Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. saya hanya pinjam.

.

.

Fight

.

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

.

Fight by author03

Uzumaki Naruto x Hinata Hyuga.

Romance\Drama

.

.

.

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 7

.

.

.

.

Teriakan Hinata yang berhasil merebut perhatian Naruto.

Naruto yang hanya menatap bingung Hinata yang berlari kearahnya? Mengapa Hinata berlari kearahnya dengan badan basah kuyup begitu? dan seolah marah? Naruto bersumpah. Ia tak melakukan apapun sedari tadi.

.

!

Peenngg!

"Kyaahh!" Pekik Hinata terkejut ketika kakinya yang terbalut sepatu hitam entah tersandung apa yang membuatnya terjatuh hingga kepalanya terbentur tiang besar keranjang basket yang akhirnya membuatnya terbaring tak sadarkan diri ditengah-tengah lapangan basket.

...

Naruto yang memiringkan kepalanya sambil terus mengamati Hinata yang tadi terteriak, marah, lari, membenturkan kepalanya ketiang keranjang basket dan kini tertidur di lantai? Apaan sii?

"Naruto, ini roti untukmu." ucap Shion ketika ia menghampiri Naruto dan menyodorkan dua buah roti ke arah Naruto yang membuat Naruto menatapnya sejenak dan kembali menatap Hinata.

Lari? membenturkan kepala? Tidur?

Haaa! Hinata pingsan!

"Na-naruto?" panggil Shion ketika Naruto berlari melewatinya..

"Sialan.. Tadi dia meneriaki namaku. Pasti aku yang akan disalahkan." Pikir Naruto panik sambil berlari menghampiri Hinata yang tergeletak disana dan mulai di hampiri seorang lelaki.

"Minggir!" usir Naruto sambil mendorong lelaki penghalang jalannya yang kemudian langsung mengendong Hinata ala bridel style.

"Sasuke? Apa kau baik-baik saja?" tanya Shion khawatir ketika ia menghampiri Sasuke yang baru saja didorong Naruto.

"Tan-tanganmu berdarah. Aku akan membawamu ke uks." ucap Shion panik pada lengan Sasuke yang berdarah karena tergesek lantai lapangan barusan.

"Tidak, aku baik-baik saja." tolak Sasuke halus yang kemudian beranjak dari tempatnya. Apa Hinata baik-baik saja? Tadi kepalanya terbentur tiang, menghasilkan suara yang sangat kuat.. Pasti rasanya sakit.

"Ayo, aku akan mengobatimu di UKS."

.

.

.

.

.

.

"Sial sial sial." panik Naruto yang terus berlari, menuju uks di lantai dua. Menabrak siapa saja yang menghalang jalannya. Sangking panik nya ia disalahkan, hingga ia tak menyadari kaki dan tangan Hinata yang terus saja terhuyung dan menabrak dinding dan badan manusia di sana sini. Jika saja Hinata tak pingsan, pasti tangan dan kakinya terasanya sangat sakit.

.

.

UKS

Naruto yang langsung membaringkan Hinata ke salah satu ranjang putih di UKS dan melangkah ke setiap lemari. Mencari apa saja untuk bisa mengobati Hinata.

Prang. Biang.. Bamm..

Tanpa menghiraukan barang yang ia bongkar berjatuhan dan berserakan dilantai. Naruto terus saja mengobrak-abrik setiap lemari tapi akhirnya berhenti?

"Kepala Hinata kan terbentur tiang. Jadi harusnya aku memberinya salep untuk kepalanya dan sekarang apa yang aku cari?" pikir Naruto tak mengerti, mengapa ia mengobrak-abrik isi lemari UKS? Padahalkan yang ia perlukan hanya salep yang terlihat jelas di meja kecil disebelah ranjang yang Hinata tempati.

Tanpa merasa bersalah dengan barang yang baru saja ia abrik, Naruto langsung mendudukan dirinya dipinggir ranjang Hinata dan mengambil obat salep dimeja didekat ranjang.

"Dia kan pingsan, jadi mana yang sakit?" pikir Naruto bingung setelah menatap wajah Hinata yang tak sadarkan diri selama dua menit.

