BECOME HIS BUTLER

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saia cuma numpang minjem

Rated T

Pairing : SasuNaru, slight GaaNaru

Warning : Typo, OOC, dan teman-teman lainnya, semoga bisa dimengerti.

Informasi umur : Naruto Namikaze : 17 tahun.

Kyuubi Namikaze : 20 tahun.

Sasuke Uchiha : 15 tahun.

Itachi Uchiha : 20 tahun.

Sakura Haruno : 15 tahun.

Sabaku no Gaara : 17 tahun.

.

.

.

"Kau kan.." Sasuke langsung beranjak dari tempat duduknya, tidak menghiraukan kakinya lagi. Mata Onxynya benar-benar terkejut saat ini.

"Kenapa kau ada disini Tuan perusak suasana?" Pemuda merah itu malah semakin mendekati Sasuke.

Kedua pemuda itu saling bertatapan dengan kilat marah yang mereka pancarkan. Gaara dan Sasuke bertemu.

"Aku yang seharusnya bertanya, Kenapa pemuda panda sepertimu bisa ada disini?"

Dan untuk Naruto...

Hatinya ingin jatuh kalau saja bisa, melihat pemandangan di depannya sekarang.

1 detik, 2 detik...

'Gyaaa! Apa yang harus kulakukan!'

Chapter 7 : Break my Identity!

Panik, Naruto sudah benar-benar panik sekarang, keringat dingin mulai mengucur deras di pelipisnya. Pikirannya sudah kacau.

'Kami-sama, semoga saja Gaara tidak tahu kalau aku sedang ada disini!' batin pemuda pirang itu dalam hatinya.

Ternyata permintaan Naruto sepertinya salah, mengingat dirinya sendiri yang mengatakan kalau dia sempat terjatuh dan pergi ke ruangan ini untuk beristhirahat. Jadi sudah pasti kan doanya itu tidak akan terkabul~

"..."

Kedua pemuda itu masih saling bertukar tatapan mematikan, entah karena apa. Naruto sendiri kurang tahu~

"Aku kesini, bukan urusanmu." Gaara tiba-tiba saja mengacuhkan pemuda raven di depannya. Pemuda merah itu masih terus berjalan semakin mendekati tempat dimana Naruto terdiam panik sekarang, sampai..

"Kalau aku tidak salah dengar, tadi sepertinya kau memanggil nama si Dobe," dan ucapan Sasuke itu sontak membuat Gaara terdiam, dan kembali menatap si bungsu Uchiha.

'Gyaa! Kumohon Gaara, bilang kalau dia itu salah dengar!' pekik Naruto makin panik, dan...

"Kalau aku memang memanggilnya, lalu apa urusannya denganmu?"

Jawaban Gaara benar-benar telak mengenai Naruto, pemuda pirang itu sekarang hanya bisa membeku disana.

"Hn, Aku berhak tahu semua hal tentang si Dobe itu karena dia.."

DEG, Jantung Naruto langsung berdetak cepat, dengan gesit pemuda pirang itu ingin segera menghalangi perkataan si bungsu Uchiha itu sebelum semuanya terlambat. Dan tanpa basa-basi lagi.

"Tunggu!" Naruto keluar dari tempat persembunyiannya tadi (masih dengan pakaian yang ia kenakan tadi tentunya), Ia memandang kedua pemuda yang kini beralih menatapnya. Sasuke sedikit kaget ketika perempuan pirang itu tiba-tiba saja menghentikan pembicaraannya tadi.

"Kenapa kau berteriak seperti itu?" tanya pemuda raven itu bingung.

Napas Naruto yang masih terengah-engah berusaha mencari-cari ide yang tepat untuk situasi sekarang, sampai mata Saphire pemuda pirang itu bertubrukan dengan iris jade milik sahabatnya, Gaara.

Glek, dengan cepat Naruto segera memalingkan wajahnya dari Gaara, berharap kalau pemuda merah itu tidak mengetahui kalau gadis di depannya matanya sekarang ini adalah dia!

"..." lama Gaara terdiam, matanya menatap gerak-gerik aneh dari gadis pirang yang tiba-tiba saja menganggu pembicaraannya dengan si Uchiha ini. Ia masih memandangi gadis itu sampai menyadari satu kejanggalan darinya, dan..

GREP, Pemuda merah itu tanpa basa-basi lagi menarik gadis pirang itu pergi dari ruangan tadi dan meninggalkan Sasuke yang masih terdiam disana.

"..."

'Cih, Aku harus menanyakan Dobe tentang hal ini' batin pemuda raven itu, dia benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan teman butlernya. Otaknya masih berpikir keras, tidak memperdulikan lagi rasa sakit di kakinya yang makin membengkak itu.

...

Lorong sekolah~

Sedangkan Gaara dan Naruto sekarang...

Pemuda merah itu masih setia menarik-narik tangan Naruto, entah mau di bawa kemana sahabatnya yang satu ini.

Takut, takut Naruto memandang Gaara, 'Masa dia sadar kalau ini aku?' batinnya tak menentu.

Keduanya masih terus berjalan di lorong sekolah, sampai..

