Previous Chapter "CRISIS"

"Kau mau pergi kemana?" Ujar sahabatnya tersebut ketika mendengar suara gaduh dari arah pintu apartemennya. Terlihat beberapa box sepatu berserakan di lantai.

"Date," ujar Sakura dengan nada riang.

"Kau akan berkencan?"

"Iya, date. Berkencan," Sakura membuka box berwarna merah yang berada di tangannya.

"Dengan anak magang itu?"

"Ehmm," angguknya. Ia meletakan sepatu hak tinggi tersebut di lantai.

"Jangan pergi."

"Huh?" Sakura menatap sahabatnya tersebut. "Apa kau bilang?"

"Aku bilang jangan pergi," Sasuke mengulang ucapannya sekali lagi. "Jangan pergi berkencan dengannya."

.

.

EVEN YOU'RE THE CACTUS

"Imperfect Harmony"

(Beberapa karakter kemungkinan akan kurang/lebih OOC, dan juga alur yang sedikit lambat. Enjoy)

.

.

.

Sakura tertawa. Suara tawanya terdengar nyaring di telinga. Wanita itu jarang sekali tertawa sekeras itu. Namun seperkian detik kemudian ekspresi wajahnya berubah menjadi serius.

"Kenapa? Kenapa?" Tanyanya berkali-kali.

Sasuke hanya diam. Tak tahu apa yang harus ia katakan pada sahabatnya tersebut karena ia memang benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa.

"Aku tak punya waktu saat ini, Sasuke." Sakura memakai sepatu hak tingginya tersebut terburu-buru.

Sasuke yang tidak ingin sahabatnya tersebut pergi merebut paksa tas tangan miliknya.

"Sasuke! Kembalikan tas tanganku. Aku tidak punya banyak waktu saat ini."

Setelah lama hanya berdiri diam, Sasuke akhirnya membuka mulutnya, "Kenapa kau sangat ingin pergi dengannya?"

"Bukankah seharusnya aku yang bertanya kenapa kau begini, huh?"

"Pokoknya jangan pergi. Jangan pergi berkencan dengannya," pintanya sekali lagi.

Sakura tertawa, wanita itu hendak menjelaskan kalau ia hanya bercanda namun sahabatnya tiba-tiba saja membuka mulutnya kembali.

"Ah, aku lupa. Kau mungkin tidak akan berkencan atau berpacaran dengannya, tapi… satu yang aku tahu, kau mungkin akan tidur dengannya."

"Kau barusan bilang apa? Tidur dengannya?" Tiba-tiba saja sekujur tubuhnya terasa panas.

"Ya, kau tidak salah dengar. Berhentilah bersikap murahan, kau itu wanita seharusnya bisa jual mahal sedikit. Kau baru saja berpesta dengannya semalam? Dan, sekarang…lihat! Kau ingin pergi berkencan dengannya?!"

"APA? MURAHAN KATAMU?" Suara wanita itu meninggi. Kedua tangannya mengepal keras.

"Iya, kau seperti wanita murahan saat ini! Ku rasa kau sangat tahu panggilan tepat apa yang ditujukan pada wanita murahan!" Suara pria itu ikut meninggi.

Sakura menatap mata pria itu dalam-dalam. Untuk pertama kalinya sorot mata hijau emeraldnya terlihat asing. Tiba-tiba saja ia melayangkan kepalan tinjunya ke arah wajah pria tersebut. Sasuke yang tidak menyangka sedikit kehilangan keseimbangannya dan mundur selangkah. Pukulannya lumayan kencang. Pipinya terasa sangat nyeri sekarang.

Sakura yang masih berapi-api langsung merebut tas tangannya tanpa memintanya terlebih dahulu. Tangan kanannya terasa sangat sakit tapi ia tak sedikitpun mengeluh. Wanita itu hanya memegangnya.

"Jangan pernah berbicara denganku lagi!" Ia langsung berbalik dan pergi sambil membanting pintu apartemen milik mantan sahabatnya itu.

Sasuke hanya diam menatap pintu tersebut. Ia merasa sedikit menyesal karena sudah berkata keterlaluan. Tidak seharusnya ia memanggilnya dengan sebutan seperti itu hanya karena ia tidak tahu harus berbicara apalagi.

.

.

Setelah masuk ke gedung museum, pikiran Sakura mulai sedikit tenang daripada saat ia berada di mobil. Sakura hanya mengikuti kemana kelompoknya berjalan. Tangannya masih terasa sakit namun ia tetap diam. Seorang artist ditugaskan untuk memandu kelompok mereka. Ia menjelaskan dengan rinci barang-barang seni yang di pamerkan.

Kelompok mereka kini berjalan ke ruangan lainnya. Ruangan tersebut didominasi oleh pajangan beberapa lukisan dibandingkan dengan ruangan lainnya. Berbeda dengan Sakura, Sai terlihat sangat antusias. Sejak tiba tadi sorot matanya langsung berubah. Mungkin jika ia berlama-lama berada di sini, matanya akan mengeluarkan cahaya karena takjub.

