'Tokyo Ghoul' © Sui Ishida

Warning! Typo, AU, alur yang mudah ditebak (sudah pasti), gaje, dkk. Gomennasai~


LAST CHAPTER

"Jadi namamu Kaneki-kun?

"Penyakit aniki kambuh. Dia berhalusinasi melihat 'sosok' bernama Kaneki."

"Aniki, bagaimana keadaanmu?"

"Temui aku di Anteiku Café besok jam 10 pagi. Akan kujelaskan semua."


Inside Me

Seorang pemuda terlihat duduk dengan resah di sebuah café tepat di jantung distrik 20. Sesekali ia menyesap hot coffee-nya yang masih mengepul. Pemuda itu tak pernah menghilangkan pandangannya dari jendela kaca tepat disamping meja yang ia gunakan, tampak cemas menunggu kehadiran seseorang. Setiap kali lonceng kecil yang terpasang diatas pintu berbunyi, maka pemuda itu dengan cepat akan menolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Dan setiap kali pulalah ia akan menunduk dengan kecewa—yang datang tidak sesuai harapannya.

Sudah sepuluh menit sejak waktu yang ditentukan kemarin, namun si surai putih masih belum berjumpa dengan kakak sepupunya itu. Demi mengorek informasi tentang 'sosok' yang sangat ia benci sekaligus yang berhasil membuatnya penasaran, pemuda itu terpaksa meninggalkan si kembar dan kakak sulungnya di rumah sembari berharap 'sosok' menjengkelkan itu tidak mengganggu kedua saudaranya.

'Jika sampai si Kaneki itu berani melakukan sesuatu pada Kuro dan aniki—lihat saja!'

KLEK!

Pintu terbuka, seorang pemuda bersurai cokelat memasuki ruangan. Para pelayanan menyambutnya dengan salam hangat sembari tersenyum ramah—

"Selamat datang!"

—dan hanya dibalas sebuah anggukan kecil dan senyum tipis si pria berkacamata itu. Dengan langkah tergesa, pria tersebut langsung menghampiri sebuah meja yang terletak diujung ruangan, seorang remaja putra bersurai putih tengah duduk disana sambil bersedekap, menatap sinis pada pria yang baru saja duduk didepannya itu.

"Kau terlambat, Nishiki-nii. Aku tidak suka menunggu," katanya ketus.

"Gomen, Shiro. Mobil Nishiki-nii mengalami masalah di jalan. Salju yang berada di pertigaan depan belum dibersihkan, terlalu tebal," pria itu tersenyum kecil.

"Itu bukan urusanku. Langsung saja, jelaskan tentang 'sosok' kurang ajar itu!"

Shiro berucap dengan nada memerintah, membuat lawan bicaranya yang tak lain adalah Nishiki —sepupu yang lebih tua darinya— mendengus geli. Teringat oleh pemuda yang sudah menginjak kepala tiga itu bagaimana orang didepannya ini sangat dingin, tidak seperti dulu. Mungkin lebih dingin dari salju diluar sana?

"Aku baru saja sampai, Shiro. Biarkan aku mengambil napas dan memesan minum dulu."

Ia tertawa sembari mengacungkan tangannya, membuat seorang pelayan wanita menghampiri meja mereka lalu menanyakan pesanan untuk si pria. Setelah mencatat pilihan sang tamu, pelayan itu lantas menuju tempatnya untuk menyediakan apa yang diinginkan sang pengunjung. Shiro hanya diam saja melihat sepupunya itu sementara Nishiki tengah sibuk mencari sesuatu dari dalam tas hitamnya. Tangannya bergerak liar mengobrak-abrik barang bawaannya.

"Apa yang Nishiki-nii cari?"

Pertanyaan yang sebenarnya tidak penting bagi Shiro. Ia bukan tipikal pribadi yang senang ikut campur urusan orang lain. Namun karena kali ini berhubungan dengan keluarganya, maka Shiro memutuskan untuk bertanya.

"Sesuatu yang tidak akan membuatmu menyanggah pernyataanku."

Ucapan itu terdengar serius bagi Shiro. Tak biasanya sepupunya ini berbicara dengan nada serendah itu dengan sorot mata tajam seperti yang ia lihat sekarang.

'Pasti sesuatu yang tidak baik!'

"Ini pesanan anda, tuan. Silahkan," seorang pelayan membuyarkan atmosfer berat yang terjadi diantara keduanya, membuatnya terpaksa mendapat sorotan dingin dari si pangeran es.

"Ma—maaf, tuan. Maafkan saya," dan si pelayan yang malang itu bergegas pergi meninggalkan dua orang itu dengan tangan bergetar yang memegang nampan.

"Kau tidak perlu menatapnya seperti itu 'kan, Shiro?" Nishiki melirik sepupunya itu lalu menunjuk pelayan wanita yang dimaksud dengan dagunya. Shiro hanya mendengus.

"Memangnya tatapanku kenapa?"

"Tatapanmu mengerikan, Shiro! Cobalah tiru kakakmu—dia lebih hangat darimu."

