.

"Ya, sama-sama, Naruto-kun," jawab Sai. Dia senang Naruto bersedia menganggapnya sebagai 'kakak'. Itu artinya hubungan mereka semakin dekat. Dan Sai menjadi senang akan itu.

"Kenapa aku merasa senang seperti ini?" batin Sai. Dia melihat senyum Naruto yang sedang ditujukan padanya. Tiba-tiba ada perasaan hangat yang menyelusup di perutnya. Tapi dia tidak peduli. Dia pikir itu hanya karena dia lapar saja.

Mereka diam. Terkadang keheningan dapat menjadi teman yang baik di waktu yang tepat.

"Sai-san," bisik Naruto pelan.

"Ya?"

"Aku masuk kelas duluan yah?"

"Kenapa harus bertanya padaku, Naruto-kun?"

"Karena senpai sedang berada di dekatku sekarang. Jika aku pergi begitu saja akan terasa aneh dan tidak sopan," cengir Naruto.

"Hihi, kau ini," jawab Sai. Di depan Naruto, Sai bisa tersenyum dengan tulus. Bahkan tertawa. Melihat kepolosan pemuda itu membuat Sai lebih leluasa dalam bersikap. Dia tak perlu memasang wajah senyumnya tiap waktu di depan Naruto.

"Baiklah. Aku mau ke kelas dulu, Senpai. Bye," kata Naruto sambil melambaikan tangannya dengan penuh semangat. Kemudian dia berlari menuju pintu. Meninggalkan Sai yang tersenyum senang melihat keaktifan pemuda pirang itu.

Naruto berlari dengan riang ke kelasnya. Menemui Kiba dan Gaara yang terkejut melihat perubahan sahabat mereka itu. Mereka ikut senang melihat Naruto yang sudah bisa tersenyum lepas . Mereka asyik mengobrol dan sudah bersiap pulang.

"Naruto, kau terlihat senang," tanya Gaara pelan.

"Ya, Gaara. Aku senang sekali. Kau juga, beberapa hari ini berubah menjadi lebih baik. Lebih terkesan 'hangat'. Tidak 'dingin' seperti dulu," jawab Naruto sambil memberikan cengiran ciri khas-nya.

"Haha, kau benar, Naru-chan. Dia terlihat berbunga-bunga," sambung Kiba diiringi tatapan sebal dari Gaara.

Mereka asyik sekali mengobrol sampai mereka tak sadar saat sudah sampai di depan loker sepatu. Mereka segera menuju loker masing-masing. Setelah selesai, mereka berjalan menuju gerbang. Sebelum mereka sampai, mereka melihat 3 orang yang duduk di pinggiran kolam air mancur di halaman sekolah.

Mereka terkejut. Terkesiap dan refleks menyebutkan nama pemuda itu satu persatu. Pemuda yang memiliki arti sendiri bagi mereka.

"Shikamaru-kun," bisik Kiba.

"Neji-san," kata Gaara pelan.

"Sa-suke," desis Naruto.

Ketiga pemuda itu menatap ketiga pemuda lainnya.

Mereka saling berbalas tatapan satu sama lain. Kecuali pemuda pirang yang menghindari tatapan pemuda berambut biru gelap.

"Shikamaru-kun, kenapa belum pulang?"

"Ck, merepotkan,"

"Eh?"

"Kau lama sekali keluar dari kelas, Kiba,"

"Ma-maaf. Aku keasyikan mengobrol dengan Gaara dan Naru-chan. Eh, apa hubungannya? Bukankah kau bisa tetap pulang tanpa menungg-," ucapan Kiba terpotong saat dia menyadari sesuatu. Dia memandang Shikamaru yang sedang menggaruk kepalanya.

"Sudah sadar?" tanya Kiba.

"E-eeh?" Kiba merasa wajahnya panas.

"Ck, aku ingin pulang bersama denganmu, baka,"

"A-aku juga! Aku juga mau , Shikamaru-kun!" kata Kiba senang.

"Yah, ayo pulang," kata Shikamaru. Dia berjalan di depan Kiba.

Kiba mengikuti langkah Shikamaru yang panjang itu. Dan dia pulang dengan hati yang menghangat begitu saja saat dia ada di dekat Shikamaru. Kiba tak sadar, Shikamaru juga merasakan hal yang sama dengannya. Walau tak nampak di raut wajahnya yang kelihatan malas itu.

"Neji-san,"

"Ya, Gaara. Ada apa?"

"Belum pulang?"

Neji hampir tertawa mendengar pertanyaan bertanda "Love" di dahinya itu. Jelas-jelas Neji ada di hadapannya. Masih saja bertanya seperti tadi.

"Ya,"

"Oh," Gaara menjawab singkat. Dia tidak tahu apa maksud Neji.

"Kau mau pulang?" tanya Neji lagi. Neji sedikit terkejut mendengar semua jawaban singkat Gaara. Dia merasa semakin senang ada di dekat pemuda ini.

