Jawab pertanyaan dululah.

Saso daan saku kembar? Iya..

Main pair-nya apa? Sasu x Saku

Fic ini bakalan incest? Well… sebelumnya aku udah jelasin bahwa ff ini terinspirasi dari manga Boku Wa Imouto Ni koi Wosuru. Disana ceitanya itu sang kembar twincest. Bahkan twincestnya sampai menjurus rate M. TAPI, DI ff ini, twincest-nya gak akan menjurus ke rate M. Paling cuman scene ciuman yg Saso kemarin. Dan kayaknya cuman itu aja deh. Jadi, gak bakalan parah.

Arti 12 Choices itu apa? Sesuai dg maknanya, bakalan ada 12 Pilihan yg akan diajuin utk 3 pemain utama di ff ini, dengan porsi 4 pilihan setiap pemain utamanya. Kemarin 'kan udah 2 pilihan utk Sakura, jadi tinggal 2 lagi utk saku. 4 utk Saso, dan 4 juga utk Sasu.

nah.. siapa aja yg ngajuin pilihan itu? Siapa aja. Bisa sahabat, keluarga, atau sesama pemain utama. Yg penting pilihan diajuin hanya utk 3 pemain utama kita.

Ada yg mau Tanya lagi? Silahkan di review atau PM.


Previous Chapter:

Sakura membuka kelopak matanya dan menampilkan iris emerald yang terlihat sendu. Ia meraba bibirnya yang terasa hangat dan menolehkan kepalanya kearah ranjang Sasori. Pemuda itu tidur sambil membelakanginya dan samar-samar ia mendengarkan suara parau kakaknya.

"Onii-chan.."

Sakura kembali meraba bibirnya dan bergumam pelan.

"Onii-chan, mengambil ciuman pertamaku."


12 Choices

By Ryuhara Haruno

Naruto belongs to Masashi K

Pair : Sasori x Sakura

Rate: m

Warning : OOC, typo (S), dan imajinasi berlebihan.


happy reading !

Chapter 6 : THIRD CHOICES

Pagi-pagi sekali Sakura terbangun dari tidurnya. Emerald-nya terlihat sendu dan memandang sosok pemuda yang menjadi saudara kembarnya yang masih terbuai di alam mimpi sana. Ia mengusap permukaan bibirnya perlahan, dan tersadar dengan apa yang telah dilakukan oleh Sasori padanya semalam.

"Onii-chan, kenapa?"

Tes.

Sebuah titik bening terjatuh dari kelopak emerald itu dan segera dihapusnya dengan cepat. Sakura merapikan tempat tidurnya dan mulai melangkahkan kaki menuju dapur. Rencananya, hari ini ia akan membuatkan Sasuke sebuah makanan spesial sebagai tanda terima kasih untuk jalan-jalan kemarin dan juga Sukechi-chan.

Sasori mengerjapkan perlahan mata hazel-nya saat ia rasakan cahaya matahari pagi mulai masuk melalui celah-celah balkon di kamarnya. Ia membalikkan tubuhnya 180 derajat untuk menghadap tempat tidur adiknya. Didapatinya tempat tidur itu kosong dengan lipatan selimut serta bantal-bantal yang tersusun rapi. Ia memijat pelipisnya sebentar dan beranjak menuju kamar mandi. Berusaha menghilangkan ingatannya tentang kejadian semalam, sekaligus untuk melunturkan bibirnya yang sudah mengambil ciuman pertama adik kembarnya sendiri.

.

.

.

Tuk

"Ah.. akhirnya selesai juga." Sakura menghapus keringat didahinya dan memandang makanan yang baru saja selesai ia masak. Ia membuat ayam teriyaki dengan beberapa onigiri dan potongan tomat yang banyak. Sedangkan untuk minuman, Sakura membuat Jelly Tea yang dipercaya dapat membuat seseorang menjadi rileks setelah meminumnya. Sakura tersenyum manis dan segera merapikan dapur.

"Semoga Sasuke-kun suka dengan masakanku. Hehehe.."

Ia membungkus kotak bento itu dengan kain berwarna soft pink dan memasukannya ke dalam tas kecil berwarna merah.

.

.

.

Ceklek!

Pintu kamar berwarna putih itu terbuka dan menyembulah kepala merah muda dari sana. Emerald-nya terlihat bingung begitu mendapati kamarnya kosong melompong. Sakura baru saja selesai mandi dan memakai seragam KSHS dengan rapi. Setelah memasak bekal tadi, ia mengambil seragamnya dan membersihkan diri di kamar mandi yang terletak di dekat dapur. Ia sengaja tidak mau mandi di kamar mandinya sendiri, karena tahu pasti Sasori sedang menggunakannya.

Ceklek!

Tak lama kemudian terdengar pintu yang terbuka. Suara itu berasal dari pintu kamar mandi di dalam kamar si kembar dan munculah sosok Sasori yang sudah rapi dengan seragamnya juga. Surai merahnya terlihat masih basah dan ia keringkan dengan handuk. Awalnya dia mengira tidak ada siapa-siapa, tapi begitu hazel-nya mendapati Sakura yang berdiri di depan pintu, ia segera membuang muka dan memasang wajah datar dan dingin.

Sakura yang merasakan aura hitam yang menguar di sekitar saudara kembarnya hanya diam disana tak berkutik. Sasori sengaja memasang tampang datar dan dingin, karena hal yang sebenarnya adalah ia tak bisa mengendalikan perasaannya saat melihat Sakura. Melihat gadis itu berdiri disana, wajah polosnya yang cantik, sepasang emerald yang terlihat ketakutan saat memandangnya. Sebenarnya ia tak tega untuk bersikap seperti ini pada Sakura. Namun, setelah kejadian semalam sepertinya ia harus mengikuti nasehat Deidara. Yaitu, menjauhi Sakura demi menghilangkan perasaan terlarang ini.

"Onii-chan!"

Jangan!

Jangan keluarkan lagi suara bening itu.

Sasori berjalan cuek di depan Sakura untuk mengambil sisir di meja rias mereka. Begitu ia berlalu di depan gadis merah muda itu, ia merasakan sepasang lengan kecil memeluknya dari belakang. Dengan sesuatu yang berusaha menyamankan posisi di punggungnya, dan suhu serta dekapan hangat yang mulai menjalari tubuhnya dan menghantarkan sentuhan seperti tersengat listrik jutaan volt. Tidak! Yang seperti ini tidak boleh dibiarkan.

Sakura memejamkan matanya dan memeluk Sasori dengan erat dari belakang. Aroma maskulin yang menenangkan indera menelisik ke dalam hidungnya dan membuatnya semakin mengeratkan pelukan itu. Walau sebenarnya ia masih teringat dengan kejadian semalam, namun ia berusaha melupakan perisiwa kecil itu dan bersikap seolah-olah tak tahu apa-apa.

Berbeda dengan sosok pemuda tampan ini sekarang. Ia merasakan debaran jantungnya semakin menggila dan berpacu dengan darahnya yang berdesir ketika merasakan sentuhan itu. Ini salah! Dan inilah yang membuatnya semakin tersiksa dengan perasaan ini. Perasaan tenang dan nyaman saat dipeluk oleh Sakura. Bukan nyaman dalam artian pelukan sebagai saudara kembar. Namun, nyaman dalam artian, hatinya terasa damai saat tubuh mereka saling mendekat dan menyalurkan kehangatan masing-masing. Membuat detak jantungnya menjadi tidak normal, dan semakin menumbuhkan perasaan terlarang ini.

Tidak!

Ia harus menghentikannya.

Sudah cukup ia tersiksa dengan perasaan terlarang ini. Ia tak mau harus sampai menyeret Sakura dalam permasalahan ini dan membuat semua menjadi runyam.

Walau rasanya sulit, tapi ia harus melakukannya.

Ia tak bisa membiarkan semua semakin terlarut dengan keadaan dan membuatnya semakin terjatuh di dalam jurang gelap ini.

Cukup ia yang merasakannya. Dan jangan sampai Sakura ikut terseret.

Sasori memejamkan matanya dengan kuat. Ia harus bisa! Lakukan dan buat ia benci padamu. Menjauhinya sebisa mungkin dan lupakan perasaan yang pernah singgah di hati ini. Dengan begitu, semua akan kembali normal.

SRAK!

