BREAKOUT!
Naruto Belongsto Masashi Kishimoto
Sakura POV
Sudah hampir tiga minggu aku belajar disini. Kampus yang menurut beberapa situs internet merupakan salah satu universitas dengan jurusan Kedokteran terbaik di LA. Padahal jam sudah menunjukan pukul 6 sore, tapi hujan dari tadi siang tetap saja belum reda. Oh man! Aku hanya bengong di koridor dengan membawa bawaan khas mahasiswa, satu tas untuk membawa buku-buku mata kuliah, dan satu tas jinjing untuk laptopku. And fyi, tangan kananku masih diperban, jadi kalian bayangkan sendiri bagaimana keadaanku sekarang.
"Hujan tak akan berhenti walaupun kamu melihatnya dengan tatapan mengerikan seperti itu."
Ah, dia teman satu angkatanku di Kedokteran, Sai.
"Menunggu jemputan Sakura?" tanya Sai dengan senyum anehnya.
"Ya begitulah Sai."
Dia hanya tersenyum mendengar jawabanku, tanpa berkata apa-apa lagi dia langsung pergi entah kemana aku tak tahu. Dasar pria yang aneh! Bukannya aku jahat, hanya saja setiap kali berbicara Sai selalu tersenyum dengan senyum yang menakutkan, kulitnya juga putih pucat seperti mayat yang sudah diawetkan. Dia seperti hantu Sadako tapi versi pria.
Bukannya reda hujan malah tambah deras, aku hanya duduk melongo di sepanjang koridor kampusku. Seharusnya mereka sudah datang menjemputku dari tadi jam 5. Apa Tenten tidak mendapatkan email yang kukirimkan tadi? Ya Tuhan. Tidak! Bagaimana ini? Daya baterei laptopku sudah hancur. Naik taxi? Kurasa tidak, setelah melihat isi dompetku yang kempes aku rasa uang disana hanya cukup untuk naik bus. Oh boy! Jangan suruh aku naik bus! Kalian bisa bayangkan akan seperti apa ngilu ditanganku saat harus berlarian menuju halte bus?
Sebuah Rover hitam berhenti tepat didepanku.
"Sai?"
"Masuklah, akan kuantar pulang?" tawar Sai setelah membuka pintu disisi kiri depan mobilnya.
Bimbang menghinggapiku, antara mengiyakan tawarannya atau menolak.
"Lihat! Hujan semakin deras Sakura. Kurasa orang yang menjemputnya sekarang sedang sibuk. Ayolah, biar kuantar pulang."
Benar yang dikatakan Sai, hujan semakin deras dan perutku sudah benar-benar lapar. Aku rasa email ke Tenten tadi siang memang tidak terkirim. Baiklah, apa salahnya menerima bantuan dari Sai?
"Kau benar Sai. Oke, baiklah."
TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNN
Sebelum kedua kakiku masuk semua ke mobil Sai, sebuah mobil putih yang nomor platnya sudah kuhafal diluar kepala datang melaju cukup kencang dengan suara klakson yang memekakan telinga.
"Apa yang kau lakukan Sakura? Naik kesini sekarang!" teriak Ino dengan wajah kesalnya.
Kenapa dia yang marah? Seharusnya aku yang berhak marah karena menunggu jemputan lebih dari satu jam. Aku meminta maaf kepada Sai, dan respon Sai hanya tersenyum dengan senyum andalannya. Hentikan Sai! Itu sangat menakutkan.
Aku segera berlari untuk pindah ke mobil Ino. Seperti biasa, dimobil Ino yang ini posisiku dikursi belakang. Ino tak akan pernah mengijinkanku duduk bersebelahan dengannya dikursi depan. Aku berani bertaruh, jika Ino mengijinkanku duduk disampingnya aku akan merendahkan harga diriku untuk berkata 'Ino, kau menyebalkan! Tapi tak masalah, aku tetap menyukaimu' kepadanya langsung, sekarang juga! Pegang kata-kataku!
