Title: I'm Sorry

Author: LoveHyunFamily

Cast: Oh Sehun

Oh Ziyu

Xi Luhan

Kris Wu

Pair: SeHunxLuHan; Slight KrisxLuhan

Rated: T

Genre: Sad; Romance; Drama; Family

Disclaimer: Cast milik orang tua, agensi dan diri mereka sendiri. Ovie cuma make namanya aja. Dan tentunya cerita murni milik Ovie '-'

Warning! Yaoi; BL; Shounen-Ai; dan sejenisnya.

Summary: Luhan menikah dengan Sehun, seorang wirausaha dibidang makanan yang tidak terlalu besar dan tidak terkenal namun masih dapat mencukupi kehidupan mereka bersama Ziyu-anak mereka. Dan setelah usaha Sehun hampir bangkrut. Dimulailah Luhan yang bertingkah./"Umma. Jangan pergi"/"Luhan hentikan ini!"/"Aku muak dengan kalian!"/"UMMA! Hiks"

.

.

Happy Reading

.

Pagi yang damai, sedamai wajah pria dewasa yang sedang memandang wajah terlelap buah hatinya. Wajahnya damai, namun tidak dengan hatinya, hatinya resah, gelisah dan tidak tenang dengan meninggalkan istri cantiknya dirumah sendirian. Hatinya mengatakan kalau Luhan dalam keadaan tidak baik-baik. Namun ia juga tidak bisa memaksakan kalau hendak pulang sekarang. Anaknya masih tertidur dengan lelap. Sesekali dirinya juga mendengar gumaman malaikat kecilnya, melupakan sejenak keresahan hatinya saat melihat raut polos tersebut. Namun satu fakta yang menamparnya cukup keras, wajah anaknya. Wajah anaknya mirip sekali dengan Luhan.

Tangannya tergerak diudara, kemudian mendarat di pipi Ziyu—anaknya- mengelusnya dengan lembut. Tersenyum miris disela-sela tangannya yang mengelus pipi Ziyu, tak pernah dan tidak akan terpikir sekalipun dibenaknya jika Luhan seperti sekarang. Sungguh, jika tahu seperti ini Sehun tidak akan ke Seoul untuk mengurusi perusahaannya. Sia-sia saja dia ke Seoul jika perusahaan kecilnya juga hilang. Perusahannya hilang, istrinya pun hendak menghilang.

Tidak, tidak. Itu tidak akan terjadi. Bagaimanapun caranya Sehun akan menyadarkan Luhan dari semua kesalahan ini. Ya, secepatnya. Sehun bangkit dari tidurnya, mengambil smartphone nya yang tergeletak di nakas dan memeriksa jam berapa sekarang.

Pukul 8:30. Sehun harus segera menyadarkan Luhan dan mengembalikan keluarga kecil bahagianya.

"Baek hyung" Panggil Sehun saat berada didapur, karena ternyata Baekhyun sedang memasak untuk sarapan, mungkin.

Baekhyun menoleh, "Ya Sehun ada apa?" tanya nya kemudian berbalik kembali fokus pada masakannya.

"Aku ingin izin pulang" Sehun dapat melihat pergerakan Baekhyun yang terhenti. Lalu mematikan kompornya dan berbalik berjalan mendekati Sehun.

"Kenapa buru-buru? Ziyu bahkan belum bangun" Baekhyun menatap Sehun. "Apa yang ingin kau lakukan?" Seakan mengetahui rencana Sehun, Baekhyun bertanya.

"A-aku hanya ingin mengembalikan Luhan seperti dulu. Maka dari itu aku akan pulang lebih cepat. Mungkin Ziyu akan ku pindahkan kedalam mobil saja dan melanjutkan tidurnya diperjalanan" ucap Sehun panjang lebar, kemudian terjadi hening yang panjang didapur tersebut sebelum yang lebih tua menghela nafas.

