A/N: Terima kasih kepada semua reader yang sudah membaca chapter 6, baik yang silent maupun yang open (yang kasih review). Review kalian membuat saya bersemangat untuk melanjutkan chapter yang baru. Rencananya sih fic ini akan keluar rutin setiap seminggu sekali di hari minggu (Insya Allah, tekad untuk mendisiplinkan diri). Jadi silahkan saja tunggu fic lanjutannya di hari tersebut.
Disclaimer: Vocaloid itu punya Yamaha dan pengembangnya masing-masing. UTAU milik mereka yang mengembangkan.
Happy Reading ^_^
Bocah Serigala dan Gadis Kecil Berkerudung Merah
By: Latifun Kanurilkomari
.
.
Warga desa saling berpandangan. Wajah mereka bertambah pucat.
"... akan... mengadakan... pengadilan,"
"Pengadilan?"
Rin memandang para warga desa dengan tatapan tidak mengerti.
"Pengadilan apa?"
Warga desa tampak gelisah dan takut. Salah satu dari merekka mendekati Rin, memperhatikan keadaan sekitar seakan takut ada yang mencuri dengar sebelum akhirnya berbisik tepat di telinga gadis itu.
"Pendeta kami mengatakan salah satu warga kami adalah seorang penyihir. Karena itu, sebelum penyihir itu menjatuhkan wabah di desa kami menurut pendeta lebih baik ia dihukum. Lagipula sihir adalah suatu kesesatan dan menyimpang dari jalan Tuhan," bisik warga desa tersebut.
"Hukuman apa yang akan dijatuhkan kepada penyihir?"
"Dibakar, tentu saja,"
Rin merasakan tubuhnya menggigil ketakutan.
"Apakah kalian yakin kalau dia adalah seorang penyihir?"
Para warga desa membulatkan matanya, tampak terkejut.
"Tentu saja, pendeta kami yang mengatakan hal itu. Kami mempercayai pendeta. Beliau pasti benar,"
Rin hanya terdiam. Merasa takut, para warga segera pamit dari hadapan Rin. Gadis itu hanya mengamati kesibukan para warga dengan pandangan bingung. Akan tetapi karena gadis itu merasa hal tersebut tak ada hubungan dengan dirinya, Rin pun meninggalkan tempat itu. Dengan membawa sejuta pertanyaan.
~000~
Hari telah gelap. Gemerlap bintang tampak mulai bersinar sementara rembulan masih bersinar dengan malu-malu. Teto melangkah dengan perlahan dari tepi hutan. Matanya masih sembab tetapi ia menahan isakannya.
'Mungkin aku akan kembali menemui Ted lusa. Mungkin saat ini ia punya banyak hal yang harus dipikirkan,' pikir Teto.
Gadis berambut magenta itu memandangi langit malam yang gelap. Semilir angin lembut memainkan anak-anak rambutnya. Gadis itu mencium wanginya aroma bunga, pepohonan serta humus yang basah.
"Aku tetap mencintaimu, Ted. Meskipun kita begitu berbeda," gumamnya lirih.
Teto tersenyum kecil, berusaha membesarkan hatinya sendiri. Gadis itu kembali melangkah dengan tegar. Matanya menatap sekeliling keadaan desanya. Alisnya naik, ada yang mengganjal pikirannya.
'Aneh, padahal hari baru saja memasuki malam, tetapi kenapa suasana desa begitu sepi bagaikan tengah malam?' pikir Teto.
'Ataukah memang sekarang sudah tengah malam dan aku tidak sadar?' lanjut gadis itu.
Teto terus melangkahkan kakinya menuju rumahnya yang gelap. Gadis itu memang tinggal sendirian. Orang tuanya telah meninggal lima tahun yang lalu saat dirinya berumur 11 tahun. Sejak saat itu, Teto harus menghidupi dirinya sendiri dengan mengumpulkan bahan makanan dari hutan dan kemudian menjualnya. Gadis itu meraih kenop pintunya dan membuka pintu rumahnya. Saat gadis itu hendak melangkah masuk ke dalam rumahnya, tiba-tiba saja leher gadis itu terjerat oleh tali tambang yang tajam. Tak hanya itu, Teto merasakan tambang tersebut ditarik dari belakang, menyebabkan leher gadis itu tercekik.
