"Jihoon, sayang." Panggil ibunya pada anak kecil manis yang sedang bermain dengan bonekanya.

Jihoon kecil menoleh kearah sumber suara ibunya. Baekhyun menghampiri anaknya yang menatapnya bingung, lalu menyamakan tinggi badannya dengan buah hatinya dan mengelus rambut Jihoon dengan lembut.

"Kamu akan pulang ke Korea." Akhirnya kalimat yang berat diucapkan oleh Baekhyun dapat disampaikan pada anaknya.

"Sama eomma, kan?" Baekhyun membeku saat Jihoon bertanya hal tersebut.

"Kenapa eomma tidak jawab Jihoon? Jujur Jihoon rindu appa lalu juga Jonghyun-hyung, Jinyoung-ie dan Sam." Ia mengerucutkan bibirnya.

"Disini Jihoon tidak punya teman.. Jihoon hanya bisa diam duduk dirumah bermain dengan benda-benda mati itu." Jelasnya sambil menunjuk setumpuk mainannya.

"Karena itulah kamu akan eomma pulangkan ke Korea dan kamu akan tinggal bersama appa-mu." Baekhyun tidak kuat. Ia ingin menangis tapi ia tidak ingin menangis didepan putra kesayangannya.

"Kamu akan pulang sendiri, tidak ada eomma. Eomma tidak akan ikut kamu. Saat kamu sampai di Korea, kamu akan mempunyai keluarga yang baru." Bibirnya bergetar saat mengatakan hal tersebut pada anaknya.

"Keluarga baru? Aku tidak mengerti, eomma.." Jihoon bingung dengan perkataan ibunya.

"Mulai besok, saat kamu pulang ke Korea, eomma dan kamu akan jarang bertemu, sayang." Finalnya pada Jihoon. Bahkan bisa jadi mereka tidak akan bertemu lagi, tapi Baekhyun tidak ingin mengatakan hal tersebut. Terlalu menyakitkan untuk anaknya.

Jihoon menyentuh ibunya, mulai dari rambut, lalu dahi kemudian menuju mata, hidung, mulut dan dagu.

"Kenapa, sayang?" Sekarang Baekhyun-lah yang dibuat bingung dengan kelakuan anaknya.

"Karena eomma bilang kita akan jarang bertemu, Jihoon ingin menyentuh wajah eomma, agar Jihoon tidak lupa bagaimana rupa eomma." Jihoon memang masih kecil, namun, ia sudah mengerti sekali dengan keadaan keluarganya.

Dulu Park Chanyeol dan Byun Baekhyun hidup bersama, tinggal satu rumah, satu atap, satu kamar, bahkan satu ranjang. Lebih tepatnya satu tahun yang lalu, sebelum sebuah konflik rumah tangga berhasil memisahkan mereka berdua. Siapa di dunia ini yang menginginkan perceraian? Tidak ada. Mereka semua yang menjalin hubungan sakral yang disebut pernikahan sama sekali tidak ingin merasakan pahitnya perceraian. Namun, mengetahui bahwa seorang Park Chanyeol mempunyai DUA anak yang disembunyikan dari sahabatnya sendiri adalah pukulan telak bagi seorang Baekhyun. Apalagi ternyata hasil pertama mereka lahir terlebih dahulu dibanding anak kandungnya dengan Chanyeol dan setelah itu suaminya berani berbuat dusta lagi bahkan setelah ia sudah menikah dengan dirinya.

Baekhyun sudah bersumpah tidak akan pernah lagi menemui mantan suaminya yang sudah menyakitinya seperti ini. Baekhyun mengakui dia tidak akan mampu menghidupi anaknya hanya dengan uang yang ia peroleh dari hasil kerjaannya. Sungguh, melihat anaknya yang biasa hidup dengan kemewahan namun selama setahun ini harus hidup sederhana membuatnya akhirnya luluh dengan perkataan mantan suaminya yang menghendaki Jihoon pulang ke Korea untuk menjadi ahli waris perusahaan keluarga mantan suaminya.

