Domestic Disturbance

Mystic Messenger
©2016 Cheritz Co,. Ltd. All Rights Reserved

Warn:
Out of Character, Male Pregnancy, typo(s), etc.


Pagi ini indah.

Bahkan ia bisa merasakan cahaya solar yang menembus jendela dan menampar kesadarannya untuk kembali. Ia menghadap jendela, bukan menghadap pasangan tidurnya. Badan dan kepalanya lalu berbalik, ingin tahu apa sosok itu masih ada di samping.

Sudah tidak ada, ternyata, ia telah pergi. Sebuah jam kecil di atas meja nakas memberitahu tentang kenyataan, memunculkan sebuah asumsi bahwa, yeah apalagi kalau tidak pergi bekerja? Ia benar-benar tipikal orang kantoran... atau sebenarnya lebih dari orang kantoran biasa.

Akhirnya ia berkeinginan untuk bangun. 'keinginan', angan-angan, dan harapan.

Namun apa itu namanya morning sickness. Ia kembali menyerahkan diri kepada permukaan empuk itu, sambil masih mengirim harapan kepada Tuhan agar kegilaan ini cepat berhenti. Rasa tidak mengenakan yang dijatuhkan kepada dirinya membuat tubuh tidak dapat bergerak.

Rasanya ia ingin muntah, namun tidak bisa... dan ini adalah bagian paling menjengkelkan. Sementara pergi merangkak ke pintu kamar mandi hanya akan memusnahkan hasrat hidupnya. Meringkuk dan meringkal, ia tidak tahu apa sambil hanya menggenggam... meremas selimut.

Tiba-tiba pintu kamar dibuka, namun dengan sangat kasar. Tanpa diketuk. Oh ia tahu, ini cara ampuh untuk membuktikan ia masih punya energi atau tidak. kalau ia masih bisa marah, berarti api masih membakar hatinya.

Sosok itu datang lalu berhenti tepat di depan mukanya, ia terlihat membawa sesuatu... sendiri? Tumben, ia mau mengotori tangannya sendiri, kan ada pelayan. Sebuah gelas dengan cairan mencurigakan pun diletakkan di atas meja nakas. Memberi isyarat halus bahwa 'segeralah minum itu sebelum aku menyiramnya ke wajahnmu' –di mata Zen. Walau tatapan dingin itu terlihat tidak berubah.

Dengan rasa sakit yang ia telan-telan saja, karena sebenarnya tidak ingin terlihat lemah... Akhirnya ia bangun dan duduk, sebenanya ingin menarik urat dahulu dengan laki laki ini, entah apappun itu tapi ia senang saja kalau membuang emosi kepada wajah tembok di hadapannya. Akhirnya gelas itu sudah di ambil Zen. Cairannya warna jingga tidak jelas. Apa ini air kunyit? Jamu? Berhubung dia sudah haus darah, ia tenggak saja langsung... Meskipun 1 teguk pertama ia merasa aneh, tapi ia telan saja. Lalu ia bertanya, "air apa ini?"

Jumin terlihat membutuhkan waktu beberapa saat untuk menjawab pertanyaan ringan seperti itu. Sambil, Zen mulai merasa nyaman dengan cairan yang ia anggap adalah susu rasa jeruk. Mungkin rasanya enak, hingga ia bisa menerimanya begitu saja.

"Susu ibu hamil."

"PFFFFFTTTTTTT...!"

Langsung ia sembur mahluk di depannya dengan hydrant susu rasa jeruk. "KAU SUDAH GILA?!"

Tapi ia diam saja seperti pisikopat, sayangnya ia tak terciprat sedikitpun. "Apa aneh aku memberi susu hamil pada orang yang sedang hamil?"

"Tapi tetap saja!" Gelas itu mungkin bisa pecah dalam genggamannya.

Tetapi, ada sedikit realita di kepalanya yang menampar emosi yang meluap barusan. Ia mengalihkan pandangan dan berusaha menatap objek lain, sehembus nafas berat mengalir darinya. Tetap saja... tetap saja memang.. ia belum bisa menerima semuanya.

"Bagaimna rasanya?"

Pandangan dari sepasang matanya langsung teralih, "... tidak begitu buruk." Ia mencoba untuk jujur walau tidak sepenuhnya.

