Taeyong sempat mengalami insomnia dalam beberapa jam pada malam tadi. Kedua matanya akan terpejam dalam hitungan detik, tapi akan kembali terbuka dengan cepat. Semua orang sudah benar-benar tidur, Yuta dan juga Ten bahkan dengan sangat leluasanya mendengkur keras hingga terdengar ke tenda tetangga, lalu Taeyong masih tetap membuka kedua matanya. Senyap, suara dengkuran dan suara ombak dari tepi pantai bergabung menjadi satu, menciptakan keributan tersendiri yang lumayan mengusik ketenangan. Kedua telinga Taeyong bahkan sampai harus disumpal dengan headset untuk meredam suara sekaligus membuatnya tertidur, tapi nyatanya Taeyong tak bisa tidur semudah itu.

Ada banyak hal yang mengganggu pikirannya, termasuk tentang segala sesuatu yang sempat terjadi antara Jaehyun dan juga Taeyong diluar sana. Perkataan Jaehyun yang mengungkap semuanya membuat Taeyong sedikit merasa senang. Sedikit? Ya, sedikit. Entahlah, hanya saja rasa senangnya jauh lebih sedikit ketimbang rasa kecewanya selama ini. Ada beberapa asumsi yang bisa dibilang benar. Pertama, Jaehyun memang tak menyukainya sejak beberapa tahun yang lalu, maka dari itu hanya Taeyong saja yang berusaha sendirian. Kedua, Jaehyun memang berusaha untuk membuat Taeyong menjauh dengan cara mendekati Doyoung ataupun melakukan banyak hal yang akan menyakiti Taeyong. Bisa dibilang setiap kali Taeyong berusaha untuk lebih dekat dengan Jaehyun, maka Jaehyun akan semakin menjauhi Taeyong setiap harinya.

Taeyong tak bisa jelaskan semuanya, yang jelas hampir semua asumsi Taeyong mengenai sikap Jaehyun selama ini tak meleset dari tebakannya. 10 jam setelahnya, semua orang telah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sekedar bersantai dipinggir pantai atau mungkin sibuk bermain kesana-kemari. Keadaan laut sedang bagus, tak ada ombak besar ataupun angin kencang. Hanya saja situasinya sedikit kurang bagus menurut Taeyong sendiri.

Doyoung datang entah darimana dan bagaimana caranya dengan beberapa makanan dan juga buah-buahan segar ditengah suasana panas seperti sekarang. Semua orang sedang sibuk dibelakang sana untuk meminta bagian masing-masing, tapi Taeyong hanya diam. Duduk di atas batang kayu yang tak jauh dari posisi perkemahan sambil menatap lurus ke arah laut biru dihadapannya.

"Aku bawakan es buah untukmu, ambilah.."

Suara bass milik Johnny terdengar dari samping tubuhnya. Segelas es buah ditangan besar itu juga telah disodorkan dihadapan Taeyong, lalu Taeyong segera mengangkat kepalanya dengan cepat sambil menerima es buah yang sengaja Johnny bawakan untuknya.

"Terima kasih John.."

"Terima kasih kembali untukmu Tae. Harinya sedang terik, dan kebetulan Doyoung bawakan buah-buahan segar."

"Yang lain ada dimana?"

"Dibelakang, mereka sibuk sendiri. Jadi jangan diganggu, kalau mereka sibuk sendiri, kita juga bisa cari kesibukan lain kan? Hei, mau jalan-jalan kesana?"

"Huh?"

Manik hitam milik Taeyong langsung mengikuti arah jari telunjuk Johnny yang mengacung ke arah barat. Hamparan pasir putih terlihat jelas, ada beberapa orang yang juga sedang bermain disana, Haechan dan juga Mark ada disana, saling kejar mengejar disepanjang garis pantai dengan ombak yang cukup kecil itu.

"Kesana?"

"Kau tidak mau?"

Taeyong menaikan pandangannya, menatap lurus ke arah Johnny dengan mata semakin membesar. Bibir cherry itu bungkam, tak bicara barang satu kata pun, hanya saja pikirannya melayang ke arah lain. Pikirannya berputar mundur, 2 hari yang lalu, adik laki-lakinya itu sempat bicarakan sesuatu sepulang sekolah.

.

.

-Flashback On

Tok Tok!

"Hyung, aku pulang..."

Suara ketukan pintu diiringi dengan munculnya suara Mark terdengar jelas disegala penjuru ruangan. Masih dengan seragam sekolahnya, lelaki kurus tinggi itu langsung bergerak melepaskan kedua sepatunya secara bergantian lalu meletakannya di rak sepatu seperti biasanya. Surai hitam miliknya di usak kasar, helaan nafas panjang itu kemudian Mark hembuskan perlahan. Kedua kakinya langsung melangkah masuk kedalam rumah, televisi menyala, tapi Taeyong tak ada disana untuk menonton siaran. Hal seperti ini sudah biasa untuk dilihat, kakak laki-lakinya itu sering menyalakan televisi dengan volume keras tapi Taeyong sendiri jarang untuk menonton televisi. Bukan karena Taeyong ingin memboros listrik, tapi Taeyong melakukan itu karena ia takut berada dirumah sendirian dengan suasana sepi.

Hyung-nya itu memang penakut, takut sendirian dan juga takut semua yang berbau horor, berbanding terbalik dengan Mark yang bisa dibilang jauh lebih berani dibanding Taeyong. Mark juga pernah dengar dari Taeyong, sekitar beberapa tahun yang lalu Taeyong pernah mengalami kejadian menyeramkan sewaktu mereka masih tinggal dikanada. Dirumah baru, dan kebetulan saat itu Taeyong dan Mark hanya berdua didalam rumah, sedangkan orang tuanya sedang pergi keluar untuk beberapa urusan.

Dijendela kamar Taeyong, ada suara ketukan 3 kali dan terdengar keras, padahal tidak ada siapapun disana. Taeyong bahkan sampai berteriak untuk bertanya pada Mark, tapi anak itu tak tahu apapun. Ketukan dijendelanya terdengar lagi, tapi tetap tak ada siapapun, bahkan jendela kamarnya berhadapan langsung dengan pagar tembok rumahnya, jadi mana mungkin ada orang yang masuk lewat jalan kecil dilingkungan rumahnya. Lalu Taeyong keluar kamar, kembali bertanya pada Mark lalu setelah itu ia kembali, suara jendela yang diketuk dari arah luar, lalu suara seperti lemparan kerikil ke kaca jendelanya selama tiga kali, dan kemudian suara jendela yang berderit, menandakan kalau jendelanya terbuka begitu saja padahal Taeyong benar-benar bersumpah kalau ia telah mengunci jendelanya. Itu hal menakutkan yang paling tidak bisa Taeyong lupakan sampai sekarang, maka dari itu Taeyong terlalu takut dengan hal-hal berbau horor atau sejenisnya. /berdasarkan kisah nyata/

"Mark, ini sudah sangat sore dan kau baru pulang?"

Suara khas Taeyong yang muncul tiba-tiba mengejutkan Mark yang bahkan baru akan menginjakan kakinya pada anak tangga pertama. Lelaki bertubuh kecil itu menatap lurus dari lantai atas sambil berkacak pinggang, surai hitamnya masih lumayan basah dengan handuk yang tersampir pada bahu kirinya.

"Aku habis pergi dengan Haechan, maaf.."

"Kau pergi? Dengan Haechan? Kemana? Kenapa tidak minta izin?"

"Kami cuma ke taman kota saja, tadinya Haechan sudah bilang agar aku minta izin dulu, tapi aku pikir itu tidak perlu jadi aku tidak minta izin."

"Mark.. Lain kali minta izin dulu, tidak masalah kau mau pergi kemana saja selama kau tidak pergi ke tempat terlarang dan minta izin dulu. Kau juga bersama Haechan, kalau sesuatu terjadi maka bukan Haechan yang disalahkan, tapi kau sendiri. Paham?!"

"Ahaaa.. Aku paham, Taeyong Hyung jangan adukan ini pada Ibu atau Ayah, nanti mereka bisa marah juga."

"Kau tahu kalau Hyung-mu ini bukan orang yang suka mengadu kan? Tenang saja, aku tidak akan mengadukan ini asalkam lain kali kau minta izin. Cepat mandi, aku akan siapkan makan malam."


"Mark, ayo makan."

"Hyung makan duluan saja, nanti aku menyusul!"

Suara teriakan lantai atas terdengar jelas dari tempat Taeyong berdiri. Kepalanya masih mendongak ke atas, menatap lurus ke arah pintu kamar pribadi milik adik laki-lakinya itu dengan kening mengernyit. Mulai berasumsi dengan banyak hal, menebak-nebak sesuatu, lalu Taeyong menarik nafas panjang. Mark tak biasanya bersikap seperti sekarang, biasanya anak itu akan makan segera tanpa menunda-nunda seperti sekarang.

Kedua kakinya mengambil langkah untuk pergi ke kamar Mark secara langsung. Menaiki satu persatu anak tangga lalu terhenti persis didepan pintu kamar yang tertutup rapat itu.

"Mark?"

Tapi tak ada respon sedikitpun, lagi-lagi keningnya mengernyit dengan cepat lalu Taeyong kembali memanggil Mark dari luar kamar, namun hasilnya sama. Sebelah tangannya bergerak ke arah knop pintu, membukanya perlahan hingga keadaan kamar Mark yang lumayan berantakan itu sedikit demi sedikit terlihat dari luar kamar. Tak ada Mark, kamarnya kosong, sedangkan Taeyong langsung menyimpulkan kalau Mark sedang ada dikamar mandi karena suara shower yang menyala itu terdengar jelas.

'Aku sudah menyuruhnya mandi sejak tadi tapi dia baru mandi sekarang..'

Satu tarikan nafas panjang, lalu Taeyong mendekat ke arah ranjang yang bisa dibilang kelewat berantakan dibandingkan properti lain yang ada dikamar milik Mark. Mendudukan bokongnya di atas ranjang empuk berukuran king size itu, ponsel Mark ada disana, lalu seragam sekolahnya juga tergeletak tak berdosa.

"Mark, aku sudah sering bilang padamu untuk menggantung seragam dilemari kan?"

Taeyong mendesah kacau, surai hitamnya diusak dengan keras lalu kedua tangannya sempat ingin meletakan seragam sekolah Mark pada tempatnya, tapi suara getaran ponsel milik adik laki-lakinya itu menghentikan semuanya. Taeyong kelewat penasaran, bahkan seragam milik Mark kembali dihempaskan di atas ranjang lalu Taeyong langsung mengambil ponsel milik Mark. Mulai mengotak-atik sedikit lalu Taeyong sedikit terkejut. Kedua manik hitamnya sempat membulat hanya karena lockscreen ponsel adiknya itu adalah foto individu Haechan saat duduk didalam bus.

"Haechan?"

Lalu wallpaper ponsel Mark juga tak jauh berbeda. Satu orang yang sama dengan pose berbeda lagi-lagi terpampang pada layar ponsel milik Mark. Heol, apa adiknya ini juga punya obsesi khusus pada Haechan?

"Sunshine?! Maksudnya Haechan?! Nama kontaknya sedikit aneh"

From: Sunshine

Ya.. Aku baru saja selesai, Mark Hyung bagaimana?

"Selesai apa?"

