4 Season High School

Super Junior©SMEnt

4 Season High School©Nurama Nurmala

Friendship

Typo(s), OOC, abal story warning


Cerita sebelumnya…

Atas prakarsa dari Leeteuk mengenai image lain seorang Kim Kibum, Henry mengendap ke dalam sekolah di malam hari. Karena jalan baru yang ditunjukan Leeteuk lah Henry akhirnya mendapat kesan mendalam terhadap seorang Kim Kibum.

Red velvet cake. Itulah hadiah perkenalan yang diberikan Kibum pada Henry. Arti dari Red velvet cake adalah… makanan iblis.

Henry yang tidak mau kalah dalam kasus ini akhirnya mengganti karakternya dari seorang remaja polos yang ceria kepada karakter lain yang sangat bertolak belakang dengan karakter sebelumnya; karakter seorang psikolog terkenal, Sigmund Freud.

Dengan karakter baru Henry, akhirnya ia berhasil berpikir dengan kepala dingin dan menemukan titik-titik kelemahan keempat musim. Dalam sekali pukul, Henry sudah bisa membuat keempat musim bungkam dan dengan kemunculan Kim Heechul yang bertugas sebagai eksekutor mereka, semakin menambah warna dalam konflik 4 musim.


4 Season High School

Chapter 6 – Eksekusi adalah Keindahan Tersembunyi


"Oh Seonsaengnim… jika Anda terus menggigiti kuku Anda, jari Anda bisa-bisa habis," desah gelisah seorang guru Biologi yang berjalan di samping Oh Seonsaengnim.

"Kenapa perkembangannya bisa seperti ini, apakah Anda tahu apa yang sedang terjadi, Song Seonsaengnim?"

"E-eh? A-apa maksud Anda? Me-memangnya… a-apa yang sedang terjadi?" Song Seonsaengnim yang merasakan aura berbahaya dari Oh Seonsaengnim mengambil langkah mundur tanpa ia sadari. Sementara kedua tangannya tampak mendorong udara dan terangkat hingga ke depan dadanya untuk menepis segala marabahaya yang datang.

"Lau Seonsaengnim sepertinya meminta bantuan Kim Heechul untuk menangani keempat musim. Murid bernama Kim Heechul berada di kelas 3-2, dan Anda adalah wali kelas 3-2 'kan?"

"I-iyaaaaa… tapi saya tidak tahu apa-apa, Seonsaengnim."

"Hm…" Oh Seonsaengnim menyipitkan kedua iris menawannya untuk menyelidiki pernyataan Song Seonsaengnim. Namun setelah melihat gelagat Song Seonsaengnim yang polos dan memang tak bisa berbohong, Oh Seonsaengnim kembali menarik napas panjang. "Hhhh… sepertinya Anda memang tidak mengetahui apa-apa ya."

"N-Neee…."


4 Season High School

Chapter 6 – Eksekusi adalah Keindahan Tersembunyi


"Sialan!" umpatan yang terdengar dalam 5 detik sekali itu kini kembali terdengar penuh emosi. Lebih dari sebelumnya. "Kenapa aku harus pulang bersama kalian, br*ngsek!" Sama seperti sungutan yang sudah dilayangkan sebelumnya, tak ada satu pun dari mereka yang akan menggubris ocehan Sungmin dan tenggelam dalam pikiran kesal masing-masing. Mereka tak sudi, namun sebenarnya… pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Sungmin juga bermuara di dalam benak masing-masing.

Kibum melirik lelaki ramping yang berjalan di depannya, tatapannya tajam—seolah memandang bangkai menjijikan yang tergeletak begitu saja di depannya, lalu dengan enggan akhirnya dia berucap santai namun penuh kehati-hatian, "Heechul-ssi, Lau Seonsaengnim?"

"Hm?" lelaki ramping yang tak lain adalah Kim Heechul itu menengok seketika namun tetap tak jua menghentikan langkahnya. "Seonsaengnim? Tentu saja dia pulang ke rumahnya. Memangnya kau pikir dia siapa hingga harus selalu mengasuh bayi manja seperti kalian?!"

HEG!

Heechul tak begitu memperhatikan, tapi urat-urat kesal bersiku tampak dengan jelas di kepala keempat orang lainnya.

"Umh… maaf, Heechul-ssi. Kami bukan lagi seorang bayi, kami tidak perlu memiliki bodyguard pribadi untuk mengantarkan kami sampai ke rumah," Leeteuk dengan senyum rikuhnya memandang Heechul yang masih bersikap cuek tak peduli.

"Kalian tak mendengar apa kata Seonsaengnim?" Heechul mendelik ke arah Leeteuk lalu melayangkan senyum penuh ancaman. "Aku bukan bodyguard kalian, tapi aku adalah eksekutor kalian."

