HEUKSANDO STORY

Pairing: Park Jimin , Min Yoongi

And the other cast…

Genre: Romance, Family, Hurt, M-Preg (Male Pregnant)

Warning: BOY x BOY, TYPO BERTEBARAN, BTS SEVENTEEN CAST

Sebelum membaca, tolong perhatikan tahunnya ya…

Jeonukim's Present

Chapter 7

Min Yoongi 26

Park Jimin 30

Jeon Jungkook 5

Kim Mingyu 21

Jeon Wonwoo 17

.

.

.

[2017]

"Masih, selalu dan selamanya aku akan mencintaimu."

Jimin pun mengecup bibir Yoongi lembut, membagi rasa hangat disana. Yoongi sendiri berusaha membalas dan mengimbanginya, namun pada akhirnya kecupan itu berubah menjadi sebuah ciuman yang sedikit menuntut.

Awalnya Jimin hanya ingin menyalurkan rasa rindu lewat sebuah kecupan hangat, namun akal sehatnya terbang dan terbuai. Jimin menuntut lebih dari sekedar kecupan.

"Honey, are you okay with this?"

Yoongi mengerti apa yang dimaksudkan oleh Jimin, laki-laki itu tidak sedang bertanya tentang ciumannya. Namun ia meminta ijin untuk melakukan hal yang lebih dari itu. Yoongi pun mengangguk dan mengalungkan kedua tangannya pada leher Jimin yang kini sudah berada di atasnya.

"Just do whatever you want, hyung. I know it's hard for you to wait, but now… I'm yours."

"Yeah, you are mine baby, now and forever."

Biarkan kali ini Jimin bersikap egois, pengorbanannya selama ini memakan waktu yang begitu lama dan sulit. Tak ada waktu baginya untuk memikirkan bagaimana hasrat diri bisa tersalurkan, karena masalah yang selalu datang bertubi-tubi. Namun saat ini Yoongi telah kembali ke pelukannya, berada disisinya, dan menguatkan dirinya. Jadi, anggap saja malam ini adalah sebuah kado spesial bagi seorang 'Hero' seperti dirinya. Berlebihan memang, lagi pula siapa juga yang peduli.

Meskipun hasrat diri begitu membuncah, Jimin tetap memegang akal sehatnya. Ia tak ingin melukai Yoongi karena sudah terlalu lama ia tak bisa memiliki Yoongi seutuhnya. Jimin ingin memberikan malam yang berkesan bagi sang belahan jiwa.

Jimin memulainya dengan memberikan kecupan kupu-kupu kepada Yoongi dari wajah, leher, dada hingga turun ke perut. Yoongi hanya diam dan menunggu. Ia membiarkan Jimin melakukan apapun yang laki-laki itu inginkan.

Jimin membuka pajama putih yang menutupi perut Yoongi dan mengecupnya. Ada sedikit rasa getir hinggap di hati Jimin saat melakukannya, mengingat dulu ada sebuah nyawa yang tumbuh di sana. Dengan kesadaran penuh Jimin mengakuinya jika ia juga yang telah membuang nyawa tak berdosa itu.

Laki-laki itu mendongak dan menatap wajah Yoongi.

"Sayang, ijinkan aku menitipkan malaikat kecil di sini. Beri aku kesempatan sekali lagi." Yoongi tersenyum saat Jimin megusap lembut perutnya.

"Dan aku tidak akan membiarkan hal buruk merenggut dirinya termasuk tangan kotorku ini, Sayang. Akan ku sayangi dia, sampai ia bisa terlahir ke dunia ini dan melihat betapa kuat dan cantiknya dirimu."

Yoongi masih tersenyum sembari mengelus surai Jimin. Laki-laki itu kembali mengecupi perut Yoongi seakan kecupan itu sebagai doa agar Tuhan memberikan ia dan Yoongi kesempatan kedua.

.

Tanpa Yoongi ingat kapan Jimin melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya, kini ia sudah berada dalam kungkungan Jimin bahkan bercumbu dengannya tanpa sehelai benang pun. Yoongi hanya mengikuti alur yang dimainkan oleh Jimin karena tak begitu banyak yang ia ingat, terlebih sudah lama sejak terakhir kali ia bercinta dengan Jimin.