"Ya, sekarang kita tiba di penghujung tur ini. Lukisan ini merupakan favorit saya," ujar artist tersebut. "Meskipun lukisan ini bukanlah karya saya," lanjutnya sambil tertawa.

Sai dan juga anggota kelompok tersebut tertawa mendengarnya. Sakura hanya ikut tertawa walaupun ia merasa apa yang diucapkan artist itu tidak lucu.

"Sama seperti sebelumnya. Apakah ada yang mau menebak tema atau makna di balik karya seni ini?"

Sai langsung mengangkat tangannya.

"Ya, silahkan."

"Walaupun lukisan ini terlihat abstrak tapi kita bisa melihat kalau karya ini menyimpan makna tersirat di baliknya. Dari warna serta bentuk bisa terlihat kalau lukisan ini menyimpan cerita yang tak mengenakan atau menyeramkan. Warna biru yang dominan merepresentasikan kesedihan di dalam kenangan tersebut."

Sakura memperhatikan tiap kata yang diucapkan oleh pemuda di sebelahnya tersebut.

"Bisa anda sebutkan nama anda?"

"Sai, Shimura Sai."

"Baiklah, yang dikatakan oleh Tuan Shimura itu benar. Anda sepertinya mengerti tentang lukisan," ujar artist tersebut sembari menunjuk pemuda berkulit pucat tersebut.

Sai hanya tersenyum ramah.

"Lukisan ini berjudul Blue Devils. Artist ini memberikan nama tersebut sesuai dengan makna yang terdapat pada lukisan ini seperti yang tadi Tuan Shimura jelaskan pada kita semua. Kata devil digunakan untuk menggambarkan kejadian yang benar-benar menyeramkan bahkan bersifat traumatis. Dibandingkan merasa marah ketika mengingat kejadian tersebut, perasaan sedihlah yang paling dominan. Oleh sebab itu, warna biru dan juga kata blue digunakan untuk menamakan lukisan ini."

Beberapa orang di dalam kelompok tersebut hanya mengangguk mendengar penjelasan artist tersebut.

"Woah, kemampuanmu boleh juga," bisik Sakura ketika mereka mulai berjalan kembali.

"Sepertinya semesta menginginkanku berada di sini untuk beberapa alasan."

Sakura tidak bisa berkata apa-apa dan hanya tertawa tanpa suara.

"Kau tidak apa? Ku perhatikan kau memegang tanganmu terus."

"Ceritanya panjang, aku akan menceritakannya kalau kita sudah selesai."

Tur singkat itu akhirnya berakhir. Orang-orang terlihat memenuhi aula utama kembali. Terlihat beberapa pelayan membawakan gelas-gelas berisikan champagne dengan potongan bunga yang cantik.

"Kau harus fokus memperhatikanku, oke?"

Sai mengangguk. Ia mengecek ulang kameranya untuk memastikan semuanya sudah siap.

"Aku tidak suka mengulang-ulang perintah. Jadi kau harus benar-benar fokus denganku. Aku harus mewawancarai pelaksana pameran ini, lalu tokoh-tokoh penting yang berada di sini, terakhir kemungkinan kita akan mewawancarai beberapa tamu undangan di sini jika diperlukan. Pastikan kau merekamnya atau memfotonya dengan benar."

"Baiklah, aku mengerti."

.

.

.

Sakura dan Sai baru keluar dari museum itu saat jam Sembilan malam. Angin musim semi bertiup cukup kencang pada malam itu. Suhu malam itu lumayan dingin. Antrian orang-orang yang menunggu kendaraannya di depan gedung masih lumayan panjang. Sai berinisiatif dan melepaskan jasnya.

"Jangan salah paham," ucap pemuda tersebut ketika menyampirkan jasnya pada bahu Sakura.

"Terima kasih," ujar wanita itu.

"Tanganmu terlihat memar. Apa yang terjadi?"

"Aku baru saja menonjok saha…tidak, aku baru saja menonjok wajah pemilik apartemen yang sedang ku tumpangi saat ini."

"Apa yang terjadi? Apa kau menonjoknya karena dia menyerangmu?" Bisiknya pada wanita berambut merah muda tersebut. "Bagaimana ini?" Ujarnya sembari pura-pura menutup mukanya karena malu.

"Bukan seperti itu. Kami bertengkar."

"Sayang sekali," ucap pemuda tersebut spontan. "Err, maksudku sayang sekali kalian bertengkar."

"Bolehkah aku menumpang di tempatmu dulu? Tenang saja, hanya sebentar. Aku tidak berminat menumpang denganmu lama-lama."

"Tidak masalah," jawab pemuda itu santai.

.

.

.

Sakura berjalan berkeliling apartemen milik pemuda tersebut. Apartemennya terlihat luas. Semua perabotannya terlihat modern. Wanita itu semakin takjub ketika tak mendapati barang-barang yang berserakan di tempat yang tidak semestinya atau debu yang berlebihan. Sakura berjalan ke arah pintu kaca yang menghubungkan dengan teras mini. Di luar sana terdapat beberapa tanaman rambat dan juga sebuah kursi santai dan meja berukuran kecil.