"Apa yang kau lakukan? Pindah kedepan!" kata Ino mendelik kepadaku.
"A-apaaa?" tentu saja aku kaget.
"Kau mendengar setiap kata yang kuucapkan Sakura." ucapnya tak sabar.
Hei! Lu-lupakan soal 'pegang kata-kataku' barusan. A-aku hanya bercanda.
"Ke-kenapa kau menyuruhku pindah di depan Ino? Tak se-seperti biasanya?" tanyaku gugup, masih belum terbiasa melihat kesempurnaan setiap inchi wajah Ino sedekat ini.
"Siapa pria tadi? Kekasihmu?" tanya Ino tanpa menjawab pertanyaanku, nadanya bicaranya cukup tinggi, pasti dia sedang kesal setengah mati.
"A-apa? Ke-kekasih? Ck! Sai. Dia temanku, cuma teman Ino. Dia menawarkan mengantarku karena dia merasa kasihan seorang gadis patah tulang sepertiku tidak dijemput saat hujan." aku menjawab pertanyaan Ino dengan penekanan dikata 'tidak dijemput'.
"Dan kau langsung mau saja menerima tawarannya? Gampangan sekali kau ini! Aku menyesal sudah menjemputmu." ucapnya marah.
Kenapa coba?
"Hei! Karena kalian tak segera menjemputku! Lagipula aku tak memintamu menjemputku Ino, aku meminta tolong Tenten, bukan kau!" teriakku tak kalah keras dari Ino.
CIIIIIIIITTT
Aduh! Jika saat ini aku tidak memakai sabuk pengaman mungkin kepalaku yang kecil ini bisa terbentur dasboard mobil. Apa dia gila? Kenapa dia menginjak rem dengan mendadak? Tiba-tiba Ino melepas sabuk pengamannya, dan tidak, dia mendekatkan wajahnya kepadaku! Ya Tuhan! Aku bisa merasakan hangat nafasnya diwajahku. Mata biru Ino menatapku dengan tajam, memaksaku untuk tenggelam didalamnya. Sedangkan aku? Jangan ditanya!
"Dengarkan Nona! Aku mengizinkanmu tinggal di tempatku karena kau bilang ingin belajar. Hanya untuk belajar, tidak lebih tidak kurang, tidak untuk berkencan dan bersenang-senang dengan pria. Mengerti!"
Tuhan, tolong hentikan waktu sebentar saja, saat ini, aku ingin momen seperti ini berlangsung agak sedikit lama.
"Te-tentu sa-saja." jawabku terbata-bata, tentu saja karena gugup.
"Bagus."
Ino kembali menegakan tubuhnya seperti semula, mobil kembali berjalan dengan normal.
"Kau lapar bukan? Kita cari makan dulu."
Ya Tuhan ini seperti mimpi! Apa hari ini ulang tahunku? Rasanya tidak. Tapi hari ini untuk pertama kalinya Ino menjemputku pulang sendiri, memperbolehkanku duduk disampingnya, mengajakku makan di luar, dan dia hanya bicara dengan satu jengkal dariku? Ini seperti mimpi! Semoga ini awal yang baik untukku dan Ino kedepannya. Amin.
Sakura POV End
INO'S APARTMENT
"Sudah kubilang! Lebih baik dibungkuskan pegawainya saja bukan? Merepotkan!"
"Diamlah sebentar Ino! Kamu hanya menggrutu saja. Bersabarlah!" kata Sakura yang duduk dikarpet sambil mengotak-atik bungkusan didepannya.
Ino yang duduk diatas sofa merasa frustasi, kertas kado untuk membungkus hadiah ulang tahun Lee menjadi kusut tak karuan. Sedangkan Sakura setengah mati berusaha membungkus kado berbentuk kotak itu menjadi elegan.
"Ya Tuhan Ino, pegang yang benar!"
"Jangan membentakku Sakura!"
Mereka bertengkar lagi. Benar-benar malah membuang waktu. Dan merusak kertas kado tentu saja.