Yoongi meraup banyak sekali udara setelah Jimin melepaskan ciuman mereka, namun laki-laki itu tak berhenti hanya disitu saja. Kini Yoongi melenguh pelan saat Jimin menghisap titik sensitifnya di leher.

"Eungh…"

"Aku masih ingat di mana itu sayang." Ujar Jimin setengah menyeringai.

"A-apa?"

"Daerah sensitifmu, Honey…"

"Hah? Eungh H-hyung."

Jimin melakukanya lagi. Bahkan ia terus menandainya. Setelah puas membuat kulit leher Yoongi yang putih nan mulus itu menjadi penuh dengan kiss mark, Jimin turun menuju dada Yoongi. Seringai itu terlihat begitu jelas saat berhadapan dengan dada Yoongi yang berisi. Yoongi sendiri masih berusaha menormalkan deru nafasnya dan hanya bisa menelan ludahnya gugup. Sepertinya memang malam ini ia akan menjadi milik Park Jimin 'seutuhnya'.

"Apa ini bisa jadi lebih besar saat kau hamil nanti?"

Yoongi mengernyitkan dahinya heran.

"Dadaku?" Tanya Yoongi memastikan.

"Ya, terakhir ku ingat keduanya menjadi lebih berisi saat kau hamil dulu."

Yoongi terkekeh pelan, namja manis itu mengusap peluh di dahi Jimin dengan lembut.

"Tentu saja. Sumber makanan anakmu nanti akan keluar dari sini, Hyung."

"Apa itu artinya aku akan berbagi?"

Yoongi tertawa mendengarnya. Merasa lucu dengan pertanyaan Jimin yang sarat akan kecemburuan.

"Hyung… Kau pasti sudah tau jawabannya."

"Kalau begitu aku akan memakai kesempatanku sebaik mungkin."

"Aakh H-hyung pelan-pelan."

Yoongi memukul pundak Jimin dan mengaduh saat laki-laki itu menghisap dada kirinya dengan sedikit brutal, namun yang Jimin lakukan setelahnya hanyalah tersenyum bodoh.

Selanjutnya yang Yoongi lakukan adalah mencengkeram kain di sekitar tangannya dengan wajah mendongak keatas. Ia berusaha meredam setiap desahan yang akan keluar dari mulutnya saat Jimin menemukan titik yang tepat.

Jimin melakukannya perlahan, merasa tak ingin terburu-buru dan menyebabkan ada bagian yang luput dari jamahan bibirnya. Bahkan Jimin tak melewatkan bagian paha Yoongi yang terasa begitu halus dan terlihat sama bersinarnya seperti bagian tubuh Yoongi yang lain. Meskipun cahaya di kamar itu meremang, tapi Jimin bisa melihat tubuh Yoongi yang seakan bersinar terang. Begitu lembut dan memabukkan.

Tiap jarahan bibir itu selalu meninggalkan tanda. Jimin ingin Yoongi mengingat dirinya pernah berada di bagian tubuhnya. Jimin mengangkat satu kaki Yoongi dan meletakkannya di atas pundak tegap miliknya. Hal itu ia lakukan untuk mempermudah kegiatannya yang lebih intim.

Satu desahan lolos dari bibir Yoongi saat Jimin tanpa aba-aba meremas twinsballnya yang sudah tak tertutup apapun, dan Jimin menyukai itu.

"Keluarkan saja, Honey. Aku tak suka melihatmu menahannya. Aku ingin mendengar suara desahanmu."

"Agh oh-"

Jimin meremasnya sekali lagi dan efeknya membuat punggung Yoongi sejenak menjauh dari tempat ia berbaring. Bahkan Jimin bisa melihat milik Yoongi yang sudah mulai tegang dan basah.

"J-Jimin H-hyung oh-"

Tubuh Yoongi makin menggelinjang saat Jimin mulai memusatkan mulutnya pada pusat tubuh Yoongi.

"Oh god, hyung that feels so good. Agh-"

Jimin tersenyum di tengah kegiatannya mengulum milik Yoongi. Tubuhnya makin merendah dan hal itu semakin menggoda Yoongi yang sudah tak karuan disana. Jimin melakukannya dengan perlahan namun lidahnya begitu terampil di sana. Hal itu cukup menyiksa bagi Yoongi. Nafas namja manis itu tersenggal-senggal seiring dengan kegiatan mulut Jimin pada pusat dirinya.

