Ternyata masih banyak yang baca fanficku ini ya? Aduh terima kasih, kirain udah pada cabut gara-gara gak diupdate-update. Makasih ya atas dukungannya.
Oh ya, untuk yang nanya, Sasuke gak bakal muncul di sini, kenapa? Yah… kenapa ya? Rasanya ribet kalau dia muncul di sini, gitu aja.
Ok, silahkan dinikmati
Naruto terbangun dari tidurnya dengan wajah sedikit lesu, baru juga bangun, ia sudah tidak bersemangat. Kenapa? Ia malas sekali mengingat hari ini ia harus berhadapan dengan para tetua menyebalkan perihal dirinya yang akan segera menjadi Hokage. Belum sampai pada tahap peresmian, lebih tepatnya mirip seperti orang mau wawancara kerja.
Orang biasa pasti akan berdebar-debar, tapi Naruto justru meringkuk lagi dalam kasurnya. Malas keluar, malas bertukar kata dengan para tetua yang keras kepala itu. Sampai sekarang para tetua kurang menyukai Naruto. Banyak alasannya, Naruto adalah jinchuuriki, Naruto itu kekanakan, Naruto itu emosian, Naruto itu inilah, itulah. Tidak ada habisnya. Rasanya ia terus-terusan terlihat negative di mata para tetua.
Memang sih, masih banyak ninja yang mungkin lebih layak menjadi Hokage ketimbang dirinya tapi, belum tentu mereka sendiri mau jadi Hokage. Seperti Shikamaru yang hanya akan mendengus dan lewat begitu saja bila ia ditawari untuk jadi Hokage.
Naruto mendesah, ia mengintip dengan satu matanya ke arah jam dinding.
HA! SUDAH SIANG! HAMPIR JAM 10!
Naruto bangun kalang kabut, wajahnya masih syok dan keheranan lalu keringat dingin bercucuran.
Kok bisa ia bangun sesiang ini?
Lho, Gaara kemana ya?
Ya, setelah hampir sebulan tinggal bersama Gaara di rumah barunya, Naruto jadi terbiasa untuk dibangunkan Gaara tiap pagi.
Cara membangunkannya rada sadis sih, biasanya pakai pasir, entah Naruto di apain, dihujanin pasir, dibungkus pasir, yang penting si pirang bisa bangun.
Setelah bangun, sudah ada sarapan yang tersedia di meja makan. Sejak menikah, Gaara jadi rajin belajar masak. Alasannya karena Naruto tidak bisa diandalkan dan bila mengandalkannya, kandungan Gaara bisa gugur. Ya iya dong, masa' makannya cuma mie instan dan bento murah yang dijual di warung saja? Gizinya?
Naruto sih tidak keberatan Gaara belajar masak, senang malah, karena makannya jadi lebih sehat, enak dan teratur sekarang.
Tapi, pagi ini lain rupanya?
Naruto tersentak, aduh… Gaara kemana ya? Ia buru-buru pergi ke kamar mandi, membersihkan tubuh ala kadarnya dan segera ganti baju.
Dengan tergesa-gesa ia menuju ruang makan tapi tak menemukan istrinya di sana, tak ada sarapan juga.
Naruto mulai khawatir dan panik.
Sudah telat, Gaara juga kemana?
Naruto berbalik dan berlari menghampiri kamar Gaara.
Apa Gaara masih tidur?
Lho, Gaara kan insomnia, gara-gara Shukaku ia tidak boleh tidur, memangnya ia bisa tidur sekarang?
"Gaara," Naruto memanggil sambil mengetuk pintu. Ia menunggu jawaban, tak berani masuk begitu saja. Bisa jadi samsak hidup lagi.
Setela beberapa lama menunggu, Naruto mendengar suara-suara dari balik pintu dan akhirnya pintu terbuka.
Naruto sedikit tercengang melihat keadaan Gaara yang tidak bisa dibilang baik.