"Sejak di jalan tadi aku terus memikirkan untuk membatalkan niatku untuk menumpang di tempatmu. Ternyata ini lebih baik daripada bayanganku."

"Apa yang kau harapkan? Sebuah kapal pecah? Ah, atau kandang babi?"

"Keduanya," wanita itu tertawa.

Sai memberikan wanita itu sebungkus kemasan makanan beku padanya, "Letakan ini di tanganmu, ini akan meringankan memarnya. Aku tak punya es batu untuk mengompresnya."

"Terima kasih."

"Aku sudah menyingkirkan beberapa tanaman dari sana. Mungkin jika aku tak bekerja di LAUV, tanaman rambat itu kemungkinan sudah ku buang juga."

"Kenapa?" Tanya Sakura terkejut.

"Aku tidak punya banyak waktu mengurusnya. Kebanyakan dari mereka mati karena aku terlalu sibuk berpergian dan tak sempat menyiramnya."

"Kau tahu, kau bisa memelihara kaktus. Perawatannya mudah. Kau bahkan tak perlu menyiramnya setiap hari. Kau bisa meletakannya di dalam ruang. Selain sebagai hiasan, kaktus juga membuat udara di ruangan lebih baik karena bisa menangkap debu dan polusi di sekitar."

"Hmm, kalau seperti itu aku mungkin akan membelinya nanti." Sai berjalan ke ruang santai. Ia duduk di salah satu kursi malas yang berada di sana. Pemuda itu mengeluarkan ponselnya. Ia terlihat sibuk dengan benda tersebut.

Sakura masih melihat-lihat apartemen pemuda tersebut. Ia masih mengompres tangannya sementara matanya sibuk melihat beberapa pajangan berupa action figures yang tertata rapih di sana.

"Ah, aku hampir lupa. Kamarmu ada di lantai dua pintu sebelah kanan. Kamar mandinya berada di dalam jadi privasimu tak akan terganggu."

.

.


EVEN YOU'RE THE CACTUS


.

.

Sakura berjalan ke arah teras. Ia menggeser pintu kaca tersebut dan melangkah keluar. Matahari seharusnya berada tepat di atas kepalanya saat ini. Wanita itu melakukan peregangan sederhana.

"Hoam… kau sudah bangun?" Ujar Sai masih setengah mengantuk. Ia langsung duduk di kursi malas yang berada dekat dengan teras tersebut.

"Aku rasa aku tidur dengan baik semalam. Bahkan aku tidak terlalu memikirkan tentang insomniaku atau dimana aku tidur." Sakura menyusul pemuda itu. Ia duduk di sofa panjang sambil memeluk salah satu bantal yang ada di sana.

"Woah, kau terlihat baik-baik saja dengan pakaianku," ujar Sai merujuk pada kaus hitam dan juga celana olahraga dengan warna senada yang sedang Sakura pakai sekarang.

"Ya, semuanya terlihat baik-baik saja. Kecuali ukurannya terlalu besar untukku."

"Oversized clothes are things nowadays, you know?" Sai yang menyadari ucapannya tersebut kemudian tertawa. "Sial, sekarang aku terdengar seperti salah satu pengamat fashion atau tim editor LAUV."

"Kau sekarang terdengar seperti pegawai LAUV daripada seorang photographer independen."

Sai kembali tertawa walaupun ia masih setengah mengantuk, "Bagaimana ini? Ku rasa, aku akan memperbaharui kontraknya bulan depan nanti."

Sakura yang mendengarnya ikut tertawa.

...

Sakura menatap makanan yang berada di atas meja saat ini. Ia melihat sekotak pizza berukuran besar, satu bucket ayam goreng, dan juga beberapa kotak yang diyakininya berisikan nugget. Selain makanan, di sana juga terdapat beberapa kaleng cola dan juga bir.

"Apa yang ada di pikiranmu saat memesan semua ini? Apa kau sedang merayakan persahabatanku yang berakhir kemarin?"

"Tidak," Sai tertawa. Ia membuka kotak pizza tersebut dan mengambil salah satu potongan. "Aku selalu ingin makan pizza dan juga ayam goreng tapi tak punya teman untuk berbagi jadi aku harus berakhir dengan hanya memesan salah satunya."

"Kenapa? Apa keluargamu jarang mengunjungimu?"

"Kedua orang tuaku sudah meninggal saat aku SMA. Begitu mereka meninggal kakakku menjual beberapa aset yang ditinggalkan orang tua kami dan membagi sisanya dengan rata. Lalu, ia pindah ke luar kota dan menikah lalu menetap di sana."

"Aset keluargamu pasti sangat banyak sampai-sampai kau bisa membeli apartemen sebesar ini," gumam wanita tersebut.

"Tidak. Ini semua gabungan dari hasil penjualan aset yang ditinggalkan orang tuaku dan semua penghasilanku."

"Woah, kau pekerja keras juga rupanya," puji wanita tersebut.

"Ketika aku ingin menikah nanti, haruskah aku menggoda wanita yang ingin ku nikahi dengan apa yang ku punya dengan membanggakan bahwa itu hasil jerih payahku selama masa muda?"