Sasori melepaskan kedua tangan Sakura secara kasar dari pinggangnya dan menghemaskan tubuh kecil Sakura hingga ia terduduk di lantai. Emerald Sakura langsung terbelalak kaget dan merasakan nyeri di tubuhnya saat mendarat di lantai yang keras. Belum lagi kedua tangannya yang dihempaskan Sasori terasa sakit dan memerah. Seketika wajah Sakura memerah dan ia menutupi wajah kecil itu dengan kedua telapak tangannya.

"Hiks..hiks.."

Sasori meliriknya melalui ekor mata dengan perasaan bersalah yang hinggap di hatinya. Ia tahu ini salah. Tak seharusnya ia mendorong Sakura seperti itu. Tapi, ini semua demi kebaikan. Ia harus berlaku kasar agar Sakura membencinya dan menjauhinya sehingga perasaan ini menghilang. Namun, melihat sosok merah muda itu terduduk dengan lemah dan raut wajah yang penuh dengan kesedihan, membuat hatinya tersayat dan pilu.

Bodoh!

Kenapa harus dengan cara ini ia lakukan agar mereka bisa saling menjauh!

Dengan menyakiti Sakura melalui kedua tangannya. Sama saja dengan membunuh dirinya secara perlahan. Memandangi saudara kembarnya menangis tersedu-sedu, dan meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Bisakah kau dikatakan pecundang, Sasori?

Melukai adikmu sendiri demi keegoisanmu dalam melupakan perasaan terlarang itu.

Apa ini bisa dikatakan cara yang tepat?

Membiarkan ia memandangmu dengan tatapan pilu dan segores luka di hatinya.

Kau adalah seorang pecundang!

~~~000~~~

Sakura memeluk boneka teddy bear kuning yang ia namai Sukechi-chan. Mata emerald-nya tampak sendu dan bengkak sehabis menangis. Ia menyandang tasnya dan berjalan menuju ruang makan tempat keluarga Akasuna sarapan pagi bersama setiap harinya. Aura kesedihan dan wajahnya yang memurung menjadi tanda tanya besar bagi kedua orang tuanya. Sedangkan Sasori hanya menatapnya datar dan bersikap tak terjadi apa-apa. Padahal dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri dan bersumpah akan menghukum tangannya sendiri yang sudah melukai adiknya.

Sakura meliriknya sejenak dan mengambil kursi di samping Ashura. Mendekap boneka kuning itu semakin erat dan mengabaikan sapaan pagi dari kedua orang tuanya.

"Saku-chan kenapa? Wajahmu murung, sayang." Ashura membelai rambut halus Sakura dan memandangnya dengan sayang.

Sakura hanya menggeleng pelan. Ia melirik lagi Sasori yang sedang meminum susu cokelatnya dengan cepat. Hazel itu menatapnya sekilas membuat mereka beradu pandang. Sakura segera menundukan wajahnya dan diiringi bunyi kursi yang terdorong ke belakang.

Sret.

"Kaasan,Tousan aku berangkat duluan." Ujar suara bass-nya.

Shoichi dan Ashura memandangnya dengan kaget. Tak biasanya Sasori berangkat sebelum menunggu Sakura selesai sarapan. Pemuda hazel itu mencium tangan kedua orang tuanya dan hanya menatap tajam ke arah Sakura. Membuat gadis itu semakin ketakutan dan menenggelamkan wajahnya pada Sukechi-chan.

"Saso-kun, kau tak menunggu Saku-chan sarapan dulu?" tanya Ashura.

Sasori melirik Sakura sekilas dan menggeleng.

"Hm.. sepertinya akan lama. Lagi pula aku sudah dijemput oleh Pain. Baiklah, Kaasan, Tousan aku berangkat."

Sasori segera menyampirkan tasnya pada punggung dan berlalu keluar dari ruang makan keluarga Akasuna. Meninggalkan sejuta tanda tanya dari kedua orang tua mereka ini.

Ashura memandang Sakura yang hanya diam dan tak menyentuh makanannya. Ibu dari kedua anak kembar ini membelai kepala Sakura dengan lembut.

"Saku-chan, cepat habiskan sarapanmu. Untuk berangkat sekolah, nanti kita berangkat sama-sama." ucap Ashura sambil tersenyum.

Sakura mengangguk pelan dan mulai menyuap nasi goreng miliknya. Sebenarnya Ashura dan Shoichi merasakan ada hawa-hawa negatif di sekitar mereka. Apalagi Sasori terlihat menghindari Sakura dan sengaja berangkat duluan. Sepertinya mereka sedang bertengkar, tapi entah karena hal apa. Setahu mereka Sasori dan Sakura tidak pernah bertengkar sampai seperti ini. Kalau pun bertengkar, paling hanya karena kesalahpahaman dan biasanya Sasori yang meminta maaf. Tapi, kalau seperti ini? Tah lah, biarkan saja mereka berdua yang menyelesaikannya.

Setelah selesai sarapan, Sakura memakai sepatu dan menunggu kedua orang tuanya bersiap-siap untuk ke kantor. Sebenarnya ia tak enak hati untuk membiarkan kedua orang tuanya mengantarkannya ke sekolah. Karena kantor Shoichi dan Ashura terletak jauh dari rumah mereka dan berbeda arah dengan sekolah Sakura. Namun, hatinya sedang terluka. Ia tak bisa membiarkan tubuhnya berjalan menuju tempat pemberhentian bis seorang diri. Bisa-bisa ia berjalan dengan fikiran kosong dan tertabrak. Ah... lupakan hal itu. Ia memandang Sukechi-chan yang selalu dipeluknya. Boneka pemberian Sasuke itu seperti mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya sekarang.

"Sukechi-chan, coba ada Sasuke-kun sekarang." Ujarnya lirih.

Boneka lucu itu hanya tersenyum kepada Sakura. Membuat ia merasa semakin gemas dan memeluk Sukechi-chan dengan erat.

"Huh.. kau lucu sekali Sukechi-chan. Seperti Sasuke-kun."

Ting tong!

Suara bel kediaman Akasuna berbunyi. Membuat Sakura sedikit terkejut dan segera membukakan pintu. Emerald-nya tampak terkejut begitu melihat siapa yang berdiri di depan sana dengan senyuman tipis yang menambah pesona tampan yang dimilikinya.

Ya..

Siapa lagi yang tampan.

Kalau bukan Uchiha Sasuke.

Pemuda raven itu memandang Sakura dengan intens dan membuat gadis itu merona hebat. Rasanya baru saja ia berkata pada Sukechi-chan tentang Sasuke, dan sekarang si pemilik nama sudah muncul dihadapannya. Lengkap dengan penampilan rapinya dan sebuah mobil mewah yang terparkir rapi di halaman rumah Sakura.

Sasuke membelai pipi Sakura yang bersemu merah dan membuat gadis itu menjadi semakin gugup. Ia meraih tangan Sakura yang menganggur dan menggenggamnya dengan erat. Gadis merah muda itu mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum mengangkat wajahnya yang memerah untuk menatap sepasang onyx yang memukau itu. Sasuke memandangnya dengan lembut dan menyapa,

"Ohayou, Sakura." Ucap suara baritone-nya.

"O-ohayou S-sasuke-kun."

Sasuke meremas tangan Sakura yang berada digenggamannya dan membuat frekuensi jantung adik kembar Sasori itu berdetak kencang.

"Kau belum berangkat?"

"Ya, begitulah."

"Hn. Aku ingin menjemputmu. Kau tak keberatan?"

Sakura kembali menatap wajah Sasuke. Wajah tampan yang mencuri hatinya tersebut memandangnya dengan serius. Ia menanggukan kepalanya dan membuat Sasuke tersenyum tipis.

"I-iya, baiklah. Aku bilang pada Kaasan dan Tousan dulu ya Sasuke-kun."

Sakura kembali masuk ke dalam rumahnya sebentar dan meminta izin pada kedua orang tuanya karena temannya menjemput. Setelah itu ia kembali keluar dan memeluk Sukechi-chan dengan erat.

"Ayo, Sasuke-kun." Ucapnya riang.

Sasuke menaikan alisnya dan memandangnya dengan heran.

"Boneka itu dibawa?" ia menunjuk Sukechi-chan dengan raut wajah yang aneh.

Sakura mengangguk cepat dan tersenyum.

"Tentu saja. Sukechi-chan 'kan juga ingin sekolah. Iya 'kan Sukechi-chan?" Sakura bertanya seolah-olah benda mati itu bisa menjawab pertanyaannya. Sasuke hanya mengangkat bahunya dan membukakan pintu untuk Sakura. Sepertinya, mereka mulai dekat he?