Wajahnya pucat dan kelihatan lemas, lingkar hitam matanya kalau mungkin malah jadi makin tebal.
"Gaara, kamu baik-baik saja?" tanya Naruto khawatir. Mulai timbul rasa cemas dan bersalah akan keadaan istrinya itu. Cemas dengan keadaan Gaara dan kandungannya, dan bersalah karena tidak sadar dengan kondisi Gaara sebelumnya.
"Iya, oh iya… aku belum bikin sarapan," jawab Gaara lemas, ia segera beranjak keluar kamar namun limbung, Naruto dengan sigap segera menangkapnya.
"Ga-Gaara! Kamu kenapa?" Naruto panik bukan main, darah mengalir makin cepat ke jantungnya.
"Uhk…," Gaara hanya mengerang sambil memegangi kepalanya.
Naruto segera menopang tubuh Gaara dan menarik kakinya. Menggendongnya ala pengantin. Ia tidak tahu Gaara kenapa, ia tahu para tetua mungkin sudah menunggunya, tapi sekarang kondisi Gaara yang terpenting!
Dengan itu Naruto segera menggendong Gaara menuju tempat Tsunade.
IoI
"Dia kelelahan, sangat kelelahan."
Naruto memandang Tsunade yang tampak sedang mendendam padanya. Sebagian karena Naruto telat dan sukses membuat reputasinya makin buruk di mata para tetua. Sebagian lagi karena kondisi Gaara yang buruk seakan adalah bukti bahwa Naruto tak becus jadi suami yang baik.
"Kenapa? Gaara kan selalu ada di rumah, semua tugas Kazekagenya dikirim via burung ke rumah, itu juga tidak semuanya, sebagian besar dikerjakan Temari dan Kankurou di Suna. Lalu?" Naruto kebingungan.
"Aku sendiri tak terlalu mengerti, tapi tebakanku, ia kurang tidur," jelas Tsunade.
"Kurang tidur?" tanya Naruto.
"Aku sudah bilang padanya, dengan kondisinya sekarang, tidak apa-apa baginya untuk tidur, aku yakin Shukaku tak akan berbuat macam-macam tapi… sepertinya ia tetap tidak tidur," jelas Tsunade lagi.
Naruto memandang Tsunade kebingungan, lalu menatap Gaara yang terbaring di atas tempat tidur. Ia tidak tidur, tapi hanya terlalu lemas untuk bergerak dan merespon jawaban.
"Kehamilan ini tidak biasa, kehamilan Gaara memaksa Gaara untuk mengeluarkan energi lebih banyak. Bila ia tidak tidur, ia akan kekurangan tenaga," tambah Tsunade.
Naruto mengangguk. Tsunade mengambil sebotol penuh kapsul dari dalam sebuah lemari.
"Ini, obat tidur, tapi jangan gunakan terlalu sering, tidak baik untuk janin dalam kandungan Gaara," kata Tsunade.
"Oh iya… terima kasih," kata Naruto, mengambil botol itu.
"Dan satu lagi Naruto," Tsunade menatap Naruto tajam.
"Jaga istrimu baik-baik, ia adalah Kazekage, kamu tahu kan apa resikonya bila terjadi sesuatu padanya?" ancam Tsunade membuat Naruto merinding.
"Hiii…. Baik!"
IoI
Naruto menatap Gaara yang sudah berganti pakaian menjadi piyama. Tampang istrinya masih pucat dan lemas, membuat Naruto khawatir.
"Gaara, kamu ngerti kan apa yang Tsunade-baachan tadi bilang? Kamu harus tidur," ulang Naruto untuk kesekian kalinya. Gaara cuma mendengus dan mengangguk, ia berjalan menuju tempat tidurnya dan merebahkan diri.
"Kau tidak pergi latihan?" tanya Gaara pada Naruto.
Naruto tersentak, berpikir, kemudian menggeleng.
"Tidak, mana bisa aku meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini," kata Naruto, ia menghampiri Gaara yang sudah berbaring di tempat tidur dan menyelimuti si rambut merah itu dengan selimut.
