Paradise
Part VII
"Home"
Wu Yifan mengerang keras ketika dering ponselnya tidak juga berhenti. Hari ini adalah hari Minggu, hari di mana ia seharusnya bisa bersantai tanpa gangguan siapapun. Namun akhirnya pemuda itu menyerah ketika ponsel itu kembali berdering untuk kelima kalinya. Tanpa melihat si pemilik nomor yang menghubunginya sekarang, Yifan menempelkan ponselnya pada telinga kanannya.
"Ku kira kau mati." Sapa si penelepon dengan suara dalam. Yifan kembali mengerang begitu mengenali suara dari seberang itu.
"What the fuck, Chanyeol." Ternyata pemuda itu benar-benar berniat untuk menghancurkan hidup Yifan.
"Aku sedang di lapangan biasa. Kau bisa ke sini?"
Yifan melirik ke arah jam dinding bermotif bola basket yang tertempel di dinding kamarnya. Pukul 10.58.
"No." Tolak Yifan dengan tegas.
"Oh, ayolah. Ku kira kita teman?" Yifan masih setengah mengantuk ketika ia mendengar kalimat Chanyeol tadi, tapi ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mendengus.
"Fuck off." Yifan sudah akan menutup telponnya.
"Please, Yi-fan." Kata Chanyeol pelan.
Dada Yifan berdesir ketika mendengar Chanyeol menyebut namanya. Pemuda itu kini sudah terjaga penuh, tapi ia tetap tidak tertarik dengan ajakan Chanyeol.
"Apa yang kau inginkan, Chanyeol?" Yifan duduk di tempat tidurnya, menyingkap selimut yang sebelumnya menutupi tubuhnya.
"Just come, 'kay."
Yifan memutar bola matanya.
"Fine." Dan entah kenapa, Yifan selalu gagal untuk berkata tidak pada Chanyeol.
.
.
.
Chanyeol terlihat sedang mendribble sebuah bola basket ketika Yifan sampai di lapangan tempat keduanya biasa bertemu. Chanyeol memakai sebuah kaos basket tanpa lengan dengan celana panjang berwarna biru dongker. Lengan putih Chanyeol memperlihatkan bahwa pemuda itu jarang terpapar sinar matahari.
"Hi." Sapa Chanyeol dengan senyum lebarnya ketika ia akhirnya menyadari kehadiran Yifan.
Berbeda dengan Chanyeol, Yifan memakai sebuah hoodie abu-abu dan celana jeans selutut. Rambutnya masih terlihat berantakan setelah bangun tidur, tapi setidaknya pemuda itu masih menyempatkan diri untuk menggosok giginya.
"Ku dengar kau suka basket?" Tanya Chanyeol. Senyuman masih terpasang di wajahnya.
"Aku sudah di sini. Lalu apa?" Yifan menggaruk belakang kepalanya.
Chanyeol melemparkan bola basket itu ke arah Yifan, yang segera ditangkap dengan sigap.
"Play with me." Ujar Chanyeol sembari mengerling.
Dan seingat Yifan, ia seharusnya mengacuhkan Chanyeol atas permintaan konyolnya dan segera pulang. Tapi yang terjadi sekarang, ia sedang menembakkan bola basket itu ke arah ring dengan Chanyeol yang menarik hoodienya untuk menghalanginya. Bola basket itu masuk ke dalam ring tanpa hambatan. Sejak pindah ke Korea, ini adalah kali pertama Yifan bermain satu-satunya olahraga yang menjadi favoritnya. Chanyeol tampak kesulitan mengimbangi permainannya. Ia tampak beberapa kali memegangi perutnya dengan nafas terengah.
"Kau curang." Kata Chanyeol sambil membaringkan tubuhnya di lapangan basket itu. Nafasnya terlihat naik turun dengan tidak beraturan.
"Aku yang curang atau kau yang tidak bisa bermain basket?" Kata Yifan masih memainkan bola itu di tangannya.
"Aku tahu kau suka basket tapi setidaknya kau berpura-pura bermain seperti amatiran untukku." Chanyeol kemudian bangkit dan menjulurkan lidahnya pada Yifan.