Mata gadis itu mengabur, akan tetapi dari ekor matanya gadis itu dapat melihat obor-obor yang disinari api yang cerah serta penduduk desa yang ramai mengelilingi dirinya. Tekanan dari tambang yang ada di lehernya semakin kuat. Tekanan itu menghalangi napas serta peredaran darah gadis itu. Perlahan-lahan Teto menutup matanya.
~000~
Panas.
Rasanya panas sekali.
Dan rasanya tubuhnya terasa begitu kaku.
Mengapa tidak dapat digerakkan?
Pelupuk mata Teto bergerak-gerak, suara rintihan terdengar dari mulutnya. Perlahan-lahan gadis itu membuka matanya. Pemandangan yang ia lihat pertama kali adalah dirinya ditimbuni dengan begitu banyak kayu kering dan jerami. Teto mengangkat wajahnya, mencoba mengamati keadaan sekitar. Mencoba memastikan apakah ini adalah kenyataan atau hanya mimpi. Teto mencoba melangkah maju akan tetapi tidak bisa. Gadis itu mulai mengamati dirinya, pekikan kecil meluncur keluar dari bibirnya.
Gadis itu sedang diikat disebuah tiang kayu yang dipancang tegak. Tangannya diikat ke belakang. Dada, perut dan kakinya diikat erat ke pancang kayu, menyebabkan gadis itu tidak dapat bergerak, apalagi melangkah pergi. Dengan panik Teto melihat sekelilingnya akan tetapi yang dapat dilihat gadis itu hanyalah penduduk desanya yang membawa banyak obor api bersinar terang, tatapan mata mereka begitu dingin dan menusuk, seakan mampu membunuh.
"Ke-kenapa... aku...?"
Teto hanya mampu terbata-bata, terlalu takut dengan situasi yang ada. Seorang pria muda dewasa, berkacamata dan berambut coklat maju mendekati gadis itu. Pria itu mengenakan pakaian seperti pendeta sementara tangannya memeluk sebuah kitab yang tebal dan besar.
"Teto, pada malam ini kami akan melakukan pengadilan," ujar pria tersebut.
"Pe-pengadilan?" cicit Teto dengan gugup. Pria itu tersenyum.
"Perkenalkan, saya adalah Kiyoteru. Pendeta yang dikirim dari gereja pusat untuk melakukan pengadilan bagi siapa saja yang dicurigai sebagai seorang penyihir,"
Sampai disini jantung Teto mencelos. Perasaan gugup dan takut mulai menguasai dirinya.
"Sekarang, mengakulah bahwa kau adalah seorang penyihir, dan semoga Tuhan akan mengampuni jiwamu," ujar pria bernama Kiyoteru itu dengan tenang.
"A-aku... penyihir?" cicit Teto.
Kiyoteru mengangguk tenang. "Mengakulah dan Tuhan akan mengampuni jiwamu,"
Teto menggeleng keras. "Aku bukan penyihir. Aku bukan penyihir!"
"Sayang sekali, tetapi warga desa membuktikan bahwa kau sering sekali menghilang ke dalam hutan. Tempat dimana para iblis berkumpul untuk memperdaya manusia. Dan kau adalah salah satunya. Kau telah membuat kontrak perjanjian dengan iblis,"
"Itu dusta! Aku tidak pernah membuat kontrak dengan iblis! Aku bukan penyihir!" jerit Teto berusaha meyakinkan Kiyoteru bahwa dirinya bukan seorang penyihir.
"Mengakulah, semoga Tuhan mengampuni jiwamu,"
"Aku bukan penyihir! Itu dusta! Dusta!"
Kiyoteru menutup matanya, menghela napas. Wajanya tampak sedih.
