Return [7]: Perusak
Sengoku BASARA © CAPCOM
Return © 406Mea
Warning: OOC, OC (Megohime), sekuel dari Backfire, takutnya mainstream.
DILARANG BACA FF INI SEBELUM BACA FF BACKFIRE!
Tapi terserah sih kalau mau kena spoiler gede-gedean.
Enjoy!
.r.
PEREMPUAN itu terdiam.
Apa yang dia bisa lakukan setelah ini? Rasanya tidak ada. Sepertinya, Megohime memang sudah harus menyerah. Sudah mendapat bentakan dari Masamune, ditolak mentah-mentah, disindir telak pula. Menyebalkan. Mana mantannya itu menjadi "miring".
Tapi, mau bagaimanapun juga, Megohime harus tetap mencari cara untuk mengembalikan Masamune yang dulu.
Semua ini salahnya, dan ini merupakan tanggung jawab atas perbuatannya.
"Masamune-kun... aku menyesali semua itu." Megohime memejamkan kedua matanya. "Jika kau memberikanku kesempatan sekali lagi, aku janji, aku akan memanfaatkan itu sebaik-baiknya."
Sayangnya, sepertinya kesempatan itu tidak akan pernah ada.
.r.
YUKIMURA senang.
Sasuke ikut senang.
Masamune ikut senang juga.
Kojuuro ikut-ikut senang juga.
Pasalnya, Yukimura kini sedang rusuh—baca: berbahagia—membuka bungkusan kado yang diterimanya! Banyak sekali, hampir semua teman-temannya memberikannya. Hal ini membuat Sasuke, Masamune, dan Kojuuro terpaksa membantu membukakan kado untuk Yukimura, saking banyaknya. Mungkin berjumlah sekitar enam puluh kado yang diterimanya.
"Baru kali ini aku mendapat kado sebanyak ini! Wah, sweet seventen memang dahsyat, ya!" seru Yukimura dengan mata berbinar-binar.
Ketiganya tertawa lepas.
"Tapi, Yuki, aku benar-benar minta maaf ya atas kejadian kemarin," ucap Masamune. "Sebenarnya aku tidak mau membentak dan menculikmu seperti itu, tapi itu semua adalah ide Kojuuro."
Kojuuro mengangkat bahu. "Yah, aku sih sudah bilang terserah. Padahal, masih ada yang lebih ekstrim daripada itu."
"Katakura-dono yang merencanakan semuanya?" tanya Yukimura.
Masamune menggeleng. "Sarutobi ikut membantu. Tadi pagi kau berceloteh tentang Sasuke berangkat duluan karena ada titipan, 'kan? Sebenarnya dia pergi ke rumahku untuk memantapkan rencana mengerjaimu."
"Begitu?" Yukimura terkaget-kaget.
"Aku tak kebagian peran," celetuk Kojuuro.
"Setidaknya kau mendapat potongan kue ketiga dari Yuki, 'kan?" kekeh Sasuke.
"Iya sih. Tapi, aku gatal ingin ikut," rengek Kojuuro. "Dari dulu aku hanya membuat strategi, tapi hanya orang lain yang melaksanakannya."
Masamune menatap Kojuuro jijik. "Kau menjijikkan."
Kojuuro mendengus sebal. Sasuke tertawa kecil, kemudian mengusap-usap pundak pacarnya.
"Sabar dong, Kojuuro," kekehnya.
Kojuuro menyandarkan kepalanya di dada Sasuke—sukses membuat wajah Sasuke begitu merah. Masamune terbahak melihatnya. Akhirnya, Sasuke membuat reaksi normal, tidak menonjok Kojuuro seperti kemarin-kemarin.
Sementara itu, Yukimura masih sibuk membuka bungkusan-bungkusan kado. Rata-rata dari mereka memberikan jam tangan atau tas ransel, ada yang memberikan miniatur harimau yang sangat Yukimura sukai. Ada juga yang memberikannya hachimaki (ikat kepala yang selalu melingkar di kepala Yukimura itu) baru.
Yukimura mengernyitkan alis begitu membuka kado ke-29.
