Harry Potter itu adalah milik J.K. Rowling.
Semua juga tau
Chapter 07 –
Sudah 4 hari sejak sahabat-sahabatnya pulang ke Bulgaria, anehnya Eltanin merasa tidak terlalu kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan Hogwarts. Beruntung dia sekamar dengan Theodore Nott yang banyak membantunya. Selain PR yang menumpuk jelas kehidupan di Hogwarts tidaklah terlalu menyulitkan bahkan bisa dibilang menyenangkan. Dia akan langsung mengerjakan PR setelah diberikan karena menurutnya kalau dia menundanya dia akan kesulitan membagi waktunya.
Sayangnya dia bukan ibunya yang sangat suka membuat essai. Dia juga malas untuk menambahkan detail yang berlebihan yang penting semua pekerjaan rumahnya mendapat nilai 'O' dan waktu yang lain bisa dia gunakan untuk bermain atau membaca buku lain diluar pelajaran. Seperti sekarang, dia sudah sangat rindu udara bebas. Halaman Hogwarts jelas mengundang minat untuk menggunakan sapu kesayangannya.
"Hooouuuuuuuuuuuu"
"Ayo Albus!"
Baru kemarin Ayahnya mengirimkannya sapu "Nimbus 3000". Sebenarnya dia akan lebih senang kalau ayahnya mengirimkan Firebolt seri terbaru Blowingfire yang baru diluncurkan tahun ini tapi Nimbus 3000 ini juga sudah cukup. Ini adalah sapu kesayangnannya, satu-satunya sapu yang pernah dibelikan oleh ibunya. Mengingat harganya yang sangat mahal dan ibunya takut ketinggian, dia sempat tak yakin waktu ibunya membelikannya sapu terbang bahkan dengan pesanan khusus.
Tapi dia sangat bangga karena hanya dia dan sapu inilah yang pernah membawa ibunya terbang dalam kondisi normal, paman Harry bilang ibunya hanya pernah naik sapu saat keluar dari menyelamatkan batu bertuah dan paman ron pernah membuat ibu terbang saat keluar dari kamar kebutuhan, tapi selain itu tidak ada yang bisa membuat ibunya ikut terbang bahkan ayahnya yang atlet terkenal.
Waktu muda Ayahnya pemain Quidditch terkenal dan sekarang menjadi ketua organisasi Quidditch Internasional, jabatanya membuat semua perusahaan sapu selalu mengirimkan tipe sapu terbaru buatan mereka, rumah mereka hampir seperti musium sapu. Untung ayahnya selalu merawatnya dan menyimpanya dengan baik, semua orang yang datang pasti terkejut karena bahkan ayahnya masih menyimpan sapu panah perak seri terakhir dan masih bisa terbang dengan baik walaupun kecepatannya sudah tak bisa dibandingakan dengan sapu model sekarang.
Eltanin melakukan manuver yang cantik, memutar tajam dan terbang menuju Albus. Bahkan Firebolt Albus masih kalah dengan Nimbusnya. Tapi Eltanin mengakui dia akan kalah apabila melawan James atau Ivor, tapi lawan Albus? Dia belum pernah kalah.
"What? Apa yang kau lakukan?" kata Albus panik. Eltanin menyerigai kemudian membelokkan sapunya kekiri sebelum menabrak Albus dan berhenti di udara.
"Kau gila" kata Albus akhirnya bisa bernafas dengan benar.
"Hahaha, kau yang gila. Kau sekarang seeker, kau tidak bisa lagi kaget seperti itu. Kau masih harus belajar banyak dari James."
"Aku tau, sekarang aku pikir Chaser lebih menyenangkan."
"Ayo 10 putaran lagi, apa kau bisa mengalahkanku!" tantang Eltanin yang hanya dibalas senyum kecut Albus.
.
.
Scorpius berjalan menuju lapangan Quidditch, pertandingan pertama mereka akan melawan Hufflepuff sabtu besok. Tahun ini prospek memenangkan piala Quidditch cukup besar, karena juara bertahan Gryffindor kehilangan James Potter, dan Albus Chaser yang menjadi penyumbang angka terbanyak sebagai Chaser malah dijadikan Seeker. Scorpius sendiri berpikir itu keputusan yang kurang bijaksana.
