Gin... Gin... Gin... mati kah Gin di BLEACH? Ah~ ini menyedihkan...

Kenapa Aizen ga di hukum mati aja sih? (=.=)'a

Disclaimer: BLEACH punya Tite kubo

For The Dearest

Chapter: 7

"Selamat datang," sambut Gin ketika seseorang membuka pintu cafe. Lalu tampaklah kedua anak kembar keluarga Kurosaki, "Konichiwa Ichimaru-san," sapa Yuzu dan Karin dengan sopan.

"Hai, Karin-chan, Yuzu-chan, apa hari ini datang untuk mengajak Shiro-chan bermain?" tanya Gin sambil tersenyum ramah. Dia sedang sibuk mengantar pesanan pengunjung cafe.

Lalu kedua anak kembar itu menganggukkan kepalanya, "Toushiro... Karin dan Yuzu datang menjemputmu," panggil Gin kepada putranya yang sedang mengantarkan pesanan ke salah satu meja. Karena hari ini cafe pak Tanaka lebih ramai dari biasanya. Gin kewalahan melayani pelanggan yang bertambah. Untuk meringankan pekerjaan Gin, Toushiro ikut membantu Gin dengan mengantarkan pesanan pengunjung.

Sambil tersenyum manis, Toushiro meletakkan dua gelas es krim keatas meja pengunjung dengan tangan munggilnya. Kedua wanita muda yang memesan es krim itu terpesona dengan keimutan sang pelayan kecil itu. Bentuk mukanya yang sempurna, tatapan matanya yang polos, pipi yang merona, serta senyum malu-malunya, menambah keimutan Toushiro dan membuat kedua wanita muda ingin membawanya pulang sebagai pengganti teddy bear mereka, "Kya~" teriak kedua wanita itu. Mereka tidak tahan dengan keimutan malaikat kecil berambut putih dan bermata emerald itu, dan memeluknya erat seperti tidak ada hari esok.

Melihat hal itu, wajah Karin dan Yuzu berubah pucat. Toushiro bergeliat mencoba melepaskan diri dari pelukan ganas dua wanita muda yang terpesona dengan keimutannya untuk menyelamatkan nyawanya. Pelukkan kedua wanita muda itu lebih dasyat dari pelukan Rangiku, "Lagi? Ini sudah kelima kalinya hari ini " kata Gin sweat drop, "Uh'uh... nona-nona, bisa tolong lepaskan anakku? Kalau kalian memeluknya seperti itu lebih lama lagi, anakku bisa mati kehabisan oksigen," kata Gin mencoba menyelamatkan putranya dari keganasan wanita yang mabuk dengan keimutan putranya.

Perhatian kedua wanita muda itu beralih kepada Gin. Mereka menatap Gin dengan mata berkaca-kaca dan melepaskan Toushiro, "Baikalah..." kata kedua wanita muda itu dengan nada manis, "Terima kasih, nona-nona..." kata Gin sambil menarik Toushiro ketempat aman.

"Yo...Toushiro!" sapa Karin sambil mengangkat tangannya ketika Toushiro dan Gin mendekatinya dan Yuzu.

"Konichiwa, Toushiro-kun," sapa Yuzu sambil membungkukkan sedikit badannya dengan sopan. Lalu Toushiro mengikuti Yuzu membungkukkan sedikit badannya, "Konichiwa," kata Toushiro.

"Toushiro, hari ini timku akan bertanding sepak bola dengan tim dari sekolah dasar lain. Apa kau mau ikut?" tanya Karin sambil menangkat bola berwarna hitam dan putih yang selalu dibawanya kemana-mana di depan dadanya.

Toushiro menatap Gin dengan tatapan memohon agar diizinkan pergi bermain. Lalu Gin pun menggangukan kepalanya setuju. Setelah itu Toushiro, Karin dan Yuzu segera berlari keluar dari cafe pak Tanaka dengan amat sangat gembira. Melihat wajah gembira putranya, tanpa sadar Gin tersenyum bahagia.

~H~

"Neh... Karin...Yuzu," panggil Toushiro kepada Karin ketika mereka sedang berada di lapabgan bola. Mereka sedang menunggu lawan tanding mereka, "Hm?" tanya sang anak perempuan berambut hitam. Ia mengangkat sebelah alisnya kepada Toushiro.

