"Tuan muda Jeon?"
Jungkook termenung menatap seorang pria tua dengan kemeja biru laut berbalut mantel cokelat tebal kebesaran, sabuk kulit yang melilit perut kelewat ratanya nampak terikat begitu erat. Bahkan Jungkook berpikir akan kesulitan bernapas jika mengenakannya, tapi orang tua tersebut tidak.
Beberapa helai rambutnya telah beruban, bahkan kumisnya telah berubah warna menjadi putih keemasan seutuhnya. Ujung kelopak matanya keriput, tangannya yang mungkin dahulu kuat kini melemah, dan Jungkook dapat melihat sebuah tatto bergambar ular yang melingkari sebuah tongkat berwarna hijau zamrut meliliti pergelangan pria tersebut dari ujung telapak tangan hingga hampir menyentuh siku.
Jungkook tak ingat pernah bertemu pria ini sebelumnya.
Namun Jungkook bersikap sopan, menyunggingkan senyum lalu berkata, "Ya?"
Ia melangkah perlahan mendekati Jungkook, mendudukan dirinya pada bangku taman yang semula di duduki oleh Sejeong. Jungkook hanya tersenyum kikuk sebelum ikut duduk di sampingnya.
Bau tembakau menguar, sesungguhnya Jungkook sangat benci akan bau rokok meski ayahnya adalah perokok aktif. Namun, sesering apapun Jungkook berada di dekat ayahnya, yang ia cium hanyalah bau wangi khas ketika dirinya masih kanak-kanak. Tapi pria di sampingnya ini tidak, barangkali ia menghisap cerutu miliknya selama bepergian kemari menemui Jungkook.
"Pasti sudah lama sekali ya? Terakhir kali kulihat anak Jeon Joohyun sekecil ini. " Ia menggesturkan tangannya, menerka-nerka tinggi badan Jungkook yang terakhir kali dilihatnya. Sangat kecil untuk seukuran balita dengan ingatan yang akan di lupakan di kemudian hari.
"Kau cantik, persis seperti ibumu. Tapi, kau juga tampan secara bersamaan seperti ayahmu." Tangan pria tua itu merambat di pipi kiri Jungkook. Tangannya yang kasar serta kapalan membuat Jungkook geli kala tangan tersebut tak kunjung lepas dari pipinya, jadi, ia menariknya turun lalu menggenggamnya.
Awalnya pria di depannya tersentak, namun kembali tersenyum saat Jungkook memangku tangan keriputnya.
"Bagaimana ayahmu? Apa dia sehat?" Jungkook bergeming, ingatannya berputar ke masa-masa balitanya, saat ayahnya dengan senyum sumringah menggendong kemanapun ia berada. Jungkook masih ingat betul bagaimana raut ayahnya dahulu. "Pa sudah meninggal, kukira kau tahu itu."
"Ah, aku terlalu lama mengurusi bisnis di U.S.A," bola matanya meredup, Jungkook dapat melihatnya walau dengan sekali tatap. "Ku dengar ibumu pindah kantor?"
"Ah, ya. Meme membeli gedung yang lebih besar karena penjualannya meningkat." Jungkook menjawab.
Pria tua itu mengeratkan mantelnya dengan satu tangan, sedikit bergedik kala angin yang kelewat dingin menusuk kulit hingga ketulangnya. Jungkook bisa saja memberikan jaket yang ia kenakan, namun Jungkook tak sebodoh itu untuk membiarkan tubuhnya hanya berbalut kemeja tipis di cuaca seperti ini.
"Apa kau sendiri?" dia bertanya tanpa menatap ke arah Jungkook, sibuk membenarkan mantelnya agar tidak kedinginan. "Ya. Kekasihku sedang sibuk untuk persiapan sidang skripsi."
Pria tua tersebut mengangguk, "Kau punya kekasih rupanya."
Jungkook terkekeh sesaat, "Dia sangat tampan asal kakek tahu." pria tua tersebut tersenyum remeh, "Namun tak lebih tampan daripada aku."
Kedua tertawa keras, tak menghiraukan tatapan orang-orang di sekitar mereka yang mulai meninggalkan taman. "Siapa nama kekasih mu?"
"Namanya Kim—"
"Jungkook Oppa!"
Jungkook tersentak ketika namanya terpanggil dengan suara cempreng yang khas. Ia mendongak lalu memutar kedua bola matanya, hapal sekali dengan tingkah laku bocah satu ini. "Bisa tidak untuk mengecilkan suaramu? Jantungku mau copot rasanya."
