Title : (Bad) Blood #6 [The Truth] –it's just short part for opening the real conflict guys, i promiseJ

authornim : innochanuw

disc : warn!boyxboy! boyslove! Fantasy!rate-up?! –plis the plot is mine, the characters are belongs to their family and agency. DON'T LIKE DON'T READ~!

cast : all ikon's members pair: 95lines, double b!

.

.

.

.

Yunhyeong tak bisa tidur lagi.

Ini bukan masalah tentang otak cerdasnya yang masih terus bekerja untuk berpikir atau hanya terlalu asik memutar ulang kejadian ajaibnya hari ini. Ia juga sudah tidak memikir tentang Donghyuk yang ceriwis, seribu-satu-cara-untuk-menghindari-seorang-Kim-Jinhwan, atau kondisi dua bocah Kim tersebut.

Yang ia inginkan hanyalah tidur. Petualangannya hari ini terlalu banyak dan cukup melelahkan bagi tubuhnya yang kebal tersebut. Pegal-pegal langsung menyergap dirinya di malam hari.

Tapi semakin ia ingin tidur karena lelah, semakin ia tak bisa tidur.

Tidak mungkin bukan Jun beraksi? Chanwoo sendiri sudah tidur seperti orang mati, dia kan harusnya orang pertama yang sadar kalau terjadi apa-apa.

Yunhyeong menggaruk tengkuknya, heran. Matanya benar-benar masih terang benderang, tubuhnya masih terasa fresh, hanya pegal-pegal dan kepalanya yang terasa berat saja.

Apa aku harus jalan-jalan pagi buta lagi ya seperti kemarin?

.

.

.

"Hanbin? Jiwon?"

Dua bocah dengan tampang kelewat ingusan itu menoleh, lalu keduanya menyunggingkan cengiran yang kelewat silau persis seperti anak kembar.

Alis Yunhyeong langsung bertaut begitu saja. Kedua tangannya terlipat di depan dada. "Sedang apa? Kelaparan tengah malam? Bagaimana dengan Donghyuk dan Jin-"

"Sssttt!" Jiwon dengan lancangnya menaruh jari telunjuknya di depan bibir manis pemuda Song tersebut, menghasilkan pelototan dahsyat dari si empu.

"Donghyuk benar-benar mengamuk, sungguh jadi jangan ke-"

"Siapa suruh bertindak seperti itu, bodoh," desis Yunhyeong tak tahan, ia langsung menyingkirkan tangan beserta Jiwon jauh-jauh darinya. Sementara itu hanya senyum lebar yang berhasil Hanbin tunjukkan saat tatapan yang lebih tua menusuk mata besar no eyeslid-nya.

"Y-yah jadi kami kabur. Ini sudah susah hyung jadi yah..." "Jinhwan hyung tak pernah bertindak asusila, kan?"

Hanbin nyengir gugup sementara Jiwon yang terlihat broken-heart karena ditolak lagi oleh si visual Yunhyeong langsung menggunakkan kesempatannya untuk merapihkan serpihan hatinya tersebut.

"Yass, Yoyo hyung. Apa maksud dari 'bertindak seperti itu'? itu apanya? Kau sen-"

"Cut it off, Kim Jiwon. Seriously," Entah ada angin apa tapi Yunhyeong benar-benar merasa jiwa iblisnya langsung bangkit jika sudah berurusan dengan seorang kelinci bernama Kim Jiwon. Hanya pada Kim Jiwon.

Melihat gigi kelincinya saja sudah membuat darahnya naik. Apalagi kalau ia menunjukkan ekspresi mendukung dan berbicara juga.

"Wow wow, santai saja tau? Kan aku cuma bertanya," Matanya mengerling, tak ada niat apapun tapi yang pasti namja kelinci ini tidak ada kapoknya. "Semakin hyung berkata-kata seperti itu semakin membuatku cu-"

"Seidiot-idiotnya manusia atau spesies yang ada disini, mereka pasti akan berpikir ulang untuk naksir padamu, Kimbab. Serius," Dan tadadang! Munculah Kim Hanbin sang penyelamat. Meskipun Yunhyeong tak suka 'dilindungi' atau 'diselamatkan' oleh mereka, hanya saja berbicara lama-lama dengan partner in crime Hanbin ini tak akan ada habisnya –ia kan hanya pandai menyampaikan pidato kemenangan bukan debat. Jadi satu-satunya yang bisa menghentikan Jiwon hanyalah Donghyuk dengan caranya yang tak bisa dibayangkan dan teman sebangsanya sendiri, Hanbin.