"Baiklah, aku harap tidak ada hal buruk yang terjadi pada kalian. Maafkan aku yang tidak bisa membantu" Baekhyun mengusap lengan kurus Sehun.

"Tidak apa hyung," Sehun tersenyum. "Kalau begitu aku siap-siap dulu" Baekhyun mengangguk lalu Sehun kembali menuju kamar yang ditidurinya dengan anak tercintanya tadi. Tidak melihat kalau Chanyeol juga menuju dapur.

"Kenapa Sehun terlihat buru-buru?" Tanya Chanyeol setelah mengucek matanya. Baekhyun yang melihat itu segera mengelap wajah Chanyeol dengan handuk yang tersedia didekat pintu kamar mandi—sebelumnya ia basahi sedikit handuk tersebut.

"Katanya dia ingin pulang lebih awal." Jawab Baekhyun yang masih mengelap wajah Chanyeol setelah ia menghela napas panjang. Chanyeol yang setengah mengerti pun hanya diam.

.

.

.

"Sehun, sarapanlah dahulu" Baekhyun menegur Sehun yang setelah Sehun menaruh tas bajunya bersama Ziyu didalam mobil. "Jika Ziyu belum bangun, aku sudah membuatkan sarapan untuk Ziyu biar bisa dimakan dijalanan" Baekhyun mengetuk-ngetuk kotak bekal yang ada didepannya. Sehun yang tadinya berniat mengambil Ziyu yang masih tertidur membelokkan langkahnya mendatangi Baekhyun yang ternyata juga ada Chanyeol disana.

"Terimakasih hyung, selamat makan" ucap Sehun lalu melahap habis masakan Baekhyun. Ditengah acara sarapan tersebut tidak ada yang berbicara dan hanya terdengar dentingan sendok yang menabrak piring saja. "Masakanmu memang yang paling enak hyung" puji Sehun tulus menatap Baekhyun dengan tersenyum.

"Terimakasih. Ngomong-ngomong jika kau pulang nanti pasti Jesper serta Jackson akan ribut karena tidak menemukan Ziyu dimana-mana" canda Baekhyun mencairkan suasana yang sempat terasa canggung.

Sehun hanya tersenyum simpul mendengar itu. "Sering-seringlah nanti main kerumah kalau ada waktu" ucap Sehun.

"Tentu saja kami nanti akan ke Busan lagi untuk mengajak anak-anak. Ke pantai mungkin tak ada salahnya" Itu Chanyeol yang menyahut.

"Ide bagus Yeol." Sahut Baekhyun tersenyum kearah suaminya. Sehun yang melihat itu hanya dapat menahan rindu pada Luhan.

"Kalau begitu, terimakasih untuk semuanya Hyung. Aku pulang dulu. Salam saja dengan dua bocah Park" Kemudian Sehun terkikik sendiri dengan panggilan buat Jesper dan Jackson.

Lalu Sehun berjalan menuju kamar dimana Ziyu tengah tertidur dan tak lama ia keluar dengan Ziyu yang ada digendongannya—masih setia memejamkan matanya. Rupanya nyenyak sekali tidur pangerannya ini, Sehun tersenyum saat melihat wajah damai Ziyu yang bersandar pada bahunya.

Sehun mendudukkan Ziyu dengan hati-hati di kursi sebelah dirinya yang akan mengemudi, lalu memasangkan sabuk pengaman agar tidak terjatuh. Mencium keningnya dengan lembut kemudian berjalan kearah kursi kemudi yang ternyata sudah ada Baekhyun dan Chanyeol berdiri disana.

"Ini, kau hampir melupakannya" Baekhyun memberikan kotak bekal untuk Ziyu, dan Sehun menerimanya dengan tersenyum.

"Terimakasih banyak hyung" Sehun memeluk Baekhyun dan Chanyeol bergantian. "Aku tidak tahu harus bagaimana jika tidak ada kalian" Sehun menatap ChanBaek bergantian.