...

"Dia berlari dan kejedot." pikir Naruto sambil menirukan adengan kejedot tiang tadi.

"Peeng.." Tangannya yang menyentuh samping kepalanya yang artinya, bagian samping kepala Hinata yang terbentur.

.

Naruto kembali mendudukan dirinya ke pinggir ranjang Hinata dan sedikit membuat wajah Hinata menghadap ke kiri.

Perlahan-lahan, Naruto mengolesi obat salep ke kepala Hinata yang terasa bengkak ketika di sentuh, sedikit memijitnya dengan gerakan memutar.

"Uu.. Ini pasti sangat sakit..." Naruto membatin ngeri..

Clik..

"Maaf merepotkan" ucap Sasuke Ketika Shion terus terus memaksanya ke UKS.

Naruto yang menatap tak perduli Shion dan Sasuke yang baru saja memasuki UKS yang kemudian kembali menatap Hinata yang tak sadarkan diri.

.

Shion dan Sasuke hanya bisa terbengong-bengong dengan barang-barang yang berserakan di lantai. Ini pasti kerjaan Naruto tapi ya sudahlah. Siapa yang berani memarahinya?

"Duduklah, aku akan mencari obatnya." Ucap Shion sambil membantu Sasuke duduk di ranjang disebelah Hinata.

"Cih! Dasar lemah." ejek Naruto tak suka. Lebay sekali. Cuma luka secuil(bagi Naruto) itu.

"Apakah Hinata baik-baik saja?" tanya Sasuke yang seratus persen di abaikan Naruto.

"Na-naruto, ini sampai berdarah dan banyak goresan. tentu saja akan sakit." ucap Shion ketika ia mendudukan dirinya di samping Sasuke dengan sekotak obat ditangannya.

"Bla bla bla." jawab Naruto tak perduli. Dasar cerewet.

Naruto terduduk dikursi didekat ranjang Hinata sambil sesekali mencuri pandang pada Shion yang tengah mengobati luka Sasuke.

iisshh! Naruto sungguh tak suka pada Sasuke. Sudah miskin, pencari perhatian pula. Mengelikan!

.

"Sudah."

"Terima kasih Shion." jawab Sasuke sambil menurunkan kembali tangannya yang sudah dibersihkan dan diberi obat merah oleh Shion.

"Tak apa-apa." ucap Shion dengan senyum tulusnya.

!

"Naruto?! Mengapa Hinata disini?" tanya Shion khawatir sambil menghampiri Hinata yang terbaring tak sadarkan diri.

"Kau terduduk disana dan tak melihatnya disini?" tanya Naruto sinis. Sungguh Shion sebuta itu?

"Ma-maafkan aku, aku tak lihat." jawab Shion merasa bersalah.

"Terserah, dia pingsan setelah berencana bunuh diri dengan menjedotkan kepalanya ke tiang." ucap Naruto sinis dan dramatis yang membuat Shion dan Sesuke menatapnya entah lucu atau aneh.

...

"Na-naruto, jika kau mau pergi, kau boleh pergi. Aku akan menjaganya." ucap Shion pelan yang membuat Naruto menatapnya.

"Tidak, jika ia sadar nanti. Ia akan mengatakan pada semua orang bahwa aku mencoba membunuhnya dan itu akan mendatangkan banyak masalah untukku. Jadi jawabannya tidak." tolak Naruto yang membuat Sasuke dan Shion terdiam. Naruto berlebihan sekali...

"Di-di"

"Sssstt.. Sebaiknya kalian pergi keluar, karena pelajaran akan dimulai sebentar lagi dan aku akan tidur disini. Silahkan keluar." sela Naruto sambil menghampiri Shion dan Sasuke yang kemudian menyeret mereka keluar.

"Ta-tapi Hinata harus dijaga." ucap Shion khawatir, ia yang telah berdiri didepan pintu UKS begitu juga dengan Sasuke.

"Dia tak akan mati tanpa dijaga dan jangan bilang pada siapapun Hinata pingsan disini dan juga jangan mengatakan aku ada disini. Aku tak ingin ada yang salah paham." ucap Naruto tak peduli. Shion sangat bising, keperduliaannya sangat berlebihan.

