Again, belum d proofread.

.


Sudah satu minggu namun Mark masih belum mendapat kabar dari Jaebum yang berjanji akan menghubunginya, Jaebum memang menepati janjinya yang lain dan menerimanya untuk bekerja di perusahaan yang dia kelola. Tapi dia belum menghubungi Mark dan masih berhutang penjelasan padanya.

Selama seminggu itu supir Jaebum lah yang datang kerumah Mark dan menjelaskan apa yang harus Mark kerjakan dan yang akan mengambil hasil pekerjaannya dan akan datang untuk memberikan pekerjaan yang lain dan mengambilnya lagi dan begitulah seterusnya.

Mark melihat kalender yang ada didinding kamarnya yang menunjukkan tanggal 9 Januari.. Mark ingat pada tanggal yang sama enam tahun yang lalu, Jackson mengajaknya kencan untuk pertama kalinya ke sebuah taman hiburan bersama sahabat-sahabatnya.

Dia tersenyum lebar saat mengingat Jackson yang tidak bisa menaiki permainan-permainan yang ada disana, mengingat seluruh warna yang ada diwajahnya menghilang dan menjadi pucat, mengingat Jackson-nya yang penakut.. mengingat-

"Mark Tuan!" seseorang mengetuk pintu flat Mark berkali-kali dengan keras.

Mark mengumpat dalam hati dan bergegas membuka pintu rumahnya sebelum pintu rumahnya hancur dibuat temannya yang bodoh itu.

"Ya! Kau berencana merusak rumahku?" bentak Mark saat dia membuka pintu rumahnya.

"Aku lapar. Apa yang ada di kulkasmu?" Bobby masuk kedalam begitu saja seakan-akan dia juga tinggal disana, tidak memperdulikan omelan yang Mark berikan padanya.

"Ya Kim Jiwon, kenapa kau selalu datang kemari saat lapar? Kau pikir rumahku ini rumah makan?" Mark menutup pintu rumahnya dan mengikuti Bobby yang pergi ke dapurnya.

"Masakkan aku sesuatu."

"Dan kenapa kau selalu memintaku untuk memasakkanmu sesuatu? Kau pikir aku pembantumu?"

"Apa aku juga pembantumu? Apa kau ingat siapa seorang pemabuk berat yang selalu menyusahkanku setiap malam selama sebulan penuh itu?" saut Bobby. "Wah benar-benar tidak tau malu." bisiknya.

Mark menyerah. Dia tidak bisa mengalahkan Bobby jika Bobby sudah membuka kartu as-nya seperti itu. "Aku sedang tidak ingin memasak, buatlah toast-mu sendiri. Atau apapun yang ada di kulkasku." Mark duduk di kursi yang ada di dapurnya.

Bobby mendengus. "Kalau aku Jackson tanpa aku minta kau pasti melakukannya." Gumam Bobby lagi.

"Ya, aku bisa mendengarmu."

"Aku tau." Bobby membuka semua rak lemari yang ada di dapur Mark, mencoba mencari sesuatu yang bisa dijadikan makanan. "Ya, kau tidak punya apa-apa?"

"Toast."

"Hanya itu?"

"Jam."

"Seriously, dude?"

Mark mengangguk.

"Hah~~ kalau begitu ayo kita makan diluar saja!"

"Kenapa harus mengajakku? Pergi saja sendiri."

"Mark Tuan!" Mark memejamkan matanya kesal. Dia tidak suka setiap Bobby memanggil nama lengkapnya dengan nada seakan-akan dia melakukan kesalahan besar yang tidak bisa diampuni. "Aku tau kau belum makan. Lihat badanmu yang kurus itu. Mana ada pria yang mau mengencani orang kurus! Itulah sebabnya kau masih lajang sampai sekarang!"

Mark memijat-mijat dahinya, kepalanya merasa pusing mendengar ceramahan dari Bobby. "Ani godeun? Aku masih single karena itu pilihanku."

"Whatever. Ayo!" Bobby pun menarik paksa Mark yang tidak bersedia pergi makan malam dengannya.

"Apa kau tidak punya pacar untuk diajak makan malam, Bobs? Kau terlihat menyedihkan seperti ini."

Bobby menghentikan langkahnya dan menatap Mark seakan-akan Mark adalah makhluk yang berasal dari planet luar. "Omo, apa kau tidak punya kaca?"

.


.