"PARK JIMIIINNN!"

Yoongi meledak dalam sebuah kepuasan yang cukup panjang seiring dengan tubuhnya yang kembali merosot turun dengan begitu lemas.

"It's still delicious Baby, warm and sweet."

Jimin mengecupi milik Yoongi dan membersihkan sisa-sisa cairannya. Lalu beralih ke wajah namja manis itu yang terlihat begitu pasrah. Yoongi hanya mengalungkan kedua tangannya di leher Jimin.

"Can you feel that?"

Yoongi semakin merona saat Jimin menempelkan milik keduanya. Yoongi bahkan tak harus melihat kebawah untuk memastikan jika milik Jimin semakin membesar di bawah sana.

"Um…"

Yoongi akui ia sangat malu sekarang, meskipun hal ini bukanlah yang pertama bagi dirinya. Jimin terkekeh dan semakin gemas melihat tingkah Yoongi yang malu-malu itu.

"Tatap aku, Sayang…" Jimin meraih dagu Yoongi untuk menghadapnya lalu mengecup ujung hidung Yoongi dengan lembut.

"Hey baby, I need my 'home'. I wonder how it feels now. Aku merindukannya setiap waktu, Sayang."

Meskipun malu, Yoongi memberanikan diri untuk menatap Jimin.

"Kalau begitu pulanglah Hyung. Rumahmu akan selalu siap, tapi kau harus berusaha sedikit untuk masuk ke dalamnya. Kau tau kan pintunya akan sulit dibuka saat tak pernah ada yang berkunjung."

Jimin terkekeh pelan lalu menggesekan ujung hidungnya dengan si mungil yang kini masih setia berada dalam kungkungannya.

"Apa kau butuh pelumas, Sayangku?"

Yoongi hanya menggeleng.

"I already wet hyung, it's enough for you to come in without hurting me."

Jimin pun mulai mencium bibir Yoongi dan satu tangannya bekerja dibagian manhole namja manis itu. Satu jari ia gunakan untuk membuat Yoongi terbiasa, dan saat merasa Yoongi baik-baik saja Jimin mulai menambah jumlah jarinya hingga manhole Yoongi merenggang. Yoongi terlihat sedikit gelisah saat ia merasakan sesuatu yang bukan jari Jimin mulai berusaha menerobos masuk ke dalamnya dan Jimin hanya mengalihkan hal itu dengan ciuman yang semakin panas.

Meskipun tak seperti saat pertama kali ia bercinta dengan Jimin, Yoongi masih saja merasakan sakit seperti tubuhnya terbelah. Namun, hal itu hanya masalah waktu saja karena Yoongi belum terbiasa.

"God! You feel so tight baby, ugh!"

Jimin melepaskan ciumannya saat merasa ia agak kesulitan di bawah sana.

Namun laki-laki itu terus berusaha mendorong miliknya yang sudah setengah terkubur di dalam manhole Yoongi.

"Are you okay?"

"Argh, it's little bit hurt but I'm okay hyung. Ugh-"

Jimin menarik mundur pinggangnya dan menghentakkannya lagi ke depan dengan begitu keras membuat miliknya tertanam seluruhnya di dalam milik Yoongi.

"AKH! Please don't move!"

Yoongi benar-benar merasa seperti terbelah dan penuh, namun rasa sakit itu berangsur hilang saat Jimin kembali mencumbu bibirnya. Rasa hangat sentuhan lidah Jimin di dalam mulutnya membuat gelenyar kenikmatan itu semakin mengalir ke seluruh tubuh mungilnya menggantikan rasa sakit yang kini mulai hilang secara perlahan.

Jimin mencoba untuk bergerak perlahan. Laki-laki itu memaju-mundurkan pinggangnnya dengan tempo yang pelan. Bisa Jimin lihat jika Yoongi sudah mulai terbiasa dengan dirinya, dan ia pun mulai menambah tempo hentakannya.

"Oh, H-hyung a-ku ingin k-keluar."

