"Hy-Hyung.. aku.." Aku sendiri tidak menyangka lidahku kembali bisa berucap, pandangannya bingung, Siwon tersenyum haru ia memelukku erat.
"Gomawo baby.."
Aku hanya tersenyum lemah, memeluk Siwon lebih erat, merasakan kelegaan karena hal buruk tadi hanyalah sebuah mimpi, mimpi buruk.
(YUNHO)
DONT AFRAID
Aku baru saja selesai sarapan setelah tadi pagi mengecek keadaan Kyuhyun yang belum juga sadar, aku merasa perlu mengeceknya lagi kini, anak bermarga Choi yang bodohnya akan menjadi adik iparku itu terlalu memonopoli Kyuhyunku.
"Ehm.." Aku berdehem sambil bersandar di depan pintu Kyuhyun saat kulihat Siwon memeluk dongsaengku, lihat? Ia selalu merebut apa yang aku punya bukan?
"Eh, yunho hyung?" Siwon terlihat kaku didepanku, aku hanya tertawa pelan
"Sudahlah, jangan memperlihatkanku wajah seperti itu, itu terlalu menakutkan buatku" Ujarku, siwon hanya menggaruk kepala belakangnya.
"Kau tahu choi siwon? Kau terlalu memonopoli dongsaengku"
Aku melagkah masuk, duduk diantara Siwon dan Kyuhyun, siwon terlihat kurang senang, dahinya berkerut.
"Hey, ayolah siwon..sudah hampir sebulan lamanya kau selalu bersama kyuhyun, kini biarkan aku memilikinya sehari saja"
Kyuhyun tertawa, melihat siwon yang semakin keruh, mau tidak mau aku juga ikut tertawa, apalagi saat Siwon berjalan keluar kamar dengan wajah ditekuk.
Hhhhh dasar namja bodoh.
"Kyu.. kita lama tidak berbicara berdua seperti ini ne"
"Gwenchana hyung"
"miane hyung sangat sibuk akhir-akhir ini.." Ucapku merapikan beanie putihnya, ia masih terlihat rapuh sejak terakhir kali aku melihatnya, Namun kyuhyun tetaplah dongsaengku yang paling manis, dongsaengku yang paling indah..
"Hyung, kau tahu.. aku merasa hidupku tidak akan lama lagi.."
Aku menatap Kyuhyun dalam, dahiku berkerut tanda tidak setuju, tidak akan ada yang bisa mengambil dongsaengku ini, tidak akan.
"Hehehehe, entahlah Hyung, jika sampai siwon hyung mendengar ini, aku yakin ia akan marah dan menggembungkan pipinya hahahaha"
Aku sama sekali tidak menemukan titik lucu dari pembicaraan kyuhyun barusan.
"Mianhe hyung.. aku hanya merasa, jika semua ini akan segera menghilang, semuanya.."
Kyuhyun mengaitkan jemarinya satu sama lain, ia menunduk, rapuh.
"Hyung akan melakukan apapun demi itu semua kyu, demi kau, kesembuhanmu, dan kebahagiaanmu, kau tahu kyu.. kau adalah dongsaeng paling sempurna yang Tuhan kirimkan untukku, hanya untuk hyung"
Aku memeluk Kyuhyun, mengusap punggungnya. Airmataku jatuh bebas, biarkanlah, biarkan jika Kyuhyun mengataiku cengeng, tidak mengapa.
"Hyung, uljima..jangan menangis"
Aku tersenyum lirih. Menatap mata Kyuhyun yang semakin redup, garis cekungan melingkari matanya, aku kembali memeluknya..
"Tuhan, jika bisa tolong biarkan Kyuhyunku tetap disini, tetap disamping kami, tetap bersama kami, selalu dan selamanya" aku bergumam lirih, Kyuhyun mengeratkan pelukannya.
"Amin.." Jawabnya
"Dont afraid ne"
Kyuhyun hanya mengangguk, tenanglah.. semua akan berakhir indah.