"Habiskan."

Kalau, kalau... kalau saja ia sedang tidak hamil sungguhan mungkin gelas itu akan langsung dilemparkan kepada wajah menjengkelkan di depannya. Bagaikan menelan ludah sendiri, dengan tatapannya yang masih gondok itu, "... baiklah, aku tidak pernah menyangka aku akan menelan sesuatu seperti ini!"

Karena memang di awal ia sudah cukup semangat menghabiskannya sampai setengah gelas, tidak sulit baginya untuk melanjutkannya hinga akhir.

Zen menurunkan gelas yang sudah kosong itu dari mulutnya, "kau tidak pergi?"

"Nanti."

"Sampai kapan?"

"Sampai kau merasa lebih baik."

Sunguh dari palung hatinya yang paling dalam, ia tersentuh. Namun tatapan Zen tidak berubah dongkolnya.

Tetapi tiba-tiba Jumin menundukan badannya, dan mendekat... melihat adanya pergerakan sekaligus ancaman mulai mengudara, Zen memundurkan posisi, "apa yang akan kau lakukan?!"

"Diamlah sebentar."

Tetapi ia tak berani, menatap wajah laki-laki yang sudah membuatnya jatuh ke penderitaan yang paling berat. Kedua matanya ia tutup. Ia diam. Lalu..

Seulas jari menyapu ruang antara bibir dan hidungnya, alias menghapus jejak susu yang tercetak sebagai kumis putih buatan.

Akhirnya ia berani membuka mata perlahan dan langsung menangkap sepasang mata Jumin yang seolah akan menelannya.

Namun tugasnya dirasa selesai, ia menjauh. Zen merasa panas sendiri, "hei... kenapa tidak kau jilat saja?"

"Menjilat bibirmu?"

"BUKAN!" Maksudnya adalah Zen sebenarnya ingin agar Jumin mencicipi susu hamil itu juga. "Sudahlah lupakan!"

"Makanan akan diantarkan sebentar lagi ke sini, kau tunggu saja, "dengan kaki-kakinya ia berbalik dan mulai menjauh ke arah pintu, "aku pergi dulu."

Pada akhirnya ia akan ditinggalkan.

Ya.

Ia tahu.

Tidak masalah.

Waktu baru menunjukan sekitar pukul 8. Ia masih terduduk di ranjang, puji syukur ia menydari selang infus sudah berhenti mencekik peredaran darahnya, ia tidak ingat ada adegan ini dicabut tapi ini sebagai indikasi kesehatannya membaik. Sungguh sangat baik hingga ia bisa meluap-luapkan emosinya.

Harus apa? Ia tidak tahu.

Di hari-hari emasnya dulu ia biasa menenggak racun untuk mengawali hari. Tapi tidak, sekarang sudah tidak... sebelum Jumin Han datang tiba-tiba dan menamparnya.

Karena ia bosan, akhirnya ia tergerak berpindah menuju pintu, berharap untuk keluar dari sangkar emas ini. Namun saat ia membuka pintu, tepat sekali itu makanan diantarkan kepadanya. Masih merasa jijik dengan susu hamil yang baru dikonsumsinya, ia memberitahu kepada pelayan terkait untuk meninggalkannya saja di kamar ia akan memakannya nanti. Oh ya, lihat saja makanan itu pasti masuk daftar makanan asing yang ia tidak pernah melihat rupanya di internet.

Namun pelayan itu sedikit bermain urat ketika Zen menolak, ia mengatakan kalau ia harus memakannya, "sekarang juga," diiringi dengan kutipan bahwa itu perintah si tuan rumah. Ia hanya bisa menatap bosan atau apapun itu. Baiklah.

Namun belum saat ia berkata 'baiklah', ia merasa mual yang hebat tiba-tiba... langsung ia melesat ke kamar mandi yang masih terletak di dalam kamar.

Ia tak dapat memuntahkan apapun begitu wajahnya sampai di muka kloset, derita ini melumpuhkannya hingga akhirnya ia mulai terduduk di lantai. Dengan rasa yang tidak menyenangkan, sama sekali. Ia mendengar langkah kaki seseorang mendekat, namun ia segera menutup pintu. Iya, itu adalah pelayan yang tadi dan kini menanyakan keadaannya.