Ino POV
Benar-benar merepotkan, tidak praktis! Sebelumnya sudah kubilang, agar kado dibungkus sekalian di toko, tapi karena si jidat lebar ini bersikeras kalau dia bisa membungkusnya lebih baik dari pada si pegawai toko. Setidaknya, pegawai toko itu punya dua tangan yang bisa bergerak dengan baik, sedangkan Sakura? Sudah jelaskan siapa yang membungkus lebih baik?
"Sakura, besok kamu pulang jam berapa?"
"Kenapa tanya? Tak biasanya." jawab Sakura ketus kepadaku.
"Yasudah kalau mau pulang naik bus." jawabku tak kalah ketusnya.
Sakura yang tadi memandang hasil karyanya dengan seksama kaget dan kalang kabut setelah mendengar jawabanku. Kado untuk Lee diletakannya begitu saja dimeja dan menghampiriku yang duduk disofa, disebelahku.
"Ino jangan marah, kan aku hanya bercanda tadi. Jangan dimasukan hati yaa. Jam 5, jemput aku jam 5." kata Sakura mencoba merayuku.
Tangan kirinya mengusap-usap bahuku dengan wajah lugu? A-apa dia gi-gila!
"Me-menyingkirlah bo-bodoh. Se-sesak!"
Sakura langsung menggrutu begitu kubilang bodoh. Posisi duduknya juga berubah, turun kembali ke karpet dan melanjutnya kegiatannya yang tadi. Dengan wajah masam dan bibir cemberut tentu saja. Aku benar-benar menikmati saat-saat menggangunya.
Ino POV End
THE BAR
Musik mengalun dengan kerasnya, wajar saja ini kan club malam. Club malam yang menjadi langganan Ino untuk mengadakan pesta. Rata-rata orang yang saat ini sedang berjoget berasal dari kalangan atas dan biasanya para selebritis senang berada di club ini karena selain mewah juga cukup privasi untuk orang-orang yang berkunjung.
Lee dan Tenten berjoget dikerumunan orang lainnya seperti orang kesetanan. Menghentak-hentakan tubuhnya mengikuti alunan musik dari DJ. Ino dan Sakura hanya duduk manis disofa lantai atas dengan begitu banyak makanan dan minuman dimeja mereka.
"Ino, aku ingin turun. Sepertinya di bawah lebih mengasyikan." ucap Sakura merengek ke Ino.
"Tidak! Disini saja. Kau akan membuat orang di bawah sana kerepotan. Mereka tak akan leluasa bergerak." ucap Ino sambil meminum anggur dari gelasnya.
"Kenapa?" tanya Sakura dengan polosnya.
"Lihat tangan kananmu Sakura! Sudah minum saja!"
Sakura paham maksud kata-kata Ino. Merasa jengkel, sakit hati, tentu saja, itu yang dirasakan Sakura. Tanpa pikir panjang Sakura mengambil gelas yang disodorkan Ino kepadanya. Langsung meminum habis minuman yang ada disana.
Ino POV
Hei jangan berpikir macam-macam! Aku bukan tipe orang yang senang berpesta seperti selebritis lainnya. Jika Lee tidak ulang tahun hari ini, pasti aku tak akan mau masuk ke tempat gelap dengan lampu kelap-kelipnya dan musik yang lama-lama bisa menghancurkan telinga.
Selalu begini, karena diantara mereka aku yang paling kuat minum jadilah aku yang menjadi sopir untuk pulang. Sedangkan mereka? Terkapar, teler dan mabuk karena beberapa botol minuman berakohol tadi. Ya Tuhan!
"But baby there you go again, there you go again, making me love you. Yeah, I stopped using my head, using my head, let it all go yuhuhuhu."
Fuck! Mereka berulah lagi. Lee yang duduk dibelakang sana tiba-tiba bernyanyi dengan kerasnya. Sangat keras. Aku sendiri sampai menginjak rem karena sangat kagetnya.
"Got you stuck on my body, on my body, like a tattoo. And now I'm feeling stupid, feeling stupid, crawling back to you."
