Apa itu sebuah kesalahan?

Menyatakan perasaanmu pada seseorang yang kau sukai sejatinya bukan sesuatu yang salah, bukan? Harusnya malah perasaan lega menggerayangi dadamu yang senantiasa sesak oleh buncahan emosi yang tertahan. Perkara diterima atau tidak, itu urusan belakangan. Jimin juga tidak berpikir macam-macam. Dia tahu Taehyung menyukai Yoongi saat ini, dan meski mereka punya ikatan spesial, ia tidak meminta Taehyung untuk balik menyukainya atau semacamnya. Dia tidak banyak berharap tentang itu. Dia hanya mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya, yang selama ini tertahan di pangkal kerongkongannya.

Tetapi, dari reaksi Taehyung, sepertinya ada sesuatu yang salah.

Pemuda itu terdiam. Tidak membalas ucapan Jimin yang nyaris tersapu angin senja, membuang wajahnya yang tak terbaca ekspresinya. Yang bahkan Jimin pun tak paham apa arti dari tatapan matanya. Lalu mereka hanya membunuh waktu dalam diam.

Jimin tidak mengerti. Kalau memang tidak diterima, ya harusnya bilang saja, tidak apa-apa. Toh, masih ada banyak waktu untuk mengubah perasaannya dan merebut hatinya yang katanya sudah terkunci untuk Yoongi. Lagipula, salahnya sendiri membuat Jimin berdegup-degup manja karena ucapan manisnya. Harusnya dia tak perlu mengatakan hal semanis itu, 'kan Jimin jadi kelepasan meluapkan perasaanya. Walau sebetulnya, itu bukan masalah besar.

"Kiko bisa mati kekenyangan kalau kamu kasih makannya begitu,"

Tersadar, sudah ada Ibunya di hadapan. "Oh... aku melamun."

"Disuruh kasih makan ikan malah nggak becus," Ibunya menarik akuarium kecil dari pangkuan Jimin dan membuang beberapa pelet yang mengapung-ngapung terlalu banyak. Ia berdecak kecil oleh kelakuan anaknya yang jadi tukang melamun. Diliriknya Jimin yang malah balik melamun! Haduh, itu anak... "Mikirin apa, sih?"

"Taehyung, Bu..."

Kalau begini, mulai sudah. "Kenapa Si Manis itu? Menolak cinta?"

"Loh? Kok Ibu tahu?!" napasnya tertahan kaget. Apa Ibunya cenayang?

"Jihyun melihatmu mencium Taehyung di pinggiran sungai sore-sore," ia mendelik pada Jimin yang mengerjapkan matanya cepat. Kemudian mendesis geli, "Wajahmu itu persis Ayah ketika ditolak senior populer jaman kami SMA. Persis! Kau memang mirip Ayahmu, Jimin. Dasar payah, begitu saja merengut seperti tofu lembek. Kalau memang beneran suka, kejar terus sampai dapat! Usaha dulu yang benar baru menyerah,"

Bahunya melorot sedih. "Dari kelas 5 SD sudah kukejar, Tae saja yang gak peka."

"Nah, karena dia tidak peka," ia meletakkan akuariumnya dan menarik kepala Jimin mendekat. Mengusak rambut legamnya yang halus dan wangi peppermint. "Buat dia sadar kalau semua yang kau lakukan itu karena perasaan suka yang sesungguhnya. Bukan karena sebagai sahabat semata, walau sebenarnya bisa saja sih, sahabat melakukan apa yang kau lakukan. Tapi, karena kudengar dari Jihyun kamu sudah menyatakan cinta dan ditolak Si Manis, jangan menyerah! Dengarkan Ibu, jangan menyerah!"

Inginnya sih begitu. Tetapi, mengingat wajah Taehyung...


Ambition

..

Park Jimin x Kim Taehyung ǁ Min Yoongi x Kim Taehyung

[MinV] vs [TaeGi-YoonV]

..

I will run to reach you!