Mungkin dengan begitu, anak semata wayang-nya bisa bahagia.

Ya, kan?

"Disana kamu akan ada seorang kakak dan juga adik kecil, sayang. Kamu tidak akan kesepian, karena kamu juga mempunyai Jonghyun, Samuel dan Jinyoung." Ia meyakinkan anaknya seraya menatap lembut anaknya.

"Dengar, kamu harus kuat, apapun yang terjadi, jangan pernah menangis. Eomma sayang kamu, nak. Eomma harap kamu bahagia dengan keluarga barumu."

Jatuh.

Akhirnya air mata tersebut jatuh. Jihoon kecil terpaku.

Air mata seorang ibu yang akan ditinggalkan anaknya.

Suatu saat nanti, apakah Jihoon akan pernah merasakannya?


"Hyung! Hyung!" Ucap seseorang yang membuat Jihoon dari lamunannya.

Ah, Seonho?

Saat ini Jihoon sudah dirumah, ia sedang dikamarnya, sambil memegang bingkai kecil yang berisi foto dirinya dan ibunya saat di Amerika dulu.

"Itu, Baekhyun-ahjumma, ya, kak?" Tanya Seonho yang sedang tiduran di sampingnya sambil melirik bingkai foto tersebut.

"Iya.." Jihoon menjawab sambil tersenyum menatap wajah cantik ibunya.

Jihoon terakhir bertemu ibunya sudah lama sekali, kalau tidak salah, saat ia hilang waktu itu dan saat ia menyadari bahwa ia memiliki perasaan terhadap Jinyoung.

Ia memang tidak pernah bertemu dengan ibunya, namun ia yakin sekali ibunya baik-baik saja, alasannya karena ia dan ibunya mempunyai ikatan batin yang sangat kuat, dan dia tidak merasakan hal-hal yang menyakitkan terjadi pada ibunya.

Apakah, ibunya merasakan penderitaannya?

Jihoon harap tidak, karena ia tidak ingin ibunya merasakan perasaan sesakit ini.

Ia masih ingat bagiamana tekstur bibir ibunya, mancung hidung ibunya, bulu mata ibunya yang panjang, dan pipi gembilnya yang sama seperti Jihoon.

"Hyung, aku kangen Minhyun-hyung." Sela Seonho tiba-tiba.

DEG.

Jihoon sontak meremas ujung piyamanya, berusaha menyembunyikan emosinya saat nama 'Minhyun' disebut.

"Hyung pernah bertemu lagi tidak dengan Minhyun-hyung? Seonho sudah bertemu sih tapi seminggu yang lalu, hyung sibuk sekali sama kerjaannya."

"Minhyun-hyung bukan hanya sibuk dengan pekerjaannya, Seonho-ya. Ia juga sibuk dengan pernikahannya nanti bersama Jonghyun-hyung." Jihoon menatap kalender yang terletak di meja sebelah ranjangnya.

Sebentar lagi mereka akan menikah. Jihoon senang, akhirnya Jonghyun bisa mendapatkan kebahagiaan lain selain dirinya. Sedihnya, mungkin ia akan jarang bertemu dengan hyung kesayangannya itu.

Seonho tiba-tiba mengenggam tangan kakaknya dan berkata, "Kalau hyung? Kapan hyung akan menikah?"


Suara biola Gavotte yang mahal bergema di ballroom hotel berbintang lima yang mewah di Seoul. Di sebuah bar kecil, terlihat seorang lelaki elegan dengan tuxedo Brioni yang mempunyai harga selangit dan terbuat dari Vicuna fur langka yang dijahit dengan emas putih. –

Saat ini hotel tersebut sedang mengadakan pesta bisnis untuk para tetinggi dan pengusaha terkaya di Korea Selatan.

Lelaki tampan dengan mata menyerupai kucing yang saat ini sedang menegak segelas champagne mahalnya di bar tersebut adalah Hwang Minhyun, pewaris dari perusahaan Hwang, salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan erat dengan Keluarga Park karena mereka mempunyai nenek dan kakek yang sama.