"Maksud Nishiki-nii aku dingin?"

"Kau memang pintar menebak."

Dan detik selanjutnya, si pria berkacamata itu harus menjerit kecil saat pemuda bermanik asap itu menginjak kakinya dengan kuat.

"Hey! Sopanlah sedikit pada yang lebih tua!" Nishiki tak terima.

"Gomen. Nishiki-nii menyebalkan, masih seperti dulu," ujar Shiro datar.

"Dan kau juga masih dingin seperti dulu," balas Nishiki dengan menunjukkan senyum terbaiknya.

"Yosh! Ini dia!"

Setelah berkutat cukup lama karena diselingi beberapa insiden kecil, akhirnya Nishiki menemukan apa yang ia cari. Ia meletakkan barang itu diatas meja—membuat atensi pemuda didepannya segera tertuju pada benda yang dimaksud. Alisnya bertaut mengamati—terlihat seolah sedang berpikir.

"Apa itu?" tanda tanya muncul pada kening Shiro.

"Lihatlah sendiri."

Nishiki berbicara serius, membuat Shiro berpikir mungkin mereka akan segera memulai pembicaraan utama mereka. Shiro segera mengambil kertas yang disodorkan sepupunya itu—sebuah kertas putih.

"2 April — 'Selamat ulang tahun, sayang!' apa maksudnya?" Shiro membaca tulisan yang tertera di pojok kanan atas.

"Dibaliknya," Nishiki berucap sembari menyeruput minumannya. Shiro membalikkan kertas yang ternyata adalah sebuah foto lama itu. Ia mengamati sebentar lalu mengernyit.

"Siapa mereka?"

Shiro menunjukkan foto tersebut pada Nishiki. Disana terdapat dua orang anak yang menurut si putih berusia sama. Mereka memiliki wajah yang serupa, fisik yang sama —walau hanya berbeda pada rambut, yang satu berwarna hitam sedangkan yang lain abu— tinggi yang sama —walau sekali lagi anak berambut hitam disana sedikit lebih tinggi daripada yang bersurai abu— dan tentu saja yang membuat Shiro bingung, anak berambut hitam itu sangat mirip dengan Kuro!

"Itu Haise," Nishiki menunjuk anak berambut abu dengan jarinya.

"Saat itu usianya masih tiga tahun—kau dan Kuro belum lahir," lanjutnya.

Shiro terdiam sejenak, kembali memandangi gambar di tangannya itu dengan tajam. Dalam foto nampak si rambut hitam yang memeluk si surai abu dengan begitu lekatnya, seolah mengatakan pada dunia bahwa si rambut abu itu adalah miliknya seorang. Sementara si abu yang disebut Nishiki sebagai Haise itu juga ikut memeluk si rambut hitam. Dapat dilihat bahwa pelukan yang Haise berikan pada anak disampingnya itu bukanlah sebuah pelukan yang bersifat protektif seperti yang diterimanya dari si rambut hitam, tapi lebih kepada sebuah pelukan hangat yang menunjukkan perasaan cinta dan kasih yang tulus.

Keduanya nampak lucu dengan saling memeluk dan tertawa lebar. Wajah mereka dipenuhi kue cokelat. Sungguh! Shiro bahkan tak percaya bahwa yang berada di foto itu adalah kakaknya! Bagaimana mungkin Haise bisa tertawa selebar itu? Dalam sejarah kehidupannya, ia tidak pernah melihat sang kakak tertawa sebebas itu—hanya senyum hangat dan tawa kecil yang selalu ditunjukkannya. Dan sekarang pandangannya teralih pada sosok bocah yang memeluk kakaknya itu. Siapa dia? Kenapa dia bisa membuat sang kakak tertawa selepas itu? Mengapa wajah mereka sangat mirip?

"Siapa yang memeluk aniki?" Shiro bertanya dengan tatapan yang masih tertuju pada foto itu.

"Dia Kaneki."

Nishiki meletakkan cangkir minumannya diatas meja dan menatap Shiro yang tengah terkejut. Matanya menyorot tajam setiap gerakan yang dilakukan adik sepupunya itu.

"Di—dia Ka—Kaneki?"

Shiro menjawab terbata, tak percaya dengan ucapan sepupu dekatnya itu. Matanya membola sempurna, alisnya bertaut menunjukkan keheranan dan mulutnya sedikit terbuka tanda tak terima. Kalau kau melihat keadaan Shiro yang sekarang, kau pasti akan menanggalkan julukan 'Pangeran Es' pada pemuda ini. Mengapa? Tentu saja karena posenya saat ini yang benar-benar menunjukkan sifat aslinya sebelum berubah—sifat yang sama persis seperti Kuro dan Haise!

"Ya, dia Kaneki," Nishiki menjawab tenang.

'Ternyata rupa si brengsek itu seperti ini! Tapi kenapa wajahnya mirip seperti Kuro? Kenapa dia sedekat ini dengan aniki?'

