CHAPTER 7
Sehun menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Carolline telah meninggalkan ruang kerjanya. Sehun melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya sambil melirik jam tangannya. Keningnya berkerut. Pukul lima lebih, tapi Jongin belum juga datang. Bukankah parent's sharing akan dimulai pukul setengah enam?
Sehun mengangkat telepon, menghubungi sekretarisnya. Namun, menurut sekretarisnya Jongin sama sekali belum muncul. Setelah berpesan pada sekretarisnya agar tidak lagi menerima kedatangan Carolline, Sehun men-dial nomor ponsel Jongin−yang sudah dihafalnya luar kepala. Namun, hingga nada panggil berhenti, Jongin tidak juga mengangkat teleponnya. Sehun kembali me-redial nomor Jongin, namun tetap tidak diangkat. Sehun membanting i-Phone nya sambil mendengus kesal.
Kemana pemuda itu? Ia tidak bisa menelepon rumah Jongin karena pemuda itu tidak memiliki telepon rumah.
Sehun berpikir sejenak, lalu kembali meraih i-Phone nya. Ia mencoba menghubungi tempat parent's sharing. Mungkin Jongin memutuskan untuk berangkat sendiri. Namun, jawaban yang diterimanya mengecewakan. Jongin tidak ada disana. Sehun kembali membanting i-Phone nya. Kini kekesalannya berubah menjadi rasa cemas.
Sehun bangkit dari kursinya, menyambar jasnya dan bergegas meninggalkan ruang kerjanya.
.
.
.
Sehun menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Jongin. Rumah itu tampak sepi. Semua tertutup rapat. Tampak jelas tidak ada orang di dalam sana. Ia mengetuk pintu. Seperti dugaannya, tidak ada jawaban. Hening.
Sehun menghela napas panjang. Hari telah gelap, Jongin belum pulang juga. Ke mana perginya pemuda itu? Ia berjalan mondar-mandir di beranda rumah Jongin. Beberapa saat kemudian, ia mengeluarkan i-Phone nya, mencari nomor telepon Dokter Kyungsoo dan men-dial-nya. Tapi, jawaban yang di terimanya sama. Jongin tidak bersama dokter itu. Kyungsoo malah mengecam Sehun dan kembali mengingatkannya untuk menjaga 'istrinya' dengan baik. Sehun mendengus kesal. Ia sudah berusaha untuk menjaga 'istrinya' dengan baik, tapi 'istrinya'-lah yang tiba-tiba menghilang entah kemana. Menghindari parent's sharing.
Dimana Jongin? Sehun semakin cemas. Ia menghenyakkan tubuhnya di atas kursi kayu di beranda, hingga menimbulkan derit keras. Tidak ada cara lain. Ia terpaksa menunggu hingga Jongin pulang.
Setelah menunggu sangat lama, Sehun melirik jam tangan mahalnya. Pukul Sembilan malam! Tangannya bersedekap di depan dada. Wajahnya dingin. Rahangnya mengeras. Mata kelabunya menggelap, menatap pemuda yang melangkahkan kakinya memasuki beranda.
Jongin tersentak saat melihat Sehun. Langkah kakinya terhenti seketika. Ia menatap Sehun dengan pandangan aneh, kemudian kembali melangkah memasuki beranda.
"Dari mana saja?" tanya Sehun dingin.
"Bukan urusanmu!" jawab Jongin tidak kalah dingin sambil menghampiri pintu.
"Bukan urusanku kata−" Sehun tertegun. Ia tidak menyelesaikan ucapannya.
Wajah Jongin di bawah sorot remang lampu beranda tampak pucat dan lelah. Mata yang biasanya bening kini tampak merah dan sembab. Sehun terpaku. Ia menarik napas dalam-dalam, untuk mengendalikan emosinya. Begitu Jongin membuka pintu, Sehun segera bangkit dari kursinya dan menghampiri Jongin. Namun, baru saja Sehun akan menginjakkan kakinya di ruang duduk, Jongin telah mengayunkan daun pintu, akan menutupnya. Refleks, Sehun menjulurkan tangan, menahan daun pintu.
"Kau kenapa?" tanya Sehun bingung.
"Aku lelah, mau istirahat. Sebaiknya, kau pulang saja."
