Summary
Seoul, tahun 0049. Bersama dengan sekelompok jenius pemberontak, Jaejoong dan orang-orang yang senasib dengannya berjuang menembus ke HeadQuarter terdalam Virtual Paradise untuk mencari separuh hati mereka yang hilang.
"Mereka bilang Yunho sudah pergi. Tapi aku tak akan mempercayainya begitu saja. Yunho tak akan mungkin meninggalkanku—tidak tanpa pamit terlebih dahulu."
Characters
Yunho, Jaejoong, DBSK, WINNER, iKON, Hongseok, Jinhyung, EXO, VIXX and many more…
Changmin
'…tidak ada. Ia hanya pura-pura. Jadi! jangan lagi kalian meributkan orang yang jelas-jelas tidak nyata!'
Lagi-lagi keributan bodoh terjadi di seberangku. Bocah-bocah usia 20 tahunan itu saling memiting dan memukul satu sama lain dengan bantal kecil warna-warni yang ada di sekitar ruangan tempat aku merawat kedua teman mereka. Yang dirawat tak terganggu sedikitpun dengan keributan yang terjadi karena aku baru saja memberikan zat sedative beberapa menit yang lalu. Mereka berdua pasti sedang terbang. Aku tertawa pelan melihat tingkah mereka yang kadang-kadang mengingatkanku ke masa-masa saat aku masih bersama hyungdeul di akademi dulu.
"Berhentilah menggoda mereka, Changmin." Suara hushky di seberang telepon menyadarkanku dari lamunan. Oh bagus ya, aku jadi lupa tadi sedang menunggu teleponku diangkat sampai Yoochun-hyung—orang yang kuhubungi, benar-benar mengangkatnya. Aku pasti telah melewatkan salamnya gara-gara memperhatikan kera-kera sialan itu sibuk menarik hidung satu sama lain.
"Berhentilah berteriak-teriak, aku sedang menerima telepon!" perintahku. Bantal ungu kecil yang berada di tangan kiri kulemparkan dengan niat ke arah mereka dan tepat mengenai kepala salah satunya.
Yang bersangkutan, berjaket hitam dan berambut panjang sepinggang menjawabku, "Kau juga berteriak, hyung!"
Aku menggeleng dan pergi menuju dapur untuk mengambil segelas air dari kran kemudian mendudukan diri di atas meja marmer yang ada di sana. Hyung di seberang telepon sana sudah terkekeh-kekeh dengan geli saat aku menempelkan kembali telepon tanpa kabelku ke telinga.
"Kau masih saja menggoda mereka, Changmin. Tidak bosan-bosannya."
"Siapa yang tahan tidak menggoda gadis-gadis cantik, hyung?" tanyaku balik. Ia terus tertawa dengan suaranya yang khas.
Aku bisa membayangkan ia yang sedang bersandar di kusen pintu, memandang lautan yang berada di seberang ruangan kerjanya sementara kami bertukar cakap, menggelengkan kepala dengan geli saat mendengar jawaban konyolku barusan.
"Kau dan gadis-gadis cantikmu, Changmin. Untungnya aku tidak suka gadis cantik, jadi aku tidak tahu rasanya harus sepertimu setiap hari."
"Mereka tidak bermain ke rumahku setiap hari! Kebetulan saja dua-duanya hari ini datang!" kilahku.
"Ya terserahlah apa katamu. Dan mengapa tak kau pepet saja salah satunya? Lumayan kan. Gadis-gadis, Changmin. Cantik. Daripada kau hanya menggoda, lebih baik… Kau tidak pernah benar-benar lurus kan selama ini?"
"Tutup mulutmu, paman mesum. Lebih baik aku sendiri selamanya daripada harus bersama salah satu dari mereka. Terlalu ribut, bahkan lebih ribut dari gadis-gadis cerewet di departemenku seperti Ahjoong, Sunhee dan Danah kalau berkumpul jadi satu saat makan siang," protesku sambil menenggak air dari gelas.
"Baiklah-baiklah, yang penting urus saja mereka dengan benar," jawabnya menyerah.
"Tentu saja, jangan kau meremehkanku dalam urusan yang satu itu," tandasku dengan ketus. Kemudian aku teringat dengan sesuatu, "Ngomong-ngomong, kapan kau akan menemui mereka, hyung?"
Kudengarnya berdeham sebelum menjawab pertanyaanku, "Ralat, Min; salah satu dari mereka. Aku hanya akan menemui satu orang. Entah Rachel atau Eunsang. Aku masih menimbang-nimbang kemampuan mereka. Lagipula, aku juga masih mencari-cari waktu. Jadwalku padat sekali bulan ini, bahkan untuk menelepon orang rumah saat jam makan siang saja cuma bisa 1-2 menit. Tapi aku pastikan dalam bulan ini, file tersebut sudah berhasil mereka dapatkan, Changmin."
"Senang mendengar keyakinanmu, hyung. I'll let the ladies know now." Ia bergumam saat aku kembali teringat dengan sesuatu dan segera menyelanya sebelum ia menutup sambungan, "Oh ya, hyung!"
"Apa lagi?"
"Bilang padanya, ia masih berhutang 12 kali lagi tanding Pro Evolution Soccer denganku! Suruh ia minum obatnya dengan benar atau rohku akan menghantuinya saat buang air kecil di malam hari kalau ia masih susah diatur!"
Tak ada jawaban untuk beberapa detik sebelum akhirnya aku mendengar hyung menghela nafasnya dan berkata, "Terima kasih atas perhatianmu, dongsaeng-ah. Aku akan menyampaikan padanya di rumah nanti. Ia pasti senang mendapat salam sayang dari Changmin kecilnya."
Kali ini, entah mengapa aku bisa membayangkan Yoochun-hyung yang masih di posisinya yang sama—bersender pada kusen pintu ruang kerja, dengan pandangan menerawang langit senja dan tersenyum dengan hati yang sedih kala mengucapkan kalimat itu padaku, Changmin kecilnya.
Aku menutup mataku, tak mau membayangkan lebih jauh, "Bye, hyung."
Memutus sambungan telepon duluan.
—₰—
Next -