~~~~000~~~~

Lagi, hari ini pun sosok pemuda bersurai merah itu tak melakukan apapun. Ia hanya berdiam diri sembari menopang kepalanya diatas lipatan lengannya. Hazel-nya menatap sesuatu, namun pandangannya kosong. Fikirannya hanya dipenuhi kejadian tadi pagi. Sikap kasar yang pertama kalinya ia tunjukkan di depan Sakura. Mendorong adiknya dan menepis tangan itu dengan kasar. Apakah semua itu adalah sifat aslinya? Menyakiti adik sendiri?

"AH! SIAL!"

Sasori mengerang tertahan. Menjambak surai merahnya hingga terlihat acak-acakkan. Dan menendang kursi kosong di depannya.

Ceklek!

Deidara masuk ke dalam ruang OSIS yang kosong itu. Ia menganggap bahwa dirinyalah yang sampai disini duluan. Namun, melihat sekilas bayangan di ruang sana membuatnya yakin bahwa ada seseorang selain dirinya.

"Danna?"

Suara itu masuk dan membuat Sasori tersadar dari lamunannya. Ia menoleh ke kiri dan mendapati Deidara yang baru saja sampai. Pemuda pirang itu membawa sekaleng kopi hangat dan menegaknya perlahan.

"Kau mau?" tawarnya.

Sasori menggeleng. Ia kembali pada kegiatan semulanya. Menjatuhkan kepala merah itu di atas lipatang lengannya dan memejamkan matanya. Deidara menggeleng pelan dan menarik kursi untuk duduk dihadapan pemuda yang terlihat tidak bersemangat hidup ini. Sebagai sahabat, tentunya ia tahu permasalahan macam apa yang sedang dihadapi Sasori.

"Masih memikirkannya?"

Suara baritone itu terdengar hingga ke gendang telinga pemuda berwajah baby face ini. Sasori menatap Deidara sebentar dan kembali menutup matanya.

"Aku mengasarinya Dei."

Deidara menatap Sasori sedikit kasihan. Akhir-akhir ini pemuda itu sering melamun. Menyendiri saat istirahat dan terkadang jarang makan siang.

"Mengasarinya seperti apa?"

Sasori menegakkan kepalanya dan memandang Deidara. Cahaya yang dihasilkan sepasang hazel itu meredup dan terdapat cekungan di bawah kelopak bawah matanya.

"Aku membentaknya, menepis tangannya dan mendorongnya tadi pagi." Ujarnya sesal.

Deidara menghela nafas panjang dan menjawab.

"Bukan begitu caranya membuatnya jauh darimu Sas. Kau tak perlu berbuat kasar pada Sakura. Cukup jauhi dia secara perlahan. Tinggalkan kebiasaan yang selalu kau habiskan bersamanya, bukan membentak apalagi menyakitinya. Itu sama saja kau menyiksa perasaanmu sendiri, Baka!"

Sasori terdiam dan menatap langit pagi dari jendela ruangan OSIS itu. Ia masih bingung dengan opsi yang ditawari Deidara. Meninggalkan kebiasaannya yang selalu dihabiskan bersama Sakura? Mana bisa. Hampir seluruh kegiatannya selain di sekolah adalah bersama adiknya itu. Berangkat ke sekolah bersama, belajar bersama, tidur di kamar yang sama, bahkan terkadang Sasori menemani adiknya berbelanja setiap hari minggu. Rasanya mustahil jika menghentikan itu semua secara tiba-tiba. Apalagi tanpa alasan yang jelas. Mana mungkin ia berkata bahwa alasannya untuk menghentikan itu semua adalah karena Sakura. Bodoh!

"Atau kau mencari gadis lain? Mungkin bisa menjadi pelarianmu sejenak dan melupakan Sakura?" ucap Deidara lagi.

Sasori memandang manik biru langit sahabatnya itu. Mungkin, cara ini bisa berhasil.

~~~~000~~~~

Hari ini adalah pelajaran bebas di 2 jam pertama. Semua murid KSHS dipersilahkan melakukan kegiatan apapun yang mereka sukai, asalkan masih didalam areal sekolah dan berhubungan dengan bakat mereka masing-masing. Hal itulah yang membuat siswa-siswi kelas X-1 berada di lapangan outdoor KSHS. Hari ini adalah pertandingan sepak bola antara kelas X-1 dan X-4. Beberapa murid perempuan sibuk menyoraki nama pemain-pemain idola mereka. Seperti kerumunan gadis-gadis yang memakai baju kaos bergambar buah tomat besar dan berteriak kencang sambil menggerakkan pom-pom mereka dengan semangat.

"AYO SASUKE-KUN! SEMANGAT!"

"SASUKE SEMANGAT, SASUKE SEMANGAT, SASUKE... SEMANGAT!"

"MENANGKAN PERTANDINGAN INI PANGERAN..."

"KYAAAA... SASUKE-SAMA TAMPAN SEKALI!"

Berbagai teriakan heboh itu membuat Sakura manjadi dongkol. Apalagi saat melihat gadis berambut merah yang ia ketahui bernama Karin itu. Tubuh sintalnya melompat-lompat kegirangan saat Sasuke menggiring bola menuju ring lawan. Membuat dada besarnya terguncang dan menjadi santapan menarik bagi kaum adam di pagi hari. Sakura mencibir kesal dan membuang wajahnya. Ia tak sadar bahwa sepasang pemilik onyx yang berada di tengah lapangan itu meliriknya dan tersenyum tipis.

SRAKKK!

PRITTT!

"WAWWWW... SASUKE-KUN HEBAT!"

"KAU HEBAT TEME!"

"Aaahh... Sasuke-kun, kami mencintaimu!"

Tendangan Sasuke itu merobek ring lawan dan membuat kedudukan skor berubah menjadi, 3-1. Cukup jauh untuk kategori kedua kelas yang dianggap 'dewa' di lapangan ini. Semua pemain di lapangan itu mengerumuni Sasuke dan mengucapkan selamat. Sedangkan tim lawan hanya tertunduk pasrah dan mulai meninggalkan lapangan.

Gadis-gadis yang menggunakan baju kaos dengan tomat besar itu mendatangi Sasuke dan berebut memberikan sesuatu yang ada di tangan mereka. Ada yang memberikan sapu tangan, handuk, tishu, dan botol minuman. Sedangkan Sakura yang memegang kotak bento dan sebotol minuman di tangannya itu hanya berdiri di pinggir lapangan dan menatap kerumunan itu dengan kecewa.

"Sasuke, terimalah minum ini!"

"Sasuke-sama, sini biar aku lap keringatmu!"

"Sasuke-sama, ayo makan bekal buatanku ini."

"Sasuke-sama..."

"Sasuke-kun!"

Onyx Sasuke menangkap sosok Sakura yang akan pergi meninggalkan lapangan ini. Ia melihat kotak bento dan sebotol minuman di kedua tangan gadis itu. Emerald-nya terlihat kecewa dan akan segera pergi. Sebelum hal itu terjadi, Sasuke menerobos kerumunan dan membuat gadis-gadis itu kecewa.

"Sasuke-kun mau kemana?" teriak mereka.

Sasuke berlari kecil dan segera memegang tangan Sakura.

"Eh?"

Gadis itu terkejut saat merasakan sesuatu menahan langkahnya. Ia membalikkan tubuhnya dan mendapati Sasuke menahan lengannya. Keringat bercucur deras di dahinya dan menambah kesan maskulin di mata Sakura. Sasuke sedikit terengah, ia menarik nafas dalam-dalam dan menatap sepasang emerald Sakura.

"Hn. Mau kemana?" tanyanya.

Sakura mengerjapkan kedua matanya. Pipinya mendadak merona sendiri dan menjawab pertanyaan Sasuke dengan kikuk.

"A-ano, a-aku mau kesana." Jari telunjuknya menunjuk ke arah taman belakang.

Sasuke menaikkan alisnya dan menyeringai.

"Itu untuk siapa?" tanyanya memandang bento di tangan Sakura.

Sakura mengikuti arah pandangan Sasuke yang menatap kotak bento itu dan menundukkan wajahnya yang gugup. Sasuke tersenyum tipis tanpa sepengetahuan Sakura dan merebut botol minuman itu. Menegak isinya hingga tiga perempat dan menyelipkan tangan kirinya di pinggang Sakura.

"Hn. Ayo, aku ingin mencicipi masakanmu."

Sasuke mengajaknya pergi dari lapangan itu dan membuat para fans girl-nya teriak histeris di belakang sana.

"SASUKE-KUN! JANGAN PERGI!"

Dan mereka terjatuh dengan tidak elite-nya.