"Bawa Luhan kembali kepelukanmu Hun-ah" Chanyeol menyemangati Sehun dengan menepuk-nepuk bahunya.

"Pasti hyung pasti. Tunggu saja" Tiba-tiba air mata Sehun terjatuh dengan sendirinya. Baekhyun yang melihat itu segera merengkuh tubuh Sehun.

"Kau harus kuat Sehun, kami mendukungmu dari belakang" Baekhyun mengusap-ngusap punggung tegap Sehun agar sang empu tenang. Sangat tidak tega dengan sahabat yang sudah ia anggap adiknya sendiri ini tengah menjalani masa-masa sulit dalam hubungan rumah tangganya.

"Sekali lagi terimakasih banyak hyung. Kami pulang dulu" Ucap Sehun setelah tangisnya tenang dan menghapus air matanya. Memasuki mobilnya dan menutup pintunya dengan tidak terlalu kencang agar Ziyu tidak terganggu dengan tidurnya.

"Hati-hati dijalan" Baekhyun melambai pada Sehun, kemudian mobil itu meninggalkan pekarangan keluarga Park.

"Aku harap Sehun dapat kuat"

"Kita doakan yang terbaik saja."

.

.

.

Disebuah ruangan yang kita ketahui itu adalah kamar Sehun dan Luhan. Di kasurnya terdapat seorang pria yang manis yang juga kita ketahui namanya adalah Luhan. Namun pria yang satunya bukan Sehun. Kamar ini milik Sehun dan Luhan 'kan? Kenapa pria satunya bukan Sehun? Ah, tentang itu, ini Luhan yang mengijinkan. Pria satunya yang dengan wajah tegas bak pangeran negeri dongeng, namanya Kris, sudah tahu 'kan?

"Umhh" Luhan menggeliat saat kesadarannya mulai terkumpul dengan sendirinya karena pagi menjelang.

"Selamat pagi sayang" Kemudian Kris mencuri satu kecupan untuk Luhan. Wajah Luhan mengernyit setelah menerima ciuman singkat tersebut. Dan setelah sadar kalau disampingnya ini Kris, Luhan yang masih dengan mata terpejamnya memeluk Kris erat.

"Sudah kubilang jangan melakukan hal mengejutkan seperti itu Kris" ucapnya yang teredam dada bidang Kris. Kris yang merasakan getaran di dadanya akibat suara Luhan hanya dapat terkikik kecil.

"Emang itu mengejutkan?" Tanya Kris yang tangannya sibuk dengan kepala Luhan. "Mengejutkan mana dengan yang ini" Kris bergerak cepat hingga mendapatkan bibir Luhan agar menyatu dengan bibirnya hingga Luhan tersadar penuh dan matanya terbuka lebar. Terlalu terkejut dengan tindakan tiba-tiba sang selingkuhan. Namun setelah merasakan lumatan demi lumatan yang entah kenapa terasa memabukkan bagi Luhan, dirinya membalas ciuman sensual Kris. Selanjutnya terdengar kecipak-kecipak yang sarat akan nafsu semata.

.

.

"Ughh," Sehun menoleh saat mendengar lenguhan pangeran tidurnya. Sudah mulai terbangun?

"Sudah bangun pangeran?" ucapnya dengan pandangan sesekali menatap Ziyu yang masih menggeliat di kursinya. "Selamat pagi pangeran" ucapnya lagi saat kelopak Ziyu terbuka, menampakkan Ziyu masih dengan wajah mengantuknya.

"Uh? Kita mau kemana appa?" matanya seketika terbuka lebar saat menyadari kalau dirinya tengah berada didalam mobil. Sehun yang melihat pemandangan lucu tersebut hanya terkikik, membuat Ziyu menoleh pada sang ayah yang tiba-tiba terkikik? Apa ada yang salah? "Appa, kita akan kemana?" ulang Ziyu. Sehun berhenti terkikik dan hanya menyisakan senyum menawannya yang memukau di mata Ziyu, ugh jika Ziyu sudah besal pasti Ziyu akan tampan sepelti appa batinnya lucu.