Siapapun tahu bodoh, bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.

Wajahnya kacau dan pandangannya memerah. Detik selanjutnya akhirnya semuanya berhasil keluar, semuanya. Mungkin termasuk susu yang tadi.

Ketukan pintu terdengar, mungkin pelayan itu khawatir, tapi tentu ia bisa mendengar suara muntahan yang jelas. Beberapa saat kemudian, begitu dirasa 'lebih baik' ia mengelap mulutnya dengan lengan baju, kasar. Lalu beranjak berdiri, berkumur untuk menghapus semua kesan tidak mengenakan dari mulutnya. Selanjutnya membuka pintu, menampakan wajah kepada si pelayan kalau ia 'sehat'

"Tinggalkan saja makanan itu di sini," baru saja ia muntah, tentu tidak akan semudah menelan makanan kembali. "Apa kau bisa membawakanku air?"

Pelayan wanita itu mengiyakan dan segera menghilang dari pandangannya,

Apa sungguh ini harus terjadi selama 9 bulan ke depan?

Semuanya sudah ia tinggalkan, panggungnya, rumahnya, atau hampir dari seluruh kehidupannya. Dan kini ia bersama dengan... atau tepatnya terkukungkung dengan seorang yang paling tidak ingin ia membina hubungannya, lalu benda bernafas di dalam dirinya ini...

Ia menarik kursi, yang ada di dekat jendela, menerawangkan pandangan kepada langit yang terlihat begitu bebas.

Bayangan bahwa jawabannya yang 'tidak tahu' itu kembali berputar di kepalanya.

Tiba-tiba pintu diketuk, suara dari luar mengatakan bahwa air minum yang ia minta sudah datang. Ia mengiyakan lalu langkah-langkah dari pelayan itu membuat segelas air itu ditaruh di mejanya.

Ia menatap pelayan wanita itu diam-diam, kalau... kalau benar perempuan ini memeratikan dunia hiburan, mungkin pelayan itu mengenali dirinya. Atau inikah loyalitas yang dipatenkan Jumin untuk pelayannya? Ya, lebih baik pelayan itu pura-pura diam dan tidak mengetahui tentang dirinya. Bisa saja ia tahu tapi mencoba untuk diam, tapi, benar kan... ia tidak akan mengatakan hal bodoh –apapun itu— kepada orang lain.

"Apa ada lagi yang bisa kubantu?" tanya perempuan itu di depan Zen.

Tangannya masih menopang kepalanya yang terasa tidak sehat, "... apa kau mengenaliku?"

Pelayan itu pun tampak berfikir, "bukankah tuan adalah orang dekat Tuan Han?"

"..." Sebenarnya tidak dekat juga. "Bukan itu maksudku." , "... Apa kau pernah melihatku di suatu tempat? Mislanya tv?"

"Tidak pernah."

Entah ia harus merasa depresi atau bersyukur atas jawaban ini.

"Baiklah, kau boleh pergi sekarang."

"Terimakasih tuan."

Ia melipat kedua tangan di atas meja, sedikit menundukan kepalanya. Ia merasa sepertinya kehilangan beberapa kilo semenjak kegilaan ini terjadi, tentu, apalagi minggu terakhir adalah masa di mana... ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ia lakukan pada saat itu. Semua rutunitasnya seperti latihan, bahkan olahraga seperti jogging... Tidak sanggup ia rasa melakukannya.

Padahal sebenanrya kalau difikirkan lagi, ia boleh berkata tidak.

Ia boleh menolak dan sebenarnya belum ada kesepakatan benar di antara mereka berdua tentang seorang anak. Ia masih pada jawaban'tidak tahu'. Boleh kan kali ini ia mementingkan dirinya sendiri... dan membunuh seseorang. Masih boleh kan.. pilihan seperti itu dilakukan... sekarang belum terlambat.

Apakah begitu saja mudah terpengaruh dengan jawaban Jumin yang indah, tentang keinginannya.

Atau sebenarnya, kalau ia ingin lebih banyak konflik di antara mereka berdua, sejak malam pertama mereka melakukannya. Ia bisa saja memperpanjang ini dan mencoba memberitakannya kepada media. Itu bisa merusak namanya juga, tapi itu bisa diatur.