"Bakar gadis ini," perintahnya dengan tenang.
Penduduk desa serempak melemparkan obor api yang mereka bawa ke tumpukan kayu kering dan jerami. Dalam sekejap api itu membesar, menimbulkan hawa yang sangat panas.
"TIDAAAKKK!"
Gadis itu menjerit pedih, membelah keheningan malam.
~000~
"TIDAAAKKK!"
Rin tersentak mendengar teriakan yang menyayat hati tersebut. Gadis itu segera berlari ke arah pintu keluar, hendak menyelidiki sumber teriakan tersebut. Tangannya baru saja menyentuh kenop pintu sebelum suara Neneknya mencegahnya.
"Jangan Rin! Tetaplah di dalam sini! Kau tidak perlu keluar!"
Rin segera menoleh. Nenek Miriam memandanginya dengan takut.
"Suara teriakan apa itu, Nek?"
Nenek Miriam terdiam.
"Nenek, teriakan apa itu tadi?" Rin bersikeras. Akan tetapi Nenek Miriam masih terdiam.
Rin memandangi Neneknya dengan tegas, meminta sebuah jawaban yang pasti. Nenek Miriam menghela napasnya, menyerah atas sikap keras kepala cucunya.
"Itu adalah suara penyihir yang sedang diadili,"
"Penyihir?"
Nenek Miriam merenung sejenak.
"Apa maksudmu dengan penyihir, Nek?"
"Di desa ini ada seorang gadis yang ketahuan membuat kontrak dengan Iblis dan menjadi penyihir,"
"Membuat kontrak?"
"Banyak saksi yang menyatakan bahwa gadis ini sering keluar masuk hutan dan menghilang selama beberapa lama disana,"
Rin terdiam, berusaha mencerna cerita Neneknya.
"Selain itu, terkadang kami menemukan tapak kaki serigala yang berada di sekeliling rumah gadis itu,"
"Tapak kaki serigala?" Entah kenapa sampai di sini Rin teringat Len, pemuda werewolf yang gadis itu kenal.
"Para penduduk desa ketakutan. Kami memanggil pendeta dari gereja pusat. Saat itulah pendeta menyatakan bahwa gadis itu adalah seorang penyihir,"
"Hanya karena gadis itu sering keluar masuk hutan dan terkadang ada tapak kaki serigala di rumahnya? Bagaimana jika gadis itu memang memiliki keperluan di hutan dan tapak serigala itu hanya kebetulan semata?! Ini tidak masuk akal!" seru Rin tidak percaya.
"Rin! Jaga mulutmu! Pendeta tidak mungkin salah! Daripada desa kami diserang oleh sihir yang dapat membunuh lebih baik kami membunh penyihir itu terlebih dahulu!" elak Nenek Miriam.
"Apa?! Bagaiman kalau sebenarnya gadis itu bukan penyihir?!"
"Pendeta tidak mungkin salah mengadili!" elak Nenek Miriam.
Rin tidak percaya dengan semua ini. Gadis itu segera membuka pintu dan keluar, berlari menuju arah dimana gadis "penyihir" itu diadili. Tidak sulit menemukannya karena para warga desa ramai berkumpul di lokasi tersebut. Api membakar dengan begitu hebatnya. Asap berwarna keabuan tampak tebal membumbung ke angkasa. Belum lagi angin yang kencang menambah daya jangkau jilatan api yang membara.
Rin memandang dengan ngeri, ia dapat melihat seorang gadis berambut magenta dan terikat di pancang kayu. Api yang ada di sekelilingnya mulai merambat ke arah dirinya. Meskipun api belum menjilat tubuh gadis itu, Rin yakin panasnya api sangat menyiksa. Gadis itu terlihat batuk-batuk, kemungkinan dikarenakan asap yang ia hirup. Meskipun gadis itu belum terbakar oleh panasnya api, Rin yakin gadis itu akan mati karena kehabisan napas.
Rin memandang ngeri pemandangan yang ada dihadapannya. Tidak yakin harus melakukan apa.