Shiro kembali memandangi anak berambut hitam itu dengan lebih intens. Matanya menatap foto itu dengan penuh kebencian dan amarah. Salah satu tangannya yang menganggur terkepal kuat menahan emosi.

"Jadi dimana aku bisa menemukan orang ini? Akan kuhajar dia karena berani bermain-main menggunakan tubuh aniki!"

Shiro berucap ketus. Julukan 'Pangeran Es' kini kembali terpampang pada keningnya. Nishiki yang mendengar perkataan Shiro memasang tampang heran, tidak menduga di zaman modern seperti sekarang ini sepupunya masih percaya dengan kekuatan sihir yang mampu memanipulasi pikiran! Yah, walaupun hal-hal berbau mistis dan supernatural itu ada, tapi jelas bukan berarti nenek sihir yang suka menjadikan manusia sebagai bonekanya itu juga ada 'kan? Apalagi seorang pria! Kau mau menyebutnya kakek sihir?

"Kau tidak akan menemukannya," pemuda berkacamata itu menjawab.

"Memang dia berada dimana? Luar kota? Luar negeri?

"Tidak."

"Dimana? Katakan saja, Nishiki-nii! Aku sangat ingin menghajar orang ini!" Shiro berucap sembari menyobek foto itu menjadi dua bagian—satu bagian berisi sang kakak dan bagian lainnya terpampang wajah yang sangat ia benci. Sungguh! Melihat wajah orang yang mempermainkan kakaknya itu sangat menjijikkan! Dalam hati si surai putih itu bertekad membeli sebuah boneka vodoo yang akan ia gunakan untuk 'misi balas dendam aniki'-nya!

"Dia sudah tidak ada," Nishiki menjawab pelan, menatap foto yang telah robek menjadi dua bagian itu dengan pandangan tak terbaca. Shiro yang tak kunjung mendapat jawabannya itu akhirnya merasa kesal juga.

"Ya, aku tahu. Dia sudah tidak ada disini. Jadi sekarang dia dimana? Di kota apa? Di negara mana?" Shiro berusaha sabar menanti jawabannya.

"Tidak dimanapun," Nishiki berucap pelan.

"APA SUSAHNYA MENGATAKAN DIMANA ORANG ITU! KAU MEMBUATNYA MENJADI RUMIT, NISHIKI-NII!"

Shiro berteriak nyalang didalam café. Ia berdiri lalu menggebrak meja dengan kasar dan menatap sepupunya marah. Ia meremas bagian foto yang menampilkan si surai hitam itu dan membuangnya begitu saja di dalam cangkir berisi hot coffee-nya yang tinggal setengah. Semua pengunjung menatap keduanya dengan pandangan takut sementara para pegawai disana lebih memilih diam karena melihat salah satu pelanggan mereka yang tampak menyeramkan ketika marah. Tidak ada yang berani mendekati si putih!

"Tenanglah, Shiro. Kau mengganggu pengunjung lainnya," Nishiki yang merasa tak enak dengan pegawai serta pengunjung disana berusaha meredam emosi sepupunya itu.

"JAWAB PERTANYAANKU DAN AKU AKAN DIAM!"

Selesai Shiro berteriak nyalang untuk kedua kalinya, semua pengunjung langsung meninggalkan uang mereka diatas meja dan keluar dari dalam café itu—membuat Nishiki merasa semakin tak enak. Ia melirik sebentar ke arah pintu ruang pegawai. Disana berdiri seorang pria paruh baya tengah tersenyum kearahnya. Pria itu membisikkan sesuatu kepada para pelayannya, membuat empat orang yang bekerja disana memasuki ruang pegawai. Nishiki nampak bingung. Pria tua itu tersenyum padanya lalu berjalan menuju pintu masuk café, membalikkan tanda 'open' menjadi 'closed'. Selanjutnya sang pria tua menyusul para pegawainya dan meninggalkan dua pemuda itu sendirian di dalam café miliknya. Nishiki yang mengenal pria tua itu sebagai teman ayahnya tersenyum kecil lalu kembali menghadap Shiro yang masih menatapnya murka. Nishiki menghela napas sebentar lalu menjawab pertanyaan Shiro.

"Dia sudah tidak ada. Dia sudah wafat," Nishiki menundukkan kepalanya.

"KAU BERCANDA! APA NISHIKI-NII BERNIAT MELINDUNGI ORANG ITU?!" Shiro kembali menggebrak meja.

"Aku tidak melindungi Kaneki, Shiro! Itu memang benar! Kaneki sudah wafat!" Nishiki mulai terbawa emosi.

"Oh! Ayolah, Nishiki-nii!" Shiro memutar bola matanya.

"Kau melindungi Kaneki karena dia dekat dengan aniki? Kau melindunginya karena kau sangat menyayangi aniki? Kau takut aniki merasa kehilangan Kaneki karena aku akan menghajarnya sampai tamat? Begitu?" Shiro mengacungkan foto sang kakak dihadapan sepupunya, mengibasnya dengan kuat.

"Bukan begitu," Nishiki menjawab, masih berusaha tenang.