Ibu jarinya mulai sibuk bergerak men-scroll pesan-pesan sebelumnya yang saling dikirimkan Mark dan Haechan entah sejak kapan. Ada beberapa fakta menarik yang terkuak, salah satunya adalah tentang siapa yang pertama kali mengirim pesan. Ada beberapa pesan yang isinya adalah rayuan konyol dari Mark, dan juga beberapa pesan yang bisa dibilang manis.

Heung... Apa mungkin?

"Hyung! Ponselku!"

Lalu suara teriakan Mark tiba-tiba saja memenuhi seluruh penjuru kamar bahkan hingga membuat Taeyong tersentak keras. Sosok bertubuh tinggu itu langsung melompat ke atas ranjang sambil merebut ponselnya dari tangan Taeyong lalu memeriksa dengan wajah tegang yang terlalu jelas.

"Mark, kau mengagetkanku bodoh!"

"Hyung lihat apa, kenapa Hyung tidak ketuk dulu pintunya? Kenapa Hyung ambil ponselku? Apa saja yang Hyung lihat? Hyung~!"

Taeyong bahkan bingung dengan ekspresi Mark sekarang. Ia dijejali berbagai macam pertanyaan dan nada bicaranya terdengar kesal, hanya saja ekspresi wajahnya kurang mendukung.

"Taeyong Hyung lihat pesanku kan? Ahhh Hyung! Kau.. Ugh!"

"Memang kenapa? Salah?"

"Tentu saja salah.. Taeyong Hyung salah.. Salah..."

"Serahasia itu kah?"

"Tentu saja rahasia, semua orang punya rahasia masing-masing kan? Dan Hyung mengintip rahasiaku.."

Nada bicaranya sedikit meninggi, tapi Taeyong terlihat biasa saja. Mark bahkan sudah kesal sejak tadi, tapi suara rengekan yang terkadang terdengar itu membuat Taeyong berpikir kalau Mark sedang tidak marah padanya. Terkesan cute? Ya begitu..

"Dan kau tidak pernah membagi rahasiamu yang satu ini?"

"Rahasia apa?"

"Kalau kau suka Haechan.. Apa aku benar? Iya kan?"

Kedua pipi tirus itu langsung bersemu, manik hitamnya membulat dengan cepat, meninggalkan kesan cute yang semakin menjadi. Mark tak merespon, hanya bungkam dan sibuk menahan nafas.

"Ti-tidak..."

"Katakan saja iya apa susahnya Mark? Aku ini Hyung-mu"

"Aku bilang tidak.. Hyung saja yang sok tahu.."

"Jadi kau tidak suka Haechan? Yang benar?"

"Huh?"

"Mark, dengarkan aku ya. Kalau kau memang suka dengan Haechan maka katakan saja, jangan diam seperti pengecut. Tunjukan pada Haechan kalau kau memang menyukainya, jangan hanya diam lalu membuat Haechan berpikir yang sebaliknya. Kalau kau sangat menyukai Haechan, coba katakan langsung, kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah itu, tapi asal kita berani mencoba maka kita bisa tahu hasilnya langsung daripada terus menebak kan?"

"Taeyong Hyung bicara apa sih?"

"Katakan pada Haechan soal ini dan kita lihat apa hasilnya. Cobalah sedikit, jangan pikirkan hasilnya. Kalau kau sudah mencoba paling tidak kau bisa tahu jawaban dari Haechan secara langsung daripada banyak berasumsi yang aneh-aneh."

"A-aku?! Katakan perasaanku?! Maksudnya aku— aku.."

"Mark, kau sudah besar. Jadi aku yakin kau tahu apa maksud perkataanku tadi."

Mark memang kurang yakin dengan ucapan Taeyong yang bisa dibilang menyuruhnya untuk menembak Haechan secara langsung. Taeyong juga benar, selama ini Mark lebih banyak berasumsi yang bahkan belum tentu benar. Apakah Haechan juga menyukainya? Apakah Haechan menyukai orang lain? Apakah Haechan akan menerimanya kalau nanti ia menyatakan perasaan?

Tapi sekali lagi Mark katakan kalau ia tak bisa tahu jawaban yang sebenarnya. Dan lagi-lagi Taeyong benar. Kalau seandainya ia mencoba maka dengan begitu Mark tidak perlu banyak berasumsi kan? Dan memang benar, jawabannya memang sangat penting. Asal ia mencoba dan tidak perlu memikirkan respon yang akan Haechan berikan. Setidaknya Mark masih perlu mengumpulkan nyali untuk melakukan semuanya.

Lalu beberapa hari setelah itu, atau lebih tepatnya satu hari sebelum keberangkatan untuk perkemahan, Mark sudah ambil keputusan. Setelah berpikir panjang dan juga mengumpulkan nyali, berkonsultasi dengan Taeyong sebentar, Mark berpikir kalau hari ini adalah waktu yang pas. Semua orang akan sibuk sendiri, lalu Haechan sudah dipastikan hanya akan bermain dengan Mark disepanjang pantai.

"Hyung, doakan aku.."

"Hyung, tanganku dingin.. Bagaimana ini, aku gugup."

Itu kata-kata terakhir sebelum Mark memutuskan untuk pergi berdua dengan Haechan, memisahkan diri dari yang lain agar ia bisa fokus.

Fokus untuk menjadikan Haechan sebagai kekasihnya.

-Flashback Off

.

.

Maka dari itu Taeyong tak mau mengganggu konsentrasi Mark, karena akibatnya akan buruk dan juga sedikit fatal. Kalau Johnny sampai pergi kesana, kemungkinan rencana yang telah Mark siapkan agal kacau. Taeyong akui kalau tempat yang Johnny barusan memang terlihat cukup bagus, hanya saja ada Mark dan juga Haechan, jadi Taeyong lebih memilih untuk pergi ketempat lain asalkan tidak mendekat kesana.

"Ayo..."

Uluran tangan Johnny langsung terbuka dihadapannya, seolah meminta Taeyong untuk memberikan sambutan hangat dengan menerima uluran tangan dari Johnny. Kepala Taeyong mendongak, kedua matanya mengerjap dengan cepat, lalu ia menahan nafas sejenak sebelum akhirnya memberikan sebuah gelengan pelan.

"Kenapa?"

"Ah.. Itu.. Kita ketempat lain saja, disana memang bagus, tapi kalau kita kesana pasti Mark atau Haechan akan mengganggu. Kalau kita pergi ke arah yang berlawanan bagaimana? Tidak masalah kan?"

Johnny tak menjawab, lelaki jangkung itu langsung menolehkan kepalanya ke arah Mark dan juga Haechan yang sibuk masing-masing, kemudian anggukan itu muncul sebagai jawaban atas saran yang Taeyong berikan.

"Baiklah, kalau begitu kita pergi ke tempat lain saja. Ayo Tae, selagi masih ada waktu sebelum kita pulang."

.

.

.

"Mark Hyung nanti kakiku basah!"

Suara pekikan khas milik Haechan terdengar jelas ditelinga Mark. Semilir angin yang kencang lalu suara ombak kecil yang berasal dari tengah laut terdengar mendominasi. Suara tawa milik Mark keluar begitu saja, menertawakan Haechan yang baru saja berlari menjauh begitu sosok bertubuh kecil itu dikejar oleh ombak dibelakang sana.

"Haechan, ayolah. Ini hanya ombak, kenapa kau takut?"

"Hyung, aku bukan takut dengan ombaknya, tapi aku takut kakiku basah, nanti rasanya akan kurang nyaman."

"Biasa saja, kau saja yang terlalu melebih-lebihkan."

Bibir kissable itu mengerucut dengan cepat, keningnya mengernyit lalu Haechan langsung mendengus keras sambil berkacak pinggang dihadapan Mark dengan wajah kusutnya.

"Mark Hyung bilang aku apa?"

"Kau berlebihan, padahal ini hanya air laut saja, bukan air dari gorong-gorong atau sejenisnya."

"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan lari lagi, tapi aku yang akan mendatangi ombaknya sendiri. Setelah itu Mark Hyung harus tarik kata-kata yang bilang kalau aku berlebihan."

"Ohh benarkah? Coba tunjukan sekarang, baru aku akan tarik kata-kata yang tadi."

Nada bicara Mark terdengar sedikit merendahkan, cengiran khasnya tercetak jelas pada kedua sudut bibirnya. Sepasang kaki yang jauh lebih pendek dari milik Mark itu langsung melangkah perlahan ke arah datangnya ombak dengan sedikit menghentak hingga meninggalkan jejak di atas pasir putih.

"Kau tidak perlu lepas sandal, pasir disini mengandung cangkang kerang, nanti kakimu tertusuk."

"Memang siapa yang mau lepas? Mark Hyung saja yang sok tahu."

Air muka Haechan langsung berubah 180 derajat begitu ombak kecil itu mulai mendekat dengan sangat cepat. Sebelah kakinya mengambil langkah mundur untuk menjauh dari ombak. Kalau Haechan boleh jujur, sebenarnya ia tetap tak ingin membasahi kakinya di air laut karena akan menimbulkan rasa gatal dan juga lengket. Hanya menang omong besar, tapi nyatanya Haechan sendiri tak punya keberanian untuk membuktikan semua omongannya pada Mark.

"Haechan.. Kenapa mundur, ayo maju. Katanya tidak takut ombak, ayo mendekatlah ke arah ombak."

Gelengan itu muncul sebagai respon, langkah kakinya terus menjauh dengan cukup perlahan dari terjangan ombak yang bahkan sangat kecil. Membuat Mark menarik nafas panjang lalu menyeringai kecil. Mendekat ke arah Haechan lalu menarik pergelangan tangan itu dengan kuat untuk mendekat ke arah ombak dengan cara berlari dengan cepat.

"Hyung! Apa yang kau lakukan?! Tidak! Jangan bawa aku kesana, nanti basah semua! Mark Hyung! Ahhh kakiku basah~!"

Percikan air yang ditimbulkan dari hentakan kaki Haechan yang mulai terkena ombak mulai ikut membasahi kaki panjang milik Mark. Langkah keduanya masih belum berhenti, melawan datangnya ombak, bahkan air laut sudah hampir melebihi mata kaki. Senyuman lebar Mark terlihat jelas dihadapan Haechan dan itu sedikit menyebalkan. Disaat Haechan frustasi karena kakinya benar-benar terendam di dalam air laut, Mark justru kelihatan senang-senang saja.

"Kau perlu biasakan diri dengan air laut. Ku dengar kau dari Jeju, tapi kenapa malah tidak suka berenang?"

"Aku bukannya tidak suka, hanya saja aku kurang suka."

"Itu sama saja bodoh. Terima ini!"

"Mark Hyung! Hentikan!"

Kembali berteriak begitu Mark langsung memercikkan air laut ke arahnya dengan kedua tangan yang menyatu untuk menampung air. Kaus yang dipakainya sedikit basah karena Mark, tapi Haechan tak mau diam saja. Tubuhnya ikut dicondongkan untuk mengambil air dengan tangan kosong, membalas perbuatan Mark dengan ikut memercikkan air ke arah Mark hingga kemeja yang dipakai Mark juga ikut basah karena terkena air.

"Haechan!"

"Aku juga bisa membalasmu Hyung! Kau basahi pakaianku, aku juga akan basahi pakaianmu! Terima ini! Ini! Ini! Ini juga!"

"Awas kau!"

Keduanya saling memercikan air satu sama lain, saling membasahi pakaian masing-masing. Bahkan Haechan sendiri terlihat tak masalah lagi dengan air laut yang membasahi sebagian kausnya. Saling mengejek lalu membalas dengan hal sama.