~000~
"TIDAAAKKK!"
Leon, Len dan Ted tersentak. Telinga serigala mereka bergerak-gerak, berusaha memastikan bahwa mereka bertiga mendengarkan teriakan yang baru saja menggema ke telinga mereka.
"Teriakan apa itu?" gumam Leon bingung.
"Entahlah, tapi... sepertinya dari selatan hutan ini," jawab Len. Pemuda itu berusaha mengingat teriakan tersebut. Len tahu bahwa Rin sedang berada di desa neneknya, tempat asal suara teriakan yang memilukan tersebut. Akan tetapi suara itu bukan suara Rin.
Ted langsung melesat dengan cepat. Leon dan Len sesaat hanya bisa diam terkejut. Akan tetapi tidak sampai sedetik mereka langsung menyusul Ted dan menghentikan pemuda tersebut.
"Hei, Ted ada apa? Kenapa kau-,"
"Lepaskan aku," suara pemuda itu sangat tegas, wajahnya pucat.
"Hei, kau kena-,"
Belum sempat Len selesai bertanya tetapi pemuda itu langsung didorong hingga Len membentur batang pohon dengan kuat. Ted tidak mempedulikan keadaan Len dan langsung berlari ke arah desa sumber teriakan tersebut.
Leon dengan dengan sigap memiting jatuh tubuh Ted, berusaha menenangkan pemuda tersebut.
"Lepaskan aku!" perintah Ted dengan tenang tetapi nada suaranya sanggat gelap. Sesaat Leon terkejut dan merasa terintimidasi, akan tetapi pemimpin kawanan werewolf tersebut tidak bergeming.
"Kenapa kau hendak berlari ke arah desa manusia?"
"Sial, kau melemparku sangat keras," ujar Len yang telah bergabung dengan Ted dan Leon yang sedang bergumul.
"Kumohon, teriakan itu... Teto...," racau Ted dengan nada yang panik.
Leon seakan paham dengan maksud Ted langsung melepaskan pitingannya terhadap tubuh Ted. Akan tetapi Leon masih menahan pemuda tersebut.
"Kita akan ke tepi hutan, mengamati keadaan dan tidak bertindak ceroboh," perintah Leon.
Ted yang masih merasa terkejut atas tindakan Leon yang melepaskan tubuhnya langsung tersadar. Pemuda werewolf magenta itu langsung berlari menuju tepi hutan dengan diikuti Leon dan Len.
~000~
Teto terbatuk-batuk, napasnya terasa sesak dan panasnya api begitu hebat. Teto bahkan tidak tahu mana yang lebih menyiksa. Apakah asap yang terlalu pekat hingga dirinya tidak bisa bernapas? Ataukah panasnya api yang mampu membakar tulangnya? Akan tetapi di tengah kesadarannya yang semakin menipis gadis itu paham, ajalnya sebentar lagi akan menjemput.
Di tengah derik suara api yang membakar, Teto dapat mendengar sayup-sayup suara penduduk desa dan pendeta.
"Semoga api ini mensucikan jiwamu yang tersesat. Semoga jiwamu diampuni oleh Tuhan Yang Maha Kuasa,"
Gadis itu sudah tak lagi mampu merasakan tubuhnya. Bahkan sang gadis sudah tak mampu lagi mempertahankan kedua pelupuk matanya untuk membuka. Aneh, dirinya merasa begitu mengantuk. Bahkan dirinya tidak lagi merasakan panasnya api di sekeliling tubuhnya, padahal api itu membakar dengan sangat hebat.
Selintas sosok pemuda yang ia cintai berkelebat dalam bayangannya. Seorang pemuda werewolf berambut magenta panjang yang indah. Saat-saat dimana mereka berdua pertama kali bertemu. Saat dimana pemuda itu memeluk dirinya untuk meringankan segala perasaan sedihnya. Saat-saat dimana pemuda itu membuatnya merasa begitu bahagia.
Saat-saat itu sangat indah, meskipun hanya sebentar.