(SIWON)
LANGKAH BESAR
Aku berdiri terpaku dibalik tembok, tubuhku menegang. Bukan bermaksud untuk menguping pembicaraan kakak-adik itu, tapi.. aku selalu ingin tahu apa yang Kyuhyun-ku sembunyikan dariku, jujur.. aku bisa melihat kilatan kesedihan dibalik senyumnya setiap hari.
…..
Hari ini tepat 3 bulan setelah vonis, Sudah seharian aku berjalan mengelilingi pusat perbelanjaan kota Seoul, untuk apa? Kalian akan tahu nanti..
Mataku tertuju pada sebuah benda dibalik etalase kaca di sudut sana, indah, seakan melambangkan Kyuhyun-ku, aku merogoh saku dan mengeluarkan sebuah credit card, menyerahkannya pada pemilik toko dan menunjuk 'benda' indah tadi, ia tersenyum simpul padaku.
"Untuk orang yang kau cintai?"
Aku mengangguk bahagia
"Sangat aku cintai"
"Baiklah, ini belanjaan anda, semoga ini bisa membuat kalian semakin mencintai satu sama lain" Tukas sang pemilik toko, aku hanya tersenyum lagi
Perjalananku untuk kembali ke rumah berjalan lebih cepat dari biasanya, aku memang sengaja terburu-buru kali ini, aku sudah sangat tidak sabar melihat ekspresi Kyuhyun saat menerima hadiahku kali ini, ia pasti sangat senang.
Aku memarkir mobil tepat didepan rumahku, tanpa masuk dulu aku segera menyeberang ke rumah Kyuhyun masih dengan bingkisan ditanganku. Sedetik sebelum aku mengetuk pintu rumah, pintu itu terlebih dahulu terbuka. Aku terkejut, bukan karena pintunya namun karena sosok dibaliknya, Yunho menggendong Kyuhyun yang tidak sadarkan diri, diikuti eomma dan appa Cho.
"A-apa yang terjadi hyung? Kyuhyun?"
"Nanti kujelaskan, lebih baik kau ikut saja. Kajja"
Aku berbelok, kembali masuk kedalam mobil dan mengikuti mobil Yunho yang membawa Kyuhyun ke Rumah sakit terdekat. Jemariku bergetar, aku gelisah dibalik kemudi, kulirik bingkisan kecil di jok sampingku.
'Kau harus bertahan untuk melihatnya Kyu'
Aku berlari kecil mengikuti Yunho dan keluarga Cho, Beberapa menit yang lalu aku telah menghubungi eomma dan appa agar segera datang. Aku berdiri mematung di depan ruang ICU , Langkahku terpaku, aku masih menggenggam bingkisanku, menangis? Aku harap aku bisa namun aku tahu Kyuhyun-ku jauh lebih menderita sekarang. Aku berbalik mencari Yunho hyung untuk meminta penjelasan. Ia duduk disana ani Yunho berjongkok dengan jemari yang meremas rambutnya frustasi. Aku mendekatinya, eomma dan appa Cho mengamatiku dengan tatapan sendu.
"Hyung.." Lirihku yang aku yakin ia masih mampu mendengarnya. Yunho mendongak, matanya sayu, ia tengah menahan tangisnya, walau bagaimanapun Kyuhyun adalah dongsaengnya, dongsaeng satu-satunya yang sangat ia sayangi.
"Siwon..Kyuhyun..dia.."
Aku ikut berjongkok, menepuk bahunya, memberikan sedikit kepercayaan untuk berbagi, aku ini calon Suami Kyuhyun, aku juga berhak tahu yang terjadi dengan calon istriku.
"Percayalah hyung..Aku juga menderita, bahkan jauh lebih tersiksa darimu, hanya dengan melihat tatapan mata Kyuhyun, maka disini..ya tepat disini, aku merasakan semuanya luluh lantah" Aku memegang dada kiriku, tepat diatas denyut jantungku berdetak. Yunho menggeleng sekilas
"Kyuhyun..Kyuhyun tidak akan bertahan lama lagi Siwon.."
Deg..
Detak jantungku seakan berhenti mengalun, aku ikut terduduk.