Sejeong hanya tertawa kecil, membungkuk dan mengambil winter earmuffsnya yang tertinggal di bangku taman. "Aku meninggalkan ini. Bisa bahaya jika kau pakai."
"Ya, ya. Bawa saja penutup telingamu itu, lagipula siapa yang mau memakai penutup telinga bermotif stitch begitu?" Sejeong menunjuk Jungkook dengan jari berkuteks nya, "Kau."
"Bodoh sekali."
"Ah, aku lupa. Ma memberitahu kalau kau di panggil, katanya, desain yang kau kumpulkan kurang dua." Jungkook nampak berpikir sesaat, mengingat-ingat bahwa ia sudah menyerahkan seluruh desain buatannya kepada Meme.
"Kau disuruh untuk pergi ke kantornya." lanjut Sejeong.
Jungkook mengehal napas, berdiri dan merapikan kemejanya yang dipenuhi remahan makanan yang ia bawa tadi. "Maaf Kek, Aku harus pergi. Semoga harimu menyenangkan." Jungkook tersenyum kecil untuk berpamitan, diikuti oleh Sejeong yang melangkah tergesa gesa.
Saat jauh, Jungkook berhenti lalu mencekal tangan Sejeong.
"Nah, adik manis. Sekarang katakan apa yang sebenarnya terjadi."
Jungkook tidak bodoh. Sungguh. Ia tak muda terbohongi kata-kata meski wajahnya polos bak anak kecil yang kehilangan orang tuanya. Jauh dalam diri Jungkook, ia menemukan bahwa dirinya selalu dapat membaca gestur seseorang ketika berbohong. Walau orang tersebut berbohong tanpa celah sedikitpun Jungkook akan tahu.
Dan lebih lagi, Jungkook selalu memberikan desain kepada Memenya langsung, bukan dari perantara orang lain.
Jadi ia simpulkan bahwa Sejeong hanya mencari alibi agar dirinya pergi menjauhi pria tua tadi. Bahkan Jungkook tidak tahu nama pria tersebut.
"A—ku hanya ingin kau menjauhi pria tadi." Sejeong berujar gugup. Jungkook memicingkan matanya, alisnya menukik satu. "Kenapa?"
"Ada satu hal yang tak dapat ku beritahu. Namun, suatu saat kau pasti tahu. Aku jamin. Jadi, jangan memaksaku memberi tahumu." Sejeong memilin scarf yang tergantung di lehernya, menunduk takut-takut bila Jungkook marah karena dirinya menyembunyikan rahasia.
Alih-alih marah, Jungkook malah menghela napas lalu melipat kedua tangannya di depan dada. "Suatu saat itu kapan?"
Kini Sejeong mendongak, matanya tersirat ketakutan yang kentara. "Aku takut," dan benar saja.
"Aku—"
Ia mendeja kalimatnya, ragu-ragu untuk sekedar melanjutkan. "Kau tahu, sesungguhnya kau itu sangat berharga. Jadi, mungkin Taehyung Oppa akan selalu menjagamu. Aku hanya takut kau dekat dengan stanger."
"Dia teman Ma," Sejeong menggeleng cepat, menelan ludahnya susah payah. "Teman atau lawan kau tidak akan tahu. Temui Taehyung Oppa, katakan kau bertemu dengannya."
Jungkook mengernyit bingung, apa hubungan ini semua dengan Taehyung dan ibunya?
Jungkook dapat merasakan terpaan angin menusuk tulang-tulangnya, menyebabkan ia bergedik lalu merapatkan kembali jaketnya. Bibirnya terbuka ingin mengatakan sesuatu namun Sejeong kembali berbicara, "Ia di Petersbug st. Disana ada club malam yang mewah, kursi nomor empat puluh delapan, bagian samping, dan kau akan menemukan Taehyung."
Perkataannya cepat, seolah ia sudah tau seluk beluk letak Taehyung meski hanya menerka-nerka. "Kau cerdas juga ternyata."
Sejeong hanya tersenyum pongah, gigi putihnya terkena lipstik yang ia gunakan, Jungkook menunjuknya lalu memberikan tisu poket yang selalu ia bawa, menunjuk letak noda tersebut dan Sejeong mengelapnya hati-hati. Takut lipstik yang ia gunakan tersapu tisu juga mungkin.
