Hanabi tidak bisa menahan berbagai caci maki yang keluar dari mulutnya saat menunggu unduhan video yang ia tonton via internet. Kenapa sih pakai loading lama? Padahal kan kuota nya masih banyak. Kenapa juga harus saat ini lemotnya? Dia kan penasaran mau lihat video apa yang diberikan Kiba untuknya.
Sambil menunggu load video nya penuh, Hanabi beranjak ke tempat tidurnya lalu meraih handphone miliknya. Apalagi kalau bukan menghubungi si tersangka.
"Kau kasih link video apaan sih?"
Kiba menjawab dengan malas. "Sudah ditonton belum?"
"Belum sih. Sebentar lagi mungkin baru ku tonton." Jawab Hanabi setengah bohong. Tidak mungkin kan dia bilang belum bisa nonton karena koneksi internet di kediaman Hyuuga lemot. Ini Hyuuga loh, Hyuuga.
"Yasudah tonton saja dulu sana."
"Memangnya video apaan sih?" Hanabi benar-benar penasaran. Awas saja kalau video 17 tahun keatas, teriak nya dalam hati.
"Tonton saja."
"Kasih tau dulu baru aku tonton!"
"Lihat dulu apa susahnya coba."
"Kasih tau dulu apa susahnya coba."
"Cerewet sekali…."
"Pelit!" maki Hanabi lalu mematikan sambungan teleponnya.
Saat mata pucatnya melirik ke layar komputer, rupanya loading video sudah selesai. Segera Hanabi menyalakan video tersebut.
Dalam beberapa menit dia terdiam. Matanya tak sedikitpun terpaling dari layar. Oke… rupanya ini adalah video tantangan dari Kiba. Tapi apa masalahnya. Ada satu. Ya.. hanya ada satu. Entah kenapa Hanabi suka dengan adegan di video ini.
Konyol memang seorang Hanabi mengakui kekalahannya. Tapi mau bagaimana lagi? Entah kenapa Hanabi jadi ingin ikutan mengintip bareng Kiba atau duduk di tepat di depan meja mereka agar dapat melihat adegan itu lebih dekat.
Sebenarnya yang mereka lakukan tidak banyak. Mengobrol pun sesekali. Tapi perasaan ini. Hanabi yang hanya melihat dari video saja jadi ikut berdebar-debar.
"Mereka memang pasangan yang manis.." gumam Hanabi.
Namun segera ia gelengkan kepalanya. Tidak! Ya.. tidak boleh setuju sama Kiba! Kalau setuju berarti membiarkan diri sendiri untuk dijadikan budak si maniak anjing itu. Gak kebayang tiba-tiba Hanabi jadi tukang bersihin kandang Akamaru. Hanabi jadi merinding sendiri.
"Lihat saja, besok adalah hari kemenanganku!" ucap Hanabi sambil menunjuk-nunjuk gambar Sasuke di layar laptopnya.
Besok adalah awal dari rencananya. Hanabi yakin pasti akan berhasil. Dia rasa sebaiknya dia tidur cepat agar lebih dapat bangun pagi besok.
Namun sebelum tidur, dia malah menonton video itu. 20 kali.
↗Anne Garbo
→Notebook Letter←
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Warning : peringatan warna warni ada disini. Tapi yang paling saya ingatkan adalah
Saat anda menemukan ranjau typo, dimohon agar jangan diinjak
Entah keberapa kalinya tangan Hinata tertahan pada pose seperti ini. Pose dimana tangan kirinya ditahan oleh teman sebangkunya. Kelas masih diisi beberapa siswa-siswi. Hal itu yang membuat Hinata takut membuat suara. Bagaimana nanti kalau ada orang terutama fansnya Sasuke yang melihat pose ini? Tidak.. Hinata masih ingin hidup lama.
Untungnya tangan Sasuke yang menahan Hinata itu menggantung diantara mereka. Tentunya dengan sudut pandang orang luar, mereka hanya melihat tangan Sasuke dan Hinata yang sama-sama tertutup meja. Jadilah tidak terlalu mencolok. Tapi tak taukah kau Hinata, wajah merahmu itu lah yang amat mencolok.