Taehyung memasukkan alat lukisnya ke dalam tas ransel. Kelasnya sudah selesai pukul empat sore, tetapi ia tidak keluar dan melukis sesuatu di dalam kelas. Ada Jisoo dan Joohyuk yang ikut melukis dan menemaninya berbincang. Ketika ia menengok langit, sudah gelap dan berawan abu-abu. Jadi dia pikir lebih baik pulang dan mengerjakan tugasnya di rumah saja.

"Loh, sudah dijemput Jimin?" Jisoo bertanya. Dia melukis komidi putar.

"Uhm... Tidak, aku pulang sendiri."

Merasa tertarik, Joohyuk melongokkan kepalanya. Berhenti dari kegiatan melukisnya sejenak karena ini sesuatu yang aneh dan menarik. "Kamu? Pulang sendiri? Memangnya Jimin tidak ada kelas hari ini? Tapi, biasanya kan dia suka jemput walau tidak ada jadwal kuliah. Aneh mendengarmu pulang sendirian,"

"Hanya ingin saja," dia nyengir.

Pasti mereka bertengkar, Jisoo dan Joohyuk saling tatap.

"Sepertinya akan hujan lebat. Kau bawa payung?"

Taehyung mengangguk singkat dan pamit. Meninggalkan kedua temannya yang menggosip ringan tentang pemikiran mereka yang bingung oleh anomali. Dua sejoli yang selalu bersama ini berpisah untuk sementara waktu? Ini kan aneh...

.

.

Sebenarnya dia juga tidak mengerti dirinya sendiri.

Kenapa dia harus berlari? Untuk apa? Kenapa sudut terkecil hatinya bilang untuk menjauhi Jimin sementara waktu? Ini mungkin sesuatu yang salah. Ya, ada sesuatu yang salah di dalam kepalanya. Tetapi dia tidak mengerti mengapa jawabannya adalah lari.

Taehyung menyentuh pipinya sendiri.

Aku menyukaimu.

Kalimat sederhana itu terus terngiang di kepalanya. Berulang-ulang seperti kaset rusak. Juga kenangan tentang wajah Jimin yang mengatakannya dengan mantap dan serius. Dia ingat bola matanya yang bening dan sungguh-sungguh. Dia ingat kecupan lembut dari bibir Jimin yang mampir di pipinya untuk waktu yang begitu lama. Dia ingat helaan napas beratnya. Dia ingat genggaman tangannya yang dia lepas. Dia lari. Dan dia diam. Meninggalkan Jimin berendam dalam lautan pertanyaan. Ya, dia merasa konyol sekali.

Tahu-tahu, hujan turun. Dan kali ini, dia tidak berteduh.

"Apa yang sudah kulakukan..."

Dia berjalan lambat, mencoba menantang hujan deras sore ini. Biar saja tubuhnya basah, toh rasanya sama saja. Kalau mandi juga basah, kan. Tidak ada bedanya, nanti juga kering sendiri. Dia melangkah, mengabaikan tatapan heran dari beberapa orang yang lari mencari tempat berteduh barang sebentar saja. Taehyung pikir dia sudah gila. Larangan hujan-hujanan dari Jimin terus terngiang di kepalanya, tetapi dia tidak peduli. Otaknya serasa kosong.

"Hei kau!"

Taehyung merasa tubuhnya ditarik. "Yoongi hyung?"

"Ngapain kau hujan-hujanan?" dia bertanya dengan suara kencang. Mungkin takut kalah dengan berisik hujan yang deras. Taehyung tidak langsung menjawab, masih memerhatikan Yoongi yang berpakaian panjang dengan payung hitamnya yang besar. Ah, pria ini menyelamatkannya lagi dari hujan. Entah dia harus berterima kasih dengan payungnya atau pemiliknya. "Ck, ayo jalan. Kuantar kau pulang,"

"Tidak mau, hyung."

"Kenapa?"

Mungkin ada Jimin disana. "Aku ingin ikut hyung."