"Bukankah Kyuhyun memang sering mengatakan hal bodoh seperti itu hyung, kau jangan bercanda"
"Ani Siwon-ah, hyung tidak bercanda, Suaranya memang telah kembali, tapi tahukah kau, kalau selama ini penglihatan Kyuhyun sudah semakin buruk?"
"Mwo?"
Aku mencoba mengingat beberapa kilasan kejadian sebelum Kyuhyun kembali drop, ia memang terkadang salah menunjuk sebuah barang yang ia inginkan, atau matanya tidak fokus memandang ke arahku, tapi..tapi..
"Mianhe Siwon-ah.. Mianhe.."
"Tidak hyung. Tidak akan ada yang bisa mengambil Kyuhyun dariku. Tidak akan!"
Aku berdiri, berteriak histeris. Appa Cho mendekatiku, memeluk tubuhku.
"Tenanglah Siwonnie, ini rumah sakit, tenanglah" ucapnya berulang kali, namun seakan telingaku tuli, aku malah berbalik, memegang bahu namja paruh baya itu.
"Appa.. appa.. Kyuhyun-ku akan baik-baik saja bukan? Kyuhyun-ku akan tetap disini? Kyuhyun-ku tidak akan meninggalkanku kan appa? Iya kan? Appa jawab appa?" Aku mengguncang bahu appa Cho, Yunho berdiri mencoba melepaskan rengkuhanku dibantu eomma Cho.
"Siwon! Lepaskan.. " Yunho menghempas lenganku, aku berjengit tertunduk bersandar pada tembok putih, ingin rasanya aku berteriak, berlalri menerobos pintu kaca itu, lalu mengambil Kyuhyun-ku, membawanya pergi jauh dari tempat ini..
Aku meneteskan airmata, saat seseorang memelukku erat, hangat.
"Siwonnie, tenanglah, eomma yakin Kyuhyun bisa melewati ini semua, eomma yakin Kyuhyun akan bertahan, eomma yakin Siwonnie..eomma yakin.." Eomma Cho mengelus lembut punggungku. Aku semakin terisak merasa kalah dengan ketegaran seorang eomma Cho.
Waktu berjalan begitu saja, sudah hampir 3 jam lamanya kami menunggu Kyuhyun siuman setelah 2 jam yang lalu dokter mengatakan kalau sel kanker di tulang belakangnya sudah menyebar di beberapa syaraf sensorik dan motoriknya. Aku masih disini, berdiri kaku tanpa melepas sedikitpun pandanganku pada sosok Kyuhyun yang terbaring lemah, aku melirik bingkisanku yang teronggok di samping eomma Cho, menatapnya bergantian dengan Kyuhyun. Mataku membulat, seakan mendapat sebuah ide.
"Eomma.. appa, bolehkah aku berbicara sebentar dengan kalian?"
Appa dan Eomma Cho tampak bingung namun kemudian mengangguk samar, mereka berdiri mengikutiku
"Hyung, aku titip Kyuhyun sebentar ne"
Yunho hanya mengguman pelan, ia masih terlihat Shock dengan duduk memeluk lututnya, matanya masih mawas menatap kedalam ruang berdinding kaca itu. Mengawasi adiknya yang masih belum sadar.
Aku mengajak Appa dan Eomma Cho untuk duduk di kafetaria, aku memesak 3 gelas mocca ukuran sedang, mereka tampak sedikit bingung saat aku mengeluarkan sesuatu dari dalam bingkisan yang sedari tadi kubawa.
"Appa, eomma, kalian telah mengenalku jauh sebelum aku mengenal kalian, kalian mengerti aku seperti orang tuaku mengerti aku, kita telah bersama sejak aku lahir hingga kini.."
Aku menggantung kalimatku..
"Kalian juga telah berbesar hati menerima pertunanganku dengan Kyuhyun.."
Kami terdiam, ada jeda sedikit lama..aku membuka Kotak beludru kecil berwarna putih berisikan cincin dengan batu sapphire blue diujungnya.
"Appa, Eomma, Ijinkan aku menikahi Kyuhyun detik ini juga.."
"Mwo?/Ye?"