Toushiro menatap Karin dengan ragu-ragu. Lalu ia menelan ludahnya dan membuka mulutnya, "Ibu kalian... seperti apa sih?" tanya Toushiro. Ia mengalihkan pandangannya kesamping tidak yakin dengan apa yang ia tanyakan. Mendengar pertanyaan Toushiro, mata Karin dan Yuzu membesar. Tetapi kemudian berubah lembut.

"Ibu kami... adalah wanita yang sangat lembut dan baik hati," jawab Karin sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Ia tersenyum mengingat sosok ibunya yang cantik dan selalu tersenyum lembut kepadanya, "Ibu kami sangat cantik dan pandai memasak. Sampai sekarang aku masih mengingat betapa enaknya masakan ibu. Dia selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk kami semua," kali ini Yuzu yang berbicara. Ia terlihat sangat bahagia mengingat saat-saat ibu mereka berada di samping mereka. Yuzu menatap Karin, lalu Karin menganggukan kepalanya, "Kami sangat meyayanginya, sayangnya beliau tidak ada di dunia ini lagi," jawab mereka berdua sambil tersenyum. Tetapi senyum mereka terlihat sedikit sedih.

"Maafkan aku, " kata Toushiro simpati. Dalam hati ia merasa menyesal sudah bertanya seperti itu kepada Karin dan Yuzu. Ia menyesal sudah membuat Yuzu dan Karin teringat dengan ibu mereka lagi dan membuat mereka berdua sedih.

"Tidak apa-apa. Itu sudah lama berlalu," jawab Karin sambil tersenyum. Ia mengelus-elus rambut putih Toushiro, "walaupun ibu sudah meninggal, tetapi ia akan selalu hidup di hati dan ingatan kami."

"Terima kasih," kata Toushiro sambil tersenyum kepada Karin dan Yuzu.

"Ada apa Toushiro? kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?" tanya Karin maih sambil mengelus-elus rambut Toushiro. ia menyadari seperti Toushiro ingin membicarakan sesuatu kepadanya dan Yuzu. Tetapi sepertinya dia tidak yakin dengan apa yang akan ia katakan.

Toushiro menatap Karin dengan tatapan ragu-ragu. Setelah bimbang beberapa saat, akhirnya ia ungkapkan apa yang menggangu pikirannya, "Aku bertemu dengannya," kata Toushiro ragu-ragu sambil menatap ujung sepatunya.

Karin mengangkat sebelah alisnya bingung, "Dengannya?" tanya Karin bingung. ia tidak tahu siapa yang Toushiro maksud dengannya.

"Ibuku..." jawab Toushiro masih menatap ujung sepatunya.

Yuzu menepuk kedua tangannya, "Bukannya itu bagus? Kau bisa bertemu dengan ibumu," kata Yuzu ceria.

"Iya... hanya saja aku tidak tahu okasan seperti apa, aku tidak ingat pernah bertemu dengannya sebelumnya," kata Toushiro sedih. Karin dan Yuzu bertatapan. Lalu perhatian mereka kembali kepada Toushiro, "dan kelihatnya hubungannya dengan Oto-san tidak bagus. Dia mau memisahkanku dengan Oto-san."

"Oto-san bilang, Okasan adalah orang yang sangat baik dan sangat ceria. Aku tidak tahu Oka-san yang sebenarnya seperti apa, tapi aku tidak suka kalau Oka-san ingin memisahkanku dengan Oto-san," kata Toushiro sambil menatap Karin dan Yuzu dengan tatapan sedih. Lalu Karin memeluk pundak anak malang yang kebingungan itu, dan Yuzu mengelus-elus kepalanya dengan simpati.

"Seorang ibu selalu ingin berbuat yang terbaik untuk anak-anaknya. Oka-sanmu juga pasti berfikir seperti itu. Ia tidak akan pernah berfikir untuk melakukan sesuatu yang buruk kepadamu. Ada pun ia ingin memisahkanmu dengan Oto-sanmu, ia pasti memiliki alasan tersendiri. Kau harus memberinya kesempatan, dan mengenalnya lebih jauh," kata Karin.

Toushiro menghela nafasnya, lalu menganggukkan kepalanya mengerti, "Baiklah kalau Karin berbicara seperti itu, aku akan mencoba untuk mengenal Oka-san lebih banyak."