"Haechan! Ambil ini!"

BUKK!

Pasir basah yang padat itu langsung mendarat dibawah pundak Haechan begitu Mark melemparkannya begitu saja. Kausnya kotor karena pasir, belum lagi basah kuyup dibagian depan karena perang air.

"Mark Hyung!"

BYUR!

Mark langsung jatuh membentur air dan juga pasir dibawah sana. Tidak sakit, hanya saja Mark jauh lebih terkejut karena Haechan dengan tiba-tiba saja langsung menerjang tubuhnya setelah ia melempar pasir pada sosok yang lebih muda darinya itu. Lelaki bertubuh kecil itu bahkan sempat tersentak saat keduanya justru malah jatuh sungguhan, karena Haechan pikir Mark akan mendorong atau melakukan hal lain, tapi sekarang malah berakhir konyol seperti sekarang. Mark ada dibawah, sambil menatap lurus ke arah Haechan dengan mata membulat lucu, lalu Haechan yang ada diposisi atas, dengan tatapan yang sama.

"H-Hyung baik-baik saja?! A-aku akan bangun.."

"Aku tidak apa-apa.."

Mata sayunya mengerjap lucu, semburat merah itu muncul dikedua pipinya dengan cepat, lalu bibir bawahnya digigit pelan. Haechan langsung mengubah posisinya dengan cepat, membaringkan tubuhnya tepat disamping Mark, tak peduli dengan air laut dan juga pasir dibelakang tubuhnya.

"Maaf ya Hyung, aku tidak sengaja"

"Tidak masalah, dan bisakah aku katakan sesuatu?"

"Uhh.. A-apa?"

Gugup, dan kurang yakin. Dua hal itu yang sekarang sedang Mark alami sekarang ini. Ditengah pergolakan antara harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak mengatakannya sama sekali.

"Katakan pada Haechan soal ini dan kita lihat apa hasilnya. Cobalah sedikit, jangan pikirkan hasilnya. Kalau kau sudah mencoba paling tidak kau bisa tahu jawaban dari Haechan secara langsung daripada banyak berasumsi yang aneh-aneh."

Haruskah Mark katakan semuanya sekarang?! Kalau Haechan tidak suka padanya lalu menjaga jarak dengannya setelah ini bagaimana? Kalau ternyata Haechan menyukai orang lain dan bukan dirinya bagaimana? Kalau Haechan hanya menganggapnya sebagai teman saja bagaimana? Well, dan Taeyong benar, ia terlalu banyak berasumsi padahal ia sendiri belum mencoba.

"Hae-Haechan.. Kau suka— Engh.. Kau suka—"

"Suka apa Hyung?"

"Ahhh ya, kau suka dengan pantainya tidak?"

"Oh.. Pantai ya?"

Raut wajahnya langsung berubah drastis. Awalnya Haechan sudah sangat antusias dengan pertanyaan yang akan Mark lontarkan, tapi semuanya tidak sesuai dengan asumsinya sendiri. Bibir bawahnya digigit pelan lalu mengerucut dengan cepat sambil memberi sebuah anggukan pelan.

"Aku suka.."

Kemudian senyuman manis itu tercetak jelas di wajah cantik milik Haechan. Manik hitamnya yang terpejam erat untuk menjaga matanya dari cahaya matahari langsung di atas sana.

"Aku suka apapun yang aku lakukan dengan Mark Hyung.."

"Huh?"

Tak ada respon dari yang lebih kecil. Haechan lebih memilih untuk bangkit dari posisinya lalu duduk di atas pasir dengan air laut yang surut sambil berusaha memfokuskan kedua matanya kembali, diikuti oleh Mark setelah itu.

"Kau bilang apa barusan?"

"Aku bilang.. Aku suka semua yang aku lakukan dengan Mark Hyung."

"Ke-kenapa?"

"Kenapa? Ya.. Aku juga tidak tahu sih, tapi aku suka saja. Mark Hyung itu orang yang baik, lucu, aneh juga iya, tapi aku sendiri bingung kenapa aku suka dengan orang seperti itu. Heung.. Seperti langka? Ah maksudku sangat sulit menemukan orang seperti Hyung."

"Begitukah?"

"Ehehehe, iya begitulah.. Lupakan saja, aku mau ke pinggir saja, nanti ombak besar datang."

Mark langsung merengut seketika begitu Haechan langsung bangkit dari posisinya lalu melangkah ke arah pinggir. Tertinggal beberapa langkah dari Haechan lalu Mark langsung ikut bangkit dari posisinya, mengekori Haechan dengan langkah kaki yang sedikit lebih lambat lalu belah bibir peach itu terbuka.

"Haechan, kau mau jadi pacarku tidak?"

Langkah kaki Haechan langsung terhenti dengan cepat, membalikkan tubuh kecilnya lalu menatap lurus ke arah Mark dengan tatapan penuh tanda tanya yang tersirat jelas pada kedua manik hitam itu.

"Eh? Hyung bilang apa barusan?!"

Hening. Mark tak langsung merespon, melainkan lebih memilih untuk melangkah maju sedikit demi sedikit untuk memperpendek jarak di antara keduanya. Mark terlihat menarik nafas panjang, menggigit bibirnya sekilas dengan berbagai macam pikiran yang memenuhi otaknya saat itu. Setidaknya Mark sudah berani untuk mencoba, setidaknya Mark sudah siap dengan resikonya, dan setidaknya Mark sudah berani untuk mengatakan yang sejujurnya ketimbang terlalu lama menyembunyikan semuanya dari Haechan.

"Kau mau jadi pacarku?"

"Pa...car?"

"Iya, aku tidak perlu menjelaskannya lagi kan. Kau pasti sudah tahu apa maksudku barusan. Well, aku sudah pikirkan ini sejak dua hari yang lalu, dan sekarang aku putuskan untuk mencobanya. Aku tidak akan peduli dengan jawabanmu nanti, setidaknya aku sudah berani mencoba daripada penasaran terus lalu berasumsi yang tidak-tidak. Benar kan? Jadi bagaimana?"

Haechan bungkam, sedangkan kedua maniknya hanya terfokus pada satu objek di hadapannya, yaitu Mark. Kedua matanya mengerjap perlahan, bibir bawahnya digigit pelan lalu Haechan menarik nafas panjang. Selama 17 tahun ia hidup didunia,Haechan bahkan tak pernah tahu bagaimana rasanya menjalin hubungan lebih dari teman. Hanya sekedar menyukai orang lain, dan itu juga perasaannya tidak pernah terbalaskan.

Lalu untuk yang pertama kalinya, Haechan ingat betul waktu awal pertemuannya dengan Mark. Tidak semenarik dan seindah cerita novel romantis milik teman sekelasnya, cukup aneh dan terkesan biasa saja. Mark juga sering bersikap sok dekat, lalu Haechan yang selalu ingat dengan sopan santun lebih memilih untuk merespon setiap pertanyaan atau obrolan dengan Mark. Sebelumnya Haechan sendiri sering merasa agak risih, Mark sering mengirim pesan singkat, mengajaknya pergi kesana kemari, lalu kadang juga sikapnya terkesan aneh. Tapi justru semua keanehan yang Mark punya itulah yang mengubah semuanya.

Haechan tertarik karena keanehan yang sering Mark buat untuk menghiburnya, Mark juga selalu ada setiap kali Haechan butuh teman main atau mengobrol. Semuanya ada pada Mark, lelaki yang terlihat biasa saja tapi punya banyak kelebihan yang tersembunyi itulah yang membuat Haechan menyukai Mark. Baik suka sebagai kakak-adik, senior-junior, dan juga lebih daripada itu. Lalu sekarang jawaban apa yang akan Haechan ambil?

"Harus ku jawab?"

"Tentu saja, aku butuh jawaban darimu. Terserah kau mau jawab apa saja, aku tidak akan memaksa. Setidaknya aku cuma mau tahu yang sebenarnya saja. Tapi bisa ku katakan sesuatu? Aku mengatakan semua ini padamu bukan untuk main-main saja, aku akan serius untuk sesuatu semacam ini. Jadi iangan beranggapan kalau aku bercanda."

Anggukan cepat itu muncul setelahnya, lagi pula Haechan sendiri memang tidak beranggapan kalau omongan Mark barusan itu hanya sebuah candaan bodoh.

"Apa jawabanmu?"

Haechan langsung menaikan pandangannya dengan segera, kedua matanya sedikit membesar lalu Haechan menahan nafas.

"Ya... Aku mau"

"Huh?!"

"Aku bilang aku mau jadi pacarmu Hyung.. Masa tidak dengar sih?"

Tersenyum lebar sambil memperhatikan bagaimana tampang bodoh dari sosok yang lebih tua terpampang jelas di hadapannya. Rona merah itu muncul dengan perlahan, lalu menjalar ketelinganya hingga meninggalkan kesan lucu pada wajah cantik yang merona itu. Suara kekehan Mark langsung terdengar setelahnya, senyuman lebarnya semakin menjadi lalu kedua tangannya langsung bergerak cepat. Memeluk erat pinggul Haechan lalu mengangkat tubuh kecil yang berisi itu hingga Haechan kembali memekik minta diturunkan, tapi Mark malah semakin mengangkat tubuh itu ke atas sambil berputar beberapa kali.

"Mark Hyung turunkan aku! Nanti aku jatuh!"

"Kau tidak akan jatuh, lagipula kau tidak tahu bagaimana senangnya aku sekarang. Uhhhh lucunya, aku mencintaimu Lee Haechan~"

Satu kecupan langsung mendarat dengan tak sopannya pada bibir kissable milik Haechan. Membuat sang pemilik langsung membulatkan kedua matanya sambil menahan nafas begitu bibir kenyal milik Mark menyatu dengan bibir kissable-nya. Hanya sekitar 5 detik, lalu semuanya kembali seperti semula. Semburat dikedua pipinya semakin menjadi, lebih parah dari sebelumnya hingga Mark sampai mencubit gemas pipi gembil itu.

"Mark Hyung! Kau merebut ciuman pertamaku! Nanti kalau ada yang—"

Ucapannya langsung terhenti, tubuh Haechan yang masih dalam gendongan Mark langsung membeku seketika dengan tatapan lurus ke depan, atau ke arah belakang tubuh Mark.

"H-Hyung.. Ada Yuta Hyung..."

Mark langsung menurunkan tubuh Haechan dengan cepat begitu manik hitamnya menemukan sosok Yuta yang berdiri dibelakang sana dengan wajah tersentak. Mark dan Haechan langsung diam, tak berani bicara, hanya diam sambil memperhatikan gerak gerik Yuta yang langsung mengalihkan perhatiannya ke arah lain sambil melangkah menjauh.

"Aku tidak lihat.. Aku pakai topi!"

Heol...


"Jaehyun, tunggu aku!"

Suara teriakan Doyoung terdengar keras dari arah belakamg tubuhnya, menghentikan langkah kaki Jaehyun dengan segera kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah sosok yang tengah berlari untuk menyusulnya. Nafasnya sedikit terengah, lalu Doyoung langsung bergelayut pada lengan kekar milik Jaehyun. Tersenyum simpul lalu segera menegakkan tubuhnya.

"Kau mau kemana Jae?"

"Hngg.. Jalan-jalan sebentar mungkin?"

"Boleh aku ikut? Boleh kan?"