"Lihat dirimu sendiri. Sudah seperti anak anjing dibuang," ia memandangi Taehyung yang basah kuyup. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya, yang membuat Yoongi betul-betul gatal ingin mengguntingnya! Wajahnya melas betul-betul seperti anak anjing dalam kardus. "Kau ini harus pulang dan mengeringkan tubuhmu. Mamamu mungkin akan menjerit denganmu yang pulang basah kuyup, jadi pulang sekarang."

Taehyung menahan lengan Yoongi. Menggeleng, dia tak mau.

"A-Apaan, sih, kau ini..."

..

Pada akhirnya, Yoongi membawanya pulang ke rumahnya. Entah karena apa dia sampai memutuskan demikian. Mungkin karena wajah melasnya... ya, dia kasihan melihat bocah yang kehujanan dan tidak mau diantar pulang. Astaga, dia kelihatan seperti anak kecil yang taku pulang karena membawa nilai nol untuk ulangan matematika. Padahal kalau Yoongi pikir, anak semacam Taehyung ini malah pasti disayang-sayang. Lihat tingkah manja dan merengeknya. Mereka tidak sedekat itu untuk dia bisa merajuk pada Yoongi. Dan bodohnya, Yoongi malah berakhir iya-iya saja menuruti maunya.

Mungkin betul kata Daehwi, dia cocok jadi Ayah yang lemah.

Di sisinya, Yoonji tertawa kecil. "Baju Oppa jadi kekecilan dipakai Taehyung-ssi,"

"Diam saja kamu," ia meneguk teh panasnya pelan. "Dan kau 'kan sudah kuajari cara memanggil orang dengan sopan. Taehyung ini meski kelihatan seperti bocah, dia tetap lebih tua darimu. Jadi kau harus panggil dia Oppa juga,"

"Aku tidak masalah, hyung. Nggak apa-apa."

Yoongi diam, menyesap tehnya lambat. Yoonji memang tidak pernah becus untuk mengurusinya makan dan minum. Padahal dia perempuan, dan banyak menghabiskan waktu di rumah. Harusnya dia bisa kalau hanya memasak sup dan menyeduh teh atau kopi. Tapi dia paling tidak suka teh yang terlalu manis dan panas. Ah, lupakan saja itu memang kekurangannya Yoonji. Dia melirik Taehyung yang diam memegang cangkir teh panasnya. Kalau dilihat-lihat, benar juga, bajunya jadi sesak dan mengatung kalau dipakai Taehyung. Ini memalukan. Padahal dia kelihatannya kurus sekali jadi Yoongi pikir bajunya pasti muat, ternyata dia lupa kalau tinggi badan mereka punya perbedaan yang signifikan.

"Aku akan buatkan mi," kata Yoonji yang pamit ke dapur.

Begitu mi matang, Yoonji menyiapkan mangkuk dan sumpit. Dia menaruh panci besar di meja ruang tengah karena mereka tidak punya ruang makan seperti rumah-rumah besar. Taehyung tidak banyak bicara dan makan dengan lahap. Dari apa yang Yoongi lihat, sepertinya dia kelaparan. Porsi makannya lumayan besar, dua kakak beradik ini sampai harus menatapinya makan sesekali karena merasa heran. "Kau tidak kepanasan?" Yoongi meniup mi-nya dan melirik teh Taehyung yang sudah tandas.

"Di luar dingin sekali, hyung."

"Taehyung-ssi nafsu makannya besar sekali, ya."

"Ssssh!" Yoongi melotot dan Yoonji merengut. "Maaf."

Taehyung tersenyum saja. Lanjut makan dengan lahap, seperti tak ada hari esok.


Jimin menutup pintu mobilnya kencang. Duduk bersandari di joknya dengan kesal. Kepalanya pening, seperti tertusuk-tusuk. Sakit sekali. Mata terpejam dan mencoba mengatur napas dan emosinya sendiri. Ya, dia merasa sesak sekali dan ia pikir ia perlu mendinginkan kepalanya yang hampir meledak.

Hebat sekali kau, Taehyung. Kau membuatku gila.