"'Untuk kekasihku tercinta, dari Date Masamune.' Ini kado darimu, Masamune-dono?" tanya Yukimura, memperlihatkan Masamune kado yang dipegangnya.
Masamune mengangguk. "Coba buka."
Yukimura pun membukanya.
"Ini..." Yukimura terkejut begitu membukanya. "Jaket berbentuk kaos?"
"Hoodie," koreksi Masamune. "Lihat hoodie yang kupakai. Sama 'kan?"
Yukimura mengernyitkan alis. "Kembar? Buat apa?"
"Aduh, Yuki." Masamune menepuk dahinya. "Couple."
"Maksudnya?" Yukimura masih tidak mengerti.
Masamune menarik napas panjang. Dasar otak lemot, selalu membutuhkan berkali-kali penjelasan agar mengerti. Tapi, ya sudahlah, orang seperti ini malah akan membuatnya semakin sabar, bukan?
"Maksudnya, kita pakai hoodie kembar seperti gaya orang pacaran jaman sekarang. Kau sering lihat orang pacaran memakai baju kembar, 'kan? Nah, itu dia." Masamune tersenyum. "Aku ingin saat kita kencan besok, kau memakai hoodie ini."
"Kencan? Besok?" tanya Yukimura tambah kaget.
Masamune mengangguk. "Iya, Sayang."
Pipi Yukimura memerah.
"Habisnya dari tadi lemot banget." Masamune terkekeh.
"Ya sudah, sih." Yukimura memberengut. Dia membuka kado selanjutnya. "Kado ketiga puluh… dari Mego-dono. Wah! Jaket!"
Entah kenapa, tiba-tiba saja Masamune menjadi kesal mendengar nama itu. Mungkin karena teringat obrolannya dengan Megohime kemarin. Ah, semoga saja perempuan itu tidak berniat apa-apa pada Masamune. Duh, jangan sampai perempuan itu merusak hubungannya dengan Yukimura.
"Oh iya, aku jadi teringat sesuatu. Kemarin Masamune-dono dengan Mego-dono membicarakan apa?" tanya Yukimura.
Oh, haruskah Masamune menjawab ini?
"Tidak penting kok," jawab Masamune. "Kau sendiri dengan Megohime-san membicarakan apa?"
"Yang mana?" tanya Yukimura.
"Yang katanya dia lancang sekali sudah berbuat sesuatu padamu, pada pagi hari."
"Ooo…." Yukimura manggut-manggut. "Itu tidak penting kok."
Masamune mendecak sebal. "Yuki, jawabnya yang benar dong. Aku ingin tahu apa yang dia lakukan padamu. Aku takut kau kenapa-kenapa."
"Lah, Masamune-dono sendiri bilang tidak penting. Wajar dong aku mengatakan demikian." Yukimura mengangkat bahu.
Kojuuro tiba-tiba tertawa. "Kalian ini sama saja. Cobalah lebih terbuka sedikit, aku yakin kalian tidak akan saling curiga kalau saling jujur."
"Nah," timpal Sasuke.
Yukimura tersenyum kecil, merasa agak bagaimana gitu. "Kemarin pagi Mego-dono meminta tolong padaku untuk membantunya meminta maaf padamu. Dia bilang dia ingin memulai segalanya lagi, sebagai teman. Kalau Masamune-dono bicara apa saja dengannya?"
"… Sama, sih," jawab Masamune. "Tapi, aku malah membentaknya. Ck, padahal dia tidak kuat dibentak."
Yukimura menunduk, tangannya terkepal. Masamune masih ingat saja.
"Dulu dia pernah menangis karena kubentak. Dan… kalian juga tahu sendiri aku tidak bisa melihat siapapun menangis. Untungnya kemarin dia tidak menangis." Masamune menghela napas.
Sejujurnya Yukimura tidak tahu harus bereaksi apa. Apa maksudnya Masamune mengatakan hal seperti itu? Seperti orang yang sangat mudah berpindah hati hanya karena melihat seseorang menangis. Ah, kalau begini caranya, Masamune akan kembali ke pelukan Megohime! Tidak bisa dibiarkan.
Tapi… hal itu membuat Yukimura sadar.
