-Ghost Crisis!-

*Ch 6*

Story by: Kiriko Alicia

Vocaloid belongs to Crypton Media and Yamaha Corp

Rating: T

Pairing (Main): Kagamine Rin X Kagamine Len

Genre: Romance, Mystery, Supernatural

Warning: Typo(s), Sequel 'Exotic', pergantian PoV, crack pair, plot twist (mungkin)

Summary: Dua kubu yang saling bertolak belakang. Para indigo yang disisihkan karena diangap berbahaya. Seorang gadis yang kehilangan eksistensinya di dunia. Akankah ada pencerahan bagi mereka?

Gadis berambut pink pucat itu membasuh wajahnya dalam air bersih yang meluncur keluar dari kran air. Entah mengapa, pikirannya selalu kacau... semenjak kejadian dua tahun yang lalu.

Tidak. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun tetap saja, wajahnya tampak begitu pucat dan khawatir. Khawatir mengenai segala rumor yang menyatakan bahwa Hiyama Rin telah meninggal. Dan ia tahu itu semua merupakan kesalahannya.

Jika saja ia tidak memberikan usul tersebut pada Lenka...

Jika saja ia tidak meletakkan biskuit itu di kursi piano...

Jika saja ia tidak mengikuti kata hatinya waktu itu...

Tapi semuanya sudah terlambat. Seperti kata orang, penyesalan selalu datang terlambat. Semua yang sudah terjadi tidak dapat ia ulang kembali... bukan begitu?

Ia berharap, bahwa rumor hanyalah rumor belaka dan ia akan menemukan gadis itu di suatu tempat. Karena, tubuh gadis itu tidak ditemukan bukan? Mungkin saja ia masih hidup dan ternyata sudah menjalani hidupnya seperti semula di belahan dunia lainnya.

Caranya menemukan gadis itu adalah dengan mencarinya sendiri atau bertanya kepada para hantu yang masih berada disini. Vocaloid Academy..

Namun bagaimanapun juga, ia terlalu takut untuk berhadapan dengan mereka lagi... ya, para hantu itu. Ia tidak ingin berhadapan dengan mereka lagi. Selain itu, realita selalu saja ... kali ini saja... hanya kali ini...

Gadis itu mengeppalkan tangannya lalu merogoh kantong roknya dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah. Ia pun membuka kotak tersebut dan menemukan sebuah anting-anting dengan batu pelangi yang cukup besar di tengahnya.

Dengan tangan gemetar, ia mengambil anting-anting tersebut dan memasangkannya di daun telinga kirinya. Dirinya lalu mendongak dan melihat seorang gadis berambut hijau tosca berjalan di belakangnya dalam kaca.

Dengan cepat, gadis itu pun menoleh ke arah belakang dan melihat seorang Hatsune Miku sedang masuk ke dalam salah satu bilik di toilet wanita. Gadis berambut hijau tersebut tampaknya tidak terlalu memedulikan kehadirannya dan hanya masuk ke dalam untuk melakukan aktifitasnya.

"Ia mengetahui sesuatu..."

Gadis berambut pink pucat itu menggumam sambil menatap bilik tersebut. Ia mengalihkan pandangannya lalu membetulkan letak poni rambutnya yang menutupi mata dan berjalan keluar dari dalam toilet dengan langkah anggun.

Kalian bertanya-tanya potensi miliknya? Oh, ia dapat mendeteksi siapapun yang terlibat dalam masalahnya. Sekecil apapun persentase orang tersebut terlibat, ia dapat mengetahuinya melalui aura yang terpancar dari tubuhnya.

Contohnya, ia tahu bahwa Hatsune Miku terlibat melalui aura sang gadis. Namun aura tersebut tidak terlalu pekat namun juga tidak terlalu transparan, menandakan bahwa Miku cukup terlibat dalam masalah Hiyama Rin.

Gadis itu tidak lain merupakan Megurine IA.

.

.

.