Karin dan Yuzu tersenyum lembut kepada Toushiro, "Anak pintar... anak pintar... " kata Karin dan Yuzu sambil mengelus-elus atau lebih tepat mengacak-ngacak rambut Toushiro. Tak lama kemudian teman-teman Karin datang bersama dengan lawan latih tanding mereka.

Kemudian Karin dan Toushiro berlari mendekati mereka sambil mendribel bola. Sedangkan Yuzu menonton pertandingan mereka dari bangku di samping lapangan bola.

~H~

Rangiku berdiri di depan sebuah cafe sambil menatap kedalam lewat jendela kaca. Dari seberang jalan, Rangiku bisa melihat di baik kaca Gin sedang mengelap meja dengan sangat rajin. Cafe itu kini tidak seramai sebelumnya, tapi dalam hatinya ada perasaan ragu antara masuk kedalam atau tetap diluar tetapi ia tidak mendapatkan apapun.

Rangiku menghela nafasnya, akhirnya ia membalikan badannya dan meninggalkan cafe itu tanpa menemui dan berbicara kepada Gin. Ia sangat marah kepada Gin. Walau begitu, entah kenapa dalam hatinya ia tidak bisa sampai membenci rubah perak itu. Ia ingin sekali berbicara dengan Gin dan mendengar alasannya kenapa ia melakukan hal kejam padanya dengan memisahkanya dengan bayinya dan, tak pernah memberi tahunya kalau bayinya sebenarnya selalu berada begitu dekat dengannya. Tapi kalau sekarang... Percuma saja walaupun ia menemui Gin sekarang, ia pasti akan terbawa perasaan marahnya lagi dan tidak bisa berbicara baik-baik dengannya. Rangiku tidak mungkin bisa memaafkan perbuatan Gin begitu saja. Tetapi dalam hati ia berusaha mengerti keadaan Gin dan memaafkannya. Biarlah untuk sementara ia menenangkan perasaanya terlebih dahulu.

Ketika Rangiku berjalan beberapa langkah meninggalkan cafe tempat Gin bekerja, tiba-tiba seseorang memanggilnya...

~H~

Gin menghela nafasnya. Sekarang ini keadaad cafe sudah tidak seramai sebelumnya, kemuadian ia memanfaatkan kesempatan itu untuk mengelap meja-meja yang kotor dan tidak sempat ia elap karena selalu ada pelanggan yang mengisinya.

Gin baru saja mengelap beberapa meja ketika ia menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari seberang jalan. Mata Gin terbelalak melihat seorang wanita berambut pirang berdiri di seberang jalan sambil menatap ke arahnya. Tetapi kemudian wanita itu membalikan badannya dan berjalan meninggalkan tempatnya berdiri.

Tanpa berfikir panjang, Gin berlari keluar cafe dan berteriak memanggil nama wanita itu, "Rangiku!" teriak Gin. Lalu wanita yang dimaksud pun membalikkan tubuhnya dan menatapnya dengan mata birunya yang membesar. Gin berjalan mendekati Rangiku perlahan. Dia tidak yakin apa yang ia lakukan benar atau salah, tetapi untuk sekarang ini ia sangat ingin berbicara dengan Rangiku.

Rangiku menatap ke bawah. Ia tidak bisa menatap Gin. Setiap kali ia melihatnya, perasaan marahnya muncul kembali, "Ran... aku... " Gin mencoba berbicara dengan Rangiku. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi ia tidak tahu harus dari mana ia memulainya, "ada banyak yang..."

"Tidak sekarang Gin..." kata Rangiku memotong ucapan Gin. Ia berbicara tanpa melihat Gin, "Kau tahu... aku sangat marah kepadamu."

Gin terdiam. Tentu ia tahu kalau Rangiku sangat marah kepadanya, ia pernah berfikir Rangiku akan pernah memaafkannya atas perbuatannya kepada Rangiku, "Ya... aku tahu..." kata Gin pelan. Entah kanapa lidahnya terasa kaku. Ia merasa seperti kehilangan keberaniannya untuk berbicara kepada Rangiku. Ia bahkan merasa malu masih berani menampakkan wajahnya di hadapan Rangiku mengingat apa yang pernah ia lakukan kepadanya.