"..."

Gaara berhenti menghentikan langkah kakinya, pemuda pirang di belakangnya itu makin panik. Dan secara tiba-tiba..

Bruk, pemuda merah itu mendorong tubuh Naruto yang kini masih berpakaian perempuan itu di tembok, mata jade Gaara masih terus memandanginya. Membuat Naruto mau tak mau deg-degan plus gugup.

"Jadi.." pemuda merah itu memulai perkataannya.

"..." Naruto masih terdiam.

"Bisa kau jelaskan semua ini padaku, N-A-R-U-T-O?" tanya Gaara dengan penekanan ketika memanggil namanya.

Keringat dingin kembali berjatuhan di wajah tan Naruto, Dia benar-benar bingung harus bicara apa?!

"I..itu..Kau mengenalku Gaara?" tanya pemuda pirang itu balik, berusaha mengatur napasnya ketika jarak diantara mereka berdua semakin dekat.

Gaara terdengar mendengus pelan, "Kau pikir sudah berapa tahun kita ini berteman Naruto?! Jadi jangan coba-coba lagi menyembunyikan sesuatu dariku." Ucap pemuda merah itu sekali lagi, tatapan datar dan marah bercampur menjadi satu.

Naruto menundukkan kepalanya, tidak berani menatap sahabatnya yang kini sedang mengeluarkan tatapan mematikannya~

"Jawab aku Naruto! Kenapa kau memakai pakaian seperti ini?!" seru Gaara sekali lagi.

"..." Naruto tidak berani berkata apa-apa.

"Jangan menunduk, tatap wajahku Naruto Namikaze!"

Gelengan kencang dari kepala Naruto membuat hati Gaara semakin panas.

Pemuda merah itu mencoba menenangkan dirinya, mengatur napasnya yang tadi naik turun. "Sekarang jawab aku Naruto, Kenapa tadi kau berduaan dengan si perusak suasana itu?" tanya Gaara dengan nada yang sedikit ia turunkan.

"I..itu karena kakinya terluka..jadi tidak ada salahnya aku menolongnya.." jelas pemuda pirang itu singkat.

"Bukannya kau sedang sakit juga?"

Pertanyaan Gaara kembali membuat Naruto membeku di tempat, "..." akhirnya yang bisa ia lakukan sekarang hanya membisu.

Melihat gerak-gerik Naruto yang tidak ingin menjelaskan semua yang ia lihat tadi, Gaara menatap sahabat pirangnya itu kecewa, "Jadi kau berbohong denganku,"

Mendengar perkataan Gaara Naruto seketika langsung menatap wajah pemuda merah itu, dan yang ia lihat sekarang adalah tatapan kecewa dari sang sahabat.

"Bu..bukan begitu Gaara.."

"Kau sudah berbohong denganku Naruto, Kau tahu seberapa paniknya tadi aku ketika mendengar kalau kau terjatuh?! Dan ketika berniat menjengukmu, Kau malah berduaan dengan orang itu!" Gaara sedikit menekankan volume suaranya, membuat sahabatnya itu kini makin terdiam.

"A..aku tidak bermaksud seperti itu Gaara, Aku hanya.." belum selesai Naruto menjelaskan semuanya, pemuda merah yang tadi menghimpit gerakannya segera pergi dari hadapannya.

"Gaara dengarkan aku dulu!"

"Kau mengecewakanku Naruto," ucap Gaara untuk yang terakhir kalinya, dan kembali melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Naruto yang masih membeku karena ucapannya itu.

"Aku tidak bermaksud membohongimu Gaara, sungguh..." gumam pemuda pirang itu sedih.

.

.

.

.

Naruto melangkahkan kakinya lemas, berjalan menuju kamar mandi. Perlahan ia membuka kembali plester di kedua pipinya itu dan kini kembali memperlihatkan tiga garis yang menjadi ciri khasnya.

...

Kamar Mandi~

Ckleck, pemuda pirang itu membuka pintu kamar mandi dengan hati-hati, berharap tidak ada siapapun disana, dan untunglah. Sepi.

"Aku harus segera mengganti pakaianku." Gumamnya kecil, Naruto segera melepaskan semua pakaian drama yang ia pakai. Dan memakai kembali pakaiannya yang seperti biasanya, tak lupa melepaskan wig panjang yang masih bertengger rapi di kepala pirangnya itu.

"..."

Dan tak sampai semenit, Ia pun kembali menjadi seorang Namikaze Naruto, bukan Naruko lagi~

Pemuda pirang itu menatap dirinya di kaca, pikirannya masih melayang pada kejadian tadi, "Baru kali ini kulihat Gaara marah besar seperti tadi." helaan napas panjang pun terdengar.

"Apa aku sudah keterlaluan ya? Selama ini aku belum pernah berbohong seperti itu dengannya~" gumamnya lagi.

"..." lama Naruto tediam sampai akhirnya memutuskan untuk mencoba meminta maaf dengan sahabatnya itu.

"Hah~ semoga saja Gaara mau memaafkanku~" ujarnya, seraya merapika semua kostum yang ia kenakan tadi dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Tanpa memikirkan kalau masih ada satu masalah lagi yang akan mendatanginya nanti?