Ia tidak sampai hati untuk mengacaukan suasana.

Tapi tetap saja, ada sisi lain dari dirinya yang mengatakan, masih, tidak, kepada seorang anak.

Ia masih memiliki keinginan untuk bunuh diri, menerjunkan dirinya saja dari jendela, atau menabrakan dirinya ke depan kereta.

Bagaimana dengan kelahiran?

Awalnya, ia tidak ingin memikirkan hal di luar kewajaran ini. Tapi sepertinya ini bukan masalah yang harus dihindari. Ia bukan seperti kedua orang tuanya yang profesor, ia idak bisa meneliti dirinya sendiri dan melakukan penemuan bahwa ini melawan takdir Tuhan.

Kalau ia menjawab iya dan setuju-setuju saja... Anggap saja ia hanya 'menghormati' pilihan pasangannnya. Karena ia masih berkata tidak, jauh di dalam sana. Rasionalitas dalam kepalanya menampar nuraninya yang tidak tega dan rasa hormat itu.

Ia kebingungan, sungguh, dan sugesti dari Jumin yang mengatakan bahwa ia ketakutan. Ya.. ia bingung karena takut. Ia takut dengan titipan di dalam dirinya ini.

Tiba-tiba teleponnya berdering, ia bisa mengenali suaranya. Ia akhirnya menuju ke meja nakas berfikir akan menjawab panggilan itu...

Sehembus nafas berat darinya. Dijawab atau tidak? Itu bukan panggilan dari Jumin. Tetapi seorang gadis luar planet yang masih terbilang baru hinggap di RFA.

Padahal sudah perlahan-lahan ia menjauh dari khalayak ramai, berharap dirinya dilupakan begitu saja. Sedih ya, bagai mengharapkan mimpi buruk sendiri.

Telepon itu keburu meninggal sebelum ia menjawab atau menolaknya. Akhirnya ia hanya bisa menatapi. Berharap mengurangi penderitaan dalam dirinya, ia kembali duduk di tepi ranjang.

Ia belum membicarakan masalah ini dengan Jumin. Ia belum.

Dan bagaimana apa jangan-jangan Jumin sendiri sudah melakukan sesuatu yang tidak diketahuinya... membeberkan hal ini.

Tetapi ia ingat suatu hal kalau ia serius dengan ini, maka... tidak seharusnya ia menutupi ini dari teman-temannya sendiri. Ia sudah lama tidak melihat percakapan... entah kata orang apa. Mungkin tadi MC hanya... mencarinya karena ia sudah lama tidak muncul.

Sambil ia masih memegangi teleponnya, tiba-tiba pintu kamar dibuka tanpa tanda. Saat ia berbalik menghadapnya, tentu saja sosok menjengkelkan itu yang berdiri di muka.

"Kenapa kau ke sini?" Jawaban ketus langsung dilayangkan, terdengar sebagai penolakan atas kehadirannya.

Jumin berjalan dari sana hingga ke hadapannya. "Apa kau masih sanggup berjalan?"

"Memangnya kenapa?" Sebuah tanya untuk tanya yang lainnya.

"Aku akan membawamu ke dokter."

Ia kira, Jumin tadi sudah benar-benar pergi menemui kesibukannya, ternyata tidak. ya... ia memang tidak pernah mengatakan sebelumnya bahwa ia akan pergi ke kantor.

Zen agak mendongakan pandangannya selama bercakap dengan mahluk di depannya. "Kukira... kau yang akan menyuruh dokternya ke sini."

"Aku pikir kau pasti akan bosan kalau terus di sini, jadi sekalian saja."

Sungguh? "Baguslah kau berfikir seperti itu," seulas senyum yang masih belum puas tersungging.

"Sebelum itu kau habiskan dulu makananmu," ia melirik kepada seonggok sajian di meja yang lain.

Zen terdiam sebentar... dengan pikiran-pikiran barunya. Ia tidak akan mengatakan kalau ia barusan muntah, "... daripada itu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan..." diam-diam ia menybuit lengan baju Jumin, memberi isyarat halus.