Bukanya Hinata tidak mencoba untuk bicara ke Uchiha. Sudah kok sudah. Malahan Hinata sudah memohon dengan suara yang amat pelan. Tapi teman sebangkunya ini malah menopang dagu dan menatap keluar jendela seolah tidak menyadari permintaan Hinata. Teganya tuan Uchiha.
"Eh Hinata, kok belum pulang?" tanya Kiba. Pria berambut coklat itu baru saja selesai membereskan bukunya.
Hinata mengangkat wajahnya untuk dapat menatap si Inuzuka secara langsung. Wajahnya memelas, seolah memberi kode ke Kiba agar pria itu mau membantunya.
"Kau tidak ke rumah Gaara?" tanya Kiba lagi. Kali ini dia berjalan mendekat.
Hinata senang, tentu saja. "Ayo.. ayo kesini Kiba. Tolong aku.." teriak Hinata dalam hati.
Tapi, tiba-tiba Kiba berhenti berjalan. Sebuah cengiran lebar ia arahkan ke Hinata dan Sasuke.
"Oh.. OK. Aku mengerti! Dah Hinata! Sampai jumpa besok!" ucapnya lalu berbalik dan menghilang ke balik pintu.
Hinata dengan reflex menengok ke sebelah kirinya. Dia mendapati Sasuke sedang menatap dingin kearah dimana Kiba menghilang tadi. Sadar telah diperhatikan oleh pujaan hatinya, Sasuke akhirnya menengok lalu memberikan seringaian andalannya.
Sepertinya ini tidak akan mudah.
→Notebook Letter←
"Aaa.."
Hinata menengok ke teman sebangkunya. Rupanya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya hingga konsentrasi melihat jendelanya terganggu.
"Benar juga.." Sasu mulai bermonolog. Hinata hanya menatap heran. "Hari ini tidak ke rumah si Sabaku itu lagi?" tanya Sasuke. Wajahnya menatap Hinata penasaran.
Saat ini suasana kelas sudah sepi. Menyisakan mereka berdua saja yang masih asik duduk di kursi masing-masing. Tapi kenapa tuan Uchiha satu itu baru tanya permasalahan itu sekarang? Padahal tadi Kiba sudah mengangkat persoalan itu, tapi kenapa baru sekarang sadarnya? Sengaja kah?
"Ah!" kali ini Hinata yang terkejut.
"Jangan bilang kalau kau lupa." dan kali ini gantian Sasu yang menatap heran.
"Ti-tidak juga." Jawab Hinata yang menambah keheranan bagi Sasuke.
Tapi tunggu dulu. Tidak juga katanya. Wah, ide iseng lagi-lagi terlintas di otak jeniusnya.
"Maksudmu kau sengaja?" tanya Sasuke lagi. Tangan kanannya yang menggenggam tangan Hinata ditariknya hingga tubuh Hinata ikut maju perlahan.
"Ti-tidak." Jawab Hinata gugup. Ya.. bagaimana tidak gugup kalau wajahmu semakin dengan dengan wajah iblis satu ini.
"Kau sengaja kan untuk tetap disini, bersamaku?" tanyanya lagi. Sasuke sengaja menarik tangan Hinata pelan-pelan agar kegiatan ini berlangsung lebih lama dan tentu saja menyenangkan baginya.
"Bu-bukan begitu.." bantah Hinata.
"Lalu kau kenapa masih disini?" tanya Sasuke lagi. Oh, jangan lupa seringai jahil itu yang tak pernah absen saat dia menggoda Hinata. Wajah mereka yang semakin dekat yang hanya terpisah jarak ya.. mungkin 30 cm, dan sepertinya akan semakin dekat lagi karena Sasuke masih menarik tangannya.
"A-aku.."
20 cm.
"Hm?"
10cm.