OoOoOoOoOOoO

SKIP TIME~

"Ini dia, ini dia..." Naruto tak henti-hentinya bergumam tidak jelas, pemuda pirang itu berharap semoga saja sahabatnya yang satu itu tidak terlalu kesal dengannya, apalagi ini sudah hampir waktu pelajaran terakhir, kalau tidak berhasil hari ini, sudah dipastikan nanti malam ia tidak bisa tidur. 'Nanti siapa dong yang membantuku membuat pr!'

Dan dengan perlahan, Ia segera membuka pintu kelas.

Grek, pintu kelas terbuka yang kini menampakan dirinya, mata Saphire Naruto langsung menelusuri setiap ujung kelasnya dan..

'Itu dia!' pekiknya dalam hati, melihat seorang pemuda merah tengah duduk sambil membaca buku seperti biasanya.

Naruto segera melangkahkan kakinya mendekati sahabat merahnya itu,

"Yoo! Gaara!" serunya kencang.

"..." krik, krik, krik, tidak ada yang menjawab. Gaara tetap membisu dan malah semakin asyik dengan buku yang di pegangnya itu.

Naruto sedikit sweatdrop, "Halo Gaara, Kau mendengarkanku?" tanya pemuda pirang itu masih tidak mau kalah.

"..." masih tidak ada jawaban. Keringat dingin makin mengucur dari pelipisnya.

'Gawat! Dia benar-benar marah!'

"Ga..Gaara kau tidak marahkan denganku?" tanya Naruto kembali. Dan mendengar pertanyaan dari pemuda pirang di depannya itu. Tentu saja..

"..." Gaara menatap Naruto sekilas, memberikan deathglarenya andalannya, yang sukses membuat pemuda pirang itu makin panik.

"Gaara Gomen! Gomen!" tanpa basa-basi lagi, Naruto langsung menerjang sahabatnya yang satu itu, kedua tangannya sudah mengatup sempurna. Meminta permohonan maaf dari pemuda merah di depannya sekarang ini.

"..." Gaara malah semakin membisu.

"Huwee! Gaara Gomen, Aku tidak bermaksud membohongimu!" melihat kemarahan Gaara yang pertama kalinya tentu membuat Naruto kalang kabut. Mengingat kalau sahabatnya ini sebenarnya orang berkepala dingin, dan tidak mudah marah. Nah sekarang...

"Gaara Gomen!!" tak henti-hentinya Naruto mengucapkan kata maaf, pemuda pirang itu tidak peduli dengan tatapan bingung semua teman di kelasnya. Sekarang yang ada di pikirannya hanya membuat pemuda merah ini tidak marah lagi padanya, hanya itu!

"Kalau kau memang ingin meminta maaf denganku, jelaskan semua kejadian tadi." ucap Gaara pada akhirnya.

"Eh! I..itu..Aku.."

Srek, Gaara tiba-tiba saja menutup buku yang sedang di bacanya tadi dan beranjak dari tempat duduknya. Mata jadenya menatap sekilas wajah Naruto yang sedang kebingungan, dan kembali melenggang pergi dari hadapannya.

"..."

Melihat sikap Gaara membuat Naruto tertunduk sedih, pemuda pirang itu akhirnya terpaksa kembali ke tempat duduknya. Meskipun pikirannya masih kacau sekarang ini.

...

Naruto masih melamunkan sikap Gaara tadi padanya, mata Saphirenya tak berhenti menatap langit yang entah kenapa tiba-tiba saja berubah mendung. Seperti hatinya saat ini~

"Hah~" helaan demi helaan terdengar dari bibirnya, pemuda pirang itu masih terdiam di bangkunya sampai..

Drttt, handphone di sakunya bergetar membuatnya tersentak kembali dari lamunannya tadi. Pemuda pirang itu mengambil benda itu dengan malas. Dan ketika melihat nama yang tertera di handphonenya itu, matanya seketika terbelalak lebar.

"Eh?! Kenapa si Teme tiba-tiba menghubungiku?!" seru Naruto, Ia benar-benar kaget ketika majikannya yang satu itu menghubunginya, biasanya kan Sasuke itu selalu mengiriminya pesan bukan menelponnya. Dan sekarang..

"Jangan-jangan dia masih ingat dengan perkataan Gaara tadi!" akhirnya dengan cepat pemuda pirang itu beranjak dari tempat duduknya dan berlari keluar dari kelasnya, mencoba mencari tempat aman untuk mengangkat panggilan si bungsu Uchiha itu.

OoOOoOoOooOoO

Taman~

Handphonenya masih setia berdering sejak tadi, Naruto pikir setelah lama ia tak mengangkat panggilan Sasuke. Pemuda raven itu akan menyerah, dan ternyata perkiraannya salah besar.

Sampai akhirnya pemuda pirang itu terpaksa mengangkat handphone dengan hati-hati.

"Mo...Moshi-moshi.." ujarnya sedikit gugup.

"Hn, Dobe." Suara dingin yang sangat ia kenal, makin membuat Naruto panik.