"Ta-tap"

"Jika ada yang masuk kesini dan salah paham. Itu salah kalian berdua, nah sekarang silahkan pergi."

Blaaamm.. Pintu UKS yang langsung tertutup.

...

"Biarkan saja, dia sudah bilang begitu.." ucap Sasuke pasrah yang langsung melangkah pergi. Ia akan kembali lagi setelah Hinata sadar, karena rasanya Naruto tak akan pernah mengizinkan mereka masuk lagi.

"Sa-sasuke?" panggil Shion yang langsung mengejar Sasuke yang telah melangkah pergi.

.

.

.

Naruto yang kembali mendudukan dirinya ke kursi didekat ranjang Hinata.

"Hinata cepatlah bangun, aku tak ingin ada yang salah paham dan menuduhku membuatmu pingsan." pinta Naruto frsutasi. Hinata sungguh akan membuatnya dalam masalah.

"Lain kali kalau kau mau mati jangan sebut namaku, semua orang akan salah paham dan menuduhku." sambungnya tak suka sambil terus menatap mata Hinata yang masih belum terbuka.

...

?

"Aku baru ingat bajunya basah." ucap Naruto teringat kembali soal Hinata yang bawah kuyup.

"Biarkan saja. Orang ini tidak lemah, tak mungkin mati hanya dengan pakaian basah kan?" tebak Naruto yakin. Tak mungkinlah Hinata selemah itu? Kejedot besi aja dia masih hidup, masa bajunya basah saja bisa sakit?

.

.

.

Satu jam kemudian dan Hinata masih tak sadarkan diri..

"Dia masih hidup kan?" pikir Naruto mulai khawatir. Hinata tak bergerak sedari tadi. Bagaimana jika Hinata mati dan terus menghantui nya.

Satu jari telunjuk Naruto yang mendekat ke bawah hidung Hinata.

"Masih bernafas, jadi ia tak mati." ucap Naruto lega. Ia bisa jadi tersangka jika Hinata kenapa-napa. Hinata sungguh sialan.

.

.

.

.

Satu setengah jam kemudian..

..

?

"Nnnggh?" wajah Hinata yang mulai berkerut begitu dengan matanya yang perlahan terbuka. Matanya terasa berat, kepalanya terasa sangat berdenyut dan sakit, dan mengapa tangan dan kakinya terasa sakit seolah habis terbentur?

.

Butuh beberapa menit agar mata Hinata bisa melihat sedikit lebih jelas dan ia melihat Naruto terduduk dibangku didekatnya dengan kepala nya yang bersandar diranjang. Dia tidur?

"Na-naruto?" panggil Hinata pelan. Kepalanya sungguh terasa berdenyut, matanya bahkan tak bisa terbuka dengan sempurna.

"Hinata?" panggil Naruto terkejut sambil mengangkat kepalanya. Hinata sudah bangun?

"Hinata kau tak apa-apa kan? Jika kau mau mati jangan sebut namaku, aku yang akan jadi tersangka nantinya." ucap Naruto cepat yang langsung membuat kepala Hinata semakin berdenyut. Suara Naruto sungguh memekakkan.

"Apa yang terjadi..?" tanya Hinata memastikan. Mengapa ia bisa terbaring disini dan mengapa lantai dipenuhi benda-benda berserakan?

"Kau berlari dan terjatuh dan pingsan. Untung saja aku cepat kemari dan menolongmu." jawab Naruto apa adanya yang membuat Hinata teringat mengapa tadi ia berlari yang akhirnya terjatuh.

"Tadi nya aku ingin mencekikmu karena telah berani mengerjaiku ditoilet tapi karena kau sudah menolongku. Aku akan menganggapnya impas." ucap Hianta dengan susah payah, kepalanya terasa sungguh sangat sakit ketika dirinya berbicara.

"He? Hinata, aku tak melakukan apapun hari ini. Kau tak bisa seenaknya saja menuduhku." protes Naruto yang terima yang membuat Hinata menatapnya sejenak. Sungguh?