Entah keberanian dari mana, tiba-tiba Hinata meletakkan tangan kanannya yang bebas untuk menyentuh dada bidang milik Sasuke yang tentu saja niatnya agar wajah mereka tidak semakin dekat. Ditatapnya mata Sasuke lekat-lekat dan dengan seluruh keberaniannya Hinata berkata, "Ga-Gaara belum me-menghubungiku dari ta-tadi ja.."
Hinata tak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Tarikan tangan itu memang berhenti, tapi bukan itu yang membuatnya tak sanggup bicara lagi. Pasalnya mata itu memberikan pandangan yang berbeda dari sebelumnya. Begitu lembut. Begitu menghipnotis.
Memang sempat Hinata lihat mata itu sedikit terbelalak saat tangannya menyentuh dada bidang itu. Namun, seiring dengan kalimat gagap yang dilontarkan Hinata, pandangan itu berubah melembut. Semakin lembut hingga Hinata terpaku. Tak pernah ia duga, ia bisa merasakan kehangatan dari pancaran itu.
Mereka saling tatap dalam keheningan. Mengabsen kekaguman dalam lamunan masing-masing. Saling memuji. Seolah dengan bertukar pandang, mereka dapat memahami masing-masing. Seolah debaran yang mereka rasakan itu bisa mereka bagi.
Dan dengan dikehendaki oleh keduanya, mereka saling memperdekatkan diri. Memajukan wajah, dan mempererat genggaman masing-masing. Saat jarak diantara mereka semakin menyempit, saat tiap dari mereka dapat merasakan aroma satu sama lain, saat tinggal sedikit lagi kedua bibir itu bertemu..
..
..
..
..
Tiba-tiba handphone Hinata berdering.
Dering itu sungguh mengagetkan keduanya. Membuat mereka sadar akan jarak masing-masing. Saking kagetnya dengan jarak itu, secara refleks tangan Hinata yang masih bersandar di dada bidang Sasuke mendorong tubuh itu cukup keras hingga Sasuke hampir terjungkal ke belakang.
Kini jarak itu semelebar. Genggaman tangan yang saling bertautan pun sudah tak ada. Menyisakan Hinata yang kembali menunduk dalam dengan wajah memerah, dan Sasuke yang kembali menatap jendela.
Kecanggungan pun menyeruak. Apalagi saat dering telepon itu berhenti. Membuat keheningan terasa ganjil diantara mereka. Seolah keheningan menjadi provokator agar detak jantung mereka yang tak beraturan dapat saling terdengar. Saling bersahutan.
Namun, keheningan itu tak berlangsung lama. Handphone milik Hinata kembali berdering seolah tau bagaimana cara untuk sedikit memecah kecanggungan ini. Dengan tangan gemetar (menahan malu yang masih tersisa), Hinata mengangkat panggilan tersebut.
"Ha-halo Hanabi-chan.." sapanya.
Setelah itu keheningan kembali tercipta. Hinata yang sedang menerima telepon pun hanya diam dan mendengarkan secara seksama. Sasuke yang merasa heran dengan teman di sampingnya yang belum bersuara lagi pun mengalihkan pandangannya dari jendela. Ditatapnya gadis itu.
Ekspresi keterkejutan yang ia lihat. Pasti ada sesuatu kabar yang diberitahukan oleh orang diseberang sana. Kabar yang sepertinya bukanlah kabar baik. Dapat Sasuke lihat juga manik itu tergenang oleh airmata yang belum tumpah.
"To-tolong beritahu alamatnya.." ucapnya lagi lalu mematikan sambungan telepon.
"Ada apa?" tanya Sasuke khawatir.
Seolah tidak mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Sasuke, Hinata mengambil tas miliknya dan beranjak dari kursinya.
Segera Sasuke menahan kembali tangan Hinata agar wanita itu tak pergi sebelum menjelaskan kepadanya. "Ada apa?"
Saat itulah dia melihat setetes air mata jatuh dari kedua bola mata wanita yang dikasihinya.
"Gaara.." ucapnya dengan suara yang begitu lemah. "Ta-tadi Hanabi telepon, katanya Gaara… Gaara berkelahi , lalu… lalu dia… dia.."