Hanya senyuman simpul milik Jaehyun yang jadi jawabannya. Kedua kakinya melangkah beriringan menyusuri sepanjang garis pantai berpasir putih itu. Meninggalkan jejak yang terlihat jelas dibelakang sana, sedangkan keduanya mulai sibuk dengan obrolan masing-masing.

"Jaehyun.."

"Ya?"

Senyuman lebar Doyoung muncul dengan cepat, kepalanya mendongak menyamakan pandangannya dengan Jaehyun lalu Doyoung semakin mengeratkan kaitan lengannya dengan lengan kekar milik Jaehyun sambil merapatkan tubuhnya dengan sosok yang sedikit lebih tinggi darinya itu.

"Nanti kalau kita mau menikah, aku akan lakukan ini bersama Ayahku, lalu kau akan berdiri di atas altar disamping pendeta. Kau bisa membayangkan itu kan?"

"Ah.. Ya."

"Oh iya, Ayahku sudah bicara dengan keluargamu. Hari pertunangan kita berdua akan dilangsungkan lima hari lagi."

Langkah kakinya langsung terhenti dengan cepat, diikuti oleh Doyoung setelahnya. Jaehyun tak menjawab, tatapannya mendadak kosong, lalu air mukanya berubah drastis. Jaehyun tak pernah tahu masalah ini, tak ada yang pernah memberti tahunya tentang waktu dan rencana pertunangan. Lalu sekarang ia dapat jawabannya dari mulut Doyoung sendiri. Waktu pertunangan akan dilangsungkan lima hari lagi, lalu bagaimana bisa orang tuanya diam saja.

"Kami sudah siapkan undangannya, tinggal tulis siapa nama tamu yang akan diundang. Soal busana sudah ditentukan oleh keluargamu. Lalu bagaimana dengan cincinnya?"

Hening, Jaehyun masih berkutat dengan semua pemikirannya tentang rencana pertunangannya dengan Doyoung. Bibir bawahnya digigit pelan, lalu satu helaan nafas berat itu muncul.

"Jaehyun?! Kenapa diam saja? Kau dengar aku atau tidak?!"

"Huh? Ah iya.."

"Kau sudah pilihkan cincin atau belum?"

"Ci-cincin?!"

"Iya, cincin. Kau sudah tentukan atau belum?"

"Kenapa begitu?! Jaehyun, waktunya sebentar lagi tapi kau belum melakukan persiapan apa pun?! Kami sudah siapkan undangannya, tinggal tulis siapa nama tamu yang akan diundang. Soal busana sudah ditentukan oleh keluargamu."

"Aku akan lakukan semuanya dengan cepat. Jangan khawatir."

Jaehyun tersenyum samar, kemudian menahan nafas. Jaehyun akui ia tak bisa menolak semua perkataan Doyoung begitu saja karena Jaehyun yakin Doyoung tak akan menerima semuanya. Tapi Jaehyun khawatir dengan Taeyong, ia sudah katakan yang sebenarnya pada Taeyong semalam. Lalu apa sekarang Jaehyun akan kembali mengecewakan lelaki kecil itu begitu saja? Hanya karena Doyoung? Jaehyun tak ingin mengulang semuanya dengan menyakiti Taeyong lagi. Jaehyun juga tak mau melepaskan Taeyong begitu saja karena ia tahu bagaimana perasaan Johnny pada sosok Taeyong. Lalu haruskah Jaehyun mempertaruhkan semuanya hanya untuk Doyoung?

.

.

.

Beberapa hari setelahnya, semuanya telah kembali seperti biasanya. Setiap orang mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing seperti hari sebelumnya. Taeyong masih tetap disana, di salah satu bangku penonton sambil menonton anak-anak basket latihan. Tak banyak orang yang ada disana, hanya beberapa siswa termasuk Taeyong disana. Jam belajar telah usai sekitar 10 menit yang lalu, tapi Taeyong sedang tak ingin pulang segera. Kedua kakinya lebih memilih untuk membawanya pergi ke lapangan indoor sekolah, menonton sesi latihan rutin yang kembali dilakukan.

"Taeyong? Kau belum pulang?"

Suara khas milik Ten terdengar mendekatinya, pandangan Taeyong yang semula hanya fokus ke arah lapangan langsung teralihkan pada sosok yang sedikit lebih kecil darinya itu. Senyuman simpul Ten terpatri di wajah manisnya, lalu ia menduduki tempat kosong disebelah Taeyong sambil sibuk mengibaskan jersey yang dikenakannya karena merasa gerah.

"Aku sedang malas kerumah, makanya aku kesini sekalian menunggu Mark."

"Hei, kau menunggu adikmu? Wah, sepertinya akan ada orang ketiga di antara Mark dan Haechan."

"Aku tidak sehina itu Ten, dia adikku, lalu Haechan juga sudah seperti adikku. Jadi tidak masalah kan? Sekali-kali aku pulang bersama dengan anak-anak."

Suara kekehan yang keluar dari bibir cherry itu terdengar dengan sangat jelas. Pandangan Ten masih lurus kedepan, lalu sosok asal Thailand itu tampak menarik nafas pelan kemudian kembali membuka suara.

"Johnny itu keren ya?"

"Eh? Johnny?"

Taeyong langsung membulatkan matanya setelah sempat tersentak pelan dengan perkataan Ten barusan. Sedangkan Ten sendiri hanya tersenyum tipis, masih dengan tatapan lurus ke arah pinggir lapangan.

"Tidak biasanya kau bicarakan Johnny? Ada apa?"

"Tidak, aku cuma tanya saja. Kau itu kan sangat dekat dengan Johnny, jadi aku penasaran saja. Bagaimana rasanya dekat dengan Johnny? Ku dengar dia orang yang baik dan perhatian, benar tidak?"

"Ya, semuanya benar. Johnny bahkan punya banyak kebaikan dan kelebihan yang tak terhitung banyaknya. Dia peduli dengan semua orang, bahkan untuk hal kecil saja ia sering berlebihan. Dulu kakiku pernah terkilir sedikit, tapi dia bilang kalau aku harus ke rumah sakit karena khawatir akan cedera yang parah. Padahal menurutku itu biasa saja. Dia benar-benar berbeda dengan orang lain, bahkan Jaehyun saja kalah saing dari Johnny."

"Ah,begitukah? Menyenangkan ya.. Bisa dekat dengan Johnny setiap hari. Dia bahkan sangat perhatian denganmu. Aku saja tidak sedekat itu dengan Johnny, kami memang pernah mengobrol, tapi hanya bicarakan hal penting seperti masalah basket."

"Ten? Kau—"

Senyuman simpul itu muncul, hanya saja ada kesan berbeda yang tersirat dari senyuman yang Ten tunjukan kali ini. Terkesan sedikit dipaksakan hanya saja Taeyong tak terlalu yakin dengan pendapatnya yang satu ini.

"Aku juga ingin dekat dengan Johnny."

Taeyong tak merespon, manik hitamnya hanya bisa menatap lurus ke arah Ten dengan penuh pertanyaan yang muncul dalam pikirannya. Selama ini Ten tak hal seperti ini atau yang merujuk ke arah hubungan. Ten akan lebih sering membicarakan hal yang selalu jadi favoritnya, sejenis menari atau basket, melukis, atau mengobrol dengan Taeyong dan juga Yuta setiap kali mereka berkumpul di waktu tertentu.

"Kau penasaran dengan ucapanku ini kan? Well, aku juga bingung dengan ucapanku sendiri. Selama ini aku sering berpikir banyak hal, termasuk hubunganmu dengan Johnny. Aku mungkin tidak pernah beritahu siapapun, baik dirimu atau juga Yuta. Boleh aku jujur padamu? Sekitar beberapa bulan belakangan aku sering memikirkan Johnny setiap hari. Aku selalu suka caranya bermain basket, dia juga anak yang sangat perhatian dengan semua anggota team. Aku pikir semua itu adalah kelebihan dari Johnny, perlu ku akui kalau Johnny kelewat sempurna, bahkan jauh lebih sempurna dari Jaehyun kan? Dan aku yakin semua orang, entah itu para gadis diluar sana atau teman-temannya punya pendapat yang sama denganku. Kalau dilihat-lihat kau satu-satunya orang yang sangat dekat dengan Johnny, bahkan kalau tidak salah Johnny juga menyukaimu kan?"

"Ten..."

"Aku sering lihat kalian berdua bersama, dan aku juga punya sebuah keinginan. Aku juga mau sepertimu, bisa dekat dengan Johnny, bukan sekedar teman, tapi sejenis sahabat atau sebagainya. Aku Cuma mau dekat dengan Johnny karena menurutku akan sangat menyenangkan kalau aku bisa dekat dengan Johnny juga."

"Ten..."

"Ya?"

"Apa kau... Suka dengan Johnny?"

1 detik.. 2 detik.. 3 detik...

Senyuman simpul Ten kembali muncul, terbentuk dengan sangat cantik pada kedua sudut bibir cherry-nya.

"Kau sudah tahu apa jawabanku, Taeyong.."

Itu artinya tebakan Taeyong tidak meleset sedikitpun.

.

.

.

"Lee Taeyong!"

Suara husky itu sempat menggema di koridor sekolah yang cukup sepi itu. Langkah kaki Taeyong terhenti, diikuti dengan Mark yang memang saat itu ada bersama Taeyong untuk pulang kerumah. Langkah kaki Jaehyun mulai melambat, lalu terhenti persis didepan Mark dan juga Taeyong yang sama-sama melontarkan tatapan bingung dari manik hitam itu.

"Jaehyun? Ada apa?"

Senyuman manis Jaehyun muncul, menampilkan deep dimple miliknya yang sangat manis. Kemudian belah bibir itu terbuka, lalu mulai membuka suara.

"Boleh aku pulang dengan kalian juga?"

"Huh? Maksud Hyung pulang dengan kami berdua?"

Jaehyun langsung mengangguk dengan cepat, kemudian merangkul pundak Mark dengan sangat erat kemudian langsung melangkah pergi.

"Ayo Tae.. Sekali-kali aku juga mau pulang bersama kalian. Daripada sendiri lebih baik cari teman kan?"

Taeyong tak bicara, hanya mengerjap sekilas sambil menatap lurus ke arah punggung lebar Jaehyun dan Mark yang sedikit jauh dengan posisinya. Taeyong menahan nafasnya, kemudian memilih untuk melangkah mengekori Jaehyun dan juga adik laki-lakinya itu tanpa perlu bicara banyak. Ada beberapa hal yang mendadak muncul dipikiran Taeyong setelah Jaehyun datang tiba-tiba entah dari mana. Perjodohan Jaehyun dengan Doyoung, itu salah satu hal yang selalu Taeyong pikirkan setiap harinya. Apa yang Jaehyun lakukan agar semua perjodohan itu bisa dibatalkan. Apakah Jaehyun sudah bicarakan semuanya dengan Doyoung dan juga kedua belah pihak keluarga?

"Jaehyun..."

Refleks, Jaehyun segera menghentikan langkah kakinya dengan cepat, melepaskan rangkulan pada bahu milik Mark kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah Taeyong yang tengah menyusul.

"Ya?"

"Bisa kita bicara sebentar?"

Jaehyun terdiam, kemudian memperhatikan Taeyong dengan tatapan dalam lalu tersenyum tipis. Lelaki bermarga Jung itu mengangguk pelan sebagai jawabannya kemudian mengisyaratkan pada Mark untuk menunggu sebentar di tempat lain.