"Ada apa kau menghubungiku Teme?" pemuda pirang itu berusaha keras mengatur suaranya agar tidak terdengar gugup.

"Sepulang sekolah nanti ada yang ingin kubicarakan denganmu, jemput aku nanti di depan gerbang." Ucap pemuda raven itu datar. Nah si Naruto malah makin gigit jari,

'Pasti membicarakan tentang kejadian tadi, Aduh! Kalau nanti si Teme tahu, pasti dia akan mendesakku untuk memberitahukan nama marga keluargaku, dan bisa saja dia.. Argghh!' pikiran Naruto mulai kacau.

"Dobe, Kau masih disana kan?" perkataan Sasuke kembali menyadarkan pemuda pirang itu.

"I..iya masih kok!"

"Jadi kau sudah mengerti kan maksudku tadi."

"Aku mengerti."

"Dobe.."

"A..ada apa?" Naruto makin gugup.

"Kau tidak pernah berbohong denganku kan?"

DEG, pertanyaan Sasuke sontak membuat hatinya mencelos, tadi sudah Gaara dan sekarang giliran majikannya ini!

"Bo..bohong apa, Aku tidak mengerti?!" jawabnya cepat.

"Hn, tidak apa-apa." Klik, Sasuke langsung memutuskan panggilannya tadi.

...

Satu detik..

Dua detik..

Tiga detik..

"Gyaa! Kyuu-nii bantu aku!" teriakan Naruto mulai menggema di seluruh lorong.

.

.

.

.

Sekarang Gaara tengah membaringkan badannya di rumput taman, mata jadenya menatap langit yang semakin mendung.

Gaara POV :

"Hah~ kenapa dia harus menyembunyikan hal itu denganku." Aku benar-benar tidak habis pikir, sahabat pirangku itu berbohong. Mengatakan kalau dia sedang sakit karena terjatuh, dan ternyata malah berduaan dengan Tuan perusak suasana itu. Apa dia tidak tahu kalau sedari tadi aku panik memikirkannya!

"..."

Angin kembali menggerak-gerakkan rambut merahku ini. Perlahan kupenjamkan mata, mencoba menenangkan diri.

"Lagi pula kenapa dia harus berpakaian perempuan seperti itu.."

Kilasan balik kejadian tadi, malah lagi-lagi berputar di pikiranku. Membayangkan Naruto berduaan dengan pemuda raven itu, entah kenapa membuat hatiku sakit.

"Menyebalkan."

End Of Gaara POV.

oOOoOooOoOoOoOo

SKIP TIME~

Dan begitulah sekarang, selama pelajaran berlangsung. Naruto tak henti-hentinya menatap sahabat merahnya itu. Kalau Gaara, pemuda itu hanya membiarkan saja Naruto menatapnya panik~

'Bagaimana ini, masalah dengan Gaara belum selesai, sudah ada masalah dengan si Teme itu lagi!' teriak Naruto dalam hatinya.

'Arrgghh! Kyuu-nii, Kaasan, Tousan. Kalau begini terus aku jadi tidak tahan lagi!'

"..."

"Hah~"

Pemuda pirang itu menatap Gaara dan kembali beralih pada majikannya yang saat ini sedang duduk di gedung seberang. Pikirannya makin bingung, sepertinya satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini adalah memberitahukan mereka yang sebenarnya. Baik pada Gaara dan Sasuke. Berharap bagi majikannya itu tidak bertanya macam-macam lagi dengannya.

'Gomenne Kyuu-nii, sepertinya aku harus memberitahukan mereka tentang ini."

.

.

.

SKIP TIME~

Teng, Teng, suara bel terakhir akhirnya berbunyi juga. Membuat Naruto bernapas lega, sepertinya sekarang dia bisa kembali meminta maaf pada sahabatnya itu dan menjelaskan semuanya.

Pemuda pirang itu dengan cepat beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati tempat duduk Gaara.

"Gaara..." panggilnya, pemuda merah yang mendengar panggilan Naruto. Hanya bisa menoleh menatap sahabat pirangnya itu dengan datar.

"Baiklah, baiklah akan kujelaskan semuanya~" ujar Naruto.

Tanpa ia sadari, senyum tipis terbingkai di wajah Gaara. "Menjelaskan apa?" tapi pemuda itu masih ingin mengerjai Naruto, dan berpura-pura tidak tahu.

"Ya..ya menjelaskan tentang kejadian tadi pagi itu!"

"Hn, Kau tidak ingin berbohong denganku lagi kan."

Naruto menggeleng kencang, "Tidak, Aku janji. Maka dari itu.."

"Gomen.." pemuda pirang itu untuk yang kesekian kalinya mengucapkan kata maaf.

Melihat Naruto yang tertunduk seperti itu, membuatnya tidak tega juga. sampai akhirnya ia beranjak juga dari tempat duduknya, mendekati pemuda pirang itu. Dan mengusap lembut rambut Naruto.

"Bagus, Kalau kau sudah jujur denganku. Itu saja sudah cukup, Kau tahu itu Naruto."