"Benar-benar seperti dirimu," ejek Sakura. Wanita itu mengambil sepotong pizza lalu memakannya.

"Ngomong-ngomong, kenapa kalian bisa bertengkar sampai separah ini?"

Sakura menghentikan makannya, "Kami sedikit berdebat, kemudian dia melontarkan kata-kata yang tak pantas diucapkan. Aku rasa dia sudah menahannya selama bertahun-tahun tapi ia baru berani bilang padaku sekarang. Aku benar-benar terbawa emosi sampai-sampai menonjoknya lalu langsung pergi. Seharusnya aku mendengar perkataan ibuku."

"Ada apa? Kau dilarang berteman dengannya?"

"Tidak, bukan seperti itu. Beliau bilang kami sudah terlalu dekat, sudah seharusnya kami mulai membatasi hubungan kami jika ingin tetap terus bersahabat dengan baik. Ketika masih kecil semuanya terasa menyenangkan, tapi semuanya menjadi rumit ketika kami tumbuh semakin dewasa. Hal-hal yang dulu menyenangkan untuk dilakukan bersama sekarang akan menjadi aneh. Orang-orang bisa salah paham jika mereka tidak mengetahui hubungan kami yang sebenarnya seperti apa."

"Ku rasa ibumu ada benarnya juga."

Sakura hanya tersenyum lemah. Wanita itu mengambil sekaleng bir di dekatnya lalu meminumnya dengan perlahan.

"Aku benar-benar minta maaf, tapi aku sangat penasaran. Apa kau pernah punya perasaan yang lain padanya? Kau pasti tahu maksud pertanyaanku."

"Hmm," Sakura tampak berpikir sejenak. "Pernah, sekali dan itu bukan pengalaman yang menyenangkan untuk diceritakan," ujar wanita tersebut lalu tersenyum.

.

.


EVEN YOU'RE THE CACTUS


.

.

Sudah hari kelima semenjak sahabatnya meninggalkan apartemennya dan tak menghubunginya sama sekali. Pikirannya jadi tidak tenang semenjak itu. Seperti hari ini, Sasuke lagi-lagi terlihat melamun ketika ia sedang memeriksa laporan yang diberikan oleh rekan kerjanya Suigetsu.

"Kau memintaku untuk membuat laporannya cepat-cepat tapi kau malah begini."

"Maaf, aku merasa sedang tidak enak badan beberapa hari ini."

"Haruskah aku mengantarmu pergi ke dokter?"

"Tidak usah. Aku rasa aku akan pulang sekarang dan beristirahat. Aku akan memeriksa laporanmu besok."

"Kau mau ku antar?"

"Hn," angguk pria itu.

Sasuke duduk di kursi penumpang. Setelah memakai seatbelt ia langsung mencoba untuk tidur. Ia memejamkan matanya selama perjalanan sampai mereka tiba. Sebelum pergi, Suigetsu membangunkan rekan kerjanya tersebut. Ketika pria itu sudah bangun, ia segera pamit dan menyerahkan kunci mobil miliknya dan pergi kembali ke kantor.

Sasuke keluar dari mobilnya. Ia berjalan pelan. Perutnya terasa tidak nyaman beberapa hari ini. Sebuah truk putih mengalihkan perhatiannya. Truk itu parkir tepat di dengan gedung apartemennya. Terlihat beberapa orang sedang mengangkut beberapa barang-barang dan juga beberapa koper. Salah satu koper itu terlihat tidak asing karena berbagai macam sticker yang mencolok dan jarang sekali digunakan oleh banyak orang. Sasuke mengedarkan pandangannya ke sekitar untuk memastikan sesuatu. Ia melihat mobil SUV merah yang digunakan oleh sahabatnya itu terparkir tak jauh dari truk tersebut.

Tanpa berpikir panjang, Sasuke langsung berlari. Ia melihat orang-orang yang menggunakan seragam khusus dan sarung tangan membawa beberapa kotak dan juga kantung-kantung besar keluar dari lift. Sasuke langsung masuk ke dalam lift tersebut ketika mereka keluar dan segera memencet tombol di sana agar lift segera tertutup. Butuh beberapa menit sampai lift akhirnya terbuka. Sasuke kembali berlari namun ia tak sengaja menyenggol pundak seseorang.

"Ya Tuhan apalagi ini," keluhnya. Sasuke hendak meminta maaf namun ia mengurungkan niatnya ketika melihat siapa orang yang baru saja ia senggol pundaknya.

"Selamat siang," ujarnya sopan.

Sasuke langsung saja melengos meninggalkan pemuda itu tanpa membalas sapaannya.

"Woah, benar-benar dingin brrrr."

Sementara itu Sakura kini sedang memasukan koleksi parfum miliknya pada sebuah box berukuran sedang. Tak jauh darinya seseorang dengan menggunakan seragam khusus sedang merapihkan box-box lainnya. Ia memasukan box tersebut ke dalam sebuah kantung besar supaya lebih mudah saat dibawa.

"Apa ini yang terakhir?"

"Ya, aku sedang membereskan barang-barang ini terlebih dahulu. Aku akan menyusul ke bawah setelah menyelesaikan yang ini."