Selama IA sibuk berpikir dan melakukan segala hal tersebut dalam kamar mandi, Len sendiri datang ke dalam kelas bersama Rin yang terus mengikutinya dengan antusias.

"Ohayou, Len!" sapa Kaito dengan cengirannya ketika melihat Len datang dan beranjak menduduki tempat duduknya.

"Ohayou," jawab Len singkat, padat, dan jelas. Setelah itu, Miku yang baru saja dari kamar kecil pun segera memasuki kelas dan karena melihat Len sudah datang, ia pun beranjak pergi ke tempatnya dan menggebrak mejanya dengan keras.

Rin yang tidak memperhatikan sampai kaget dibuatnya. Len sendiri tampak tidak kalah kagetnya. Ia baru saja mengeluarkan kotak pensil miliknya dari dalam tas.

"Ohayou, Len-chi~!" sapanya ceria.

"..."

"..."

"..."

"..."

"L-L-Len-chi?" dan Rin yang mendengarnya pun berusaha menutup mulutnya untuk tidak membiarkan tawanya lepas, "Pfft– Len-chi? N-Nama itu haha cocok buatmu, Lenny! Hahahaha!"

Len yang melihat Rin tertawa seperti itu merasa wajahnya sedikit memerah karena malu.

"U-Urusai! Kan juga bukan aku yang mau dipanggil seperti itu!" jerit Len kearah Rin. Namun tawa Rin justru tambah meledak.

"Pwahahaha! Berarti gadis itu memiliki selera nama yang bagus! Bwahahaha!" dan wajah Len pun menjadi sangat merah mendengarnya.

"Len? Kau bicara dengan siapa?" tanya Kaito yang melihat Len seperti membentak seseorang tadi. Len menepuk jidatnya, ia lupa Kaito dan Miku tidak dapat melihat Rin maupun mendengar segala ucapan gadis berambut honeyblonde tersebut.

"I-Itu tidak penting, kok," Len pun mengalihkan pembicaraannya, "dan ohayou Hatsune-san." Len mengucapkannya dengan nada yang terdengar cukup kesal, namun Miku sama sekali tidak menyadarinya.

"Nee, Len-chi-"

Kaito yang berada disana langsung berdiri dan menyikut Miku. Miku mengembungkan kedua pipinya lalu mengulangi kembali kalimat yang akan dikatakannya.

"Nee, Len-kun, kau tahu? Katanya ruang musik itu sekarang sudah tidak memainkan musik lagi sepulang sekolah lho," ucap Miku. Rin yang tadinya masih tertawa kini menghentikkan tawanya, tubuhnya juga menegang.

Len diam-diam menengok kearah Rin di belakang dan membatin dalam hati, "tentu saja, kan yang memainkan piano itu Rin... dan Rin sendiri sudah tidak tinggal di sekolah lagi."

"Oh," jawab Len sekali lagi dengan singkat, padat, dan jelas. Kaito sendiri hanya terdiam sambil sweatdrop.

"Lalu apa kaitannya denganku, hah?" jawab Kaito. Miku mengerucutkan bibirnya, tidak puas dengan tanggapan Kaito.

"Bukankah lebih baik kalau kita mengeceknya kalau begitu, Kai-kun?" tanya Miku polos dan Kaito memberikan tatapan 'apa kau serius' pada Miku.

"Seratus persen serius!" jerit Miku dengan semangat 45, "bagaimana Len-kun? Apa kau mau ikut?"

Len terdiam lalu melihat kearah Rin yang berada di belakangnya diam-diam. Rin sendiri tidak menyadarinya karena sedang asyik melihat-lihat dekorasi kelas.

Lalu ia melihat kearah Kaito dan Miku yang berada di depannya namun pandangannya teralihkan kearah IA yang kini sedang berada di depan pintu dengan wajah terkejut dan tangan menutupi mulutnya.