"Ya, tentu saja,"

"Mau pulang bersamaku?"

Jika Gaara adalah Naruto, kemungkinan besar dia akan berkata, "Hah?".

Sayangnya, Gaara yang satu ini memang mempunyai sisi cool yang tak kalah dari Uchiha Sasuke.

"Mau?" ulang Neji saat Gaara tak kunjung menjawab.

"Kenapa aku harus mau?" tanya Gaara. Sebenarnya di dalam hati, dia senang. Hanya saja dia tidak tahu bagaimana cara mengekspresikannya.

"Karena aku mengajakmu, Gaara-kun," kata Neji sambil menggamit pelan tangan Gaara. Gaara terkejut sebentar. Sejenak dia ingin menepis tangan Neji. Tapi dalam satu waktu dia merasa nyaman.

"Percaya diri sekali kau, Hyuuga-Senpai," kata Gaara. Tak urung hatinya terasa hangat melihat tangannya yang digenggam Neji. Gaara menggenggam balik tangan Neji.

"Haha, itulah aku, Gaara-kun," kata Neji sambil tersenyum. Singkat dan cepat. Tangannya terasa hangat, begitu juga hatinya.

Dan Gaara yang sempat melihatnya membalas senyum singkat Neji dengan sedikit seringaian di bibirnya.

~0o0~

Lain dengan Shikamaru dan Neji yang berhasil mengajak orang yang mereka sukai, Sasuke harus berhadapan dengan Naruto yang sama sekali tidak mau memandangnya.

"Naruto,"

Naruto tetap tidak bergeming. Dia tidak menatap Sasuke. Dia tidak mau mendengar kebohongan lain dari Sasuke.

"Aku mau bicara padamu," kata Sasuke lagi.

Tidak ada suara.

"Naruto," sikap dingin Sasuke seakan lenyap setelah berbicara dengan pemuda yang telah disakitinya ini.

Naruto tetap tidak menjawab. Dia ingin menjawab, hanya saja suaranya seakan tercekat di tenggorokannya.

Perasaan Sasuke sungguh bercampur aduk. Dia kesal Naruto tidak mau memandang mata kelamnya. dia kesal tidak bisa melihat mata biru langit dirinya. Dia sangat kesal karena ini adalah kesalahannya. Kesalahannya! Dia ikut merasakan sakit melihat mata biru yang terluka itu. Mata yang biasanya selalu memancarkan kehangatan pemiliknya.

"Sudahlah," bisik Naruto.

"Apa?" Sasuke menjawab.

"Sudahlah, tidak perlu menjelaskan apa-apa padaku," kata Naruto sambil tetap menunduk.

"Apa maksudmu?" kejeniusan sang Uchiha seakan menguap begitu saja sampai Sasuke harus bertanya dua kali pada lelaki Uzumaki.

"Aku sudah tahu,"

"Denga-,"

" Aku memang masih belum bisa menerima kenyataan ini. Aku belum bisa menerima kalau kau hanya mempermainkanku. Aku sudah tahu semuanya. Sudahlah, kalau kau ingin menjelaskan, tidak perlu. Aku sudah tahu semuanya, Sasuke," kata Naruto sambil memandang mata Sasuke. Rasa sakit terlukis dengan jelas di mata Naruto.

"Tidak perlu Sasuke, aku sudah tahu," ulang Naruto.

"KAU TIDAK TAHU!" Sasuke berteriak frustasi. Tiba-tiba dia memeluk Naruto. Naruto terkesiap. Sasuke memeluknya begitu erat sampai dia bisa merasakan amarah dari Sasuke.

"Lep-lepaskan! Apa-apaan kau? Lepaskan aku Sasuke!"

Sasuke tidak mengindahkan pukulan dan teriakan Naruto. Dia merindukan kehangatan ini. Dia sungguh rindu. Dan kehangatan itu hilang karena dirinya sendiri. Dirinya..

"Lepa-umph!"

Sasuke tiba-tiba memerangkap bibir Naruto dengan bibirnya. Dengan kasar dan penuh tekanan, Sasuke merasakan bibir Naruto yang bergetar. Naruto memaksa Sasuke agar melepaskannya. Sasuke sama sekali tidak mengindahkan tindakan apa yang dilakukan Naruto untuk lepas darinya.

Setelah beberapa saat, Sasuke melepaskan Naruto. Saat membuka matanya, dia merasa dadanya tertusuk. Naruto menangis. Lagi. Karena dia. Dia.

"Ke-kenapa kau lakukan itu? Belum puaskah kau menyakitiku? Belum cukupkah hadiah taruhanmu atas hatiku? Apalagi yang kau mau dariku? Apa? Kau ingin hatiku hancur? Sudah. Dia sudah hancur. Hancur.." kata Naruto lirih.

"Ti-tidak. Bukan itu," Sasuke mendesis pelan. Sakit.