Giliran Tenten yang berada disebelah Lee ikut bernyanyi, melanjutkan nyanyian Lee tadi. Kalian bingung kan? Tenten yang biasanya tak begitu menyukai lagi Maroon5, pengecualian saat mabuk.
"So I cross my heart and I hope to die. That I'll only stay with you one more night. And I know I say it a million times. But I'll only stay with you one more night "
Jangan tanya itu suara siapa! Gadis berambut merah muda pendek yang duduk disebelahku. Padahal dia hanya minum satu gelas anggur, tapi mabuknya seperti Tenten yang minum dua botol. Aku tak menyangka seorang Haruno Sakura tidak kuat minum.
Mereka bertiga bernyanyi bersaut-sautan. Aku heran, bagaimana bisa ketiga orang yang tidak sadar karena efek minuman bisa mengerti bagian-bagian lagu yang akan dinyanyikan. Entahlah. Mungkin mereka punya 'sesuatu' yang terhubung. Aku berusaha fokus menyetir dijalanan yang sudah sepi ini. Aku memang belum terlalu mabuk, tapi nyanyian mereka bertiga cukup mengganggu kosentrasiku.
Untunglah, aku sudah sampai apartmentku dengan selamat. Keadaan sudah cukup tenang, mereka bertiga sepertinya kelelahan dan tidur meringkuk dikursi masing-masing. Tak ambil pusing, kutinggal saja mereka tidur disini, sedangkan aku tentu saja tidur dikasur kamarku yang empuk.
Kubuka pintu mobilku asal-asalan, meninggalkan tiga orang yang tak sadarkan diri karena efek alkohol. Kalian pikir aku jahat? Apa kau menyuruhku menggotong mereka bertiga? Gila!
GRAAAB
Belum sempat aku keluar, sebuah tangan memegang tangan kananku, Sakura. Rupanya dia belum tidur.
"Ino-chan mau kemana? Aku ikut." tanyanya seperti anak kecil.
Ya Tuhan! Benar-benar menggemaskan.
"Ka-kamu belum tidur?"
Sakura hanya menggelengkan kepalanya. Aku bingung harus berekspresi seperti apa melihat pemandangan Sakura yang langka didepanku. Dia menggemaskan atau meng-gai-rah-kan? Fuck.
"Ayo, ikut aku. Tidur di rumah saja."
Untuk ukuran orang yang mabuk, sebenarnya dia cukup tenang, bukan lebih tepatnya pendiam. Jika biasanya Sakura seperti seorang hyperactive akut, saat sedang mabuk dia menjadi seorang yang pendiam, lugu, dan tak banyak bicara. Cara berjalannya tidak seperti Lee atau Tenten yang sempoyongan, Sakura berjalan dengan kepala menunduk dan kedua tangannya meremas-remas kemeja yang dipakainya.
Kami akhirnya sampai di depan apartmentku. Aku harus membimbing Sakura agar masuk ke kamarnya dengan benar, dia tadi sempat salah masuk ke kamar Tenten.
"Ini kamarmu yang benar Sakura. Tidurlah."
Sakura diam saja tak menanggapi perkataanku barusan, malahan dia menggandeng tanganku. Dia menarik tanganku agar mengikutinya dikasur, duduk berdampingan. Seketika itu juga, aku menelan ludah.
"Sa-sakura..."
"Ino-chan, terimakasih buat semuanya ya." ucapnya dengan wajah yang menggemaskan.
"Ino-chan memberikanku tempat tinggal, membelikanku makanan, mengantar dan menjemputku sekolah, oh dan satu lagi, Ino-chan membiarkanku nonton televisi. Aku menyayangimu Ino-chan."
Aku kaget mendengar tiga kata yang diucapkan Sakura diakhir kalimat panjangnya. Tangan kirinya berada dipipiku, mengelus lembut dengan ibu jarinya. Matanya memandangku sendu, tapi disana aku merasakan pancaran kebahagian dan ketulusan.