"Dan," ia melanjutkan perkataannya dengan tangan melipat-lipat tisu bernoda merah menjadi sekecil mungkin, "Jangan bertemu dengannya lagi."
"Nah, sekarang kembalilah. Aku harus pergi, dah!" ia melambaikan tangan, tubuhnya semakin menyempit hingga kelokan melahapnya habis.
—No Promises—
Jungkook tak pernah pergi ke club. Demi tuhan Jungkook tak pernah menginjakkan kakinya ke dalam tempat penuh orang mabuk tersebut.
Namun karena terpaksa, ia akhirnya meruntuhkan seluruh egonya untuk tidak datang saja kedalam tempat setan itu.
Lorongnya remang-remang, namun cahaya kerlap-kerlip membuat kepalanya pusing. Suara menggelegar dari ujung bar kiranya mampu membuat orang polos seperti Jungkook menjadi tuli.
Salah satu wanita berpakaian minim meliukkan tubuhnya pada seorang lelaki berkemeja maroon, awalnya hanya ada satu, namun seiring waktu Jungkook melihatnya, berbagai wanita dengan pakaian lebih minim mulai mendekat.
Bola mata Jungkook membelalak saat tangan sang wanita dengan lihai menyentuh kemaluan sang pria, bahkan sang pria hanya menunjukkan ekspresi meminta lebih, dan para wanita mulai berani untuk merematnya.
Jungkook menggelengkan kepalanya sambil memejam. Seperti inikah tiap kali Taehyung pergi ke club? Apa Taehyung juga selalu di gerayai oleh wanita jalang seperti itu? Jika iya, Jungkook bersumpah bahwa Taehyung adalah lelaki paling rendah yang Jungkook temui. Mungkin sedikit lebih tinggi ketimbang pria berkemeja maroon tersebut, karena, well Taehyung pintar dalam urusan bisnis.
Disudut ruangan, terhias berbagai lampu yang mengeluarkan cahaya biru-merah-hijau secara bergantian. Sofa-sofa panjang berhias pemuda-pemudi tengah memadu kasih menjadi pemandangan paling menjijikkan yang pernah Jungkook lihat.
Di lantai dansa, seorang wanita dengan gaun emas di atas lutut meliukkan badannya. Seperti orang mabuk, atau mungkin saja ia benar mabuk.
Rambutnya acak-acakkan, make-up tebal yang di gunakannya luntur akibat keringat dari wajahnya. Bukannya jijik, malah para lelaki ikut berdansa dengannya.
Jungkook rasanya ingin muntah, jadi ia segera pergi ke samping —sedikit lebih lenggang ketimbang tadi— menuju sebuah sofa beludru berwarna merah dengan seorang lelaki berjas mahal tengah menenggak gelas-gelas berisi minuman beralkohol.
Tak ada satupun wanita yang duduk di dekatnya, hanya ada dirinya, dengan berbagai botol yang telah habis.
Saat lelaki tersebut ingin menenggak gelasnya kembali, buru-buru Jungkook menyambar gelas tersebut, membuat sang empu memejamkan mata —seakan menahan amarah.
"Pulang. Ada yang ingin aku katakan." Jungkook membanting gelas berisi minuman alkohol tersebut ke meja kaca, membuatnya retak pada bagian bawah namun sang pria yang di ajak bicara hanya menatap dengan tajam.
"Katakan saja." jawabnya, "tidak disini. Sesuatu yang pribadi tak seharusnya dibicarakan disini."
"Banyak omong sekali." lalu pria tersebut berdiri, menarik jaket Jungkook dan menyeretnya.
Jungkook sedikit memekik ketika tangan panjang pria tersebut menggeretnya maju, melewati kerumunan orang-orang berpakaian minim yang tengah mabuk di lantai dansa. Sesekali ia tersandung dan mengumpat keras pada sosok di depannya.
Saat dirinya berada di depan meja bar, Taehyung melepaskan cengkeraman pada jaketnya (tanpa menatap ke arahnya) dan bergerak maju, menyentuh pundak seorang wanita cantik berbalut dress berwarna biru laut dengan make-up tipis yang mana menambah aura cantiknya. Jungkook menyadari bahwa ia satu-satunya wanita disini yang tak berdandan menor.
