(HunHan) Ba-dump Ba-dump 2
Warning: T, fluff, romance YAOI, dorm!au
.
.
.
"Sehunnie, kau mau keluar bersamaku?" namja yang menyukai Rusa itu menemukan magnae kesayangannya tengah tidur dengan lelapnya.
Suara Luhan pun tak sedikitpun mengusiknya. Luhan perlahan mendekati namja yang tertidur dengan tenang itu. Tidak seperti dirinya yang jika tidur akan menendang siapa saja yang ada di dekatnya. Seolah kasur itu hanya miliknya, bertindak seperti penguasa.
Lain halnya jika ia tidur bersama Sehun. Namja berkulit seputih susu itu punya caranya sendiri agar tak disingkirkan dari ranjang oleh hyungnya ini. Tinggal peluk saja Luhan dengan erat hingga ia tak bisa bergerak; dengan begitu ia akan membiasakan diri dan balas memeluknya. Sehun sengaja tidak memberitahu cara jitunya ini pada member lain. Karena pada akhirnya mereka akan menyerah dan meminta Sehun bertukar kamar dengannya. Sedikit licik, tapi efektif kan?
"Aku bingung, kenapa seorang bocah sepertimu bisa setampan ini, hmmp?" tanyanya seraya mengusak rambut pink cotton candy milik Sehun.
Namja itu menggeliat dan mengeluh dalam tidurnya, tanpa sengaja memukul tangan Luhan. Namja berambut pink gelap itu terkekeh dan dengan usil mengusak rambut itu dengan kasar. Hal itu membuat Sehun mengerang dan mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Posisi Sehun sekarang memberikan pemandangan yang indah di mata hyungnya itu. Luhan bisa melihat wajah Sehun dengan lebih jelas; kulit putih, mata yang indah di balik kelopak yang tertutup itu, hidung yang mancung, bibir pink yang mengagumkan, dan struktur wajah yang sempurna.
'Sungguh, bocah ini sangat tampan.' Batin Luhan.
Namja yang menggemari bola itu memajukan bibirnya beberapa senti, kemudian mencubit pipi namja yang kini lagi-lagi terusik olehnya. Luhan merasa sedikit cemburu atau iri pada magnae EXO ini. Saat semua orang mengagumi ketampanan seorang Oh Sehun, Luhan malah menapat pujian –yang menurutnya merupakan sebuah hinaan- seperti...
'Kau sangat CANTIK, Lu.' Hampir sebagian besar kenalannya mengatakan begitu.
Atau...
'Luhan NOONA oppa~' fangirl saat fansigning yang membuat Luhan bad mood.
Dan yang paling menyebalkan...
'N-NONA, ini toilet namja. Toilet yeoja di ujung lorong sebelah kanan.' Seorang ahjusi di toilet umum saat di Taman Hiburan.
BRUGH!
"Akh appo!" namja yang sedari tadi tertidur itu sontak bangun dari tidurnya dan meringis kesakitan. Salahkan saja namja asal China yang tengah menindih perut Sehun dengan perutnya sendiri. Namja itu melampiaskan rasa cemburunya dengan meloncat ke atas Sehun.
Sehun mengerjabkan matanya dan berusaha mencari tahu siapa tersangka yang membuatnya terkejut. Ia melihat Luhan yang tersenyum 5 jari seraya mengguling-gulingkan tubuhnya di tubuh Sehun.
"Lu~ apa yang kau lakukan, eoh?" tanya Sehun terkekeh kecil melihat tingkah kekanakan hyungnya itu. Luhan berhenti berguling, berhenti di tempat pertamanya menghempas tadi.
"Mem~ba~ngun~kan~mu~" ucap Luhan lebih seperti sebuah nyanyian. Sehun lagi-lagi terkekeh, ia mengusak rambut hyungya itu.
"Kenapa membangunkanku?" namja yang di atasnya itu melengkungkan bibirnya ke bawah. Tanpa aba-aba, ia langsung menggelitiki pinggang namja di bawahnya.
"Uwaaa haha..Lu hajim-haha..hajima..." tubuh tinggi itu menggeliat-geliat menghindari serangan tangan Luhan yang bergerilya disekitar pinggangnya.
"Berani sekali kau memperlakukanku seperti anak kecil, magnae! Rasakan ini!" ujarnya dan dengan kejam terus menggelitiki namja bermarga Oh itu.
"Haha.. arra arra haha..mian, Lu.." akhirnya Luhan berhenti menyiksa dongsaengnya itu. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi Sehun yang bangkit dan merapikan t-shirtnya.
"Jadi.. aku ingin mengajakmu minum Bubble Tea. Otthe?" Sehun tersenyum senang dan mengangguk. Tentu saja ia mau, namja tampan ini sangat menyukai minuman yang manis itu.