Pria itu hanya mengangguk kemudian keluar.

Sakura mempercepat pergerakannya. Ia kemudian menutup box tersebut dan membawanya keluar dengan hati-hati. Sasuke yang sedari tadi menunggunya di luar kamarnya langsung saja menghadangnya ketika ia hendak keluar.

"Kau tiba-tiba saja datang, dan sekarang kau tiba-tiba saja ingin pergi… tanpa pamit? Apa kau akan pergi seperti ini?"

"Hm," jawabnya dengan gumaman. "Dan, terima kasih."

"Apa ini gara-gara ucapanku? Kalau iya, aku benar-benar minta maaf. Tak seharusnya aku mengatakannya."

"Kau pasti sangat frustasi menyimpannya selama ini. Aku seharusnya lebih peka ketika kau mengatakan seharusnya aku tidak berkencan dengan pria yang kau kenal atau berhati-hati pada pria asing yang ku temui. Kau pasti mengatakannya begitu karena tak ingin menyakitiku dengan maksud ucapanmu yang sebenarnya kalau aku terlihat murahan."

"Bukan, bukan seperti itu, Sakura. Kau tidak mengerti," ia memegang kedua pundak wanita itu.

"Bagaimana bisa aku mengerti jika kau mengatakannya seperti itu? Apa kau tahu aku selalu merasa khawatir ketika mengencani seseorang? Kau selalu berkata dia tidak baik atau sebagainya ketika aku ingin memulai berkencan serius dengan seseorang. Makanya aku hanya bermain-main dengan banyak pria tanpa pernah mengencaninya. Kau lah yang membuatku terliaht murahan. Kau pasti tidak tahu itu."

"Aku benar-benar minta maaf. Aku hanya bermaksud untuk menolongmu. Aku tidak ingin kau menemui orang yang salah lalu terluka karenanya," terangnya.

"Berhentilah menolongku dengan cara seperti itu kecuali kau suka padaku."

Sasuke hanya diam menatap wanita itu. Ia melepaskan pegangannya pada pundak wanita itu.

"Lihat, kau hanya diam. Jadi berhentilah menolongku dengan cara seperti itu. Kau membuatku salah paham akan maksudmu yang tidak jelas itu."

"Maaf," ucapnya sekali lagi pelan.

"Aku pikir hubungan persahabatan kita berakhir di sini. Banyak sekali kenangan yang kita lewati selama bertahun-tahun dan aku sangat berterima kasih karenanya. Sampai jumpa, Sasuke."

"Baiklah. Lakukan saja sesukamu!" Sasuke menggeser tubuhnya dan membiarkan sahabatnya itu melewatinya.

Sakura hanya tertawa sinis. Ia bahkan sudah terlalu malas untuk menggubris ucapan mantan sahabatnya itu. Wanita itu segera memakai sepatunya lalu pergi keluar dari apartemennya.

.

.


EVEN YOU'RE THE CACTUS


.

.

[Akhir musim semi di tahun yang sama]

Atmosfer ruang meeting majalah LAUV tampak memanas saat ini. Sepertinya suhu di dalam ruangan ini terasa lebih panas dibandingkan di luar sana. Lembar-lembar majalah tampak berserakan di meja dan juga lantai. Semuanya tampak diam, tak berani berkata ataupun menyanggah.

"Artikel ini benar-benar sampah," ujar wanita itu kesal.

"Apa saja yang kalian lakukan selama ini?!" Lanjutnya. "Apa kalian pergi ke kantor hanya untuk bermain-main, huh?!"

"Ini sudah H-10 dari deadline dan artikel yang kalian buat hampir sama persis dengan artikel yang ada di website. Kalau begini caranya, untuk apa pembeli menginvestasikan uang dan waktu mereka untuk membaca majalah cetak kalau bisa mengakses dan membacanya secara bebas di internet."

Sakura kembali duduk di tempatnya. Ia memijat pelipisnya karena merasa kesal.

"Aku benar-benar kecewa. Sepertinya aku sudah terlalu lunak pada kalian sejak perayaan ulang tahun LAUV bulan lalu," ujarnya wanit itu.

Sai yang hanya mengikuti meeting tersebut hanya diam. Walaupun dia tak menulis satupun artikel, tapi entah mengapa pemuda itu merasakan apa yang pegawai lainnya rasakan. Ia melirik ke arah rekan kerjanya tersebut. Choji terlihat sama gusarnya dengan pegawai lainnya. Wanita bercepol dua bernama Ten Ten itu memberanikan diri untuk membuka mulutnya.

"Aku benar-benar menyesal karena tak bisa membimbing tim editor dengan baik. Sebagai wakil dari pemimpin redaksi, aku merasa sudah lalai dalam membimbing dan mengawasi mereka."

Sakura menarik nafas sebelum membuka mulutnya, "Aku tahu kalian semua itu professional, tapi…artikel ini terlihat seperti buatan amatir dan tidak professional. Tak peduli kau akan bekerja di LAUV hanya sampai hari ini saja atau sampai tahun depan, aku tetap ingin kalian mejaga profesionalitas kalian hingga saat-saat terakhir kalian berada di sini," wanita itu menatap semua wajah pegawai yang ada di ruangan tersebut.