Jongin mencoba mendorong pintu, tapi tenaganya tidak mampu mengalahkan tenaga Sehun. Pintu pun tebentang lebar dan Sehun melangkah masuk. Mata lelaki itu menatap Jongin tajam hingga terasa menembus hati Jongin. Jongin menurunkan pandangannya, menghindari tatapan Sehun.
"Kau lupa, kalau hari ini ada parent's sharing?" tanya Sehun dengan nada lebih lunak.
Jongin memutar tubuhnya sambil mengangkat bahu tak acuh, dan melangkah masuk ke dapur.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu. Berkali-kali, aku menelepon, tapi tidak kau angkat. Aku mencarimu di tempat parent's sharing dan bahkan menelepon Dokter Kyungsoo, tapi kau tidak ada juga disana. Kau kemana saja?" cerocos Sehun sambil membuntuti Jongin.
Jongin tidak mengucapkan sepatah katapun. Pemuda itu mengambil gelas dari rak piring, membuka kulkas, mengisi gelasnya dengan air dingin dan meneguknya. Seolah tidak menyadari kehadiran Sehun di sana.
Sehun menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu. Tangannya bersedekap. Matanya memandang lekat pada Jongin. Ia bingung melihat sikap menarik diri pemuda itu. "Kau sudah makan?" tanyanya lembut.
Jongin tidak menjawab. Bahkan, seolah tak mendengar pertanyaan Sehun.
"Kau kenapa, Jongin? Ada masalah apa?" Sehun terus berusaha menjalin komunikasi dengan pemuda itu.
Namun, lagi-lagi, Jongin tidak menjawab. Ia melangkah melewati Sehun. Sehun segera menyingkir dari ambang pintu dan memberi Jongin ruang untuk lewat. Tapi, ternyata tubuhnya terlalu besar hingga lengan pemuda itu masih menyentuh perutnya. Jantung Sehun berdesir seketika. Ada perasaan aneh yang muncul tiba-tiba. Sehun menarik napas dalam-dalam untuk mengendalikan dirinya, memutar tubuhnya dan membuntuti Jongin ke ruang duduk.
"Jongin…" panggilnya lembut. Tidak ada respon dari Jongin. Sehun kesal. "Kim Jongin!" panggil Sehun sedikit membentak, sambil meraih lengan Jongin yang gontai, menariknya hingga tubuh Jongin menabrak tubuh tegap Sehun. "Ada apa…?" tanyanya lembut.
Jongin benci dengan perlakuan lembut pemuda itu. Segera, ia memalingkan wajahnya dari tatapan Sehun. Sehun kembali menghela napas dalam-dalam, lalu berkata, "Besok kita ke parent's sharing, ya?" katanya lembut. Tidak melepaskan tatapannya pada Jongin.
Jongin bergeming.
"Aku jemput pukul empat, ya?" Sehun terus berusaha membujuknya.
Jongin tetap bergeming.
Sehun memandang Jongin dengan tatapan putus asa. Tampak jelas pemuda itu tidak ingin berbicara dengannya. "Ya, sudah. Kau istirahat saja…" ujar Sehun lembut, sambil mengelus lembut pipi Jongin. "Aku mau pulang dulu. Sudah malam," katanya sambil menjauh dari Jongin.
Satu-satunya reaksi Jongin hanyalah berdiri diam di tempatnya tadi.
Sehun menatap Jongin sebentar, "Jangan lupa kunci pintunya, Jongin," ujarnya sambil menutup pintu.
Selama beberapa saat, Sehun berdiri di balik pintu. Tapi, ia tidak mendengar langkah kaki mendekat apalagi suara kunci pintu. Untuk kesekian kalinya, Sehun menghela napas panjang, lalu melangkah pergi.
.
.
.
Pukul 15.55 mobil Sehun telah terparkir di depan rumah Jongin. Namun, lagi-lagi rumah itu tampak sepi, dan semua jendela tertutup rapat. Cemas, Sehun mempercepat langkahnya menyeberangi pekarangan. Ia berharap kejadian semalam tidak terulang lagi.
Begitu tiba di depan pintu, Sehun mengetuk daun pintu keras-keras. Hening. Sehun kembali mengetuk lebih keras. Tetap hening. Tidak ada sedikit suara pun yang tertangkap oleh telinganya.
