Disclaimer : Naruto hanya punya MK!
Warning: Standar applied
Terinspirasi dari komik ghost garden yang bagian "dari laut" hiroko kazama dan sisanya dari otak saya yang GAJE ini.
Happy reading minna. :)
Teriknya mentari menerobos masuk ke kamar Uchiha Sasuke, akan tetapi bocah yang diidolakan siswi Konoha High School ini, masih asyik tertidur bahkan suara ketukan dari pintu tidak dihiraukannya. Sesekali dia bergumam tidak jelas kemudian tersenyum, entah apa yang sedang ada dalam mimpi Sasuke.
"Sasuke, kau sudah bangun? Sasuke!" Mikoto berteriak nyaring sambil sesekali mengetuk pintu yang bertuliskan , "Do not disturb." Merasa jengah karena tidak ada jawaban Mikoto memilih masuk ke kamarnya, dibukanya pintu kamar Uchiha junior dan ternyata tidak terkunci. Mikoto memang tahu kebiasaan putra satu-satunya itu, dari dulu Sasuke memang tidak pernah mengunci kamarnya, hanya saja dia akan marah jika ada yang memasuki ruangan pribadinya tanpa seizinnya dan Mikoto sangat menghormati ketetapan yang dibuat anaknya.
"Sasuke, Ibu masuk ya? Ternyata kau masih tidur, pantas saja." Mikoto langsung membuka tirai, memperlihatkan sinar matahari yang menyilaukan namun Sasuke tidak bergeming, ia masih nampak pulas dengan senyuman yang semakin lebar. Melihatnya membuat Mikoto curiga akan apa yang tengah dimimpikan putranya, ditariknya selimut biru bergambar Superman yang menutupi tubuh Sasuke lalu Mikoto berjalan ke arah kaki putranya, dikelitiki kaki Sasuke. Sasuke pun terbangun akan ulah jahil yang dilakukan Ibunya.
Mikoto tersenyum puas karena aksinya mendapatkan hasil yang memuaskan, ketika melihat putranya nampak menyesuaikan penglihatannya dari silaunya cahaya matahari. Mikoto memang punya cara rahasia saat membangunkan Sasuke, putranya itu paling tidak tahan saat mendapatkan kelitikkan.
"Ibu kenapa ke kamarku tanpa izin, aku kan sudah bilang…" Ibu satu anak itu hanya geleng- geleng kepala, kenapa Sasuke bisa langsung fit seperti ini padahal ia baru bangun tidur. Biasanya orang akan berusaha menyesuaikan diri telebih dahulu saat baru bangun tidur untuk mengumpulkan nyawanya atau istialah lain dari tenanganya. Dielusnya pipi Sasuke yang kini berwajah bête, "kau tampal bersemangat sekali sayang, apa yang kau mimpikan? Oh ya bukankah kau ingin menjemput teman-temanmu yang dari Amegakure…"
Alis Sasuke berkerut, dia langsung menatap jam bergambar Batman di dinding kamar bercat biru, dia langsung bangkit dari tidurnya mendapati waktu telah menunjukkan pukul sepuluh, bahkan ia tidak mempedulikan Ibunya sama sekali. Dia langsung menuju kamar mandi, Mikoto hanya menghela nafas melihat tingkah laku anaknya yang tidak pernah berubah, padahal saat ini Sasuke telah menjadi siswa kelas delapan bukan lagi bocah sekolah tingkat dasar. Mikoto memilih merapikan kamar putranya yang sangat berantakan, kamar yang dipenuhi dengan berbagai barang bergambar superhero sampai-sampai underwear-nya pun bergambar Wonder Women, oh No!
.
.
.
"Sasuke kalo sarapan jangan terburu-buru nanti kau tersedak." Ruang makan kediaman Uchiha terletak bersamaan dengan dapur dan wastafel jadi Mikoto bisa melihat putranya yang sedang tergesa-gesa menghabiskan makanannya sambil mencuci peralatan masak yang belum sempat dicucinya tadi pagi.
"Ayah belum pulang ya Bu?" Sasuke sukses menghabiskan sarapannya bahkan susu putihnya pun ikut ludes dihabiskannya.
"Belum nak, mungkin besok, memangnya kenpa? Kau ingin nitip oleh-oleh."
Fugaku Uchiha memang jarang pulang, kesibukkannya sebagai arsitek kenamaan membuatnya jarang pulang karena kebanjiran order. Apalagi prinsipnya yang selalu ingin terjun langsung ke lokasi untuk melihat proyeknya secara langsung, membuatnya benar-benar jarang berkumpul bersama keluarga dan karena itu jugalah ia selalu dipercaya untuk menangani proyek-proyek besar. Mikoto sebagai istri yang baik selalu mendukung kinerja suaminya, ia tahu suaminya bukanlah orang yang tidak bertanggung jawab melainkan orang yang amat bertanggung jawab. Rasa saling percayalah yang membuat keluarga Uchiha selalu langgeng meski minim interaksi dan Sasuke sangat nyaman dengan keadaan yang demikian, ia selalu berandai-andai jika dewasa nanti ia ingin menjadi pria seperti Ayahnya dan berumah tangga dengan wanita yang seperti Ibunya.