"Apa sekarang kau sudah mulai menyukai Bubble Tea, Luhannie?" tanya Sehun dengan memiringkan kepalanya. Ia ingat, dulu Luhan pernah bilang bahwa Bubble Tea itu rasanya seperti susu basi. Sehun hanya tertawa menanggapinya.
"Ahni, aku hanya berusaha terbiasa." Jawab Luhan seraya menggelengkan kepala. Sehun mengerutkan dahinya, lalu kenapa hampir setiap hari ia mengajaknya membeli minuman itu? Dan yang terpenting, kenapa harus membiasakan meminum minuman yang tak kau sukai?
"K-kau menggilai minuman itu. Aku pikir, aku juga harus menyukainya." Ujar Luhan menambahkan, saat melihat wajah keheranan Sehun. Ia memainkan jemari tangannya dan menekurkan kepala.
Entah mengapa, Sehun merasakan influsnya berkerja lebih cepat. Perasaan bahagia yang tak tahu darimana datangnya, memenuhi rongga dadanya. Ia menampilkan lekungan indah di bibirnya, lalu menyentuh jemari hyungnya.
"Gomawo, Xiao Lu." Sekali lagi, Sehun tidak tahu alasan kenapa ia harus berterimakasih? Tapi Luhan menganggukinya juga, bahkan ia tersenyum dengan bibirnya yang mungil itu.
"Mandilah, a-aku tunggu di depan." Setelah semenit yang terasa selamanya, Sehun melepaskan tangan hyungnya. Membiarkan namja China itu menunggu di luar.
"Sehunnie..." namja yang menggunakan kaos v-neck berwarna putih itu berhenti di tengah langkahnya. Ia tidak membalik tubuhnya.
"Ne, Xiao Lu?" tanya Sehun yang sebenarnya sedari tadi masih memandangi punggung Luhan, tak berniat masuk ke kamar mandi sampai namja di depannya pergi. Sehun lagi-lagi tak tahu alasan kenapa ia melakukan hal aneh seperti ini. Ia suka menatap punggung hyungnya itu.
'Aku mulai aneh.' Pikirnya.
"Ummp... bisakah kau tidak terlalu sering, memanggilku dengan Xiao Lu?" namja yang lebih muda 4 tahun dari Luhan itu sedikit terkejut dan kebingungan. Sayangnya Luhan membelakanginya, sehingga mereka berdua tidak bisa melihat ekspresi masing-masing.
"W-wae, apa kau tidak suka? Bukankah Kris hyung juga memanggilmu begitu?" Suara itu terdengar berat dan tersirat rasa kecewa di sana. Ia merasa hyungnya ini sedikit lebih akrab dengan namja bermarga Wu itu.
"A-ahniya, aku hanya.. kau tahu? Aku..." Dalam hati, Luhan merutuki bagaimana kata-kata sulit keluar, seperti tersekat di tenggorokannya. Bagaimana kakinya terasa lemas seperti tak bertulang. Dan betapa basah tangannya saat ini. Sehun tetap diam, sabar menunggu apa yang akan diucapkan Luhan.
"Akutidakinginjantungkumeledak!" Luhan mengucapkan semua itu dengan satu tarikan nafas dan telinga yang memerah –hanya bagian itu yang bisa dilihat Sehun-. Kemudian keluar dari kamar itu sebelum dongsaengnya itu bertanya lebih.
Namja tampan itu masih diam disana selama beberapa menit bahkan lebih. Ia mencoba memproses ucapan hyungnya yang can- tampan itu. Semenit kemudian ia merasakan jantungnya berkerja berkali-kali lipat lebih cepat dari biasanya. Semburat merah tipis terlihat kontras dengan pipinya yang putih.
Yah, terlalu sering memanggil Luhan dengan panggilan 'Xiao Lu' sepertinya bukanlah ide yang baik. Baiklah, harus ia akui bahwa, melihat telinga namja yang can- ok ok. Melihat telinga namja CANTIK itu memerah saja, sudah membuatnya serasa mengambang –karena saking bahagianya. Bagaimana jika ia memanggilnya dengan nama 'itu', dan ia akan mendapati wajah manis itu memerah seperti apple yang ranum?
Ba-Dump Ba-Dump!
Namja dengan mata hazelnya yang terang itu, meremas t-shirt sky bluenya tepat di sebelah kiri –tepat di jantungnya yang berdegub kencang. Baiklah, sepertinya itu memang ide buruk. Seperti kata Luhan, "Aku tidak ingin jantungku meledak!"
"Hufft~" ia mulai terdengar seperti Jongin yang akhir-akhir ini sering bercerita dan mengeluhkan soal kinerja jantungnya yang memekakkan telinga, saat berada di dekat Kyungsoo hyung.
"Aku butuh sesuatu yang dingin." Sehun mulai mengguyuri tubuhnya dengan air shower yang dingin. Ah satu lagi, suhu tubuhnya juga sering meningkat di dekat Luhan. Ok, stop there.
enD