"Only looser does it. Kau tidak bisa mengatakan pada orang lain untuk mengalah padamu." Kata Yifan sambil menggerakkan alisnya bermaksud bercanda.
Tapi Chanyeol justru terdiam dan mengalihkan pandangannya dari Yifan.
"Kau benar. Aku memang pecundang." Ujar Chanyeol pelan.
Yifan menghela nafasnya. Sisi sensitif Chanyeol adalah sesuatu yang baru baginya.
"Maaf." Lanjut Chanyeol. Yifan menghentikan gerakan tangannya yang sedari tadi mendribble bola.
"Untuk apa?"
"Sejak yang lain tahu kalau kau berbicara denganku, mereka juga mulai menyerangmu. Aku minta maaf. Aku tidak seharusnya membuatmu menjadi sasaran mereka. Aku ingin mengatakan hal itu padamu hari ini."
Yifan seperti tidak percaya. Dia kira Chanyeol adalah seseorang yang tidak akan peduli dengan hal-hal seperti itu.
Tiba-tiba bola basket yang tadi berada di tangan Yifan kini beralih ke kepala Chanyeol.
"Aw, fuck." Erang Chanyeol sambil mengelus kepalanya yang baru saja terkena bola basket yang Yifan lempar.
"Bagaimana kalau aku gagar otak, huh?" Chanyeol merutuk sambil mengejar bola yang menggelinding untuk membalas dendam pada Yifan yang kini tersenyum.
"Kau tahu kepalamu tidak akan sesensitif itu." Kata Yifan sambil menghindari lemparan bola dari Chanyeol.
"Yah!" Chanyeol yang masih belum puas kembali mengejar Yifan dan melemparkan bola basket ke arahnya.
.
.
.
"Ada sesuatu di mulutmu."
"Hm?" Yifan menjulurkan lidahnya dan berusaha menjilat saus ddeobboki yang menempel di ujung bibirnya.
Chanyeol tertawa sebelum meraih selembar tissue dan membantu Yifan menyingkirkan saus itu. Yifan mendadak tidak berani menatap pada wajah Chanyeol yang masih fokus mengelap bibirnya menggunakan tissue. Ia merasa gestur seperti itu tidak seharusnya dilakukan oleh dua orang pemuda. Tapi Yifan menyimpan pendapatnya itu.
"Apa kau malu?" Tanya Chanyeol tiba-tiba membuyarkan pikiran Yifan yang sedang sibuk sendiri.
"Huh?"
Chanyeol tertawa melihat wajah kebingungan Yifan.
"You're cute." Yifan hampir saja tersedak ddeoboki yang baru saja ia masukkan ke dalam mulutnya.
Chanyeol kembali tertawa. Gerak gerik Yifan yang kikuk seperti sebuah hiburan tersendiri baginya.
"Apa kau melakukan hal itu pada teman-temanmu yang lain juga?" Tanya Yifan.
"Terakhir aku punya teman, aku belum sadar kalau aku gay." Senyuman masih belum hilang dari wajah Chanyeol.
Yifan tersenyum kecil. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ketika Yifan membuka ponselnya, waktu sudah menunjukkan pukul 13.54.
"Aku harus pulang." Yifan sudah akan mengeluarkan dompet dari saku celananya ketika tangan Chanyeol menahannya.
"Aku yang bayar." Jelas Chanyeol.
Yifan mengernyitkan dahinya.
"Kau sudah terlalu sering melakukannya. Aku merasa seperti seorang gadis kalau seperti itu terus."
Chanyeok tersenyum.
"Well, kau tidak perlu menjadi gadis, kau bisa menjadi seorang bottom. Tapi aku tidak bisa menjadi Top, jadi... Aw." Chanyeol mengerang ketika Yifan menyikut tulang rusuknya.
Chanyeol tertawa ketika lagi-lagi menampakkan wajah kebingungan.
"Aku bercanda, kay." Chanyeol menepuk-nepuk bahu Yifan.
"Terserah kau saja. Tapi terima kasih. Aku pergi dulu." Yifan akhirnya beranjak dan melambai pada Chanyeom yang membalas dengan lambaian tangan dan senyum antusias.
oOo
PTSD atau Post Traumatic Stress Disorder adalah sebuah gangguan kejiwaan di mana si penderita mendapatkannya dari kejadian tragis yang pernah menimpanya. Penderita PSTD kemungkinan tidak akan langsung terpengaruh oleh kejadian tragis yang menimpanya, tetapi bisa juga beberapa tahun setelahnya.