"Kita akan pulang tentu saja" jawab Sehun.

Ziyu bingung, kenapa pulangnya cepat sekali, dia 'kan jadi tidak bisa bepamitan dengan Jesper serta Jackson. "Kenapa halus pulang cepat appa? Ziyu kan belum belpamitan dengan Jespel sama Jackson" Bibir Ziyu maju beberapa senti membuat Sehun gemas sendiri lalu menggerakkan tangan kanannya dan menepuk-nepuk pelan bibir Ziyu yang maju tersebut.

"Kenapa melakukan pout? Kau laki-laki tentu tidak cocok dengan memajukan bibir, memangnya Ziyu perempuan?" ejek Sehun, menggoda anak semata wayangnya. Dan tentu saja Sehun tidak mau anaknya menjadi gay seperti dirinya. Cukup dirinya saja yang tidak normal, untuk Ziyu ia berusaha agar anaknya menyukai perempuan. Dan tentu saja bukan sekarang, nanti tunggu dewasa.

"Memangnya kenapa? Umma kan seling seperti ini juga," Oh, Ziyu. Cobalah untuk tidak menyebut-nyebut umma-mu saat ini. "Umma bahkan terlihat imut. Eh, tapi kalau Ziyu mengikuti umma sepelti itu, Ziyu jadi tidak tampan dong" Celotehnya sendiri. Membuat Sehun kembali gemas, lupa tentang Luhan untuk sementara saat melihat tingkah menggemaskan pangeran kecilnya.

Kruyukkk~

Sehun menoleh cepat dan mendapati Ziyu tengah memegangi perutnya lalu mendongak menatap Sehun dengan pandangan malu. "Ehehe.. Ziyu lapal" ucapya cengengesan. Lalu Sehun menepikan mobilnya didepan sebuah minimarket pinggir jalan.

"Nah, Ziyu makan ini. Tadi Baek ahjumma yang menyiapkannya untuk Ziyu" Sehun menyodorkan kotak bekal yang tadi Baekhyun berikan ke pangkuan Ziyu. Ziyu membukanya dan matanya melebar saat menemukan nasi dengan bentuk wajah rusa—entah bagaimana Baekhyun membuatnya, yang pasti Ziyu senang- dengan telur gulung serta sayur dan lauk pauk lainnya yang berbentuk lucu.

"Whoahh. Bento!" pekiknya senang.

"Benarkah? Wah appa tidak tahu itu isinya bento. Kalau begitu Ziyu harus berterima kasih pada Baek ahjumma nanti" Sehun mengacak surai ZIyu dengan gemas. "Bagaimana kalau makannya disana saja? Sekalian appa belikan minuman dingin untuk pangeran appa yang tampan" Sehun menunjuk sebuah bangku yang ada di taman sebelah mini market tersebut.

Ziyu mengangguk dengan senang."Baiklah, ayo kita turun!" Sehun menggendong Ziyu yang memengang kotak bekalnya dengan senang. Menuju minimarket terlebih dahulu untuk membeli minuman dingin untuk Ziyu dengan tambahan snack untuk ZIyu juga, persiapan siapa tahu Ziyu kembali lapar. Kan bisa di ganjal snack ataupun wafer dulu. Kemudian mereka menuju kamar kecil minimarket tersebut yang didepannya terdapat keran air. Membasuh wajah bangun tidur lalu mengelapnya dengan tissue yang tadi juga dibelinya. Memang ayah yang sangat perhatian pada anaknya.

"Nah sekarang Ziyu makan sampai habis oke?" Sehun kembali membuka kotak bekal tersebut lalu memberikannya pada Ziyu setelah mereka mendudukkan bokongnya di bangku taman yang disampingnya terdapat pohon besar sehingga membuat suasananya sejuk. Yang disambut Ziyu dengan senang hati lalu memakan bento-nya dengan lahap.