"Jongiiiinn…," panggil Sehun.
Sunyi.
Sehun mendengus kesal. Ia mengeluarkan i-Phone dari saku jas dan men-dial nomor ponsel Jongin. Persis seperti kejadian kemarin. Hingga nada panggil berhenti, Jongin tidak mengangkat teleponnya. Sehun kembali me-redial nomor ponsel Jongin. Nihil! Sehun mengusap tengkuknya, resah.
Ke mana Jongin? Bukankah ia dengan jelas mengatakan akan menjemputnya sore ini? Apa sebenarnya yang terjadi?
Langkah Sehun yang mondar-mandir terhenti. Ia menatap kosong halaman mungil di depan rumah Jongin. Otaknya berpikir keras. Ia tidak mau menunggu hingga Jongin pulang seperti tadi malam. Tidak tahukah Jongin, ia bahkan tidak makan malam hanya karena menunggunya di sini? Sehun gelisah.
Besok jadwal Jongin untuk check up. Tapi, bagaimana kalau Jongin menghilang lagi seperti kemarin dan hari ini. Kalau Jongin tidak mau mengangkat telepon, ia akan mengiriminya pesan. Tak apalah hari ini mereka tidak menghadiri parent's sharing, asalkan Jongin tak melupakan jadwal check up besok. Sehun yakin, Jongin tidak akan bertindak bodoh dengan kehamilannya.
Jari Sehun bergerak lincah mengetik pesan. Ia mengingatkan Jongin tentang jadwal ceck up-nya besok. Dan sekali lagi Sehun menekankan pada pemuda itu, ia akan menjemputnya sepulang kerja.
.
.
.
Esoknya, mobil Sehun telah berhenti di depan rumah Jongin. Kecemasannya semakin meningkat melihat kondisi rumah Jongin sama seperti dua hari sebelumnya. Sepi. Namun, Sehun tetap turun dari mobil dan menghampiri beranda dengan langkah lebar.
Sehun mengetuk pintu rumah Jongin keras, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Perasaannya kacau. Kesal bercampur bingung dan khawatir. Sehun mencoba menghubungi Jongin lagi. Sama seperti hari sebelumnya, pemuda itu tidak mau mengangkat telepon.
Kali ini, Jongin sudah kelewatan! Jongin boleh saja kesal padanya, walaupun Sehun tidak mengerti alasannya. Namun, tidak seharusnya pemuda itu mengorbankan kesehatan anak yang dikandungnya dan dirinya sendiri.
Mungkinkah Jongin pergi menemui Dokter Kyungsoo seorang diri?
Segera Sehun menghubungi Kyungsoo. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya terdengar suara lelaki itu menyapanya.
"Dok, Jongin sedang bersama Anda?" tanyanya, tanpa menggubris sapaan ramah Kyungsoo.
"Kau ini bagaimana? Jongin, kan, istrimu? Kau tidak tahu keberadaannya?" Kyungsoo malah menegur Sehun.
"Dia ada disana tidak, Dok?" Sehun mengacuhkan omelan Kyungsoo.
"Sebentar, biar kusuruh perawat untuk melihatnya…" Sehun mendengar Kyungsoo yang sedang meminta perawat untuk melihat Jongin.
"Kalau tidak salah, hari ini jadwal check up istrimu, kan?" Kyungsoo kembali berbicara pada Sehun.
"Iya, Dok."
"Tunggu sebentar…" Terdengar Kyungsoo kembali berbicara pada perawat. "Sehun, istrimu tidak ada di sini," katanya beberapa saat kemudian.
Sehun terdiam.
"Kau ini… Aku kan sudah mengingatkanmu untuk menjaga istrimu baik-baik. Tapi, kau malah kehilangan istrimu hingga dua kali dalam seminggu ini."
Teguran Kyungsoo membuat telinga Sehun memerah. "Saya…"
"Aku tak mau mendengar banyak alasan, Sehun-ssi. Aku mengkhawatirkan kondisi istrimu. Kau, kan, tahu sendiri bahwa kehamilannya adalah suatu hal yang langka. Kau harus mencarinya sekarang juga, dan bawa ia kemari! Segera!"