Jika Masamune bisa dengan cepat mencintai seseorang hanya karena melihat orang itu menangis, maka, kapanpun Megohime menangis, bisa jadi Masamune akan mencintai gadis itu lagi. Soalnya, dulu Yukimura diperlakukan begini juga.
Ini sangat buruk. Dan Yukimura harus mencari cara untuk mempertahankan cinta Masamune padanya.
.r.
"SELAMAT pagi, Masamune-kun." Dengan senyuman manis, Megohime menyapa Masamune yang kebetulan bertemu di depan kelas 12-3.
Masamune hanya berjalan melewatinya—memasuki kelas itu.
"Sanada-san dan Sarutobi-san belum datang," celetuk Megohime. "Kau sudah sarapan, Masamune-kun?"
Masamune mendecak. "Apa gunanya kau menanyakan hal tidak penting seperti itu?"
"Oh." Megohime tertegun. Reaksi laki-laki ini dingin sekali. "Tentu penting. Kita sudah kelas 12, pastinya mengeluarkan banyak energi untuk berpikir. Kita tidak bisa berpikir jernih apabila perut kosong. Selain itu, dulu kau juga hampir tidak pernah sarapan di rumah, jadi aku berpikir apakah kau masih melakukan hal yang sama."
"Hmm."
Megohime berjalan menuju bangkunya, kemudian mengeluarkan kotak makan berwarna biru dengan ukuran sedang dari tasnya. Dia mendekati Masamune yang kini duduk di salah satu bangku—laki-laki itu sedang menunggu Yukimura datang.
"Aku yakin kau belum sarapan. Aku membuatkan satu untukmu." Megohime lagi-lagi tersenyum ketika menyerahkannya.
Shit. Dia tahu kalau aku belum sarapan! Dalam hati, Masamune berseru. Perempuan ini memang tak pernah berubah.
Namun, Masamune menolaknya. "Aku sudah sarapan."
"Oh ya?" Mata Megohime membulat. "Wajahmu terlihat kurang bertenaga, pasti karena belum sarapan. Kau makan bentou -nya ya?" mohonnya.
Dan karena Masamune kelaparan, terpaksa dia menerimanya.
Megohime tersenyum. "Terima kasih, Masamune-kun."
"Harusnya aku yang berterima kasih, kok. Thanks." Masamune membuka tutup kotak makan itu, kemudian mulai memakan isinya dengan sendok yang diberikan Megohime.
Keduanya pun terdiam.
Masamune tersenyum kecil tanpa disadari. Masakan perempuan ini memang selalu membuainya. Dari dulu selalu lezat terasa—karena sudah lewat tiga tahun, tentu lebih lezat rasanya.
Tunggu! Jangan sampai Masamune terpengaruh. Megohime ingin merebutnya dari Yukimura.
Yukimura. Yukimura. Yukimura.
"Mego…."
"Mego… jangan pergi lagi."
"Bahkan… Masamune-dono melihatku sebagai dia… apa aku semirip itu dengannya…?"
"Biarkan aku memelukmu seperti ini, Mego…."
Masamune membelalak. Dia berhenti makan—tangannya berubah kaku.
"Haruskah aku menangis setiap saat agar Masamune-dono mengerti?"
"Aku mencintai Masamune-dono dan… kau menghancurkan perasaan ini."
Entah bagaimana caranya, air mata Masamune mengalir deras.
"Eh? Masamune-kun?!" Megohime berseru panik, dia mengguncang-guncangkan bahu Masamune. "Ada apa?!"
"Aku…."
"Dia hanya bayangan yang menjadi dinding di antara kita…."
"Dasar laki-laki tidak bertanggungjawab."
Masamune menunduk, menjambak rambutnya frustrasi.
Dia tidak bisa menerima semua ini. Dia sangat mencintai Yukimura. Dan dia tidak mau berada di posisi membingungkan seperti ini. Membiarkan dirinya memakan masakan mantannya, sama saja membiarkan perempuan itu masuk ke dalam hubungannya dengan Yukimura—perlahan-lahan akan merusaknya. Ini tidak bisa dibiarkan!