"Hold on babyh! Agh-"

Jimin terus menambah tempo hentakannya, hal itu membuat Yoongi menggila. Namja manis itu meremas surai Jimin dan membuatnya semakin berantakan, sedangkan Jimin selain ia bekerja di bawah sana bibir dan lidahnya tak tinggal diam. Keduanya ikut bekerja untuk memanjakan perpotongan leher Yoongi, membuat milik namja manis itu siap untuk mengeluarkan laharnya lagi.

"I can'th holdh ith any moreh, oh, JIMIN HYUUUNG!"

Yoongi lebih dulu melepaskan klimaksnya hingga cairannya meleleh di atas perutnya maupun Jimin, dan dengan sisa-sisa tenaga yang ada ia kini membantu Jimin untuk mencapai kepuasannya. Namja manis itu mengalihkan wajah Jimin dari perpotongan lehernya menuju wajahnya. Ia mencium bibir Jimin dan menjadi pemegang kendali dalam ciuman mereka.

Namun tak berapa lama Jimin melepaskan ciuman mereka.

"AGH- UGH- YOONGIIII!"

Jimin meletakan wajahnya di perpotongan leher Yoongi yang penuh dengan kissmark. Tubuhnya merosot di atas tubuh Yoongi meski ia masih berusaha mengumpulkan tenaganya agar tak menindih Yoongi sepenuhnya. Jimin merasakan cairannya mengalir begitu banyak di bawah sana sedangkan Yoongi sendiri merasakan sesuatu yang hangat memenuhi dirinya. Ia bisa merasakan sebagian cairan Jimin yang keluar dari manholenya. Yoongi mengusap surai Jimin pelan. Laki-laki itu masih saja bernafas dengan tersenggal-senggal. Yoongi bisa merasakan perut Jimin terhentak beberapa kali seperti kepuasan yang begitu dalam sedang mengaliri tubuh laki-laki itu.

.

.

Sementara Jimin dan Yoongi melepas rindu dengan menghangatkan ranjang mereka, di kediaman baru keluarga Kim Namjoon dan dokter Kim Seokjin yang bertempat didekat pelabuhan sedang diadakan sebuah pesta kecil. Tak banyak yang datang, hanya koloni Jimin yang ditugaskan untuk tinggal di pulau Heuksan.

Bersamaan dengan pesta kecil di rumah keluarga Kim, sebuah pesta kembang api tahunan dirayakan di pelabuhan oleh masyarakat setempat, membuat tempat itu sedikit lebih ramai dari biasanya. Namun Jimin sudah berpesan kepada Namjoon, tangan kanannya yang juga suami dari Seokjin, untuk tidak mengikuti kerumunan dan menjaga koloninya agar tetap aman. Karena Jungkook sedang berada di tempat itu bersama Mingyu dan Wonwoo, maka tempat paling aman bagi mereka adalah rumah Namjoon. Lagi pula, kembang api akan tetap terlihat jelas dari halaman belakang rumah itu.

Di saat para orang dewasa menikmati pesta kecil itu dengan mengobrol dan memanggang daging, ada dua bocah yang terpaut usia dua tahun yang juga sedang menikmati pesta dengan cara mereka sendiri.

Sejak Jungkook datang, Taehyung langsung memonopolinya dengan mengajak yang lebih muda untuk bermain di kamarnya. Taehyung sampai meminta Mingyu untuk menggendong Jungkook karena kamar anak itu terletak di lantai paling atas rumahnya.

Karena bosan hanya menunggui kedua bocah itu bermain, Mingyu memutuskan untuk turun dan bergabung dengan orang dewasa yang lain. Lagi pula rumah itu sangat aman, jadi Mingyu tak perlu khawatir jika meninggalkan keduanya.

Awalnya Taehyung memberikan kepada Jungkook semua mainan yang ia punya, terlebih mainan robot Iron Man yang menjadi favorit Jungkook. Setelah itu mereka memutuskan untuk bermain penjahat dan superhero, lalu tertawa terbahak-bahak saat terjatuh bersama di atas ranjang.

Jungkook sudah besar, usianya lima tahun saat ini. Ia sudah mengerti jika yang dirasakannya adalah bahagia, selain itu ia juga merasa aman. Meskipun trauma masa kecil yang disebabkan oleh tuan Jeon sangat sulit untuk dilupakan, tapi saat ini ia merasa begitu aman. Jungkook suka sekali dengan Taehyung, ia akan lebih memilih Taehyung meskipun Seungkwan adalah teman dekat di sekolah TKnya.