"Baik, Dok," gumam Sehun salah tingkah. Kyungsoo membuatnya seperti anak kecil yang telah berbuat nakal. "Selamat sore, Dok." Ia segera mengakhiri percakapan sebelum omelan Kyungsoo semakin panjang.
Ke mana ia harus mencari Jongin? Ia tak pernah menanyakan alamat orangtua atau sanak keluarga Jongin. Sepertinya ia tidak punya pilihan lain selain menunggu hingga Jongin pulang.
.
.
.
Ringtone ponsel Jongin menjerit ribut dalam tas ranselnya. Jongin menghentikan langkahnya dan mengeluarkan ponselnya. Ia menghela napas panjang saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Oh Sehun! Jongin kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Membiarkan ponsel itu terus menjerit-jerit sampai berhenti sendiri.
Jongin melanjutkan langkahnya. Ia tidak mengerti, mengapa Sehun tidak mau menyerah. Jongin tidak mau lagi berhubungan dengan lelaki itu. Seharusnya, Sehun paham. Jongin menghirup udara dalam-dalam. Tanpa sadar, Jongin mengelus perutnya yang sudah menonjol.
Anak ini… Pasti anak yang ada di dalam rahimnya ini yang telah membuat Sehun tidak mau berhenti mengganggunya. Seharusnya, lelaki itu tak perlu khawatir. Jongin tidak akan melanggar perjanjian mereka. Ia pasti menyerahkan anak ini pada Sehun. Jongin tidak bisa mengasuh bayi ini. Ia tidak sanggup dan tidak mau! Tangannya kembali membelai perutnya.
Di pertigaan jalan menuju ke rumah kontrakannya, langkah Jongin terhenti. Dia kaget saat melihat mobil Sehun terparkir di depan rumahnya. Jantung Jongin berdegub kencang. Ia melirik jam di tangannya. Keningnya berkerut. Pukul 22.45. Jongin sama sekali tidak lupa jadwal check up-nya hari ini. Tapi, ia tidak menyangka Sehun mau menunggunya hingga selarut ini. Lelaki ini benar-benar nekat!
Jongin mendengus kesal. Ia segera memutar tubuhnya, dan melangkah pergi. Lebih baik, ia kembali ke rumah Baekhyun, dan menginap saja di sana.
.
.
.
"Bagaimana kau bisa kehilangan Jongin, Sehun? Apa yang telah kau lakukan padanya?" teguran tajam Park Hyemi di telepon, menusuk telinga Sehun.
"Aku tidak melakukan apa-apa, Eomma…"
"Tidak mungkin, Sehun. Kau pasti sudah melakukan sesuatu yang sangat menyinggungnya."
Sehun mendengus kesal karena eommanya sama sekali tidak memercayai ucapannya.
"Kau harus mencarinya."
"Aku sudah mencarinya, Eomma. Tapi, dia menghindariku. Dia tidak mau menerima teleponku dan tidak mau membalas pesanku. Setiap kali aku menjemputnya, dia tidak pernah ada di rumah."
"Ah, kau saja yang kurang keras berusaha!" sergah Hyemi. "Ingat, Sehun, dia sedang mengandung anakmu. Dan, Eomma tidak mau kau lari dari tanggung jawabmu, Sehun. Jangan ulangi perbuatan abeojimu! Berjanjilah pada Eomma, Sehun!"
"Aku bukan Abeoji, Eomma! Dan, aku sama sekali tidak lari dari tanggung jawab! Jongin-lah yang menghindariku!" tukas Sehun.
"Kau tidak bodoh. Cari cara untuk dapat menemuinya, dan bawa dia memeriksakan kandungannya! Segera!"
Sehun menyesap kopinya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Eomma sangat khawatir padanya, Sehun." Suara eommanya terdengar melunak, "Dokter Kyungsoo bilang berat badan Jongin di bawah rata-rata ibu hamil. Kau harus lebih memperhatikannya."
Sehun masih terdiam.
"Kau dengar ucapan Eomma?"
"Hmm."
"Eomma tunggu kabar darimu secepatnya."