"Naruto, pelankan suaramu, kepalaku terasa sangat sakit." pinta Hinata pelan.

"lupakan saja hal itu." sambung Hinata. Lebih baik lagi melupakan hal itu, Ia yang ingin menghajar orang malah terjatuh dan pingsan. Sungguh memalukan.

"Sebaiknya aku pulang saja, bisakah kau memanggil Shion kesini?" pinta Hinata berharap. Ia tak mungkin pulang kerumahnya dengan keadaan begini, jadi sebaiknya ia pergi ke rumah Shion untuk sementara.

"Aku akan mengantarmu." jawab Naruto cepat. Shion yang lemah itu mana bisa menjaga Hinata yang tengah lemah saat ini? Bisa-bisa mereka diculik preman dijalanan.

"Tidak, aku tak tahu kesialan apa lagi yang akan terjadi jika terus didekatmu dan aku tak bisa pulang kerumahku sekarang. Aku akan pergi ke rumah Shion." ucap Hinata pelan. Ia sungguh sudah cukup memakan kesialan sehari-hari. cukup sudah.

"Aku tak perduli, sebagai lelaki aku harus bertanggung jawab menjagamu meskipun kau begini karena kesalahanmu sendiri." jawab Naruto tegas tapi sayang, ketegasan nya saat ini hanya semakin membuat kepala Hinata berdenyut.

"Tidak mau.." tolak Hinata lagi. Bisakah Naruto pelankan suaranya? Kepalanya sungguh sangat sakit mendengar suara keras Naruto itu.

"Aku tak perduli." jawab Naruto lagi yang langsung mengendong Hinata ala bridel sytle.

"Turunkan.. Turunkan." Hinata yang terus berusaha turun dari gendongan Naruto tapi Naruto sama sekali tak memperdulikannya sambil terus melangkah pergi, menjauh dari UKS.

"Naruto, aku sungguh tak bisa marah saat ini. Bisakah kau turunkan aku?" pinta Hinata dengan suara rendah. Mengapa ia bisa sesial ini? Mengapa juga harus kepalanya yang terbentur? Ia jadi tak bisa melawan sama sekali. Berbicara saja susah apalagi melawan?

"Ini salahmu. Siapa suruh kau menyebut namaku ketika kau terbentur? Aku tak ingin orang lain mengira aku yang menyebabkanmu begini." jawab Naruto lagi yang membuat Hinata terdiam sejenak. Sepertinya Naruto sungguh tidak mengerjai nya di toilet, jadi jika bukan Naruto? siapa?

...

"Maafkan aku, maaf merepotkanmu dan menuduhmu..." ucap Hinata lembut dan mengalah sambil mempeerat lingkaran tangannya di leher Naruto dan menyandarkan samping kepalanya ke pundak Naruto. Ia sungguh tak suka terlihat lemah begini tapi ia sungguh tak punya pilihan. Kepalanya yang terus berdenyut membuatnya tak punya pilihan selain diam.

Naruto yang melirik sejenak mata Hinata yang telah terpejam. Ternyata gadis ini tahu caranya minta maaf yang baik?

Sebuah senyuman lucu yang tiba-tiba menghiasi bibir Naruto. Tidak buruk. Tapi siapa yang mengerjai Hinata di toilet? Pertanyaan yang menjanggal di otak Naruto. Apakah Hinata punya musuh disini? Tapi sepertinya tak mungkin, Hinata tak pernah bergaul dengan siapapun Selain Shion dan Sasuke jadi rasanya tak mungkin jika ada yang membencinya tanpa alasan?

.

!

.

.

"Hei, tadi aku melihat Naruto mengendong Hinata." bisik seorang gadis yang baru saja kembali dari toilet dan mendudukan dirinya di bangku ke dua bagian kiri.

"Sungguh?" tanya beberapa gadis yang mendengar suara bisikan itu.

"Iya, Naruto entah membawanya kemana, aku melihat mereka keluar dari UKS." jawabnya jujur yang membuat beberapa pendengar mendengarnya tak percaya.

"Ternyata gadis itu masih belum kapok. Kita harus memberinya pelajaran lagi."

...