Jackson dan kawan-kawan sedang menyantap makan malam bersama di restaurant dekat kantor mereka sepulang jam kerja yang meleahkan. Ini adalah kegiatan yang mereka lakukan setiap malam, berkumpul setelah pulang kerja dan menceritakan hari-hari mereka..

"Ugh, atasanku! Tidak bisakah pria pendek sok seksi itu berhenti menindasku?" keluh Bambam.

Dan (terkadang) juga mengeluh tentang atasan mereka.

Jackson yang hendak menyantap jjajangmyeon dengan sumpitnya langsung menghentikan niatnya mendengar itu. Memang benar mereka selalu mengeluarkan unek-unek seperti ini, namun ini pertama kalinya Bambam menghina atasannya. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah dirinya sendiri.

Jaebum mencoba menahan tawanya, namun karena the urge to laugh his ass off is so huge dia mulai tersedat makanan yang sedang dia kunyah dan mulai terbatuk-batuk.

Sebenarnya memang Jackson lah yang meminta mereka untuk menganggap Jackson yang merupakan atasan mereka dan Jackson sahabat mereka sebagai orang yang berbeda dengan alasan mereka harus bersikap profesional. Namun sekarang rasanya dia menyesali keputusannya itu..

"Aku ingin liburan!" Protes Yugyeom yang membanting sumpitnya dengan kesal. "Kita ini kan karyawan spesial yang membantu perusahaan sialan itu menjadi sebesar sekarang, kita pantas mendapatkan liburan! Benar tidak, Jackson hyung?!" tanya Yugyeom seakan-akan orang yang dia tanyai bukan lah atasannya.

"Kalau itu aku setuju." ujar Jaebum datar sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

"Benar! Pria sombong itu.. sama sekali tidak tau terimakasih. Aku ingin sekali mengacak-acak rambutnya yang selalu dia tata rapi, atau merobek-robek jas-nya saat dia memberiku tugas yang sangat banyak dan membuatku..."

Bambam menghentikan ocehannya saat menyadari suasana yang terasa berbeda. Tiba-tiba saja suasana terasa sunyi dan... dingin, dia melirik kearah Jackson yang sedang menatapnya tajam, jika sebuah tatapan bisa membunuh orang, maka tamatlah riwayat seorang Kunpimook Bhuwakul.

"Ehem, tapi sebenarnya dia baik juga." Lanjut Bambam.

Hening.

"Dia juga tampan.."

Hening.

"..."

"..."

"..."

"Bagaimana harimu?" tanya Jaebum pada Hani, mencoba mengganti topik pembicaraan untuk menyelamatkan Bambam yang sedang berada diujung kematiannya.

Hani menatap Jaebum dengan aneh, "Ada apa? Tumben sekali kau tertarik dengan hariku?"

Jaebum mendecak kesal. "Memang tidak boleh? Apa kau harus menatapku seperti itu? Aku kan hanya mencoba untuk bersikap baik dan-"

"Hariku baik-baik saja!" putus Hani.

"I nappeun yeon..." desis Jaebum. ("This bitch...")

"Ya!" bentak Jackson lalu memukul dahi Jaebum dengan sendoknya sebelum menanyakan Hani hal yang sama. "Bagaimana harimu?"

"Melelahkan, hari ini ada beberapa jaksa penuntut yang menaikkan tensi darahku." Jawab Hani malas, mengingat kejadian pagi tadi membuatnya kembali emosi.

"Hah! Dia bilang dia baik-baik saja padaku.. I can't believe this." Bisik Jaebum pada dirinya sendiri dan dengan kesal menyantap makanannya.

Bambam mengelus-elus dadanya dengan lega karena sepertinya suasana sudah kembali seperti semula. Hampir saja dia menggali kuburannya sendiri.

"Apa kau melempar purse mu padanya seperti yang kau selalu lakukan padaku setiap aku membuatmu kesal?" goda Jackson.

Kali ini bukan purse, tapi sendok lah yang dilempar kearah Jackson.

"Noona jjang!" magnae lines bersorak sorai melihat adegan itu. Senang karena akhirnyaaaa... ada orang yang bisa menindas Jackson seperti itu. Dan Jaebum terbatuk-batuk untuk yang kedua kalinya malam itu, dengan alasan yang sama.

"Kau selalu membuat ku kesal dengan sengaja!"