~~~~000~~~~

Sakura menatap Sasuke yang memandang lurus ke depan. Ia tak bisa melepaskan pandangannya dari paras tampan Uchiha bungsu ini. Entah kenapa, setiap tingkah lakunya, gerak-geriknya, caranya menatap Sakura, dan memanggil namanya membuat jantung Sakura berdebar dengan kencang. Pemilik onyx yang beberapa hari ini selalu bersamanya itu diam-diam membuat Sakura merasakan getaran aneh di dadanya. Membuat ribuan kupu-kupu menggelitik perutnya, dan membuat Sakura tersenyum dan gugup disaat yang bersamaan. Jika ia bisa menyimpulkan ini semua, apakah ini yang namanya?

.

.

.

.

Cinta?

Deg!

Onyx itu menatapnya lagi, Sakura mengalihkan pandangan matanya dan tersadar bahwa mereka berada di halaman belakang sekolah. Sasuke mengambil tempat duduk di bawah pohon Sakura yang masih bermekaran. Hawa di pagi hari ini cukup panas dan membuatnya gerah. Apalagi sehabis bermain bola tadi.

Sasuke menepuk-nepuk kursi di sebelahnya dan mengisyaratkan agar gadis itu duduk di sana. Sakura tersenyum canggung dan menempatkan posisinya di sebelah Sasuke dan menahan debaran itu lagi. Sebenarnya Sasuke mengetahui bahwa gadis merah muda ini sedang gugup bersamanya. Hanya saja ia berlagak cuek dan biasa saja.

Sasuke menatap Sakura dengan lembut. Onyx itu hanya memancarkan cahaya yang berbeda jika hanya dengan gadis ini saja. Entah apa arti dari semua itu, hanya Sasuke dan Kami-sama-lah yang tahu. Perlahan Sasuke mengambil tangan kiri Sakura dan menggenggamnya dengan erat. Menyalurkan hangat tubuhnya melalui itu dan saling memandang satu sama lain. Sakura yang tak bisa lama-lama jika menatap onyx itu menundukkan wajahnya dan membuat Sasuke tersenyum.

"Apa kau sudah masuk ke dalam pesonaku, heh? Sakura." Batinnya.

Sasuke melepaskan telapak tangan mungil itu dan menegak kembali minuman yang terasa manis dan merileks-kan tubuhnya. Walau pada dasarnya Sasuke tak suka yang manis, entah kenapa setelah menegak minuman itu membuat perasaannya menjadi nyaman. Sakura sendiri yang sudah selesai dengan rasa gugupnya memberanikan diri untuk memberikan sapu tangan merah mudanya pada Sasuke. Diterima dengan senang hati oleh pemuda itu dan menyeka keringat di dahi dan sekitar lehernya.

Sakura membuka kain pembungkus kotak bentonya dan mengeluarkan kotak bento berwarna merah itu dari dalam sana. Dengan malu-malu ia memberikannya kepada Sasuke.

"Sa-sasuke-kun, ini terimalah. A-aku sedang belajar memasak."

Sasuke menatap kotak bento itu dan menerimanya dengan baik. Membuka penutupnya dan mencium aroma menggoda dari isi bekal tersebut.

Onyx-nya menatap seporsi onigiri, ayam teriyaki dan potongan tomat segar yang tertata rapi di dalamnya. Sasuke menatap Sakura sembari tersenyum dan mengecup singkat kepala gadis itu.

Cup!

"Arigatou!"

Blush!

Sakura blushing sendiri dengan perbuatan Sasuke padanya. Ia menundukkan wajahnya dari pengelihatan Sasuke dan memegangi dadanya yang bergemuruh.

Thump.. thumpp... thumpp...

"Kami-sama, apa aku benar-benar jatuh cinta padanya?" gumam Sakura.

Sasuke mulai mengambil sendok dan menyuapkan isi bento itu pada mulutnya sendiri.

"A-aku rasa, aku jatuh cinta padanya." Fikir Sakura sembari menatap onyx yang menyantap bekal buatannya itu.

~~~~000~~~~

Sasori mengetuk-ngetukkan ujung penanya pada catatan kas bendahara sekolah. Entah apa yang salah, tapi perasaannya ia sudah mencatat pengeluaran dan pemasukkan dengan benar. Namun, dicatatan jumlah uang di buku dan di saldo rekeningnya terdapat selisih yang cukup banyak. Hah! Setelah masalah Sakura, sekarang ada saja masalah pada pembendaharaannya. Mungkin ia akan bertanya pada Itachi. Kali saja pemuda itu mengetahuinya atau jika tidak, ya terpaksa ia harus menggantinya. Repot sekali hidupmu Sasori?

Plak!

Deidara memberikan sebuah laporan yang baru ia dapati dari kepala sekolah siang ini. Yaitu beberapa dokumen mengenai acara-acara atau event yang akan dilaksanakan oleh sekolah beberapa minggu atau bulan ke depan. Manik biru langit pemuda pirang itu menatap wajah Sasori yang berkerut seperti banyak fikiran. Memandangnya seperti itu, rasanya kehidupan remaja Sasori dipenuhi banyak tekanan.

"Kenapa lagi danna?" tanyanya.

Sasori menggeleng dan menutup buku kasnya. Ia tak berniat untuk memberitahukan perihal macam ini pada Deidara.

"Tak ada. Apa ini?"

Ia mengambil salah satu dokumen yang diletakkan Deidara tadi. Membaca-baca sekilas dan meletakannya kembali seperti semula. Deidara hanya mengangkat alisnya dan menopang dagunya menggunakan tangan. Ia menatap kembali penampilan absurd Sasori. Rambut merah berantakan, hazel yang meredup,2 kancing teratas baju seragam yang terbuka, dan juga meja kerjanya yang berantakan. Dan jangan lupa jaket terbalik Akatsuki yang ia gunakan sebagai bantalan untuk tidur di atas meja. Benar-benar seperti pemuda depresi yang baru ditinggal pacar, atau pemuda yang ditolak cintanya. Hah... entahlah! Mungkin yang benar adalah opini yang kedua.

Deidara membuang nafasnya perlahan dan mulai berbicara.

"Danna!"

Sasori mengangkat wajahnya. Hazel yang terlihat mengantuk itu memandang Deidara setengah sadar.

"Kau tahu? 5 tahun berteman denganmu, mungkin ini adalah keadaan terburukmu yang pernah kutemukan."

Sasori mengangkat alisnya tak mengerti.

"Kau terlihat seperti ayam yang akan mati hanya karena cinta? oh, ayolah danna! Buka matamu! Diluar sana berjuta-juta gadis mengantri menjadi pacarmu." Teriak Deidara.

Sasori mengusap wajahnya perlahan dan mulai menegakkan tubuhnya dengan normal.

"Danna, aku punya saran. Mungkin ini agak aneh, tapi bagaimana jika kau mencobanya dulu." Ujar Deidara.

Sasori menatapnya dengan serius, pertanda pemuda itu memperhatikannya.

"Bagaimana jika kau pacari saja salah satu gadis di sekolah ini? Yang dekat denganmu. Dan kalau bisa kau buat Sakura merasa terabaikan karena kedekatan kalian. Dengan begitu, ia sendiri yang akan menjauh dan kau tak perlu repot untuk memikirkan cara yang lain." Ucapnya ragu.

Manik biru muda Deidara memandang Sasori dengan takut. Ia takut jika sarannya membuat pemuda merah itu tersinggung dan memukulnya hingga tewas.

Sasori berfikir sejenak. Memacari seorang gadis? Gadis yang dekat dengannya. Membuat Sakura terabaikan, dan gadis itu pergi menjauhinya dengan sendiri. Sepertinya itu ide yang bagus untuk di jalankan. Hanya saja, kendalanya adalah siapa yang akan menjadi pacarnya? Mengingat selama ini ia menutup diri dari publik dan hanya Sakura-lah yang dekat dengannya.

Hazel Sasori menatap Deidara dan menggeleng.

"Susah Dei! Aku tak dekat dengan gadis mana pun selain Saku-chan."

Dan jawaban singkat Sasori membuat Deidara menggebrak meja dengan kasar.

"Tidak bisa begitu Sas! Kau harus tegas danna! Sekarang kau pilih, semakin menyakiti hatimu atau mengikuti saranku!" teriak Deidara.

Sasori hanya bertopang dagu dan memandangi langit siang.

"Mungkin aku bisa mencobanya." Fikirnya.