Gaara mengangguk, tampak lemas dan ngantuk. Tapi, matanya tidak terpejam.
"Ayo tidur, Gaara," bujuk Naruto. Gaara memandangnya kemudian mengangguk kemudian menutup matanya.
Tak butuh lama bagi Gaara untuk tertidur, Naruto sampai kaget. Dimana masalahnya? Ia mengusap rambut Gaara, ternyata si rambut merah ini kalau anteng manis juga ya?
Sebenarnya ada apa dengan Gaara? Naruto tidak melihat ada masalah di sini.
Waktu berlalu dan Naruto mulai bosan. Ia sadar bahwa ia belum sarapan dan ia pergi ke dapur untuk memasak mie instan. Sambil memikirkan Gaara ia menyantap mie instannya.
Gaara memang sudah tampak lemas dan pucat sejak seminggu terakhir. Tapi, sang Kazekage selalu menepisnya dan berkata bahwa ia baik-baik saja.
Naruto menyesal, kenapa ia tidak lebih perhatian?
Naruto segera kembali ke kamar Gaara untuk melihat kondisinya. Gaara masih tidur ternyata.
Tapi, Gaara mulai menggeliat. Matanya terpejam rapat seperti menahan sakit dan ia berkeringat. Naruto panik, kenapa ini?
Jangan-jangan… mimpi buruk?
"Gaara! Gaara! Bangun!" sahut Naruto, menggoncang-goncangkan tubuh Gaara.
Gaara tersentak dan bangun, ia tampak syok dengan mata membelalak dan napas tersenggal-senggal. Ia kemudian memandang Naruto dan segera memeluknya, membuat si pirang kaget bukan kepalang.
"Gaara?" Naruto bertanya pelan, sedikit pangling dipeluk oleh istrinya yang biasanya judes itu.
Tapi Gaara hanya menenggelamkan kepalanya ke bahu Naruto, badannya gemetaran dan Naruto melonjak saat merasakan bahunya basah oleh air mata Gaara.
Perasaan takut, cemas dan sedikit ragu menguasai Naruto. Dengan canggung Naruto memeluk balik Gaara dan mengusap kepalanya.
Kemana perginya Kazekage yang cool dan kalem itu?
Mungkin akhirnya Gaara terkena dampak mood swing? Sehingga kepribadiannya sedikit berubah?
"Sssshhh… Gaara, tenang…," bisik Naruto sambil terus mengusap kepala Gaara dengan lembut.
Naruto mengutuk dalam hati. Ia benar-benar payah dalam menenangkan orang. Ia sendiri terbiasa untuk menahan tangis, jarang sekali menangis di pelukan orang lain.
"Uh… aku bikinkan susu hangat dulu ya?" kata Naruto, yang ingat kalau susu hangat itu bisa membantu menenangkan diri, ia tahu dari Sakura.
Tapi genggaman di jaketnya mengingatkan Naruto untuk tidak pergi, Naruto mengurungkan niatnya dan membuat kagebunshin untuk menggantikan tugasnya.
"Tunggu sebentar, nah begini lebih enak kan…," Naruto memindahkan posisinya agar ia bersandar pada dinding sementara Gaara masih membenamkan kepalanya ke bahunya.
Naruto masih bingung dengan sikap Gaara, tapi ia jadi ikut merasa sedih. Sebenarnya apa yang diimpikan Gaara sampai ketakutan seperti ini?
Apa karena ini Gaara jadi tak bisa tidur?
"Ne.., Gaara, sebenarnya kau mimpi apa? Bisa ceritakan padaku?" tanya Naruto lembut, sambil mengusap kepala Gaara.
Gaara terdiam, ia sudah lebih tenang dan isakannya sudah tidak terdengar. Perlahan Gaara menarik kepalanya kembali namun masih merunduk. Naruto menarik dagu Gaara agar istrinya itu mau menatapnya. Dilihatnya kedua mata Gaara yang sembab oleh air mata, Naruto menghapus bekas air mata di pipi Gaara dengan tangannya.