Setelah lelah bermain, Taehyung mengajak Jungkook untuk duduk di dekat jendela kaca yang menghadap langsung kearah pelabuhan. Dari sana mereka bisa melihat beberapa kembang api yang sudah mulai diluncurkan.

Ditemani dua gelas susu coklat dan kue kering yang di bawakan oleh Seokjin, kedua bocah itu duduk berdampingan sembari mengagumi keindahan langit malam yang bertabur kembang api.

"Keren sekali." Ucap Jungkook dengan mata berbinar.

"Kookie suka kembang api?"

Pertanyaan itu pun dibalas dengan anggukan antusias dari yang lebih muda.

"Di Seoul selalu ada pesta kembang api setiap hari minggu malam, kalau di disini kan hanya setahun dua kali. Saat festival ini dan tahun baru saja kata Mommy. Kookie, ayo ikut dengan hyung ke Seoul! Nanti kau bisa lihat kembang api lebih sering."

Jungkook mengunyah kue keringnya dan memandang Taehyung dalam diam, anak ini sedang memikirkan sesuatu.

Lalu, sebuah gelengan Jungkook berikan pada Taehyung.

"Kenapa? Kookie bisa ajak Mommynya Kookie juga kan ke Seoul."

Orang yang Taehyung maksud sebagai Mommy dari Jungkook adalah Yoongi, sejak awal ia menganggapnya begitu.

"Kookie takut sama appa." Jawab anak itu begitu polos.

Taehyung melihat wajah Jungkook yang menjadi sedih itu pun merasa bersalah, sepertinya Jungkook memang tidak suka dengan Seoul.

"Appa Kookie jahat ya?"

"Nde, appa suka pukul Kookie dan Wonu hyung. Kookie tidak suka appa, Kookie lebih sayang Mommy sama Chim chim ahjussi. Ah, Mingyu hyung juga. Kookie lebih suka tinggal di Heuksan."

Taehyung merapatkan dirinya dengan tubuh mungil Jungkook sembari merangkul bahu mungil itu.

"Hyung juga sayang sama Kookie. Hyung janji, kalau sudah besar nanti, hyung akan menjadi seperti appanya hyung. Karena appanya hyung selalu bisa menangkap orang jahat dan memberi mereka hukuman. Hyung akan melindungi Kookie, jadi nanti kita bisa main ke Seoul dan lihat kembang api setiap minggu malam."

Mata Jungkook yang bulat itu berbinar, ucapan Taehyung seperti mantra baginya. Jungkook mengangguk senang. Masih dengan sisa-sisa remahan kue kering di bibir, si kecil itu pun tersenyum dan memberikan Taehyung sebuah kejutan dengan mencium kecil pipinya.

Taehyung sedikit terkejut, ia merasakan ada remahan kue yang menempel dipipi kanannya. Namun namja berusia tujuh tahun itu tak marah, ia justru merasa senang dan tersenyum begitu lebar pada Jungkook.

"Gomawo hyung, Kookie sayang Taetae hyung."

Taehyung pun memeluk Jungkook, entah mengapa ia merasa begitu senang. Ia tak memiliki adik atau kakak, dan teman bermainnya pun dibatasi. Itu semua karena ayahnya, Kim Namjoon. Pria itu adalah seorang kepala kepolisian. Melihat Jungkook yang hanya terpaut dua tahun dengannya membuat Taehyung senang, ia bahkan selalu merasa gemas pada Jungkook.

Moment manis antara ke dua bocah kecil itu tak luput dari pandangan ibu Taehyung, Kim Seokjin. Karena setelah meletakan camilan untuk kedua bocah itu, ia memutuskan untu duduk di sofa depan kamar Taehyung dan membaca buku.

"Ah, manis sekali…" ucap Seokjin sembari tersenyum.

.

.

Yoongi membuka matanya perlahan, menyesuaikan bias cahaya yang masuk dan baru menyadari jika ia bangun setelah matahari naik. Mengerjap beberapa kali hingga senyum manisnya terkembang setelah mendapati sosok Jimin yang masih tertidur pulas di sampingnya.