Jackson hanya terkekeh, memang benar dia suka menggoda kekasihnya dan sengaja membuatnya kesal, itu semua karena dia suka melihat reaksinya.

"Hey hey, jangan lempar barang sembarangan." Jaebum berusaha menengahi, dia mengelus-elus punggung Hani dan mengambil sendok yang baru saja dia lempar.

Jackson memberikan Jaebum tatapan yang seolah berkata 'Kau dipihakku kali ini?'

"Kau bisa melempar apaa sajaaa jika kalian tidak berada ditempat umum." Lanjut Jaebum dengan penekanan pada kata 'apa saja'.

Jackson mendengus. Of course not, who was he kidding?

xx

Mereka berbincang-bincang tentang pekerjaan dan sebagainya, hingga Yugyeom mengusulkan untuk menghabiskan malam bersama dan pergi ke suatu tempat berhubung besok adalah hari libur kantor. Kemudian mereka memutuskan untuk pergi ke taman hiburan, 'untuk mengenang masa kecil' kata Bambam.

"Mengenang masa kecil katamu? Kau masih kecil!" bantah Jackson.

"Hyung, aku ini sudah besar!"

"Aku bahkan tidak pernah kesana saat aku kecil, mengenang apanya." Tambah Jackson.

"Karena kau dulu takut dengan permainan yang ada disana!" ejek Jaebum.

"Ya! Itu dulu!" seru Jackson saat Jaebum membongkar rahasia negaranya.

They have never laughed that hard before.

.


.

.

Sampailah mereka di taman hiburan yang ditujukan. Mereka sempat menaiki beberapa rides sebelum akhirnya berujung di sebuah rumah hantu. Atau jika dilihat dari ukurannya, gedung hantu.

"Apa kalian yakin? Kau terlihat ketakutan Bambam." Tanya Jackson kepada yang lain.

"Aku yakin!" jawab Hani mantap.

"Aku sih ikut saja, kalau hyungdeul masuk ya tidak mungkin aku menunggu diluar." Jawab Yugyeom. "Aku akan menjagamu!" sambungnya, berbisik ditelinga Bambam.

"Ya Tuhan, aku baru sadar." Seru Jaebum tiba-tiba.

"Ada apa?" tanya Jackson khawatir.

"Hanya aku yang masih lajang disini!"

"..."

"..."

"..."

"Lalu?" tanya Bambam datar.

"Lalu artinya aku akan menghabiskan malam ini melihat kalian hilang dalam dunia kalian sendiri dan mengabaikanku!"

"..."

"..."

"..."

"Aku tidak akan mengabaikanmu." Ujar Jackson, memecahkan keheningan.

"Aku juga." Yugyeom.

"Aku juga." Bambam.

"Tidak aku juga." Hani.

Jaebum menatap Hani dengan tatapan 'i nappeun yeon' yang dia berikan padanya di restaurant tadi.

"Akan aku pastikan untuk mengabaikanmu sebisa yang aku bisa."

Dan terjadilah aksi kejar-kejaran diantara mereka.

Jackson hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua oraang yang kekanak-kanakan itu, kedua orang itu memang selalu saling mengejek satu sama lain. Mereka hanya akur apabila ada sesuatu yang berkaitan dengan Jackson, misalnya? Mengejeknya. Menghinanya. Memojokkannya.

"Disini yang magnae sebenarnya siapa sih hyung?" lontar Bambam. Yugyeom mengangkat bahunya. Tidak begitu perduli.

"Jackson! Jackson! Jaebum melecehkanku!" teriak Hani saat Jaebum menarik ujung rambutnya untuk menangkapnya.

"Melecehkan katanya.." gumam Yugyeom sambil terkekeh.

"Ya!" bentak Jackson pada Jaebum dan menghampiri mereka, lalu melepaskan tangan Jaebum dari rambut Hani.

Hani menjulurkan lidahnya pada Jaebum yang speechless dan bersembunyi dibelakang Jackson.

"Wah, dasar kau pengkhianat! Aku sudah mengenalmu sebelum Hani mengenalmu!" protes Jaebum.

Jackson mengabaikannya dan melanjutkan niat mereka yang tertunda, memasuki rumah hantu dan diikuti oleh Yugyeom.

"Tsk tsk, hyung.." Bambam menghampiri Jaebum dan menepuk-nepuk bahunya, "Lain kali mengalah lah dengan seorang wanita." Sambungnya sebelum turut masuk kedalam rumah hantu itu.