Ia menikmati semilir angin serta pemandangan gedung berkerlap-kerlip diluar sana yang kontras dengan warna langit yang pekat dari jendela besar di ballroom tersebut.

Saat ia sedang menikmati gelas keempatnya, sebuah tangan menepuk pundaknya. Ah? Kwon Hyunbin.

Hyunbin segera duduk disamping Minhyun, ia menjulurkan tangannya meraih botol whisky lalu menuangkannya di sebuah gelas. "Tidak bosan Champagne terus? Mau Whisky?" tawarnya pada Minhyun.

"Menurutku, Whisky lebih nikmat." Dalam satu tegukan, cairan dalam gelas itu habis tak bersisa. "Kau harus mencobanya sekali-kali. Whisky lebih manjur dalam menghilangkan stress."

"Aku tidak sedang stress, Kwon Hyunbin." Ia lebih melanjutkan untuk meminum gelas Champagnenya.

"Tidak baik seorang tunangan dari lelaki lain meminum anggur dengan lelaki lain." Ucap seseorang mengejutkan mereka berdua. Hyunbin yang melihat lelaki tengah baya yang mengejutkan mereka segera berdiri dan membungkuk hormat. Sedangkan, Minhyun yang tahu betul itu suara Park Chanyeol tidak menoleh dan terus berkutat pada gelas Champagnenya.

"Tatap aku, Hwang Minhyun." Tegas Park Chanyeol padanya.

Minhyun tidak mempunyai pilihan lain dan menatap ayahnya.

Hwang Minhyun menatap ayah kandungnya, Park Chanyeol. Mengapa mereka anak dan ayah kandung padahal marga mereka jelas berbeda? Minhyun tidak mau menjelaskan secara rinci, seiring berjalannya waktu juga kau akan tahu mengapa.

"Aku turut bersedih dengan kesehatan Minyoung-noona yang semakin memburuk." Sok sedih! Itulah yang berada di dalam otak Minhyun sekarang.

Minhyun mengenakan topengnya sehari-hari dan tersenyum dingin menyembunyikan emosi aslinya, "Tidak apa, samchon."

"Kau tahu ibu angkatmu sedang eksakitan tapi kau memakai pakaian semahal ini? Kesannya kau tidak bersedih sama sekali. Kau tahu kan kalau rekan-rekan bisnis melihat hal ini, bisa-bisa kau dicap sebagai anak yang pembangkang." Ujar Chanyeol sambil menatapnya dari atas kebawah.

Senyuman palsu yang dingin kembali muncul lagi di wajah Minhyun, dia benar-benar pandai jika tentang mengatur emosinya, "Hal itu juga berlaku untukmu yang memakai jas bermerk Kiton yang harganya mencapai dua puluh ribu dollar, samchon."

Hyunbin yang tidak ingin ikut campur akhirnya pamit dengan alasan harus menghampiri rekan bisnisnya.

Kepergian Hyunbin tergantikan dengan kedatangan tunangannya –Kim Jonghyun.

Jonghyun yang melihat kejadian tersebut mengenggam erat tangan mungil Minhyun dan membungkuk minta maaf pada Chanyeol, "Maaf, Tuan. Minhyun sudah meminum empat gelas liquor, mungkin karena itulah ia mengelantur seperti ini.

Minhyun hanya menatap kesal tunangannya. Ia bisa melihat ayahnya mendengus dan pergi dari tempat kejadian tersebut.

Jonghyun menghempaskan tangan Minhyun dan sedikit membentak, "Sudah kubilang untuk tidak berlaku seperti itu!"

"Dia duluan yang memulai semuanya." Ia mengalihkan pandangannya dari Jonghyun dan mukanya tetap datar.

"Aku ingin pulang, kepalaku sudah pusing." Ajak Minhyun pada Jonghyun.

Jonghyun mengangukan kepalanya dan membawa tunangannya menuju jalan keluar ballroom tersebut.


Sesampainya di penthouse milik Minhyun, ia segera membaringkan tubuh tunangannya di kasur besar miliknya. Ia sebenarnya capek sekali menggendong Minhyun dari lantai dasar sampai lantai paling atas.