"Tidak Bu, hanya kangen dengan Ayah. Aku berangkat dulu ya Bu, sepertinya aku sudah sangat telat menjemput mereka, aku tidak enak jika mereka menungguku terlalu lama." Mikoto tersenyum, ia mengantarkan putranya sampai ke depan pintu, "hati-hati ya nak, kau ada ongkos kan?"
"Ibu tenang saja, aku sudah dewasa. Aku kan punya tiket langganan bus lagipula uang jajanku sangat lebih dari cukup untuk itu." Mikoto tak hentinya tersenyum melihat kelakuan anaknya yang semakin dewasa. Senyum di wajahnya yang selalu berseri menjadikannya terlihat begitu awet muda, wanita berusia tiga puluh lima tahun itu terlihat sepuluh tahun lebih muda dari usianya.
_Sugar Princess71_
Dering sms yang tiba-tiba berbunyi membuat keadaan bus yang semula hening sedikit berwarna, pasalnya dering sms tersebut begitu nyaring dan mengundang tanya akan siapa pemilik nada dering norak yang dijamin ponsel tersebut masih menyandang status monoponik. Sasuke merutuki kelalaiannya mengaktifkan mode silent pada poselnya, ia berusaha menyembunyikan rona merah dengan kekeuh mempertahankan paras stoic-nya. Setidaknya dia bersyukur akan paras stoic warisan Ayahnya yang membuatnya selamat dari rasa malu namun di lain sisi, ia merutuki Ayahnya yang dengan tega mengadokan ponsel jadul tersebut sebagai hadiah ulang tahunnya tahun lalu.
Dia menghela nafas, kesal sama Ayahnya pun percuma, seharusnya ia bersyukur akan sikap Ayahnya yang selalu mengajarkan kesederhanaan. Ada rasa bersalah dibenaknya karena dengan tega menghujat Ayah tersayangnya. Sasuke mengendalikan gejolak perasaan yang datang tanpa di undang, dia memilih melihat ponselnya untuk mengetahui siapakah yang telah mempermalukannya, maksudnya siapa yang telah mengirimkan sms.
Baka-dobe, itulah nama si pengririm pesan, Sasuke mendengus. Rupa-rupanya sahabat pirangnya tesebut, tidak henti-hentinya membuatnya malu, ia jadi geli sendiri dengan pemikirannya, dibukanya pesan dari sahabat 'tercintanya'.
Baka-dobe 11-11-2011 11:11
Teme kau ikut tidak sih menjemput Gaara di stasiun, kenapa smsku tidak dibalas? Aku dan Sakura-chan telah di stasiun, kau mau menyusul tidak?
Sasuke kaget dengan sms dari Naruto, lalu ia mengecek semua pesan yang ada di ponselnya. Sasuke menyesal karena tidak mengecek ponselnya setelah ia bangun dari tidurnya, dirinya tidak menyangka Gaara akan datang hari ini dan tidak menyangka juga bahwa teman-temannya dari Amegakure baru bisa datang esok hari. Sasuke memutuskan untuk turun di koridor selanjutnya dan memutar arah menuju stasiun Konoha. Sebelumnya Sasuke juga sudah mengirimkan balasan pesan singkat kepada Naruto untuk menunggunya.
_Sugar Princess71_
Dua hari kemudian di kediaman Uchiha…
"Bibi tidak menyangka akan seramai ini, Sasuke kenapa kau tidak bilang pada Ibu, kalo Gaara juga akan ke sini?" Suasana keluarga Uchiha tidak seperti biasanya, suasana yang biasanya sepi berubah menjadi begitu ramai dengan kehadiran Naruto, Sakura, Gaara, Kiba, Suigetsu, Juugo dan jangan lupakan wanita cantik berambut pirang sepunggung yang tak lain adalah Shion, kekasih Gaara.
Mikoto nampak kerepotan menyiapkan camilan untuk tamu-tamunya, Sakura dan Shion dengan sigap langsung membantu Ibu cantik itu. Sakura langsung ke dapur untuk menyiapkan minuman sementara Shion membantu Mikoto meletakkan berbagai camilan di meja tamu.
"Bibi tidak perlu repot-repot, aku jadi tidak enak." Mikoto tersenyum akan sikap santun Shion, "tidak masalah nak, Bibi malah senang. Oh ya kamu siapa ya, kok Bibi gak pernah melihatmu, apa kau pacar Sasuke?" Sasuke yang mendengar ucapan Ibunya menjadi malu sendiri, dia sedikit kesal dengan sikap ibunya yang selalu ingin tahu dan cenderung ikut campur masalah pribadinya. Sasuke ingin melakukan pembelaan kepada Ibunya karena dia rasa Shion tidak bakal sanggup menghadapi ocehan Ibunya yang langsung antusias menjelaskan tentang dirinya seperti kereta api, tanpa jeda sedikitpun. Padahal gadis cantik itu belum menglarifikasi pertanyaan dari Ibunya sedangkan kekasih Shion yang sebenarnya sedang berada di kamar mandi.
