Zassou no Uta (Nyanyian Rumput Liar) © Eternal Dream Chowz

[Buono! – Zassou no Uta]

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing: Sasuke U. x Hinata H.

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Rate: T

Warning: Typo(s), Out Of Character, Alternate Universe! School, Rush Plot

OST:

Halyosy – Connecting

Rachel Platten – Stand by You

Waktu adalah obat terbaik untuk menyembuhkan luka.

Chapter 5. Stand By You

Hinata bertumpu dagu di sebuah restoran mewah. Hiashi bilang akan mengenalkannya pada seorang relasi. Hinata sangat senang. Melewatkan quality time dengan ayahnya adalah sebuah pengalaman berharga sesudah kepergian ibunya. Tapi, Hiashi malah meninggalkannya sebentar karena sebuah telepon penting. Aneh, tapi sudahlah.

Restoran ini begitu sepi. Mestinya ada satu dua keluarga yang juga duduk dan menikmati makan malam—menurut Hinata. Tapi sejak mereka sampai, hanya ada Hinata dan Hiashi, alias kosong melompong. Hinata bahkan terheran-heran. Mengapa Hanabi dan Neji tak boleh ikut?

Hinata mengaduk likuid jus di gelas berbentuk bola beralas datar. Ayahnya terlalu lama untuk sekadar menelepon. Ada baiknya Hinata menyusul. Tapi ayahnya bilang tunggu di sini. Hinata galau jadinya.

Kursi di depan Hinata berderak. Hinata mengangkat kepala, "Ayah—" lalu terdiam dengan mata tak berkedip. Ia terperanjat seutuhnya.

Sosok di depannya duduk dengan tampang datar. Membuat Hinata lupa bagaimana cara berbicara atau setidaknya bergerak. Err, awkward.

"Hiashi-san sudah pulang."

"…"

Sunyi. Hinata terlalu malu untuk mengangkat kepala. Banyak pemikiran bercampur aduk di otaknya. Kenapa—kenapa ada Uchiha Sasuke di depannya? Apa yang telah dilakukan pemuda itu pada ayahnya?

"Hyuuga Hinata."

Membeku. Hinata lupa cara bernapas—boleh Hinata pingsan?

Oh, tidak. Kalau pingsan, konsekuensinya bisa lebih parah daripada dicium paksa. Teringat itu, Hinata jadi makin malu. Hinata menguatkan diri dengan cara menggigit bibir.

"Lihat ke depan sini. Aku tidak ada di bawah lantai."

Hinata bersikeras tidak mau mendongak.

"Tatap aku."

Ini bukan acara hipnotis kan? Hinata masih memejamkan mata dengan kepala tertunduk. Suara kursi yang digeser membuat jantung Hinata berdegup tidak keruan. Suara langkah yang bergema di ruangan sepi membuatnya tak kalah takut. Dagunya disentuh tangan dingin, diangkat menghadap depan.

"Lihat aku, Hinata."

Rasanya nostalgia dengan kata-kata itu. Hinata memberanikan diri membuka mata pelan. Langsung menyelam dalam gelapnya iris hitam yang mempesona. Benar-benar terhipnotis. Hinata merasa dikendalikan.

"Hinata—"

"A-ano … lepaskan aku."

Sasuke merasa tertolak lagi. Ia melepas sentuhannya. Ia merindukan sosok gadis itu. Tapi ia merasa tidak diinginkan.

Hinata meremas permukaan gaunnya. Kenapa ini semua bisa terjadi.

Senyap saja. Tak ada yang berusaha menjelaskan atau mengumbar obrolan. Kaku.

Mereka mesti apa?

.

.

.

Hinata memelintir garmen yang ia kenakan, samar-samar suaranya terdengar, "Bagaimana d-dengan sekolah?"

Sasuke menatap gadis itu, "Biasa saja. Buruk … tanpamu."

Hinata mengeratkan cengkraman pada roknya. Gila. Degup jantungnya melawan paksaan Hinata untuk meredam perasaannya. Kenapa Sasuke sok menggombal di saat seperti ini?

"O-oh."

Hinata merasa rendah. Dirinya baru saja menolak dan ditolak. Tapi perasaannya berusaha mengkhianati. Tidak! Hinata tidak boleh melukai Sasuke lagi. Hinata harus tegas. Tapi tak ada kata yang terucap.

"Ada yang ingin kau katakan?" Sasuke meneliti gestur Hinata yang makin gelagapan.

Hinata hanya bisa diam layaknya orang bisu. Menggeleng pelan.

Sasuke mencicipi minuman yang ia pesan, "Kenapa kau tidak sekolah?"

