Chapter 7

"Tunggu aku, yang hanya selangkah dari bibir jurangmu."

Badan Mingyu terlonjak, ia menatap Wonwoo kaget.

"Hyeji-ssi t-tunggu sebentar." Gadis yang rambutnya diikat kebelakang mengangguk, mereka saling melepaskan diri, lalu Mingyu berjalan mendatangi tuannya. Air mukanya tegang, ia melangkah kaku. Wonwoo menantinya dengan dingin diselimuti aura kebencian yang kentara. Soonyoung disampingnya tak berani menggoda.

Plak.

Sambutan mengejutkan diberikan kepada Mingyu. Semua orang yang ada di aula tertegun melihat perlakuan Wonwoo. Soonyoung kaget maksimal tak dapat berkata apapun.

"M-maafkan aku. Seharusnya ak—" bekas kemerahan tercetak pada pipi kiri Mingyu.

"Bagus kalau kau sadar kesalahanmu. Lanjutkan latihan drama mu yang berharga ini. Aku akan pergi ke perusahaan dengan sekretaris Lee." Wonwoo balik badan angkuh.

"Tunggu tu- w-wonwoo biar aku saja." Perkataan Mingyu tak diindahkan sama sekali, sang tuan melangkah keluar dengan dingin.

Soonyoung masih mematung, ia menatap Mingyu dan Wonwoo bergantian.

"Tolong ikuti Wonwoo, Soonyoung-ssi." Jeda yang cukup lama. Pemuda Kwon bingung. Apakah dia akan diamuk Wonwoo juga, tapi tak mungkin kan.

Namun melihat tatapan Mingyu kepadanya, Soonyoung memantapkan diri.

Ia berlari mengejar temannya.

Wonwoo melangkah cepat dikoridor yang kini sepi. Ia mengambil ponselnya memanggil sebuah nomor.

"Hallo sekretaris Lee, hari ini aku tak bisa datang ke perusahaan, urus masalahnya dengan benar. Dan kirimkan supir ke sekolahku sekarang." Telepon ditutup, Wonwoo mempercepat langkahnya.

Soonyoung berlari disepanjang koridor, tergesa dan tak berhati-hati hingga menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah.

Bruk.

Tumpukan buku terjatuh.

"Ah m-maafkan aku." Pemuda sipit membungkuk sembilan puluh derajat.

"Eh Soonyoung -ssi, tidak apa-apa kok." Laki-laki dengan rambut bob seleher tersenyum. Soonyoung ikut berjongkok, membantu mengambil buku yang berceceran di lantai.

Kumpulan buku kegiatan organisasi kini telah kembali ke dalam dekapan lengan pemuda berambut bob, mereka berdua berdiri. "Terimakasih ya. Dan jika boleh aku tahu, kenapa kau buru-buru sekali?"

Yoon Jeonghan, wakil ketua OSIS, siapa yang tidak mengenal pretty boy ini. Dan juga siapa yang tak hafal Kwon Soonyoung ketua klub dance yang hyperaktif dan mudah bergaul.

Soonyoung menggaruk tengkuknya "Itu, aku sedang mengejar temanku, Jeon Wonwoo." Oh, dan perlu diketahui jika Wonwoo adalah selebritis sekolah, tak heran kalau seluruh murid bahkan guru mengenalnya. Dikelas pun banyak guru yang memperlakukan Wonwoo dengan spesial mengingat sumbangannya pada sekolah.

"Wonwoo-ssi ya, tadi kulihat dia naik mobil lalu melaju dengan cepat."

"Benarkah? Aku terlambat. Ah terimakasih ya Jeonghan-ssi dan maaf sekali lagi." Soonyoung nyengir kemudian membungkuk lagi.

"Eh tidak apa-apa sungguh. Iya, sama-sama. Kalau begitu Aku duluan ya." Jeonghan tersenyum punggungnya membungkuk kecil lalu melangkah pergi.

Soonyoung berdecak lalu mengacak rambutnya "Orang pemarah itu benar-benar."

"Soonyoung-ah." Pemuda itu baru saja akan beranjak pergi sebelum sebuah suara menghentikannya.

"Loh Mingyu, latihan drama mu bagaimana?" Mingyu menghampirinya dengan napas terengah-engah, bukti bahwa ia telah berlari kencang.

"Wonwoo dimana?" Pertanyaan Soonyoung tak dijawab, Ia mencengkram bahu temannya. Raut khawatir sangat jelas sekali terlukis pada wajah tampan Mingyu.