Perlahan Rangiku meneruskan langkahnya. Gin menelan harga dirinya dan memanggil Rangiku, "Ran... suatu saat, apakah aku bisa berbicara denganmu?" teriak Gin kepada Rangiku yang mulai menjauh.

Langkah Rangiku terhenti. Untuk sementara ia terdiam. Lalu ia menatap langit dan tanpa melihat Gin ia berkata, "Walaupun aku tak tahu kapan, tapi suatu saat...mungkin..."

Setelah itu Rangiku pun meninggalkan Gin yang masih terpaku di tempatnya sambil menatap kepergian Rangiku. Walaupun sedikit dan tidak pasti, masih ada kemungkinan Gin bisa berbicara dengan Rangiku dan menjelaskannya kenapa ia memisahkannya dengan bayinya. Suatu saat... Gin harap Rangiku mau mengerti...

~H~

Priiittt... peluit tanda pertandingan berakhir pun berbunyi. Kedudukan empat bebanding satu dan tentu saja kemenangan berada di tim Karin dan Toushiro. Karin menepukkan tangannya dengan Toushiro. berkat kerja sama mereka berdua, mereka berhasil mengalahkan tim lawan. Sementara itu teman-temannya yang lain melompat-lmpat meluapkan kebahagiaan mereka. Dengan gembira Karin dan Toushiro berlari menuju Yuzu yang duduk di bangku penonton, lalu memeluknya, "Kalian hebat... Karin-chan... Toushiro-kun," kata Yuzu sambil bali memeluk mereka berdua.

Lalu sambil menyengir, Toushiro dan Karin memberikan tanda V dengan jari mereka kepada Yuzu. Setelah berpamitan dengan teman-teman mereka yang lain, Toushiro, Karin dan Yuzu memutuskan untuk pulang karena hari sudah sore.

Lagit sore berwarna jingga, memantulkan cahaya ke sungai Karakura hingga tampak seperti aliran emas. Toushiro melihat kerumulan orang yang terlihat seperti sedang mempersiapkan suatu acara atau festival di samping aliran sungai itu. Lalu Toushiro pun terdiam sejenak untuk mengamati apa yang sedang orang-orang itu lakukan, begitu juga dengan Karin dan Yuzu, "Sepertinya persiapan untuk festival besok sudah hampir selesai," kata Karin sambil menatap kerumulan orang-orang itu.

"Festival?" tanya Toushiro polos. Beberapa tamu yang datang ke cafe Tanaka memang membicarakan tentang festival, tetapi Toushiro tidak tahu kalau festival apa dan akan berlangsung kapan.

Lalu dengan setengah terkejut kedua Kurosaki kembar menatapnya, "Kau tidak tahu kalau besok akan ada festival, Toushiro?" tanya Karin sambil mengangkat sebelah alisnya.

Toushiro menggelengkan kepalanya, "Aku tahu kalau besok akan ada festival dari percakapan pelanggan yang datang ke cafe pak Tanaka, tetapi aku tidak tahu itu festival apa dan akan berlangsung kapan," jawab Toushiro seadanya.

"Besok akan ada festival hanabi. Setiap tahunnya kota Karakura mengadakan festival itu beberapa kali. Aku harap besok tidak hujan agar festivalnya bisa berlangsung dengan baik," kata Yuzu dengan senang. Kelihatannya dia sudah menantikan datangnya festival itu, "bagaimana kalau besok kita datang dan melihatnya bersama-sama?" tanya Yuzu kepada Toushiro.

Dengan amat sangat senang Toushiro menanggukan kepalanya seperti anak kecil yang pertama kali diajak ke taman bermain oleh ibunya, "Baiklah, aku juga akan mengajak Oto-san untuk datang ke festival bersama-sama," kata Toushiro dengan mata berbinar-binar. Walaupun Toushiro dan Gin selalu bersama-sama, selain di apartement, mereka jarang bersenang-senang karena Gin sibuk bekerja. Sebelumnya mereka tidak pernah pergi ke suatu tempat bersama-sama selain ke pusat perbelanjaan untuk membeli bahan makanan atau mini market di dekat apartement mereka. Lalu dengan langkah bersemangat, Toushiro pulang ke apartementnya untuk segera memberitahukan ayahnya tentang festival itu.