Sasuke mengetuk jari-jarinya. Hinata menatapnya sekilas, "A-aku akan pindah sekolah."

Mata Sasuke terpejam. Sialan sekali. Tidak ada yang memberitahunya soal ini.

"Kenapa?" suaranya bergetar menahan amarah.

"Aku ingin kembali bersama keluargaku. Berkumpul bersama, seperti dulu."

"Ke mana?"

"A-australia."—kenapa Hinata malah memberitahunya? Semuanya akan semakin rumit saja. Tapi Hinata menginginkan sebuah reaksi dari Sasuke. dan reaksi itu datang membawa gelombang yang lebih menciutkan hati Hinata.

"Lalu aku?"

Hinata menahan napas. Kini ia tidak bisa membalas ucapan Sasuke.

"Maaf. Aku …"

"Bagaimana denganku?"

Suara tercekat di tenggorokan Hinata, "Aku—"

Hinata berdiri dengan mata yang berkaca-kaca. Tertutup poni panjangnya.

"Hinata—"

"Dengarkan aku. A-aku … tidak boleh melukai Uchiha-san lagi. Kita lebih baik tidak bertemu lagi. Gomen."

Mata Sasuke menatap kosong.

Melukai?

Kenapa Hinata memanggilnya seperti itu lagi? Rasanya menyakitkan. Jadi ini yang terakhir? Sungguh? Kenapa kata pertama dan terakhir itu terdengar memekakkan di telinga Sasuke?

Hei, Sasuke sudah jauh lebih terbiasa dengan luka yang Hinata torehkan. Dan ini adalah luka terbesar yang akan Hinata tinggalkan untuknya.

"Permisi."

Sasuke tak bisa mengatakan apa-apa saat punggung Hinata menjauh. Otaknya kesulitan mencerna ucapan Hinata.

Siapa melukai siapa?

Sasuke bisa gila.

"Kau akan meninggalkanku sendirian?"

Hinata terdiam di tempat. "Aku hanyalah rumput liar, Uchiha-san. Setidaknya, kau akan menemukan yang lebih baik. S-seperti mawar yang tak pantas bersanding dengan rumput liar, sederhana saja."

Kenapa Hinata mengatakan hal itu? Sasuke hanya bisa menatap punggung gadis itu menjauh.

.

.

.

Hinata memeluk lutut di jok belakang. Sudah tak ia pedulikan lagi supir mobil yang menatap heran. Berkali-kali ditanya soal keadaannya, Hinata hanya menatap sejenak dan tersenyum tipis, mau tak mau supir yang membawanya pulang hanya terdiam membisu.

Hinata merasa bingung. Semua ini tak ada dalam rencananya. Semuanya datang tanpa terduga-duga. Hinata ingin menjadi orang yang bersalah agar yang lain baik-baik saja, nyatanya tak begitu. Ia melukai Sasuke dan dirinya sendiri. Ini semua memang salah Hinata.

Oh … apa yang harus Hinata lakukan. Ia tak mengerti lagi.

"Hinata, kau sudah pulang."

Hinata menatap ayahnya dengan tatapan meminta penjelasan. Hiashi menghela napas.

"Kemarilah."

Hinata mendekat dan duduk berhadapan dengan ayahnya.

"K-kenapa ayah mengenal Sasuke … kenapa dia y-yang datang … kenapa …"

Hiashi berdeham sejenak. "Uchiha Sasuke menelepon ayah semalam. Dia yang memberitahu keadaanmu pada ayah. Karena itulah hari ini ayah dan Neji pulang. Karena dia menyadarkan kami tentang hal-hal yang kau derita selama ini."

Hinata menatap ayahnya dengan mata membola. Separuh tidak percaya. Kenapa sang Uchiha jauh-jauh melakukan hal itu demi dirinya?

"Ayah pikir selama ini kau akan baik-baik saja. Kau tak pernah mengatakan apapun pada kami. Dan Uchiha itu membuatku mengerti. Bahwa kau membutuhkan kami. Meski kau tak pernah mengatakannya."

Hinata berdiri, berjalan mendekat pada ayahnya dan memeluknya, "Ayah …"—hanya kata itu yang bisa Hinata sebutkan. Hinata kembali menangis.

Terima kasih … dan maaf, Sasuke.

Maafkan aku.

.

.

.

"Hinata, bangun!"

Ah, itu bukan suara Ayame. Hinata menggulingkan tubuhnya ke sisi kasur yang lain. Malas disuruh bangun. Itu suara Neji. Haah, betapa Hinata merindukan sepupunya itu membangunkannya di pagi hari.

"Hinata!"