"Kau mau bicara apa?"

"Bagaimana dengan perjodohan kalian?"

Hening, Jaehyun langsung bungkam begitu pertanyaan yang tak ingin ia dengar itu justru Taeyong berikan padanya. Nafasnya tercekat, lalu bibir bawahnya digigit pelan sambil menaikan pandangannya pada wajah cantik dihadapannya itu.

"Jaehyun? Kau tidak menjawab pertanyaanku. Bagaimana? Kau sudah bicarakan masalah ini dengan Doyoung?"

"Ah.. Soal Doyoung... Belum. Aku masih takut untuk mengatakannya."

"Lalu dengan keluargamu? Kau sudah bicarakan ini?"

Air mukanya berubah seketika, lalu Jaehyun menurunkan pandangannya, menatap kosong ke ujung sepatunya kemudian menarik nafas dalam sekejap.

"Ya.. Aku sudah bicarakan ini dengan orang tuaku."

"Lalu bagaimana? Apa tanggal perjodohan kalian sudah ditentukan?"

Jaehyun ingin katakan yang sejujurnya, tapi Jaehyun akui ia tak bisa, ia hanya tak ingin mengecewakan Taeyong yang telah berharap besar padanya.

"Keluarga kami mungkin tidak akan melakukan acara sejenis itu. Mereka hanya ingin aku dam Doyoung langsung ke jenjang pernikahan, tidak dengan acara pertunangan atau sejenisnya."

"Ah benarkah? Kalau begitu syukurlah. Kita masih punya banyak waktu kan? Kau juga bisa katakan semuanya pada Doyoung atau keluargamu, aku juga akan berusaha untuk membantumu."

"Ya, masih ada waktu.."

'Masih ada waktu tiga hari lagi sebelum pertunangan, tapi aku belum bisa katakan yang sebenarnya.'

"Oh ya, ku dengar besok hari ulang tahunmu kan?"

"Heol! Bagaimana kau bisa tahu?"

"Aku punya banyak mata-mata disekitarmu, makanya aku tahu. Dan bagaimana kalau dihari ulang tahunmu, kita pergi jalan-jalan. Kau mau?"

"Jalan-jalan?"

"Anggap saja ini kencan pertama kita sekaligus untuk merayakan ulang tahunmu. Kau setuju kan? Kalau begitu kita bertemu di taman kota saja. Nanti aku akan menemuimu di sana."

Senyuman lebar Taeyong langsung merekah dengan cepat, rona merah dipipinya terlihat jelas dihadapan Jaehyun. Anggukan cepat yang Taeyong berikan jadi jawaban yang Taeyong berikan sebagai persetujuan. Tangan kanannya terangkat dihadapan Jaehyun, lalu jari kelingkingnya mengacung didepan wajah Jaehyun.

"Janji ya?"

Saling menautkan jari kelingking keduanya dengan sangat erat, membuat janji pertama di antara keduanya.

"Baiklah, Aku janji.."

Taeyong harap Jaehyun tak hanya bicara omong kosong lalu mengabaikan janji yang telah mereka buat begitu saja.

Semoga saja..

.

.

.

Taeyong langsung melangkahkan kedua kakinya kakinya ke arah ranjang. Ransel yang sempat tersandang pada punggungnya itu telah ditanggalkan lalu tergeletak begitu saja di atas ranjang empuk milik Taeyong. Tubuh kecilnya di hempaskan ke atas sana, berbaring dengan posisi telentang sambil memeluk erat sebuah bantal yang sempat tertata rapi di sisi ranjang. Satu helaan nafas Taeyong lolos begitu saja dari belah bibir cherry itu. Manik hitamnya mengarah ke atas langit-langit kamar yang kosong tanpa berkedip sedikitpun.

Sebelah tangannya langsung bergerak ke arah ransel miliknya, berusaha mengambil sesuatu dengan kelima jari lentiknya. Sekitar beberapa detik setelahnya, Taeyong telah mendapatkan apa yang ia cari. Tertata rapi dengan desain cantik berwarna silver itu menarik perhatian Taeyong dengan cepat, lalu nafasnya tertahan begitu saja.

Our Engagement...Jung Jaehyun and Kim Doyoung

Taeyong mencoba untuk bersikap sedatar mungkin sambil terus memperhatikan kartu undangan yang ada dalam pegangannya. Nama dua orang itu ada disana, di dalam undangan pertunangan yang Taeyong dapatkan langsung dari Doyoung.

.

.

Flashback On

"Ini untukmu, jangan lupa datang ya.."

Taeyong menaikan pandangannya ke arah sebuah kartu yang menghalangi pandangannya ke luar jendela dengan kepala yang bersandar pada meja belajarnya. Taeyong bangkit, membenarkan posisinya untuk kembali duduk dengan benar kemudian menatap ke arah sebuah kartu dengan dominasi warna silver itu di atas meja.

"Ini..."

"Undangan pertunanganku dengan Jaehyun. Bagus kan?"

Taeyong tak merespon, manik hitamnya masih sibuk memperhatikan bagaimana nama Jaehyun dan juga Doyoung terukir dengan sangat cantik di dalam kartu undangan. Senyuman hambar milik Taeyong muncul, nafasnya tercekat, lalu air mukanya berubah seketika. Belah bibirnya terbuka, tapi tak ada satu kata pun yang keluar sebagai respon atas ucapan Doyoung barusan. Berusaha menarik nafas panjang untuk sekedar memperbaiki perasaannya.

"Aha, ini sangat bagus.."

Suaranya mendadak serak, pandangannya meredup lalu dadanya terasa sesak. Taeyong menaikan pandangannya sedikit demi sedikit ke arah Doyoung yang masih berdiri di hadapannya dengan senyum mengejek, lalu seringai kecil itu muncul.

"Kau sudah lihat kan? Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Kau bilang kami tak punya hubungan, tapi sekarang aku membuktikannya padamu. Bahkan hubunganku dengan Jaehyun bisa dibilang punya ikatan yang sangat penting. Lalu bagaimana denganmu? Apa perjuangan bodohmu selama bertahun-tahun lamanya itu membuahkan hasil? Tidak kan? Jaehyun lebih memilihku ketimbang dirimu Tae."

"Aku tidak pernah melakukan hal yang bodoh dan tak berguna seperti yang kau bilang. Hasil yang aku dapatkan dengan cara baik-baik untuk Jaehyun akan punya hasil yang lebih bagus ketimbang mendapatkan Jaehyun dengan segala permainan kotor. Aku tanya padamu sekarang... Apa Jaehyun pernah bilang kalau ia menyukaimu? Apa Jaehyun pernah bilang kalau ia setuju dengan perjodohan ini?"

Doyoung bungkam dengan cepat. Rahangnya sempat mengeras selama beberapa detik, tapi kemudian seringai kecil itu muncul.

"Kalau Jaehyun tidak menyukaiku, lalu bagaimana mungkin dia setuju dengan perjodohan ini? Hei, kau tak tahu? Kami sudah siapkan kartu undangannya, dan aku punya satu untukmu juga kan? Kami juga sudah siapkan cincinnya, lalu persiapan lainnya juga sudah selesai. Apa itu semua masih belum cukup? Lagipula Jaehyun tak akan bisa menolak. Kami sudah buat kesepakatan antar keluarga. Kalau Jaehyun menolak perjodohan ini, maka semuanya akan berantakan."

"Huh?"

"Ah.. Kau tidak mengerti ucapanku ya? Baiklah, aku jelaskan. Jaehyun tidak akan bisa menolak perjodohan ini. Jaehyun itu anak baik kan? Jaehyun itu akan menurut kemauan orang tuanya. Ayah Jaehyun dan juga Ayahku melakukan investasi besar. Jadi sebagai jaminan, Ayahku minta pada Tuan Jung untuk menjodohkan Jaehyun denganku. Dan karena ini adalah pekerjaan yang besar, kalau Jaehyun sampai menolak, maka investasi akan dibatalkan dan perusahaan Tuan Jung yang akan kena imbasnya. Jadi kenapa aku harus takut kalau Jaehyun membatalkan pertunangan? Itu tidak akan pernah terjadi kalau seandainya Jaehyun memang benar-benar anak yang patuh dengan orang tua."

Taeyong mencelos setelah semua perkataan Doyoung seakan-akan mengambil atensinya pada saat itu juga. Jaehyun tak pernah bicarakan ini dengannya, tentang rencana pertunangan, persiapan yang telah dilakukan sejauh ini, lalu tentang perusahaan keluarga. Jaehyun tak pernah katakan semuanya pada Taeyong, Jaehyun tak pernah memberi tahunya tentang masalah sebesar ini, tapi sekarang Taeyong justru tahu semuanya dari Doyoung, bukan dari Jaehyun secara langsung.

"Jangan lupa datang ya. Kami sangat membutuhkanmu didalam pesta. Ini undangan khusus, hanya orang tertentu yang bisa menyaksikan prosesi pertunangan secara langsung. Baiklah sampai bertemu tiga hari lagi."

Bahkan Jaehyun sendiri tak bilang kalau pertunangannya dengan Doyoung akan berlangsung tiga hari lagi. Memang apa susahnya bicara yang sejujurnya pada Taeyong?

Flashback Off

.

.

.


Taeyong telah siap sepenuhnya. Lelaki bertubuh kurus itu sejak tadi masih berdiri didepan cermin sambil memperhatikan pantulan dirinya sambil tersenyum puas. Tatanan rambutnya kembali dirapikan, kemudian Taeyong kembali memeriksa penampilannya malam itu agar tak ada kesalahan. Cukup sederhana saja, Taeyong tak perlu memakai pakaian bagus ataupun mahal karena ini hanya kencan biasa dan dilakukan malam hari.

"Mark, aku keluar ya. Tolong jaga rumahnya."

"Hyung mau kemana?"

Suara teriakan Mark terdengar dari dalam kamar, pintu kamarnya langsung terbuka, lalu sosok tinggi itu segera menyembulkan kepalanya dari dalam kamar sambil memperhatikan sosok Hyung-nya itu dengan seksama.

"Mau keluar ya?"

"Aku sudah punya janji dengan Jaehyun. Kau tidak masalah kalau aku tinggal sendirian dirumau?"

"Tidak masalah, aku akan jaga rumahnya. Jangan pulang terlalu malam ya Hyung."

"Aku pergi, jangan lupa kunci pintunya."

"Iya Hyung.. aku tidak akan lupa. Hyung pergi kencan saja yang tenang, aku akan menunggu."

"Baiklah.."

"Ah iya, selamat ulang tahun ya Hyung~"

"Kau sudah katakan itu berkali-kali Mark, terima kasih."

Seulas senyuman simpul Taeyong langsung terbentuk pada kedua sudut bibirnya, menambahkan kesan cantik Taeyong yang semakin terlihat setiap kali sosok Taeyong tersenyum dengan sangat manisnya. Kedua kaki kecilnya langsung membawa Taeyong pergi dari depan pintu kamarnya, menuruni satu persatu anak tangga dengan langkah berat. Air mukanya langsung berubah 180 derajat dari sebelumnya, senyuman itu luntur dengan cepat, Taeyong juga akan terus menghela nafas disetiap langkahnya. Ada banyak yang Taeyong pikirkan, dan ini masalah Jaehyun dengan Doyoung. Taeyong sempat bergelut dengan pemikirannya sendiri mengenai masalah ini, lalu sekarang Taeyong sudah punya jawabannya. Ia juga perlu bicara dengan Jaehyun bagaimanapun caranya.