Appa dan eomma Cho berseru, setelah sadar kelakuannya membuat orang-orang memperhatikan kami, mereka kembali berdehem lalu menghela nafas.
"Siwon, kami tahu kau sangat mencintai Kyuhyun, kami tahu cinta kalian tidak biasa, hanya saja.. Kau tahu kondisi Kyuhyun sekarang, apa tidak sebaiknya kita menunggu ia pulih dulu?"
"Appa, kau mengerti jika cinta kami tidak biasa, aku mencintai Kyuhyun dengan cara yang tidak biasa, dengan cara yang tidak selayaknya orang normal, iya, aku memang menggilai Kyuhyun, namun bukan gila secara orang-orang kasmaran diluar sana, tapi aku menggilai Kyuhyun dengan segala kekurangannya"
Eomma cho menitikkan airmatanya, jemariku terulur menyeka bulir bening itu.
"Eomma, aku mohon jangan menangis, Kyuhyun selalu berpesan padaku agar menjaga kalian seperti aku menjaga dirinya, seperti aku menyayangi orang tuaku sendiri, jadi.. aku harap kalian juga mengerti"
"…"
"Appa, Aku bisa menjadi kaki untuk Kyuhyun, Menjadi mata untuknya, Menjadi mulut baginya, menjadi telinga darinya. Bahkan aku bisa menjadi detak jantung untuknya jika itu bisa.."
Kami terdiam, aku menunduk meremas jari-jariku, sesekali aku melirik kotak yang masih terbuka menyilaukan didepanku, sebuah tangan terulur meraihnya, aku mendongak.
"Baiklah, Choi Siwon, aku harap kau mau berbagi margamu untuk anakku"
Appa Cho menggenggam kotak tadi, membuat senyumku mengembang
"Gomawo appa, eomma"
….
(HEECHUL)
B.E.A UTIFUL
Aku menghirup udara segar, setelah beberapa tahun menetap di jepang akhirnya hari ini aku bisa kembali menginjakkan kaki di negara kelahiranku, Seoul..
Drrrtttt..drrrrtttt…Ponselku bergetar, menandakan ada panggilan yang masuk. Kurogoh saku celanaku.
"Yeobseo"
"…"
"Ne, aku sudah tiba di incheon, arraseo"
"..."
"Hehehehe, ne yeobo"
"..."
Klik, sambungan terputus, aku beranjak dengan menarik sebuah koper yang tidak terlalu berat mengingat usia perutku yang sudah memasuki bulan ke 3, suamiku sangat over protektif padaku walaupun bisa dikatakan kami hidup terpisah selama setahun terakhir ini. Aku menetap di jepang melanjutkan studi dokterku dan suamiku kembali ke Seoul melanjutkan bisnis ayahnya.
Aku melambai pada sosok Hangeng yang tengah melayangkan pandangannya menyusuri gate, ia setengah berlari menjemputku. Ya, Hangeng adalah suamiku, ah, mantan suamiku yang kini kembali menjadi suamiku. Terdengar konyol namun itulah yang terjadi.
Ternyata setelah perceraian itu hubungan kami malah membaik, kami seakan memulainya dari awal, memupuk semua perasaan kami hingga akhirnya kami kembali menikah. Dan kami akan memiliki anak sebentar lagi.
Setelah mengecup dahiku lalu mengelus perutku sebentar, kami langsung beranjak dari airport menuju Rumah Sakit Seoul. Bukan. Bukan karena kandunganku atau kesehatan salah satu dari kami yang bermasalah namun karena kini aku telah menjadi seorang dokter dan bertugas di rumah sakit tersebut.
"Lalu bagaimana dengan profil pasienmu itu chagiya?"
Hangeng menyetir sembari melirikku sekilas, aku menengadah, menyandarkan leherku yang terasa kaku.
"Dia menderita osteosarcoma, stadium akhir" Bisikku
"Kasian sekali dia"
Aku melirik hangeng yang kembali fokus pada jalan, fikiranku melayang pada kejadian seminggu yang lalu..
Flashback
Aku baru saja selesai mengurus perlengkapanku, menggantung pakaian operasi di tempat biasa dan mencuci tanganku. Sebagai seorang dokter sudah seharusnya aku higienis dalam hal apapun, apalagi setelah menjalani operasi seperti ini.