"Iya, sekali lagi Gomen~"

"Jadi apa kau bisa menjelaskan semua padaku sekarang?" ujar pemuda merah itu.

Ingin Naruto menjawab iya, tapi begitu melihat handphonenya yang bergetar lagi. Membuat pemuda pirang itu menghentikan perkataannya.

"Tunggu sebentar." Dengan cepat Naruto menjawab panggilan itu, yang tentu saja ia ketahui dari majikannya, Sasuke Uchiha.

...

"Ya, ada apa Teme?" tanyanya.

"Kau tidak lupa kan dengan perkataanku tadi?"

"Ta..tapi Teme, Aku masih ada urusan sebentar, jadi.."

"Kutunggu sekarang juga." perkataan Sasuke yang sepertinya tidak menerima penolakan itu membuat pemuda pirang itu kesal.

"Iya, iya!"

...

Setelah Naruto memutuskan panggilan Sasuke, ia segera mendekati Gaara yang sedari tadi masih menunggunya.

"Jadi siapa tadi yang menghubungimu?" tanya pemuda merah itu To the Point.

"I..itu Sasuke.." jawab Naruto sedikit pelan.

Dapat ia dengar sahabat merahnya itu mendengus pelan, "Bisa kau ceritakan semuanya padaku."

"..." pemuda pirang itu bingung mau berkata apa, di bawah Sasuke sudah menunggunya. Dan sekarang dia belum mengatakan apa-apa pada Gaara, akhirnya dengan terpaksa...

"Gomen, Gaara. Bisa tidak kujelaskannya besok pagi saja!" seru Naruto cepat, pasti Gaara semakin kesal dengannya sekarang.

Dan ternyata..

Plok, sebuah tepukan kecil kembali mendarat di kepalanya membuat Naruto tersentak kaget. Dengan cepat ia segera mengadahkan wajahnya kembali. Mata Saphirenya terbelalak lebar ketika melihat bukan wajah Gaara yang kesal melainkan wajah tersenyum sahabatnya itu~

"Gaara.."

"Hn, tidak apa-apa, asal kau mau memberitahuku saja. Aku siap mendengarkannya kapan pun." Ujar pemuda merah itu.

"Kau tidak marah lagi denganku kan?" tanya Naruto tak percaya.

"Hn, Tidak."

"..." lama Naruto merespon perkataan Gaara sampai..

"Gyaa! Arigatou Gaara! Kau memang sahabatku yang terbaik!" teriak pemuda pirang itu senang, dengan cepat ia memeluk sahabat merahnya itu.

"Ya, ya cepat lepaskan pelukanmu Naruto. Sesak!"

"Baik! Kalau begitu aku pergi dulu ya! Besok pasti akan kuceritakan semuanya!" Naruto melepaskan pelukannya itu dan segera mengambil tasnya kembali, lalu berjalan pergi meninggalkan kelas dan Gaara. Tanpa menyadari kalau Gaara masih menatap kepergian pemuda pirang itu.

'Sahabat ya?'

oOOooOoOooOoOoo

Naruto sedikit terengah-engah ketika berlari mendekati gerbang sekolah (Pakaian butler sudah terpasang rapi di tubuhnya kembali), pemuda pirang itu masih berharap kalau Sasuke belum sampai di tempat itu daripada dirinya. Dan syukurlah ternyata pemuda raven itu belum turun dari kelasnya. Huh! Padahal tadi dia sendiri yang menyuruh cepat-cepat tapi nyata, malah orangnya sendiri yang terlambat!

Mata Saphirenya melirik ke kanan dan ke kiri, sampai sebuah siluet yang sangat familiar di matanya membuatnya mendengus kesal.

"Akhirnya datang juga si Teme." Gumamnya.

Sasuke berjalan semakin mendekatinya, ternyata si bungsu Uchiha itu tidak sendiri. Seorang gadis berambut pink yang Naruto kenali itu berada dekat dengan majikannya itu. Mata Naruto langsung berbinar-binar melihat kedatangan gadis cantik itu!

...

Pemuda pirang itu tak segan-segan lagi menghampiri Sasuke dan gadis merah muda itu. Sasuke sendiri menaikkan alisnya bingung ketika melihat butlernya itu menghampirinya, biasanya kan pemuda pirang ini selalu malas~

"Ah! Sasuke akhirnya kau datang juga!"

Sasuke makin merasa aneh, 'Kenapa dia memanggilku dengan nama, bukan seperti biasanya.' Batin pemuda raven itu bingung, sampai akhirnya ia tahu alasan Naruto bersikap seperti ini.

'Hn, pantas saja~' melihat Naruto yang kini masih mengeluarkan cengiran khasnya pada gadis merah muda aka Sakura. entah kenapa membuat si bungsu Uchiha ini kesal.

Pemuda pirang itu langsung mendekati majikannya itu, "Nee~ Sasuke kenalkan dia padaku dong~" bisiknya kecil.

"Hn, Ayo pulang." Dengan cepat pemuda raven itu menarik tangan Naruto menjauh dari gadis merah muda itu.

"Jaa nee Sasuke-kun, hati-hati dengan kakimu!" seru Sakura.

"Hn."