"KALAU BEGITU APA? KENAPA KAU TIDAK MEMBERITAHUKU SAJA DIMANA DIA?!"

Shiro kembali meraung dengan ganas, menggebrak meja dan melempar cangkir miliknya ke lantai, membuatnya pecah berkeping-keping. Nishiki yang melihat Shiro mulai kehilangan kendali tampak khawatir sekaligus kesal. Keras kepala yang dimiliki Shiro memang sangat mirip dengan Haise—bahkan mungkin lebih parah lagi!

"Dia sudah wafat, Shiro!" Nishiki menjawab dengan suara yang sedikit lebih besar.

"KALAU NISHIKI-NII TIDAK MAU MENGATAKAN DIMANA DIA, KATAKAN SIAPA DIA? KENAPA DIA SANGAT DEKAT DENGAN ANI–"

"DIA KAKAKMU! DIA SAUDARA KEMBAR HAISE! DAN DIA SUDAH LAMA WAFAT! KAU MENGERTI, SHIRO?!"

Kini giliran Nishiki yang hilang kendali. Ia ikut berdiri dan menggebrak meja, menatap iris asap didepannya dengan emosi. Shiro yang mendengar jawaban itu sontak terbelalak. Ia memandang sepupunya tak percaya.

"Nishiki-nii bilang apa? Dia kakakku?" Shiro mengulang pernyataan Nishiki.

"Ya. Kaneki adalah kakakmu dan Kuro. Dia saudara kembar Haise," hilang sudah emosi Nishiki. Kini ia tampak khawatir dengan Shiro yang terlihat cukup shock.

"Kau bercanda, Nishiki-nii," Shiro tersenyum miris.

"Tidak. Kaneki itu benar kakakmu."

Shiro terduduk di kursinya, memegang kepalanya yang terasa pening mengetahui kenyataan itu. Kaneki kakaknya? Saudara kandungnya? Kembaran Haise? Benarkah? Kalau iya Kaneki adalah kakaknya, mengapa ia menyakiti saudara kandungnya sendiri? Bahkan sampai melukai Kuro dan Haise? Dia tidak percaya! Tidak akan mempercayainya semudah itu! Disisi lain, Nishiki yang melihat wajah Shiro memucat lantas menggenggam salah satu punggung tangan pemuda bersurai putih itu yang tengah bebas.

"Aku tahu, mungkin kau tidak akan percaya. Tapi tolong dengarkan aku dulu," ia berujar. Shiro hanya mengangguk kecil. Nishiki yang melihat itu kembali ketempatnya dan duduk disana. Ia kembali mencari sesuatu dalam tasnya dan mengeluarkan benda itu. Sebuah foto lagi.

"Lihatlah."

Nishiki menyodorkan foto itu pada Shiro. Ia mengamati gambar itu dengan seksama. Disana terdapat enam orang yang tengah berdiri di sebuah ruang tengah. Nampak sepasang suami—istri yang masing-masing menggendong seorang bayi. Didepan pasutri itu terdapat sepasang anak kembar yang tengah tersenyum manis dengan saling bergandengan tangan. Shiro lebih dari tahu siapa mereka. Itu keluarganya!

"Kau tahu mereka 'kan? Saat kau masih kecil, kau dan Kuro selalu bertanya seperti apa wajah obasan dan ojisan. Saat kalian melihat foto itu, kalian bertanya siapa anak berambut hitam yang menggenggam tangan Haise bukan? Tapi okaasan dan otousan tidak pernah menjawab pertanyaan kalian, mereka hanya tersenyum. Dan sekarang aku akan menjawabnya. Dia adalah Kaneki—kakakmu."

Nishiki menjelaskan sambil menatap khawatir pada Shiro yang semakin tak menentu kondisinya. Tangannya bergetar hebat menggenggam foto itu.

"Kau baik-baik saja, Shiro?" Nishiki semakin takut melihat keringat dingin mengalir pada kening sepupunya.

"A–aku tidak apa-apa. Lanjutkan saja," Shiro menjawab terbata. Mana mungkin kondisinya baik jika baru saja mendengar berita mengejutkan seperti itu? Nishiki yang mengerti bahwa saudaranya itu pasti akan menuntut penjelasan lebih akhirnya kembali bersuara.

"Kaneki wafat saat kecelakaan bersama obasan dan ojisan di distrik 13, kecelakaan yang juga menimpa Haise. Saat itu keluarga kalian baru saja kembali dari rumah Seidou-nii, kau dan Kuro dititipkan pada okaasan. Di tengah kota terjadi tabrakan beruntun dan mobil ojisan termasuk dalam korbannya. Obasan dan ojisan luka berat. Mereka dilarikan ke rumah sakit dan koma untuk beberapa minggu namun akhirnya mereka wafat. Haise juga luka parah, namun ia berhasil diselamatkan. Ada satu korban lagi yang tidak disebutkan oleh okaasan saat bercerita kepada kalian dulu. Korban itu adalah Kaneki. Dia yang paling parah. Kaneki meninggal ditempat."