Yah, meskipun dengan kalimat yang terdengar begitu kejam.

Tapi benar adanya juga sih. Siapa juga yang bisa langsung naksir manusia mutan kelinci ini dalam sekejab mata tanpa mengenalnya lanjut? Bukannya terdengar kejam, hanya saja Jiwon sama sekali tidak menarik atensinya –kecuali soal tindakkan heroiknya melawan banyak peluru, ia yang sulit mati, dan 'kebaikkan' hati kelewat batas tadi– atau ia saja yang kelewat anti dengan manusia-manusia tipe Jiwon yang ada kelasnya; yang terkenal iri hati, pemberontak, dan perusak 'kesempurnaan' hidupnya ya?

"Ugh. Sialan kau, bin," Jiwon melirik ke arah pemuda manis tersebut. "Hyung kau tidak tertawa atau apa gitu? Kau tidak setuju dengan ucapan Han-"

"Setuju kok," Jiwon merengut kesal. Ah apa-apaan ini. Kok jadi semuanya tak berpihak padanya? "Memangnya apa yang kau harapkan dariku? Tawa geli atau senyum jaim?"

"Yah, bukan begitu juga sih," Ngeri mungkin melihat hyung seperti itu tapi ia urungkan niatnya untuk mengatakannya karena sekarang Hanbin harus turun tangan. Ia merasa bersalah karena membuat suasana jadi tidak enak, apalagi Yunhyeong terlihat gak banget sama tingkah Jiwon. Benar-benar tipe-tipe anak perfeksionis dan famous.

"Aku sama sekali tidak pernah melihat kau tersenyum, hyung. (Bukan nyengir, kau kan waras; sumpah demi apapun mulutnya gatal untuk mengatakannya) Atau hanya aku saja ya? Jiwon pasti merasakannya kan? Hyung tidak diam-diam tersenyum pada Jun, Chanwoo, atau Jinhwan hyung kan?"

Yunhyeong mendengus sekeras mungkin sekaligus menimang-nimang apakah sasaran kedua –pertama Jiwon tentunya untuk jadi bulan-bulanan sikap mad-nya yang harus lenyap di hadapan khalayak publik (teman-teman sekolah, guru-guru, orang tua, bahkan saudaranya sendiri, Jinhwan-Donghyuk mungkin juga? Ia masih mau hidup kalau mau tau) adalah Hanbin mengingat bocah berwajah polos ini kadang-kadang bisa menjadi menyebalkan juga, dengan level menyebalkan tingkah dewa milik Jiwon.

Dan satu lagi, apa pula tadi, diam-diam tersenyum di hadapan Jun dan Chanwoo? Kenapa harus dua manusia jadi-jadian itu sih?

Bibirnya yang sedaritadi mengerucut kesal nyaris terbuka untuk melemparkan segala macam kalimat pembelaan seperti apa mereka pernah melihat Jun tersenyum atau Donghyuk tertawa saat sepasang mata besarnya tak sengaja bertemu pandangan dengan manik mata Hanbin yang terlihat terang di kegelapan malam.

Tatapan yang terlalu dalam dan gelap.

"Ja-jadi kalian mau kumasakkan apa?" Pengalih perhatian yang sangat 'bagus', Song Yunhyeong tapi pemuda itu sudah tidak peduli lagi –apalagi menyadari nada gugup sarat ketakutannya yang terlalu 'mahal' untuk muncul di permukaan saja.

Ia tidak pernah melihat Hanbin se-berbeda itu.

Dan beruntungnya anggukkan antusias Jiwon agak sedikit menyelamatkannya.

.

.

.

.

Jiwon dengan sudut-sudut bibirnya dan rahang atasnya yang penuh dengan percikkan susu dan remahan sereal berwarna-warni cukup membuat Yunhyeong setidaknya menatapnya aneh, lebih aneh dari biasanya.

Mereka kan punya dirinya yang bisa diandalkan untuk memasak, apalagi barusan saja ia menurunkan harga dirinya dengan suka rela menawarkan diri untuk memasak. Tapi Jiwon justru lebih memilih makan makanan tak sehat begitu ketimbang masakkan sehat kelewat enak dari Yunhyeong?