"Dia terluka?"
Hinata menggeleng. "Lebih dari itu.. dia koma."
Setelah Hinata mengatakan itu entah kenapa tubuhnya terasa lemas. Kakinya gemetar menahan tangis. Segera saja Sasuke memajukan tubuhnya untuk menangkap tubuh itu dalam dekapannya.
Entah kenapa dengan kehangatan yang dibagi oleh membuat airmata Hinata tumpah lebih deras. Situasi ini justru bagaikan simalakama bagi Sasuke. Di satu sisi dia merasa senang karena ini pertama kalinya dia dapat mendekap wanita pujaanya. Di sisi lain hatinya bagaikan teriris melihat wanita itu menangis. Menangisi orang lain, bukan dirinya.
"A-aku merasa te-telah gagal menjadi sosok yang baik untuknya." Racau Hinata disela tangisannya. "Aku telah gagal menjadi seorang kakak untuknya.."
Sasuke tak mampu berkata apa-apa. Dia bisa diam, mendengarkan, dan kadang membelai helaian indigo itu dengan harapan dapat meredakan tangisannya.
→Notebook Letter←
Saat Hinata dan Sasuke baru sampai di depan ruangan ICU, mereka segera disambut oleh Hanabi. Wajahnya begitu kusut seperti habis menangis.
"Bagaimana dengan Gaara?" tanya Hinata tanpa basa-basi.
"Dia sudah sadar. Sekarang dia ada di dalam." Jawab Hanabi.
Mendengar itu tanpa ragu Hinata masuk ke dalam ruangan dimana Gaara berada. Sasuke yang sedari tadi diam saja pun mengikutinya bersama Hanabi. Hinata terlihat sangat terkejut melihat keadaan Gaara saat itu. Lengan yang diinfus, selang oksigen, wajah penuh memar dan beberapa perban yang melilit di tubuhnya.
Hinata segera menghampiri Gaara. Berdiri di sisi ranjang. Tanganya digunakan untuk membelai wajah Gaara. Airmatanya kembali mengalir saat mata Gaara terbuka perlahann.
"Hinata.." panggil Gaara dengan nada lemah.
"Jangan berkelahi.. kumohon jangan berkelahi lagi."
"Hinata.."
"Kau membuatku khawatir. Sungguh khawatir Gaara…"
"Jangan menangis." Tangannya berusaha digerakkan untuk menyentuh tangan Hinata di pipinya. "Airmatamu membuatku tambah merasa sakit."
Sasuke melihat drama di depannya hanya dengan wajah datar. Dia kesal sebenarnya. Sangat kesal. Tapi apa bisa dikata, dia tak mampu menginterupsi kegiatan apapun yang tersaji di hadapannya.
Namun, tiba-tiba dia merasa punggung belakangnya seperti ditepuk. Dibalikkan tubuhnya agar dapat melihat siapa pelaku yang menepuknya. Dia mendapati sesosok anak perempuan yang ia duga bernama Hanabi sedang memberi kode agar Sasuke mengikutinya. Tanpa pikir panjang Sasuke mengikutinya.
Setelah berada di luar dan cukup jauh dari pintu ruangan Gaara, Hanabi mulai angkat suara. "Apa yang kau lakukan disini?"
Sasuke melipat tanganya di dada. "Bukannya kau yang menyuruhku agar mengikutimu?"
"Bukan itu! Kenapa kau bisa berada di rumah sakit ini?" balas Hanabi. Entah dia yang salah pilih kalimat ataukah orang di depannya ini kurang peka.
"Mengantar Hinata."
Mendengar jawaban dari Sasuke, Hanabi hanya bisa menghela nafas pendek.
"Jadi ada apa kau membawaku kemari?" Kali ini Sasuke yang menuntut jawaban pada Hanabi.
"Ada yang ingin ku tanyakan." Jawab Hanabi singkat. "Tentang hubunganmu dengan Hinata-nee."
Sasuke menyandarkan tubuhnya ke tembok dan memberi syarat agar Hanabi melanjutkan pembicaraan ini.