Seperti biasanya Scorpius akan datang 30 menit sebelum latihan dimulai, dia lebih suka pemanasan dulu mengelilingi lapangan sendiri tanpa diganggu. Scorpius sedikit terkejut ketika dia mendengar suara dari lapangan, hari ini jelas adalah jadwal latihan tim Slytherin. Scorpius sudah akan menegur ketika dia melihat Lily Potter duduk di tempat duduk penonton tidak jauh dari pintu keluar lorong ruang ganti. Wajahnya berseri-seri melihat ke atas lapangan. Scorpius mengikuti arah pandangan Lily dan dia bisa melihat Eltanin dan Albus sedang adu balap di lapangan. Jelas Eltanin punya skill, dia hampir setengah lapangan menginggalkan Albus dibelakangnya.
Scorpius duduk di sebelah Lily. Dia mengurungkan niat untuk pemanasan awal yang biasa dia lakukan. "Sangat jarang aku melihatmu datang lebih awal."
"Oh, Scorp! Kau membuatku kaget. Hehehe. Aku hanya menemani mereka. El, baru menerima kiriman sapunya dari rumah," Jawab Lily kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke atas.
Scorpius memperhatikan Lily, Lily memang memiliki wajah yang sangat feminim dan rambut panjang merahnya yang tergerai indah membuatnya tampak anggun, tapi tingkahnya dan kata-katanya membuat siapapun akan bilang kalau dia tomboi, tapi tidak kali ini. ini sangat bukan Lily terlalu perempuan. Sepuluh menit kemudian dalam diam Theo datang dan duduk di sebelah Scorpius.
"Aku sangat menyayangkan dia tidak bisa bermain untuk Slytherin." Kata Theo memperhatikan Eltanin terbang.
"Walaupun dia bisa dan terbang dengan baik, dia tidak akan mau bermain untuk tim" kata Lily.
"Kenapa?"
"Karena dia hanya suka terbang, dia paling malas kalau harus latihan atau semacamnya. Makanya dia tidak bisa bermain sebagus James atau Ivor. Sangat disayangkan sebenarnya!"
"Benarkah? Aku heran kalau dia tidak begitu ambisius kenapa dia bisa masuk Slytherin" kata Theo lagi. Scorpius merasa risih ada di tengah-tengah mereka dan tidak tau harus ikut atau tidak dalam pembicaraan ini, karena mereka membicarakan hal yang dia tidak ketahui (Kenal).
"Oh, dia sangat ambisius. Tapi tidak dalam Quidditch, dia selalu yang pertama bisa melakukan teknik yang diajarkan ayahnya. Lihat dia bahkan menang adu balap dengan Albus walaupun menggunakan Nimbus lamanya" jawab Lily. "Hanya saja dia lebih berambisi dengan buku."
"Apa dia sekutu buku itu?"
"Sangat, tidak heran melihat ibunya. Oh, dirumahnya ada perpustakan pribadi. Kau tidak bisa mengganggunya kalau sudah masuk ke sana terlebih kalau bersama dengan bibi Hermione. Mereka seperti berada di dunia yang berbeda."
"Oh... betul betul, aku kemarin menemaninya ke perpustakaan, tak bisa kulihat ekspesi yang seperti itu" kata Theo. 'aneh' pikir Scorpius, Theo tidak pernah kehilangan sikap coolnya. Diantara mereka Theo yang paling pendiam. Yah mungkin akhirnya dia menemukan orang yang hampir sama dengannya sekarang 'kutubuku'.
"Ya, ekpresi seperti keranjingan. Dia paling tampan kalau sudah duduk dan membaca buku" kata Lily tersipu. Entah kenapa Scorpius merasa tidak suka melihatnya. Tidak lama setelah itu Eltanin dan Albus terbang turun kebawah kearah mereka.
"Oh, Eltan. Mencoba lapangan indah Hogwarts?" tanya Theo.
"Ya, cukup menyenangkan. Tapi Drumstang punya lapangan dan halaman yang lebih luas, kami bisa terbang bebas, ya tapi castil kalian lebih besar" jawab Eltanin.