Sadar tak sadar, Yunhyeong memutar bola matanya malas. Setelah makanan sisa yang dihangatkan, sekarang makanan instan –cepat dibuat- juga masuk ke list yang paling tidak ia sukai.

Ah, ngomong-ngomong soal makanan sisa yang dihangatkan ia jadi merasa deja-

"Deja vu ya?"

"Ah?" Yunhyeong menoleh bingung ke arah pemuda Kim yang baru saja memakai snapback terbaliknya.

"Deja vu, maksudku makan di tengah ma-"

"Oh ya ya, Hanbin ya," potong Yunhyeong cepat. Entah kenapa ia tidak mau berurusan apa-apa dengan Hanbin untuk sementara waktu. Apa justru sikap menyeramkan Jinhwan diturunkan ke Hanbin? Atau malah sebenarnya Hanbin yang sebenarnya bukanlah Hanbin yang sehari-hari ia lihat?

Ah. Yunhyeong mengerti sekarang. Jadi aku benar-benar tidak sendirian disini, Jinhwan hyung dengan topeng manisnya dan Hanbin dengan topeng kebaikkannya.

"Kalian berdua benar-benar hanya mau makan makanan begitu?" tanyanya kembali kenyataan, berusaha sekuat mungkin untuk tidak menyeringai karena mengetahui 'rahasia' yang sebenarnya gak penting banget sih. Ia melirik entah-ragu-kesal-atau-apapun ke arah keduanya yang sedang saling menyemburkan susu ke wajah 'lawan' hanya karena sereal ring warna-warna mereka sudah lenyap, entah masuk lebih banyak ke perut siapa pastinya masih mereka permasalahkan.

Apalagi melihat ekspresi meyeramkan Hanbin langsung berubah begitu saja jadi sok asik dengan Jiwon. 'Kan Yunhyeong jadi kesal, benar-benar dianggap kedok mereka yang mulai terbuka satu persatu adalah hal yang biasa, bukan aib besar seperti yang ia pikirkan.

Dan satu lagi, ia benar-benar tidak suka dikacangin. Siapa juga yang berani cuek bebek mendengar suara 'enak untuk dimakan' Yunhyeong si juara nomor satu di bidang apapun? Jadi tidak ada yang bisa (dan harusnya tidak ada yang berani) ngacangin seorang Song Yunhyeong!

"Aish!" Teriakkan Yunhyeong cukup mengejutkan bagi kedua Kim tersebut. Apalagi nada yang Yunhyeong gunakan, keras dan seperti ahjumma-ahjumma bukan gayanya sekali. Apalagi tampangnya kan gak cocok untuk teriak dan ngomel seperti ahjumma.

"Kalian tidak usah ribut! Aku kan bisa memasak untuk kalian! Lagipula apa enaknya sere-"

Tunggu, sereal? Ini kan sereal yang muncul di mv GOT7! Kenapa bisa ada disini? Di rumah yang terletak di hutan antah berantah di dunia antah berantah juga?

Dan sepertinya kedua Kim yang biasanya tak peka tersebut merasa keganjalan di tengah-tengah terputusnya ucapan Yunhyeong.

Jiwon mendorong jauh Hanbin yang bersiap untuk memitingnya –mereka langsung berubah jadi patung sejak Yunhyeong marah-marah kalau kalian mau tau–. Ia menggaruk tengkuknya canggung, apalagi langsung dihadapkan dengan ekspresi campur aduk milik pemuda Song ini.

Menggaruk tengkuk bukanlah gaya orang berisik dan percaya diri sepertinya. Tapi sayangnya ia sudah terlahir dengan hal itu, plus nada gugup di dalamnya.

"Eh-itu-ya anu...biar aku jelaskan."

.

.

.

.

Hanbin tak pandai bicara –sama halnya dengan Jiwon dan tak berani juga untuk turun tangan langsung bicara. Wajah kelewat polos –hanya ada hidung besar yang runny, bibir tebal, dan apple cheeknya– miliknya sering diberi komentar 'terlihat menyeramkan, terlalu serius, melebihi Jun dalam mode biasa atau marahnya padahal kan dia hanya bicara dengan nada dan ekspresi biasa.

Jadi pemuda tanpa eyeslid itu lebih memilih untuk mengeluarkan semua isi lemari persediaan makanan mereka sementara Jiwon duduk berhadapan dengan hakim Song seperti seorang terdakwa kasus pembunuhan berantai yang dibenci oleh seluruh masyarrakat dunia.