"He..hei! Kan kubilang kenalkan dia denganku Teme!!" teriak Naruto kesal, masa ingin berkenalan dengan gadis merah muda itu saja tidak boleh!

"Hn," yah hanya kata-kata itulah yang keluar dari bibir Sasuke, pemuda raven itu masih menarik tangan butlernya.

Naruto menghela napasnya panjang, 'Sepertinya percuma berbicara dengan pemuda datar sepertinya~' batin pemuda pirang itu kesal.

Tiba-tiba Naruto kembali teringat dengan cedera di kaki Sasuke karena permainan tadi, dengan cepat ia menarik tangannya agar tidak memberatkan beban majikannya itu. Nanti yang ada si pantat ayam ini makin sakit lagi~

OoOOoOoOoOoOO

Skip Time~

Perjalanan~

Sasuke segera mengendarai mobilnya menjauh pergi dari sekolahnya, sedangkan Naruto. pemuda pirang itu masih bingung, kemana si bungsu Uchiha ini mau membawanya.

"Nee~ Teme, Kau mau membawaku kemana?" tanyanya.

"Hn, lihat saja."

Naruto mengerucutkan bibirnya kesal, "Dasar aku bertanya malah di jawab seperti itu!" gerutunya kesal.

...

Dan tak sampai beberapa jam, akhirnya mereka sampai juga. Melihat pemandangan di depannya kini, membuat bibir Naruto ternganga dengan tidak elitnya.

"Indah sekali!" serunya tanpa sadar, sebuah pemandangan taman besar yang sangat indah kini sudah tersaji di depan matanya. Belum pernah ia melihat pemandangan seperti ini, biarpun hanya sebuah taman, tapi baik tempat, tanaman, dan berbagai arsitektur yang sangat langka ada disini!

"Ayo." Sasuke tiba-tiba menarik tangan pemuda pirang itu, berjalan semakin mendekati taman itu.

"Sebenarnya kau mau bicara apa Teme, sampai-sampai mengajakku kesini?"

"Hn,"

"Jangan hanya menjawab Hn, saja dong! Aku kan tidak mengerti!"

oOOoOOOoOoOOo

Kedua pemuda itu masih terus berjalan, berjalan. Sampai akhirnya Naruto tidak tahan juga, biar begini juga. Pemuda pirang itu kan khawatir dengan kondisi kaki majikannya itu.

"Teme~ kita mau berjalan sejauh mana lagi!" rengek Naruto.

Sasuke terus berjalan, hingga pemuda raven itu menghentikan langkahnya dan mengajak Naruto untuk duduk di sebuah danau kecil yang baru saja dilihat oleh Naruto.

"Ayo duduk." Ujar Sasuke.

"Hee~ Jadi ada danau kecil juga disini?! Sugoii!"

"..."

Sasuke masih memandang wajah Naruto yang tampak berbinar-binar melihat pemandangan di depannya, sampai tak terasa sebuah senyuman kecil tercipta dari wajah tampannya.

"Duduklah Dobe, ada yang ingin kubicarakan." Perkataan pemuda raven itu sontak membuat Naruto menghentikan kegiatannya tadi, dan berbalik menoleh pada majikannya itu.

"Baiklah." Dengan sedikit terpaksa akhirnya ia berjalan mendekati pemuda raven itu, dan duduk di sampingnya.

"Jadi apa yang ingin kau katakan Teme?" sebenarnya Naruto sudah bisa menebak semua pertanyaan yang akan Sasuke lontarkan padanya, dan pemuda pirang itu sudah lelah bersembunyi terus. Jadi terpaksa ia memberitahu semuanya pada majikannya ini.

"..."

DEG, Pikiran Naruto kembali melayang-layang, Ia mengingat kembali ketika kakaknya itu mendapatkan sebuah pekerjaan dan betapa senang Kyuubi. Bagaimana jadinya kalau nanti Sasuke menanyakan marganya, sehingga membuat Kyuu-nii harus di pecat. Dan senyuman kebanggaan milik kakaknya itu harus pudar hanya karena kesalahannya, Apa ia rela. Meski pun Kyuu-nii belum memberitahukan sebabnya, tapi kalau Naruto mengecewakan kakak tersayangnya itu bagaimana?

Keringat dingin kembali mengucur di pelipisnya,

"Aku ingin bertanya padamu dan jangan berbohong."

Glek, Naruto semakin meneguk ludahnya gugup. Ia mengangguk kecil.

"I..iya."

"Apa kau berbohong kalau waktu itu kau bilang bersekolah di tempat lain?"

"..." lama Naruto terdiam, sampai akhirnya ia mengangguk lagi.

"Iya, Aku memang berbohong." Jawabnya singkat.

Sasuke makin menatap pemuda pirang di sampingnya itu.

"Dan tadi aku tidak sengaja bertemu dengan teman merahmu itu, lalu aku sempat mendengarnya memanggil namamu."

Naruto makin membeku, sepertinya sia-sia saja.

"..."

"Aku ingin bertanya Dobe, Apa kau bersekolah di tempat yang sama denganku?"