Sasuke semakin jengah karena sahabat pirangnya yang tidak kebagian jatah bermain playstation terus mengoloknya, Sasuke sangat membutuhkan bantuan untuk memperjelas kesalahpahaman ini namun ia tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa. Kiba dan Suigetsu begitu asyik dengan PS dua kebanggaannya sementara Juugo begitu menikmati manga NaruNaru edisi terbaru. Oh jangan lupakan sahabat pink-nya yang masih asyik meramu minuman, Sasuke makin kesal sendiri, apalagi Ibunya yang sedari tadi tidak memedulikan pembelaannya.
Sasuke hanya bisa masang tampang terburuk yang sayangnya tetap membuatnya terihat tampan, memang derita orang ganteng. Untungnya kali ini Naruto sedang berbaik hati, dia pun berinisiatif meluruskan kesalahpahaman dan menghentikan kehebohan Mikoto, Ibu tiga puluhan yang udah kebelet ngunduh mantu.
"Bibi, jangan salahpaham mulu, si Shion kan pacarnya Gaara kalo Sasu mah gak laku," aa rupanya Naruto masih ingin menjahili Sasuke, kan jarang-jarang Sasuke dipermalukan di depan umum sementara dirinya sering terlebih di hadapan Ibu kandungnya. Rupanya si pirang ini punya niat balas dendam, Sasuke semakin kesal saja tetapi dia sedang tidak ingin berdebat. Apalagi kalau lawan debatnya Mikoto dan Naruto, bisa kering tenggorokkannya.
Oh ya efek dari perkataan Naruto yang cempreng membuat Mikoto yang ngedengernya ngenes habis sampai nangis bombay. "Sasuke, kau itu tampan nak! Masa sih tidak laku, Ibu aja primadona masa anaknya gak laku, huhuhuhu." Mikoto benar-benar gak bisa nerima kenyataan, Shion jadi kesusahan menenangkan Mikoto sementara Sasuke malah sebodo amat dan pergi begitu saja meninggalkan Ibunya, dasar anak biadab! Nah kalau Naruto dia sedang nelangsa dengan benjolan di kepalanya, akibat pukulan cinta Sakura yang telah selesai menyajikan minuman di meja dan sempat mendengar perdebatan di ruang tamu dari dapur yang hanya berjarak seratus lima puluh meter dari tempat kejadian perkara ditambah lagi suara kekasihnya yang bagaikan toa masjid.
_Sugar Princess71_
Hari ini memang melelahkan terlalu banyak hal ajaib yang menguras pikiran Sasuke, dia pun langsung tertidur setelah makan malam tidak mempedulikan keberadaan Kiba, Suigetsu dan Juugo yang sedang asyik bermain kartu.
"Eh si Sasuke kenapa ya tidak punya pacar, padahal dia ganteng loh sampe detik ini aja Karin masih suka sama dia." Kiba menyeringai mendengar perkataan Suigetsu, Juugo sih masih mempertahankan tampang sok bijaknya meski dalam hati tertawa nista.
"Gotcha! Mengaku saja Sui kalo kau naksir nenek sihir." Kiba menikmati ledekkannya yang sukses dihadiahkan pelototan cuma-cuma dari Suigetsu.
"Jangan sembarangan kau, mana mungkin aku suka dengan nenek sihir."
Dimulailah acara curhat-curhatan para ababil jomblo yang kebelet pacaran, mereka terus-menerus menceritakan keluh kesahnya tidak peduli malam yang semakin larut. Ruangan kamar bercat biru yang tidak begitu luas menjadikan ruangan tersebut begitu sesak dengan obrolan mereka yang membahana sampai-sampai terdengar ke kamar Mikoto yang berada di lantai bawah.
Mendapati ketukan di pintu, mereka menjadi ketakutan sendiri, apalagi sebelumnya mereka sempat berdiskusi tentang berbagai macam kisah seram. Jangan lupakan waktu yang telah menunjukkan pukul dua belas, acara saling tunjuk-menunjukpun dimulai akan siapa yang mendapat kehormatan membuka pintu.
Mikoto merasa bosan menunggu pintu dibuka sedangkan dia yakin, masih ada yang terbangun. Dia pun langsung membuka pintu dan suara berdecit dari pintu yang terbuka membuat para bocah tersebut ketakutan setengah mati hingga saling tubruk-tubrukkan utuk berlindung di ruang antara meja belajar dan springbed.
"Kalian sedang apa?" Mengenali siapa pemilik suara, mereka menghela nafas berjamaah, itu pasti Ibunya Sasuke, pikir mereka.
"Emm kami hanya sedang bermain petak umpet Bibi, apa Bibi mau ikutan?" Pertanyaan bodoh pikir Juugo dan Kiba tetapi mereka harus bersyukur karena Mikoto tidak terlalu mempermasalahkan jawaban dari Suigetsu, meski Mikoto sempat bingung akan jawaban yang diterimanya. Namanya juga anak-anak mungkin itu yang dia pikirkan, "kenapa belum tidur? Ini kan sudah malam, apa terlalu sempit ya?" mereka menggeleng, merasa tidak enak karena menimbulkan rasa bersalah dari tuan rumah, "tidak kok Bi, kami hanya belum mengantuk sebentar lagi kami juga hendak tidur dan kamar ini sudah cukup lega untuk kami." Mikoto tersenyum, anak-anak memang punya gaya masing-masing itulah yang dia pikirkan dengan semua tingkah laku teman Sasuke yang menurutnya unik-unik.