Suhu udaranya lumayan dingin, suara kendaraan yang lalu lalang disekitar menambah keramaian yang ada disekitar Taeyong. Tangan kirinya terangkat sedikit, setelah itu Taeyong memicingkan kedua matanya ke arah arloji yang melingkari pergelangan tangannya kemudian menarik nafas dalam. Kepalanya menengadah ke atas, menatap ke arah langit malam yang cukup gelap itu. Mendung, bahkan bulan saja tenggelam dibalik awan hitam yang semakin menambah kegelapan dimalam hari. Taeyong prediksikan kalau kemungkinan besarnya akan turun hujan dalam beberapa waktu yang akan datang, paling tidak ia hanya bisa berharap semoga bisa pulang kerumah tanpa harus kehujanan lalu berakhir dengan diberi ocehan singkat oleh adik laki-lakinya itu.

"Happy Birthday to You... Happy Birthday to You... Happy Birthday Happy Birthday.. Happy Birthday Taeyong..."

Manik hitam Taeyong masih tak bisa lepas dari sebuah tart mini yang muncul dari arah belakang tubuhnya. Suara husky Jaehyun seakan jadi jawaban atas pertanyaan Taeyong tentang darimana asalnya kue dengan sebuah lilin kecil di atasnya dengan nyanyian ulang tahun singkat yang telah Jaehyun berikan untuknya. Lelaki jangkung itu melangkah perlahan, masih memegang kue dengan lilin menyala itu kehadapan Taeyong sambil tersenyum manis.

"Kau bawa... Payung?"

"Ya,langitnya sedang mendung. Untuk berjaga-jaga kalau seandainya turun hujan kan? Tiup lilinnya, lalu buat permohonan..."

Taeyong mengangguk dengan cepat, menarik nafas panjang lalu meniup lilin kecil itu dengan sekali hembusan nafas. Suara sorakan Jaehyun terdengar, lalu kue yang semula dibawa olehnya itu langsung diletakan disamping tubuh Taeyong ketika lelaki yang lebih kecil itu tengah menutup kedua matanya dengan kedua telapak tangan mengepal membuat permohonan. Lima menit, lalu Taeyong selesai dengan permohonan yang telah ia buat.

"Kau minta apa?"

"Apa saja, asalkan apa yang aku minta itu adalah hal positif. Kau tidak perlu tahu apapun karena ini rahasiaku."

"Okay, itu rahasiamu ya. Terserah kau saja, aku menurut saja."

Taeyong langsung terkekeh kecil sembari menyodorkan potongan kue yang telah terbagi dua kehadapan Jaehyun yang langsung membuka mulutnya sesuai permintaan Taeyong. Manik hitamnya masih tetap pada objek yang sama yang tengah memperhatikan Jaehyun dengan senyuman tipisnya sambil memegangi potongan kue sisa yang ada pada kedua tangannya.

"Kau baik-baik saja? Tidak biasanya kau seperti ini. Ada masalah?"

"Tidak..."

"Kalau begitu ayo tersenyum. Kau tersenyum seperti orang mati saja. Yang cerah sedikit, kalau seperti itu kan akan lebih cantik. Ayo habiskan kuenya, setelah itu kita jalan-jalan."

15 menit setelahnya, Jaehyun dan Taeyong telah berada jauh dari area taman kota. Sekedar berkeliling lalu membeli beberapa snack dipinggir jalan untuk mengganjal perut kosong. Melangkah beriringan sambil menautkan kelima jari satu sama lain.

"Mau makan es krim?"

"Es krim? Dimana?"

"Tunggu sebentar, aku akan belikan untukmu."

Jaehyun langsung melangkah pergi menjauhi Taeyong menuju kedai es krim yang tak jauh dari posisi Taeyong. Lelaki bertubuh kecil itu hanya diam sambil memperhatikan bagaimana punggung lebar itu berlari menjauh dengan cepat. Taeyong kembali menghela nafas panjang, lalu mengangkat kepalanya untuk menatap ke langit hitam di atas sana. Semakin gelap, bahkan suhu dingin di sekitarnya semakin meningkat.

Lima menit setelahnya Jaehyun telah kembali dengan dua es krim dikedua tangannya. Tangan kanan Jaehyun terulur kehadapan Taeyong, menyerahkan es krim rasa coklat dengan taburan topping manis di atasnya.

"Apa tidak masalah makan es krim disaat seperti ini?"

"Seperti ini apanya?"

"Ku pikir akan hujan, kalau hujan udaranya pasti dingin kan?"

"Tenang saja, ayo makan dulu es krimnya. Kita masih punya banyak waktu untuk jalan-jalan sebelum larut malam."

Jaehyun langsung merangkul pundaknya dengan erat sambil menikmati es krim miliknya sendiri. Melangkah beriringan diantara keramaian para pengunjung lokal maupun turis asing yang tengah sibuk dengan tujuannya masing-masing. Taeyong tak terlalu banyak bicara, bahkan es krim miliknya saja hanya sempat dicicipi selama beberapa detik saja, dan sekarang Taeyong tak menyentuhnya sedikitpun. Pikirannya tertuju ke arah lain, tapi kedua kakinya masih melangkah mengikuti Jaehyun yang masih terus merangkulnya sambil melangkah menjauh.

Disaat seperti ini bagaimana bisa Jaehyun bersikap dengan tenangnya sedangkan acara pertunangannya akan dilangsungkan dua hari lagi. Jaehyun bilang masih ada banyak waktu untuk jalan-jalan. Tapi entah hanya Taeyong yang merasa kalau malam ini adalah kencan pertama dan juga terakhir mereka sebelum Jaehyun dijodohkan. Jaehyun terlihat cukup tenang, bahkan terlihat tak punya beban.

Kemudian ucapan Doyoung kembali muncul di dalam pikirannya. Soal keluarga dan juga investasi besar perusahaan. Apa itu artinya Jaehyun memang tak keberatan kalau seandainya mereka benar-benar dijodohkan? Bukankah Jaehyun bilang kalau rasa sukanya pada Doyoung masih ada sedikit? Bukan menghilang sepenuhnya dari dalam diri Jaehyun kan? Lalu bagaimana dengan Taeyong? Kenapa disaat yang seharusnya jadi moment paling menyenangkan dan sangat ditunggu-tunggu olehnya justru jadi moment paling membingungkan sekaligus menyakitkan untuk Taeyong?

"Hei.. Es krim milikmu mencair Tae. Ada apa denganmu? Kenapa melamun terus?"

"Uhh ti-tidak.. Aku cuma khawatir dengan Mark, soalnya dia sendirian dirumah."

"Kenapa pikirkan hal itu, tenang saja, Mark sudah besar dan bisa menjaga diri sendiri. Ah iya Tae, tidak masalah kan kalau kita pergi ke Seoul Time Square sebentar? Kebetulan tempatnya dekat dari sini."

"Kau mau beli sesuatu?"

"Ya bisa dibilang begitu. Sekalian kita makan malam disana saja. Ayo, nanti keburu hujan deras."

.

.

.

Taeyong hanya diam ditempatnya sambil menatap keluar sana lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah Jaehyun yang baru melangkah untuk pergi ke toilet. Ada banyak orang didalam sana, termasuk para pasangan muda seperti Taeyong yang tengah berkencan seperti biasanya. Suhu dingin masih meningkat, hanya saja hujan diluar sana sudah tidak terlalu deras seperti sebelumnya hingga semua orang harus berteduh di lobby Mall atau sekalian masuk untuk berbelanja.

Matanya mengerjap perlahan, lalu kedua kakinya melangkah keluar dengan perlahan. Taeyong tak peduli kalau nanti Jaehyun akan mencarinya karena telah pergi tanpa bicara dulu. Taeyong hanya ingin pulang, sendirian tanpa Jaehyun. Padahal kencan mereka baru berlangsung selama beberapa jam saja, tapi Taeyong akui ia tak mau melanjutkan semuanya lagi. Berada disekitar Jaehyun justru membuat Taeyong terus memikirkan masalah pertunangan dan juga hal yang ingin ia katakan dengan Jaehyun. Tapi Taeyong pikir ia masih butuh persiapan, maka dari itu Taeyong pikir akan lebih baik kalaunia pergi duluan sekalipun ia harus meninggalkan Jaehyun didalam Mall sebesar itu. Toh Jaehyun juga bukan anak kecil yang akan tersesat di dalam Mall.

Langkah kakinya semakin menjauhi area Time Square yang masih sangat ramai itu. Menembus tetesan hujan yang lumayan deras tanpa perlindungan payung sedikitpun. Raut wajahnya berubah drastis, tatapannya terlihat kosong tapi Taeyong masih melangkah perlahan dibawah guyuran hujan. Tak peduli dengan beberapa orang yang mengatainya aneh atau sejenisnya hanya karena Taeyong berani hujan-hujanan dibawah derasnya hujan malam hari.

Lima menit... Sepuluh menit.. Taeyong habiskan waktu selama itu hanya dengan melangkah pergi menyusuri jalan trotoar yang basah karena guyuran hujan. Taeyong telah sepenuhnya menjauh, bahkan telah cukup jauh dari area Time Square yang bahkan tak terlihat lagi dari arah belakang.

SRET!

"Ugh sial..."

Satu umpatan kecil lolos dari bibir cherry Taeyong. Lelaki kecil itu mendesis kecil karena kecerobohannya sendiri. Tubuh pendeknya sempat terhuyung karena telah salah langkah dengan menginjak tali sepatunya yang terlepas entah sejak kapan. Segera membungkuk lalu berjongkok untuk mengikat tali sepatunya dengan kuat agar ia tak jatuh lagi nantinya. Tetesan air hujan yang semula membasahi tubuhnya itu mendadak berhenti mengguyur tubuhnya. Suara tetesan air yang terhalang sesuatu itu menarik perhatian Taeyong dengan langsung mendongakan kepalanya lalu Taeyong menahan nafas. Payung biru yang di klaim sebagai milik Jaehyun itu tengah beralih memayungkan Taeyong, lalu ada Jaehyun dibelakang sana. Memegangi payung untuk melindungi Taeyong dari derasnya hujan dengan sebuah senyuman tipis.

"Jaehyun?"

"Kau sedang apa? Aku kaget karena kau menghilang."

Jaehyun langsung berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan Taeyong, masih dengan payung ditangannya yang diposisikan di atas tubuh Taeyong, membiarkan tubuh jangkung miliknya terguyur oleh derasnya hujan yang semakin menjadi sejak beberapa saat yang lalu.

"Ambil payungnya, jangan sampai sakit karena hujan-hujanan."

Sepasang manik hitam Taeyong langsung mengarahkan pandangannya ke wajah Jaehyun dengan mata membesar, kepalanya terangkat sebentar lalu kembali menatap lurus ke arah Jaehyun sambil mendorong pelan payung milik Jaehyun.

"Payungi saja dirimu Jae, nanti kau juga sakit.."

Taeyong bangkit lalu kembali melangkah mendahului Jaehyun dengan kecepatan yang sama.

"Kenapa pergi?"

"Aku mau pulang saja.."

"Kau bisa menungguku kan? Kita bisa pulang bersama tanpa harus hujan-hujanan seperti ini."

Taeyong tak merespon dengan cepat, hanya sibuk melangkah didepan Jaehyun. Suara tetesan hujan yang terhalang payung itu terdengar jelas di atas kepalanya, membuat Taeyong lagi-lagi menengadahkan kepalanya lalu mendorong pelan pegangan payung itu ke arah belakang.