Sudah pasti ini karena pernyataannya sore itu. Taehyung lari menjauhinya. Mungkin di beberapa kesempatan Taehyung akan berkata dia baik-baik saja, dia hanya sibuk dan harus masuk kelas. Kemudian berlari meninggalkannya. Dia sudah tidak makan siang dengannya, sehingga Jimin merasa hampa karena makan sendirian. Biasanya dia akan mengomel dan menggoda Taehyung yang susah makan dan menyuapinya. Tetapi sekarang, entah pemuda manis itu ada dimana.

Dia belum pulang sejak kelas terakhirnya sore tadi.

"Maafkan aku, Taehyung." ia menatap ponselnya, foto layar utamanya menggunakan foto lama. Itu Taehyung yang tertidur setelah pesta kelulusan SMA. Dia terlihat sangat lucu saat tidur, dan belum pernah menggantinya sampai sekarang. itu salah satu foto favoritnya, yang tak akan pernah dia hapus dari ponselnya. Jimin tersenyum tipis, lalu teringat wajah bingung yang tak terbaca Taehyung di bawah senja. Lalu dia teringat genggaman tangan mereka yang Taehyung lepas.

Mungkin, Taehyung kecewa. Jimin 'kan, hanya sahabatnya.

"Aku hanya menyukaimu," ia menghela. "Memangnya salah?"


"Hei, Yoongi."

"Hm?" ia menoleh dengan tetap fokus meletakkan botol susu di lemari pendingin. Ada Kihyun, rekan kerjanya di minimarket, ikut jongkok di sisinya. Dia berkata, "Temanmu yang cakep itu kemana?"

Yoongi tadi memang datang dengan Taehyung, dan jujur saja wajahnya memang cakep. Yoongi tidak akan menentang itu, dia tidak akan gengsi untuk memuji dia cakep. Wajahnya itu perpaduan tampan, manis, dan cantik. Di satu waktu, dia terlihat tampan dan tegas tetapi juga dia punya guratan manis dan cantik –lihat saja bibir indah dan bola matanya yang seperti gundu. Jadi Kihyun pasti menanyakan pemuda itu. "Tadi dia bilang ingin jalan-jalan,"

"Wajahnya cantik, tapi kurasa dia sedang sedih."

"Sedih?"

Kihyun mengangguk. "Kau tidak perhatikan dia terlihat lesu dan diam? Orang seperti dia kelihatannya tipikal ceria dan banyak bicara. Hanya mengira saja, sih."

Pria lembut seperti Kihyun itu menarik. Satu-satunya rekan kerja yang membuat Yoongi betah bekerja hanya dia. Laki-laki itu meski banyak omong, dia bicara benar. Dia pemerhati setiap gerak-gerik manusia yang lalu lalang, yang bicara, yang diam, dan banyak lagi. Kihyun mungkin belajar sesuatu tentang membaca karakter manusia, dan itu membuat Yoongi nyaman untuk bicara padanya. Dia baik dan perhatian –ya karena dia memang suka memerhatikan. Dan untuk analisanya barusan, ya, Kihyun benar. Taehyung itu pemuda yang ceria dan banyak omong. Harusnya dia banyak ngobrol seperti biasanya, tetapi sejak ia menemukannya berjalan lambat di bawah hujan, entah kenapa dia lebih banyak diam. Seolah-olah senyum, tawa, dan keceriannya terbawa luntur oleh air hujan.

Meski malas diakui, Yoongi merasa janggal dengan sikap Taehyung yang itu.

.

.

Ketika Yoongi pamit pulang, dia langsung mencari Taehyung. Karena laki-laki itu tidak juga kembali ke minimarket, ia agak khawatir. Mungkin saja bocah itu pulang ke rumah, tetapi harusnya dia bilang dulu 'kan? Bukannya apa, Yoongi hanya ingin memastikan Taehyung harus mengembalikan pakaiannya! Juga mengambil bajunya yang basah kuyup, dan membayar teh, mi, juga akomodasi mencuci pakaiannya. Hmmm... tak apa, 'kan? Taehyung kan punya banyak uang. Yoonji yang bilang. Oh, dia lupa kalau bahan makanan di dapurnya itu semua Taehyung yang belikan, dan malamnya Yoonji dimarahi habis-habisan karena mencuri.