Setelah Mikoto kembali ke kamarnya, mereka memutuskan untuk tidur. Keributan di kamar kecil itupun teratasi tetapi anehnya si empunya kamar tidak menyadari keributan yang sempat terjadi, ia begitu terlelap dalam tidurnya. Kira-kira apa yang sedang dimimpikannya ya?
.
.
.
Lazuardi begitu indah terlukis oleh sang pemilik alam membuat setiap makhluk ingin melukiskannya dalam kanvas, meski tak akan seindah sapuan kuas Sang Maha Agung. Di bawah langit yang indah, burung yang sibuk menyanyi, tiupan angin yang mengajak para pohon kelapa berdansa, deburan ombak yang menggoda dan jangan lupakan bentangan laut bak permadani berjalan dan juga masih banyak lagi pemandangan indah yang terperangkap panca indera penglihatan. Sayangnya pemandangan seindah ini hanya tersaksikan oleh sepasang insan berbeda jenis, Hyuuga Hinata dan Uchiha Sasuke.
"Apa aku bisa bertemu denganmu?" Sasuke menerawang, matanya memandang laut namun pikirannya tidak. Semilir angin menerbangkan helaian sutra mereka, namun mereka tak terusik, tetap diam merasakan kehangatan dari kedua tangan yang saling tertaut bahkan burung-burungpun senantiasa menggoda mereka.
Hinata mendekatkan jaraknya kepada Sasuke, mati-matian ia menahan kegugupannya, sebelah tangannya yang bebas beranjak ke arah pipi Sasuke, ditatapnya mata onyx tersebut dengan penuh kesungguhan. "Sasuke, kau harus percaya kita pasti bertemu, aku yakin Kami-sama telah mengikatkan benang merah kepada kita. Buktinya kita masih bisa berjumpa meski hanya di alam mimpi." Sasuke sempat ragu akan perkataan yang diucapkan Hinata, tetapi senyuman Hinata membuatnya percaya. Pasti. Ia yakin mereka pasti akan berjumpa.
Usia bukanlah segalanya, usia juga bukan yang menjamin seseorang itu dewasa, usia juga bukan penghalang bagi siapapun yang saling mengasihi. Sasuke dan Hinata mungkin masih terlalu muda untuk usianya kini, tetapi itu semua bukan penghalang untuk hati mereka. Cinta tulus yang tercipta puluhan tahun silam, tak terpatahkan dengan apapun, hingga cintalah yang membawa jiwa mereka untuk kembali hidup meski di ruang yang berbeda. Karena cinta adalah segalanya, cinta adalah abadi dan Kami-sama-lah Sang Maha Cinta.
.
.
.
"Sasuke, Sas, bangun dong! Jangan kebo-kebo banget apa." Suara cempreng gabungan dua pemuda rupawan, Naruto dan Kiba akhirnya sukses membangunkan si pangeran tidur.
Setelah berhasil menyesuaikan penglihatannya, Sasuke begitu terkejut melihat sekelilingnya, teman-temannya sedang berkumpul bahkan Shion dan Sakura pun nampak cekikikan. Sasuke jadi sangsi, apa dia ngiler ya sampai temn-temannya menertawakannya, dia langsung berlari ke kamar mandi membenahi diri.
"Tuh kan Saku-chan, orang keren gak selamanya keren, masa keren-keren tidurnya sambil senyum-senyum gak jelas plus ngiler lagi." Kepedean tingkat dewa, Naruto membusungkan dadanya di hadapan Sakura dan pamer senyum andalannya.
"Kalo emang gak keren gak usah sok kerenlah," sungut Kiba yang sukses menimbulkan perempatan di dahi Naruto.
"Kau sendiri tidak keren kan? Jangan sok keren deh, gini-gini aku punya pacar cantik loh kalo kau sih," Naruto menyindir Kiba dengan kejamnya, pandangannya memandang remeh Kiba, untung Kiba muka tembok, jadi dia mah cuek-cuek aja malah ngebalas Naruto. Terjadi deh adegan tonjok-tonjokkan di kamar sempit itu namun teman-teman mereka terlalu baik, malah lebih asyik menonton daripada berusaha melerai.
"Mereka lucu ya Gaara-kun." Gaara jadi bête sendiri ngeliat kekasihnya sibuk menonton dua heboh tersebut sambil cekikikan, ia pun langsung merangkul pinggang shion, membuat si empunya merona akibat tindakan pacarnya.
"Shion di sini panas, kita keluar aja ya," Shion bingung, dia mengalihkan direksi pandangannya ke arah sebuah air conditioner yang terpasang di atas jendela, "kan di sini ada AC Gaara-kun, gak mungkin kepanasan, kamu gak demam kan?" Gaara merona namun dengan pandai dia menyembunyikannya, "gak, aku gak demam," cuma panas aja, lanjut Gaara dalam hati. Shion tidak puas dengan jawaban bungsu Sabaku tersebut, dia hendak melontarkan pertanyaan lagi, baru saja mulutnya terbuka sepersekian senti, Gaara langsung meletakkan telunjuknya di bibir Shion. Rona merah dengan sukses menguasai wajah Shion dan Gaara langsung menarik Shion yang melamun keluar dari kamar Sasuke.