"Appa mau?" tawar Ziyu yang menyodorkan sendok nasinya kehadapan Sehun.

"Tidak, appa sudah sarapan tadi. Appa sudah kenyang" Sehun menepuk-nepuk perutnya memberitahu kalau ia memang sudah sarapan. Dan Ziyu kembali pada acara makannya.

Sehun yang tidak melakukan apa-apa hanya bisa menerawang langit siang dengan hening. Memikirkan apa yang akan membuat Luhannya akan tersadar dengan tingkah tololya. Apa yang harus kulakukan? Batinnya miris. Jujur saja, ia tidak pernah dihadapkan paada situasi seperti ini. Ini pertama kalinya, dan ia bingung harus melakukan apa.

Meminta saran pada kedua orang tuanya? Tidak, tidak. Ia tidak mungkin memberitahukan hal ini pada orang tuanya yang sedang menikmati masa tua .Ia tidak ingin kedua orang tuanya kenapa-kenapa hanya karena memikirkan hal ini. Ia harus berusaha sendiri.

"Appa…" Lamunan Sehun buyar saat mendengar panggilan kecil dari Ziyu.

"Sudah selesai?" Tanyanya berusaha terlihat santai didepan anaknya. Ziyu mengangguk dengan imut, dan Sehun melihat sebutir nasi menempel pada ujung bibir Ziyu. Tersenyum geli, ia mengambil tissue dan mengelap bibir Ziyu dengan lembut. "Makan masih berlepotan heum?" tanyanya dengan senyum menahan tawa. Entah kenapa semua tingkah Ziyu akhir-akhir ini menjadi hiburan tersendiri baginya.

"ZIyu kan tidak tahu, Ziyu hanya tellalu belsemangat memakan masakan Baek ahjumma. Masakan Baek ahjumma memang Jjang!" Ziyu mengacungkan kedua jempolnya didepan, mendeskripsikan kalau masakan Baekhyun memang sangat enak.

"Baiklah, siap untuk perjalanan selanjutnya?" Ziyu kembali mengangguk. Sehun berdiri lalu menuntun Ziyu menuju mobil dengan sebelah tangan memegang kresek yang berisikan snack untuk Ziyu. "Tidak ada yang ingin dibeli lagi?" Tanya Sehun sebelum mereka memasuki mobil.

"Tidak, Ziyu sudah kenyang~ Hehe.."

Sehun mendudukkan Ziyu pada kursi penumpang lalu memasangkan sabuk pengaman untuk anaknya, kemudian dirinya berlari menuju kursi kemudi setelah menutup pintu Ziyu. Menaruh belanjaan mereka di kursi belakang, dan menyalakan mesin mobil. "Bersiaplah, pangeran kecil Oh sedang menuju istananya~" Sehun berujar dengan semangat membuat Ziyu terbahak dengan nada yang dilontarkan ayahnya.

.

"Kris.. Jangan ganggu, aku sedang memasak" Luhan memukul pelan lengan Kris yang memeluknya dari belakang.

"Ayolah, aku hanya memeluk. Apa salahnya?" Kris menaruh dagu runcingnya pada bahu sempit Luhan sendiri harus menahan geli.

"Tapi aku sedang memasak, tunggulah di meja makan dahulu" Kris berdecak pelan sebelum ia akhirnya melepaskan pelukannya pada sang kekasih. "Bersabarlah," Luhan berbalik untuk mengecup Kris. Namun Kris dengan sigap menahan tengkuk Luhan dan melumat bibir Luhan dengan rakus.

"Mmhh" Untung saja Luhan belum menyalakan kompor, karena saat ini Kris tengah membimbingnya menuju sofa terdekat.

BRUKK

Kris menghempaskan tubuh Luhan di sofa tersebut dan menindihnya. Kemudian kembali menautkan bibirmereka. Memakan satu sama lain.