"Kalian akan latihan?" tanya Albus.
"Ia. Dan jangan coba-coba mengintip taktik kami" jawab Scorpius dingin.
"Aku juga tak berminat" jawab Albus mengejek.
"El, katanya kau akan mengajakku terbang dengan sapumu?" kata Lily.
"Hem, ya, tapi aku tak tau kalau ayahku akan mengirimkan sapu yang ini." Eltanin menunjuk Nimbus 3000 yang dipegangnya.
"Memang kenapa?"
"Ini satu-satunya sapu yang pernah dibelikan ibuku, dibuat dengan pesanan khusus, lihat ada namaku disini" kata Eltanin menunjukan tulisan namanya yang ditulis dengan cat emas. "Hanya ibuku yang aku izinkan untuk terbang bersamaku dengan sapu ini."
"Oh, kalau aku tak melihatmu kemarin melirik Leila Turpin, aku akan bilang kau terobsesi oleh ibumu" kata Theo mengejek.
"Sialan" ucap Eltanin. Melihat Lily masih cemberut. "Baiklah tapi pakai sapumu saja" kata Eltanin mengambil sapu yang dipegang Lily. "Kau pakai Firebolt Blowingfire?" kata Eltanin terkejut, ini seri terbaru Firebolt yang ingin dicobanya.
"Iya. Ayah memberikan padaku karena aku masuk tim."
"Kau chaser Lily! Kau akan sulit bermanuver kalau menggunakan ini. ini lebih cocok untuk seeker."
"Oh, katakan itu padanya El, biar tukar denganku." Albus menunjukkan Firebolt maximum miliknya. 'Sepertinya paman Harry terobsesi oleh Firebolt, semua anaknya menggunakan Firebolt' pikir Eltanin
"Benarkah? Ayah tadinya akan memberikannya pada James tapi entah kenapa malah diberikan padaku. Tapi aku tak mau kalau harus tukar dengan Albus." Albus sudah melotot kepada adiknya itu.
"Tidak sebelum aku mencobanya, ayo!" Eltanin mengambil sapu Lily dan menaikinya, dan Lily mengekornya. Melingkarkan lengannya di pinggang Eltanin. "Siap" hanya dibalas angukan oleh Lily dan mereka terbang ke udara bebas.
Albus duduk dengan cangung dengan dua Slytherin itu, 'sial Lily kenapa kau meninggalkan aku bersama ular-ular ini' pikirnya. Tidak ada satupun dari mereka yang akan memecah keheningan ini. malah parahnya Simone Zabini dan sisa anggota tim Quidditch Slytherin sudah mulai datang dan berjalan kearah mereka. 'Oh, aku seperti tikus saja. Mana keberanian Gryffindormu Albus Potter' batin Albus.
"Potter?" sapa Simone mengejek, tapi tak bisa menutupi keterkejutannya.
"Zabini."
"Sedang apa kau disini. Sepertinya aku sudah menjadwalkan kalau Slytherin yang akan latihan hari ini?" kata Simone kasar.
"Oh, tenang saja. Aku juga tak berminat mengintip kalian." Kata Albus dingin dan menunjuk ke atas berharap jawabannya cukup. Simone mengarahkan pandangannya ke arah Lily dan Eltanin.
"Lily. Turun sekarang!" teriak Simone. Simone sebenarnya tidak terlalu galak, bahkan, dia yang paling lucu diantara slytherin tapi untuk menjaga reputasinya di depan Gryffindor dia harus sedikit berakting. Lily dan Eltanin turun kearah mereka dengan senyum merekah, sebelum akhirnya menyadari aura yang tidak menyenangkan.
"Kita sudah akan memulai latihan. Kau tidak bisa seenaknya berkencan seperti ini."
"Maaf, aku hanya terbang sekalian menunggu kalian. Dan aku tidak berkencang. Aku Cuma .."
"Terserah. Setidaknya kau tidak membawa orang lain saat latihan. Terutama kakak tersayangmu ini."