"Payungi dirimu sendiri Jae.. Lagipula kau hanya bawa satu kan?"

"Ah iya, salahku juga karena cuma bawa satu payung. Pakai saja, nanti kau masuk angin."

Taeyong refleks menghentikan langkah kakinya secara mendadak, diikuti dengan Jaehyun setelahnya. Manik hitamnya memicing kebelakang, lalu bibir cherry-nya kembali terbuka.

"Tidak usah pedulikan aku. Kau payungi saja dirimu sendiri. Nanti kalau kau sakit bagaimana dengan acara pertunangannya?"

Hening.

Baik Taeyong maupun Jaehyun sama-sama tak bicara sedikitpun. Jaehyun tersentak, lidahnya mendadak kelu lalu detak jantungnya meningkat drastis. Taeyong segera membalikan tubuhnya menghadap ke arah Jaehyun. Melemparkan tatapan penuh tanda tanya yang tersirat melalui sorot matanya yang tampak meredup.

"Taeyong.. Bagaimana kau bisa tahu?"

"Dan bagaimana bisa kau tidak memberitahu masalah ini padaku Jae?"

"Taeyong.. Dengarkan aku, bukannya aku tidak mau memberitahu semua ini padamu, hanya saja aku butuh waktu yang tepat untuk bicara semuanya."

"Waktu yang tepat itu kapan? Mau sampai kapan kau rahasiakan ini dariku? Sampai kalian berdua telah resmi bertunangan?"

"Tidak, bukan seperti itu—"

"Jaehyun, kalau kau bicarakan ini sejak awal, aku akan berusaha membantumu menyelesaikan semuanya. Tapi kau menyembunyikan semuanya, kemarin kau berbohong padaku kan? Aku tanya padamu apa kau sudah bicarakan semuanya dengan orang tuamu? Apa kau dan Doyoung akan melangsungkan acara pertunangan? Kenapa bohong?"

"Karena aku tak ingin menyusahkan siapapun."

Taeyong menarik nafas panjang, surai hitamnya diremas kuat lalu satu helaan nafas berat itu kembali lolos.

"Dengan semua yang kau lakukan, aku pikir kau memang belum bisa memberi kepercayaan padaku untuk ikut menyelesaikan masalah ini Jae.."

"Tidak, aku tidak pernah berpikiran seperti itu. Aku akan katakan semuanya hari ini, akan aku katakan pada keluargaku dan juga Doyoung kalau—"

"Jangan lakukan itu..."

"Taeyong.."

"Kalau kau lakukan semuanya, kalau kau batalkan acaranya, lalu bagaimana dengan perusahaan keluargamu nanti?"

"Kenapa sekarang kau malah memikirkan masalah itu?! Aku tidak peduli dengan masalah itu, aku tidak butuh uang atau warisan perusahaan selagi aku bersamamu."

"Lalu apa yang akan kau lakukan? Membatalkan semuanya lalu mengecewakan keluargamu yang telah bersusah payah membangun perusahaan hingga sesukses sekarang? Pikirkan keluargamu, jangan pikirkan aku. Pikirkan kebahagiaan keluargamu, jangan pikirkan kebahagiaanku. Kau yang akan menjalani hidup, bukan aku. Semuanya bergantung pada Doyoung kan? Kalau begitu lakukan apa yang menurut orang tuamu harus kau lakukan. Kau satu-satunya anak di keluargamu kan? Mereka akan membutuhkanmu sebagai pewaris dan juga anak yang akan membahagiakan orang tua."

"Lee Taeyong hentikan."

"Aku memang menyukaimu sejak lama, ada banyak hal yang ingin aku lakukan denganmu. Tapi aku juga tidak bisa jadi orang yang egois kan? Mementingkan diri sendiri tapi menghancurkan kebahagiaan orang lain. Aku bukan orang seperti itu dan tak ingin jadi orang seperti itu sampai kapanpun. Aku tidak mau egois... Aku mungkin tak bisa lakukan banyak hal denganmu, tapi semuanya sudah lebih dari cukup. Hanya dengan tahu perasaanmu yang sebenarnya saja aku sudah cukup bahagia dengan itu. Bisa merayakan ulang tahunku denganmu lalu kencan denganmu bahkan sudah lebih dari apapun. Terima kasih banyak untukmu Jaehyun..."

"Taeyong, berhenti bicara seperti itu. Aku tidak mau lakukan semuanya. Beri aku waktu dan aku akan katakan semuanya pada semua orang kalau aku hanya mencintaimu, bukan Doyoung atau siapapun. Aku akan katakan pada semua orang kalau aku tidak butuh uang atau harta apapun. Bahkan kalau mereka mau menghapus namaku dari nama keluarga Jung maka aku tidak masalah. Tolong jangan lakukan ini Tae.. Ku mohon."

Matanya memanas, lalu butiran bening itu telah jatuh dari pelupuk matanya. Tetesan hujan yang semakin deras itu menyamarkan semuanya, air mata Taeyong tak terlihat karena menyatu dengan tetesan hujan, tapi Jaehyun tahu persis kalau Taeyong memang tengah menangis samar di hadapannya. Matanya memerah, air mukanya juga semakin memberi tahu kalau Taeyong memang tak baik-baik saja.

"Jaehyun..."

Taeyong kembali membuka suara, diikuti dengan sebuah senyuman getir yang terpatri dengan cukup sulit dikedua sudut bibirnya. Melangkah maju selangkah demi selangkah lebih dekat. Kedua kakinya berjinjit untuk menyamakan posisinya dengan Jaehyun secara langsung. Manik hitamnya tertutup perlahan, wajah cantiknya bergerak maju lalu bibir cherry miliknya disatukan dengan bibir kissable milik Jaehyun. Masih dengan mata terpejam, kedua tangannya mengalungi leher milik sosok yang lebih tinggi, melumat perlahan bibir Jaehyun yang basah karena terguyur hujan dengan sangat amatir, tapi setidaknya ia sudah berusaha semaksimal mungkin. Menahan detak jantungnya sekaligus isakannya yang semakin menjadi.

Jaehyun langsung menarik tengkuk Taeyong untuk semakin memperdalam ciumannya, lalu tangan yang satunya lagi menarik pinggang Taeyong untuk lebih mendekat ke arahnya. Lalu Jaehyun tak ingin membuang banyak waktu. Bibir milik Jaehyun mulai bergerak, memagut bibirnya dengan lembut hingga Taeyong tapi disertai dengan sedikit penekanan. Taeyong masih setia menutup matanya, menikmati setiap lumatan lembut yang Jaehyun lakukan.

Sedangkan benda lunak tak bertulang itu tengah menjelajahi gua hangat milik Taeyong sejak beberapa saat yang lalu saat Taeyong membuka akses bagi Jaehyun. Dibawah derasnya hujan, ditempat umum, saling memagut satu sama lain tanpa peduli dengan keadaan sekitar. Jaehyun langsung melepaskan pagutannya dengan cepat begitu Taeyong memberi isyarat untuk segera mengakhiri semuanya sekarang. Wajah cantik Taeyong merah padam dengan nafas tak beraturan. Lalu Jaehyun hanya diam sambil meraup oksigen sebanyak-banyaknya lalu memperhatikan wajah cantik Taeyong yang masih merah padam itu.

"Tae..."

"Jaehyun, terima kasih.."

Taeyong tersenyum getir, tangan kananya terulur kehadapan Jaehyun dengan perlahan. Senyuman di wajahnya masih terus dipertahankan oleh Taeyong sekalipun perasaannya tak bisa dikatakan baik untuk saat ini. Beberapa detik setelahnya, Jaehyun ikut mengulurkan tangannya, menyambut uluran tangan Taeyong dengan berat hati, masih dengan raut wajah yang sama.

"Selamat untukmu dan juga Doyoung, Jung Jaehyun. Terima kasih untuk waktunya, terima kasih untuk semuanya."

Taeyong langsung menarik tangannya menjauh, tersenyum tipis ke arah Jaehyun lalu membungkukkan tubuh kecilnya sebagai rasa terima kasihnya selama ini. Taeyong kembali berbalik arah, melangkah pergi meninggalkan Jaehyun sendirian ditengah derasnya hujan pada saat itu.

Dan untuk yang pertama kalinya baik Taeyong dan juga Jaehyun sama-sama membenci hujan.

.

.

"Taeyong Hyung sudah sembuh?"

Yang disebutkan namanya langsung mengalihkan pandangannya ke arah Mark dengan cepat, kemudian mengangguk pelan.

"Aku baik-baik saja."

"Lalu Hyung mau kemana?"

"Aku ada janji dengan Johnny.."

"Mau ke acara pertunangan ya?"

Pergerakan Taeyong langsung terhenti, lalu air mukanya mendadak berubah. Taeyong kembali memberikan anggukan sebagai jawabannya lalu tersenyum tipis ke arah Mark.

"Baiklah, hati-hati.."

"Tentu.. Sampai nanti Mark."

Kedua kaki kurusnya langsung membawa Taeyong pergi keluar rumah dengan pakaian rapi tapi tidak masuk kedalam kesan mewah. Arloji ditangannya diperiksa untuk memastikan apakah Taeyong akan membuat Johnny menunggu atau tidak, lalu sedetik kemudian langkahnya melambat secara perlahan. Bukankah Taeyong memang sengaja memperlambat langkahnya agar ia bisa pulang dengan cepat tanpa harus melihat prosesinya dari awal sampai akhir?

Tempat yang sengaja disewa untuk pesta kecil-kecilan itu kebetulan tak terlalu jauh dengan daerah tempat tinggal Taeyong. Hanya sekitar dua kilometer, hanya dengan naik taksi atau sejenisnya maka Taeyong akan sampai dengan selamat.

15 menit setelahnya Taeyong telah sampai pada tempat tujuan, padahal ia yakin betul kalau taksi yang dinaikinya sudah kelewat pelan agar waktunya bisa berjalan dengan cepat, tapi sialnya Taeyong sekarang. Dari luar gedung hanya ada beberapa karangan bunga berisi ucapan selamat dan lain-lain, tak ada banyak orang yang berdiri diluar gedung, bahkan bisa dihitung jari.

Taeyong masih tak bicara, hanya sekedar menelusur ke dalam gedung yang bisa dibilang lumayan ramai itu. Kedua kakinya melangkah masuk dengan sangat pelan dan dengan berat hati. Ruangan dihias sedemikian rupa hingga menimbulkan kesan cantik disetiap penjuru ruangan, tamu-tamu tertentu mulai terlihat dari posisi Taeyong sekarang. Lumayan ramai, karena ini hanya sekedar pertunangan, bukan acara pernikahan.

Taeyong bisa langsung menemukan Johnny yang masih berdiri diantara tiang-tiang penyangga bangunan, melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum simpul.

"Hei, bagaimana keadaanmu? Sudah sembuh dari demamnya hnggg?"

"Menurutmu bagaimana? Apa aku masih terlihat sakit? Tidak kan?"

'Tapi kalau hatimu yang sakit maka percuma saja...'

"Belum dimulai ya?"

"Sedang menyampaikan maksud lamaran dari pihak Jaehyun. Kau mau duduk atau disini saja?"

"Disini saja sudah cukup, aku tidak mau disini terlalu lama."