Dan IA yang menyadari Len melihat ke arahnya dengan cepat berbalik keluar kelas dan jatuh terduduk di tembok sebelah kelas. Len menautkan kedua alisnya.

Miku dan Kaito yang melihat perubahan mimik wajah Len pun menoleh kearah pandangan Len dan sempat melihat sedikit rambut panjang g IA saat keluar kelas.

"Siapa dia?" tanya Len kebinggungan kepada Kaito dan Miku. Miku dan Kaito bertatap-tatapan sejenak sebelum menjawab.

"Dia Megurine IA," ucap Kaito. Miku mengangguk.

"Kau ingat Luka-tan? Gadis berambut merah muda panjang itu lho!" Miku menjeda kalimatnya untuk melihat jawaban Len. Len hanya mengangguk pelan.

"Nah, IA-chan itu saudara angkat Luka-tan!" lanjut Miku. Len menaikkan sebelah alisnya. Sedangkan Rin yang berada di belakang Len hanya mendengarkan tanpa memberi komentar apapun.

"Tapi Megurine-san kelihatannya tidak dekat dengan em... Megurine IA-san," Len menanggapi dengan rasa binggung. Miku hanya menggidikan bahunya,

"Entahlah, kelihatannya karena masalah itu Megurine-san tidak dekat dengan Luka," kini Kaito yang menjawab sambil menggidikan kedua bahunya, "dan Luka kelihatannya juga menjaga jarak dengan Megurine-san."

"Masalah itu?" tanya Len kebinggungan sambil menautkan kedua alisnya. Miku dan Kaito bertatap-tatapan, tampak tidak nyaman menceritakannya.

"IA... memiliki em... bagaimana ya? Kelebihan? Tapi aku juga tidak bisa bilang bahwa hal itu merupakan suatu kelebihan," Kaito tampak kesulitan menjelaskannya. Miku sendiri tampak berpikir keras. Rin dan Len sekali lagi bertatap-tatapan dengan binggung.

"IA-chan mempunyai kekuatan khusus atau talenta untuk mendeteksi seseorang yang terlibat dalam suatu masalah," ucap Miku, mencoba merangkai kata yang mudah dipahami. Len terlihat tidak mengerti.

"Maksudmu?"

"Em... contoh. Seseorang mencuri makanannya. Mungkin kalau makanan kita yang dicuri, kita memerlukan waktu lama untuk mencaripelakunya, kan? Tapi IA-chan bisa langsung mengetahuinya sekali melihat orangnya," tutur Miku. Kaito mengangguk-angguk. Rin tampak berpikir keras di belakang Len.

Baginya, ini seperti kekuatan yang seharusnya tidak dimiliki manusia. Seperti kekuatan mengendalikan waktu miliknya, IA seharusnya tidak memiliki kekuatan seperti itu kecuali... kecuali dia...!

"Pernah suatu kali keluarganya-"

KRIIINNGGG!

Ucapan Kaito kini dipotong oleh suara bel sekolah, yang menandakan bahwa jam pelajaran telah dimulai.

.

.

.

IA terdiam dengan mulut menganga. Saat ia s udah memakai Rainbow Stone di sebelah telinganya (lebih tepatnya di satu antingnya) ia sudah dapat melihat para hantu. Dan memang, anehnya, ia tidak menemukan satu pun saat berjalan ke kelas.

Aneh. Itulah yang berada di pikirannya. Semuanya menjadi aneh. Dan sekarang semuanya bertambah aneh saat ia masuk ke dalam kelas. Ia mendapati Hiyama Rin (walaupun sudah bertumbuh dan berubah, ia masih dapat mengenalinya) sedang berdiri bersandar di tembok belakang tempat duduk Kagamu- Kagane- siapa? Ah, sudahlah.

Baginya hal tersebut tidak terlalu penting. Yang penting sekarang adalah gadis bernama Hiyama Rin tersebut. Di mata IA sekarang, ia tampak sama dengan murid-murid lainnya. Bahkan dirinya tidak melayang, yang menandakan bahwa ia masih hidup.