"Ummhh— Krishh" Kris tersenyum disela-sela kegiatannya. Libidonya naik dengan drastic setelah mendengar lunguhan Luhan. Luhan sendiri hanya dapat meremas helaian rambut Kris, melampiaskan rasa nikmatnya dengan mengaca-acak surai keemasan tersebut.

Krakkk

Kris merobek kaos yang Luhan kenakan, Luhan yang menyadarinyapun melepaskan tautannya dengan cepat. "Kris!" Pekiknya sembari menutupi tubuh bagian depannya dengan robekan kaosnya yang tadi.

"Kenapa? Kenapa kau selalu menolakku Lu?" Kris juga memekik dengan frustasi. Itu tadi hampir saja, dan Luhan melepaskan ciumannya secara sepihak.

"Maaf" Lirih Luhan kemudian.

"Kenapa huh?" Kris berujar didepan wajah Luhan, jaraknya sangat dekat hingga Luhan merasakan napas Kris yang terasa panas karena nafsunya sedang di ubun-ubun.

"K-karena aku belum siap" Masih dengan lirihannya, Luhan menatap Kris dengan taku-takut. Takut Kris akan marah.

"Aku akan bertanggung jawab, kau tahu itu Lu"

"T-tapi—"

"Kau takut Sehun tahu jika kita melakukannya disini?" Tanya Kris pelan. Luhan tidak menjawab, karena jawabannya adalah iya. "Kalau Sehun mengetahuinya, berarti kau tidak usah repot-repot untuk meminta cerai kan?" Kris menyeringai sangat tipis, bahkan Luhan yang dekat pun tidak melihatnya.

Karena tidak ada jawaban dari Luhan, Kris kembali mendekatkan wajahnya. Namun lagi-lagi, Luhan menahannya. "Aku masih memiliki Ziyu"

"Jadi kau ragu hanya karena anakmu? Lu yang benar saja, kau bisa mengajak anakmu untuk tinggal bersama kita"

"Tapi—"

"Kali ini tidak ada penolakan Luhan" Nada itu, nada yang sarat akan perintah. Membuat Luhan tidak bisa berbuat apa-apa jika Kris sudah mengeluarkan nada tersebut. Cih, termakan rayuan buaya.

Kris kembali mendekatkan wajahnya dan kali ini tidak ada penolakan dari Luhan hingga bibir mereka menyatu dan terjadi lumatan-lumatan yang seketika menjadi sangat panas.

"Umhh.. Ahhhh" Kris memilin nipple Luhan saat kembali membuka kaos yang tadi dipegang erat-erat oleh sang empu.

BRAKK

Luhan melepaskan ciumannya dan mengalihkan pandangannya pada pintu dan membelalak tidak percaya pada apa yang tengah dilihatnya saat ini.

.

.

TBC

.

HAIIIII! Yaampun.. Sekali lagi maafkan Ovie yang telat update, tau sendiri lah kalau kelas sebelas itu banyak tugasnya. Yang kelas sebelas pasti ngerasain kok. Tapi tenang aja, I'm Sorry tetap bakal Ovie lanjutin ampe END

Gimana cerita chap kali ini? Memuaskan kah? Chap depan bisa disebut klimaks, karena yaa u knw lah../apacoba/ Buat yang ngerasa ceritanya makin aneh, dan gak suka atau sebagainya, sebaiknya gak udah baca. Buat yang greget ama Luhan, sabar ya, ntar juga dapat pencerahan dari mamah dedeh/?

Yodah deh ya, review juseyo, biar Ovie semangat nulis dan update cepet kalau kalian kasih dukungan buat Ovie /ngemis dukunganwkwk/

Big Thanks To;

junia. angel. 58; levy95; Novey; BigSehun'sJunior; khalidasalsa; hunnieluludeer; nisaramaidah28; msluhan87; fera95; ThehunLuhanieYehet; Dzakiyah570; Baby Lu; Dan SIDERS sekalian.

EXO-L Jjang!