Selimut direnggut paksa. Hinata mengerang. Oh ya, Hinata baru ingat, ia benci kebiasaan Neji merenggut paksa selimutnya. Menyebalkan.

"A-aku masih mengantuk …"

"Kita mengurus kepindahanmu hari ini."

Hinata membeku.

"N-neji-nii saja yang mengurusnya, y-ya?"

"Tidak. Bangun dan angkat bokong malasmu itu."

Hinata meringis. Kakaknya yang satu itu memang tak pernah berubah. Keji demi kebaikanmu. Baiklah, Hinata menyerah karena Neji sudah melotot tak sabar.

Hinata menatap ragu melalui kaca jendela kamarnya. Kota ini akan segera ia tinggalkan. Begitu pula dengan seluruh kenangannya. Ah, Sasuke, betapa Hinata akan mengingat nama itu.

"Hinata, jangan bengong!"

"I-iya."

Bagaimana Hinata harus menemuinya nanti?

.

.

.

Hinata berjalan rapat-rapat dengan Neji. Entah apa yang ditakutkannya. Entah orang-orang yang mengganggunya, Sasuke, Sakura atau Naruto. Hinata tak mengerti lagi.

"Hinata, kenapa kau ketakutan di sekolahmu sendiri?"

Hinata tersenyum miris, "B-bukan apa-apa …"

"Yakin?"

"H-hmm."

Hinata berjalan menuju ruang Kepala Sekolah. Neji mengetuk pintu dan masuk ke dalamnya. Kalau pada akhirnya Hinata tak perlu menemui sang kepala sekolah, kenapa ia harus ikut datang ke sini? Heran.

Hinata menunggu lima belas menit di luar. Neji tak kunjung keluar. Mencuri dengar dari ruangan itu, Hinata rasa pembicaraannya akan lama. Bosan, Hinata akhirnya berjalan-jalan mengitari sekolah setelah mengirim pesan singkat pada Neji.

"Ah."

Hinata mengatupkan bibir rapat-rapat. Entah kenapa, ia kembali berjalan ke taman belakang. Hal yang membuat wajahnya memerah ketika ia tanpa sengaja mengingat Sasuke memaksa menciumnya di hari pertama mereka saling bertemu.

Pemuda pemaksa. Setengah gila.

Hinata tertawa pelan. Ia berjalan menyusuri jalan setapak yang biasanya dihiasi daun yang berguguran. Hinata mengingat dengan jelas apa saja yang sudah terjadi. Hinata tersenyum. Ikatan pada rambutnya ia lepaskan, rambutnya yang panjang terurai bebas, ia tersenyum lepas. Sasuke juga pernah melepaskan ikatan rambutnya secara sengaja.

Hinata menatap semak rimbun tempat ia bertemu Karin dulu. Hinata memilih duduk di tempat favoritnya. Sebelum gadis itu duduk, mata ungunya terpaku pada semak belukar yang berhiaskan mawar-mawar merah.

"Mawar …" bisik Hinata dengan penuh kekaguman.

"Indah?"

Gadis itu mengangguk sebelum menengadah. Suara itu datang dari atas. Dari jendela bangunan yang menghadap langsung ke taman. Kelas persiapan yang semestinya kosong.

"Aku merawatnya selama kau tidak datang ke sekolah."

"S-sasuke …" Hinata menundukkan kepala. Rasa bersalah merundungi hatinya.

Apakah pemuda itu tak marah padanya? Seharusnya Sasuke meninggalkannya. Membencinya kalau perlu.

"Siapa yang bilang kalau rumput tak mampu bersanding dengan indahnya mawar, hm?"

Tersentak, Hinata menengadah sekali lagi. Terkejut saat Sasuke melemparkan kelopak-kelopak mawar pada dirinya dari jendela lantai dua.

"Eh …"

"Jangan bergerak dari situ."

Sasuke menaiki kusen jendela. Hinata memekik. "Bahaya!"

Tak digubris, Sasuke melompat begitu saja ke bawah. Hinata memejamkan mata, takut setengah mati. Hinata menatap takut-takut, pemuda itu berdiri dengan kaki yang agak gemetar. Wajar saja, melompat dari ketinggian seperti itu pasti menyakitkan.

Hinata mendekat, kecemasan menghantuinya. Tangan pemuda itu juga banyak dihiasi dengan plester luka. Apa saja yang dilakukan pemuda itu sebenarnya?

"K-kau baik-baik saja, Sasuke? M-mana yang sakit?"

"Bukannya kau yang sedang melukai dirimu sendiri, Hinata?"

Hinata terdiam.