Tapi... mengapa semuanya tampak tidak melihat dirinya? Yang IA lihat menyadari kehadirannya hanyalah murid baru itu seorang... apa yang terjadi padanya?

Dan... apakah ia tahu bahwa keadaannya sekarang disebabkan oleh dirinya?

Berbagai pertanyaan berada di pikirannya. Hingga ia menyadari bahwa sang anak baru, Kagane- Kagami- Siapa? Ah, ia ingat. Kagamine Len, sedang menatapnya dengan wajah kebinggungan karena ia terus saja melihat mereka dengan wajah terkejut,

IA dengan cepat berjalan keluar kelas dan bersandar ke tembok sebelah pintu sebelum membiarkan dirinya jatuh terduduk. Ia merasa senang, bahwa Hiyama Rin ternyata tidak meninggal akibat dirinya. Namun, disisi lain ia juga takut.

"Tenang, selagi kau tidak bertingkah dan tidak menarik perhatian mereka, kau juga takkan terlibat dengan mereka..."

Ia mengatakan kata itu berulang-ulang dalam hati, berusaha menenangkan dirinya. Hingga tanpa disadari, bel kelas pun sudah berbunyi.

KRIIINNGGG!

.

.

.

Luna-sensei tampak memasuki kelas. Pelajaran pertama memang pelajaran Luna-sensei, dan ia tampak cukup bersemangat mengenainya.

Semua murid di kelas itu termasuk IA yang tadi berada di luar kelas langsung masuk dan duduk di tempat masing-masing. Luna-sensei menunggu semua murid diam di tempat baru memulai kata pembuka.

"Minna, hari ini akan ada murid baru yang akan bersama dengan kalian di kelas ini," tuturnya dengan senyumannya, "sebenarnya ia murid lama, dan mungkin beberapa dari kalian sudah mengenalinya."

Beberapa murid bertanya-tanya, kebinggungan. Kemarin baru saja ada anak pindahan, lalu sekarang ada murid baru lagi?

"Nah. Kamiya-san, silahkan masuk!" dan pintu pun terbuka, menampakkan seorang lelaki berambut honeyblonde pendek dengan beberapa jepit putih. Beberapa kata yang menggambarkan dirinya di pikiran Rin, "Mirip dengan Len..."

Matanya yang berwarna biru safir, rambut honeyblonde-nya, dan... tinggi badannya tidak jauh berbeda dengan Len (mungkin hanya lebih tinggi beberapa centi).

"Benar kan! Ada murid baru! Dan Len, dia seperti saudara kembarmu," ucap Rin sambil menyikut Len yang berada di depannya. Len mendelik.

"Menurutku, aku sama sekali tidak mirip dengannya," jawabnya ketus.

"Menurutmu, tidak menurutku," jawab Rin lagi lalu melihat kearah depan lagi.

"Kamiya-san, silahkan," ucap Luna-sensei kepada pemuda itu. Pemuda itu mengangguk pelan.

"Kamiya Rinto! Yoroshiku onegaishimasu, ne! Tapi kurasa Kaito, Gakupo dan IA sudah tahu, kan?" tanyanya sambil tersenyum lebar. Kaito tampak membalas senyumannya di tempatnya, Gakupo hanya melambaikan tangannya tinggi-tinggi dengan katana-nya, sedangkan IA hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kecil.

"Baiklah, Kamiya-san, silahkan duduk di belakang Kagamine-san," ucap Luna-sensei, "Kagamine-san, tolong angkat tanganmu."

Len pun mengangkat tangannya setengah-setengah. Rinto melihatnya lalu berjalan menuju ke tempat Len dengan ceria.

"Kamiya Rinto! Panggil saja Rinto! Yoroshiku, Kagamine-san!" jeritnya sambil tersenyum lebar, hingga Len tidak habis pikir bagaimana orang ini bisa terus tersenyum seperti itu. Ia mengulurkan tangannya dan Len menerimanya.