Taehyung berbicara dengan suara rendahnya, Jungkook mampu mendengar sayup-sayup perkataan Taehyung. Seperti, 'maaf malam ini' lalu 'aku akan mengajakmu besok' dan berbagai perkataan yang Jungkook yakin keluar dengan alamiah dari bibir Taehyung dengan suara yang amat rendah. Seperti binatang yang menggeram, dan Jungkook belum pernah mendengar Taehyung berkata dengan nada seperti itu.
Merayu, mungkin?
Jungkook menatap cuek ke arah mereka, si wanita sesekali merengek dengan raut yang membuat Jungkook mual, namun mulut Jungkook menganga begitu lebar kala Taehyung tiba-tiba menarik tengkuk sang wanita dan menyatukan bibir mereka.
Gelas yang berada dalam genggaman jari berkuteks merah miliknya jatuh ke lantai, menimbulkan suara pecahan nyaring namun semua orang terlalu sibuk untuk peduli pada kejadian menjijikkan ini.
Tangan Taehyung bergerak lihai, menekan tengkuk sang wanita untuk memperdalam ciumannya. Sang wanita membalas, memiringkan kepalanya ke kanan-kekiri untuk meladeni ciuman panas Taehyung.
Sesekali mereka tertawa pendek ketika ciuman mereka terlepas beberapa saat namun Taehyung kembali menyatukan ciumannya.
Jungkook bergidik ngeri, membalikkan badannya membelakangi adegan tak senonoh tersebut.
Katakanlah Jungkook bodoh, karena bahkan dirinya yang telah beberapa kali making love dengan Mingyupun tak menyangka bahwa adegan ciuman yang di tonton secara langsung benar-benar menggelikan.
Jungkook menutupi matanya yang terpejam dengan kedua tangannya, ekspresi geli tetap ia perlihatkan walaupun membelakangi Taehyung yang tengah ganas meraup bibir sang wanita. Sayup-sayup ia mendengar Taehyung berkata, "Fuck, aku ingin menyetubuhimu."
Dan Jungkook kembali mendengar suara kecipak bibir yang bertemu, namun kali ini lebih cepat jadi ia menurunkan tangannya yang sedari tadi menutupi matanya.
Taehyung menarik jaket milik Jungkook, lagi, membuatnya mau tak mau menghadap kearah Taehyung dengan mata terpejam.
Taehyung tertawa remeh, menyentil dahi Jungkook lalu berkata, "maaf. Seharusnya aku tak melakukan di depan anak kecil."
"Ya,ya terserah mu. Cepat bawa aku keluar dari sini." Jungkook menaikkan nada bicaranya, sedikit mengintip dari celah matanya yang terbuka namun bukan hanya Taehyung yang ia lihat, karena sesosok pria berperawakan tinggi di belakang Taehyung tengah mempermainkan puting seorang wanita di dekat meja bar.
Pakaian wanita tersebut tersingkap, dress yang di kenakan terlihat acak-acakan, bahkan tanktop hitam miliknya melorot hingga ke bahu.
"Oh yatuhan, yatuhan. Maafkan aku tuhan maaf." Jungkook menutup kembali matanya dengan cepat — setelah memekik kecil tadi — lalu merapalkan doa-doa yang tertulis dalam alkitab, meminta maaf kepada tuhan karena melihat adegan tak senonoh lagi. "Bodoh cepat bawa aku keluar!"
Ia memekik sedangkan Taehyung terkekeh geli sebelum menarik jaket yang dikenakan Jungkook untuk keluar dari tempat penuh nafsu tersebut.
Tiba di parkiran Jungkook melepas genggaman Taehyung pada jaketnya yang kelewat erat, menyebabkan bagian lengan jaketnya kusut karena teremat. Ia memandang tak suka pada Taehyung, merapikan jaketnya yang turun dan mulai berbicara.
"Aku tak terkejut jika kau seganas tadi. Tapi ya, tolong lihat siapa yang sedang bersamamu. Apa matamu tuli?!" Jungkook menunjuk kedua bola mata Taehyung dengan telunjuknya yang panjang, menatap sengit Taehyung yang hanya memandangnya datar.
"Sepertinya kau tidak lulus ujian biologi. Dan, memangnya siapa yang memintamu datang kemari? Mengganggu acaraku dan sekarang tanggung akibatnya jika kau tak biasa dengan perlakuanku pada wanita tadi." Taehyung memasukkan kedua tangannya pada masing-masing saku di celana, rambut brunett miliknya yang tertiup angin menjadikan Jungkook dapat melihat bola matanya secara langsung —karena poni Taehyung yang kelewat panjang senantiasa menutupi onyx tersebut.