Seorang gadis bersurai pirang yang masih terdiam sambil terus mencuri dengar dari sekumpulan gadis yang terduduk tak jauh darinya. Naruto membawa Hinata pergi? Kemana?

.

.

.

.

Naruto yang baru saja membaringkan Hinata ke ranjang king size dirumahnya dan menyelimuti nya. Mengapa Hinata mengatakan ia tak bisa pulang kerumahnya? Mungkinkah ini ada kaitannya dengan kakaknya?

"Hinata, apakah kau perlu sesuatu?" tanya Naruto pada Hinata yang baru saja membuka matanya. Hinata sungguh merasa tak enak telah menyusahkan Naruto.

"Tidak, terima kasih." jawab Hinata pelan.

"Tapi Hinata, ada yang membuatku penasaran. Mengapa kau mengatakan kau tak bisa pulang ke rumahmu?" tanya Naruto penasaran.

...

"Aku terus kabur dari kakakku selama dua hari ini, jadi aku tak ingin dia melihatku dalam keadaan begini dan menceramahiku berjam-jam." jawab Hinata jujur.

"Oo.." Naruto berOria.

"Oh.. Kalau begitu aku akan memasakanmu bubur kacang hijau. Kau pasti belum pernah makan masakanku kan?" tanya Naruto senang dengan senyum lima jarinya. Ia akan membiarkan Hinata tahu kehebatan memasaknya. Hohoho..

"Aku sangat ragu bubur itu bisa dimakan." jawab Hinata ragu yang membuat Naruto menatapnya tak suka. Hinata meremehkannya.

"Cih! Kau tunggu saja disini, aku akan segera kembali." ucap Naruto yang langsung melangkah pergi. Ia akan menunjukkan kehebatannya memasak dan membuat Hianta menarik kembali kata-katanya tadi. Huh!

...

Sebuah senyuman yang langsung menghiasi bibir Hinata ketika Naruto menghilang dari matanya. Naruto lumayan lucu dan perhatian untuk seorang preman sekolahan.

.

.

Beberapa menit berlalu dan Naruto pun kembali dengan semangkuk bubur kacang hijau dan segelas air putih.

Ia membantu Hinata duduk, bersandar ditiang ranjang dan mengambil kembali semangkuk bubur kacang hijau yang ia letakkan di meja disebelah ranjang barusan.

"Naruto, aku bertanya-tanya. Apa yang terjadi saat aku pingsan? Mengapa kakiku terasa sakit dan tanganku membiru?" tanya Hinata aneh sambil menunjukan punggung tangannya yang membiru seolah terbentur sesuatu.

"Aaa?" Naruto terdiam sejenak. Apa jangan-jangan tangan dan kaki Hinata terbentur dinding saat ia membawa Hinata ke UKS.

"Aa.. Itu, entahlah.. Mungkin terbentur tiang." jawab Naruto yang membuat Hinaya menatap aneh tangannya yang membiru. Sungguh?

"Aa.. Abaikan itu, ini cobalah." ucap Naruto mengalihkan perhatian Hinata sambil menyodorkan sesendok bubur kacang hijau ke arah Hinata.

"Aku bisa makan sendiri." ucap Hinata sambil menyodorkan tangannya ke arah mangkuk ditangan Naruto tapi dengan cepat Naruto memundurkan tangannya.

"Tidak, aku tak ingin kau tiba-tiba pingsan dan menumpahkan masakanku yang ku buat dengan susah payah." tolak Naruto yang membuat Hinata tersenyum lucu. Naruto berlebihan sekali..

"Baiklah.." jawab Hinata mengalah yang kemudian melahap pelan sesendok bubur kacang hijau yang Naruto sodorkan.

"Enak?" tanya Naruto berharap dengan mata berbinarnya yang cukup membuat Hinata menahan senyuman lucunya.

"Karena gratis, jadi enak." jawab Hinata lucu yang membuat Naruto melototinya tak suka. Jawaban macam apa itu?

.

.

.

"Aku berhutang budi padamu." ucap Hinata ketika ia selesai mengabiskan bubur kacang hijau yang Naruto suap.