"Tiga hari lagi. Jam 3 sore di ruangan ini, aku harap kalian sudah memperbaiki dan membuat artikel yang baru. Kalau begitu, meeting hari ini sampai di sini saja. Silahkan kembali bekerja," tutupnya.

Semua orang langsung bernafas lega ketika Sakura meninggalkan ruangan meeting. Choji yang sedari tampak gusar selama meeting berlangsung kini terlihat agak tenang. Beberapa pegawai mulai keluar satu persatu sambil mengeluh tanpa terkecuali wanita berambut pirang bernama Ino. Raut wajahnya terlihat suram.

"Bagaimana ini? Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Sai pada rekan kerjanya yang bertubuh gempal tersebut.

"Ya," jawabnya singkat. "Tapi aku lebih mengkhawatirkan tim editor yang bertanggungjawab untuk penulisan artikel di majalah."

"Apa Pemred sering seperti ini?" Tanya pemuda tersebut.

"Ia memang sering menegur dan marah saat meeting tapi hari ini yang paling parah dari semuanya. Aku rasa mood nya sedang tidak baik beberapa bulan ini. Kau tahu, meeting kali ini rasanya seperti mencium aroma neraka dari kejauhan."

Sai terdiam sejenak. Tiba-tiba saja pikirannya tertuju pada pertengkaran antara Sakura dan sahabatnya yang terjadi beberapa bulan silam. Ia bertanya-tanya apakah itu penyebabnya tapi bukankah itu sudah lama sekali pikirnya. Kenapa juga wanita itu masih marah sampai sekarang.

"Oy, kau tidak ingin keluar? Apa kau ingin di ruangan ini terus?" Ujar Choji yang tiba-tiba saja sudah berada di ambang pintu.

Sai bangkit dari tempatnya dan segera menyusul rekan kerjanya tersebut.

.

.

.

Sasuke menatap pemandangan di luar sana melalui jendela tempat meetingnya saat ini. Rintik-rintik hujan mulai turun di luar sana. Lama kelamaan rintik hujan tersebut berubah menjadi hujan yang deras. Sesekali terdengar gemuruh dan petir. Tiba-tiba saja ia teringat akan mantan sahabatnya itu. Ia suka sekali dengan suara hujan. Bahkan, beberapa kali pria itu mendengar suara hujan yang sengaja diputar olehnya melalui aplikasi di ponselnya.

Sasuke tanpa sadar mendecih.

"Ya Tuhan kenapa harus hujan sekarang," keluh Suigetsu rekan kerja yang sedari tadi duduk di sampingnya. "Kau harus menghubungi Tuan Nagato."

"Kau saja yang menghubunginya," ujarnya malas. Ia masih menatap hujan di luar sana.

"Ehey!" Tegurnya. "Aku hanya pegawai biasa bagaimana bisa aku menghubunginya sementara kau ada di sini. Berhentilah memandangi hujan. Kau tahu, ada banyak aplikasi dan playlist hujan yang bisa kau putar nanti. Kau bisa melanjutkan sisi melankolismu nanti."

"Aku tidak seperti itu! Siapa juga yang mau mendownload aplikasi seperti itu. Benar-benar menyedihkan," ucapnya dengan nada meninggi.

"Kau tak perlu bereaksi berelebihan seperti itu," ujar pria bernama Suigetsu itu pelan.

Sasuke yang dongkol langsung saja mengambil ponselnya dan membuat panggilan telepon saat itu juga.

...

"Kenapa kau terus menatap hujan di luar sana? Kau tiba-tiba saja terlihat melankolis kalau seperti itu," ujar Suigetsu berusaha membuka percakapan ketika keduanya sudah berada di dalam mobil untuk kembali ke kantor.

"Aku bukan orang seperti itu!"

"Tak perlu kesal seperti itu, aku tidak akan memberi tahu orang lain kalau kau bersikap begini ketika melihat hujan," Suigetsu tertawa kecil.

"Tidak perlu, aku tidak suka hujan." Ujar Sasuke dengan nada mantap. "Tidak-tidak, aku membenci hujan," ulangnya dengan penuh semangat.

"Kenapa? Kau dicampakan oleh pacarmu saat hujan?" Goda rekan kerjanya tersebut.

"Tidak! Fokus saja dengan jalanannya!" Titahnya dengan nada kesal.

"Tenanglah, tak perlu marah-marah seperti itu," Suigetsu hanya melirik pria tersebut lalu kembali menatap jalanan di depannya.

Suasana kembali hening. Mobil yang mereka naiki kini berjalan makin lambat. Walaupun hujan membuat jarak pandang sedikit terbatas, tapi mereka masih bisa melihat antrian panjang kendaraan di depannya yang lumayan.

Tiba-tiba saja Sasuke membuka mulutnya, "Bagaimana hubunganmu dengan pacarmu itu?"

"Kenapa? Kenapa kau tiba-tiba tertarik dengan hubunganku?" Pria itu terlihat terkejut ketika mendengar rekan kerjanya itu menanyakan hubungan pribadinya tiba-tiba saja.