"Aku terlambat, dia sudah pergi dengan mobil." Mingyu melepaskan tangan dari bahu Soonyoung mengalihkannya pada rambut yang kini diacak kesal.

"Kalau begitu aku pergi dulu ya, terimakasih Soonyoung-ah." Pemuda tan langsung berlari tanpa menunggu jawaban dari temannya.

Soonyoung melongo. "E-eh."

Padahal sudah ditampar begitu. Kau sangat menyayanginya ya, Mingyu.

Mingyu merogoh saku jas nya, mengeluarkan kunci mobil, salah satu tombol ditekan.

Bip.

Mobil silver terbuka kuncinya. Pemuda tinggi langsung membuka pintu dan masuk. Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.

"Hallo sekretaris Lee. Apa tuan Wonwoo ada disana?"

"Tidak, tuan muda bilang dia tidak bisa ke sini. Apakah dia tidak ada? perlu saya bantu mencari?"

Mingyu tertegun sejenak.

"A-ah. Tidak apa-apa, saya tahu dia kemana. Terimakasih sekretaris Lee." Sambungan telepon diputus. Mingyu segera menyalakan mesin roda empat dan melaju pergi.

Ku harap benar tuan disana.

"Mingyu sebaiknya kau susul saja Wonwoo." Jiwon ketua kelompok menatapnya khawatir.

"Tapi bagaimana dengan latihannya."

"Tak apa, sejak tadi kau tidak bisa fokus. Kita sudahi saja untuk hari ini. Kau terlihat sangat gelisah."

"Maafkan aku. Kalau begitu aku pergi duluan ya." Mingyu membungkuk lalu segera meninggalkan aula.

"Oke." Hyeji melambaikan tangannya.

Sepertinya dia sangat berharga bagimu ya Mingyu.

Wonwoo duduk didepan sebuah nisan, kepalanya tertunduk dalam. Ia sendirian dipemakaman yang besar, sang supir dipinta untuk menunggu dipinggir jalan. Pemuda itu terisak.

"Eomma, aku lelah. Bisakah aku memimpin usaha appa? Apakah semuanya akan baik-baik saja?" awan kelabu menggantung berat dilangit, guntur bergemuruh. Namun Wonwoo tak peduli, ia merasa sangat stress dengan semua ini.

"Bagaimana jika perusahaan bangkrut? Aku harus bagaimana eomma? Banyak yang tak bisa kupercaya." Wonwoo disana, mengeluarkan keluh kesah dihadapan nisan ibunya berharap bisa melenyapkan frustasi yang membumbung dikepalanya.

"Apa aku terlalu kejam pada Mingyu? Apa semua yang ku lakukan salah?" Wonwoo mencengkram rerumputan yang menjadi alas duduknya.

"Tidak tuan, kau tak salah apapun."

Wonwoo terlonjak, ia menatap sumber suara dibelakangnya. Pelayannya disana, menatap dirinya khawatir. Mingyu lalu berjongkok meraih pundak Wonwoo.

"Kita pulang yuk, sudah mau hujan." Mingyu tersenyum pedih, melihat tuannya dengan mata sembab bekas menangis. Wonwoo menggigit bibir bawahnya, ingin menangis lagi. Sorot mata Mingyu teduh menenangkan, Wonwoo merasa ingin berhambur ke dalam pelukannya dan menangis keras munumpahkan semua sesak yang memenuhi hatinya. Namun tak dilakukan. Mingyu menggenggam tangannya, membawa sang tuan berdiri. Mereka berjalan keluar area pemakaman. Tangan dingin Wonwoo terus digenggam erat oleh Mingyu.

"Lee ahjussi sudah ku pinta untuk pergi duluan, tuan pulang bersamaku sekarang." Wonwoo mengangguk, tubuhnya penat sekali, ingin segera tidur.

Hari sudah gelap, mereka sampai dirumah. Wonwoo tidur dengan nyenyak dimobil. Mingyu segera keluar lalu membuka pintu penumpang disisi lainnya dan menggendong sang tuan yang terlelap. Tubuhnya sangat ringan, Mingyu dapat merasakan bahwa Wonwoo semakin kurus sejak terakhir Ia menggendongnya. Matanya menatap khawatir. Ia harus sedikit lebih tegas menyuruh Wonwoo makan yang banyak. Bukan hanya melayani kesehariannya, Mingyu juga harus memastikan sang tuan selalu terjaga kesehatannya.

Mingyu membaringkan Wonwoo perlahan dikasur besarnya, melepaskan sepatu sekolah yang tuannya kenakan lalu membawa selimut tebal menutupi tubuh kurus tersebut. Mingyu tidak menggantikan bajunya, ia tak ingin Wonwoo terusik dan terbangun. Ia menjauhkan diri dari ranjang, hendak beranjak pergi.