Jleb, pertanyaan Sasuke, lagi-lagi membuatnya bingung, padahal ia sudah memikirkan matang-matang tentang ini semua.

"I..itu.."

"Jawab Dobe."

"..."

"Dobe, katakan sekarang juga."

"Hah! Iya, iya, iya! Aku memang bersekolah di sana. Di Konoha Gakuen! Kau puas sekarang?" dengan napas terengah-engah pemuda pirang itu berteriak sekencang-kencangnya.

"Apa sekarang kau ingin mengatahui margaku! Tanya saja!" lanjutnya.

"..." Sasuke terdiam mendengar perkataan butlernya itu.

"Aku memang bersekolah di Konoha Gakuen, kelasku ada di dekat gedung sekolahmu, kelas XII B-2, lalu...hmphh.." Sasuke membekap bibir Naruto, menghalangi pemuda pirang itu berbicara lebih jauh.

"Sudah cukup Dobe," ujar pemuda raven itu.

"Lephhaskann!"

Sasuke segera melepaskan bekapannya dari Naruto,

"Sudah cukup kau bilang, Aku bahkan belum memberitahu nama panjangku!" teriak pemuda pirang itu, Sasuke yang melihat tangan tangan Naruto yang sedikit bergetar langsung mendekati pemuda itu.

"Jangan memaksakan dirimu Dobe, Aku hanya ingin tahu dimana kau bersekolah. Itu saja." Dan perkataan Sasuke itu sontak membuat Naruto terdiam, menatap tak percaya pada majikannya itu.

"A..apa maksudmu, bukannya kau ingin mengetahui nama asliku?" tanyanya semakin bingung.

"Kau tahu.." pemuda raven itu makin mendekati Naruto, dan perlahan ia mendaratkan tangan lebarnya pada puncak kepala butlernya itu.

"Seorang Uchiha tidak akan melanggar janjinya."

Alis Naruto makin bertaut bingung.

"Kau masih ingat kan apa yang dikatakan Kaasanku ketika hari pertamamu bekerja?"

"..."

Sontak Naruto mengingat kembali ucapan Mikoto padanya waktu itu,

"Baiklah, kalau begitu. Kami pasti akan selalu menunggu, sampai kalian berdua siap memberitahu siapa nama marga kalian pada kami. Jadi tenang saja~"

Seketika mata Saphirenya terbelalak lebar, dengan cepat ia menatap wajah majikannya itu dengan tatapan tak percaya.

"Ja..jadi kau tidak akan bertanya dan mencoba mengetahui nama margaku?" tanya pemuda pirang itu.

"Hn."

'Jadi rahasia Kyuu-nii masih aman, dan berarti usahaku belum selesai!' seru Naruto makin senang.

"Kau seriuskan Sasuke?" pertama kalinya ia memanggil nama majikannya itu bukan dengan sebutan seperti biasanya tapi dengan namanya.

"Hn, sudah kukatakan dari tadi."

Satu detik...

Dua detik...

Tiga detik...

"Gyaaa! Arigatou Sasuke!" tanpa sadar pemuda pirang itu memeluk erat Sasuke, membuat si empunya kaget. Dan akhirnya membalas pelukan butlernya yang satu itu.

"Hn."

"Syukurlah!" saking senangnya Naruto, pemuda pirang itu tidak melihat-lihat kalau posisi mereka sekarang sudah hampir dekat dengan danau kecil tadi, dan tanpa basa-basi lagi..

Byurr! Kedua orang itu langsung tercebur di danau kecil itu, Naruto dan Sasuke saling bertatapan, sampai...

"Kh..Hahahaha!" keduanya tertawa bersama, tidak dapat dipungkiri seorang Sasuke Uchiha bisa tertawa lepas seperti sekarang ini.

Sepertinya masalah mereka kini sudah selesai..?

.

.

.

.

Sasuke dan Naruto masih terdiam di taman besar itu, melihat awan yang sudah sangat mendung membuat keduanya berpikir untuk kembali ke mobil mereka.

"Sepertinya akan turun hujan, Ayo Teme!" Naruto yang berniat beranjak dari tempat itu mulai merasa aneh. Kenapa majikannya itu tidak membalas perkataannya?

Akhirnya dengan cepat ia menoleh kembali, dan melihat..

"Teme!!" pemuda pirang itu berteriak kencang ketika melihat Sasuke yang kini terduduk di rerumputan sambil memegang kakinya yang semakin bengkak. Naruto lupa kalau pemuda raven itu sedang cedera!

Secepat kilat ia berlari kembali mendekati Sasuke, mencoba menopang tubuh pemuda raven itu.

"Kau ini sudah tahu kakimu cedera masih saja mengajakku ke tempat seperti ini!"

"..." Sasuke masih tidak menjawab.

"Kita harus segera kembali." Ujar Naruto, berharap hujan tidak turun sekarang. Dan ternyata...

Tes,,tes,,tes.. tetesan hujan perlahan-lahan turun,

"Cih Kuso!! Kenapa harus hujan segala!" rutuk pemuda pirang itu kesal. Lama kelamaan hujan turun semakin deras. Membuat Naruto yang mencoba menopang tubuh Sasuke jadi semakin berat karena air hujan yang semakin menutupi penglihatannya. Mana jarak mereka berdua dengan mobil Sasuke jauh sekali!