Namun sang istri masih bungkam, Naruto menghela napas.
Ia mendengar ketukan pintu dan pintu kamar terbuka memperlihatkan kagebunshinnya membawa segelas susu hangat. Ia segera menyodorkannya pada Naruto yang asli. Naruto mengedipkan matanya sebagai ucapan terima kasih dan kagebunshinnya pun menghilang.
"Ini, minum susu hangatnya dulu," bujuk Naruto. Gaara menerima segelas susu hangat tersebut dan meminumnya perlahan.
Naruto memandang Gaara yang tampak lebih tenang di pangkuannya.
"Sudah baikan?" tanya Naruto. Gaara mengangguk dengan sedikit semburat merah menghiasi pipinya.
"Terima kasih," ucapnya. Akhirnya ia bicara juga.
Gaara membiarkan kedua tangannya yang menggengam gelas itu bertumpu pada pangkuannya. Ia memandang ke bawah dengan raut wajah sedih dan terbebani, membuat Naruto kembali khawatir.
"Sebenarnya ada apa? Tolong ceritakan padaku," pinta Naruto mulai kehilangan kesabaran.
Gaara mendongak, menatap Naruto kemudian menunduk lagi.
"Aku… hanya bermimpi buruk…," gumam Gaara.
Hanya?
Naruto menghela napas, tidak mungkin "hanya" membuat Gaara tidak bisa tidur selama sebulan dan membuatnya kehilangan tenaga.
"Gaara…," gumam Naruto, sambil mengelus punggung Gaara. Ia ingin marah, tapi tahu bahwa ia tidak bisa marah pada Gaara sekarang.
Gaara menatap Naruto kemudian merasa bersalah.
"Baik… aku cerita, tapi kau jangan tertawa ya," ancam Gaara. Naruto mendengus, tak mungkin ia akan menertawakan hal seperti ini.
"Iya, aku tak akan tertawa," katanya.
Gaara menghela napas. Ia mencoba merangkai kata yang tepat untuk disampaikan pada Naruto.
"Aku bermimpi tentang bayi kita," Gaara mulai bercerita. Naruto mendengarkannya dengan seksama.
"Saat bayi kita lahir, terjadi perang hebat antara Suna dan Konoha, aku tidak mengerti kenapa tapi kau terbunuh," lanjut Gaara lagi. Mata Naruto membelalak mendengarnya. Ia memeluk Gaara perlahan karena istrinya mulai gemetaran lagi.
"Lalu, aku kesulitan membesarkan bayi kita seorang diri…, aku mencoba sebisaku tapi…," Gaara berhenti dan terisak, Naruto memejamkan matanya dan mengusap kepala Gaara. Dengan lembut tangannya menarik gelas dari tangan Gaara dan menaruhnya di meja di sebelah tempat tidur. Tangan Gaara segera menggenggam jaket Naruto.
"Aku tidak tahu… yang aku lihat selanjutnya bayi kita tumbuh kemudian ia berlumuran darah dengan mayat bergelimpangan di sekitarnya…," lanjut Gaara lagi dengan suaranya menjadi semakin kecil.
Dada Naruto berdebar mendengar cerita Gaara, berusaha membayangkan apa yang Gaara impikan. Rasanya sangat mengerikan sekali.
"Ia jadi sepertiku dulu, senang membunuh banyak orang… aku tak bisa menghentikannya, lalu akhirnya ia membunuhku juga…," Gaara menenggelamkan kepalanya ke pundak Naruto. Air matanya kembali mengalir deras.
Naruto mengusap punggung Gaara, berusaha menenangkannya. Ia mengerti sekarang, mimpi buruk Gaara sangat mengerikan. Lebih mengerikan dari yang pernah Naruto bayangkan selama ini.
Seakan itu adalah masa depan yang tengah menunggu mereka berdua.