~H~

"Neh... neh... Oto-san," panggil Toushiro kepada Gin yang sedang membersihkan bekas makan malam mereka. Lalu Gin menatap putranya yang menatapnya dengan mata emerald besarnya yang terihat berkaca-kaca. Melihat itu Gin pun mengankat sebelah alisnya. Putranya terlihat sepeti anak kecil yang memohon dibelikan mainan baru oleh ayahnya, "Ya? ada apa Shiro-chan?" tanya Gin binggung dengan sikap putranya yang tidak biasa. Sebelumnya Toushiro tidak pernah menatapnya dengan tatapan seperti itu. Pasti ada sesuatu yang Toushiro inginkan, dan ia akan memberikan apapun yang Toushiro minta.

"Besok akan ada festival hanabi disamping sungai di dekat lapangan bermain," kata Toushiro dengan nada berharap-harap, "Karin dan Yuzu akan datang melihatnya bersama ayahnya dan Ichi-nii. Bagaimana kalau kita juga datang melihatna bersama-sama?" tanya Toushiro dengan nada memohon. Matanya menujukkan kalau ia benar-benar ingin datang melihat festival itu bersama Gin.

Gin tersenyum lembut kepada putranya, "Baiklah, setelah pulang dari cafe kita pergi kesana bersama-sama ya," kata Gin sambil mengelus-elus kepala Toushiro dengan tanganya yang sedang tidak membawa piring bekas. Lalu dengan gembira Toushiro memeluk Gin, "Arigaotu, Oto-san," kata Toushiro. Ia tidak sabar menanti besok malam untuk melihat hanabi bersama-sama dengan Gin.

~H~

Esok harinya... seperti biasanya Toushiro dan Gin menuju ke cafe pak Tanaka untuk bekerja. Dan seperti hari sebelumnya, hari ini cafe pak Tanaka pun di penuhi pengunjung. Oleh karena itu, hari ini pun Toushiro ikut membantu di cafe.

Toushiro duduk di pojok cafe sambil meneku lututnya ke dadanya. Matahari sudah hampir tenggelam, tetapi pengujung cafe tidak menunjukkan akan berkurang. Cafe masih tetap penuh seperti tadi siang. Dengan khawatir Toushiro menatap Gin yang masih sibuk melayani pengunjung, sambil beberapa menit sekali menatap jam di dinding. Dalam hati Toushiro khawatir, cafe tidak bisa segera tutup dan Gin tidak bisa datang bersamanya ke festival.

Tak lama kemudian, kedua anak kembar Kurosaki muncul di hadapannya. Yuzu menggunakan yukata berwarna biru tua dengan motif ikan mas berwarna kuning yang terlihat sangat imut dan lucu. Sedangkan Karin mengenakan kaos dan celana pendek seperti biasanya, "Hai, Toushiro," sapa Karin, "apa kau sudah siap pergi ke festival?" tanyanya.

Dengan tatapan sedih Toushiro menatap ayahnya yang berjalan ke arahnya. Lalu Gin meletakkan tangannya di pundak Toushiro, "Maaf Toushiro, kelihatannya kita tidak bisa pergi bersama-sama," kata Gin dengan nada menyesal. Dia masih harus bekerja di cafe sampai cefe sepi dan bisa ditutup, "tetapi begitu cafe tutup, aku berjanji akan menyusulmu ke sana dan melihat saat kembang api diluncurkan bersama-sama," kata Gin mencoba menghibur putranya yang sedih.

"Sungguh?" tanya Toushiro sambil menatap Gin dengan nada berharap. Sedikit cahaya matanya sudah kembali. Gin menganggukan kepalanya kepada Toushiro sambil tersenyum. Setelah yakin Gin tidak berbohong kepadanya, Toushiro bangkit dari duduknya dan berjalan menuju Isshin dan Ichigo yang sudah menunggunya bersama Karin dan Yuzu.

Gin mendekati Isshin dan memohon agar ia menjaga Toushiro. Setelah itu Toushiro dan keluarga Kurosaki pergi meninggalkan cafe. Dengan wajah menyesal, Gin melambaikan tangannya kepada Toushiro yang membalas lambaian tangan dengan ceria. Walaupun tidak pergi bersama-sama, ia masih mempunyai kesempatan untuk melihat hanabi bersama Gin.