Shiro menegang seketika. Memorinya saat kedua orangtua Nishiki menceritakan tentang kecelakaan kedua orangtuanya kembali terngiang. Ya! Mereka memang menceritakan apa yang baru saja Nishiki katakan, tapi keduanya sama sekali tidak menyinggung soal Kaneki. Kenapa?

"Kenapa saat itu obasan dan ojisan tidak menceritakan tentang Kaneki?" Shiro bertanya sambil mengusap keningnya.

"Haise juga koma. Saat dia sadar, Kaneki telah dimakamkan dan ia sama sekali tidak mengingat apapun. Karena Haise sangat menyayangi Kaneki, okaasan dan otousan memutuskan untuk tidak memberitahukan perihal kematian Kaneki pada Haise. Mereka tidak punya maksud lain. Walau Haise melupakan Kaneki, tetap saja memorinya akan kembali saat ia tanpa sengaja mengenang Kaneki—dan saat itu pula Haise akan jatuh pingsan. Karena itu okaasan memutuskan untuk tidak membahas Kaneki lagi. Bukan berarti kami tidak menyayangi Kaneki, kami hanya tidak ingin melihat Haise terluka karena mengetahui saudara kembarnya telah wafat."

"Tunggu! Tadi Nishiki-nii bilang aniki tidak mengingat apapun. Apa kecelakaan itu menyebabkan aniki hilang ingatan?"

"Ya, benar. Kecelakaan itu membuat Haise harus kehilangan ingatannya."

"Apa itu artinya aniki kehilangan ingatannya sebanyak dua kali?"

"Ya."

"Bagaimana bisa?"

"Aku juga tidak tahu."

Shiro semakin memijat keningnya, merasa tak masuk akal dengan semua penjelasan sepupunya itu. Namun bagaimanapun juga, akhirnya ia bisa mendapat setitik cahaya mengenai 'sosok' yang selalu mengganggu kehidupannya dan kedua saudaranya itu. Tapi kenapa—

"—Kenapa Kaneki melukai kami? Kalau Kaneki saudara kami, seharusnya dia melindungi kami."

Nishiki menautkan jari-jarinya diatas meja, menatap Shiro jauh lebih dalam. Si surai putih hanya memandang saudaranya bingung. Ada apa dengan Nishiki?

"Mungkin terdengar konyol. Ini hanya pendapatku," Nishiki terdengar serius.

"Kaneki sangat menyayangi Haise. Mereka selalu bersama. Dia tidak akan mau melakukan apapun jika tidak ada Haise disisinya. Mungkin saja—" Nishiki terlihat ragu mengucapkannya.

"—Mungkin saja Kaneki ingin agar Haise ikut bersamanya."

"APA?!"

Shiro terloncat dari kursinya. Yang benar saja! Kaneki ingin agar Haise ikut bersamanya? Maksudnya Haise harus mati?

"Tenanglah, Shiro. Itu hanya pendapatku," Nishiki masih berusaha tenang walau jelas nada bicaranya sedikit berbeda. Shiro sendiri juga sedang berusaha menahan emosi. Ia kembali duduk dan mengusap keningnya yang makin terasa pusing.

"Tolong jelaskan padaku lebih detail. Aku masih tidak percaya Kaneki itu kakakku," Shiro memandangi Nishiki.

"Baiklah. Tapi kuharap kau tidak memotong pembicaraanku, Shiro."

"Tentu. Aku akan diam."

Nishiki menghela napas, berusaha menenangkan diri sebelum kembali bercerita tentang fakta dari keluarga sepupunya ini. Ia memang sedikit merasa tak enak hati karena seharusnya yang menceritakan ini adalah orangtuanya. Tapi karena melihat keluarga kecil ini yang memang sangat memerlukan bantuannya, Nishiki menjadi tidak tega.

"Kaneki dan Haise adalah saudara kembar. Kaneki lahir lebih dulu, sepuluh menit sebelum Haise. Kaneki sangat menyayangi Haise dan begitupun sebaliknya. Sejak Kaneki wafat, Haise seringkali jatuh pingsan. Katanya, ia selalu mendengar suara yang memanggil namanya ketika malam hari. Ia juga sering melihat seorang anak kecil berambut hitam mengajaknya bermain—bahkan terkadang anak itu melukai Haise. Sebut saja ketika Haise terjatuh dari atas tangga dulu. Ia mengatakan bahwa saat itu ada seseorang yang mendorongnya. Atau saat ia menggores tangannya sendiri dengan pecahan kaca yang ditemukannya dibelakang rumah dulu, Haise mengatakan bahwa tubuhnya bergerak sendiri—dan bahkan saat itu ia sama sekali tidak merasakan sakit."

Shiro mengangguk pelan. Ia tahu kejadian yang diceritakan sepupunya barusan. Saat itu ia dan Kuro masih kecil, mereka masih tinggal bersama Nishiki. Shiro juga merasa ada yang aneh dengan sang kakak saat itu. Namun karena ia masih terlalu kecil dan otaknya belum terprogram untuk berpikir rumit seperti itu, maka si surai putih ini tidak terlalu mempersoalkannya.