Teto tersenyum.
"Seperti katamu... Ted," lirih gadis itu.
"Kita memang... tak pernah bisa... bertemu lagi,"
Dan mata gadis itu pun menutup.
~000~
Ted membulatkan matanya, memandang pemandangan yang mengerikan itu dalam diam. Ekspresinya hanya menunjukkan satu hal, perasaan terkejut.
"Teto...?" nada tidak percaya tergambar penuh dalam bisikannya.
Pemuda werewolf itu berjalan dengan gontai, langkahnya pendek dan oleng. Len dan Leon segera menahan pemuda itu. Awalnya Ted hanya meronta biasa, akan tetapi Len dan Leon tetap menahan pemuda itu sehingga Ted berontak dengan kuat.
"Lepaskan aku! Biarkan aku menolongnya!" geramnya keras. Untunglah suara derik api sangat keras sehingga menyamarkan geraman marah Ted.
"Tak ada yang dapat kau lakukan! Gadis itu sudah mati!"
"Lepaskan aku! Aku masih bisa menyelamatkannya! Aku masih bisa!"
"Sudah terlambat! Menyerahlah!"
"Lepaskan aku!" gerung Ted marah.
Len dan Leon berusaha menghentikan Ted, akan tetapi pemuda itu terus meronta. Meskipun Len dan Leon berusaha menghentikan Ted sekuat tenaga, akan tetapi mereka berdua merasa kesulitan menenangkan Ted. Len dan Leon terpental, tidak sanggup menahan rontaan Ted. Sebelum mereka sempat mencegah, Ted telah meloncat dari tepi hutan, menerobos kerumunan penduduk desa dan berlari menerobos kobaran api yang hebat.
"Astaga... astaga... astaga...," ricau Leon panik.
"Len... aku akan kembali ke kawanan dan memindahkan semua kawanan kita. Kau tetapi disini, amati keadaan Ted. Jika ada kesempatan tarik Ted kembali ke hutan dan menghindar dari kejaran penduduk desa," perintah Leon sambil kembali berlari ke dalam hutan yang gelap.
Len hanya mengangguk paham dan bingung. Pemuda itu tidak tahu harus melakukan apa. Len berlari, pindah ke lokasi hutan yang lebih dekat untuk mengamati keadaan dan memungkinkan bagi dirinya untuk menyelamatkan Ted.
~000~
Ted tidak memikirkan apapun.
Pemuda itu tidak mempedulikan apapun. Ia tidak mempedulikan pekikan terkejut dan takut dari penduduk desa. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah menjangkau gadisnya yang tercinta. Gadisnya yang saat ini sedang tertidur dengan tenang sembari diikat pada pancang kayu yang tegak. Pemuda werewolf itu menerobos panasnya kobaran api, memutuskan tambang yang mengikat gadisnya dengan cakarnya yang tajam, menggendong gadisnya bagaikan pengantin dan membawanya keluar dari kobaran api.
"Itu iblis! Dia menunjukkan diri! Senjata...,"
Ted tidak mempedulikan semua itu. Ia berlutut sementara gadisnya yang ia cintai masih dalam pelukannya. Mata gadisnya menutup sementara seulas senyum tipis menghiasi bibirnya. Bekas air mata masih terlihat sedikit di pipi gadisnya.
"Teto...," bisik Ted lembut.
"Hei... bangunlah, ini aku...," Ted menggumam penuh harap, tangannya mengguncang wajah gadisnya dengan lembut.
Teto tidak menjawab. Sesungguhnya, gadis itu tidak akan pernah mampu menjawab.
Ted mengelus lembut wajah gadisnya. Mengelus dahi, pipi, pelupuk matanya yang tertutup, hidung hingga akhirnya bibirnya yang lembut.
"Apa kau marah karena aku bilang aku tak mau lagi menemuimu?" gumam Ted dengan nada lirih. Akan tetapi gadisnya itu tidak menjawab.