Kekesalan Sehun bertambah. Sudah dua minggu Jongin menghindarinya tanpa alasan yang jelas. Sudah berkali-kali Sehun menunggunya hingga larut malam, tapi pemuda itu tak kunjung pulang. Seketika, Sehun duduk membeku. Betapa bodoh dirinya!
Bukankah dua minggu ini Sehun selalu menunggu Jongin di hari pertemuan parent's sharing? Dan, ia selalu memberi kabar pada Jonign bahwa ia akan datang menjemputnya. Sehun menepuk keningnya, kesal menyadari kebodohannya.
Kini, ia menemukan cara untuk dapat bertemu Jongin. Ia akan datang pada saat tidak ada pertemuan parent's sharing dan tanpa pemberitahuan. Dan−untuk lebih melengkapi rencananya−ia akan menggunakan mobilnya yang lain, bukan yang biasanya. Ya, itulah yang akan dilakukannya.
.
.
.
Jongin melangkah gontai memasuki beranda rumah kontrakannya. Hari ini, Jongin dapat pulang lebih awal. Hari ini bukan jadwal Jongin untuk ikut pertemuan parent's sharing, jadi tidak mungkin Sehun datang menemuinya.
Jongin memasukkan kunci ke dalam lobang kunci dan memutarnya. Tiba-tiba, gerakannya terhenti. Ia terpaku. Telinganya mendengar langkah kaki mendekat. Jantungnya berdegub kencang. Jongin menoleh cepat lewat atas bahunya. Wajahnya pusat pasi seketika. Ternyata kecemasannya beralasan. Oh Sehun!
Jongin segera membuka pintu . Namun belum sempat ia melangkah masuk, Sehun telah meraih lengannya dan memutar tubuh Jongin hingga menghadapnya. Kedua tangan Sehun mencengkeram lengan Jongin erat hingga ia meringis kesakitan.
"Kenapa kau tidak mau menerima teleponku, Kim Jongin?" Mata Sehun berkilat marah, menatapnya. Rahangnya mengeras. "Kenapa kau menghindariku?"
Jongin berusaha melepaskan lengannya, tapi cengkeraman Sehun semakin erat melingkari kedua lengannya. "Lepaskan!" Serunya sambil terus meronta. Namun, tenaganya tak sebanding dengan Sehun.
"Kenapa kau tidak mau datang ke pertemuan parent's sharing? Kenapa kau tidak mau check up?" Ia meraih pundak Jongin dan menarik tubuh Jongin hingga merapat pada tubuhnya. Membuat Jongin terpaksa mendongak, agar bisa menatapnya matanya.
"Kemana saja kau selama ini, Kim Jongin?"
"Bukan urusanmu!" tukas Jongin galak, sambil terus meronta.
"Apa yang kau lakukan di luar sana hingga larut malam?!"
"Aku sudah bilang, Oh Sehun…, BUKAN URUSANMU!"
"Bukan urusanku, katamu?!" tanya Sehun geram.
Jongin tertegun mendengar suara Sehun dan tatapan matanya yang murka. Kenangan akan masa lalunya tiba-tiba menyelinap masuk. Cara lelaki itu menatapnya mirip dengan cara ayahnya menatapnya dan ibunya sebelum menghajar mereka berdua. Tubuh Jongin mulai gemetar, ketakutan. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Bagaimana kau bisa bilang, menghilangnya dirimu, bukan urusanku?" Suara Sehun bergetar sarat emosi.
Jongin menggigit bibirnya. Ia menurunkan pandangannya hingga pandangannya sejajar dengan dada lelaki di hadapannya. "Bukannya kau tidak peduli dengan bayi ini?" gumam Jongin dengan suara bergetar, tanpa berani menatap mata Sehun.
"Kalau aku tidak peduli pada bayi ini, aku tidak akan secemas ini."
Jongin terdiam. Ia sadar, bahwa perhatian Sehun padanya hanya karena ada bagian dari diri lelaki itu yang sedang tumbuh di dalam rahimnya. Namun, ucapan lelaki itu−yang jelas-jelas mengungkapkan ia hanya mencemaskan bayi ini−terasa begitu menyakitkan.
"Katakan padaku, kemana saja kau selama ini?"
"Aku cari kerja."