"Kau akan membiarkanku tidur memakai seragam sekolah?" Suara serak yang keluar dari bibir Wonwoo membuat Mingyu terlonjak dan menghentikan langkahnya. Ia berbalik lalu membungkuk pada tuannya.

"Maafkan aku, aku tak ingin membuatmu terganggu lalu bangun." Wonwoo terduduk.

"Kau belum cukup professional rupanya." Mingyu berjalan ke arah lemari, mengambil baju tidur Wonwoo lalu menghampiri sang tuan.

"Bahkan dasinya masih terikat kencang." Wonwoo berkata sarkastis. Mingyu mengucapkan permintaan maaf lalu dengan segera melepas seragam yang Wonwoo kenakan. Baju tidur dipakaikan kemudian dikancingkan satu persatu. Wonwoo diam bola matanya bergerak memperhatikan setiap gerakan pelayannya. Kini bagian celana yang akan dilepas. Wonwoo berdeham.

"Dalam dramamu." Gerakan Mingyu berhenti sejenak "disana tidak ada… tidak ada adegan ciumannya kan?" Mingyu tertegun sebentar, ia segera memakaikan celana tidur Wonwoo. Pemuda tinggi itu membenarkan selimut sang tuan lalu berdiri.

"Dinaskahnya memang ada, tapi aku tidak benar-benar melakukannya. Wajah kami hanya saling dekat dan berpura-pura seperti sedang berciuman." Jelas pemuda tan. Ia tidak tahu, benar-benar tidak tahu kenapa Wonwoo tiba-tiba menanyakan hal tersebut.

"Oh, baguslah." Wonwoo lalu berbaring kembali.

Baguslah? Otak Mingyu kembali mengulang perkataan Wonwoo. Apa maksudnya? Mingyu masih geming berdiri dikamar tuannya.

Tanpa sadar, pipi Wonwoo bersemu merah. Pemuda rubah itu menaikkan selimutnya sampai ke bawah mata.

"K-kau boleh pergi sekarang." Ucap Wonwoo pelan. Mingyu menatapnya lalu mengangguk kemudian keluar dari kamar.

Lucu.

"Mingyu suruh pengacara Choi datang kerumah sepulang sekolah." Mereka berjalan bersisian keluar dari area parkir.

"Siap."

"Setelahnya antar aku ke rumah tuan Han." Mingyu mengangkat alisnya heran namun tak bertanya.

"Baik, Wonwoo."

Sebelum berangkat, Wonwoo telah memeriksa perkembangan perusahaan. Saham semakin menurun, juga banyak klien yang membatalkan kontrak. Pemuda itu pening, namun berusaha mendinginkan kepalanya dan mencari dalang dibalik semua ini.

Sekarang keduanya berjalan menyusuri koridor yang ramai, banyak siswa yang saling berbisik saat Mingyu dan Wonwoo melewati mereka. Namun keduanya tak acuh, kejadian ini sering terjadi. Wonwoo terus berjalan santai menuju kelasnya begitu pula dengan Mingyu.

"Wonwoo-ya, orang-orang sedang ramai menggosipkanmu dengan Mingyu lho." Soonyoung langsung menginformasikan Wonwoo begitu pemuda itu duduk dikursinya.

"Sudah biasa bukan." Balas Wonwoo tenang.

"Kali ini berbeda, lebih ramai. Gara-gara kejadian kemarin banyak yang menjelek-jelekkanmu." Soonyoung berbisik heboh.

"Menakutkan~" Wonwoo mendekap tubuhnya sendiri, pura-pura ketakutan.

"Yah kau, jangan bercanda begitu, aku serius." Soonyoung cemberut.

"Biarkan saja, aku tak peduli."

Bel istirahat berbunyi, Soonyoung segera menarik tangan Wonwoo keluar kelas.

"W-wonwoo-ssi." Langkah keduanya terhenti, seorang gadis memenggil Wonwoo gugup. Gadis tersebut lalu menghampiri Wonwoo.

"Park seonsaengnim menyuruhmu untuk pergi ke ruangannya." Ucap gadis itu gugup. Wonwoo mengangguk kemudian gadis itu berlalu pergi. Wonwoo melepaskan pegangan tangan Soonyoung.

"Kau duluan saja ke kantin." Soonyoung menggerutu lalu ia berjalan sendirian.