"Kagamine Len. Panggil saja Len," jawab Len datar di tempat duduknya. Rinto mengangguk riang dan melepaskan pegangan tangannya. Lalu ia menoleh ke arah belakang Len.

"Dan kau?" tanyanya pelan sambil menatap Rin. Rin mengedipkan matanyas beberapa kali sebelum menunjuk dirinya sendiri.

"Aku?" tanya Rin memastikan. Rinto mengangguk dengan wajah binggung. Len dan Rin pun berpandang-pandangan dengan wajah horror.

"K-Kau... dapat melihatku? Berarti kau...?"

"Eh? Bukannya kau murid disini juga ya? Walaupun aku cukup binggung mengapa kau tidak mengenakan seragam dan tidak duduk di kursi."

"Kamiya-san? Sebaiknya kau cepat duduk supaya aku dapat memulai pelajarannya," tegur Luna-sensei, "dan lagi, kau sedang berbicara dengan siapa?"

"Eh?" Rinto mengedipkan matanya berkali-kali sebelum menyadari bahwa gadis yang dilihatnya tadi tidak dapat dilihat oleh orang 'biasa'. Ia menoleh kearah Rin yang kini sweatdrop melihat wajah Rinto dan mengangguk pelan.

"EEEHHHHHHHH?!"

.

Yey! Akhirnya selesai juga chapter ini. Ehehe, Rinto sudah keluar dan IA juga punya rahasia. Maaf kalau cerita ini rada plot twist atau plot twist-nya banyak sekali. Ah... beneran minta maaf kalau banyak salah dan sebagainya, apalagi cerita ini kayaknya susah dipahami ya? Alice benar-benar minta maaf...

Ini balasan reviewnya...

-CityofReverence

Hehehe, kalau MikuMikuo itu memang saudaraan tapi kalau Oliver, kayaknya saya ga bilang mereka saudaraan ya? #entahlah

Yap! Ini sudah lanjut, arigatou Kei sudah me-review! X3

-Kurotori Rei

Betul –w-)b

Ini sudah lanjut, arigatou sudah me-review! :3

-Go Minami Hikari Bi

Hahaha, namanya juga cerita fiksi #disambet

Kan di chap ini sudah bilang, ada yang aneh dengan situasinya sekarang. Dan mengenai ortu Len + Rin kayaknya sudah dijelasin di chap awal... ya? #nak

Wkwkwk, kadang ada yang suka ada juga yang ngak. Ini sebenarnya cerita fiksi doang, jadi saya sendiri kurang yakin. Tapi yang pasti saya bukan indigo, cuman bisa ngerasain kedatangannya aja, itupun jarang dan baru mulai saat kelas 6 SD #nak

Gapapa kok, kalau ada pertanyaan lagi silahkan tanya sepuasnya! Maaf kalau jawaban ini tidak memuaskan, ini sudah lanjut... terima kasih sudah me-review! :D

-Mikan chanX3

Oke, ini sudah lanjut... arigatou Mikan-senpai sudah me-review! XD

-Furika Himayuki

Mungkin juga ya X3 Btw, panggilnya biasa aja gapapa (saya masih muda kok #disambet lebih tepatnya tiga belas tahun) Oke, arigatou dukungannya! GBU too!

Thanks sudah me-review! :3

-Kagamine Chen

Kalau masalah words setiap chapter rata-rata 1k-2,5k sih... #nak tapi akan coba kuusahakan lagi XD

Ngak kok, gapapa, arigatou sudah me-review! XD

-Kagamine 02 Story

Memang karena itu cuman satu kali tampak kok, jadi kalau ga dilihat pun memang biasa... ini sudah lanjut, arigatou ne sudah me-review! X3

Terima kasih banyak bagi semua yang sudah membaca sampai sini, fave, fol, dan me-review! 0w0)/

Sekian, jaa ne!

~Kiriko Alicia