"..." Jaebum mengedipkan matanya sekali. Dua kali. Tiga kali. "YAAAAA!"

xxxxxxxxxxx

.


.

.

"Kenapa disini gelap sekali hyungdeul? Aku tidak bisa melihat apa-apa." Tanya Bambam.

"Kalau disini terang namanya bukan rumah hantu, bodoh." jawab Jaebum tajam.

"Sudah gelap, dingin pula!" keluh Yugyeom.

"Bisa tidak kalian diam? Aku sedang konsentrasi berusaha melihat jalan!" Omel Jackson.

Hani terkikik geli. "Ada perempatan!"

"Apa yang lucu?" tanya Jaebum heran.

"Hani noona memang selalu bersemangat dengan hal seperti ini." Yugyeom ikut terkikik bersama Hani.

Bambam menjawab pertanyaan Jaebum. "Hani noona suka hal yang horor-horor, hyung."

"Tapi keadaan disini terlalu horor." Timpal Yugyeom.

"Oh pantas saja, wajahnya juga horror."

"YA!"

"Ssshh! Jadi kemana kita harus pergi?" tanya Jackson.

"Hyung kan pemimpin kami, tentukan sendiri!" ucap Bambam yang mendapat jitakan sayang dari Jackson.

Mereka berunding untuk berjalan lewat kiri atau kanan atau berjalan terus kedepan, menyebutkan apa untung dan ruginya jika lewat yang mana, sebagian pengunjung yang pergi ke kanan dan kiri dan lurus malah membuat mereka tambah bingung. "Jadi kita harus lewat mana! Disini semakin gelap! Aku benar-benar buta sekarang!" keluh Bambam.

"Aku rasa kanan...no?" ujar Hani dengan suara kecil, terdengar jelas ada ketakutan dalam suaranya. Jackson meletakkan satu tangannya di pinggang kekasihnya dengan protective.

"Baru saja kau terkikik, sekarang sudah ketakutan? Dasar bipolar." ejek Jaebum.

"Diam kau, kakek tua!"

"Bipolar!"

"Kakek tu-!"

"Aku pikir kita berjalan terus saja" putus Yugyeom yang sudah tidak tahan dengan tingkah orang-orang tua yang sedang bertengkar itu.

"Tidak, kurasa kita harus lewat-"

Tiba-tiba ada cahaya hijau yang memancar dari sosok yang menyeramkan yang muncul dihadapan mereka. Semua pengunjung mendadak menjadi histeris. Hani berteriak dan menutup wajahnya lalu berlari menghindari sodako tersebut.

"Ahhhh!" teriakan Bambam dapat terdengar dan seakan-akan menjauh, rupanya Bambam dan yang lain berlari kearah kiri. (Atau kanan. Atau lurus. Karena disana gelap saya tidak tau pasti.)

"Hani?" tanya Jackson, mencoba mencari keberadaan kekasihnya saat sosok menyeramkan tersebut sudah pergi. Dia meraba-raba tangannya kesekitar, "Hani..?" Tangannya akhirnya bertemu dengan pergelangan tangan yang dia cari-cari, dia menarik tangan itu untuk lebih dekat dengannya dan memegangnya erat. "Jangan lepaskan tanganku lagi, aku disini."

.

.

Mereka berdua terus berjalan, meraba dalam kegelapan untuk mencari jalan keluar. Sebuah tangan lain meremas baju bagian belakang Jackson dengan kencang. Jackson hanya tertawa kecil karena tingkah manis kekasihnya. "Kau tidak pernah merasa takut saat menonton film horror, ada apa sekarang?" godanya,

Tidak mendapat jawaban apapun dari Hani, Jackson tahu kekasihnya itu pasti sangat ketakutan. "Makhluk itu tidak akan muncul lagi, jika aku salah kau bisa bersembunyi dibelakangku, aku akan melindungimu."

Namun ada yang berbeda saat itu. Tangan Hani terasa hangat, kehangatan itu memancar ke dalam hatinya dengan perlahan namun pasti. Jackson tidak ambil pusing dan berpikir mungkin itu karena jarak diantara mereka berdua sangat lah dekat.

Kehangatan yang Jackson rasakan mulai membuat jantungnya berdetak. Untuk kesekian lamanya, akhirnya jantungnya berdetak kencang lagi, berdetak dengan detakan yang berbeda dengan detakan yang dia rasakan biasanya, detakan yang dia tau benar detakan apa. Dia tau karena jantungnya selalu melakukan hal yang sama saat dia bersama Mark. Detakan itu, adalah detakan yang menandakan bahwa dia sudah jatuh cinta.