Park Chanyeol menguap ketika ia menunggu untuk gilirannya dipanggil. Sudah hampir 30 menit ia duduk sendirian di koridor sebuah klinik untuk memenuhi perintah Ayahnya. Beberapa hari yang lalu Mr. Park membuatkan sebuah janji untuknya agar berkonsultasi pada Dr. Choi. Hal yang sudah Chanyeol beberapa bulan ini tidak lakukan. Pada awalnya Chanyeol yang enggan datang memilih untuk pergi ke game cente daripada harus bertemu dengan Dokter itu. Tapi Chanyeol akhirnya sadar bahwa ia tidak punya pilihan ketika kartu kredit dan atmnya berhenti berfungsi begitu ia membangkang perintah Ayahnya.
"Tuan Park Chanyeol." Seorang laki-laki yang bertugas sebagai resepsionis memanggil namanya. Chanyeol beranjak dengan berat hati.
"Dokter Choi sudah menunggu di dalam. Silahkan." Resepsionis dengan name tag Kyuhyun di dadanya itu membukakan pintu untuk Chanyeol.
Seorang laki-laki paruh baya dengan kemeja biru dan kacamata membingkai wajahnya duduk di balik meja sambil menulis sesuatu di catatannya.
Choi Siwon. Psikiater.
Chanyeol sudah hafal betul dengan ruangan yang sering ia sambangi itu. Dokter muda itu mendongak dan tersenyum padanya.
"Oh, Chanyeol? Sudah lama sekali." Dokter Choi bangkit dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Chanyeol. Tapi pemuda itu hanya mengangguk dan mengambil tempat duduk di sebuah sofa di hadapan Dokter Choi.
Dokter Choi tersenyum melihat Chanyeol yang kaku. Ia kemudian menunggu Chanyeol untuk mengatakan sesuatu. Tapi pemuda itu hanya diam.
"Jadi Mr. Park menelpon aku beberapa hari yang lalu dan membuat janji untukmu. Ku dengar kau tidak meminum obatmu lagi. Kau baik-baik saja, Chanyeol?" Dokter Choi memulai. Ia sudah menyiapkan beberapa berkas di mejanya. Berkas-berkas yang Chanyeol perkirakan adalah tulisan sampah tentang dirinya.
Chanyeol mengangguk untuk menanggapi pertanyaan Dokter Choi tadi.
"Apa kau sering bermimpi buruk akhir-akhir ini?"
Chanyeol menggeleng.
"Apa.. Kau barangkali mengingat sesuatu yang kau rasa pernah kau alami?"
Chanyeol kembali menggeleng. Ia tidak terlalu memperhatikan apa yang dokter itu katakan.
Chanyeol bisa mendengar Dokter Choi menghela nafasnya.
"Aku tahu apa tujuanmu kemari. Tapi bisakah kita selesaikan sesi ini dengan lancar atau aku perlu memberitahu Ayahmu kalau kau tidak bisa bekerja sama?"
Dokter itu mulai mengancam. Dan Chanyeol tahu ancamannya tidak pernah main-main.
"Kalau kau tahu aku ke sini agar Ayahku tetap memberiku uang lalu kenapa kau tidak langsung berpidato seperti biasanya? Lagipula kau sudah tahu jawaban dari setiap pertanyaan yang kau ajukan." Kata Chanyeol pada akhirnya. Baru beberapa menit dan ia sudah benar-benar muak.
Dokter Choi tersenyum.
"Park Chanyeol, sering bermimpi buruk. Emosi meledak-ledak. Sensitif.." Dokter Choi menuliskan hal itu pada catatannya.
"Sepertinya aku harus menambah obat anti-depressantmu."
Chanyeol mengumpat dalam hatinya. Sudah susah payah ia berusaha untuk berhenti meminum obat-obatan yang dokter itu berikan padanya, tapi sekarang ia justru menambah dosisnya.
"Oh iya, ku dengar ada anak baru di kelasmu. Kau sudah mengenalnya?"