Dia melihat Taehyung sedang berlari mengitari taman. Entah apa fungsinya dia berlari begitu, daripada capek-capek, dia bisa duduk diam di minimarket dan mengajaknya bicara. Bukannya dia ingin mengobrol! Dia hanya kasihan, kata Kihyun, sepertinya Taehyung sedang sedih dan butuh teman bicara. Karena ini sudah malam, Yoongi mendekat. "Hei, mata gundu!"

Taehyung tak menggubris. Dia tetap berlari.

"Benar-benar seperti anak anjing," akhirnya dia duduk di pinggiran taman. Memandangi Taehyung yang terus berlari, sesekali dia memintanya berhenti dan pulang tetapi seperti Taehyung kehilangan pendengaran dan suara Yoongi terlalu kecil, Taehyung masih berlari. Ah, seperti kapten tsubasa saja dia. Yoongi masih tidak mengerti kenapa juga dia harus menunggunya seperti orangtua. Ini mengingatkannya ketika ia menunggu Yoonji pulang sekolah bersama dengan Ibu-Ibu lain yang bisik-bisik tentangnya. "Hei! Berhenti berlari dan ayo pulang! Perutku lapar!"

Taehyung hanya melirik dan terus berlari.

Ketika Taehyung sudah dekat dengan Yoongi, ditahannya tubuh kurus itu. Yoongi mencengkeram erat lengan dan sebagian tubuh Taehyung. Mengukungnya dengan tatapan tajam dan lelah, ya, dia lelah jika harus terus mengikuti kemauan aneh Taehyung. Dibimbingnya Taehyung duduk di sampingnya, lalu ia memberikan air mineral untuknya minum. Tetapi Taehyung hanya menggenggamnya saja dan termenung.

"Kenapa? Tidak bisa buka?" Yoongi merebutnya lagi dan membukanya. Ia berikan lagi pada Taehyung yang menatapnya diam. Dia sedikit kesal pertanyaannya banyak tidak dijawab jadi dia meminumkan air itu pada Taehyung. Oh, ini persis ketika Yoonji sakit dan ia harus membatunya minum. Dia ini seperti anak kecil. Benar-benar bocah. "Ada apa denganmu?"

"Apanya?"

"Kau diam terus. Ada masalah?"

Taehyung hanya menjawab dengan kedipan mata yang lambat. Yoongi menerka kalau pria ini memang punya masalah, dan sepertinya tidak ingin dibagi dengannya. Dia menghargai itu, sepertinya ini masalah pribadi yang tak bisa ditembusnya. Walau sejujurnya dia oke saja kalau Taehyung cerita. Tapi yasudahlah...

"Aku mau pulang, hyung."

"Bagus itu. Harusnya katakan dari tadi," Yoongi bangkit. "Ayo."

Taehyung melirik bawaan Yoongi. "Apa itu?"

"Oh, ini beberapa makanan yang sudah akan kadaluarsa." Yoongi menjawab dengan santai, mengangkat kardusnya yang dirasa agak berat. Oh, dia sudah kelaparan sekarang tetapi dia harus mengantar anak ini pulang. Taehyung bertanya padanya kenapa barang yang akan kadaluarsa dibawa pulang, dan Yoongi tertawa karena itu pertanyaan konyol. "Bos memang memberikan hal-hal seperti ini pada karyawan, daripada dibuang kan sayang. Jadi ya kubawa pulang saja. Lumayan, toh masih bisa dimakan."

Mereka berjalan bersisian. "Harusnya tidak usah begitu, hyung."

"Kau kasihan melihatku makan makanan yang hampir basi?"

"Kenyataannya memang itu akan basi, kan?"