"Hey,.." albus sudah akan menjawab namun disela oleh Eltanin. "Maaf aku hanya mencoba sapuku. Aku tak tau jadwal tim kalian akan latihan. Sekarang kami akan pergi." Kata Eltanin mengembalikan sapu Lily dan mengambil sapunya kemudian berjalan keluar lapangan sambil menyeret Albus "Ayo kita harus menengok Hagrid."
"Aku permisi dulu" kata Lily setelah Eltanin dan Albus keluar Stadium Quidditch.
"Oi!" teriak Simone. "Dasar cewek."
"Aku mau ke kamar mandi dulu." Scorpius berjalan kearah kamar ganti.
"Kenapa lagi dia" tanya Simone lugu. Theo hanya bisa geleng-geleng kepala, kenapa dia punya teman tidak peka seperti Simone, aneh mengingat neneknya punya 7 suami, seharusnya pengetahuan tentang hormon anak muda diajarkan padanya. "Kau tak perlu seperti itu Simone, aku sudah disini dari tadi, dan mereka hanya terbang" kata Theo.
"Oh, hanya sedikit pertunjukan Theo, untuk Gryffindor kecil kita" Jawab Simone santai. Theo hanya mengelengkan kepalanya mengambil sapunya dan terbang ke udara bebas.
.
.
Scorpius menunggu di depan pintu kamar mandi. Sudah 5 menit dia menunggu di sana. Dia tau Lily ada di dalam, masalahnya Scorpius tidak tau harus berbuat apa. Akhirnya dia megetuk pintu.
"Kau mau berapa lama di dalam situ?" teriak Scorpius.
Lily membuka pintu kamar mandi. Terlihat matanya sedikit merah. "Maaf"
"Cepatlah, latihan sudah dimulai."
"Kau kenapa?"
"Scorp, menurutmu bagaimana kalau aku ganti rambutku menjadi coklat?" scorpius kaget mendengar pertanyaan aneh Lily.
"Tidak perlu. Kau cantik seperti ini Lily!" Lily tersenyum lembut. "Thanks" Mau tak mau Lily senang mendengar jawban Scorpius, tak ada yang bilang dia cantik, mungkin karena terlalu takut. Kakaknya selalu bilang bahwa dia terlalu galak.
"Kau tidak mau menggunakan kamar mandi?" tanya Lily heran karena Scorpius ikut berjalan di belakangnya.
"Oh, iya!" Scorpius membalikkan badannya. "Lily!" pangilnya, memberikan coklat kodok yang dia buka "Makanlah, kalau kau pingsan akan menyusahkan yang lain."
"Terima kasih" jawab Lily.
Scorpius menghela nafas setelah menutup pintu kamar mandi. Dia melihat kartu coklat kodok yang ada di tangannya "Coklat" katanya lirih memandang gambar penyihir wanita cantik berambut coklat ikal yang sedikit berantakan, penyihir itu mendekap tangan di dadanya, tersenyum kecil hampir mengejek.
.
.
Makan malam keluarga Malfoy selalu seperti ini, hening. Sangat jarang ada pembicaraan dimeja makan. Mereka akan duduk dan makan dalam diam.
"Draco, bisa kau temani aku minum teh sehabis ini". Draco mengangkat wajahnya, Astoria menatapnya penuh tanda tanya.
"Ya, Mother." Temani minum teh berarti versi anggun dari 'aku mau bicara padamu' kalau itu diucapkan oleh Narcissa Malfoy. dia tak tahan melihat sikap anaknya yang belakangan tak bisa ditebak. Terkadang dia melihat anak semata wayangnya hanya tersenyum-senyum di ruang kerjanya atau melamun ketika membaca buku tanpa membuka halaman selama satu jam. Sampai pagi ini dia melihat berita di daily Prophet tentang turnamen Triwizard dengan gambar 3 pemuda. Salah satunya adalah Scorpius cucu kebanggaanya. Namun satu diantara yang lain jelas menarik perhatiannya wajah pemuda itu jelas adalah wajah 'Draco' muda. dan saat dia membaca berita yang menyertai gambar itu jelas disebutkan kalau salah satu juara sekolah adalah Eltanin Krum nama yang dia lihat diperkamen tua silsilah keluarga Malfoy. Mau tak mau Narsicca berpikir tentang cucunya yang lain.