"Hah?! Eksekutor?" Sungmin membeliak tak percaya seolah dia baru saja mendengar sebuah lelucon yang teramat sangat lucu. "Maksudmu eksekutor yang akan membunuh kami jika kami tidak menuruti apa katamu, HAH?!"

Heechul beralih memandang Sungmin. Setelah ia mengangkat tangannya hingga 90 derajat, persis sebelum ia mengempaskan lengannya mengantuk udara, sekilas senyum penuh kengerian tergambar di wajahnya yang rupawan, dan seketika itu pula….

DOOOOORRRR!

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

Senyap melingkupi mereka untuk beberapa saat, hingga sampai pada waktu mereka menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Kejadian itu terlalu tiba-tiba hingga tak memberikan mereka kesempatan untuk bergerak bahkan bernapas! Kejadian itu berlangsung secara tiba-tiba setelah Heechul mengempaskan tangan kanannya dari atas ke bawah. Ya… tembakan yang hampir mengenai pelipis Sungmin dan sekarang sebuah peluru bersarang di dinding yang berada tepat di belakang Sungmin itu terjadi secara tiba-tiba.

Apa… yang sebenarnya terjadi?!

"Hehehe…" suara seringai menguar dari bibir Heechul. "Seperti yang kalian barusan, dan seperti definisi eksekutor secara harfiah. Itulah pekerjaanku. Bukankah… eksekusi adalah keindahan yang tersembunyi? Aku… sangat menyukainya!"

Jangan-jangan….

SREEETTTTTT!

Leeteuk dan Kibum secara serempak mengambil ponsel masing-masing dari kantung jas mereka. Dan secara serempak pula mata mereka terbelalak terkejut ketika menyadari keanehan yang dipampangkan layar ponsel mereka.

Gawaaaattt….

Ini... benar-benar gawat!

"Heechul-ssi," panggil Kibum dengan nada suara yang turun beberapa oktaf. "Yang bertindak sebagai eksekutor… bukan hanya kau saja 'kan?"

"Eh?" raut terkejut secara tak sadar diperlihatkan Sungmin setelah mendengar pertanyaan Kibum.

"Hehehe… ya, seperti yang kau katakan. Eksekutor yang ditunjuk oleh Seonsaengnim bukan hanya aku seorang. Aku hanyalah pemimpin dari eksekutor yang lain. Dan ada sekitar 20 eksekutor yang bekerja di bawah yuridisku."

DEG!

Sudah kuduga, ini benar-benar gawat!

"Apa saat ini status kami sama seperti tawanan?"

"Begitulah," pertanyaan Leeteuk dijawab remeh oleh Heechul. Sedangkan Kyuhyun yang sudah menduga situasi gawat yang sedang terjadi hanya berdiri santai penuh dengan kewaspadaan.

"Bukankah ini menyalahi privasi dan secara tidak langsung menuduh kami sebagai kriminal tanpa bukti? Pihak sekolah tidak akan diam saja menghadapi tindakan kalian yang diktator seperti ini."

"Apa kalian sudah lupa dengan syarat yang diajukan Seonsaengnim untuk melindungi jabatan kalian dari musim pengganti?" ingatan mereka kembali berlayar ke kejadian yang terjadi siang tadi di kantin sekolah.

1 . Makan siang bersama

2 . Pulang dan berangkat sekolah bersama

3 . Saling membantu jika salah satu dari keempat musim mengalami kesulitan dan kesusahan

"Aku rasa apa yang diucapkan Seonsaengnim masihkalian ingat dengan jelas," perlahan, jari telunjuk Heechul menunjuk sebuah arah; ke sebuah rumah bertingkat tiga yang berada sejauh 15 meter dari tempat mereka berdiri. "Di atap rumah itu ada salah satu eksekutor dengan senapan telah siap sedia menembak kalian. Dia akan menembak jika aku beri aba-aba. Tapi aku tidak bisa pastikan siapa yang melayangkan tembakan tadi, karena 20 eksekutor lainnya sudah tersebar menuju rute pulang kalian dengan perintah menembak kalian jika kalian berbuat bermacam-macam. "

"Sialan!" kali ini, umpatan yang muncul bukan hanya dari Sungmin semata. Tapi tanpa sadar mereka meneriakkannya dalam hati masing-masing.

Sementara itu….