Yunhyeong menatap satu-persatu makanan maupun minuman yang dikeluarkan dan diletakkan Hanbin di atas meja, tepat di depannya.

Beberapa botol Cola berukuran besar, snack-snack biasa atau makanan anak kecil yang terkenal -biasanya jadi recommendasi untuk oleh-oleh, makanan instan –mie, sereal, beberapa botol banana milk, milkist, peach, kopi, anggur non alkohol, dan lain-lainnya.

"Yah jadi...aku merasa tak enak menjelaskannya padahal ini bukan hal dan bukan waktu yang tepat tau?"

"Just go on," Jari-jari lentik Yunhyeong mengibas di udara. "Salahkan otakku yang kelewat pintar mungkin?"

"Sebenarnya ini waktu yang tepat, kak Kelinci," sahut Hanbin lelah dengan Jiwon yang berusaha memutar-mutar kalimatnya dan mengulur waktu yang sama sekali tidak akan mempengaruhi orang seperti Yunhyeong. "Daripada Yunhyeong hyung mencari tau sendiri kan? Bahaya. Itu kata Jinhwan hyung."

Sepasang mata pemuda berambut agak ikal ini membulat. "Kapan kau bicara dengan Jinhwan hyung? Tadi?"

Entah kenapa hal apapun yang menyangkut hyung manis-manis galak ini selalu ingin Yunhyeong ketahui.

Hanbin mengangguk dengan ekspresi bingung. "Jinhwan hyug bilang begitu karena kau pasti akan terus menghindarinya, entah sampai kapan. Aku juga merasa bertanggung jawab untuk menjelaskan apa yang ingin Jinhwan hyung katakan padamu, karena kita –ehem satu pemikiran."

"Jadi maaf karena tadi menatap hyung kelewat...seram oke?"

Yunhyeong mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Jinhwan hyung memang pintar memberitahu kepada Hanbin, tidak mungkin bukan Yunhyeong menghindari seorang Kim Hanbin tanpa alasan jelas? Apalagi mereka 'bertemu' saat ini karena ketidaksengajaan.

Jiwon nyengir gaje. "Jadi kau yang menjelaskan, Bin?"

"Tentu saja tidak," jawab Hanbin dengan nada mengejek yang dibalas jengah oleh Yunhyeong. Kenapa jadi mengulur-ulur waktu sekali sih? Waktunya kan terlalu berharga untuk hal semacam itu.

"Y-yah," Jiwon menggaruk tengkuknya (lagi). "Satu, yang pasti kita tidak mendapatkan makanan dari duniamu dengan mencuri ke duniamu. Gak ada kerjaan sekali, kenapa kita harus tinggal disini lama-lama bukannya langsung kembali ke duniamu kalau tau 'jalan keluar'. Kita kan juga mau keluar dari sini, memangnya siapa yang mau diubah jadi kelinci paskah hanya karena alasan keselamatan diri? Aku dan gigi antikku sih tidak."

Astaga, Kim Jiwon kenapa bisa-bisanya kau malah jadi cuhat begini? Tidakkah kau tau kalau orang didepanmu sama sekali tidak mau tau soal masalahmu?

"Kedua, bukan orang-berbaju-hijau itu yang membawakan makanan. Kalau mereka pelakunya, untuk apa mereka menyerang kami. Dan mereka sudah ada disini, menyerang begini sejak Jun yang pertama kali kesini. Ketiga, ah apa ya?" Jiwon mengacak-acak rambutnya pelan, apalagi melihat kedua tangan si Hakim sudah terlipat di depan dada, benar-benar gondok.

"Ya! Kim Jiwon! Bicara dengan cepat!"

"Kenapa bukan kau saja sih? Kau kan tidak bisa bicara basa-basi, langsung ke to the point," gerutu Jiwon tak terima. Ia kan kelinci, terkenal dengan kecepatannya kenapa Hanbin jadi mengejeknya seperti seekor siput?!

"Junyangtaujalankeluardarisini,diayangmembawamakanandankamitidaktauapaapa, puas?!"

Jiwon tertawa puas. Kelewat puas sampai saat kursi kayu yang ia duduki terjungkal ke belakang, menghasilkan bunyi debumam mesra antara punggungnya yang mencium si lantai, tapi bocah Kim idiot Jiwon ini masih tertawa. Justru makin menggila.

Sementara Yunhyeong masih termenung di tempatnya.