Laki-laki itu sama berantakan dengan dirinya. Surai cokelat cenderung hitam yang tak karuan dan bibirnya yang sedikit terbuka. Yoongi tersenyum kecil. Jimin bisa tertidur begitu nyenyak setelah kegiatan malam mereka yang cukup menguras tenaga setelah pukul empat pagi.

Masih jelas teringat di benak Yoongi akan kegiatan mereka semalam, bahkan kini wajahnya mulai memanas. Jimin begitu lembut padanya, namun semua hanya terjadi di awal. Karena naluri mereka yang sudah terlalu lama merindukan sentuhan satu sama lain hingga melakukannya seperti tak ada hari esok.

Drrtt Drrtt…

Yoongi melihat ponsel Jimin menyala dan bergetar, sepertinya seseorang tengah menelepon Jimin. Karena terlalu jauh dari jangkauan Yoongi, namja manis itu pun membangunkan Jimin. Ia mengusap pipi Jimin perlahan hingga suaminya itu membuka sedikit matanya.

"Ugh, kau sudah bangun, sayang?" yang dibalas anggukan oleh Yoongi.

"Ponselmu." Tunjuk Yoongi kearah belakang Jimin dimana ponsel itu masih bergetar di atas meja nakas.

Jimin yang langsung mengerti pun bergegas menyambar ponsel miliknya, dimana sang penelepon sepertinya sudah tidak sabar menunggu.

"Halo…"

Yoongi melihat Jimin mengerutkan dahi, membuat ia tersenyum. Lucu sekali wajah Jimin saat baru bangun tidur, terlebih rambutnya menjadi berantakan tidak karuan. Dilihat dari ekspresi Jimin, sepertinya ia sedang mendengarkan hal penting. Hal itu bisa dilihat saat Jimin menekuk kedua alisnya, atau mengangguk paham maksud dari lawan bicaranya itu. Tak lama Jimin menutup teleponnya dan meletakkan kembali ponsel hitam itu di atas meja nakas.

Jimin mengalihkan pandangannya pada Yoongi yang masih setia berada di sisinya dengan senyuman manis yang amat baik bagi moodnya hari ini. Jimin ikut tersenyum lalu mengecup dahi Yoongi dan merebahkan kepalang pada dada polos Yoongi yang berhiaskan kiss mark.

"Aku ingin bertanya padamu." Ucap Jimin memecah keheningan diantara keduanya.

"Um…"

"Apa kau ingin bertemu dengan ibumu, sayang?"

"Tentu, aku sangat ingin bertemu dengannya. Ada apa, hyung?"

Jimin mengubah posisinya menjadi duduk bersandar pada tempat tidur.

"Aku sudah menemukan ibumu, sayang. Tapi sepertinya akan sangat sulit untuk membawanya pergi, karena tuan Jeon memberikan penjagaan yang begitu ketat."

Yoongi mencoba untuk bangun, meskipun kepalanya terasa sedikit berputar. Jimin membantunya, Yoongi meminta suaminya itu untuk mengambilkan atasan pajama miliknya.

"Apa tidak ada cara untuk membebaskan eomma, hyung?" tanya Yoongi sembari memakai atasan pajama miliknya.

Jimin terdiam, namun setelahnya ia menghela nafas Panjang.

"Ada, tapi sangat beresiko."

Yoongi memandang Jimin lekat, meminta laki-laki itu untuk melanjutkan ucapannya.

"Aku berusaha untuk tidak egois disini, jadi akan ku katakana padamu bagaimana caranya. Aku sudah memikirkan hal ini secara matang. Pertama, tuan Jeon selama ini memburu mu, sayang. Ia akan melakukan apapun demi membuat ibumu menurut padanya, dan cara yang ia tempuh adalah melalui dirimu. Aku tidak begitu paham dengan jalan pikiran pria pesakitan itu, hanya saja aku tak suka dengan caranya melenyapkan orang yang ia anggap mengganggu."

Yoongi menyimak ucapan Jimin dengan serius.

"Lalu?" tanya Yoongi saat Jimin terdiam cukup lama.

"Satu-satunya cara untuk membuat tuan Jeon lengah pada penjagaan ibumu adalah dengan menyediakan umpan."