"Tenanglah Gaara, itu cuma mimpi…," bisik Naruto pada Gaara.
"Ta.. tapi…," Gaara ingin protes. Ia sering bermimpi seperti itu, mimpinya tidak selalu sama, tapi selalu berakhir dengan anaknya tumbuh menjadi pembunuh.
"Ini karma… aku takut ia akan jadi pembunuh… sepertiku dulu…," lanjut Gaara sambil terisak. Naruto termangu mendengarnya.
Ia menelan kenyataan pahit itu. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya bila anaknya jadi seperti Gaara dulu. Ninja yang haus darah.
Naruto menghela napas, pertama ia harus tenang. Bila ia panik, siapa yang akan menenangkan Gaara?
"Kalau begitu… mau mendengarkan mimpiku?" tanya Naruto. Gaara mulai berhenti menangis dan menatap Naruto.
Wajahnya tampak bingung namun tidak terlihat penolakan di sana.
"Aku ya… aku pun sering bermimpi tentang bayi kita. Kau melahirkan bayi yang sehat, terkadang proses melahirkannya sangat mengerikan tapi aku tak tahu… yang aku tahu aku sudah menggendong seorang bayi mungil di tanganku. Rasanya seperti memandang seorang malaikat, aku sangat bahagia," cerita Naruto.
Gaara mendengarkannya dengan seksama.
"Kita berusaha membesarkannya berdua. Kadang kau marah padaku dan kita sering bertengkar tapi kita selalu berbaikan. Bayi kita tumbuh menjadi anak yang sehat dan lucu. Ia memanggilku 'Tou-san' dan kau 'Kaa-san'," lanjut Naruto.
"Memang sih… kadang kala, semuanya tidak selalu manis. Anak kita jinchuuriki, jadi ia tidak terlalu disukai penduduk desa. Ada saja masalah yang menghampiri kita sekeluarga, tapi semuanya bisa selesai," kata Naruto, ia mengusap wajah Gaara dan tersenyum.
"Mimpiku selalu seperti itu. Ada kalanya aku bermimpi buruk, misalnya kau meninggal saat melahirkan atau anak kita meninggal, tapi…," Naruto menghentikan perkataannya dan tersenyum sambil menyandarkan keningnya pada kening Gaara.
"Aku tahu, bayi kita akan tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat. Entah apapu yang terjadi, kau tahu kenapa?" tanya Naruto. Gaara hanya diam, Naruto pun tidak menantikan jawaban.
"Karena dia anak kita, Gaara," jawab Naruto. Mata Gaara membelalak mendengarnya.
"Aku tidak tahu apa yang akan ia alami, pastinya tidak mudah tapi.., aku yakin… ia akan bisa melewatinya, dengan ataupun tanpa bantuan kita," lanjut Naruto lagi.
"Tapi, mungkin kita bisa melihatnya tumbuh, dari anak-anak, hingga remaja, bahkan sampai bertemu orang yang ia cintai dan menikah," tambah Naruto lagi.
"Suatu hari ia akan membangun keluarganya sendiri, meninggalkan kita, tapi… kita masih memiliki satu sama lain," Naruto tersenyum melihat ekspresi Gaara semakin membaik.
"Bahkan mungkin kita bisa memiliki banyak cucu," tambah Naruto, membuat wajah Gaara sedikit merona.
"Dasar… bayi kita saja belum lahir," gerutu Gaara. Naruto justru senang mendengarnya, akhirnya Gaara kembali normal!
"Yah, iya sih…, tapi kan siapa tahu?" kata Naruto kemudian tertawa kecil. Gaara ikut tersenyum. Perlahan, tangannya mengelus daerah perutnya dengan penuh kasih sayang. Ia terkejut saat Naruto menaruh satu tangannya di atas tangannya dan bersama mengelus perutnya.