Sampai akhirnya ia terpaksa harus berteduh di suatu tempat dan untunglah pemuda pirang itu melihat sebuah rumah kecil di dekat sana. Dan dengan cepat ia mendekati rumah kecil itu.

"Bertahanlah Teme!" serunya.

OooOoOooOoOoOo

Rumah Kecil~

Setelah akhirnya sampai di rumah kecil itu, pemuda pirang itu berusaha mencari-cari sebuah karpet. Ketika melihat sebuah karpet kecil yang ia cari-cari akhirnya ketemu Naruto segera membaringkan majikannya itu di sana.

"Teme kau tidak apa-apa kan?" Naruto berusaha menggerak-gerakan badan pemuda raven itu,

"Dobe.." panggilan kecil pun terdengar dari bibir Sasuke.

"Apa kakimu masih sakit?" tanya pemuda pirang itu cepat.

"Sepertinya begitu.."

Melihat gerak-gerik Sasuke yang seperti menggigil kedinginan membuat Naruto makin khawatir, dengan hati-hati ia menempelkan tangannya pada kening majikannya itu, dan...

"Huwaa! Teme keningmu panas sekali!" teriak Naruto ketika menyentuh kening Sasuke dan mendapati kalau pemuda raven itu ternyata terkena demam parah.

'Jangan-jangan karena sakit di kakinya ini dan karena terjatuh tadi!' pemuda pirang itu langsung panik.

"Sasuke dimana handphonemu, Aku akan menghubungi Itachi-nii!"

Sasuke menggeleng pelan, "Handphoneku tertinggal di mobil."

"Hee! Kalau begitu beritahu berapa nomor hanphone Itachi-nii??" Naruto makin kalang kabut.

"Kepalaku pusing Dobe."

Melihat kondisi Sasuke sekarang, pemuda pirang itu segera mencari-cari cara. Entah kenapa pikirannya benar-benar panik ketika melihat demam Sasuke yang semakin parah ditambah cedera di kaki pemuda raven itu makin membengkak!

Dengan panik ia menghubungi satu-satunya penolong bagi Sasuke sekarang.

"..."

"Kyuu-nii! Tolong angkat!"

TO BE CONTINUED~

A/N :

Gyaaa! Gaje sekali, gaje sekali! Lama Mushi nggak apdet cerita ini, jadi makin gaje! Gyaaa! *guling-guling di aspal* Gomen minna! Mushi baru apdet sekarang! Nah sekarang ini Sasuke udah tahu kalau Naru itu bersekolah di tempat yang sama dengannya. Jadi... mari kita saksikan saja cerita mereka nanti #hihihihi# #plak# XD untuk Cerita ini di khususkan untuk GaaNaru dulu, ya tapi chap berikutnya saya pastikan pasti SasuNaru with a little bit NaruSasu~

Nah untuk cerita selanjutnya akan Mushi beritahu! XD :

"Teme, Kau tidak apa-apa kan?"

"Bibirku kedinginan, Dobe."

"Eh!"

"Hachi! Sekarang kenapa malah aku yang sakit!"

"Biar aku yang merawatmu."

"Aku yang pertama kemari, jadi biar aku yang merawat Naruto."

"Kalian hentikan!"

BYUR!

"Gaara, Sasuke BAKA!"

"Jadi, gomen sudah menyembunyikanmu tentang masalah ini,"

"Tidak apa-apa kok, itu baru Naruto yang kukenal~"

"Cih!"

Stop! Jadi udah pada tahukan kayak gimana cerita selanjutnya, jadi tunggu aja yaa! XD

Jawaban PM :

Yunaucii : nyahaha XD ketahuan kok! #plak# kayaknya untuk sekarang ini nggak dijadwalin deh, tapi untuk jaga-jaga #plak# kayaknya mushi seneng update itu antara hari jumat, sabtu, minggu. XD

Narita : Nyhehehe chap update! XD

Mala-chan12 : Halo juga! XD Nyheheh Gomen lama update! XD iya Naru emang sedikit plin-plan #plak# chap update! XD

Aoi Ciel : Nyahaha Gomen! XD biar tambah greget! XD kayaknya sih ada tapi masih lama #plak# XD

Guest : Nyahaha Gomen! XD biar tambah greget! XD kayaknya sih ada tapi masih lama #plak# XD ItaKyuu mungkin bakal muncul di chap 8 tapi masih sedikit, jadi ditunggu yaa! XD

Icah he : nyehehehe Arigatou sudah meriview XD

Indahyeojasparkyuelfsaranghae Kim Hyung Joong : Kyaaaa! Eh?! Benarkah? Gomen kalau begitu #pundung# nyheheh bercanda! XD Sip" Chap update! XD

Ryu : Sip" chap update! XD Arigatou buat semangatnya! TOT/

Nah segitu aja deh cuap-cuap dari Mushi! XD

Untuk akhir kata LAGI

SILAKAN RIVIEW! \^o^/\^v^/

JAA~