"Terserah. Apa bisa kita lanjut dirumah? Aku ingin segera pergi jauh-jauh dari tempat ini."
Taehyung tersenyum ringan. "kau bawa mobil bukan?"
Jungkook mengangguk sebagai jawaban, menunjukkan kunci mobil dengan gantungan bergambar stitch dengan pakaian khas hawaii. "Nah, mari pakai mobilmu."
Jungkook ingin menentang perkataan Taehyung namun lelaki tersebut terlanjur merampas kunci miliknya dan berjalan dengan santai mendahului dirinya yang terbengong dengan mulut terbuka marah.
"Ya!"
—No Promises—
"Jadi, apa yang ingin kau katakan?"
Jungkook menatap keluar jendela, beberapa menit lalu turun hujan yang menyebabkan kaca jendela mobilnya berembun. Tangannya menggambar garis-garis tak beraturan, berpola melingkar, melengkung, miring, dan lain sebagainya.
"Sejeong.." Jungkook menghentikan perkataannya. Ia mendengar Taehyung menahan napas di jok samping. Udara terlalu dingin, jadi Jungkook mengulurkan tangannya untuk mematikan AC mobil. "Aku bertemu dengannya tadi di taman."
Jalanan sekitar yang sepi membuat Taehyung mempercepat laju kendaraan yang dikemudikannya. Jungkook membenarkan posisi duduknya yang semula menghadap keluar, ia merapikan jaket miliknya yang sama sekali tidak berpengaruh terhadap cuaca yang kelewat dingin ini.
"Awalnya baik-baik saja, kami membicarakan banyak hal lalu ia pamit untuk pergi." Taehyung berkata 'lanjutkan' namun pandangannya tak teralihkan dari depan, Jungkook memandang tangan Taehyung yang mulai meremat stir mobil miliknya perlahan. "Lalu ada seorang pria tua mendatangiku."
"Ia mengenakan kemeja model lama dengan sabuk kulit yang terlalu melilit perutnya. Kulitnya benar-benar keriput dan ada sebuah tatto bergambar ular yang melingkari pergelangan tangan hingga menyentuh sikunya. Ia berkata bahwa ia adalah teman Meme, ia juga tahu tentang ayahku jadi kupikir dia orang baik-baik. Namun saat Sejeong kembali untuk mengambil ear—muffsnya aku mengetahui fakta bahwa lelaki tua tersebut bukan orang baik-baik."
Otot-otot Taehyung menegang, urat mencuat jelas dari punggung tangannya yang memerah. Giginya bergemeluk perlahan dan peluh berlomba-lomba turun dari dahinya, udara benar-benar dingin namun Jungkook merasa panas di samping Taehyung.
"Lalu? Apa yang kau katakan?"
"Aku mengikuti Sejeong. Ia berbohong soal desainku yang kurang, tapi karena aku selalu mengecek dan memberikan desain-desainku langsung pada Meme, jadi tak mungkin ada yang kurang. Ia mengatakan bahwa aku tak boleh mendekati pria tersebut lagi di lain waktu. Jadi, ia menyuruhku untuk pergi menemuimu dan mengatakan ia telah bertemu denganku. Sejeong juga mengatakan bahwa.."
Jungkook memilin jaketnya, lidahnya kelu untuk sekedar melanjutkan perkataan yang ia gantungkan. Namun, melihat Taehyung yang menaikkan salah satu alisnya dengan pandangan tetap kedepan membuat Jungkook melanjutkan kalimatnya. "Ia.. Mengatakan jika aku berharga."
"Dengar, aku tidak peduli soal pria tua atau sebuah rahasia yang kau simpan dengan Meme. Aku hanya ingin diriku tak ikut campur dalam masalah apapun."
Batin Taehyung bergejolak, jika Jungkook tahu, semuanya bisa sia-sia. Jadi, ia memilih bungkam dan tetap berbicara dengan tak terlalu menjerumus ke masalah. "Aku akan mengantarmu pulang. Dan, kau harus dirumah hingga hari senin mendatang. Tak boleh keluar, dan tak boleh ada seseorang pun yang masuk ke rumah tanpa seijinku meski ia kekasihmu sekalipun."
"Apa-apaan!"