Dengan Hani.

Merasa kewalahan dengan hal yang baru saja dia ketahui dan rasakan, dia menarik Hani agar lebih dekat dengannya hingga tidak ada jarak lagi diantara mereka berdua.

"Apa kau masih takut?" tanya Jackson khawatir. "Jangan takut, aku akan membawamu keluar. Apa kau tidak percaya padaku?"

Setelah berjalan untuk waktu yang cukup lama, mereka tetap tidak bisa menemukan jalan keluar. Ruangan itu seperti sebuah maze yang seakan-akan membuat mereka hanya berjalan memutari tempat yang sama. Jackson sudah mulai lelah dan tangan Hani sudah mulai terasa dingin digenggamannya.

"Apa kau kedinginan?"

"..."

"Hani ya? Kau tidak apa? Kau terus diam sejak tadi, apa kau lelah? Aku bisa menggendongmu.."

Hani hanya membalas Jackson dengan menguatkan genggamannya pada tangan Jackson. Merasa cukup dengan respon yang Hani berikan, Jackson kembali fokus menuntun kekasihnya dan terus berjalan.

Suhu disana semakin lama semakin terasa dingin, Hani mendekatkan dirinya lagi dengan Jackson yang memang selalu memiliki suhu tubuh yang hangat walau sedingin apapun cuacanya. Jackson yang tanpa sengaja mendengar gertakan gigi Hani yang menggigil kedinginan pun menariknya kedalam pelukannya.

.

.

But...

.

.

There is something odd..

.

.

Jackson mengerutkan dahinya saat tidak merasakan sesuatu yang bertabrakan dengan dadanya. Jackson tau dada Hani tidak terlalu besar, namun dia yakin setidaknya mereka cukup besar sekitar cup B atau cup C. Apa winter coat yang dikenakan Hani menghalanginya merasakan kedua benda itu? Jackson memiringkan kepalanya bingung.

"Apa kau mau istirahat dulu?" bisiknya ke telinga Hani.

...

Aroma yang dia cium saat melakukan itu..

...

...

Itu bukan parfum Hani..

.

Jackson spontan mendorong pelan sosok asing yang berada dipelukannya. Dia mencoba untuk melihat wajah orang tersebut namun karena keadaan disana terlalu gelap, dia tidak bisa melihat apapun.

"Siapa kau?"

Tidak ada jawaban lagi.

Pantas saja! Jackson seharusnya sadar dari awal, Hani bukan tipe orang yang diam. Sepanjang perjalanan mereka kemari, jika Hani adalah orang yang bersamanya, Hani pasti melontarkan beberapa kata yang ada dipikirannya.

Kesal karena tidak ada jawaban sama sekali, Jackson mengeluarkan handphone-nya untuk menerangi sosok asing yang sedari tadi berjalan bersamanya, bahkan dengan lancang berani menyentuhnya.

.

.

.

And if he doesn't know any better, dia akan berpikir bahwa sosok yang dia lihat saat itu adalah hantu..

Karena... mana mungkin?

.

.

.

.

"...Mark?"

.


TBC

berhubung hari ini libur, aku update dengan terpaksaaaaaaaaaa soalnya gak yakin besok bisa update apa enggak!

sebenernya hari ini gak mau update sama sekali karena banyak tugassss haaaaaaaaaaaaaaahhhh TT ... tapi berhubung aku cinta kaliaan 3 #no

.

tolong tinggalin jejaaak kalian...

jejak.

tinggalin.

walau cuma titik.

seenggaknya biar aku tau ini ff ada yang baca.

.

.

adetikaaaaaaaaa : kalau yang lain setuju mpreg, saya usahain ya sayangss..

alan : mau tau banget ya kkk~~

okta : 333

tiffy : haha aku gak tauuu

jell : udah panjang belum? belum ya? ;;

lovewang : oh ya? kita senasib dong! TT

none : wah, kalo kamu sampe suka got7 kasih credit ke saya ya yang udah masukin kamu #eh

ciandhys : 33

tikha : selamat datang di dunia markson, maaf pintu keluarnya gak ada! kamu terperangkap selamanyaah~!

mmahlynda : hai hai aku baru liat kamu looh!