Bahkan setelah pasangan GaaShion keluar dari kamar Sasuke, Kiba dan Naruto masih asyik saja dengan perkelahiannya sampai-sampai springbed Sasuke yang jadi sasaran, mereka asyik bergulat di sana. Suigetsu, Juugo bahkan Sakura nampak asyik menjadi komentator dan jangan lupakan berbagai makanan ringan yang tersedia sebagai camilan dalam melihat pertandingan gulat secara live.
Sasuke keluar dari kamar mandi, lengkap dengan pakaian stylish yang telah ia kenakkan. Dahinya berkedut melihat kamar tercintanya berantakkan padahal kemarin Ibunya yang baik hati baru saja merapikannya. Kesal, tentu saja Sasuke kesal, dia kan paling malas beres-beres kamar tetapi penginnya kamarnya selalu bersih, nah sekarang kamarnya udah kaya kapal Dutchman, murka deh Sasuke.
"KALIAN! SEENAKNYA SAJA, AYO BERSIHKAN KAMARKU KALO TIDAK, AWAS KALIAN!" Benarkan Sasuke benar-benar murka, naas deh buat NaruKiba yang gak sempat melarikan diri, harus nanggung derita deh.
.
.
.
"Kyaaa, indah sekali pantainya, di Suna tidak ada pantai seindah ini." Shion memang sangat menyukai pantai dan dia sangat antusias ketika teman-temannya mengajukan piknik di pantai sebagai agenda mereka hari ini.
"Shion, di Amegakure pantainya lebih indah loh, kapan-kapan main ke sana, nanti aku anter ke semua pantai yang indah." Shion tersenyum mendengar penuturan Kiba wajahnya tampak antusias, "benarkah? Wah aku jadi ingin ke sana." Gaara dengan sigap langsung berada di antara KibaShion dengan tampang selecek baju yang habis dibilas, "jangan ke sana deh, di sana kan hujan mulu yang ada kaga bakal jadi liburan," curi-curi kesempatan, Gaara merangkul Shion dan menghadiahkan deathglare gratisan kepada Kiba tetapi tetap aja gak ngefek buat Kiba yang emang muka tembok.
"Sekali-kali Shion nikmatin hujan daripada di Suna, panas mulu, nanti yang ada kulit kamu rusak lagi." Gaara udah benar-benar jengah sama Kiba, apalagi Shion yang malah tersanjung sama bocah penyuka anjing itu. Dimulai deh adu bacot gak jelas antara Gaara sama Kiba, Shion jadi bingung sendiri ngeliat kekasihnya yang out of character tapi di lain sisi, doi bahagia banget, ngerasa diperhatiin gitu. Udah deh daripada ngebahas kegajean Gaara sama Kiba, kita lihat yang lain aja ya…
"Sakura-chan, aku mau sandwichnya, suapin dong." Tidak jauh dari tepi pantai, Naruto nampak asyik bermanja-manja ria dengan Sakura. Beralaskan perlak kotak-kotak putih merah Naruto dan Sakura begitu mesra dengan keranjang piknik sebagai saksi kemesraan kedua pasangan itu, ditambah lagi semilir angin yang membuat kesan romantis semakin terasa.
"Cut, cut! Jangan lupakan kami dong, ya kan Juugo?" Juugo hanya menggedikkan bahu dan tetap asyik sama manga NePiece terbaru. Naruto kesal adegan romantisnya diganggu, kan jarang-jarang dia berduaan dengan pacarnya, biasanya diganggu Sasuke sekarang malah sama si 'kelewat jujur'. Oh ya kayanya ada yang hilang dah, ayo kita mulai absen, GaaKiba masih asyik bebacotan di pinggir pantai dengan Shion sebagai maskotnya, Juugo yang baca manga, Suigetsu yang ganggu momen istimewa Naruto, Naruto yang kesal, Sakura juga ada, lalu siapa yang kurang?
"Sasuke kemana Juugo?" Iya benar apa yang dikatakan Sakura, kurang Sasuke.
.
.
.
"Hinata, kamu di mana?" Sasuke terus berteriak ke arah pantai, tempat yang ia pilih memang sepi, jadi ia tidak akan malu dengan pandangan-pandangan miring ke arahnya karena teriak-teriak kaya orang frustasi. Rasa lelah pun melandanya, mengetahui kebodohannya yang hanya berteriak-teriak saja, mana mungkin ia bisa menemui gadis itu kalau dia hanya bisa berteriak-teriak. Sasuke memutuskan membaringkan sejenak punggungnya di hamparan pasir, tidak memedulikan pakaiannya yang kotor akibat ulahnya.
Sasuke baru saja hendak menjemput mimpi namun sekelebat rambut indigo membuatnya kembali ke dalam kesadarannya, dia langsung bangkit dari tidurnya dan tanpa aba-aba langsung berlari ke arah selatan.