Taehyung memukul stir mobil cepat, menimbulkan bunyi klakson yang mengagetkan Jungkook. Ia bergeming dalam duduknya, tangannya yang gemetar ia sembunyikan pada saku jaket tipisnya agar tak kentara dan kini peluh ikut membanjiri dahinya. "Bisakah kau turuti saja permintaanku, Tuan Jeon?"
Tak ada jawaban dari Jungkook, "kuanggap diammu adalah ya."
Lalu, keadaan menjadi hening. Taehyung melajukan mobil dengan cepat membelah jalanan yang sepi, hujan telah berhenti namun rintiknya tak kunjung berhenti. Jungkook menatap keluar kembali, mengamati setiap pohon dengan daun-daun yang berjatuhan menyentuh aspal yang dingin.
Kadang ia ingin seperti daun, kala waktu dewasanya tiba ia dapat melepaskan diri dari seluruh peraturan yang di buat Memenya. Jungkook ingin meminum soju, menonton film horor tanpa satupun bodyguard yang menjaganya.
Masa lalu ibunya sangat tertutup bahkan kepada anaknya sendiri. Jadi, Jungkook tak pernah tahu apa yang terjadi kala dirinya masih tak pandai mengingat.
Pikiran tak tentu arah menjadikan matanya terasa berat. Jarak antar club ke rumahnya memang sedikit jauh dan Jungkook maupun Taehyung tahu itu.
Ia mengambil bantal berukuran besar di jok belakang, meletakkannya di pangkuan dan tidur dengan mengenakan tudung jaket. Laju mobil yang semakin kencang membuat Jungkook merasa sedikit nyaman.
Namun, tidak lagi saat Taehyung mengumpat dengan kerasnya.
"Bangsat! Mobilmu ini kenapa?!"
Jungkook terduduk dengan mata yang melebar. Didepan ada perempatan dengan lampu yang menyala merah, tentu Taehyung harus menghentikan mobil yang ia tumpangi namun tak bisa.
Taehyung menginjak pedal rem berulang kali dengan sepatu mengkilap miliknya namun mobil tak kunjung berhenti.
Jungkook menyimpulkan bahwa rem mobil miliknya blong sehingga Taehyung memperlambat laju mobil namun sial karena mobil semakin bergerak cepat.
Mata Jungkook memincing ke depan, ada mobil yang berhenti di depan perempatan.
"Bangsat Jungkook, ambil bantalmu dan gunakan untuk melindungi kepalamu cepat!"
Taehyung berteriak dengan suara baritone nya, Jungkook langsung menutupi kepala dari kaca depan menggunakan bantal yang ia ambil tadi lalu merunduk ke bawah.
Taehyung memutar setir kearah kanan, matanya menatap nyalang kedepan sedangkan tangannya memerah akibat meremat setir kelewat keras.
Ada pagar beton yang menjadi penghalang antara jalan beraspal dengan laut yang luas. Jungkook mengintip dari celah bantalnya, ia membelalakkan mata dan berteriak namun Taehyung tetap menyuruhnya agar tenang.
Taehyung melepaskan sepatu kulit miliknya lalu memukul kuat-kuat pada setir dan—
BYUR!
Mobil yang ia kendarai menabrak pagar beton lalu jatuh ke lautan yang dalam.
Air perlahan naik karena kaca yang retak sedikit demi sedikit, Jungkook panik, tangannya dengan gemetar melepas sabuk pengaman yang mengikat kuat dirinya dengan kursi.
Ia mendongakkan kepalanya, menghirup udara pada bagian atas mobil yang belum tergenang air dengan tetap mencoba melepaskan sabuk pengaman yang terikan kencang namun sial karena air langsung melahapnya habis.
Ia menoleh kearah samping dan tak menemukan Taehyung disana. Hanya ada pintu mobil terbuka yang membuat airnya semakin cepat masuk.
Sangat gelap, dan Jungkook sendirian.
Ini adalah ketakutannya, dan Jungkook tak dapat berpikir jernih jika sudah seperti ini.
Perlahan air menenggelamkannya. Jungkook tak cukup pandai dalam masalah menahan napas didalam air jadi ia hanya menutup mata, berharap Taehyung menariknya kepermukaan namun tidak.
Hingga kedua matanya hampir tertutup, ia merasakan sabuk pengaman tak lagi mengikat dirinya dengan jok yang ia duduki.
—No Promises—
terimakasih untuk yang selalu mengikuti cerita No Promises! saya mau hiatus jadi saya update chap yang panjang! TvT
semoga suka dan jangan lupa review! /bow