~H~

Toushiro menatap Karin dan Yuzu yang tertawa ceria sambil memakan takoyaki. Suasana festival amat sangat meriah dan menyenangkan. Banyak pengunjung yang datang kefestival bersama anggota keluarga mereka dan bercanda ria bersama-sama. Walaupun berada bersama keluarga Kurosaki, Toushiro tidak bisa menikmati suasana itu. Dalam hati Toushiro ingin bisa bersenang-senang bersama Gin.

Malam sudah bertambah larut dan hanabi akan segera di luncurkan. Tetapi ayahnya masih belum datang menyusulnya, 'Oto-san berbohong,' kata Toushiro dalam hati. Ia merasa sangat kesal dan sedih karena ayahnya sudah berbohong kepadanya. Lalu ia merasakan seseorang menepuk pundaknya, 'Oto-san,' kata Toushiro dalam hati berharap yang menepuk pundaknya adalah ayahnya. Dengan mata berharap, Toushiro menengok kebelakang untuk melihat pemilik tangan itu. Tetapi kemudian ia kecewa karena ternyata itu adalah tangan milik Ichigo.

"Ada apa Toushiro? kenapa kau terlihat tidak bersemangat?" tanya Ichigo kepada Toushiro. lalu ia memberikan permen kapas gula kepada Toushiro berharap itu bisa membuat sang anak kecil berambut salju itu bisa sedikit bersemangat. Perlahan Toushiro memakan permen kapas itu, tetapi ia masih terus memikirkan Gin.

"Hei kalian... hanabi akan segera diluncurkan, aku sudah mendapatkan tempat strategis untuk melihatnya," teriak Isshin kepada anak-anaknya dan juga Toushiro sambil melambaikan tangannya.

"Ayo... kita pergi, Toushiro," kata Ichigo sambil menggandeng tangan anak kecil berambut salju yang terlihat sangat sedih dan kecewa itu dengan simpati. Akhirnya sampai akhir Gin tidak bisa menepati janjinya kepada Toushiro. Tetapi Kemudia Toushiro melepaskan tangannya dari Ichigo dan berlari kearah berlawanan dengan Ichigo, "Hei... Toushiro, kau mau kemana?" teriak Ichigo khawatir.

"Aku mau menjemput Oto-san," teriak Toushiro sambil berlari menembus keramaian meninggalkan Ichigo yang menatapnya dengan tatapan khawatir.

~H~

Toushiro terus berlari menembus keramaian. Tetapi ia tidak tahu kemana ia berlari. Yang ia lakukan sekarang ini adalah berlari. Dalam hati Toushiro sangat kesal dan kecewa kepada Gin yang tidak menepati janjinya untuk melihat hanabi bersama-sama. Walaupun sekarang ia menjemput Gin, Toushiro tahu Gin belum tentu bisa pergi dan datang tepat waktu untuk melihat hanabi.

Toushiro berhenti di tepi sungai cukup jauh dari keramaian. Setelah itu ia duduk di rumput sambil melipat lututnya kedadanya dan membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Toushiro merasa sangat kesal sampai ia ingin menangis, tetapi ia menahan air matanya agar tidak keluar. Lalu ia mengambil batu kecil di dekatnya dan dengan kesal melemparnya ke sungai.

"Kenapa aku di sini dan muram seperti itu?" tanya seseorang. Dari nada bicaranya ia seperti khawatir dengannya. Lalu Toushiro mengangkat wajahnya dan mendapati seorang wanita menatapnya dengan mata birunya yang terlihat sangat khawatir.

Toushiro mengenal wanita itu. Beberapa hari yang lalu ia datang ke apartementnya dan ingin memisahkannya dengan ayahnya. Ya... wanita itu adalah Matsumoto Rangiku, ibu kandungnya. Ia mengenakan yukata berwarna putih dengan hiasan bunga anggrek berwarna ungu dan obi berwarna merah. Lalu dengan gugup Toushiro menatap Rangiku. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan kepada ibunya. Ia tidak pernah menduga akan bertemu dengan ibunya di saat dan dalam keadaan separti ini.

"Dimana Gin?" tanya Rangiku menyadari sang ayah putranya tidak ada bersama dengan putranya, "apa kah dia tidak bersamamu?" tanya Rangiku. Toushiro bisa mendengar suara Rangiku terdengar sangat marah.