"Hehehe… ini menyenangkan sekali, Seonsaengnim," seorang pria berpakaian seragam SMA tampak berbaring tiarap dengan siap sedia. Sebuah senapan laras panjang dengan bidikan hingga 26x zoom bercokol di balik iris cokelatnya. Sementara sebuah headphone menghantarkan komunikasi dari seseorang yang berada jauh darinya, sebuah microphone tersambung dengan kabel headphone dan menghantarkan setiap untaian kalimat yang lelaki itu ucapkan. "Sikap mereka juga menyenangkan. Kita bisa mendengar apa yang mereka bicarakan karena alat sadap yang dibawa oleh Heechul-Hyung."

"Jong Hyun-ah, kalau mereka sudah menghilang dari ranah bidikanmu, segeralah berpindah ke lokasi selanjutnya," sebuah suara terdengar dengan tegas di telinga Jong Hyun.

"Ne. Aku masih bisa melihat mereka, aku juga akan bekerja sebaik mungkin, jadi Anda tenang saja, Lau Seonsaengnim."

"Jong Hyun-ah, kau tidak boleh melepaskan tembakan lagi! Jika tadi kau melenceng sedikit saja, kau akan mengenai Lee Sungmin, arra?" sebuah suara lain terdengar di headphone Jong Hyun. Ini jelas bukan suara Lau Seonsaengnim.

"Diamlah Minho-ya! Perhatikan posisimu, sebentar lagi mereka akan sampai ke tempatmu. Lagi pula saat itu Heechul-Hyung memberi aba-abadan hanya aku yang bisa melakukannya dari sini."

"Obrolan hanya akan memecah konsentrasi," sebuah suara lain menyahuti pertengkaran mereka.

"Y-Yunho-Hyung?"

"Sebaiknya kalian bersiap di posisi masing-masing. Jika target sudah melewati kalian, sebaiknya kalian cepat menuju titik selanjutnya. Tapi… yang lebih penting lagi dari itu, Seonsaengnim?"

"Hm?" sebuah sahutan; yang diidentifikasikan sebagai suara Henry kembali terdengar.

"Sepertinya dua orang itu sudah menyadari apa yang sedang terjadi. Leeteuk dan Kibum, setelah tembakan dari Jong Hyun dilepaskan, mereka langsung melihat ponsel masing-masing."

"Ya," Henry mengiyakan. "Pada awalnya mereka pasti akan melaporkan insiden tembakan peringatakan kepada pihak sekolah atau pihak yang berwajib. Tapi mereka berdua dikagetkan oleh ponsel mereka yang tidak bisa menangkap sinyal. Dengan peralatan yang dibawa oleh Heechul, mereka tidak akan bisa mengakses ponsel mereka dalam jarak 10 meter dari Heechul. Bahkan antena transmitter yang dipancarkan alat penyadap lain akan terganggu dan tidak akan bisa beroperasi. Dengan kata lain… jika mereka masih berada 10 meter dari tempat Heechul berada, mereka tidak akan bisa pergi kemana-mana."

"Tapi dengan menyadari ini kedua orang itu akan lebih waspada," Yunho bertanya dengan realistis, tidak mengabaikan realita yang ada.

"Tidak masalah. Itu tidak jadi masalah. Mereka sudah mengetahui posisi mereka, dan jika dugaanku benar, mereka akan menurut sampai mereka tiba di rumah mereka masing-masing."

"Mengerti."

"Ah, titik bidikku sudah buta, aku akan pindah ke lokasi selanjutnya," ujar Jong Hyun sambil menjauhkan senapan dari matanya untuk beranjak dari posisinya sekarang.

"Kalian tidak akan percaya dengan apa yang aku temukan di dekat tempat tinggal Sungmin~" sebuah suara lain yang tidak pernah terdengar sebelumnya seketika bergabung dalam pembicaraan di headphone Jong Hyun.

"Apa yang terjadi, Amber?"

"Aku menemukan duo Lee sedang berbuat masalah di sini," jawab Amber penuh passion dan ketertarikan.

"Duo Lee?" Jong Hyun menaikan alisnya tak mengerti. "Siapa mereka?"

"Mereka kembar tak identik bermarga Lee. Bisa dibilang kalau mereka… adalah musuh bebuyutan Lee Sungmin. Coba kalian pikir, bagaimana reaksi Duo Lee jika mereka berpapasan dengan Lee Sungmin dan bagaimana reaksi ketiga musim ketika musim panas tengah berkelahi di depan mereka? Bukankah ini menarik sekali?"

"Hm…."

"Begitu kah? Aku tak sabar melihat apa yang akan terjadi!" Jong Hyun berkomentar dengan semangat menggebu-gebu. "Siapa Duo Lee itu?"

"Duo Lee… mereka adalah… Lee Donghae dan Lee Hyuk Jae."

Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah ketiga musim akan menjadi penonton saja jika musim panas terlibat perkelahian?

Kita tunggu di chapter selanjutnya :)

To be continued