Sasuke menghela napas. Sial. Kalau saja kakinya tak gemetaran, pastinya ini semua akan jadi aksi heroic yang keren. "Hei, Hyuuga Hinata."

Hinata terperanjat, ia menatap lurus pemuda itu.

"Kau ingat apa yang kukatakan dulu?"

Hinata masih diam. Mengingat-ingat semua yang pernah dikatakan Sasuke.

"Kau adalah milikku. Dan itu 'harus'."

Hinata mengangguk—jelas-jelas ingat tragedi sialan itu.

"Hal itu tidak berubah."

"Tapi—"

"Jangan membohongi dirimu sendiri lagi, Hinata. Jujurlah."

Hinata mulai merasa rapuh. Benarkah yang dikatakan Sasuke itu? Kalau ia hanya membohongi dan melukai dirinya sendiri?

Hinata mundur selangkah, "A-aku tak mampu menggapai bunga matahari, Sasuke … apalagi setangkai mawar. Aku tak boleh memberimu harapan. Aku jahat."

"Rumput tak perlu menggapai sebab mawar yang akan menjagamu. Kau akan lebih jahat kalau pergi begitu saja, Hinata."

Sasuke mendekat, merangkul tubuh yang kini gemetar karena tangis.

Hinata balas mendekap Sasuke, meminta maaf dengan isakan-isakan yang makin mengencang. Ya Tuhan, bolehkah Hinata egois? Bolehkah Hinata dibahagiakan? Bolehkah Hinata mencintai kembali?

Sebab Hinata merasa sangat dicintai sekarang. Bolehkah Hinata membalas semua perasaan itu?

"Apakah aku … boleh?"

"Hn, tentu saja."

Saat itu kelopak mawar kembali disiramkan dari jendela bangunan.

Neji menghela napas di atas sana, "Kenapa pula harus aku yang membantu melemparkan ini. Ayam sialan."

.

.

.

Sasuke mengantarkan Hinata menuju bandara dengan berat hati. Meskipun gadis itu sudah menerimanya, ia tetap memutuskan pergi ke Australia. Gadis kejam. Tapi Sasuke juga yakin, Hinata masih membutuhkan waktu untuk mengobati luka.

Sasuke memakluminya. Yang pasti, perlindungan Neji dan Hiashi pada gadis itu akan mempertahankan Sasuke menjadi calon menantu keluarga Hyuuga. Halah, kepedean.

Hinata tersenyum saat tatapan mereka bertabrakan. Gadis itu berjalan mendekat. "Jangan c-cemberut, Sasuke."

Menyerah, Sasuke tersenyum tipis, "Hn."

Hinata menatap jam. Waktu keberangkatannya sebentar lagi, "A-ada yang ingin kau katakan lagi?"

Sasuke menghela napas. Melepas egonya. Menarik gadis itu mendekat, ia berbisik, "Kau milikku, jangan lupa. Dan jangan coba-coba mencari lelaki yang lain."

Hinata tertawa ringan.

Pemberitahuan keberangkatan diberitakan sebanyak dua kali.

Berpelukan untuk terakhir kalinya, Neji memaksa Sasuke melepas pelukannya pada Hinata. Tak rela, Sasuke tetap menyaksikan kepergian Hinata.

"S-sasuke!"

Sasuke menatap gadis yang berjalan paling akhir itu. Menangkap gerakan bibir gadis itu.

'Aku mencintaimu …'

Sial. Kenapa malah mengatakannya di saat mau pergi. Dasar keji.

"Aku juga mencintaimu, Hinata …"

.

.

.

THE END

.

.

.

Empat tahun kemudian.

Hinata belum pernah kembali ke Jepang. Sasuke tak pernah datang ke Australia.

Mereka hanya berhubungan sebatas e-mail dan telepon—yang lebih sering dibajak Neji karena sebal. Hinata sedang kuliah dan Sasuke juga. Mereka sama-sama sibuk dan tak bisa menghabiskan waktu lebih lama dari sekadar bercakap-cakap.

Apa boleh buat.

Hinata menarik lengan temannya, gadis campuran Australia-Jepang yang tak mengerti bahasa Jepang, Shion.

"S-shion, let's go to the next class." (Shion, ayo pergi ke kelas berikutnya.)

Shion tertawa ringan, "Hinata, Mr. Blackhear won't come today, remember?" (Hinata, Pak Blackheart tidak datang hari ini, ingat?)

Hinata menghela napas, "Oh, okay. May I go home right now?" (Oh, baiklah. Bisa aku pulang sekarang?)

Hinata dan Shion berjalan beriringan menuju gerbang kampus.