"Selagi ada kesempatan, ambil saja. Tidak mudah bagiku beli makanan sebanyak ini dengan uang sendiri. Selagi bisa kudapatkan gratis, buat apa disia-siakan. Kamu itu tidak mengerti keadaanku, jadi tidak paham hal-hal simpel begini berharga buatku," Yoongi mengomelinya lagi. Tentang betapa susahnya mencari uang dengan status lulusan SMA. Taehyung bilang padanya akan membelikannya lagi dan menyuruh Yoongi berhenti membawa makanan nyaris kadaluarsa, tetapi Yoongi tidak mau. "Lebih baik kau pakai saja uangmu dengan benar. Kuliah. Jangan dihabiskan untuk mengasihani orang sepertiku. Aku masih bisa bekerja,"

Dia teringat adiknya di rumah. "Apa dengan pekerjaan sebanyak itu, hyung tidak capek? Uangnya juga pasti banyak, dong. Memangnya pengeluaran kalian banyak sekali, ya?"

"Yoonji sudah akan kuliah. Gadis itu mau masuk kedokteran tapi tidak berani bilang padaku. Kenapa aku tahu? Guru BP bilang begitu, dan aku pernah baca buku hariannya saat bersih-bersih. Dia tahu aku tidak punya uang, tapi aku tidak mau memaksanya mengikuti keadaan ekonomiku jadi aku harus bekerja lebih keras lagi untuk itu." Apa Yoonji sudah tidur, ya? Yoongi terus kepikiran adik perempuannya. "Tabunganku masih belum cukup. Mungkin sudah bisa kalau daftar, tapi SPPnya? Biaya SKSnya? Biaya prakteknya? Kuliah kedokteran kan mahal."

"Aku harap bisa membantumu,"

Yoongi menoleh, "Tidak usah. Kau belajar saja yang benar."

"Sini, hyung." ia merebut kardus makanan Yoongi dan berlari meninggalkan pria itu.

"Hei!"

.

.

"Kau ini tidak ada capeknya, ya." Yoongi terengah ketika berhasil menyusul Taehyung.

Lelaki itu tertawa pelan dan memberikan kembali kardus milik Yoongi. "Terima kasih sudah mengantarku pulang. Hati-hati dijalan, hyung."

"Aku tahu maksudmu mau membantuku bawakan ini!" Yoongi memekik tertahan, napasnya nyaris habis karena mengejar Taehyung yang berlari seperti anjing. Gesit sekali. "Tapi kau malah membuatku tambah capek dengan berlari, dasar bocah! Kau mengerjai aku, ha?"

Taehyung terkekeh, "Selamat malam."


Ketika ia membuka pintu, yang tersaji adalah Jimin duduk di ranjangnya.

Apa kamu menungguku? Seperti yang sudah-sudah?

"Akhirnya kamu pulang, Tae." Dia tersenyum lembut. Tidak beranjak dari duduknya yang semakin nyaman, tetapi dari matanya dia terlihat sedih dan was-was. Jimin memang paling jago menyembunyikan perasaan sesungguhnya. Ia menepuk sisi ranjang yang kosong, menyuarakan agar Taehyung datang mendekat. Dia terlihat santai sekali, padahal Taehyung sudah menyakitinya dengan lari dan menjauhinya beberapa hari terakhir. "Sini, kutemani tidur."

Taehyung bergeming dengan bibir yang dikulum. Bingung harus melakukan apa. Datang mendekat atau berlari lagi? Tetapi kalau memang berlari, kemana?

"Sudah malam, Tae. Besok kamu ada kelas pagi."

Jimin, kamu terlalu baik.

Dengan mata yang mengahangat dan sudutnya yang basah serta pandangan berkabut, dia melangkah dengan kaki gemetar. Kemudian terjatuh begitu saja. Dia bisa dengar Jimin berseru kaget dan berlari kearahnya yang duduk mengenaskan di lantai kamarnya. Dia bisa rasakan sentuhan Jimin di bahu dan wajahnya. Dia bisa rasakan hembusan napas kacau Jimin. Dia bisa rasakan kekhawatiran Jimin untuknya. "Kamu kenapa? Apa yang kau lakukan sebelum pulang? Bilang padaku, Taehyung. Kenapa sampai tumbang begini?"