"Maafkan aku... tapi sekarang aku ingin sekali bertemu denganmu..., maukah kau membuka matamu untukku?" lirih Ted kembali. Akan tetapi hanya kesunyian hampa yang melanda.
Air mata Ted telah mengalir di pipinya. Pemuda itu memeluk gadisnya dengan kuat. Perasaan putus asa telah memenuhi hatinya.
"Rupanya kau sangat marah padaku, hingga kau tak mau membuka matamu untukku," gumam Ted sambil memeluk erat tubuh Teto.
"Maafkan aku...," bisiknya di telinga Teto.
Pernahkah engkau mendengar suatu ungkapan? Apabila Yang Terkasih bagimu meninggalkanmu, maka ia akan membawa separuh hatimu pergi bersama dirinya. Sementara engkau akan terus hidup dengan separuh hati yang tersisa.
Dan itulah yang dialami pemuda werewolf itu saat ini.
Ah, seandainya gadisnya dapat mendengar betapa menyesalnya pemuda werewolf itu.
Ted menyentuh bibir Teto dengan jemarinya, sebelum akhirnya mengecup bibir gadis itu.
"Bunuh-,"
Ted bahkan tidak mempedulikan semua hal yang terjadi. Hanya gadisnya. Pemuda itu hanya peduli pada gadisnya, hingga Ted tidak mempedulikan bahwa penduduk desa sudah siap menikam pemuda werewolf itu.
JLEB... JLEB... JLEB...
Dan lima pedang telah menembus pemuda werewolf itu. Ted terbatuk, darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Akan tetapi pemuda itu tidak merasakan apapun. Bahkan tidak rasa sakit dari tubuhnya.
Penduduk desa menikam pemuda werewolf itu berkali-kali. Akan tetapi Ted tidak mempedulikannya. Ia hanya memandangi gadisnya dengan sedih dan putus asa.
Darah segar mengalir dari luka tikaman pemuda itu. Darah tersebut terus menggenang, menyebabkan pemuda itu roboh, terlalu banyak kehilangan darah. Akan tetapi pemuda itu masih memeluk gadisnya dengan erat, ia tak mau berpisah lagi dengan gadisnya itu.
Pelupuk mata Ted bergerak-gerak lemah. Sosok gadisnya yang tersenyum lembut dan wajahnya yang merona merah kembali terbayang dalam pikirannya. Seakan gadisnya itu tengah berdiri dan menunggu dirinya untuk menghampirinya.
"Sekarang... kita... bisa... bersama,"bisik Ted lirih.
Perlahan cahaya mata pada pemuda itu memudar. Pelupuk matanya bergerak menutup secara perlahan. Pemuda werewolf itu telah menyusul gadisnya.
~000~
Kiyoteru berdiri dengan tegap, memandang dingin sosok Teto dan Ted yang terbaring di tanah.
"Bakar mayat mereka. Setelah menjadi arang, bakar arang mereka hingga menjadi abu. Sebarkan abu itu sesuai arah angin," perintah Kiyoteru dingin.
~000~
Len menutup matanya, tidak mampu memandang tubuh Ted yang saat ini sedang diseret menuju kobaran api yang membara. Hatinya berkecamuk hebat, perasaan sedih, marah, dendam, bingung, takut dan berbagai macam perasaan lain yang tak mampu dijabarkan.
Mata pemuda itu membuka, tak sengaja menangkap sosok Rin yang berdiri di tengah penduduk desa. Mata pemuda itu membulat. Tidak yakin harus melakukan apa.
~000~
Rin memekik ngeri, tangannya menutupi bibirnya dan mencoba meredam pekikannya. Mata gadis itu tidak lepas dari sosok tubuh Ted yang saat ini sedang diseret menuju kobaran api yang hebat. Matanya mencoba meneliti setiap bagian tubuh jenazah pemuda werewolf itu.
"Sama... persis sama," bisik Rin gugup.
"Len...,"
~000~
A/N: Begitu deh... jika anda ingin membaca lanjutannya (Insya Allah minggu depan keluar) tolong berikan kepada saya review yang membangun...