Wonwoo melangkah ke ruang guru yang cukup jauh dari kelasnya. SMA Pledis adalah sekolah yang besar, merupakan sekolah favorit dengan murid yang banyak. Tak heran jika lahan sekolah ini begitu luas.

Wonwoo terus berjalan. Namun sayup-sayup terdengar suara dari kamar mandi yang tak jauh didepannya.

"Dia datang!"

Pemuda rubah itu makin dekat ke arah kamar mandi. Dia terus berjalan tenang. Lalu dari kamar mandi wanita, beberapa tangan menarik tubuhnya ke dalam, membawanya masuk lalu mendorong Wonwoo dengan keras ke dinding keramik.

"Mingyu!" Hyeji berseru, menghentikan langkah Mingyu yang akan keluar kelas.

"Ada apa Hyeji?"

"Tadi aku tak sengaja mendengar percakapan Kang Tae Hee dengan teman-temannya, entahlah tapi kurasa mereka merencanakan sesuatu yang buruk terhadap Wonwoo." Jelas gadis itu. Mingyu kaget, dari tadi pemuda itu memang mendengar banyak murid yang membicarakan tuannya. Tapi sampai melakukan hal buruk, Mingyu tak menyangka.

"Apa kau tahu dimana tempatnya?" tanya Mingyu cemas.

"Maaf kalau itu aku tak mendengarnya."

"Terimakasih Hyeji." Kemudian pemuda tinggi itu bergegas keluar kelas.

Wonwoo dipojokkan oleh kelima orang perempuan. Para siswi tersebut memasang wajah sangar didepannya.

"Kau memperlakukan Mingyu dengan kasar!" Salah seorang gadis yang Wonwoo tebak adalah pimpinannya mendorong dirinya dengan keras. Wonwoo dijaga dikedua sisi, dihadapannya tiga orang mengintimidasi.

"Apa ini? Pasukan pembela Kim Mingyu?" Wonwoo terbahak dalam hati. Sekumpulan fangirl yang tak tahu apa-apa menyerangnya seperti ini. Wonwoo didorong lagi dengan keras ke dinding. Kepalanya terbentur.

"Kau tak punya hati! Mingyu selalu memperlakukanmu dengan baik!" gadis yang ditengah kembali membentak keras.

"Kalian pikir kalian siapa? Jangan mencampuri kehidupanku." Wonwoo membalas dingin.

"Kau sungguh arogan Jeon Wonwoo. Kau orang yang tak tahu diri!" Volume suara sang gadis naik satu oktaf, kerah baju Wonwoo dicengkram kuat.

Wonwoo mulai jengkel, ia bisa saja menghajar mereka, namun pemuda itu masih menjaga kehormatannya.

"Dengar, kalian tak tahu apapun. Sebaiknya sudahi ini dan pergi sebelum aku melakukan tindakan." Ancam wonwoo datar. Gadis didepannya tertawa keras, Wonwoo dipegangi kuat dikedua sisi lalu kakinya ditendang keras hingga ia berlutut. Si gadis membungkuk menjambak rambut Wonwoo.

"Kau pikir aku takut? Orang sombong sepertimu harus diberi pelajaran agar tahu diri. Ini hanyalah salah satu. Jika kulihat kau memperlakukan Mingyu dengan buruk lagi, kau akan mendapatkan yang lebih dari ini."

"Ya kau." Wonwoo melirik papan nama pada seragamnya "Kang Tae Hee, kau akan mendapat balasannya." Pemuda itu tersenyum licik. Kang Tae Hee menjambak makin keras. Begitupun kedua gadis yang memegangi tangannya, mereka mencengkram tangan Wonwoo hingga kuku panjang mereka tertancap dalam.

Sialan mereka.

Wonwoo mengumpat dalam hati.

Gadis disamping kiri Kang Tae Hee berjalan mundur mengambil sesuatu. Sebuah ember berisi air. Ember tersebut dabawa kehadapan Wonwoo.

"Akan kubuat kepalamu dingin agar kau tidak terbakar egomu terus, Jeon Wonwoo." Terlihat kumpulan balok es ukuran kecil mengambang pada air tersebut. Wonwoo mulai meronta. Ia berusaha bangun.

Shit, tendangan mereka keras juga.

Tulang kering kakinya sakit. Ia yakin ada bekas kebiruan disana. Wonwoo menggerakan tangannya berusaha melepaskan diri, tapi itu malah membuat tangannya perih karena kuku yang menancap tersebut mengoyak kulitnya.

Kang Tae Hee mulai mengambil satu gayung penuh air es. Dengan cepat dia menyiramkannya keatas kepala Wonwoo. Badan Wonwoo terlonjak, tubuh hangatnya kaget menerima sentuhan air yang menusuk dingin. Tiba-tiba kepalanya memutar kilas balik masa lalu.