Johnny memilih diam sambil memperhatikan Taeyong yang tengah melihat prosesi penyampaian dengan wajah lesunya. Obsidian hitam Taeyong menangkap sosok Jaehyun dengan setelan classic tuxedo formal berwarna hitam dengan dasi kupu-kupu yang menawan. Sama halnya dengan Taeyong, Jaehyun juga tengah melihat Taeyong dari atas altar, berhadapan dengan Doyoung bak calon pengantin pernikahan.

Waktu berjalan cukup lama, dan sekarang adalah waktu penyampaian ketetapan hati kedua pasangan. Kedua pihak keluarga akan saling menanyakan anak mereka masing-masing untuk ketersediaannya dalam melangsungkan acara pertunangan.

"Hei, kau mau kemana? Lee Taeyong?"

Suara bass Johnny sedikit menggema didalam ruangan, mengalihkan perhatian Jaehyun dan juga Doyoung, tapi Jaehyun masih berkutat dengan pikirannya antara harus menjalankan semuanya atau menolak pertunangan sialan ini. Taeyong dan Johnny menghilang dari dalam ruangan, dan bisa dipastikan kalau dua orang itu memang telah pergi meninggalkan acara yang bahkan belum terselesaikan.

"Taeyong.. Kenapa pergi?"

"Perutku mual, jadi aku mau istirahat saja, Mark sudah melarangku pergi, tapi aku masih saja pergi. Sekarang aku jadi sakit lagi kan?"

Masih melangkah mendahului Johnny dengan suara bergetar, langkah kakinya kelewat lambat hingga Johnny bisa menyusul lalu memblokir akses Taeyong dari arah depan.

"Kau bukannya sakit.. Tapi kau mau pulang karena Jaehyun kan?".

"Tidak.."

"Taeyong jangan menipuku lagi, aku sudah lihat semuanya sekarang. Jangan menangis, aku ada disini, okay? Tenanglah, ada aku disampingmu, berhenti menangis Tae.. Jangan menangis.."

Tapi Taeyong akui ia tak bisa untuk tak menangis sekarang. Perasaannya sedang campur aduk sekarang, dan rasa sakit hatinya lebih besar ketimbang yang lainnya. Terkadang berkorban itu memang selalu ada resikonya, dan terkadang orang yang berkorban demi kebaikan tak selama akan bahagia.

.

.

.

10 menit telah berlalu, dan Jaehyun mulai gelisah. Acara pertukaran cincin sudah akan dimulai, bahkan cincinnya sudah disiapkan dihadapan Jaehyun dan juga Doyoung. Simbol pengikat hubungan antara Jaehyun dan juga Doyoung itu seakan jadi momok tersendiri yang membuat Jaehyun menolak semuanya didalam hati. Matanya bergerak gelisah kesana kemari, memperhatikan tamu undangan sambil menarik nafas. Sebelah tangannya merogoh sesuatu didalam jas yang dikenakannya, mengintip sekilas lalu Jaehyun menggenggam sepasang cincin perak itu dari dalam saku sambil menggigit bibirnya.

Jaehyun sudah siapkan cincin lain untuknya dan juga Taeyong pada hari ulang tahun Taeyong malam itu, tapi Taeyong terlanjur menanyakan semuanya hingga Jaehyun mengurungkan niatnya untuk memberi cincinnya sebagai hadiah untuk Taeyong.

Sang juru bicara kembali membuka suara, mengucapkan terima kasih pada pihak keluarga lalu mempersilahkan pasangan untuk memasangkan cincin pertunangan dijari masing-masing. Jaehyun membeku sambil menelan salivanya dengan berat hati. Detak jantungnya meningkat 2 kali lebih cepat padahal ini hanya prosesi pertunangan dengan Doyoung, bukan pernikahan.

Tangan kanannya terangkat sedikit dengan gemetar, berusaha meraih cincin didalam kotak tapi Jaehyun tak ingin melakukannya. Jaehyun langsung menarik tangannya untuk menjauh, menarik nafas dalam-dalam dan berusaha tak peduli dengan beberapa tamu undangan yang mulai berbisik satu sama lain.

"Doyoung, maafkan aku..."

Lalu sekarang Jaehyun telah buat keputusannya sendiri dengan memilih meninggalkan Doyoung lalu berlari keluar dengan cepat, tak peduli dengan suara teriakan Ayahnya yang terus memanggil namanya dari dalam sana.

'Lee Taeyong...'

Jaehyun hanya punya satu tujuan untuk saat ini. Yaitu memperjuangkan Taeyong sesuai dengan janjinya waktu itu.


"Taeyong, sudah ku bilang berhenti menangis. Kenapa kau tidak mau dengar?"

Taeyong tak merespon ucapan Johnny. Tangisannya semakin menjadi setiap kali Johnny memintanya berhenti, tapi Taeyong tetap tak bisa berhenti sedikitpun.

"Taeyong..."

Lelaki jangkung itu membawa tubuh kecil yang masih bergetar itu kedalam pelukan hangatnya, mencoba menenangkan Taeyong sambil mengelusi punggung sempit itu dengan lembut. Isakan Taeyong semakin menjadi, dan Johnny pastikan kalau kemeja yang dikenakannya sekarang sudah mulai basah karena airmata Taeyong merembes masuk.

"John.."

"Taeyong, jangan menangis ku bilang."

"Bagaimana aku..bisa berhenti... Ja-Jaehyun..."

"Taeyong sadarlah, kalau kau memang tak bisa melepaskan Jaehyun lalu kenapa kau lakukan semuanya? Hanya untuk membuat keluarga Jaehyun bahagia? Apa Jaehyun pernah berjuang untukmu? Tidak kan? Kenapa harus menangis hanya karena Jaehyun?"

"John.. Kau tak mengerti.. Ak-aku menyukainya sejak lama, di-dia bahkan—".

"Lalu bagaimana denganku Tae?".

"H-Huh?"

"Kalau Jaehyun memang tak bisa bersamamu, lalu kenapa? Aku ada disini, aku yang akan gantikan Jaehyun, aku yang akan membahagiakanmu disini."

"John..."

"Taeyong, sekarang aku butuh jawabanmu. Apa aku bisa jadi orang yang menggantikan Jaehyun dihatimu?"

Hening.

Tak ada jawaban sedikitpun yang Taeyong berikan selain mengangkat kepalanya ke arah Johnny dengan penuh tanda tanya didalam pikirannya.

.

.

Tebece

.

.

Terangkanlah~ :v panjang bener njir, kirain gak sebanyak ini. Mohon maaf kalau kepanjangan. Gw juga gtw ngetik apaan, pusing intinya mah. :v maaf juga karena sebelumnya saya gak bisa update cepet Bikos masuk sekolah, jadi kan gak mungkin mau ngelanjut. Baru megang hp udah diocehin juga. Aneh ya chapter ini? Emang bener, Bikos gw kehilangan chemistry gegara kelasnya di acak lagi/hngggg/.

Well, yuyut gak janji bakal up cepet ya, tapi bakalan dilanjut kok. Karena yuyut masuk kelas 12 juga, jadi pengen bagi waktu buat belajar/eakkk/ :v. Apa ya? Hnggg... Ya, jadi... Gw mempermainkan kalian dulu ya. Jaehyun dijodohin tapi Jaehyun udah nolak, tapi diwaktu bersamaan Johnny ngejedor Ty -_- hayo loh mas, terima yang mana. Soalnya kalo datar aja, ntar kurang greget) :v :v Oh ya, soal jodoh buat Doyoung.. Keknya yuyut gak bakal masukin new cast, Bikos lagi mager :v jadi anggep aja Doyoung udah punya yang lain nanti/kapan?/

Dan buat Johnny, heung... Maaf banget buat Kokobop21 karna keknya gw gak bakal ngejodohin Johnny sama Taeil, soalnya gw emang belum punya feel buat ngetik ff mereka. Tolong maafin gw ya, harap maklum ya, jadi disini gw kasih johnny ke ten. Gpp kan? Gpp ya? Aduh gimana nih? Gak marah kan?

Percayalah saya apa yang saya ketik ini. Apalagi gw gak bisa login lewat fb, gtw kenapa -_- ingin ku mengumpat. Di anjurkan jangan baca malem, takut ngantuk :v Oke... Hngggg... Gw mau ngasih qotd lagi, jadi tolong dijawab ya.

QOTD: ini endingnya mau kek mana? Jawab ya, bikos gw takut endingnya gak sesuai ekspektasi para pemirsa (?) :v

Oke dah, karena jari gw udah keriting..

A big thanks for...

mtxgdvtzk: makasih keps jebolnya, ku terhura mak(?) /otw lempar tabung oksigen/ kiss scene nyusul aja yeth :v lelah dedeq :v

Shitao47: Ini kan ff Jaeyong, makanya banyak Jaeyong, Markchan Cuma tambahan doang biar rame. Maaf kalo gak sweet, setidaknya saya sudah berusaha.

Park Rinhyun-Uchiha: iya ya, kurang lama marahnya :v

Seung yeon Kang: aduh iya mereka ium ium :v iya Jae, batalin perjodohannya, iya jae, lu cocoknya sama Ty, iya yuk, kibar kolor jaeyong :v /efek stres/

Kokobop21: Prok prok prok, ganti uname mulu :v gpp gpp. Hehe.. Jangan marah ya bikos gw gak bisa jodohin Johnil disini. Jangan marah ya, plisssss... Kenapa gak gw jodohin si Johnil? Bikos gw bingung kalo Seandainya Johnil, terus DY sama sapa? Karena sesungguhnya saya tidak tahu siapa yang pantas jadi pasangannya DY :v Gpp kan? Bukannya gak mau ngabulin, tapi karena saya gak bisa bikos bingung tingkat dewa.

Yuta ikemen: Well, Taeyong kagak letoy kok. Emang sengaja gw buat kek ginj, antara seneng gak seneng sama pengakuan Jaehyun tapi dia gak kepedean bener gegara Jaehyun udah jujur /apa sih

ROXX h: /giring ketempat karaoke/ :v ruqyah ada DY, ku ikhlas kok :') gak usah nyuruh gw perbanyak kiss scene :v ku tak sanggup :v yang lebih hawt ntaran, tunggu dua bulan lagi biar gw 17 :v yeahhh.. Anda adalah setan dimana mana/canda/ Sewa aja johnny nya, gpp kok, ku ikhlas, selama lu kagak nyewa yuta buat mgopi bareng :v ntar yang ada kopi lu dikasih micin sebagai pengganti gula /apasih

: Wah... Akhirnya bisa login, ku turut bahagia karena bisa login lagi disini curcol aja gpp, ku siap dengarkan :v

Jilly Choi: Berani berbuat berani bertanggung jawab/ eaaaakkk/ makanya Jaehyun mutusin buat ninggalin acara terus ngejer Taeyong yang lagi dijedor oom John :v hehe, gw emang ngerubah jalan sedikit, biar gak datar amat. Sorry ya :v doakan semoga bisa fast update.

Jahekota: Udah dilanjut, makasihJeffjung: itulah indahnya jadi Taeyong :v Johnny baik kagak :v duyung ntar gw balikin aja kelaut biar kelar :v

Guest: alhamdulillah

Guest: iya ini udah

Guest: ini tiga review satu reader?

seung yeon kang 2: Dan soal typo :v :v hehehe, kok segitunya amat v: kok akunnya Seung Yeon Kang gak bisa dibuka? dan kenapa gw gak bisa login lewat fb T_T

Oke, jariku keriting, bye.. :v :v