"Tak perlu, aku tak perhitungan sepertimu." jawab Naruto apa adanya.

"Tentu saja harus." ucap Hinata yakin. Ia tak mau berhutang pada siapapun, apalagi orang ini.

"Sini kepalamu, aku akan memberinya obat lagi." sela Naruto yang langsung membuat Hinata mencondongkan kepalanya ke arah tangan Naruto yang terangkat.

...

"Sakit?" tanya Naruto dengan tangannya yang terus memijit pelan kepala Hinata yang masih bengkak dengan gerakan memutar.

"Sudah lebih baik."jawab Hinata jujur ketika matanya dan mata Naruto bertemu dalam jarak 8 cm.

Deg!

Naruto dan Hinata yang langsung terdiam begitu juga dengan tangan Naruto dikepala Hinata. Tatapan mereka yang terkunci, jantung mereka yang terus berdebar kencang.

Deg deg..

...

"Kau bilang, kau ingin membalas budi kan?" tanya Naruto yang langsung dibalas anggukan oleh Hinata.

"Kalau begitu puji aku. Aku akan menganggapnya lunas." ucap Naruto dengan mata nya yang masih belum berpaling sedikitpun dari mata Hinata.

"Pujian jujur atau bohong?" Tanya Hinata tanpa sadar. Matanya yang terfokus seratus persen pada mata biru langit indah Naruto, seolah terhipnotis.

"Jujur?" jawab Naruto tanpa sadar. Bibir lembab Hinata sangat menggodanya, wajah cantik Hinata sungguh membuat Naruto ingin memeluknya. Tatapan itu terus membuat mata Naruto tak bisa berpaling darinya.

...

"Kau bodoh dan aku benci padamu." jawab Hinata jujur yang membuat Naruto tersenyum lucu. Gadis ini sungguh mengejeknya.

"Kau sungguh membenciku?" tanya Naruto sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata yang membuat jarak wajah mereka bersisi 5cm.

"Setahuku tak ada seorang perempuan pun yang bisa membenci lelaki tampan." sambungnya dengan senyum bangganya yang kemudian kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata.

...

?

Mengapa Hinata tak bisa bergerak? Hinata ingin keluar dari situasi ini tapi mengapa? Mengapa badannya seolah terkunci ratusan gembok yang membuatnya sama sekali tak bisa bergerak?

..

"Bagaimana kalau aku bilang aku jatuh cinta padamu?" tanya Naruto yang semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata dengan jarak bibir mereka yang kini hanya tersisa satu cm.

"Sayangnya aku membencimu" ucap Hinata jujur yang berhasil menghentikan pergerakan wajah Naruto.

...

"Maafkan aku, tapi aku merasa sudah baikan jadi aku akan pulang." ucap Hinata datar yang langsung menjauh dari Naruto dan melangkah pergi.

...

Naruto yang hanya terdiam, ia hanya berencana mengerjai Hinata, Melihat bagaimana reaksi Hinata tapi mengapa jawaban Hinata membuat sesuatu didalam dadanya terasa aneh? Mengapa ia seolah tak terima dengan jawaban Hinata? apa yang terjadi? Apa yang ia rasakan kini? Ia sungguh tak mengerti.

.

.

.

Hinata yang terus saja melangkah pergi, menjauh dari rumah Naruto, membiarkan kakinya membawanya pergi meskipun ia tak mengenal tempat ini. Mengapa? Setelah mengatakan hal itu dadanya terasa aneh? Mengapa rasanya ia baru saja menyakiti hati Naruto? Tidak! Bukan hati Naruto tapi hatinya.

Kata-kata itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Hinata. Hinata tak suka, ia benci, ia benci pada seseorang yang bermain dengan kata cinta. Tidak, Hinata benci karena ia tahu Naruto hanya bercanda. Tapi mengapa? Mengapa ia kesal jika Naruto bercanda soal itu?

Hinata tak mengerti. Mengapa perasaannya terasa sangat aneh?

.

.

.

.

Setelah dua jam, Hinata pun tiba dirumahnya dengan taksi.