"Jadi apa hubunganmu dengan Hinata-nee?"
Sasuke berpikir sebentar. Mencoba menemukan kata yang tepat untuk menjabarkannya. "Teman sebangku." Jawabnya. Namun segera ia menggeleng. "Bukan. Calon kakak iparmu, lebih tepatnya." Ralatnya sambil memperlihatkan seringaian andalannya.
Hanabi melongo. Rupanya orang yang menyukai kakaknya adalah orang yang sama-sama memiliki kelainan jiwa.
"Bagimu, Hinata-nee itu apa?" tanya Hanabi lagi. Mengindahkan jawaban ngaco tadi.
Seringaian Sasuke melebar. Sesi pertanyaan yang terlihat seperi introgasi ini terasa menarik. Setidaknya ia dapat melupakan kekesalannya akibat menonton drama tadi.
"Milikku." Jawabnya santai.
Oke.. mereka sama-sama mempunyai obsesi yang berlebihan.
"Satu pertanyaan terakhir. Apakah kau benar serius pada Hinata-nee?"
Pertanyaan Hanabi yang satu ini mengingatkannya pada pertanyaan dari si Inuzuka kemarin. Sasuke jadi mengerti sebegitu berharganya Hinata di mata mereka berdua. Sasuke juga menjadi mengerti kenapa sampai sekarang Hinata belum pernah memiliki kekasih. Mereka menunggu orang yang tepat rupanya.
"Aku Uchiha."
Sama-sama pelit kata. Apa susahnya coba menjabarkan setidaknya dengan satu kalimat utuh.
"Seberapa besar rasa sukamu pada Hinata-nee?"
"Bukankah tadi yang terakhir?"
"Cerewet! Jawab saja apa susahnya."
Sasuke menghela nafas. "Tak seberapa besar dari rasa sayangmu kepadanya."
Hanabi tertegun. Dia kira, si Uchiha ini akan menjawab hal yang sama egoisnya seperti jawaban sebelum-belumnya. "Kenapa kau menjawab seperti itu?"
Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Memangnya bukan?"
Pertanyaan balik dari Sasuke membuat Hanabi tak bisa menjawab apa-apa.
"Lagipula memang itu kan jawaban yang ingin kau dengar."
Lagi-lagi jawaban mengejutkan yang dilontarkan oleh Sasuke.
"Jika kau memang calon suami nee-chan, orang yang memiliki nee-chan, dan mengaku rasa sukamu tak seberapa dari rasa sayangku kepadanya, tapi kenapa kau malah membawanya kesini dan membiarkan dia berdua dengan orang lain di dalam sana? Kurasa seorang Uchiha sepertimu tidak terlalu bodoh untuk mengetahui siapa musuhmu sebenarnya."
Ekspresi Sasuke sama sekali tidak berubah. Tetap dengan seringai licik miliknya. Bukankah pertanyaan retoris yang dilontarkan Hanabi tadi seharusnya dapat memojokkannya?
"Aku tak ingin memonopoli hidupnya." Jawabnya. Pandangan matanya dialihkan ke arah pintu dimana Gaara dan Hinata ada dibaliknya. "Setidaknya belum, sampai dia benar-benar jadi milikku."
Entah kenapa ada sebuah rasa kelegaan sendiri dari Hanabi setelah mendengar dari jawaban Sasuke yang terakhir. Jawaban pas yang sesuai ah tidak, bahkan lebih dari harapanya. Setidaknya dengan jawaban itu, Hanabi mengurungkan niatnya untuk memberikan pertanyaan beruntun lainnya.
"Yah.. sebenarnya sih aku kurang begitu peduli." Hanabi kembali berujar.
Mendengar itu, Sasuke kembali memusatkan perhatiannya pada makhluk kecil di hadapannya.
"Mau kau ataupun dia. Cara apa yang kalian pakai. Melibatkanku atau tidak. Aku tak begitu peduli." Ucap Hanabi. Diarahkan pandangannya pada langit-langit seolah menerawang jauh. Tapi tak lama pandangan itu diarahkanya kembali pada Sasuke. "Tapi baik kau ataupun dia, jika berani menyakiti Nee-chan. Aku pun tak akan segan untuk melakukan cara apapun agar kalian menderita."