~~~~000~~~~

Hari ini sesuai jadwal pelajaran, adalah giliran kelas X-1 untuk olahraga renang di kolam renang indoor KSHS. Sekolah elite milik Uchiha ini terkenal sekali dengan sarana dan prasarana olahraga yang lengkap. Seperti lapangan basket, bola kaki, kolam berenang, sanggar tari, sanggar karate, lapangan tenis dan bulutangkis, sampai arena untuk melatih skill memanah. Pantas saja jika sekolah ini memasuki daftar 10 sekolah terbaik di Asia. Dan menempati urutan ke 15 di skala internasional.

Para gadis sibuk membawa pakaian ganti mereka ke dalam kamar ganti. Ada yang memakai bikini, pakaian renang, kaos dan hotpants, dan ada juga yang memakai tanktop dan celana pendek. Tenten dan Shion baru saja mengganti baju seragam mereka dengan pakaian renang yang cukup tertutup. Tenten memakai kaos tanpa lengan berwarna hitam dan hotpants yang sewarna dengan atasannya. Sedangkan Shion, gadis pirang itu memakai pakaian renang tanpa lengan berwarna ungu muda yang bagian bawahnya mengembang.

"Mana Sakura?" tanya Tenten.

Shion menggelengkan kepalanya.

"Mungkin menunggu Ino."

"Bukannya mereka sedang bertengkar?"

"Mungkin. Tapi setahuku Sakura sudah meminta maaf."

"Oh, semoga saja benar."

Mereka berdua melakukan pemanasan sesuai instruksi Guy sensei yang terlihat norak dengan pakaian ketatnya. Beberapa anak laki-laki hanya memakai boxer, kecuali Naruto. Pemuda rubah itu menggunakan singlet.

"Lihat Shion! Naruto norak sekali memakai singlet. Apa dia takut perut buncitnya kelihatan?" ujar Tenten sambil menunjuk Naruto yang sedang pemanasan. Shion terkikik geli dan membuat beberapa anak laki-laki merasa GR bahwa Shion sedang memperhatikan mereka.

"Hahaha.. biar sajalah Tenten. Mungkin ia tak mau kulitnya terbakar cahaya matahari."

"Oh iya, aku lupa memakai sunblock. Kau bawa tidak, Shion?"

"Ah.. iya. Aku lupa. Aku membawanya, tapi di tas."

Kedua gadis itu kembali masuk ke dalam ruang ganti.

Sakura baru saja keluar dari ruang ganti yang sesak itu. Dirinya memakai tanktop bertali tipis berwarna biru muda dan hotpants putih yang membentuk pinggulnya. Sebenarnya ia merasa malu memakai pakaian ini. Tetapi setidak ini lebih baik daripada Ino yang memakai bikini. Gadis itu sudah gila!

"Sakura, ayo cepat!"

Byurr!

Ino menjeburkan dirinya ke dalam kolam. Padahal gadis pirang itu belum pemanasan. Ia melambaikan tangannya pada Sakura dan berenang menuju pembatas kolam di seberang sana. Sakura hanya memutar bola matanya dan hendak berjalan menuju pinggir kolam.

"Sstt.. Kiba! Lihat, Ino seksi sekali dengan bikini itu. Oppai-nya terlihat sangat padat. Hihihi.."

Sakura mendengarkan bisikan Naruto pada Kiba. Kedua pemuda itu sedang duduk dipinggir kolam seraya berbisik-bisik mengomentari apa saja yang ia lihat.

"Hei! Lihat itu. Hinata-chan cantik sekali. Oppai-nya padat dan sepertinya lembut. Aku ingin memegangnya."

Kiba menjitak kepala Naruto.

"Jangan besar-besar Baka. Nanti dia mendengarnya."

Hinata yang merasa bahwa Naruto memandanginya merona hebat dan berjalan ke kolam dengan malu-malu.

"Wah... Oppai Shion juga tak kalah besar. Aku juga ingin memegangnya, Naruto."

Kedua pemuda mesum itu tertawa cekikikan. Mereka tak sadar bahwa Sakura mendengarkan apa yang sedari tadi mereka bicarakan.

Kemudian pandangan kedua pemuda itu tertuju pada Sakura. Sakura segera membuang wajahnya dan menatap yang lain.

"Lihat Kiba! Oppai Sakura-chan kecil sekali. Apa oppainya tidak tumbuh? Aku jadi kasihan pada Teme. Dia pasti tidak akan puas." Komentar Naruto.

"Benar Naruto. Sasuke pasti tidak akan puas jika oppai Sakura kecil begitu."

Mereka terkikik geli.

Sakura yang mendengarkan pembicaraan pemuda itu hanya bingung.

"Oppai itu apa? Kenapa mereka bilang oppai-ku kecil?" gumamnya.

Sakura merasakan ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Pemuda itu ikut duduk dipinggir kolam dan merengkuh tubuh Sakura dari belakang. Sakura merasakan sesuatu yang memberat di pundaknya. Begitu ia menoleh, pipinya mendadak merona begitu mendapati sesosok pemilik mata onyx itu yang memeluknya.

"Sasuke-kun~" ujarnya.

Sasuke menenggelamkan wajahnya pada lipatan pundak Sakura dan menghirup aroma tubuh gadis itu. Ia membelai permukaan kulit halus Sakura dan membuat gadis itu gugup setengah mati.

"Sasuke-kun. Ini di tempat umum." Bisiknya.

Sasuke mengangkat wajahnya dari lipatan pundak Sakura dan menyeringai.

"Kau ingin di tempat yang lebih private, heh?" bisik Sasuke.

Rona merah menjalari pipi Sakura hingga ke telinganya. Membuat Sasuke tersenyum tipis dan mengecup bahu Sakura.

"Kau cantik sekali."

Beberapa siswa dan siswi yang melihat kedekatan mereka hanya merona malu. Pasalnya Sasuke berani sekali mencium bahu Sakura di tempat umum seperti itu. Membuat gadis direngkuhannya itu tertunduk malu, dan menyembunyikan wajahnya.

Lama terdiam posisi seperti ini, orang-orang tak lagi memperhatikan mereka. Mereka sibuk berenang dan bermain air seperti anak kecil. Di sudut kolam sana, terlihat Ino yang sedang mencoba mempraktekkan ajaran Gaara. Gaara adalah pemuda yang berasal dari kelas X-3. Kelasnya juga mendapatkan jadwal berenang hari ini. Hanya saja di kolam sebelah. Sepertinya Ino sengaja memanggilnya untuk minta diajari renang. Padahal gadis itu mahir sekali dalam olahraga ini. Dasar modus. Kemudian Shion dan Tenten melihat Neji dan Sai yang sedang beradu kecepatan renang. Sai dan Neji juga berasal dari kelas yang sama dengan Gaara. Walau saat itu Tenten dan Shion mengira mereka adalah kakak kelas, namun dugaan itu salah. Kedua gadis itu menyoraki nama pemuda mereka masing-masing dengan semangat.

Sakura memberanikan dirinya menoleh ke belakang. Ia memandang onyx Sasuke dan bertanya.

"Sasuke-kun, aku ingin bertanya."

Suara bening Sakura membuatnya menatap emerald itu dan mengangkat alis.

"Sasuke-kun, Oppai itu apa?" tanya Sakura.

TOENG!

Sasuke membelalakkan matanya dengan kaget. Hampir saja ia menjadi OOC karena pertanyaan Sakura. Gadis direngkuhannya ini bertanya apa itu 'oppai?' dengan wajah polos dan menuntut. Sasuke memejamkan manik hitamnya sebentar dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Pemuda raven yang dikenal jenius seantero KSHS ini diam tak berkutik untuk menjawab pertanyaan Sakura. Sebenarnya apa susahnya sih menjawab apa itu 'Oppai?'. Tapi, permasalahannya adalah jawaban dari pertanyaan Sakura itu terlalu sensitif bagi anak perempuan. Bisa-bisa ia ditabok dan parahnya diteriaki mesum oleh Sakura.