"Apa kamu sadar mengatakan menyayangiku?" tanyaku lirih.
"Tentu saja Ino-chan"
Entah setan atau iblis mana yang merasukiku. Perlahan-lahan kudekatkan wajahku pada wajahnya, kumiringkan kepalaku kekiri. Mata Sakura terpejam perlahan dengan ibu jari yang masih setia mengusap pipiku, dan mataku mulai terpejam. Kurasakan benda kenyal dibibirku, manis. Aku menyukainya, membuat jantungku berdetak sangat kencang, tapi aku menyukainya. Beberapa detik kami bertahan diposisi seperti itu, hanya menempelkan bibir masing-masing.
Aku mulai berinisiatif, kubuka mulutku sedikit, membiarkan bagian bibir bawahnya berada diantaranya, begitupun dengan Sakura. Aku menggerakan bibirku perlahan dan Sakura mengimbangi gerakan bibirku, saling bertukar tempat dan posisi kepala. Tanganku yang tadi diam saja, sekarang berada di punggung Sakura, mengelusnya lembut dan penuh tekanan agar mendekatkan badannya kepadaku. Beberapa menit kami berciuman, bukan tapi menurutku hanya kecupan-kecupan manis yang menyenangkan. Aku menginginkan lebih dari ini.
PLUK
Aku melepaskan ciuman kami, jika tak dihentikan aku takut besok akan terbangun di kamar Sakura dengan keadaan, yaah you know what I mean.
"Sekarang tidurlah Sakura, sudah hampir pagi." kataku sambil membimbingnya berbaring dikasur.
CUUP
Sakura menarik tanganku lalu mengecup pipi kiriku.
"Good night Ino-chan."
Kubenarkan selimut Superman yang menutupi tubuhnya. Sebelum melangkah pergi, kukecup surai merah mudanya. Bau rambutnya membuat otakku berfikir macam-macam. Damn!
Kulangkahkan kakiku perlahan, aku tak ingin membuat Sakura-ku, Ya Tuhan apa yang aku katakan! Maksudku Sakura-saja bangun. Aku langsung berlari dengan cepat menuju kamarku, dan meringkuk di kasur dengan selimut yang menutup keseluruh badanku.
Brengsek brengsek! Kenapa tak mau berhenti! Maksudku menjadi normal, dentuman jatungku masih cepat padahal sudah berada jauh dengan Sakura. Apalagi jika mengingat betapa kenyal dan manisnya bibir tipis itu saat berada dibibirku. Aku berguling-guling dikasur kingsize dengan perasaan senang, bahagia, takut dan khawatir. Ya Tuhan, bagaimana besok aku menghadapinya? Bagaimana bila Sakura bertanya maksud ciuman ini? Ya Tuhan! Semoga besok segalanya berpihak kepadaku.
Ino POV End
Gadis pirang itu berguling-guling dikasurnya dengan wajah tak tenang. Wajah cantik putih Ino masih memerah sejak keluar dari kamar Sakura. Tangannya mengusap-usap bibir miliknya sendiri dengan mata yang berbinar-binar dan wajah bersemu. Namun beberapa detik kemudian, semu diwajah Ino berganti raut wajah ketakutan sambil berkata 'Ino bodoh! Bagaimana besok kau menghadapinya?'
INO'S APARTMENT
Matahari sudah turun dari peraduannya beberapa jam yang lalu. Kendaraan berjejalan di jalan raya dengan padatnya. Wajar saja, jam sudah menunjukan pukul 11 pagi, menjelang siang. Gadis manis berambut pink pendek baru bangun dari tempat tidurnya dengan mata yang setengah terpejam. Duduk dikasurnya dengan tangan yang memijit keningnya yang lebar, meringankan agar pusing dikepalanya segera hilang.
"Brengsek." umpat Sakura entah untuk siapa.
Sakura turun dari kasurnya dan berjalan keluar kamar dengan sempoyongan. Tangan kirinya yang tak luka berpegangan didinding agar tak sampai terjatuh. Berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas susu yang berada dikulkas. Agar efek minuman yang tadi malam diminumnya berkurang.