"Umpan?" Yoongi mengernyitkan dahinya heran.

"Kau sayang, umpan itu kau. Itulah sebabnya ku katakana hal ini beresiko."

"Jika hanya ini satu-satunya cara, aku siap. Demi eomma…"

Jimin memandang Yoongi lembut, semoga perhitungannya kali ini tidak meleset. Karena jika ia salah sedikit saja maka ia bisa kehilangan Yoongi untuk selamanya.

.

.

.

.

Hari ini merupakan peresmian cabang baru dari perusahaan yang dimiliki oleh Jeon Woyoung, laki-laki itu tampak dingin seperti biasanya. Ia terlihat tak menikmati acara yang telah dibuat begitu sempurna itu, karena pikirannya masih melayang pada kejadian semalam.

Lee Nara, wanita yang ia cintai melebihi apapun di dunia ini. Wanita yang sudah ia pisahkan dengan keluarganya itu mencoba untuk bunuh diri, dan tentu hal ini bukan hanya terjadi sekali. Nara sudah sering melakukan percobaan bunuh diri sejak ia menyadari jika lelaki yang di cintainya, yaitu ayah Yoongi, bukanlah seperti apa yang ia kira selama ini.

Wanita itu kini terbaring lemah disebuah rumah sakit yang telah di jaga dengan ketat setelah berhasil mengiris pergelangan tangannya. Ia selamat, namun tak hidup. Bukan berarti ia mati, ia hanya depresi dan putus asa.

Serta penyesalan wanita itu karena tak bisa mencurahkan kasih sayang pada putra semata wayangnya, yang sudah ia tinggalkan sejak anak itu masih begitu kecil. Penyesalan yang hingga kini begitu menggerogoti tubuhnya, terlebih ia terjebak dengan mantan kekasihnya yang terobsesi padanya.

Nara merasa hidupnya begitu menyiksa. Meskipun wanita itu depresi dan putus asa akan keadaannya saat ini, ia tetap berharap Tuhan mengijinkannya untuk bertemu Yoongi suatu saat nanti. Harapan yang selalu ia genggam dan mematahkan perasaan Jeon Woyoung, tanpa ia ketahui jika hal itu membuat putranya diburu oleh sang mantan kekasih.

BRAK

Beberapa tamu undangan disana ikut terkejut saat Jeon Woyoung dengan emosi memukul meja dihadapannya, hal itu dikarenakan sebuh foto yang diberikan oleh pengawalnya.

Min Yoongi telah kembali, setelah beberapa tahun terakhir menghilang tanpa jejak. Putra dari wanita yang begitu ia cintai telah kembali, dan keadaannya membuat Woyoung tidak senang.

Yoongi sepertinya datang ke Seoul untuk mencari sang ibu, terlihat dari tempat dimana pangawalnya menangkap sosok Yoongi.

"Berani sekali anak itu muncul!"

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

It's short but enough, CH depan ku janjikan bakalan tamat ya reader-deul. NC nya sudah lunas yah, maaf kalo ga begitu bagus, cuz I'm not the master on writing NC. Terimakasih ku yang sebesar-besarnya untuk kalian yang masih setia buat nunggu ff gaje ini lanjut. terimakasih juga buat sarannya tentang betapa diriku ini memang harus aware sama yg namanya tanda baca. sedikit-sedikit ku perbaiki, semoga menjadi lebih baik ya. Once again thanks to you all, yg udah baca, fav, follow, terlebih buat yg menyempatkan diri untuk review, Thanks a lot. Daaannnnn, baru sadar kalo FF ini udah berumur setahun lebih. wkwkwkwkwwkwk, tapi belum kelar-kelar juga karena Authornya emang malesan orangnya, tapi tenang, CH depan udah tamat ko. Setelah Heuksan selesai, aku mau buat Trilogy. Ga akan sepanjang Heuksan, dan diriku masih berusaha menyelesaikan beberapa Ch. Supaya bisa fast update gitu. Ya intinya terimakasih sudah sejauh ini membaca FF saya, meskipun blm bisa jadi FF yang legend dan berkualitas. Feel free to ask me anything you want, Dm or Review are allowed, I promise to reply your question or Rivew. Pay Pay~ See ya next on the next chapter ^^

.

.

...withloveJeonukim...