Sayangnya, Megohime saja yang tidak tahu diri—sudah tahu Masamune mencintai Yukimura, tapi masih saja perempuan itu mencoba dekat lagi dengan Masamune.
"Megohime-san."
Megohime menatap Masamune khawatir. "Ya? Ada apa?"
"Tolong," mulai Masamune. "Jauhi aku dan Yuki. Buang semua rasa bersalahmu itu—sudah tak ada gunanya lagi. Aku memaafkanmu, jika itu yang kau mau. Jangan pernah ganggu kami lagi, kami sudah berbahagia. Tolong, JANGAN pernah kembali." Masamune menahan air matanya yang hendak jatuh lagi sekuat tenaga.
Penerimaan maaf itu, bagi Megohime…
Sama sekali tidak cukup.
Kenapa? Megohime menginginkan laki-laki itu, jika boleh jujur. Dia ingin kembali berbahagia bersama Masamune seperti dulu. Dia ingin mengulang segalanya. Namun… mantannya ini benar-benar kekeuh.
"Aku…." Suara Megohime bergetar. "Aku…."
Satu tetes air matanya jatuh.
Tidak. Jangan menangis, batin Masamune ngeri.
"Aku… masih mencintaimu." Dengan itu, air mata Megohime mengalir dengan deras. Dia terisak, mengeluarkan segala kepenatan di dada. "Bukan sekadar maaf yang kumau. Aku ingin kita bisa bersama lagi, seperti dulu. Mengulang segala kenangan yang sempat terbuang begitu saja."
Masamune menghela napas. "Megohime-san… aku tidak bisa."
"Jujur, aku tidak suka akan fakta bahwa kau gay gara-gara aku. Itu menyakitkan, sekaligus bodoh," lanjut Megohime. "Ada apa denganmu, sampai-sampai memutuskan untuk menjadi gay? Masamune-kun, misalkan aku di posisimu, sesakit-sakitnya aku, aku juga tak akan memilih untuk menjadi lesbian."
Perjodohan, Masamune menjawab dalam hati.
"Aku trauma dengan perempuan."
"Kau harus berpikir lebih logis." Megohime menggeleng-gelengkan kepalanya, tangannya mengusap air matanya. "Bagaimana masa depanmu kalau kau gay? Kau tidak bisa punya anak kalau kau gay, Masamune-kun!"
Masamune membeku.
"LALU KAU HARUS BELAJAR MEMIKIRKAN NASIBMU DI MASA DEPAN! TENTANG BAGAIMANA NANTI KAMU DEWASA DAN KELAK AKAN MENIKAH, YUKIMURA! KAU TIDAK MUNGKIN MENIKAH DENGAN LAKI-LAKI JUGA!"
Ketika Masamune mendengarkan perdebatan itu dari luar kamar rawat rumah sakit….
"Masa depanku jelas bukan kau."
Masamune menggertakkan giginya kesal, dia membenturkan kepalanya di meja. "Ya Tuhan, sampai kapan harus begini? Kenapa aku selalu ada di pihak yang salah? Aku hanya berusaha mempertahankan apa dan siapa yang kucintai, itu saja, namun selalu saja dipermasalahkan. Aku tidak mau ada di dunia kalau begini caranya."
"Masamune-kun…." Megohime tertegun.
Masamune berpikir untuk bunuh diri karenanya. Duh, apa Megohime sudah kelewatan?
"I want to die."
"Masamune-kun!" Dengan sigap, Megohime mengambil tangan Masamune dan menggengamnya erat. "Jangan seperti ini. Aku minta maaf sudah kelewatan. Aku tidak bermaksud—"
"LEPASKAN TANGANKU, MEGOHIME-SAN!"
Kontan, Megohime melepaskan tangan Masamune dengan takut-takut.
"Kau." Masamune mengangkat kepalanya, menunjuk Megohime dengan tatapan tajam. "Tahu diri dengan posisimu sekarang. Dasar perusak hubungan."
Dengan itu, Masamune berdiri.
"Tapi, Masamune-kun, aku hanya berniat untuk—"
"Memisahkanku dengan Yuki?" Masamune tertawa keras. "Perempuan tak tahu diri."