Mata Sehun terbeliak. "Apa katamu?! MENCARI KERJA?!" cengkeraman tangannya kuat meremas lengan Jongin, membuat pemuda itu menjerit kesakitan. "Kerja apa?! Mengapa sampai larut malam?!"
"Lepaskan aku, Sehun! Kau menyakitiku!"
"Kau tidak boleh kerja! Tidak, selama bayi itu masih berada dalam kandunganmu!" Sehun mengguncang tubuh Jongin.
Jongin seperti tertampar. Ia tertegun menatap Sehun. Jadi, selama ini, Sehun hanya menganggapnya sebagai alat pengeram telur belaka. Tidak lebih! Lelaki ini tidak pernah peduli padanya! Rasa marah, kecewa, putus asa, takut, serta rasa sakit di kedua lengannya, membuat Jongin tidak dapat lagi menahan air matanya. Tubuhnya lemas seketika. "Kamu menyakitiku, Sehun…," katanya lirih sambil terisak.
Sehun terpaku. Secepat kilat, ia melepaskan cengkeramannya dari kedua lengan Jongin. Jongin langsung jatuh terduduk di lantai, sambil menggosok-gosok lengannya yang memar.
"Maafkan aku…," gumam Sehun lirih sambil menjongkokkan dirinya, setara dengan Jongin.
Jongin tidak bereaksi mendengar permintaan maaf Sehun. Lengannya memang sakit, tapi hatinya lebih sakit. Sehun menjulurkan tangannya untuk menyentuh lengan Jongin yang memar, ingin mengobati memar di lengan pemuda itu, ingin memeluknya, ingin menciumnya lembut, ingin menghapus air matanya, tapi Jongin menepisnya. Sehun tertegun, tidak tau harus bagaimana. Ia menatap Jongin dengan pandangan sedih dan menyesal.
"Pergilah, Sehun…," isak Jongin. "Aku ridak mau melihatmu lagi."
"Jongin…"
Jongin bangkit berdiri dengan sekuat tenaga, memutar tubuhnya, memunggungi Sehun dan mendorong pintu. "Kau akan mendapatkan anak ini setelah dia lahir…," gumam Jongin lirih sambil melangkah masuk.
Sehun merasakan kegelapan melingkupinya, seolah ia baru dibuang ke jurang yang tak berdasar. Ia menggeleng lemah. "Tapi, Jongin…"
Jongin tidak mau mendengar apa-apa lagi. Ia segera menutup pintu dan menguncinya. Meninggalkan Sehun yang masih terpaku di beranda rumahnya.
Semua ini bukan salah Sehun. Ia-lah yang salah. Ia-lah yang bodoh, karena membiarkan cinta itu tumbuh dan berkembang di dalam hatinya. Ia-lah yang bodoh karena mengabaikan peringatan yang diberikan hatinya. Ia-lah yang tidah tahu diri. Ia bukan siapa-siapa. Ia bahkan tidak berhak untuk memimpikan Sehun.
Jongin tidak ingin semuanya berakhir seperti ini. Namun, ia sadar, ia tak punya pilihan.
.
.
.
Sehun berbaring gelisah di atas ranjangnya. Hari sudah menjelang pagi, tapi matanya tidak juga mau terpejam. Pikirannya selalu melayang pada Jongin.
Sehun tidak khawatir Jongin tidak menepati janjinya, dan membawa pergi anaknya, ia sudah memikirkan kemungkinan itu masak-masak hingga membuat surat perjanjian−yang ia yakin−akan menyulitkan Jongin jika pemuda itu berani membawa kabur anaknya. Tidak! Bukan itu yang membuatnya cemas dan resah. Kemarahan Jonginlah yang mengganggunya. Jongin tidak mau menemuinya lagi. Jongin sudah mendepaknya ke luar dari kehidupan pemuda. Sehun mendesah sedih.
Wajah Jongin yang pucat, lelah, dan basah oleh air mata terus mengusiknya. Membuat penyelasan dan rasa bersalah semakin menghimpit dadanya hingga membuatnya sulit bernapas. Sehun menghirup udaha sebanyak-banyaknya, tapi dadanya terasa sakit. Ada sesuatu yang sangat menggelisahkannya, sesuatu yang membuatnya merasa takut. Ia tidak tahu apa, tapi perasaannya tidak enak.
.
.
.
TBC