Ah, Jimin... aku tidak bisa marah padamu. Jadi Taehyung memeluk lehernya dan menangis kencang, seperti anak kecil kehilangan permen. Biar saja dikatai cengeng. Entah apa yang mendorongnya ingin menangis, yang jelas dia sudah tidak bisa lama-lama menahan sesak. Itu menyakitkan melewati waktu tanpa Jimin di sisinya. Ya, rasanya asing.

Sedangkan Jimin yang tadi terkejut dengan gerakan Taehyung yang mendadak, akhirnya membalas pelukan lelaki manis itu. Menepuk punggungnya ringan, dan mengelus rambut Taehyung yang panjang dan dingin. Sepertinya karena angin malam. Tubuh Taehyung terasa dingin sekali, betul-betul dingin. Dan ia gemetaran. "Ssssh, sudah... Jangan menangis,"

"Maafkan aku, Jimin..."

Ia melepas pelukannya dan menangkup wajah Taehyung. "Kenapa harus minta maaf, sih? Kamu nggak salah apa-apa. Harusnya aku yang minta maaf karena membuatmu bingung. Kau jadi lari dan pendiam, aku sudah membuat wajahmu jadi tidak cantik lagi." Ia tersenyum lembut dan mengusap pipinya yang basah. Dahsyat, bahkan ketika menangis pun wajah Taehyung masih indah. Salah tidak, kalau Jimin jadi suka? Taehyung memang seperti Dewi. "Jangan pernah merasa terbebani oleh perasaanku, oke? Tidak apa kalau kamu suka orang lain, aku tidak paksa kamu suka aku juga. Tidak, bagiku yang penting kamu senyum dan tertawa. Jadi, jangan menangis lagi, hm?"

Taehyung mengangguk, "Maaf."

"Jangan minta maaf," ia merapikan rambut Taehyung. "Jadi kenapa kau sampai terjatuh? Kamu kelelahan, kan? Apa yang kamu lakukan sebelum sampai ke rumah?"

"Berlari..."

Itu kebiasaannya jika ada masalah. Dan Jimin merasa bersalah karena itu. Seharusnya Taehyung tidak perlu merasa bersalah atau terbebani dengan ini. Mungkin dia sudah egois, dan menyatakannya di saat yang tidak tepat. Ah, padahal Taehyung sering mendapatkan pernyataan cinta dari banyak orang... tetapi kenapa ketika aku yang bilang, dia jadi sedih?

"Yasudah, sekarang kamu istirahat. Aku temani sampai kamu benar-benar tidur." Lalu dia menggendong tubuh kurus Taehyung ke ranjang empuknya. Dia ikut berbaring di sisi Taehyung, menaikkan selimut, dan membiarkan tubuhnya dipeluk Taehyung. Jimin tersenyum kecil dan mengelus kepalanya sayang. "Omong-omong, kamu... pakai baju siapa itu?"

Taehyung sedikit tersipu. "Tadi aku kehujanan dan ketemu... Yoongi,"

Karena Jimin diam, Taehyung jadi merasa bersalah. Seharusnya dia tidak membicarakan Yoongi ketika mereka berdua. Iya kan? Tapi kan, dia hanya menjawab Jimin.

"Sudahlah, tidur ya, Taehyung."

"Hmmm. Selamat malam, Jimin."

Jawabannya hanya kecupan singkat di puncak kepala Taehyung.

Tidak apa, masih ada banyak waktu untuk mengubahmu.

Yang lebih penting, besok, kau pasti demam, Taehyung.


To be continue!


a/n:

alahmak... oke, pertama, jangan marah dulu! Ini tidak angst, bukan?! Tidak. Tidak.

Seperti yang aku bilang, setiap percintaan itu punya cerita sedihnya. Tergantung gimana kita ngeliatnya dari sisi mana. Dan disini aku selalu menggambarkan Jimin yang penyabar dan penyayang untuk Taehyung. karakternya memang dibuat seperti itu: yang kata orang, ngenes.

Omong-omong, lucu gak sih Yoongi manggil Tae 'mata gundu'? gemes.

p.s. kalian tim YoonV atau MinV?