Aku kembali keruanganku setelah memberitahu keluarga pasien bahwa operasinya berjalan lancar, tawa dan ucapan syukur menggema, aku ikut tersenyum. Membuat mereka bahagia sudah cukup bagiku.
Kuregangkan otot-otot leherku saat ponselku bergetar, sebuah urutan nomor baru, dahiku berdenyit.
"Halo.."
"Yeobseo.. Kim Heechul?"
"Ne, aku sendiri.."
Aku heran, si penelpn menggunakan bahasa korea, sementara kini aku di jepang.
"Ini aku, Changmin.. kau masih mengingatku bukan?"
"Changmin? Orang yang bersama Yunho waktu itu?"
"Ne, ah syukurlah kau masih mengingatku"
"Waeyo changmin-ssi?"
"Eum, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu"
"Hei, aku di jepang.."
"Aku juga"
Kami terdiam beberapa lama
"Besok, aku hubungi lagi"
Ucapku akhirnya, aku menutup pembicaraan kali ini dengan helaan nafas, apa yang akan changmin bicarakan padaku? Terakhir kali aku melihatnya pada saat ia dan Yunho menceritakan semua hal tentang Kyuhyun dan Siwon, lalu sekarang apalagi yang akan ia bicarakan? Dia juga belum tahu jika aku telah menikah.
Flashback End
"Chagi? Hei.."
Hangeng menepuk bahuku, aku terhenyak. Ternyata kami telah tiba di pelataran Rumah sakit
"Kau kenapa? Apa sebaiknya kau istirahat saja dulu hm?" Hangeng mengusap kepalaku lembut, aku tersenyum lalu menggeleng.
"Pasien membutuhkanku, aku harus selalu siap untuk mereka"
"Aku? Anak kita?"
Aku tertawa, memukul bahu Hangeng gemas, mana mungkin aku menyamakan mereka dengan pasienku, dua hal penting namun berbeda konsekuensi.
"Kalian yang terutama"
Hangeng tersenyum, lalu mengelus perutku lagi
"Yes! Baby, kita masih yang utama"
Aku terkikik geli dengan kelakuan Hangeng yang terkadang kekanakan.
"Eum, memangnya siapa pasienmu yang begitu penting kali ini chagi?"
Hangeng menemaniku masuk ke dalam ruang demi ruang perawatan. Aku menatapnya sekilas lalu tersenyum
"Kau akan tahu sendiri" Dahi Hangeng mengerut
"Aku mengenal dia sebelumnya?"
Aku hanya mengangkat bahu, membiarkan Hangeng mengikutiku dengan kepala berkedut lucu, ia masih memikirkan siapa pasienku kali ini.
Krieeettt
Pintu yang memisahkan antara pelataran dan ruang tunggu terbuka, sosok itu terlihat di depan ruang ICU, aku melirik Hangeng yang masih tertinggal beberapa langkah dibelakangku, matanya terangkat bersamaan dengan langkahnya yang terhenti.
Kini kami berjarak hanya beberapa langkah dari dia. Hangeng tampak membeku namun matanya mawas menatap Yunho. Yunho mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk, mungkin merasa dirinya diperhatikan seseorang, ia memalingkan wajahnya ke arah kami. Mata sendunya membulat, rahangnya mengeras, ia berdiri.
Aku mengalah untuk maju duluan
"Annyonghaseo Cho Yunho, lama tidak bertemu denganmu, apa Changmin-ssi sudah menghubungimu?"
Yunho nampak tertegun untuk kedua kalinya.
"Ne? Changkamman, jangan bilang kalau kau.. kau adalah dokter yang dikatakan Changmin? Yang akan menangani Kyuhyun?"
Aku mengangguk pelan, Yunho memperhatikanku bergantian dengan Hangeng yang menggenggam tanganku.
...
TBC..
Bow Bow Bow.. mian updatenya telat pake banget =_=
makasih banyak yaaaaa rviewnya, euum apa lagi ya, hehehehe