Dari beranda teras lantai dua Narcissa bisa melihat pekarangan belakang yang bertabur bunga, hasil kerja kerasnya merenovasi Manor paska perang. Bisa dibilang dia sangat berhasil, manor tampak jauh lebih indah dan menyenangkan, tidak ada kesan angker dan menyeramkan lagi. Dan Draco sudah mengecat ulang seisi rumah.
"Mother."
"Duduklah" Narcissa mengecap tehnya. "Jelaskan padaku son, tentang cucuku yang lain"
"Mom!" Draco akan memanggilnya 'Mom' kalau sedang mengalami masalah yang berat.
"Kau tak bisa menghindar lagi, aku melihatnya di koran pagi ini." Draco hanya diam saja.
"My Draco." Draco menatapnya, ada senyum kecil diwajah tampannya.
"Kau akan lebih terkejut kalau melihatnya langsung. Dia punya mata yang sama denganku. Dan rambutnyapun warnanya sama." Kata Draco lembut. Narcissa bisa melihat kerinduan dimata anaknya.
"Aku ingin sekali memeluknya ketika pertama aku melihatnya. Tapi ternyata tidak Mom" lanjut Draco sedih.
"Son" lirih Narsicca melihat anaknya. Dia tak pernah melihat putranya rapuh seperti ini
"Hermione. Aku selalu mengaguminya Mom, sadar atau tidak dia selalu mearik perhatianku. Dia selalu menjadi nomor satu dikelas, dia memiliki apa yang tak penah aku miliki keberanian, kepintaran dan kemuliaan. Aku sendiri heran kenapa dia tak ditempatkan di Slytherin." "ah ya keberanian" katanya tanpa sadar. "Aku tak pernah punya kesempatan untuk berteman dengannya karena selalu ada bodyguard disekelilingnya. Bodyguard yang akan mengutukku kalau aku berani menyentuhnya" kata Draco tersenyum kecil mengenang Hermione 'Mengenangmu saja begitu indah Hermione' batinnya.
"Tapi setelah aku kembali pada tahun ketujuhku setelah perang, aku bertemu lagi dengannya tanpa dua pengawal kecilnya. Awalnya kami sangat cangung, aku selalu mengejeknya sebelumnya. Saat itu Hogwarts tidak bersahabat denganku, murid-murid yang lain menjauhiku Slytherin dan asrama yang lain karena aku bukan hanya anak pelahap maut, tapi aku adalah pelahap maut" lanjut Draco.
"Son," Narsicca mengusap tangan anaknya.
"Aku akhirnya bisa mengenalnya Mom, dan aku merasa bahwa aku menyiayiakan waktuku bertahun-tahun untuk mengejeknya. Kami selalu belajar bersama di Perpustakan, bahkan aku sangat nyaman walaupun kami hanya duduk bersama dalam diam membaca buku. Kami banyak berdebat konyol dalam segala hal, tapi pada akhirnya kami tertawa sesudahnya.
Namun diluar itu semua hari-hariku di Hogwarts bagaikan di neraka. Aku harus selalu siaga karena takut mereka mengutukku. Sampai pada tahun baru setelah liburan natal aku bertunangan dengan Astoria. Aku tau alasanmu dan ayah untuk bertunangan dengan Astoria. Dia adalah asuransi hidupku untuk bertahan, tak ada yang berani untuk mengutukku setidaknya untuk para Slyhterin, dan itu cukup membuatku memiliki sedikit ruang di ruang rekreasi Slytherin. Lama kelamaan aku mereka bisa menerimaku lagi dan aku bisa bicara normal dengan Theo dan Blaise tanpa mereka sembunyi-sembunyi lagi. Tapi pertunanganku membuat hubunganku dengannya menjauh. Aku menyadari bahwa aku kehilangannya.
Sampai dua bulan sebelum aku lulus dari Hogwarts aku melihatnya menangis di tepi danau. Aku duduk disampingnya hampir satu jam sampai akhirnya dia bicara, dia bilang bahwa dia putus dengan Weasley. Aku pikir dia sedih karena hubungan dengan Weasley kandas, tapi dia bilang bahwa dialah yang memutuskan Weasley, dia tak mau menyakitinya lagi karena dia memiliki perasaan dengan orang lain. Aku tak benani menanyakannya siapa 'orang lain itu' karena aku tak yakin bahwa itu aku.