Sasuke terus berlari mencari gadis itu namun nihil. Ia tidak berjumpa dengan gadis itu, menjambak rambutnya frustasi, dia jadi ragu akan apa yang dilihatnya. Ilusi, itu pasti hanya ilusi pikirnya, dia pun berbalik arah ke utara untuk berkumpul dengan teman-temannya, takut mereka mengawatirkan kealpaannya, terlebih dia tidak membawa ponsel.
.
.
.
"Konoha tidak buruk kan Hinata-chan?" Hinata hanya menatap laut dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Ada apa Hinata-chan? Apa kau sakit?" Neji yang khawatir langsung memeriksa suhu tubuh Hinata dengan menyentuhkan tangannya ke dahi adiknya.
"Tidak Kakak, aku baik-baik saja, hanya saja aku merasa rindu tapi aku tidak tahu, aku rindu pada siapa." Neji mengacak-ngacak rambut adiknya, dia tersenyum jahil, "hayyo rindu sama siapa?" Hinata merona namun melihat seringai terpampang di wajah kakak sepupunya, dia langsung cemberut, mulutnya mengerucut dan menurut Neji, Hinata jadi terlihat sangat lucu. Dia pun mencubit pipi sepupunya dan berlari menghindari kemarahan sepupunya, Hinata berlari mengejar Neji, mereka berdua saling kejar-kejaran diiringi tawa bahagia.
Sepertinya pindah rumah tidak terlalu buruk bagi Hinata. Hinata yang sebelumnya tinggal di Iwagakure terpaksa pindah ke Konoha dan tinggal bersama Paman dan Bibinya. Ayahnya harus pindah ke luar negeri tepatnya ke China karena masalah bisnis dan karena suatu sebab Ayahnya tidak bisa membawanya turut serta. Awalnya Hinata mengira kepindahannya akan menjadi hal yang buruk, apalagi sikapnya yang diam dan cenderung asosial, tetapi Kakak sepupunya membuatnya nyaman dan menyakinkannya bahwa ia pasti akan memiliki teman baru.
.
.
.
"Sasuke-kun ke mana saja, Tayuya kan khawatir." Tayuya merajuk dan memeluk Sasuke, Sasuke yang sedang dalam mood buruk berusaha melepaskan pelukkan Tayuya dengan agak kasar. Tayuya sedikit kecewa tetapi dia pandai menyembunyikannya.
"Yasudah teman-teman, ayo kita makan, pasti kalian lapar." Benar apa yang dikatakan Sakura, mereka pun memakan semua makanan yang terhidang dengan lahapnya.
"Kau itu siapa sih menempel-nempel sama Sasuke, kau pacarnya?" Tayuya mengeluarkan senyum manisnya kepada Suigetsu. Tayuya telah siap mendeklarasikan hubungannya kepada semua orang yang ada di sini tetapi Sasuke lebih cepat dalam membantahnya.
"Dia bukan siapa-siapa." JDERR! Naasnya nasib Tayuya namun gadis ini memang jago akting, dia tetap bersikap seperti biasa, menggelayut manja di lengan Sasuke meski kata-kata Sasuke begitu dingin dan kejam.
"Aku memang bukan pacarnya tapi aku calon pacarnya, ya kan Sasuke-kun?"
"Bukan juga." Double naas deh nasib Tayuya, Kiba tertawa terpingkali-pingkal eh bukan hanya Kiba tetapi semuanya berusaha menawan tawa minus Suigetsu yang terlalu bingung untuk tertawa. Tayuya langsung mengarahkan tatapan kejamnya kepada Kiba tetapi kalian tahu kan Kiba itu muka tebok, gak bakal nyadar.
"Kenapa kau bisa ke sini?" Pertanyaan Sasuke bagai embun penyejuk di hati Tayuya, bagai anak kucing yang minta makan, Tayuya makin mengeratkan pelukannya pada lengan Sasuke. "Di mana ada kamu, pasti ada aku, kita kan jodoh." Sasuke jadi muak sendiri, nyesel dia udah berbaik hati menanyakan keberadaan Tayuya yang tanpa di undang.
.
.
.
Senja semakin datang, jingga kemerahan terbentang indah, terlukiskan dalam kanvas lazuardi dan keindahannya semakin abadi ditambahkan sang surya yang tengah ditelan hamparan samudera di ufuk barat. Semua pengunjung pantai Konoha terhipnotis akan keindahannya, semuanya seakan kaku dalam sihir dan terus menatap keindahan alam ciptaan Yang Maha Kuasa.
Sasuke dan kawan-kawan juga tersihir akan keindahan yang ditangkap indera penglihatan mereka. Ditengah keheningan itu, mata mereka bertemu, Sasuke yang tidak sengaja melihat ke arah selatan dan Hinata yang menoleh ke arah utara, onyx dan lavender itu akhirnya menyapa. Tidak disangka, tidak dikira, dua tahun sudah Sasuke mencari si pemilik hatinya. Akhirnya Kami-sama mempertemukannya juga, di pantai. Pantai. Tempat Sasuke pertama kali bertemu dengannya, tempat Sasuke berpisah dengannya dan tempat Sasuke kembali bertemu dengannya. Semuanya terselesaikan dengan satu cara; memandang laut.