Sasuke terkekeh. Tak disangkanya anak kecil di hadapannya ini berani mengancamnya.
→Notebook Letter←
Sasuke memandang malas pada sosok yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit itu. Seorang bocah berambut merah, berperilaku kurang ajar, dan rival cintanya. Dia juga heran kenapa tadi memaksa Hinata agar pulang bersama Hanabi dan membiarkan mereka berdua tetap berada di ruangan ini. Yak, hanya mereka berdua.
Sasuke sebenarnya sama sekali tidak peduli dengan keadaan pasien tersebut. Buktinya saat ini dia malah berkeliling di ruangan, mengacak laci dan saat lelah dia kembali duduk di kursi tak jauh dari ranjang. Gaara yang melihat tingkah aneh si Uchiha hanya terus memperhatikannya, takut-takut si om mesum itu akan berbuat yang aneh-aneh.
"Sekarang kau sudah puas?" Sasuke mulai angkat bicara.
Pertanyaan yang mengejutkan tentu saja. Dengan beribu tanda tanya, Gaara balik bertanya, "Apa maksudmu?"
Sasuke menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Menatap Gaara dengan pandangan tak suka. "Sudah puas membuat Hinata menangis?" tanya Sasuke lagi.
Gaara terdiam. Ditatapnya langit-langit dengan wajah masam. "Huh, kau tau rupanya."
"Dengan drama memuakkan tadi? Kau pasti bercanda."
"Well, sekarang tak ada gunanya berpura-pura denganmu." Gaara bangkit dari atas ranjang. Dilepaskannya selang oksigen dan infus yang ada di tangannya. Lalu ia pula melepaskan beberapa lilitan perban di tubuhnya.
Sasuke tidak terkejut melihat itu semua. Tidak terkejut walaupun di balik perban itu bukanlah luka ataupun darah. Semua itu hanya riasan. Ya.. Sasuke tau sejak awal kalau Gaara berpura-pura. Sasuke juga tau bahwa Hanabi juga terlibat.
Bagaimana Sasuke tidak curiga. Rencana ini hampir sepurna, bisa dibilang. Tapi memiliki beberapa titik kelemahan yang walaupun remeh namun sebenarnya amat fatal.
Pertama, Sasuke merasa salut pada Gaara dan Hanabi yang telah repot-repot menyewa hampir satu rumah sakit ini. Lalu dari mana Sasuke tau? Tentu saja dari awal kedatangan mereka kesini. Saat Hinata bertanya kepada resepsionis dimana Gaara di rawat, dengan tanpa perlu mengecek data terlebih dahulu, sang resepsionis itu langsung menunjukkan jalannya. Kesalahan nomor satu, dia tidak menyiapkan aktor yang tepat.
Lalu kedua, Sasuke amat yakin saat dia dan Hinata berlari ke ruangan ini tidak ada satupun orang yang melewati jalur mereka. Bahkan beberapa ruangan di sekitar kamar ini pun terlihat tak berpenghuni. Justru hal itu memperkuat gudaan Sasuke bahwa ada yang tak beres di rumah sakit ini.
Ketiga, satu hal yang amat remeh tapi begitu fatal adalah dengan tidak adanya dokter yang memasuki ruangan ini mulai dari mereka sampai. Seharusnya untuk seorang yang sakit, apalagi baru terbangun dari koma, semestinya butuh lebih banyak penanganan medis.
Ah, dan yang terakhir. Yang ini pula sangat fatal. Sasuke juga bingung kenapa baik Gaara maupun Hanabi tidak terpikirkan mengenai kelemahan ini. Yaitu, tak adanya satupun anggota keluarga Sabaku yang menjenguknya. Bukankah lucu mendengar keluargamu koma, tapi tidak ada satupun yang menjenguk.