Sakura POV
Pusing masih setia dikepalaku, tapi tidak sepusing saat bangung tidur pagi tadi. Sudah mulai berkurang setelah meminum susu putih milik Ino. Jika Ino tahu, pasti dia akan marah-marah kepadaku karena berani-beraninya meminum susunya. Dasar gadis pelit! Tapi ngomong-ngomong dimana dia? Dan Lee, Tenten? Rumah ini terasa sepi tak seperti biasanya. Kubuka satu persatu pintu kamar mereka bertiga, kosong, kemana mereka pergi? Bukankah Tenten bilang jadwal Ino dua minggu kedepan kosong?
TIIINGTONGTIINGTONG
Bel apartmen berbunyi, mereka bertiga sudah pulang rupanya. Tunggu dulu, untuk apa mereka membunyikan bel? Bukankah mereka sudah tahu kode keamanan rumah ini? Berarti orang lain. Aku berlari menuju pintu depan, sebelum membuka pintu kebersihkan mata dan mulutku, memastikan agar tak ada kotoran disana. Kubuka pintu putih elegan itu dengan senyum untuk menyambut tamu yang datang. Mataku nyaris copot melihat seseorang yang ada di depanku saat ini. Seorang pria, bertubuh lebih tinggi dari pada aku, berkulit putih, berwajah tampan tapi imut, bermata hazel yang tenang, rambut merah darah, Sasori!
"Oh God, Sasori! Kapan kamu datang?" ucapku histeris
Aku melompat kearahnya, meraih lehernya, memeluknya dengan erat.
"Wow cupcake, sepertinya kamu sangat merindukanku." ucapnya lirih, membalas pelukanku.
"Tentu saja! Aku sangat merindukanmu Sasori!" aku berteriak riang sambil mengeratkan pelukanku dibadannya.
"Brengsek! A-apa yang kalian lakukan? Menjijikan!" teriak seseorang dengan kencangnya kearah kami.
Uuh. Nada bicaranya benar-benar mengerikan.
"I-ino, kemana saja kamu?" ucapku sambil melepas pelukan dengan Sasori.
Kulihat Ino membawa kantong plastik yang dari simbolnya adalah tempat makan di sekitar daerah sini. Wajahnya merah, menahan marah. Matanya menatap tajam kearahku, sagat tajam sampai aku tak berani melihatnya. Nafasnya pendek tak beraturan. Sepertinya dia sedang marah besar, tapi karena apa aku tak mengerti.
"I-Ino, ke-kenalkan dia temanku. Sa-sasori."
Ino hanya diam saja tak menanggapi perkataanku barusan. Tetapi dia maju mendekat padaku dan Sasori.
"Dia sudah tahu siapa diriku bodoh!" ucap Ino kasar tepat di depanku.
Ino masuk ke rumah tanpa basa-basi, melewatiku dan Sasori begitu saja. Kenapa dia begitu marahnya kepadaku? Apa tadi malam saat mabuk aku berbuat salah kepadanya? Brengseek! Apa yang aku lakukan? Aku lupa segalanya saat mabuk. Nanti akan kucoba bertanya dengannya, dan meminta maaf tentu saja. Melihatnya marah seperti tadi membuatku merasa takut, dia benar-benar mengerikan saat sedang marah.
"Apa kita perlu bicara diluar saja?" kata Sasori menyadarkanku dari lamunan.
Sakura POV End
Sakura dan Sasori berbincang-bincang dengan senangnya di ruang tengah yang minimais itu. Saling bercerita dan berbagi pengalaman satu sama lain. Melampiaskan kerinduan karena beberapa minggu tak jumpa. Tawa kerap sekali hadir diantara mereka, memberikan aura positif di apartment yang sedang beraura mencekam itu. Tanpa mempedulikan gadis berambut pirang dengan mata aquamarinenya yang sedang ngamuk di kamar seorang diri.
TBC