Sasuke melepaskan rangkulan tangan Tayuya, dia langsung berlari ke arah Hinata. Hinata memang baru bertemu kali pertama dengan pemuda di hadapannya namun hatinya serasa begitu mengenali pemuda berambut raven tersebut. Rambut belakang yang mencuat juga wajahnya yang dingin dan tatapan yang tajam namun hangat, Hinata merasa mengenali semuanya. Hinata bahkan tidak berontak ketika Sasuke menggamit tangannya dan berlutut di hadapannya lalu mencium tangannya.
"Akhirnya aku menemukanmu Hinata-hime." Rona merah semakin menjalar di wajahnya yang biasanya pucat. "Kau siapa? Kenapa tahu namaku?" Sasuke merasa déjà vu, meski kedudukannya sedikit berbalik, dia memasang senyum terindahnya yang hanya diperuntukkan untuk Hinata. "Aku pangeranmu, Uchiha Sasuke." Sasuke berjengit, dia bingung, kok tangan Hinata kasar dan besar, perasaan tadi halus dan lembut. Penasaran, Sasuke menaikkan kepalanya yang sempat tertunduk untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya dan dia shock banget pas tahu yang ada di hadapannya kini bukan Hinata, melainkan pria berambut cokelat yang tengah menatapnya murka.
"Kakak jangan marah, Sasuke-kun, emm dia temanku." Hinata berusaha menyelamatkan Sasuke, entah dapat kepercayaan darimana tetapi dia punya keyakinan bahwa Sasuke adalah orang yang jujur lagipula hatinya merasa begitu nyaman dengan kehadiran Sasuke.
"Begitukah, kau tidak bohong?" Melihat anggukkan mantap dari sepupunya Neji hanya bisa tersenyum, di acaknya rambut Hinata. Kau sudah besar ya adikku yang manis, pikir Neji.
Sasuke langsung datang menghampiri Neji, memberi hormat dan tersenyum dengan kepercayaan diri yang tinggi sambil mengajak Neji berjabat tangan. "Aku Uchiha Sasuke, aku berjanji akan menjaga Hyuuga Hinata, Kakak ipar."
Perkataan Sasuke sukses menimbulkan beragam tanggapan, mulai dari Hinata yang merona hingga nyaris pingsan, Neji yang melotot tak percaya sampai-sampai Tayuya yang nangis dengan tersedu-sedu.
Dan inilah akhir sebuah misteri dari Sang Pemilik Kehidupan, karena restuNya sepasang kekasih yang tak bisa bersatu di masa lampau diizinkan untuk bersatu di masa kini, meski dengan nuansa yang berbeda. Janji si Pria kepada sang wanita kini tertepati oleh dua anak remaja yang masih belajar mengenai apa arti sebuah kehidupan. Dari bentang langit yang berbeda Sasuke dan Hinata masa lalu juga diizinkan bersatu di puncak nirvana dan mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada Kami-sama juga pada Sasuke dan Hinata masa kini yang telah menepati janji sang pria di masa lampau dan membuat mereka bisa bersatu di alam yang lain. Sasuke dan Hinata menyaksikan semua romantisme tersebut dari laut dan mereka berdoa, memohon kepada Kami-sama, berharap semoga Kami-sama juga memberikan kebahagiannya kepada mereka.
Kisah yang bermula dari laut ini akan terus abadi seperti deburan ombak yang tak pernah berhenti dan semuanya terjadi karena rasa saling mencintai satu dengan yang lainnya…
Owari?
Omake
"Huweeeeee kenapa Sasuke mengianatiku." Tayuya masih terus menangis , rambutnya yang semula tertata indah jadi berantakan. Sebuah sapu tangan berwarna putih terulur ke arahnya, ia menerimanya, menhapus airmata dan mengelap ingusnya.
"Cih kau jorok sekali, saputanganku kan jadi ternoda." Tayuya langsung mendongakkan kepalanya, didapatinya Kiba yang tengah memandangnya dengan pandangan mengejek. Tayuya langsung melempar saputangan tersebut ke muka Kiba, "nih aku tidak butuh." Kiba hanya nyengir, tidak ada kemarahan sedikitpun yang terbias di wajahnya, "gitu dong jangan nangis, kau terlihat lebih cantik kalo marah-marah dibanding nangis." Tayuya tersenyum tulus, ada rona merah terpampang manis di wajahnya membuatnya semakin terlihat menarik meski tadi habis menangis.
"Arigatou, ternyata kau tidak seburuk yang ku kira." Kiba hanya tersenyum dan entah mengapa Tayuya mengakui akan sesuatu hal yang tidak pernah terlintas di benaknya. Kiba tampan juga kalo tersenyum dan dia cukup keren ah tidak sangat keren, pikir Tayuya.
Nampaknya akan ada dua hati lain yang akan menyatu… Gaara yang melihat adegan KibaTayu tak henti-hentinya mengucap syukur, setidaknya tidak akan ada yang mengusik hubungannya dengan Shion. Gaara mengeratkan rangkulannya pada Shion, kepalanya bersender ke pundak kekasihnya. Gadis berambut pirang itu merasa aneh dengan sikap kekasihnya yang tidak biasa, "ada apa Gaara-kun?"