Chanyeol terdiam sebentar, "Hn."
Dokter Choi mengangguk.
"Itu adalah hal yang bagus untukmu. Kau harus lebih banyak bersosialisasi dengan orang lain."
Chanyeol memutar bola matanya. Sesi pidato baru saja dimulai.
"Tapi aku berharap kau tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti saat kau SMP. Aku masih mengawasimu untuk hal itu."
"Apa masih lama?" Chanyeol melirik jam tangannya. Ia sudah bosan setengah mati.
"Menjadi seorang gay bukanlah pilihan yang bagus untuk mencari kedamaian di hatimu, Chanyeol. Ku pikir saat kau menjalin hubungan dengan gurumu itu hanyalah sebuah fase untukmu. Tapi mengingat kau sendiri mengakui bahwa kau menyukai laki-laki.. Aku cukup terkejut."
Chanyeol menggerakkan kaki kanannya dengan gelisah. Ia ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu. Dokter ini hampir sama saja dengan Ayahnya yang hanya bisa menilai dirinya sesuka hati. Tahu apa mereka soal dirinya.
Dokter Choi masih melanjutkan kalimatnya tapi Chanyeol tidak lagi tertarik untuk mendengarkan hingga sebuah kelimat terlontar dan membuat kesabaran Chanyeol habis.
"Ibumu pasti tidak akan bangga melihatmu seperti ini..." Dokter Choi mengakhiri pidatonya dengan menatap krdua mata Chanyeol.
"Fuck it." Chanyeol kemudian bangkit dengan tergesa dan keluar dari ruangan dokter itu sambil membanting pintunya dengan keras.
.
.
Gigi Chanyeol bergemelutukan ketika ia memasuki mobilnya. Seluruh tubuhnya bergetar tapi ia ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu. Maka Chanyeol segera mengemudikan mobilnya dan berhenti setelah ia berada cukup jauh. Ia memarkir mobilnya di pinggir jalan begitu saja dan mengeluarkan rokok dari tasnya.
Tubuhnya masih menggigil dan gemetaran ketika ia menyalakan rokok itu sebelum menghisapnya. Dalam hati ia terus merapalkan mantra bahwa ia baik-baik saja. Bahwa apa yang orang-orang katakan tentang dirinya tidak benar. Bahwa ia tidak seburuk itu.
Chanyeol menyalakan batang rokoknya yang kedua ketika cairan panas itu mengalir di pipinya. Pemuda itu menjatuhkan kepalanya di atas kemudi. Pipinya sudah basah tetapi cairan panas itu tidak berhenti mengalir.
Kemudian terbesit sebuah keinginan yang Chanyeol sendiri tidak duga. Pemuda itu menghapus air mata dari pipinya begitu saja dan kembali menyalakan mesin mobilnya. Batang rokok terselip di mulut Chanyeol ketika ia tersenyum.
.
.
.
Mrs. Wu sedang menghangatkan sup jagung di dalam microwave ketika ia mendengar bel rumahnya berbunyi. Wanita itu mengernyit sebelum berjalan ke arah monitor yang menampakkan siapa tamu yang datang malam itu. Seorang pemuda dengan kaos hitam dan rambut berantakan berdiri di balik pintu. Mrs. Wu kemudian memanggil putra semata wayangnya yang sejak pulang sekolah berdiam diri di kamarnya.
"Yifan, apa kau mengundang temanmu datang?" Mrs. Wu mengetuk pintu kamar Yifan.
Beberapa menit kemudian Yifan keluar dengan memakai sebuah kaos dan celana boxer.
"Huh?" Yifan terlihat kebingungan karena seingatnya ia tidak pernah mengundang siapapun untuk datang ke rumahnya.
Bel kembali berbunyi. Yifan berjalan ke arah monitor dan tanpa berpikir lagi segera membuka pintu ketika ia melihat wajah Chanyeol di sana.
"Chanyeol?"
"Surprise." Sapa Chanyeol sambil tersenyum lebar ketika Yifan membukakan pintu untuknya.
Bersambung
Keyboard laptop saia rusak dan cuma bisa ngetik pake hp.
Terima kasih untuk reviewnya selama ini.
Dengan cinta,
Mutmut Chan.