Sasuke menatap sepasang emerald yang ingin tahu itu. Ia meneguk ludahnya perlahan dan menjawab.

"Hn, itu sensitif Sakura. Memangnya ada apa?"

Sakura memajukan bibir mungilnya begitu mendengarkan jawaban Sasuke yang tak menghilangkan rasa penasarannya. Ia ingin tahu apa itu Oppai? Ingin tahu apa maksud Naruto dan Kiba yang mengatai oppai-nya kecil sehingga Sasuke tak puas. Dan kenapa oppai milik Hinata dan Shion dibilang besar dan padat. Memangnya oppai itu apa?

"Tadi Naruto dan Kiba mengomentari Oppai. Mereka bilang oppai Hinata dan Shion itu besar. Sedangkan oppai-ku kecil dan tak bisa memuaskan Sasuke-kun. Memangnya oppai itu sendiri apa, Sasuke-kun?" tanyanya lagi.

Sontak wajah Sasuke memerah. Ia menggeram kesal mendengarkan pernyataan Sakura tentang Naruto dan Kiba yang mengomentari oppai 'gadisnya'. Apalagi kedua pemuda mesum itu mengatakan bahwa Sasuke tak akan puas dengan oppai Sakura. Tahu dari mana heh?

Sasuke menegakkan tubuhnya dan membuat Sakura kebingungan. Ia berjalan menuju Naruto dan Kiba yang masih setia di tempat mereka sejak awal. Naruto yang melihat Sasuke berjalan ke arahnya tersenyum lebar dan menyapa.

"HAI TEME! APA KABAR?" Sapanya riang.

Bag! Bug!

Pletak!

Krek!

"AMPUN TEME!"

"RASAKAN ITU BODOH! BERANI-BERANINYA KAU MENGOMENTARI SAKURA, KAU INGIN MATI HA?"

Sakura merasa syok melihat adegan itu. Beberapa gadis berlari sambil berteriak ketakutan dan sebagian anak laki-laki hanya melihat adegan itu dengan horor. Sasuke memelintir tangan Naruto dan Kiba disaat bersamaan. Kemudian ia mengadu kedua kepala pemuda-pemuda mesum itu hingga terantuk satu sama lainnya.

"Ahh... pusing!" ucap mereka bersamaan.

Sasuke mendecih kesal dan meludahi mereka.

Cih!

"Sampah seperti kalian seharusnya lenyap saja. Menyebalkan."

Kemudian mereka berdua jatuh pingsan bersamaan dengan raut wajah dan kondisi yang mengkhawatirkan. Tubuh yang penuh dengan luka lebam, benjolan dimana-mana, dan darah yang keluar dari sudut bibir. Beruntung Guy sensei pergi untuk menghadiri rapat saat itu. Sehingga tak ada yang akan menghukumnya.

Sasuke berjalan ke arah Sakura dan menarik tangan gadis itu. Membawanya menuju ruang ganti wanita dan mengunci mereka berdua dari dalam.

Blam!

Sakura menatap Sasuke yang terlihat sangat dingin. Pemuda itu terlihat sangat marah sekali dengan kata 'oppai' itu hingga menghajar Naruto dan Kiba dengan sadis. Sebenarnya apa arti dari kata itu? Kenapa Sasuke harus menghajar Naruto dan Kiba seperti kesetanan?

Tuk!

Sasuke meletakkan kepalanya di pundak Sakura. Membuat gadis itu terkejut dan merona hebat. Perlahan Sakura memeluk pinggang Sasuke dan mengusap-usap punggung telanjang pemuda itu. Sasuke yang merasakan sentuhan Sakura, perlahan amarahnya menghilang dan digantikan dengan rasa nyaman.

Ia menelusupkan wajahnya di leher gadis itu sekali lagi dan menyapunya pelan-pelan. Membuat Sakura mengerdikkan bahunya karena geli dan menjauhkan wajah Sasuke dari sana.

"Geli, Sasuke-kun." Ucap Sakura.

Sasuke mengecup hidung Sakura dan menghimpit gadis itu ke tembok. Sakura menahan dada Sasuke yang terus menghimpitnya.

"Sasuke-kun, ja-jangan." Ujarnya lirih.

Sasuke menyeringai melihat gadisnya ini ketakutan. Ia menggoda Sakura dengan meniup telinga gadis itu.

"Huwaaa..."

Brak!

Sasuke menabrak tembok di belakangnya dengan tidak elite. Ia menatap Sakura yang memegangi telinga kirinya dengan wajah yang memerah. Pemuda raven itu menyeringai dan kembali mendekati Sakura. Ia membelai sisi wajah Sakura yang memerah dan berkata.

"Gomen, aku hanya bercanda."

Ia kembali memeluk Sakura dan kali ini gadis itu lebih tenang. Memainkan rambut Sakura hingga gadis itu bertanya.

"Sasuke-kun, kenapa Sasuke-kun menghajar Naruto dan Kiba seperti tadi? Kan kasihan. Apalagi mereka berdua pingsan. Siapa yang akan membawa mereka ke uks?"

Sasuke mendengus sebal. Gadis ini masih saja memikirkan 2 pemuda mesum itu.

"Biar saja, Sakura! Pembalasan itu setimpal dengan apa yang mereka lakukan."

"Apa karena Oppai? Sebenarnya oppai itu apa sih, Sasuke-kun?"

Sasuke menggeram kesal. Masih saja Sakura bertanya tentang hal itu. Ia merenggangkan pelukan mereka dan menatap emerald yang memohon itu.

"Aku tak bisa memberitahumu, Sakura." Ucapnya.

"Kenapa?"

Bola mata Sasuke bergerak gelisah.

"Itu sensitif."

"Beritahu saja. Aku penasaran!"

"Tidak bisa Sakura!"

"Aku penasaran, Sasuke-kun!"

Sasuke membalikkan tubuh Sakura hingga sekarang gadis itu membelakanginya. Ia mengambil tangan Sakura dan mengarahkannya ke depan.

"Akan aku tunjukkan dengan apa yang dipegang oleh tanganmu."

Sakura mengangguk.

Sasuke menggerakkan tangan Sakura menuju dada gadis itu dan meremasnya dengan lembut.. Lalu, dengan cepat ia melepaskan tangan Sakura dan menunggu reaksi gadis itu.

1

2

3

4

..

Krik.. krik..

Sakura terdiam, Sasuke melongo, author berlari, readers tersenyum. #emanglagucakrakhan?

Setelah 5 menit barulah gadis itu sadar.

"SASUKE-KUN MESUM!"