"Iie, aishiteru." Shion hanya tersenyum dan mengecup singkat pipi Gaara, "aishiteru mo Gaara-kun."
Lalu bagaimana kisah yang lainnya?
"Suigetsu kenapa kau senang sekali?" Juugo bingung dengan sahabatnya yang satu ini, memang sih dia akuin semua orang sedang berbahagia. Kiba saja, sepertinya telah memiliki calon kekasih tetapi kenapa Suigetsu justru kelihatan lebih senang dari Kiba.
"Karena Sasuke sudah punya pacar." Suigetsu tidak henti-hentinya memasang senyum membuat Juugo bergidik ngeri karena jujur senyuman Suigetsu lebih persis drakula yang mendapatkan mangsa daripada seseorang yang mendapatkan durian runtuh. Berteman lama dengan Suigetsu membuat Juugo tahu bagaimana cara Suigetsu bahagia meski dengan senyum mengerikannya.
"Lalu apa hubungannya?" Juugo shock mendapat pelukan tiba-tiba dari Suigetsu, keanehan apalagi ini?
"Itu tandanya aku akan berpacaran dengan Karin karena dia bilang dia akan menerima cintaku kalo Sasuke sudah punya pacar. Sebenarnya Karin juga suka sama aku tapi katanya aku gak seganteng Sasuke, jadi syaratnya biar aku bisa jadi pacarnya, Sasuke harus pacaran dulu, agar dia ikhlas pacaran sama aku. Asyik Juugo aku punya pacar!" Juugo sweatdrop tingkat akut mendengarnya, bisa-bisanya Suigetsu tetap mau menjadi kekasih Karin dengan syarat gak masuk akal, ahh cinta memang gak masuk akal.
Tunggu kalau Suigetsu sama Karin, Kiba sama Tayuya, Sasuke sama Hinata, lalu aku sama siapa?
"Woy Juugo masih jomblo ya? Noh sama dia aja." Naruto menunjuk ke arah Neji alias Kakak sepupu Hinata dengan pandangan yang seolah mengatakan, dia-juga-masih-jomblo.
"TIDAKKK!" Juugo menjerit frustasi, dia jadi benar-benar berharap Kami-sama akan memberikan jodoh kepadanya, SE-CE-PAT-NYA!
"Bwahahahahaha." Naruto tertawa begitu bahagia, belum pernah dalam seumur hidupnya dia menjahili seseorang dengan nikmatnya. Biasanya kan dia yang jadi bahan kejahilan Sasuke dan Gaara yang notabene sangat jenius.
"Kau tega sekali Naruto, bwahhahahaha." Dasar suami dan istri sama saja eror-nya berbahagia di atas penderitaan orang lain. Sabar-sabar ya Juugo.
"Hinata, ayo pulang, aku ada janji sama Ino-chan."
Rupanya memang cuma Juugo yang masih jomblo, kira-kira apakah Juugo akan mendapatkan pujaan hatinya? Entahlah. Kita tutup dahulu kisah cinta ala remaja ababil yang kini tengah beranjak menuju bangku kelas sembilan sekolah tingkat pertama. Sampai jumpa di lain kisah ya teman-teman…
THE END
Bwahahahaha endingnya gaje banget ya teman-teman? Semoga gak terlalu memaksa dan rush endingnya. Senang deh akhirnya From sea tamat juga… #sujud syukur. Setelah kurang lebih dua tahun terbengkalai, bayangkan saja publish 2010, eh tamatnya 2012. Su-chan emang gak pantes jadi author!
Kalo ada pertanyaan dari fic ini sampaikan aja ya lewat review, aku tau tamatnya memang penuh dengan ketidakjelasan. Tapi aku ragu juga sih masih ada gak ya yang baca cerita gagal ini, ahh sudahlah gak mau kebanyakan curhat, mending kita mulai aja bales review unlogin, cekidot!
Emm tunggu sebentar Su-chan mau mengingatkan kalo gak ada BASHING CHARA, semuanya sesuai karakter yang didapatkan di fanfic ini. Teman-teman, berhubung Idul Fitri sebentar lagi tiba, Su-chan mau meminta maaf atas semua kesalahan yang Su-chan perbuat. Semoga kita senantiasa diberikan keberkahan oleh Allah Swt. Selamat menantikan Idul Fitri bagi yang merayakan.. Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.
Balesan review unlogin, cekidot!
Mamoka: Makasih udh mau review, maafkan saya ya, yang telah menelantarkan fic ini. Semoga ini termasuk upd cpt, inilah kisah terakhrny, smga msh brkenan membacanya.
Lavender: Spt yg saya bilang ini memang terinspirasi dari komik misteri, kalo berkenan silakan baca kelanjutannya hingga tamat, crtany sdh sy kmbngkn dg imajinasi sy. Makasih sdh menanyakannya dan mereview, ayo ch 2ny dibaca, hehehehe.
Semua Kritik, Saran bahkan Flame saya terima. Tuangkan saja dalam review. Sampai ketemu lagi ya di cerita saya yang lainnya, salam kenal dan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk yang sudah membaca, mereview, memfollow bahkan memfavoritekan fic ini. Saya sayang kalian. 3