"Kau biasanya selalu membicarakannya," Sasuke melirik jendela di sampingnya. Tak ingin menatap rekan kerjanya tersebut.

"Semuanya baik-baik saja," ujar pria itu singkat.

Sasuke diam sejenak sebelum kembali membuka mulutnya, "Bagaimana dengan kabar bocah yang terus-terusan menempeli pacarmu itu?"

"Ah, bocah itu!" Tiba-tiba saja sorot mata Suigetsu berubah. "Aku tidak tahu dia itu waras atau tidak, dia masih tetap menemui pacarku dan bilang mereka hanya bersahabat. Sulit sekali melepaskannya, ia terlihat seperti lintah."

Sasuke kini menatap rekan kerjanya tersebut. Sorot mata pria bernama Suigetsu terlihat berapi-api.

"Dia bahkan sudah tahu kalau aku itu pacarnya, tapi masih saja mendekatinya. Bersahabat? Persetan dengan label itu. Bilang saja ia sedang menunggu kesempatan untuk mendekati pacarku saat aku sedang lengah."

"Mungkin saja mereka benar-benar bersahabat," ujar Sasuke asal.

Suigetsu dengan cepat langsung menggeleng, "Bukankah sudah ku bilang kalau tidak ada persahabatan antara pria dan wanita. Kalaupun ada, mereka harusnya tahu diri! Bagaimana bisa mereka bisa terus-terus berhubungan?! Apa yang ada di pikiran mereka saat tetap berhubungan? Apa pasangan mereka terlihat seperti manekin yang di pajang di toko? Sialan, bilang saja kalau mereka tertarik satu sama lain tapi tidak mau mengakuinya!"

Suigetsu mengehela nafas kasar, "Bocah itu bahkan tidak menahan-nahan perasaannya dan masih berani bilang ingin bersahabat dengan pacarku? Woah, aku tidak mengerti dengan pria berusia muda zaman sekarang."

Sasuke hanya diam mendengarkan tak ingin menyela atau menanggapinya.

"Tapi, itu lebih baik," ujarnya setelah beberapa menit kemudian.

"Eh?" Tanya Sasuke heran.

"Aku tidak bilang aku menyetujui apa yang ia lakukan, tapi itu lebih baik daripada diam-diam tertarik pada pacarku dan terus berteman dengannya sambil berusaha membuatku putus dengannya pelan-pelan. Karena bocah itu menunjukannya terang-terangan, aku jadi bisa mengambil sikap."

"Lalu apa kau akan tetap membiarkannya?" Ujar Sasuke secara spontan.

"Tidak mungkin aku terus membiarkannya. Aku akan membuat hubunganku dengannya lebih jelas lagi. Aku ingin menunjukan perasaanku supaya ia bisa memilih. Orang-orang bilang, kalau di dunia ini bukan hanya hitam dan putih saja melainkan ada abu-abu. Tapi, aku tidak suka itu. Ada saatnya dimana jawaban yang diberikan haruslah pasti."

"Urgh, perutku." Keluh Sasuke tiba-tiba sembari memegang perutnya.

"Ada apa? Apa perutmu sakit lagi?!" Tanya Suigetsu panik.

"Aku merasa mual mendengarnya."

Suigetsu kini merasa kesal. Ia meremas kemudi yang ada di depannya tanpa berkata apapun.

.

.

.

To be continued


Epilogue – Sasuke's Point of View

[Awal musim semi, 2006]

Upacara kelulusanku diadakan hari ini. Ibu dan ayahku datang untuk mengucapkan selamat. Ah, tak lupa Itachi kakakku dan Obito sepupuku juga ikut datang. Aku tak tahu pasti apa alasan keduanya datang ke upacara kelulusanku, yang aku tahu salah satunya pasti ingin melihat anak perempuan.

"Ini untukmu," Obito menyerahkan satu buket bunga mawar merah dengan pembungkus bewarna biru padaku. "Aku membelinya karena aku khawatir tak ada yang memberimu bunga."

Aku ingin sekali melempar bunga pemberiannya kalau saja ibu dan ayahku tidak berada di sini, "Kau benar-benar pengertian."

Tak beberapa lama ayah dan ibuku pamit terlebih dahulu dan mengucapkan selamat padaku sekali lagi. Lalu disusul oleh dua orang yang sibuk dengan rencananya sendiri. Mereka langsung menghilang ketika melihat segerombolan murid-murid perempuan.

Seseorang tiba-tiba menepuk bahuku dengan agak keras berusaha untuk mengagetkanku. Aku berbalik dan mendapati sahabatku.

"Aku benar-benar kaget," ujarku dengan datar.

"Menyebalkan," keluhnya. "Ngomong-ngomong selamat. Aku tak menyangka kau bisa sepintar itu sampai-sampai bisa menjadi lulusan terbaik satu sekolah."

Aku hanya tertawa tanpa arti.

"Sekarang kau ikut aku!" Sakura menarik lenganku.