Dan diruang ganti itupun terjadi sesuatu yang membuat Sasuke merasakan kepalanya berdenyut dengan keras. Sepertinya Sakura membenturkan kepala Sasuke ke dinding. Ckckck...

~~~~000~~~~

Sakura mengeratkan pegangannya pada leher Sasuke. Saat ini mereka berdua sedang berenang bersama yang lainnya. Gadis yang tak bisa berenang ini terpaksa harus memegang lengan atau tubuh Sasuke agara tidak terjatuh. Kolam sedalam 2 meter ini sebenarnya tidak cocok untuknya, hanya saja kolam ini yang dijadikan tempat mereka olahraga sekarang.

"Sasuke-kun, jangan lepaskan aku."

Sasuke mengeratkan pegangannya pada pinggul Sakura. Gadis ini melingkarkan tangannya pada leher Sasuke dan mengeratkan kakinya pada pinggul pemuda itu. Terkadang Sasuke marasakan sensasi dada mereka yang saling bergesekan atau selangkangan Sakura yang menyentuh miliknya. Membuatnya menggeram tak tahan dan mempererat dekapannya pada tubuh Sakura.

Gadis mungil ini tak sadar dengan apa yang ia lakukan. Sakura menaik turunkan tubuhnya di dalam air dan membuat tubuh mereka saling bergesekan. Sasuke mengulum telinga gadis itu dan membuat Sakura mendesah.

"Aa-ah.. Sasuke~"

Sasuke menyeringai dan tangannya mulai bergeriliya. Ia menelusupkan tangannya dibalik tanktop Sakura dan mengusap kulit putih gadis itu. Ia menggesekkan miliknya dengan Sakura dan membuat gadis itu tersadar dengan perbuatan Sasuke. Sakura melepaskan tubuhnya dari kungkungan lengan Sasuke yang semakin menekan tubuhnya dan menatap mata onyx yang hampir tertutupi oleh nafsu itu. Memeluk tubuhnya sendiri dan berkata.

"Sasuke-kun, Sasuke-kun tidak boleh seperti tadi padaku." Ucapnya

Tersadar dengan apa yang ia perbuat, Sasuke memejamkan matanya menyesal dan pergi meninggalkan Sakura begitu saja. Berenang sejauh mungkin dan melupakan sesuatu.

"KYAAAA...TO-TOLONG."

Blurpp...blurrpp..

Sakura tenggelam!

Sasuke lupa bahwa gadis itu tak bisa berenang dan meninggalkannya begitu saja hingga Sakura tak berpegangan pada apa pun.

"GAWAT! SAKURA TENGGELAM." Pekik Shion.

Para anak laki-laki tidak ada yang berani mendekat. Pasalnya tubuh Sakura terbawa oleh air dan semakin mengarah ke kolam yang dalam. Mereka hanya berteriak dan tidak melakukan apa pun. Tersadar akan kesalahannya, Sasuke kembali menceburkan dirinya ke dalam berenang cepat menuju tubuh Sakura yang sudah semakin mengarah ke bawah dan berusaha secepat mungkin menyelamatkan gadis itu.

Tapi..

Hup!

Ia melirik sekelebat bayangan merah menarik tangan gadisnya dan membawanya ke atas permukaan. Sosok itu berenang dengan cepat dan membawa Sakura kembali bertemu dengan udara di atas. Ia melirik Sakura yang berada di dekapannya dan menggoyang-goyangkan tubuh gadis itu.

Fuah..

"Saku-chan, sadar!"

Namun tak ada pergerakan apa pun. Ia mengangkat tubuh Sakura ke pinggir kolam dengan dibantu oleh orang-orang disana.

Deidara menatap Sasori dari kejauhan dan tersenyum miris.

Orang-orang membawakan handuk dan memberikan pada pemuda bersurai merah itu. Raut khawatir tercetak jelas di wajah Sasori saat melihat wajah saudara kembarnya yang membiru. Ia memeriksa pergelangan tangan Sakura dan mendapati tidak ada denyutan disana.

Deg!

Sasori terlihat pucat. Ia membuka mata Sakura untuk melihat pergerakan pupil emerald itu. Mendengarkan debaran jantung Sakura yang semakin melemah dan bibirnya yang membiru. Deidara menatap Sasori dan Sakura secara bergantian. Pemuda baby face itu mengerang tertahan seperti bergulat dengan batinnya sendiri.

Mengerti perasaan Sasori, Deidara berbisik.

"Danna, cepat lakukan! Atau kau ingin kehilangan Sakura?"

Sasori membuka mata hazel-nya. Ia menatap kembali tubuh Sakura yang memucat tanpa adanya oksigen yang keluar masuk di saluran pernapasannya. Sebenarnya ia tak mau melakukan ini. Ia tak mau lagi menyakiti perasaannya dan Sakura. Mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dan melakukan hal bodoh yang pernah ia lakukan kemarin. Tapi, ini situasi yang berbeda. Siapa lagi yang akan melakukannya kalau bukan dia?

Sasori menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Sorot matanya menunjukkan penyesalan yang sangat dalam. Ia menutup hidung Sakura. Mendekatkan wajah mereka, dan menyatukan bibirnya untuk memberikan nafas buatan. Wajah Sasori tertahan saat jarak itu hanya tinggal 1 inci. Ia menutup matanya dengan pasrah, dan membiarkan air matanya yang terjatuh.

"Gomen, Saku-chan!"

Ia memberikan nafas buatan pada Sakura.

Menyatukan bibir itu lagi.

Dan membuat jantungnya berdebar sangat cepat.

Biarlah kali ini ia egois. Menentang hatinya sendiri dan melakukan sesuatu yang tabu untuk mereka. Ia melakukan ini semua semata-mata hanya untuk menyelamatkan Sakura. Membantu gadis itu kembali bernafas, dan bisa membuka matanya kembali. Walau sekelilingnya memandangnya dengan aneh, terutama si pemilik mata onyx itu. Namun ini semua bukanlah kemauannya. Ia hanya ingin, adiknya selamat. Dan...

Menatapnya lagi dengan cahaya emerald yang meneduhkan itu.

Sakura mengerjapkan matanya perlahan, menyesuaikan sinar cahaya yang memasuki rongga matanya. Dapat ia lihat, sosok bersurai merah yang menangis hingga air matanya jatuh mengenai kelopak mata Sakura. Sasori segera menjauhkan wajahnya dan membelakangi Sakura yang mulai tersadar. Gadis itu terbatuk perlahan dan mengeluarkan air yang sempat masuk ke dalam tubuhnya.

Deidara membantu Sakura untuk duduk dan memberikan handuk pada gadis itu. Gadis merah muda itu mengabaikannya dan mencoba menyentuh pundak pemuda yang membelakanginya. Ia mencoba bersuara, namun tenggorokannya terasa sakit sehingga hanya berdesis pelan.

"O-o-n-nii-chan." Ucapnya parau.

Sasori tergelak kaget dan membalikan tubuhnya yang membelakangi saudara kembarnya itu. Sakura tampak pucat sekali. Ia memegangi kepalanya dan mencoba tersenyum pada Sasori.

"O-nii-chan.. ma-maaf 'kan aku."

Bruk!

Gadis itu kembali terjatuh dan tak sadarkan diri. Sasori yang terkejut segera berdiri dan mengangkat tubuh kecil Sakura. Menggendongnya ala bridal style dan berteriak pada Deidara.

"DEI! CEPAT PANGGIL TSUNADE SENSEI."

Dan berlari dengan cepat dari sana. Meninggalkan sosok mata obsidian yang menggeram kesal, dan menendang apa pun yang ada dihadapannya.

"KUSO!"

~~~~TBC~~~~


A/N:

APA?

Hehehe...

Gomen ne readers... update-nya karet banget ya?

Ini tanggal berapa?

#lihatkalender.

15?

What?

Maaf ya. Ryu gak mau bertele-tele deh, entar dibilang banyak alasan. Yang penting chap ini panjang kan?

Er.. soal chara cewek yg pas buat Sasori itu, kalian malah menawarkan Shion. Huh.. mana bisa! Shion 'kan sahabat Sakura.

Jadi, untuk itu Ryu membuat vote di profil. Silahkan cek dan kalau bisa bantu nge-vote. Walau sebenarnya udah sih di FB. Tapi yg belom, silahkan bergabung memberikan suara. Itung-itung sebelum ryu menutup vote-nya dan menghitung hasilnya nanti.

Oh iya.. maaf ya kalau seandainya nanti aku bakalan telat update chap selanjutnya. Kemungkinannya hanya 1, aku sibuk untuk SBMPTN. Kecuali kalau aku lulus SNMPTN, Pasti ff ini langsung aku lanjutin. Makanya, doain aku lulus snmptn ya?#plak.

So, review please!


Balasan review chap 5

Haruchan : biasanya lama, karena gak log-in. uh.. saso untuk ryu.. hhehehe^^kasian ya, saku jadi bahan taruhan.

Dya onyx : thanks atas sarannya/

Sakura annoying : wew.. bahasamu. Hehehe.. iya nih, love is blind. Makasih ya udah mampir.

Luca marvell : thanks sarannya. Review lagi ya

Haruchan : caco cama cakula tidulnya telpisah. Meleka gak satu lanjang. Cumin satu kamal aja. Hehe.. abaikan hutang itu ya haru.. aku gak mau mengungkit itu. Memalukaaannnn*plak nanti aku marahin si shanchi.

Hanazono yuri : thanks sarannya.,oh.. Gaara bukan untuk orang ketiga. Dia untuk Ino d cerita ini. Kalau perasaannya Sasu, entar bakalan di jelasin kok.