Sasuke memaklumi bahwa lawan nya ini adalah anak Junior High. Jadi dia mengerti kenapa rencana kekanakan seperti inilah yang dibuat. Tapi apakah Hinata sebegitu panik atau polos atau bodohnya hingga tak menyadari hal-hal tadi?
"Apa kau sudah mendapatkan yang kau inginkan?" tanya Sasuke lagi.
"Maksudmu, mendapatkan Hinata?" tanya Gaara balik di balik senyum sinisnya. "Benci ku katakan kalau dalam rencana ini aku gagal."
Sebenarnya Gaara sedikit senang saat Hinata datang menjenguknya dengan beruraian air mata. Baginya, rasa khawatir Hinata yang begitu bear setidaknya memberikan sebuah pengharapan kepadanya. Dia senang walaupun lebih banyak merasakan pahit.
Pahit karena Hinata yang disukainya menangis karenanya. Pahit karena Hinata disini berperan seolah seorang kakak yang menghkawatirkan adiknya. Tak pernah hentinya Hinata menasehatinya. Tak pernah henti pula ia memperlihatkan pandangan yang sama seperti di toko buku dulu. Pandangan rasa sayang, tapi bukan sayang yang Gaara harapkan.
Sasuke menegakkan badannya kembali. Memberi kesan seolah dia tertarik dengan apa yang Gaara bicarakan.
"Dia tak pernah menganggapku lebih." Lanjutnya. Raut kekecewaan jelas nampak padanya. "Kau pasti senang mendengarnya."
"Entahlah." Jawab Sasuke sambil menggaruk kepalanya. Yaa.. memang dia masih belum pantas bahagia. Toh hubungannya dengan Hinata juga masih sebatas teman sebangku.
"Kenapa kau tidak memberitahu Hinata tadi kalau aku berbohong?" tanya Gaara. Kini dia sedang duduk bersila diatas ranjang dan menatap Sasuke dingin.
Sasuke menyeringai. "Tidak akan menarik, tentu saja." Ujarnya. Sasuke bangkit dari kursi dan menghampiri pintu. "Aku ingin lihat sejauh mana rencana khas anak umur 15 ini akan berhasil."
Gaara menggeram. Benci. Dia sangat benci dianggap sebagai anak kecil. Apalagi oleh rivalnya.
"Aku tidak akan kalah dengan om-om macam sepertimu!"
TBC
Hehehe.. gomen ne baru update sekarang. Dan gomen kalo chap ini berasa banget rushing nya. Soalnya anne lagi kejar tayang nih. Pokoknya fic ini harus ke publish hari ini. Mau hari ini ada UAS kek, gak ada UAS kek, pokoknya harus ke publish hari ini. Soalnya..
Ini birthday fic yang Anne persembahkan untuk Anne sendiri. Hahaha... aneh ya? Tapi ini sudah seperti tradisi bagi Anne, tiap tahun memberikan kado baik yang memiki wujud ataupun virtual pada diri Anne sendiri. Sebagai tanda bukti bahwa Anne masih sehat, masih bisa membahagiakan diri Anne, yang terpenting bukti bahwa Anne masih hidup.. masalah umur? fufufu.. rahasia!
Sorry jadi curhat sendiri.
Oia, Anne juga minta maaf bagi para readers yang mungkin sadar dengan gaya penulisan Anne yang sedikit berbeda. Gak sesantai chap sebelumnya. Fufufu maaf. Soalnya kayaknya mulai dari chap ini Anne akan serius pada kemajuan dari masing-masing chara. Biar cepet tamat gitu...
Maaf juga bagi yang menantikan selipan-selipan humor. Anne lagi kekurangan stock kebahagiaan pra-UAS nih. Gaara vs Sasu nya kurang berasa ya? Belum lagi kejar tayang biar update sekarang.. dududuh.. T_T
Well, daripada nge-gaje sendiri mendingan dimulai aja SBR nya :
. Jiiee : Wah.. Anne juga pair SasuHina. Emang bikin gemes sih mereka. Iyaa.. lanjutkaaaaannn _
. Jingga Matahari Senja : Seringainya Sasu kalau dikiloin emang gak seberapa berat tapi kalo dijual mahal looh~ *ditabok Sasu* Sasu itu emang punya virus yang melemahkan jantung. Kita yang baca aja begitu apalagi Hinata yak? Yosshh,, makasih semangatnya! Anne akan berusaha lebih keras lagi.