Aku bisa mendengar suara tawanya dan juga keluhan orang-orang yang kami lewati ketika kami memotong beberapa kumpulan siswa yang lainnya. Sakura berlari masuk ke gedung sekolah kami. Dia masih berlari sambil menarik lenganku. Tak lama, kami akhirnya sampai di kelas. Sakura segera melepaskan lenganku dan meletakan bunga-bunga yang ia bawa lalu membuka lockernya.

"Surprise!" Ujarnya semangat sembari menunjukan sebuah paper bag berukan sedang. "Aku tahu kau sudah berusaha keras untuk ujian kali ini sampai-sampai tak punya waktu untuk bertemu atau bermain denganku."

Aku membukanya dan melihat beberapa kaset game. Semuanya adalah seri terbaru dari game yang paling aku suka.

"Aku pikir kau tak sempat membelinya karena terlalu sibuk belajar," ujarnya pelan. "Bagaimana? Kau suka dengan hadiahmu?"

Aku melihatnya kembali hadiah yang ia berikan. Hampir memiliki semua seri yang berada di tanganku saat ini. Tentu saja, aku mencoba segala cara untuk menyibukan diriku supaya aku bisa mengalihkan pikiran dan perasaan yang aneh yang selama ini ku rasakan pada sahabatku ini. Salah satu caranya adalah belajar mati-matian sampai rasanya benar-benar ingin mati karena terlalu bosan mengulang pelajaran yang itu-itu lagi. Ketika belajar masih tidak berhasil mengalihkan pikiranku, maka pelarianku hanya ke video game.

"Ini hadiah terbaik yang ku dapatkan hari ini, aku belum punya semua ini," ujarku untuk menyenangkannya. Aku berusaha memasang wajah seantusias mungkin. Setidaknya aku harus menghargai pemberiannya.

Sakura menyodorkan tangannya padaku. Ia memandangku dengan tatapan seperti anak kecil yang sedang menunggu diberi hadiah. Aku memandang tangannya sebentar sebelum menggenggamnya dan menarik dirinya ke pelukanku.

"Hei, apa-apaan ini? Yang ku minta itu hadiah," keluhnya.

"Aku sedang memberikan hadiahku yaitu ucapan selamat dan juga pelukan," ujarku masih memeluknya.

"Memangnya aku anak TK?" Keluhnya lagi. Kali ini ia berusaha melepaskan pelukanku.

"Sssstt! Diam saja, kau merusak hadiahmu." Ujarku sedikit kesal.

Sakura hanya menurut. Kali ini ia tak berusaha melepaskan pelukanku atau mengatakan apapun. Aku mulai menghitung satu sampai sepuluh. Aku tidak ingin memeluknya terlalu cepat atau lama. Setelah hitungan ke sepuluh, aku melepaskan pelukanku. Aku berbalik dan mengambil salah satu bunga mawar dari buket bunga yang diberikan oleh Obito. Aku merasa senang karena aku tak membuang buket bunga tersebut dan untuk pertama kalinya berterima kasih padanya.

"Hadiah tambahan," ujarku sembari menyodorkan setangkai mawar merah padanya.

"Apa-apaan ini? Ini bunga pemberian orang lain mana bisa disebut sebagai hadiah."

"Obito yang memberikannya. Dia takut tak ada yang memberikan bunga atau hadiah padaku. Jadi Aku putuskan untuk berbagi padamu," ujarku sambil tertawa.

"Obito?" Sakura ikut tertawa. "Dia pintar juga rupanya," tawanya semakin kencang.

Aku hanya ikut tertawa. Ya, aku rasa aku sudah melakukan hal yang benar. Sama seperti keputusanku untuk melepas salah satu mawar merah yang berada di buket tersebut, aku memutuskan untuk melepaskan perasaanku dan cinta pertamaku.

.

.

.

Author's note:

Sebelumnya aku mau berterima kasih buat semua pembaca dan juga reviewnya.

Nah lanjut, selama pembuatan cerita ini aku emang sengaja bikin cerita yang gak terlalu terang-terangan. Kenapa? Soalnya dalam kehidupan nyata juga terkadang kita suka gak terang-terangan selama berhubungan dengan orang lain. Maaf kalau jadinya sedikit tidak jelas tapi semoga di chapter-chapter lanjutannya bisa menjawab ketidak jelasan chapter-chapter sebelumnya.

Mereka kejebak hubungan friendzone? Jawabannya iya.

FYI hampir setiap judul chapter itu punya makna. Contohnya chapter ini dinamain "Imperfect Harmony" karena hubungan pertemanan mereka itu udah mulai sangat berubah dari awal mereka berteman. Konflik-konflik umum seperti perasaan saling suka sama teman sendiri tapi gak berani bilang karena gak mau hubungan mereka berubah atau jadi canggung, dan munculnya orang-orang baru dalam pertemanan mereka.

Oh iya, sejujurnya aku juga kepengen buat update cepet karena hampir semua ide udah ada di kepala tapi... yang sulit itu merealisasikannya ke dalam tulisan supaya ceritanya gak terlalu seperti dipaksakan makanya update tiap chapternya lumayan lama :")

Sementara segini dulu ya hehe. Mohon maaf kalau masih ada kekurangan di sana sini. Sekali lagi terima kasih 3