Ternyata oh ternyata kakak tercintanya telah berdiri didepan pintu masuk yang membuat Hinata mau tak mau harus berhadapan dengannya.

"Akhirnya kau menampakkan dirimu, tikus kecil." ucapnya datar yang berhasil membuat Hinata berdidik ngeri.

?

Hinata melirik ke belakang kakaknya, atau lebih tepatnya ke pintu rumah yang tak tertutup, ia melihat Hanabi yang tengah memberi isyarat padanya seolah mengatakan pingsan?

?

...

Oh..

Hinata mengerti.

"Aduh, kepalaku sakit sekali?" ucap Hinata dengan kakinya yang melangkah dengan linglung yang akhirnya terbaring dilantai tak sadarkan diri.

"Jangan bercanda. Bangun sekarang Hinata Hyuuga." ucap Neji dengan nada mengancam tapi Hinata masih tak bergerak dari posisinya.

"Hinata-nee!" panggil Hanabi terkejut sambil bersimpuh didekat kakaknya yang pingsan tak sadarkan diri.

"Neji-niisan, beberapa hari ini Hinata sakit. Karena itu lah ia tak mau bertemu dengan niisan. Ia tak mau niisan khawatir." jelas Hanabi dengan raut wajah jujur, seolah ia baru saja mengungkapkan sebuah rahasia benar.

"Mengapa kau tak mengatakan nya padaku?" tanya Neji khawatir yang kemudian langsung mengendong Hinata ala bridel sytle ke kamar Hinata.

.

.

.

"Hinata sakit apa? Apa kau sudah menghubungi dokter?" tanya Neji khawatir setelah ia membaringkan Hinata ke ranjang king size dikamar Hinata.

"Dia dia.." aduh, sakit apa? Tak mungkin Hanabi melebihkan soal sakit. Tapi tak mungkin juga ia bilang Hinata hanya pilek ataupun demam kan?

"Hinata-nee, aa.. Sakit. Dia dia badannya bengkak bengkak berwarna merah tapi sekarang aku lihat sudah tak ada. Itu artinya ia sudah sembuh. Mungkin, oh iya. Itu alasannya ia pulang. Ia sudah sembuh. Haha" jawab Hanabi bahagia yang membuat Neji menatapnya curiga. Apa Hanabi tengah membodohinya?

"Neji-niisan kan tahu, Hinata-nee tak mungkin mau berbicara dengan neji-niisan disaat tubuhnya merah-merah dan jelek." sambung Hanabi yang rasanya mulai menyakinkan Neji.

...

"Dasar Hinata." dengus Neji. Adiknya ini suka sekali gengsian didepannya.

"Kalau begitu kau disini dan tunggu dia sadar, aku akan pergi ke kantor lagi." ucap Neji yang dibalas angukkan cepat oleh Hanabi. Neji telah meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menunggu kepulangan adik tercintanya yang terus menyelinap seperti tikus got selama dua hari. Dan dia malah pingsan.

Clik..

Hinata yang langsung membuka matanya ketika ia merasa pintu kamarnya telah ditutup oleh kakaknya.

"Hanabi ku sayang, kau memang adikku terpandai." Ucap Hinata senang sambil memeluk erat adiknya. Adiknya baru saja menyelamatkan nyawanya.

"Hmm.. Nee, kapan aku akan membawaku berbelanja?" ucap Hanabi cemberut ketika Hinata melepaskan pelukannya.

"Hari minggu, tiga hari sebelum kau berangkat, bagaimana?" tanya Hinata.

"Baiklah.." jawab Hanabi semangat. Yuhu.. Ia akan mendapat banyak makanan dan shopinggg.. Ia bahkan jarang keluar karena tak ada yang mau membawanya belanja. Hanya kakak Hinata tercinta lah yang mau membawanya shoping.. Hanabi sungguh sayang pada kakaknya ini. Hiks..

"Jangan salah kan aku karena menghabiskan uangmu, salahkan ayah karena tak membiarkanku memegang kartu atm ku dan tak mengizinkanku keluar." ucap Hanabi yang tiba-tiba cemberut. Dimana pun ia berada, ia sangat jarang keluar dari rumahnya. Hanya sekolah, les dan sesekali ke mall, itupun ditemani ibu atau ayahnya yang membuatnya tak bisa bebas. Berbeda dengan kakak tercintanya ini.