Saat ia hendak untuk pulang, tangannya ditahan oleh Minhyun, "Jangan pulang." Pintanya.

Ia menarik kuat tangan Jonghyun, sehingga Jonghyun sekarang berada di kasur, tepatnya disampingnya, "Kamu yakin mau pulang?" Bisiknya di telinga Jonghyun dengan nada yang begitu menggoda.

Perlahan-lahan dia mendekatkan bibirnya pada bibir Jonghyun dan mengecupnya pelan.

Jonghyun tidak munafik, ia masih seorang lelaki yang terangsang dengan tubuh seseorang. Apalagi di hadapannya adalah seorang lelaki yang notabene cantik.

Minhyun menghisap dan menjilat bibirnya dengan gerakan yang begitu menggoda. Tangannya bergerak untuk meraba selangkangannya. Sedikit desahan keluar dari bibir Jonghyun saat Minhyun menggenggam barang berharganya dari luar. Minhyun menyeringai dan mulai membuka resleting Jonghyun. Jonghyun hanya mampu memejamkan matanya menikmati kerja tunangannya.

"Malam ini, penuhi aku lagi, ya?"


Cahaya matahari pagi mulai menerobos masuk melalui celah-celah korden penthouse Minhyun yang tersibak, kamar megah benuansa putih ini akhirnya mendapatkan asupan cahaya—yang tak didapatnya beberapa jam yang lalu. Hawa penat hasil tadi malam masih terasa didalam kamar ini—dimana peluh bercucuran dan desahan-desahan liar yang tidak berhenti sampai jam 3 subuh tadi.

Minhyun membuka mata dan lekas bangun dari tidurnya. Badannya betul-betul pegal karena aktivitas mereka semalam sehingga ia merenggangkan badannya sedikit. Ia tidak melihat tunangannya disampingnya, namun ia mencium bau enak dari dapur sehingga ia menyimpulkan Jonghyun sedang memasak untuknya.

Ia berjalan kearah dapur, dan sesampainya didapur, Jonghyun mengucapkan, "Selamat pagi." kepadanya.

Ia memeluk Jonghyun manja dari belakang, "Jonghyun pakai celemek ih kaya cewek." sambil mengeratkan pelukannya.

Jonghyun tersenyum dan melepaskan pelukan Minhyun, "Duduklah, biar kita makan."

Minhyun menuruti perkataan tunangannya dan duduk di depan meja makan.

"Kamu masak nasi goreng, ya? Aku bosan sekali makanannya itu terus!" Rengek Minhyun.

Jonghyun sekali lagi tersenyum dan segera menyiapkan makanan di atas meja makan. Jonghyun duduk dengan manis memerhatikan Minhyun dengan cekatan menyendokkan nasi ke dalam mangkuknya dan mangkuk Jonghyun.

Minhyun benar-benar manja dihadapannya.

Siapapun yang melihat lelaki secantik Minhyun dengan sifat manjanya pasti akan luluh. Namun, Jonghyun hanya mencintai Jihoon. Sayang sekali.

"Hey, jangan pandang aku dengan tatapan kasihan begitu." Tiba-tiba Minhyun jadi kesal. Ia yakin sekali Jonghyun sedang memikirkan si keparat Jihoon.

Minhyun memang begini. Ia adalah lelaki yang mempunyai sifat buruk yaitu moodnya selalu berubah-ubah. Pertama ia akan terlihat senang, bahagia dan tertawa, tapi bisa saja sedetik kemudia ia akan menjadi marah, kesal bahkan menangis sendiri?

Jonghyun mengelus kepala Minhyun agar emosi tunangannya mereda, "Aku tidak memandangmu seperti itu, Minhyun-ah."

"Kenapa kamu bohong?! Aku tahu kamu pasti lagi memikirkan si bedebah kecil itu kan?! Kamu kemarin bertemu dengannya tanpa sepengetahuan-ku, kan, Kim Jonghyun?!" Mendengar Minhyun mulai menaikan nada suaranya dan berteriak, Jonghyun merasa alarm bahaya di kepalanya. Pria itu tidak ingin merusak mood Minhyun.