"Dan saat kau dan Kuro menginjak usia 5 tahun, saat itulah Kaneki benar-benar berusaha melukai Haise—lebih tepatnya membunuh Haise. Nishiki-nii tahu ini terdengar aneh, mustahil bahkan gila. Tapi mungkin saat Kaneki melihat bahwa perhatian Haise saat itu semakin besar padamu dan Kuro, ia merasa cemburu pada kalian berdua. Dan saat dia gagal melukai Haise, dia berniat melukai orang yang telah merebut perhatian Haise darinya. Lebih tepatnya, dia mengincar Kuro. Sebenarnya kau juga termasuk, tapi Kaneki lebih memprioritaskan Kuro karena menurutnya adik kembarmu itu memiliki fisik yang sangat mirip dengannya. Kaneki merasa dirinya digantikan oleh Kuro. Aku yakin saat kau melihat foto Kaneki pertama kali, kau pasti mengatakan bahwa dia sangat mirip dengan Kuro bukan?"

Shiro bergetar, mulutnya menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Ya! Menurutnya Kaneki sangat mirip dengan Kuro. Jadi selama ini mereka telah diincar? Diincar oleh saudara kandung mereka sendiri? Diincar untuk menemui ajalnya masing-masing? Harus mati dengan alasan cemburu semata? Itu sama sekali tidak logis!

"Asal kau tahu, kecelakaan yang dialami Haise tiga tahun yang lalu bersama Kirishima-san juga disebabkan oleh Kaneki."

Shiro menegang sempurna. Ia tahu peristiwa itu. Ia ingat betul tragedi itu. Ia dan adiknya tidak mungkin melupakan kejadian tersebut.

Kecelakaan itu...

Kecelakaan yang membuat kakaknya koma selama berbulan-bulan...

Kecelakaan yang nyaris membuat kakaknya meninggalkan mereka...

Kecelakaan yang membuat kakaknya harus kembali kehilangan ingatannya untuk yang kedua kalinya...

Kecelakaan yang menyebabkan kekasih kakaknya wafat...

Kecelakaan yang bahkan sampai saat ini tidak diketahui penyebabnya...

Kecelakaan itu...

"Disebabkan oleh Kaneki?" Shiro mengulang pernyataan sang sepupu. Ia tidak percaya.

"Ya. Sebelum mereka pergi, Haise sempat mengirim pesan singkat pada Nishiki-nii. Katanya anak kecil itu akan ikut mereka pergi. Haise mengatakan bahwa jika saja dia dan Kirishima-san mengalami sesuatu selama perjalanan, anggap saja Kaneki yang melakukannya. Saat itu Haise sudah tahu bahwa dia adalah anak yang selalu mencelakainya, tapi dia tidak pernah tahu siapa anak itu. Pernah sekali waktu anak itu memperkenalkan diri pada Haise sebagai Kaneki. Mungkin saja Haise yang sekarang lupa tentang 'sosok' Kaneki itu. Bagaimanapun juga, sejak kecelakaan pertamanya dulu, Haise sama sekali tidak mengenal siapa itu Kaneki—walau kenyataannya 'sosok' yang selalu mencelakainya itu adalah saudara kembarnya sendiri."

Sekarang semuanya mulai jelas bagi si surai putih. Memang kecelakaan itu sungguh mencurigakan. Kondisi mobil telah diperiksa dengan baik, jalan mulus tanpa hambatan, cuaca cerah yang mendukung perjalanan serta pengemudi yang dalam keadaan sehat jasmani rohani. Bagaimana mungkin mobil itu bisa kehilangan kendali dan masuk jurang sedalam sepuluh meter? Takdir. Mungkin orang akan mengatakan seperti itu. Tapi bagi si kembar, itu bukanlah takdir sang kakak. Itu aneh. Firasat mereka mengatakan ada yang salah dengan kecelakaan itu.

"Apa yang dilakukan Kaneki saat itu? Kenapa mobil aniki bisa masuk jurang?"

"Aku tidak tahu pasti."

Shiro menghembuskan napasnya, berusaha mengatur suasana hatinya yang tidak menentu. Keningnya semakin dipijat dengan cepat, rasa sakitnya menjalar pada sendi kaki—membuatnya tidak sanggup untuk berdiri. Kenyataan yang dilontarkan oleh sepupunya itu tidak bisa langsung diterimanya begitu saja. Aneh dan kejam, mungkin itu pendapat si surai putih untuk saat ini.

"Apa yang membuat Kaneki tidak tenang? Apa yang membuatnya selalu ingin mencelakai aniki?" Shiro kembali melontarkan pertanyaan.

"Seperti yang tadi sudah kukatakan, mungkin Kaneki ingin agar Haise ikut bersamanya. Itu juga hanya pendapatku. Alasan lain? Entahlah, aku juga tidak tahu."