Sang gadis bersiap untuk siraman kedua. Namun gerakannya terhenti karena sebuah suara.

"Wonwoo!" Mingyu langsung berlari menghampiri Wonwoo, menyingkirkan tangan yang memeganginya. Pemuda tan mengusap air yang membasahi wajah Wonwoo dengan tangannya, kemudian merangkul tuannya erat dan membawanya berdiri.

"Apa bisa berjalan?" Tanya Mingyu khawatir.

"Bisa lah!" Wonwoo menjawab kesal.

Kelima gadis itu mematung, tak tahu harus berbuat apa. Mingyu menatap mereka tajam.

"M-mingyu, kami hanya kami hanya ingin melindungimu." Bela Tae hee gugup. Mingyu mengabaikan, dia memapah Wonwoo menjauhi mereka. Sebelum keluar, pemuda itu mengucapkan sesuatu yang membuat kelima gadis disana menunduk malu.

"Seharusnya kalian tak melakukan ini. Aku sangat marah."

Tiga hari berlalu sejak kejadian itu, Kang Tae Hee dan keempat temannya diskors satu minggu penuh. Wonwoo memberi mereka kesempatan dan tidak mengeluarkan kelima siswi tersebut dari sekolah.

Hari ini Mingyu menjalankan kegiatan taekwondo, Wonwoo diam disekolah menunggu sambil melihat Soonyoung latihan dance. Wonwoo lebih tertarik menyaksikan klub dance daripada taekwondo. Lebih menghibur.

"Wah, Kwon Soonyoung, auramu sangat berbeda ketika sedang menari." Puji Wonwoo yang duduk diujung ruangan. Soonyoung yang sedang istirahat sebentar tertawa bangga mendengarnya.

"Aku terlihat keren kan?" dia membanggakan diri. Keringat bercucuran membasahi wajahnya.

"Terserah kau saja." Wonwoo menjulurkan lidah pada temannya. Soonyoung menampilkan seringai menggoda.

"Ah kau, susah sekali mengakui bahwa aku itu keren." Soonyoung membaringkan tubuhnya.

Ponsel Wonwoo berbunyi, sebuah nomor tak dikenal memanggilnya. Keningnya berkerut menerima panggilan tersebut.

"Hallo?"

"Hallo tuan Wonwoo,ku dengar anda masih disekolah."

"Ya, ini siapa?"

"Maaf tuan aku salah seorang karyawan diperusahaan, ada klien yang ingin bertemu. Bisakah anda pergi ke gerbang, saya sudah disini."

Wonwoo terdiam sejenak. Dia bingung.

"Baiklah, aku segera kesana." Lalu ia mengakhiri panggilan tersebut.

Wonwoo berdiri, Soonyoung menatap heran.

"Tunggu Wonwoo mau kemana?"

"Aku harus segera pergi."

"Biar aku mengantarmu." Soonyoung ikut berdiri.

"Tak usah."

"Aish, pokoknya aku akan mengantarmu. Mingyu juga menyuruhku untuk menjagamu."

"Ck. Ya ya ya terserah."

Keduanya berjalan menuju gerbang. Wonwoo berjalan begitu cepat, Soonyoung yang kelelahan berada cukup jauh dibelakangnya.

"Wonwoo-ya, santai dong." Pemuda hamster protes kecil. Namun Wonwoo tak mendengarkannya, ia terus berjalan dengan kecepatan tetap hingga sampai didepan gerbang. Sebuah mobil berwarna hitam sudah menunggunya.

Soonyoung berlari cepat menuju tempat kegiatan klub taekwondo. Kaget, takut dan cemas tercampur pada ekspresi wajahnya. Dia sampai disana, matanya langsung memicing mencari sosok Kim Mingyu. Ketemu!

"Mingyu!" Mingyu melihatnya dan langsung menghampiri.

"Ada apa Soonyoung-ah? Tenang, tenang." Soonyoung yang begitu ngos-ngosan dan bercucuran keringat berusaha mengatur napasnya.

"Wonwoo…" dia menarik napas dalam "Dia diculik. Dia ditarik paksa masuk kedalam mobil oleh dua orang pria berpakaian jas serba hitam!"

TBC

Halloooo~ maaf updatenya lama ya.

Sebaiknya Seventeen segera muncul sebelum hati ini dirampas oleh para rookie menawan /apaini :'v/

Semoga chapter ini tidak mengecewakan :')

Sekian. Review juseyo~

-Raa