Jun tau jalan keluar? Makanya dia tidak mau aku tau waktu itu? Dan mendorong sampai guling-guling drama ke jurang? Dan yang lain juga tidak diberi tau? Dia mau menyembunyikan jalan keluar sendiri? Dia tidak mau kita keluar? Dia mau menyimpannya untuk dirinya sendiri? Dia ingin keluar masuk hutan dan dunia sendiri?

Atau jangan-jangan dia mau keluar dari sini diam-diam, dan menutup jalan keluar-masuknya agar kami tidak bisa keluar?

Lagi-lagi Yunhyeong merasakan perasaan aneh yang menyelimuti hatinya. Rasanya familiar tapi lebih membuncah, seperti ingin meledak. Perasaan yang sama saat melihat adiknya yang meninggalkan ru-

Yunhyeong mengerjapkan matanya cepat. Ia sedang marah. Lagi. Untuk kedua kalinya. Seperti dulu waktu aksi guling menggulingnya.

Namun kali ini rasanya ia bukan ingin membunuh, melainkan menendang langsung pintu kamar Jun yang rasanya terlalu banyak menyimpan rahasia dan menerjang vampir tersebut. Mencekiknya atau memukulinya sampai babak belur.

Bahkan kalau Jun sampai mati –atau dirinya mati karena lebih dulu dibunuh, rasanya ia tidak akan merasakan kepuasaan. Seperti ingin membawa Jun berkelahi sampai ke neraka.

Tidak-tidak Song. Jangan lagi. Kau sudah cukup dua hari berturut-turut berteriak, marah, memaki, dan segala macam hal buruk yang tak pernah kau lakukan selama 17 tahun hidup. Jangan terbawa emosi, Song. Kau hanya PMS oke? Bukan marah, ingat itu.

Tanpa ia sadari, sepasang tungkai panjangnya sudah membawa pergi dirinya menjauh dari siapapun. Menjauh dari orang-orang sekaligus menjauhi 'rumah'.

Panggilan membabi buta dari Hanbin dan Jiwon pun ia hiraukan. Semakin keras namanya dipanggil, semakin cepat kakinya berlari.

Yunhyeong sadar apa yang ia lakukan sekarang. Hanya saja ia tak tau mau kemana. Yang pasti ia harus menjauh dari semuanya, ia harus mengasingkan diri.

Sebelum ada yang terluka.

.

.

-tbc-!

.

.

NB : Hai hai? HAAAAIIIIII /iniapa /awas /jungiscoming /awasadarabies

Dikit lagi nih he-he-he, gak mau bikin panjang disini karena ini bagian climax pertama –ada dua climax btw dan konflik entah mau dua atau tiga/?- plus juga gak ada moment junhyeong berturut-turut, bikin gak enak hati sama pembaca : -kalo ada-

Jadiiii part bad blood bakalan berkurang 2 part dari yang sudah dibayangkan oleh jung karena banyak banget cerita yang udah diubah biar lebih singkat, gak double complicated dengan resiko takut yoyo-nya jadi aneh gitu sikapnya: #dahcukupakumahbikinjune #diawalceritasamayangsekarangbeda

Tapi diusahain banget cuma bagian di dunia antah berantah ini doang yoyo aneh gitu, nanti momen junhyeong bakalan banyakkk banget sampe kalian rasanya mau ngomong 'moment yang lain donggg' hehehe

Udah gak tau mau ngomong apa lagi, udah nyerah mau dirombak gimana lagi ceritanya biar nyambung satu sama lain sama sikap yoyo di part awal-awal sampe part yang sekarang dans seterusnya, cuma takut itu aja sih Jung ooc gak nahan dan sikap aneh sok sangarnya yoyo yang gak nyambung kaya kepribadian ganda/? Gak lagi lagi deh bikin uke kelewat sangar kaya yoyo:") (bukannya jung kapok, cuma big thanks banget sama alur cerita yang dirombak parah jadi bingung mau nyisipan sikap yoyo di part-part jauh sebelumnya dibagian mananya. Dicerita ini yoyo udah susah deh jadi sangar, di cerita lain doain aja karena jung sama kek jiwon, naksir uke uke manis yang sangar /gggg) okelah, ini nb-nya panjang lagi nambah nambahin word lagi, pokoknya jung gak tau kenapa kecewa parah sama part ini –padahal ngetiknya udah menggebu-gebu- gimana dengan kalian? Semoga belom ngecewain parah :")

Salam sayang, Jung... :3