"Bagaimana dengan kecelakaan aniki bersama Kirishima-nee? Mungkin ada yang Nishiki-nii lewatkan? Informasi apa saja mungkin berguna untukku."

"Tidak ada yang kulewatkan. Kecelakaan itu terjadi di distrik 13, distrik yang sama saat Haise mengalami kecelakaan pertamanya dulu—saat dia harus kehilangan kedua orangtua kalian dan saudara kembarnya. Hanya berbeda lokasi saja, tapi distriknya sama. Bahkan rumah sakit yang dijadikan tempat perawatan kedua kecelakaan itu sama. Aku sangat ingat, ruangan pada kedua kecelakaan itu sama! Kalau tidak salah berada di lantai 4 kamar nomor 7! Itu juga tempatmu dirawat karena tersesat saat memaksa berjalan pulang sendiri bersama Kuro dulu. Kau ingat?"

"Ya, aku ingat. Tapi yang menjadi pertanyaan bagiku, kenapa setelah aniki mengalami kecelakaan bersama Kirishima-nee, Kaneki menjadi tidak pernah mengganggunya lagi?"

"Kau benar, itu memang aneh. Tapi sekarang Kaneki sudah mulai melukai Haise lagi bukan?"

"Ya."

"Sejak kapan?"

Shiro terlihat memikirkan sesuatu. Rasa peningnya perlahan menghilang diganti dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Sungguh, sangat jarang kau bisa menemui kejadian seperti ini. Kejadian dimana si pangeran es dengan sifatnya itu bersedia berbicara panjang lebar.

"Kalau tidak salah sejak Kuro mengajak temannya ke rumah. Teman Kuro itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Kirishima-nee dan saat aniki melihatnya, aniki jatuh pingsan."

"Sejak saat itu?" Nishiki terlihat serius memandangi Shiro.

"Ya. Kenapa? Apa ada sesuatu yang terpikirkan oleh Nishiki-nii?" Shiro balik bertanya.

"Mungkin itu yang memancing Kaneki untuk kembali melukai Haise."

Shiro mengernyitkan alis. Apa maksudnya? Memancing Kaneki untuk melukai Haise? Shiro memberikan tatapan bertanya pada Nishiki yang kini tengah menikmati minumannya. Selesai menyesap pesanannya tadi, pria berkacamata itu kembali menatap kelereng asap didepannya.

"Aku hanya berpikir sederhana seperti ini—awalnya Kaneki melukai Haise karena perhatiannya yang teralih pada kau dan Kuro, khususnya Kuro yang sangat mirip dengannya. Dan sekarang, saat Kaneki mengetahui bahwa ada seorang lagi yang sangat mirip dengan kekasih Haise, mungkin saja Kaneki memutuskan untuk segera membawa pergi Haise. Kau tahu, mungkin saja Kaneki cemburu karena adanya reinkarnasi dari orang-orang dimasa lalu Haise yang sangat disayanginya."

Shiro semakin bingung. Penjelasan sepupunya itu sangat rumit untuk dipahaminya. Sambil berusaha mencerna setiap katanya, si putih kembali bertanya.

"Ini bukan berpikir sederhana, ini rumit. Tolong jelaskan secara singkat saja," ia meminta, membuat Nishiki terpaksa mengulang pernyataannya tadi.

"Kaneki cemburu karena adanya reinkarnasi orang-orang dari masa lalu Haise yang telah wafat. Reinkarnasi mereka yang mampu merebut perhatian Haise."

Nishiki menjelaskan secara ringkas, membuat Shiro kini mengangguk-angguk tanda mengerti. Sekarang ia bisa mengambil beberapa kesimpulan ; Kaneki adalah kakaknya —walau sudah jelas ia sangat membenci fakta ini—, kakaknya itu adalah seorang pencemburu akut, kakaknya yang satu ini sangat menyayangi kembarannya dan akan melakukan apapun asalkan Haise dapat berada disisinya.

"Lalu aku harus melakukan apa untuk menolong aniki?" Shiro kembali bersuara.

"Dari yang sederhana saja. Hormati Kaneki. Panggil dia 'Kane-nii' dan Haise dengan 'Haise-nii' atau 'niisan' seperti Kuro. Jangan menyebut kakakmu dengan 'aniki'. Kaneki tidak suka saat kau memanggil Haise seperti itu," Nishiki menjawab tenang, membuat perempatan imaji muncul di kening pemuda didepannya.

"Jika harus memanggil 'Haise-nii', aku tidak keberatan. Tapi 'Kane-nii'? Aku tidak terima!" Shiro menjawab ketus.

"Kau harus mau, Shiro! Bagaimanapun juga dia itu kakakmu, kau harus menghormatinya!"

"Itu tidak berpengaruh apakah dia akan berhenti melukai aniki atau tidak!"

"Ada!"

"Apa?"

"Dia akan merasa dihormati dan disayang. Dia pasti akan mengurangi tindakan yang berisiko pada Haise."