Minhyun mengebrak meja makannya, "Kamu tahu kan dia sudah merebut segalanya dariku?! Aku sudah muak! Kamu bilang kamu tidak ingin sama seperti Bae Jinyoung, tapi kamu sama saja! Lelaki brengsek!"

Jonghyun sudah sangat pusing, Minhyun mulai mengelantur lagi. Kondisi jiwanya dan Jihoon memang benar-benar sebelas dua belas.

Mata Minhyun memanas, pandangannya mulai mengabur. Jonghyun mungkin memang terpaksa menikahi Minhyun, tapi dia tidak ingin seperti Bae Jinyoung yang brengsek. Mungkin memang ia mencintai Jihoon, tapi.. ia sangat ingin melindungi Minhyun.

"Aku ambilkan obat ya?" Tawarnya seraya mengelus punggung tunangannya.

Minhyun menepis tangan Jonghyun dan menampar pipi Jonghyun, "Keluar, brengsek! Jangan ganggu aku!"

Jonghyun benar-benar terkejut dengan tamparan keras dari tunangannya, tapi jujur ia sudah berkali-kali mengalaminya, "Baiklah aku keluar. Kamu jaga dirimu baik-baik."

Sudahlah, Jonghyun menyerah. Ia tidak mengerti lagi harus diapakan tunangannya. Ia pun keluar dari penthouse itu tanpa memandang Minhyun.

"Bajingan. Bahkan tidak lagi memeriksa keadaanku dan pergi begitu saja."

Ia berjalan kearah persediaan alkoholnya di lemari pendinginnya, setelah mengambilnya ia duduk di lantai seperti orang sakit jiwa yang tidak mempunyai tujuan hidup.

Menghabiskan alcohol dalam gelas yang dipegangnya, ia melemparkan gelas itu ke kaca yang terletak didapurnya, membuat kedua objek tersebut pecah berkeping-keping. Ia mengambil satu botol lain, meneguk isinya dengan marah, terus meneguknya lagi dan lagi. Panas di tenggorokannya tak ia perdulikan. Ia menghabiskan isi botol itu sekaligus, kemudian membiarkan botol kosong itu menggelinding di lantai.

Ia memandang penampilannya sendiri pada cermin didepannya dengan lesu. Matanya sembab, rambutnya kusut, bahkan ada lingkaran hitam di sekitar matanya.

Kini matanya menciptakan sebuah ilusi, lalu ia dapat dengan jelas memandang wajah yang tak familiar, wajah yang sangat dibenci oleh Minhyun.

Kali ini lelaki itu melempar cermin yang memantulkan bayangan lelaki yang dibencinya sampai pecah menggunakan vas bunga. Ia menjatuhkan diri ke bawah sambil mengacak-acak rambutnya yang senada dengan warna matanya.

"Fuck! Park Jihoon, leave me alone you, bitch!" Umpatnya entah pada siapa.

Ia dengan cepat mengambil ponselnya dan segara mencari nama yang akan ia telpon sekarang.

Panggilannya tersambung, ia menyeringai,

"Halo, Lee Daehwi?"

PRANG

Jihoon menatap gelas yang tadinya ia pegang tiba-tiba jatuh.

Ia merasakan hal yang sangat buruk akan menimpa dirinya.


GUUUUUUUUYS MAAF LAMA BANGET YAAAA :( UPDATENYA LAMA BANGET SORRY YA T_T

MAAF YA AKU LAMA BANGET TERUS GAADA WINKDEEP PULA. TAPI INI UDAH MAU KE PLOT SERIUSNYA SOALNYA _

INI CHAPTER MENGECEWAKAN MEMANG...:")

MAAF YA.. TUNGGU AKU YA UPDATENYA..

SEE YOU GUYS! THANKYOU BUAT REVIEWSNYA SELALU NEMBUS 50! :(

SEE YOU.