. Aden L kzt : yo..yo..yo.. Tenang aja, Sasu sama Gaara sudah Anne jinakin jadi jangan takut di deathglare dan di tendang ya.. siapin aja duit 5rebuan buat saweran *digantung*
. Dewi Natalia : Sasu emang punya kebiasaan untuk kasih julukan ke orang2. Gaara dijuliki setan merah lah, bocah ingusan lah, dll. Kiba sempet dijuluki serigala berbulu domba. Fans nya dia aja dia bilang berkelamin ganda. Yah,, emang ada2 aja si Sasu ini.
. Sasuke Lover : hahaha.. iya. Rencana bocah-bocah..
. Amai Yuki : nakal sekali dirimu nak,, diapain yaaa? Tau nih si Sasu gak mau bagi2 cerita. Hanya dia, Tuhan dan Anne saja yang tau.
. chiaki arishima : hehe iya nih gak diceritain lagi. Udah di apa2in sama Sasu sampe dia gak berani hadir di dunia ini lagi ohohoho.. yang Sasu lakuin ke kohai itu adalah,, ah.. itu rahasia~ mau bayar Anne berapa supaya Anne kasih tau? *matre
. Mamoka : wah.. makasih dibilang so sweet. Karena Anne emang gak jago bikin comedy, makanya Anne gak masukin ini ke genre comedy. Yah.. bisa dibilang itu bumbu pemanis aja biar cepet laris.. *jiahhh
. Sabaku No'Ruki-Chan : hahaha ini udah update.. ayo..ayo.. mau pilih yang mana. Jelas kamu lebih pilih Gaara, orang namamu ada Sabaku nya toh
. Kumbang Bimbang : ini chap depannya. Hahaha
. Lily Purple Lily : hhahahah gak ada gangguan kok pas belajar. Anne mau ngasih space biar mereka berduaan lebih banyak. Kasian keganggu terus. Anne juga kepikiran GaaHina bakalan oke disini. Yah.. kita lihat nanti saja lah, siapa yang dipilih sama Hinata.
. Deshe Lusi : hahaha kepikiran GaaraHanabi ya? Hua.. Sasu dapet satu vote lagii.. senang tidak Sasu?
. Uchiha L Karin : makasih masih setia menunggu fic abal ini. Tiap chapternya Anne selalu deg-degan apakah semakin bagus, sama aja atau malah memburuk. Jujur anne senang sekali tiap kali dapet review. Bisa jadi pengingat Anne kalau Anne salah jalur. Tapi nak, kamu semangat banget sampe ke posting 2 kali.
. Kazuko Nozomi : hehehehe.. Gaara ada kok Gaara. tapi maaf ya Anne gak ceritain apa yang trjadi di dalam sana. Hal itu niatnya sih... niatnya mau dijadiin slight2 di chap depan. Getok aja Anne kalo lupa sisipin.
. anexartito : fufufu thanks a lot. Huah,,, makasih semangatnya. Anne akan lebih berusaha lagi di chap depan.
. Felia-chan : iya adeeekk... makasih yaa.. ini sudah kakak lanjutkan ^^
Yuuhuuu... makasih pada semua yang telah mendukung fic Notebook Letter sejauh ini. Fic ini gak akan berlanjut tanpa kalian. Anne senang banget pada setiap komentar jujur kalian, semangat kalian. Anne tak akan melupakanya sampe kapanpun. Tapi loh? Kok tiba-tiba jadi the galau moment begini?
Yah.. tak keberatan kan kalo menorehkan beberapa review lagi? Hahaha
See you in the next chap!
Thanks,
Best regards,
Anne Garbo
Happy Birtday Anne Garbo ~!
21-12-2012