Hubungan kami mulai membaik, kami sering menghabiskan waktu besama seperti sebelumnya. Kami tidak pernah benar-benar menyatakan perasaan kami. Kami bersama dengan sendirinya, seperti memang sudah seharusnya. Setiap momen yang kami lalui seperti mengalir apa adanya. Selalu indah dan menyenangkan namun juga menyedihkan karena mungkin tak ada hari esok. Kami sering berkencan di dunia muggle, aku ingat waktu pertama kali naik kereta bawah tanah dia menyeretku waktu aku kebingungan melewati palang karcis.
Sampai pada suatu hari kami membuat kesepakatan bahwa kami tak boleh minta maaf atas apa yang mungkin akan kita lakukan dikemudian hari. Mungkin karena dia sadar bahwa aku bertunangan dengan Astoria dan aku takut menanyakan tentang 'pria itu', aku takut jawabnya bahwa pria itu bukanlah aku. Sampai kami berpisah dua hari sebelum hari pernikahanku" Narsicca mendekap mulutnya.
"Aku pikir semua akan baik-baik saja, aku tak pernah menemuinya setelahnya. Kami bertemu untuk urusan pekerjaan. tapi sebulan kemudian aku membaca berita bahwa dia akan menikah dengan Krum. Duniaku bagaikan runtuh seketika. Aku tak mempercayainya begitu saja. Aku mencarinya menuntut jawaban. Aku tak bisa melihatnya bersama yang lain. Tapi dia bilang bahwa dia mencintai krum. Kata-kata yang tak pernah dia ungkapkan padaku, dan aku juga tak pernah mengatakan kepadanya." Tanpa sadar air mata Draco meneteskan air mata.
"Apa kau mencintainya son?"
"Sangat. Aku mencintainya Mom, tapi aku tak pernah mengatakan padanya. Mom tau, semua wanita yang aku temui pasti mengagumi mataku atau rambutku, tapi Hermione berbeda. Dia menyukai lukaku" kata Draco menujuk bekas luka panjang tipis dari rahang sebelah kiri ke leher bagian belakang "Dia bilang sangat cantik." Narsicca tersenyum melihat anaknya, dia menyadari bahwa anaknya tidak bernah memanjangkan rambutnya lagi setelah lulus dari Hogwarts, padahal potongan rambutnya yang pendek mengekspos bekas luka yang ada di lehernya.
"Tapi dia mencintai orang lain."
"Ya, awalnya aku percaya dia mencintai Krum. Tapi setelah aku pikir itu tak mungkin. Setahuku dia bertemu Krum kurang dari 2 bulan sebelum pernikahanya, tepatnya 1 minggu selemum pernikahku. Setelah pernikahanya aku mencarinya, tapi dia langsung pindah ke Bulgaria. Aku kehilangan jejaknya. Aku berusaha mencariya, sampai 4 tahun setelahnya aku bertemu dengannya lagi. Aku melihat dia menggandeng anak kecil, aku tak bisa melihat wajah anak itu dengan jelas, tapi aku melihat rambutnya berwarna hitam, aku mengurung niatku untuk menemuinya. Aku sudah berpikir bahwa dia sudah bahagia. Dan aku berusaha untuk melanjutkan hidupku."
"Bagaimana bisa son? Kau bilang anak itu berambut pirang platinum sepertimu."
"Itulah Mom yang membuatku bingung. Hermione adalah orang yang sangat rasional. Dia tak mungkin melakukan sesuatu tanpa alasan. Dan fakta bahwa dia menyembunyikan anakku..."
"Bawalah cucuku kesini son. Aku ingin bertemu dengannya."
"Pasti Mom, kau pasti akan menyukainya" jawab Draco tersenyum.
Tanpa sepengetahuan mereka Astoria menangis dalam diam di sudut ruangan.
_TBC_
Oh, apakah masih ada yang menantikan cerita ini?
Sedikit cerita dari Draco. I hope, all of you like it.
thanks for reviewnya membangkitkan semangat untuk terus menulis.