Dan Megohime menangis.
Semudah itu.
Perkataan itu… mengapa terasa sangat menyakitkan?
"Seorang perempuan TIDAK akan pernah merencanakan suatu hal yang negatif kepada orang yang dicintainya." Megohime menutupi wajahnya yang basah. "Apapun yang kulakukan hanya demi kebaikanmu, kebaikanku, dan kebaikan kita. Aku bukannya tidak tahu diri. Aku peduli padamu dan masa depanmu. Aku tidak mau kau termakan dosa. Aku mencintaimu, dan aku ingin kau bahagia di jalan yang lurus."
Bahu Masamune menurun, dia tertegun.
"Sudahlah." Megohime tersenyum pahit. "Silakan pergi kalau kau memang pergi. Maaf yang sebesar-besarnya jika aku menggangu hubunganmu dengan Sanada-san. Aku tidak akan pernah mengusik kebahagiaan kalian lagi."
Dan Megohime pun keluar kelas.
Sayangnya, dia bertabrakan dengan Yukimura yang kebetulan ingin masuk kelas.
"Mego-dono?" Yukimura terkejut begitu melihat wajah Megohime yang seluruhnya basah karena air mata. "Ada apa?"
Megohime menggeleng, kemudian dia segera pergi.
"Aneh," gumam Yukimura. Dia pun masuk ke dalam kelas, terkejut menemukan Masamune yang sedang membenturkan kepalanya ke dinding. "Masamune-dono?! Ada apa?!"
Dan Yukimura dengan cepat menyadarinya.
Pasti Masamune baru bertengkar dengan Megohime.
Bertengkar tentang… apa, tapinya?
"Demi kebaikanku… apa benar?" Masamune meringis—tidak menyadari kehadiran Yukimura. "Ya Tuhan, tangisan itu…."
Jangan sampai hanya karena tangisan itu, Masamune mencintai Megohime kembali.
To be continued.
.r.
A/N
Aduh kasian Masamune sama Megohime… tapi kasian juga si Yukimura… gua jadi bingung mau di pihaknya MasaYuki ato Mego. Soalnya mereka sama-sama punya pembelaan yang kuat. (gimana sih, author-nya padahal) Wah, pada mihak siapa nih jadinya? Hehe
AH INI GIMANA SIH MASAMUNE JADI PLIN PLAN BANGET. DARI JAMAN BACKFIRE SAMPE JAMAN RETURN TETEP AJA PLIN-PLAN. SEBEL JADINYA SUMVEH
TRUS INI GATAU KENAPA FEEL-NYA NGEGANTUNG BANGET :( nahlu banyak kan flashback dari Backfire, dijamin gak bakal ngerti kalo blom baca Backfire XD
Balesan review:
Mitsune - Asyifa: Yap, ini semua emang salah Megohime… tapi tetep aja kasian :( MasaYuki emang so sweet banget XD yap, dan maap juga di suatu chapter ada review lu kelewat… oke siap!
Shadow0Reader: Tapi kasian Mego-nya :( hehe daku juga suka pas Yuki dinginin Mego. Tampan dan berani gitu :v *ditonjok* hmm… sebenernya lebih beban lagi kalo ga ada jadwalnya, soalnya malah deg-deg khawatir gimanaaa gitu kalo blom update. Hehe makasih ya
aka-chan: Well… what do you think about this chapter? Masamune is totally confused :(
Fujo queen: Yap, emang kurang greget. Udah gitu alurnya kecepetan pula XD Mego di depannya aja sok kecewa kok pas mereka ciuman, padahal mah jijik. Lebih kecewa sama Masmun yang bentak dia XD
Chacha Rokugatsu: Puasan mana sama baca chapter ini hayo :v berantemnya lebih intens. Scene romantis MasaYuki ada lagi kok nanti :v *spoiler*
Megohime: "Sakit laaaa… sakit!"
Okay XD ini sudah kulanjut
Thank you all for reading. If you wanna join the series, you can move on to the next chapter, or even follow me to be notified of the future fictions. Good bye!
10 Maret 2017