"Sure. Hey, Hinata, don't you think that person is looking at us?" (Tentu. Hei, Hinata, apakah orang itu sedang memperhatikan kita?)

Hinata tak melirik, "Just i-ignore it, Shion. Maybe he's just a pervert." (Abaikan saja, Shion. Mungkin saja orang mesum.)

"Really? He's sexy, you know? Aww, he doesn't stop starring at us!" "Benarkah? Dia seksi, kau tahu? Aww, dia tak berhenti melihati kita!"

"Oh, Shion! S-stop it!" (Oh, Shion! Hentikan!)

"H-hinata. This is no joke. He is pointing at you … directly." (H-hinata. ini bukan lelucon. Dia sedang menunjukmu.)

Kali ini suara Shion serius, Hinata melirik ke depan.

Buku-buku mata kuliahnya berjatuhan. Shion terkejut.

"Hinata, what are you doing?!" (Hinata, apa yang kau lakukan?!)

"S-shion, he's totally a pervert! Y-you should go home right now!" (S-shion, dia itu memang orang mesum! K-kau sebaiknya pulang sekarang juga.)

Setelah berdebat bersama Shion yang tak berhenti menggodanya, Hinata kembali mengumpulkan bukunya yang berserakan.

"Hei, siapa yang mesum?"

"Kau."

"Sudah jauh-jauh datang ke sini malah disebut mesum."

Setangkai mawar diacungkan didepan wajah Hinata. Gadis itu tersenyum tipis.

Hinata menghela napas, berusaha menahan rasa bahagia yang meledak-ledak. Ia mendongak, "Selamat datang, Sasuke."

"Hai, Hinata."

Sasuke ikut berjongkok, membantu Hinata mengambil buku-bukunya. Ia tersenyum nakal.

"Hinata?"

"Hm?"

Hinata terbelalak saat Sasuke mencium bibirnya. Sasuke tertawa melihat wajah Hinata. wajah gadis itu sudah memerah, ia terbata-bata.

"M-mesum!"

.

.

.

TAMAT

A/N: Saya minta maaf! Maaf untuk semuanya. Maaf karena lama update, karena ceritanya mungkin cheesy, endingnya yang agak gimana, maaf ya! Jujur saja. Saya kehilangan mood karena beberapa chapter awal yang pengen saya rombak habis-habisan tapi sudah terlanjur begitu—gimana bilangnya ya … Maaf udah dianggurin sekian lamanya. Saya janji mau update tapi batal melulu karena hilang feel. Huhuhu … Maaf dan semoga cerita ini menghibur.

Terima kasih untuk:

Author tanpa nama, hinataholic, lina tyolina, Renita Nee-chan, Shirary-Ai, Ahel, semanggi, bebek kuning, seman99i, nunu, aindri961, Ashura Darkname, Name NM, siiuchild, aina freedom, Uzumaki NaMa, Ry, Devil-kun, CIELAngel,Nurul851, zxkyfq, L, geminisayanksayank, AyuTri Darkviolets482, cintyacleadizzlibratheea, Akiko Han, tiasiambaton, IChikaze Kimi, shu, Yurika-chan, nuruss-chan, Virgo Shaka Mia, lavender, NaruDEmi, Alicia Uchiha, Nurul851, yui, Daisy Uchiha, mikyu-chan, Angel821, Guest, HyugaRara, Cassi Hime, Furi Tsuyoko, UC, Asyah Hatsune, Wekaweka, Aulya'aina731, AyaseChihaya0503, Vii Violeta Anais, arisankjm, Neneng Che Nauna854, clarin, viananeesan, Nurmala Prieska, Cho377, fira, Rei D'Nightmare, Cassy di Hime, A-Chan, miss kameko,

2015,1,10718, Baby niz 137, Euiko Katayanagi, Fleur Choi, Ichira Ryuu-Gaki, IkaS18, Kanayla, Lavienda, Nita-chan SHL, RayuYuki,Rosella Lavender, Sora Hinase, The Deathly lavender, Uzumaki Danty, anggra,ab, azima,farida, chintya,hyuuga, diyah,adwrm, gete-virus, hikarilavender, hiru neesan, kyucel, lhala,luph,u, Ilyaneji, mianaav,av, nyonya uchiha, putrilestarilibra164, riichan's matahari, sasuhinaa, zielavienaz96, Angel voices, Green Oshu, Lawchan-Ai, Line-chan SHL, Lunawula, Nadeshiko Padmini, Rikudo-chan, Ucihaii, agathalin, harmonika chan, heztzander, misshyo, narunako.

Dan semua siders, terima kasih. :)

Sampai jumpa,

Ether-chan