"Tentu saja, kau masih kecil." jawab Hinata lucu dengan satu telapak tangannya yang menempel di pucuk kepala Hanabi.

"Itulah sebabnya mengapa kakakmu disini." sambung Hinata dengan senyuman tiga jarinya. Asal tahu saja, ini bukan pertama kalinya Hanabi akan menghabiskan uang nya. Tapi tak apa, selama adiknya senang, Hinata juga senang.

.

.

Neji menghentikan langkah kakinya di depan pintu rumah yang baru ia tutup.

Tunggu?

Badannya bengkak apa hubungannya dengan pingsan?

.

.

.

.

.

.

07.34

Satu minggu berlalu, tak ada yang spesial selama ini. Tapi rasanya sangat cangung dan menyedihkan. Satu minggu, Naruto mengabaikan Hinata, bertingkah seolah tak melihatnya. Hinata hanya merasa tak biasa. Dimana Naruto yang selalu annoying tiba-tiba menjadi seorang pendiam? Apakah Hinata melakukan kesalahan yang membuat Naruto menjadi pendiam? Atau lebih tepatnya menjadi dingin. Naruto lebih terlihat menjadi dingin daripada pendiam dan Hinata baru tahu? Sejak kapan Shion sedekat itu dengan Naruto hingga mereka tertawa bersama-sama?

"Apakah aku terlalu kerterlaluan dengan mengatakan aku membencinya? Padahal kan dia hanya bercanda waktu itu..."

"Hinata, kau melamun."

.

.

.

.

Naruto yang terduduk dipinggir lapangan bersama Shion tapi matanya yang terfokus pada seorang gadis dikantin yang tengah terduduk dengan seorang lelaki.

Ia tak tahu mengapa, seminggu ini ia berjaga jarak dari Hinata. Ia takut, ia bahkan tak tahu mengapa ia takut. Seharusnya ia tak bercanda soal cinta kemarin. Bukan hanya Hinata, semua perempuan pun akan marah jika dibercandain begitu kan? Aaargg.. Gara-gara ini ia menjadi sangat pendiam, ia bahkan tak mengerjai siapapun selama seminggu ini. Rasanya sangat aneh.

"Mungkin aku harus minta maaf padanya..?"

.

.

.

.

.

"Silahkan ambil nomor yang diacak disini dan pergi ke kelas dimana kalian akan mengejar." jelas sang guru. Kelas Hinata baru saja di beri tugas praktek, menjadi guru di kelas anak-anak sd. Satu kelas akan terdiri dari empat guru yang mengajar masing-masing murid yang terdiri dari lima atau enam orang.

Prakteknya cukup gampang, cukup mengajarkan ilmu pengetahuan termaksud tata karma selama satu minggu, nilai akan dinilai dari murid yang di ajar. Dan ini adalah kerja individu bukan kelompok dan ...

.

.

Disinilah Hinata, Naruto, Sasuke dan Shion kini. Dikelas 3-1.

Berdiri didepan kelas, didepan barisan bangku murid masing-masing.

Sasuke yang mendapat murid bagian pertama dari dalam, bagian kedua yang diambil oleh Naruto, ketiga Hinata dan keempat Shion tapi mengapa?

Mengapa kelas ini?

"Haaaa! Pecundang! Dua orang bodoh berwujud jelek! Untuk apa disini?!" bocah sialan yang baru saja berdiri dan memukul meja didepannya.

Ucapan yang lebih dari berhasil membuat dahi Naruto dan Hinata berkerut.

"Bocah sialan, kemari kau! Kita satu lawan satu"

.

.

.

.

.

To be continue..

.

.

.

.

Loohaaa.. Maaf kalau ga bagus.. Moga suka..

Oh sedikit pemberitahuan. Karena aauthor udh kepikiran fic baru lagi, author akan usahain up kilat fic ini.. Hanya sedikit pemberitahuan agar para reader ga ketinggalan ceritanya..

Bye.. Bye..