Naruto tersenyum merasakan adanya cakra lemah di bawah tangannya dan tangan Gaara. Masih lemah, tapi hidup. Membayangkan bayinya akan tumbuh berkembang dan lahir menjadi anak yang sehat membuat senyum Naruto makin mengembang.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi aku berjanji akan melindungi kalian berdua, sekuat tenagaku," kata Naruto sambil tersenyum. Gaara mengangguk dan bersandar pada dada Naruto.
"Terima kasih…," gumamnya kecil.
"Ha? Apa?" tanya Naruto, tidak mendengar.
Gaara sedikit kesal, ia menarik kerah jaket Naruto sedikit dan mengecup pipi suaminya itu.
"Terima kasih…, suamiku," katanya dengan wajah merah. Wajah Naruto pun memerah.
"Uh… ya… sama-sama," jawabnya canggung.
Ia menatap Gaara yang wajahnya semerah rambutnya dan tersenyum, ia mengecup kening Gaara dengan lembut.
"Ayo, Gaara, kau harus tidur," kata Naruto mengingatkan. Gaara mengangguk, dirinya sekarang merasa lelah dan mengantuk.
Ia merangkak ke dalam tempat tidur dan memandang Naruto.
"Mau… maukah kau menemaniku tidur?" tanyanya malu-malu, sebagian wajahnya tersembunyi di balik selimut.
Naruto tercengang sebentar dengan pipi kemerahan sebelum kemudian ia tersenyum dan mengangguk.
Ia melemparkan jaketnya dan dengan suka cita meringkuk bersama Gaara.
Ia menarik Gaara ke dalam pelukannya, Gaara kaget namun tidak protes.
"Tapi... awas ya, berani macam-macam, kulempar kau ke luar jendela," ancam Gaara, membuat Naruto bergidik.
"Iya, aku tak akan berbuat apa-apa," kata Naruto.
Mereka pun akhirnya tidur berpelukan berdua. Melupakan bahwa hari masih siang dan Tsunade hanya bersungut-sungut di luar sana karena Naruto tidak datang latihan.
IoI
Naruto memakan sarapan yang ada di depannya dengan lahap. Ia juga merasa bahagia karena sudah berhasil tidur sekamar, sekasur, bahkan berpelukan dengan Gaara. Ini merupakan kemajuan pesat dibandingkan sebelumnya dimana ia hanya berhasil mendapatkan ciuman sebelum terlempar ke dinding.
Gaara juga sudah menyiapkan sarapan spesial untuk Naruto. Ada tempura dan sup miso isi kerang, membuat Naruto makan lahap.
Gaara tersenyum membayangkan perkataan Naruto pada hari sebelumnya. Ia kira hanya ia yang mencoba untuk menjadi istri yang baik tapi,….
Naruto juga, ehem, suami yang baik…
"Gaara? Kau sakit? Pipimu merah tuh," kata Naruto, mulai khawatir lagi.
"Ah, tidak kok," kata Gaara, ia kemudian kembali makan.
Naruto merasa bingung namun memutuskan kembali makan.
"Oh ya, Naruto."
Naruto mendongak menatap Gaara yang semakin merah wajahnya.
"Aku… mulai hari ini… boleh sekamar denganmu?" tanyanya.
Naruto tercengang, tempura hanya tergantung di mulutnya. Ia kemudian tersentak dan buru-buru mengunyah tempura.
"Te-tentu saja boleh!" jawab Naruto riang, tak bisa menutupi kebahagiannya.
Gaara tersenyum lega dan kembali makan.
"Tapi, kau tidak boleh macam-macam ya, awas!" ancam Gaara, membuat Naruto ketakutan.
"Hii…. Iya Gaara!"
Tbc
Akhirnya… selesai juga chapter ini…
Gaara rada-rada OOC nih. Wajar, namanya juga hamil. Cewek aja kalau mau datang bulan, mood swingnya… suka rada-rada. Gimana kalau hamil? Wih…
Yah, gak semuanya mengalami mood swing juga sih, tergantung orangnya.
Ok, berhenti bacotnya, sekarang review please!
Review!