Lalu, dengan ragu-ragu Toushiro menggelengkan kepalanya, "Dasar... apa yang sedang ia lakukan hingga ia membiarkan putranya sendirian di tempat sepi seperti ini," kata Rangiku sangat marah. Seharunya dia tidak membiarkan Toushiro bersama dengan Gin. Ia tidak bisa merawat putranya dengan baik.

Dengan takut takut ibunya akan memisahkannya dengan ayahnya karena membiarkannya sendirian di tempat itu, Toushiro mencoba membela ayahnya, "Oto-san sedang sibuk dan sudah menitipkanku kepada Isshin-san. Tetapi aku sendiri yang berlari ketempat ini dan meninggalkan mereka," kata Toushiro dengan wajah ketakutan, "tolong jangan pisahkan aku dengan Oto-san," kata Toshiro dengan nada memohon.

Melihat ketakutan putranya yang takut dipisahkan dengan ayahnya, Rangiku menghela nafasnya dan duduk di sebelah Toushiro, "Dasar... apa sih bagusnya orang itu?" tanya Rangiku pelan.

"Oto-san adalah orang terbaik dalam hidupku," jawab Toushiro, "Uh'um... Oka-san sendiri, kenapa berhubungan dengan Oto-san kalau kau tidak bisa menemukan hal baik darinya?" tanya Toushiro polos kepada wanita di sampingnya yang menatapnya dengan wajah syok.

Rangiku menatap wajah polos Toushiro dengan mata birunya yang terbelalak. Dia syok karena dua hal, pertama dia syok mendengar putranya memanggilnya dengan sebutan Oka-san, dan yang kedua ia syok mendengar pertanyaan polos dari mulut putranya. Rangiku membuka mulutnya, tetapi ia tidak tahu apa yang harus ia katakan untuk menjawab pertanyaan putranya.

Belum Rangiku menemukan jawaban untuk menjawab pertanyaan Toushiro, tiba-tiba...

SYUUU... DUAARR...

Terdengar suara hanabi di luncurkan. Lalu langit malam yang berwarna hitam pun dihiasi dengan puluhan ribu percikan kembang api yang berwarna-warni. Pandangan Toushiro dan Rangiku beralih ke langit malam yang dihiasi warna pelangi. Toushiro menatap hanabi itu dengan takjub. Matanya membesar dan berkaca-kaca, "Hebat," kata Toushiro takjub. Setelah warna dari puluhan ribu percikan api itu menghilang, langit kembali berwarna hitam dan berganti dihiasi lautan bintang.

Lalu Toushiro mendengar seseorang memanggil namanya. Lalu ia pun mengalihkan pandangnnya kearah suara itu dan mendapati ayahnya berlari kearahnya, "Syukurlah, akhirnya ketemu juga," kata Gin diantara nafasnya yang terengah-engah. Lalu kemudian ia terkejut melihat Rangiku berada bersama dengan putranya.

Rangiku terlihat seperti sedang menghindarinya, "Oto-san," panggil Toushiro dengan nada terkejut. Lalu perhatian Gin kembali kepada putranya yang menatapnya dengan wajah terkejut. Lalu untuk pertama kalinya Gin mengerutkan dahinya kepada putaranya, "Aku mencarimu kemana-mana, kenapa kau pergi sendirian meninggalkan Isshin-san dan yang lainya? Karin dan Yuzu sangat mengkhawatirkanmu tahu," kata Gin kesal. Untuk pertama kalinya ia menaikan nada suaranya kepada putranya. Tetapi ia melakukan hal itu karena sangat mengkhawatirkan Toushiro.

"Aku pikir, Oto-san tidak akan datang," kata Toushiro menyesal. Tetapi kemudian ia mengerutkan dahinya kesal, "tapi walaupun kau datang sekarang hanabinya sudah berakhir," kata Toushiro kesal dan kecewa tidak bisa melihat hanabi bersama Gin.