"..." Naruto tidak menjawab.

"Naruto-kun? Belum pulang?" tanya seseorang di belakang tubuh menoleh.

Sasuke terkejut melihat siapa yang memanggil Naruto. Dia adalah target 'mantan' taruhan yang diputuskan untuk Shikamaru.

"Sai-san," bisik Naruto.

Sai menghampiri Naruto yang berada tidak jauh di depannya.

"Kau baik saja? Kenapa menangis?" Sai terlihat panik. Tentu saja wajahnya tidak menunjukkan itu. Hanya saja, jika mereka melihat Sai bersikap pada Naruto, kelihatan sekali kalau pemuda berkulit putih pucat itu benar-benar panik.

"Tidak apa-apa, Sai-san," kata Naruto. Dia menghapus jejak air yang mengalir di pipinya.

"Apanya yang tidak apa-apa? Matamu merah sekali," kata Sai sambil menyentuh pipi Naruto dengan lembut.

Sasuke yang melihat pemandangan di depannya merasa tertampar.

"Lepaskan dia," kata Sasuke. Dia mencengkram tangan Sai dan melepaskannya dengan kasar.

"Memangnya kau siapa dia, hah?" balas Sai sambil meringis pelan. Cengkraman Sasuke tidak main-main.

"Aku itu keka-"

"Kekasihnya? Bodoh sekali kau. Adakah kekasih yang membuat pasangannya sampai takut disentuh?"

Sasuke terbungkam.

Dia melihat Naruto yang masih memegang bibirnya. Tubuhnya bergetar.

"Na-naruto," Sasuke mengulurkan tangannya. Ingin menyentuh pergelangan tangan Naruto.

"To-tolong, jangan sentuh aku,"

Sasuke terkejut. Kepalanya terasa kosong tiba-tiba.

"Kau sudah dengar 'kan? Dia tidak mau kau sentuh, Uchiha Sasuke-san. Biar aku mengantarnya pulang," kata Sai tegas. Dia merangkul pundak Naruto pelan. Menjaga agar Naruto tidak jatuh.

Dibawanya Naruto menjauh dari kolam air mancur yang menjadi saksi bisu hubungan kompleks di antara mereka bertiga.

Mereka berdua meninggalkan pemuda lain yang menatap kosong tanah di bawahnya.

Yang sedang mengepalkan tangannya erat.

Yang merasakan sakit yang menyerbu seenaknya saat dia pergi.

Dan itu karena kesalahannya sendiri.

Kesalahannya yang membuat dia lepas darinya.

Dia yang berhasil menembus kerasnya hati lelaki bernama Uchiha Sasuke.

To be continued


P/N :

Maaf yah minna-san. Kok menurut Rin fic ini malah Rin panjang-panjangin. Maaf.. Ring a mau merusak alur.. Rin mau bkin fic ini mengalir alurnya.. Jadi maaf yah bagi readers and reviewers.. Kalau fic-nya seperti ini.. Gaje dan Lebay.. I'm so sorry .

dan maaf chap ini lambat. Rin lagi jdi panitia MOS.. bisa nyentuh laptop cma tngah malamxD

Ada yang mau mengajari Rin membuat fic yang lebih baik?

Dan memberi komentar tentang chap ini?

Berkenankah kalian meninggalkan review untuk Rin?

Arigatou~


Balasan review kalian, my buddies xD

Yuiko : Arigatou.. huhu TwT Rin terharu.. makasih banyak..


Chic-kun : Makasih Chic-kun.. uda mengikuti dari awal sampai chap ini.. Rin senang sekali. Makasih banyak. TwT iya. ada Sai nih . hehe :)


lovey dovey : i'm so touchful read your review.. thanks, yeah, and Rin always try to update fastly.. thank you very much.. Yah, mereka sama-sama belum mengerti perasaan mereka :)


Nhia Chayang : maaf yah lama updatenya.. makasih Nhia.. uda ikutin fic ini.. makasih banyak.. Rin senang sekali..


lovelylawliet : trimakasih banyak, lawliet-san.. trimakasih.. Rin senang.. trima kasih untuk smuanya.. T.T


UchiRasen : Merci beaucuop, Uchi-kun.. Rin tidak tahu mau berkata apa lagi,. makasih banyak uda bersedia review . T.T


daniel maimi potter : iniii udaa update.. makasih banyak daniel-san :D


Vii no Kitsune : iya Vii-san.. rin akan coba.. rin akan mndengarkan Vii-san.. makasih banyak! makasih! TwT


Safira Love Sasunaru : iya xD makasih banyak, Safira-san TwT


Michiru no Akasuna : Rin juga fujoshi baru! gara2 SasuxNaru inii xD ini updatenya. maaf lama yah.. anyway, makasih banyak, Michiru-san! xD


Thanks All.. Proud for me can know you my buddies :D

thanks for your read and your reviews..

Rin