Cherryma : thanks you ^^

Uchiha Ratih : thanks .Review lagi ya

Gilang363 : ya ampun.. masa jadi yaoi sih? Makasih ya sarannya. Tapi Ryu suka yg straight aja. Jangan ah.. kasian saso menderita terus/

EmeraldAI : Thanks you, temen FB.

Estusetyo. Paweling : hmm.. incest gak ya? Lihat aja nanti.

Marukochan : iya, mereka balapan sepeda. Huahahaha.. imajinasimu keren. thanks sarannya. Review lagi ya

Eagle onyx : iya.. kan udah janji, chap 5 full romance sasusaku.

Ccherry tomato : pke.. review lagi. ^^

Fitri-chan : thanks sarannya. Review lagi ya..

Putrid. Sari. 906 : hai senpai^^

Iya.. mereka so sweet kan? *plak. Kasian sakunya, gak jadi di *ehem* sama sasu. Perasaan sasu ya? Masih abu-abu nih. Hehehe.. thanks sarannya. Review lagi ya senpai ^^

Sami haruchi 2 : gak papa kok. Php ya? Entah nih, si sasu #authornyasiapa. thanks sarannya. Review lagi ya

Qren : semoga aja ya, chap 6 ini dominan mereka. Heheh.. thanks for review.

Guest : jelek ya? Makasih.. tapi baca juga sampai chap 5. Semoga aja nanti kamu suka. Terima kasih reviewmu.

Cherrysand 1: waw.. saso suka sama saku? Coba ama ryu aja. *plak. Thanks for review.

Hanna : aduh,, aku gak bias buat OC. Takutnya, nanti gak sama dg imajinasiku dan imajinasi readers. Thanks for review.

Sherry hoshie kanada : ending kan masih lama… kan belum tentu pair siapa dg siapa. Jadi masih abu-abu nih. Penonton kecewa? Nih, ryu kasih duit beli bakso utk nebus kesalahan. *plak. Iya,, selamat berharap, nanti aku pertimbangkan usulanmu. Thanks for review.


Chap 6 :

Hanazono yuri : pendek ya? Iya nih, namanya juga side story. Thanks for review.

Zeedzly. Clalucindtha : aahh.. mereka emang lucu.. aku juga pengen *plak. Iya yah, kasihan saso-ku. Tapi gak mati kok nantinya, Ryu gak mau matiin chara di ff. Ini bukan angst, Thanks for review.

Anisha ryuzaki : T_T makasih..

Ah rin : aduh.. kamu malah mendukung? Hahaha.. Thanks for review.

Dewi sasuuchisakuharu : Pairingnya Saso X Saku X Sasu. Main pair, Sasu x Saku. Thanks for review.

Febri feven : iya. Thanks for review.

Sami haruchi : huh.. sasu duluan ya? Tapi plot meminta saso dulu. Hhaha Thanks for review.

Qren : sasuke kecewa? Readers-nya gak sih? Hahaha.. Thanks for review.

Luca Marvell : judulnya twin swear juga. Ada kok, di archieve Ryu. Kamu tahu manga Boku Imo juga?

Mina jasmine : iya.. kalau sasosaku bersatu kayaknya gak mungkin. Makasih ya. Aku aja pas ngetik itu rada sedih. Hehehe.. Thanks for review.

Uchiha ratih : iya.. kasian sasunya .. Thanks for review.

Anka-chan : iya.. makasih ya anka-chan ^^

Fitri-chan : iya, saso imut karna cadel. Tapi dia jenius loh. Ehehe Thanks for review.

Marukochan : aku jawab di atas. Thanks for review.


BEST REVIEW

Bergfrue

Sebenarnya ini cerita yang menarik. Tapi jujur ya, aku langsung kehilangan minat begitu tahu bahwa Author merubah pairing cerita ini. Bukannya aku haters pairing tertentu, hanya saja aku dari dulu selalu ngerasa aneh kalau ada Author yang "minta review berkedok pendapat". Tahu kan maksudku? Sebagai Author, harusnya kamu udah nentuin dari awal pairing, plot, setting, dll-nya. Ini kan karya kamu, ngapain kamu mau kamu "disetir" oleh kemauan pembaca? Pembaca yang sesungguhnya adalah pembaca yang menghargai karya kamu, menikmati hasil imajinasimu, terlepas dari pairing, plot, dan apapun yang kamu pake di ceritamu.
Jadi aku heran, ini fic kamu tulis untuk "unleash YOUR imagination" atau untuk "unleash THEIR imaginations"? Imajinasi siapa yang dipakai di sini?

Sorry kalau kritikku pedas. Aku hanya menyampaikan pendapat, tak masalah kan? Ini bukan flame, hanya saran supaya ke depannya kamu mampu jadi Author yang lebih mandiri, lebih percaya diri, dan lebih tegas. Oke?

Ganbatte.

BALASAN:

Thanks ya Bergfrue. Review-mu menjadi apresiasi besar dan masukan yg baik untuk Ryu. Tapi, aku mau meluruskan beberapa hal ya, supaya tak terjadi kesalahpahaman.

Ryu mau mengoreksi perkataanmu,

"hanya saja aku dari dulu selalu ngerasa aneh kalau ada Author yang "minta review berkedok pendapat". Tahu kan maksudku?"

Well..menurutku wajar aja kalau ada author yg meminta review berkedok pendapat kepada readers. Kenapa? Bukannya ff ini ditulis dan dibaca selain utk dinikmati juga untuk diberi koreksi? Itulah gunanya kolom review. Jadi, sesudah membaca cerita kita, readers bias memberikan tanggapan, komentar, kriti, saran ataupun flame thdp cerita , kita mengetahui sejauh mana perkembangan cerita kita, berkualitas atau tidak, dan memperbaiki kesalahan yg ada. Jadi, menurutku wajar2 aja kalau aku minta review. Bukannya semua author kayak gitu ya? Bukan aku aja.

Lalu.. mengenai pernyataanmu,

Tahu kan maksudku? Sebagai Author, harusnya kamu udah nentuin dari awal pairing, plot, setting, dll-nya. Ini kan karya kamu, ngapain kamu mau kamu "disetir" oleh kemauan pembaca? Pembaca yang sesungguhnya adalah pembaca yang menghargai karya kamu, menikmati hasil imajinasimu, terlepas dari pairing, plot, dan apapun yang kamu pake di ceritamu.

Aku mau nanya deh, aku disetir yg bagian mananya? Yg aku minta bantu kepada readers utk memilih siapa main pair-nya?

Oke, kuberitahu aja ya. Dari awal aku udah nentuin plot, setting, bahkan main pair-nya. Aku udah nentuin bahwa main pair-nya itu SASU X SAKU dari awal! Walau misalnya, hasil votingan readers meminta SASO X SAKU, aku bakalan tetap ke main pair awalku. Kenapa gak dari awal aja buatnya? Atau kenapa harus adain voting, kalau udah nentuin main pair?

Aku ngadain voting juga untuk meninjau, sebanyak apa yg suka saso x saku dan yg suka sasux saku. Sehingga, pas aku nyatain main pairnya, gak banyak yg kecewa. Lagi pula kalau readers mau member masukan sedikit, aku terima aja. Tentunya dipertimbangkan dulu. Pas atau nggak? Kalau nggak ya gak aku buat.

Kemudian yg ini,

Jadi aku heran, ini fic kamu tulis untuk "unleash YOUR imagination" atau untuk "unleash THEIR imaginations"? Imajinasi siapa yang dipakai di sini?

100% imajinasi aku. Dan tidak ada pihak mana pun yg mempengaruhiku dalam membuat ff-ku ini. Jadi, gak ada tuh, ide si A atau ide si B, yg aku masukin ke sini.

Sorry kalau kritikku pedas. Aku hanya menyampaikan pendapat, tak masalah kan? Ini bukan flame, hanya saran supaya ke depannya kamu mampu jadi Author yang lebih mandiri, lebih percaya diri, dan lebih tegas. Oke?

Ganbatte.

Sama-sama, aku sangat menghargai masukan dan kritik-mu ini. Makanya kujadikan best review. Aku tidak marah kok, sumpah. malah seneng saat ada yg memperhatikan ff ini. Karena aku masih newbie dan banyak yg perlu dipelajari. Terima kasih Senpai. ^^

NB:

Maaf kalau aku balas review, kamu special kayak gini. Jangan marah ya? Hanya, supaya menjadi info kalau ff ini 100 persen buatanku. Gomen kalau kamu tersinggung.