"Apa sekarang Nishiki-nii berpikir bahwa Kaneki adalah pribadi yang kurang kasih sayang?"

"Tidak, itu hanya argumenku."

"Bagus! Sekarang kita bertindak atas dasar pemikiran irasionalmu, Nishiki-nii."

"Apa pendapat dan saranku tidak didengar disini?"

"Aku mendengarnya, Nishiki-nii. Tapi aku tidak mengatakan bahwa aku menerimanya."

"Kenapa kau selalu mempersulit masalah, Shiro?"

"Aku tidak mempersulitnya. Aku hanya enggan menerimanya, itu saja."

"Kenapa?"

"Entahlah. Rasanya sulit menyebut seseorang yang melukai keluargamu sebagai kakak."

"Ayolah, Shiro. Kita coba saja. Demi Haise dan Kuro."

"..."

"Bagaimana?"

"Baiklah. Demi aniki dan Kuro."

Setelah perdebatan yang cukup melelahkan, akhirnya si putih menerima Kaneki dengan lapang dada. Seluruh fakta yang ia dengar tadi disimpannya baik-baik di memori otaknya. Ia mengusap lelah wajahnya dengan kasar, membuat Nishiki terkikik geli melihat tingkah sepupunya yang kini nampak seperti pemuda putus asa yang baru saja ditolak cintanya. Peningnya berangsur menghilang dan kedua tangan serta kakinya sudah tidak gemetar.

Merasa tubuhnya sanggup digerakan dengan leluasa lagi, menit berikutnya langsung digunakan Shiro untuk memandang sekelilingnya. Sepi—itu yang dilihatnya. Tak ada, bahkan hanya satu pengunjung-pun selain mereka berdua disana. Shiro langsung memindahkan manik abunya pada pria didepannya, menatap orang berkacamata itu dengan takut. Matanya seolah mengatakan 'Apa semuanya pergi karena aku?' dan Nishiki yang sangat paham gelagat saudaranya itu mengangguk. Shit! Sekarang Shiro merasa bersalah pada pemilik café itu!

"Bagaimana, Nishiki-nii? Aku merasa tidak enak," Shiro menatap sepupunya dengan pasrah.

"Pulanglah, aku akan menangani ini. Lebih baik kau jaga Haise dan Kuro," Nishiki tersenyum lembut, membuat Shiro menghela napas lalu langsung berdiri, membungkukkan badannya, dan mulai mengambil langkah untuk kembali ke rumahnya. Saat ia akan membuka pintu café, Nishiki kembali berteriak kecil.

"Hormati kakakmu!" katanya penuh arti.

"Akan kucoba," Shiro mengulum senyum tipis dan menghilang dibalik pintu, membuat Nishiki secara tidak sadar ikut tersenyum.

'Kaneki, semua orang mencintaimu'

To be continue...


Akhirnya dilanjut juga! Maaf update-nya telat banget, ada hal penting yang harus diurus beberapa bulan ini. Bahas beberapa chap dari original manga-nya, saya dilema apakah harus tertawa atau nangis saat Arima wafat. Jujur, saya tidak begitu suka dia, tapi sedih juga pas dia mati T_T Selain itu saya bersorak bahagia begitu lihat Mutsuki jadi badass (tapi sedih juga lihat masa lalunya). Well, saya juga sudah curiga kalau Arima sama Eto pasti ada 'sesuatu'.

(saya merasa ini mulai menjurus ke drama, maaf kalau tidak menyukai genre ini. Chap depan saya akan berusaha mengembalikannya ke jalan yang benar :v)

Baiklah! Terimakasih untuk teman-teman semua yang sudah membaca sampai disini! Semoga tidak mengecewakan dan bagi yang berkenan tolong tinggalkan jejaknya ya! Saya sangat menghargainya ^^


Replies reviews

- AlphaKiller - Leon (Dan akhirnya Amon muncul juga! Gimana nih pendapatnya? :D Ishida-sensei ternyata memihak Kaneki! Sepertinya harapan battle Arima vs Eto tidak terwujud ya? Tapi gak tau kenapa feeling saya mengatakan bahwa Arima akan jadi objeknya Kanou, tapi jangan sampai deh! Serem juga :v Terimakasih ya sudah meninggalkan jejak. Jika berkenan, mungkin bisa meninggalkan jejaknya lagi(?) Semoga tidak mengecewakan ya ^^)

- Frwt (GOMENNASAI! SUMIMASEN! Maaf banget karena chap kali ini sama ngaretnya dengan yang sebelumnya! Sungguh! Saya tidak bermaksud! T_T Terimakasih atas review-nya! Boleh dong meninggalkan jejaknya lagi hihihi~ :D Semoga tidak mengecewakan ya!)

- Dravanda (Pertanyaan Dravanda-san sudah terungkap! Shiro kern ya? Shiro badass ya? Memang sih Shiro keren, tapi hatiku hanya untuk Haise/masa bodo :v Terimakasih sudah me-review! Jangan lupa tinggalkan jejaknya lagi ya! Semoga tidak mengecewakan ^^)