Gin menghela nafasnya dan duduk di samping Toushiro berlawanan dengan Rangiku sehingga Toushiro berada diantara dirinya dan Rangiku, "Sudah kubilang aku akan datang," kata Gin sambil tersenyum, " lagi pula festival hanabinya baru saja dimulai kok," kata Gin sambil menunjuk ke angkasa. Lalu setelah itu terdengar suara hanabi diluncurkan lagi, dan ribuan percikan api berwarna-warni kembali menghiasi langit malam. Tidak seperti sebelumnya, kali ini bukan hanya satu hanabi yang di luncurkan. Hanabi-hanabi di luncurkan berturut-turut sambung-menyambung membuat langit terlihat seperti ada ribuan bunga-bunga berguguran.

Gin tersenyum menatap putranya menatap langit dengan tatapan takjub. Rangiku juga kembali menatap langit. Lalu Gin pun ikut menatap langit dan menikmati langit malam yang di penuhi percikan hanabi yang indah. Ini merasa beruntung bisa berada di tempat dimana ia bisa melihat hanabi dengan jelas dan ia merasa sangat bahagia bisa melihat hal itu bersama keluara kecil yang ia idam-idamkan selama ini.

Beberapa saat kemudian Gin teringat sesuatu. Ia teringat membawa sesuatu untuk Toushiro ketika ia selesai bekerja di cafe pak Tanaka. Lalu ia membuka bungkusan yang ia bawa dam memberikannya kepada Toushiro. Mata Toushiro berkaca-kaca melihat apa yang Gin berikan kepadanya. Sepotong besar semangka yang merah merona. Dengan gembira Toushiro mengambilnya. Lalu Gin mengambil potongan yang lain dan menyodorkannya kepada Rangiku. Tetapi wanita berambut pirang itu tidak menghiraukan tawaran Gin. Akhirnya Toushiro mengambil semangka itu dari tangan Gin dan memberikannya pada Rangiku. walaupun awalnya Rangiku terlihat ragu-ragu, akhirnya ia mengambil semangka itu dari Toushiro karena ia tidak mau mengecewakan putranya.

Gin tersenyum ketika Rangiku mulai memakan semangka itu. Dan putranya dengan senang mengambil gigitan besar buah berwarna merah merona, manis dan segar itu. Lalu Gin mengambil potongan semangka terakhir dan memakannya.

Dibawah percikan hanabi yang tampak bagai ribuan bunga berwarna-warni yang berguguran, keluarga kecil itu menikmati semangka yang manis dan menyegarkan. Suasana malam yang dingin pun berubah menjadi hangat dengan adanya orang yang di sayangi di samping mereka. Hingga hanabi berakhir, mereka terus duduk di tempat itu untuk beberapa saat sampai Toushiro tertidur di pundak Gin. Lalu, Gin pun memindahkan Toushiro yang tertidur kepangkuannya. Setelah itu, Gin menyadari Rangiku bangkit dari duduknya, "Ran?" tanya Gin.

"Aku mau pulang," kata Rangiku sambil membersihkan debu yang menempel pada yukatanya. Setelah itu ia berjalan meninggalkan Gin yang sedang berusaha menggendong Toushiro yang tertidur di punggungnya. Lalu tiba-tiba langkah Rangiku terhenti. Tanpa membalikan tubuhnya Rangiku berkata kepada Gin. Walaupun suaranya pelan, tetapi cukup keras untuk Gin dengar, "Gin... untuk hari ini..." Rangiku terdiam sejenak. Dan perhatian Gin pun tertuju untuk apa yang akan Rangiku katakan selanjutnya, "terima kasih," setelah berkata seperti itu, Rangiku pun melanjutkan langkahnya dan menghilang di gelap malam.

Gin tersenyum sambil melihat ke arah Rangiku menghilang. Lalu kemudian ia membalikan badannya dan kembali ke apartementnya, dan dengan suara lembut Gin berbisik, "Sama-sama, Ran."

~H~

Yosh... ntu sedikit kebahagiaan untuk keluarga kecil Gin, Rangiku dan Toushiro.

Mungkin untuk chappy selanjutnya, akan ada kebahagiaan lebih untuk mereka.

Owh iya... untuk sementara waktu kusa mau semi-hiatus

So... kusa mw ngadain polling, fic mana yang harus kusa prioritaskan antara:

For the Dearest

LOST: Memory

Snowflake in Summer

The Baby is My Taichou

Arigatou buat reader yang udah review dan kasih idenya untuk fic ini

Buat ide 9x'y, kusa berencana buat jadi one shot (ditunggu aja yak...=3)

Mind to review?

-kusanagi-