Dengannya, Jumin pun tergerak untuk berpindah dan duduk di sampingnya, "katakanlah."

Sepasang matanya dengan bola mata merah tidak sampai memberikan tatapan kepadanya. "... bagaimana keadaan member RFA?"

"Baik-baik saja," sementara sambil berbicara, Jumin berusaha menatap Zen.

"Apa ada yang menanyakanku?"

"Semuanya," , "sejak kau mulai menghilang minggu lalu."

Oh saat itu memang adalah masa-masa gilanya.

"Apa yang kau katakan kepada mereka... tentang diriku?"

"Aku belum mengatakan apapun soal dirimu."

Sungguh, sebenarnya ia cukup senang. Jawaban itu melegakan.

Ia yang sedari tadi menatap tanah kian memalingkan tatapannya kepada laki-laki di sampingnya, "aku tidak tahu apa aku harus bersembunyi terus seperti ini.."

Jumin mengulaskan senyum tipis, kepada Zen di hadapannya yang terlihat gundah. Ya, dari awal laki-laki berambut hitam itu dapat menebak arah pembicaraan. "Kembalilah mengobrol dengan yang lain seperti biasanya," sepasang mata merah itu nampak belum percaya. "Kalau ada yang menanyakan tentang keadaanmu, katakan saja."

Zen tidak puas dengan jawabannya. "... Aku sempat berfikir begitu..." , "tapi bagaimana dengan dirimu sendiri?" Ia mengerutkan dahi, sedikit, "... apa tidak masalah kalau aku membawamu juga?"

Mereka hanya bertatapan, cukup intens... Jumin tidak menjawab. Hingga salah satu di antara mereka makin mendekat, dan sebuah kecupan mendarat di bibir Zen yang masih termangu. Pandangannya tidak berubah. Ia melepaskannya begitu saja, namun wajah pucat pasi itu nampak tidak bisa menangkap apa dari pesan ini.

Ia diam saja seperti terhipnotis ke dalam bola mata hitam itu. "Di saat seperti ini kau masih menghawatirkanku?" Ucap Jumin. Mendengarnya, pipi Zen memerah sedikit, lalu melirik ke arah yang lain. "Katakan saja yang perlu kau katakan," lanjutnya.

"..." saat-saat berlalu dan Ia tetap terdiam tidak menjawab.

"Sekarang, habiskan makananmu."

Pikiran Zen seketika teralih dan rautnya terlihat terpaksa. "Baiklah," ia hendak berdiri.

"Hei tunggu dulu," sebelum itu terjadi Jumin menghardik tubuhnya.

"Ada apa lagi?" Nadanya tetap ketus.

"Sebaiknya kau duduk di sini, biar aku yang mengambilkannya."

Demi Tuhan ia tak tersentuh, hayolah itu hanya beberapa kaki. Jumin bepindah ke sebuah meja yang lain dan mengambil nampan di atasnya. Lalu ia kembali kepada Zen, menyodorkannya.

Ia berusaha unuk tenang, dan mengambil nampan itu ke atas pangkuannya. Beberapa detik ia menatap hidangnanya, sungguh ia tidak tahu... tapi jangan bilang ini diet untuk ibu hamil... Namun ia sudah lelah, lelah membuat argumen-argumen dan memperbanyak dialog di anara mereka. Akhirnya ia mula membuka mulutnya untuk makan.

"..."

"..."

"Kenapa melihatku terus?"

"Tumben sekali kau menjadi penurut seperti ini."

Sebenarnya ada hal yang ingin dihindari Zen, ia tidak ingin kalau ia menolak lalu Jumin sampai-sampai menyuapinya. Tidak... akan...

Karena ia berusaha mengecap setiap rasa yang sekiranya bisa ia terima, terlihat bernafsu walau dirinya muak di saat yang bersamaan. Tetap terlihat pelan... Zen tidak ingin membuat Jumin khawatir.

Tiba-tiba terdengar suara dering di antara mereka, ternyata itu milik Jumin. Sepasang matanya yang bewarna merah melirik. Empunya segera mengangkat panggilannya ... dan melanjutkan langkah menjauh begitu saja.


Tbc.


Terimakasih sudah memilih ff ini sebagai bahan bacaan.