Disclaimer : Naruto and co belong to Masashi Kishimoto

Warning : Semi-canon, OOC, heavy themes, typos, etc


Dia tidak percaya dia akhirnya bisa merasakan langsung hangatnya sinar matahari, menikmati lembutnya semilir angin dan melihat burung dan kupu-kupu dari dekat. Rasanya seratus kali lebih hebat daripada apa yang sudah diceritakan Iruka.

Sudah dua minggu semenjak ia tinggal bersama Iruka, dan ia merasa semakin hari, ia semakin bisa memahami apa yang Iruka maksud dengan 'emosi' itu. Memang sangat aneh pada awalnya, seperti ada sebuah benda asing yang tiba-tiba muncul dan kemudian secara perlahan tapi pasti menyebar di dadanya. Ada beberapa dari emosi itu yang tidak menyenangkan dan membuatnya tidak nyaman, namun sebagian besar adalah perasaan yang sama ketika Iruka pertama kali memberikan ramen dulu; aneh, tapi menyenangkan dan hangat. Iruka bilang itu karena ia merasa di cintai atau disayangi, dan itu adalah hal yang wajar dirasakan oleh semua manusia.

Ia selalu penasaran apa yang membuat ia tidak bisa merasakan emosi, yang sejatinya adalah bagian yang tak bisa lepas dari manusia. Apa mungkin dulu, sebelum ia lupa tentang semuanya, ia bukanlah manusia? Ia memang memiliki tangan, kaki, dan tubuh seperti Iruka dan yang lainnya, tapi ia tidak bisa menepis perasaan bahwa disaat yang sama ia juga berbeda dari mereka. Ia merasa meskipun ia selalu dikelilingi oleh orang-orang, ia tidak sepenuhnya menjadi bagian dari mereka, seakan akan sekat tak terlihat yang memisahkan antara dirinya dengan mereka. Begitu dekat, namun juga terasa begitu jauh setiap kali ia bersama mereka.

Semuanya begitu membingungkan baginya, namun ia enggan mengatakannya pada Iruka. Ini adalah sesuatu yang harus ia temukan sendiri jawabannya. Begitu juga mengenai ingatan masa lalunya.

Meskipun sudah lebih dari sebulan semenjak ia terbangun di rungan putih itu, ia masih belum menemukan satu pun petunjuk mengenai siapa dan seperti apa dirinya di masa lalu. Tak ada satupun potongan ingatan yang kembali padanya. Hanya terkadang muncul suatu perasaan yang tak asing yang muncul secara acak, seperti ia sudah mengalami kejadian yang sama seperti sebelumnya. Iruka menyebutnya sebagai déjà vu.

Ia sudah sering bertanya pada Iruka dan yang lain mengenai seperti apa dirinya yang dulu, namun jawaban mereka selalu saja tidak memuaskannya.

Mereka hanya bilang bahwa ia adalah anak yatim piatu dan tinggal seorang diri di sebuah apartemen. Dia adalah anak yang baik dan selalu bisa diandalkan oleh orang lain. Selalu bisa membuat orang-orang merasa senang ketika bersamanya. Selalu bersemangat dan tidak pantang menyerah. Selalu tersenyum tak peduli seberat apapun masalah yang dihadapinya. Dan selalu membuat orang lain kagum dengan kegigihan dan kerja kerasnya.

Benarkah dia memang dulu seperti itu? Jika melihat dirinya yang sekarang, rasanya sangat tidak mungkin baginya untuk menjadi pribadi yang seperti mereka ceritakan.

Dia tidak tahu apakah yang mereka ceritakan memang benar atau tidak. Mungkin saja itu benar. Namun ia juga terkadang meragukan apa yang mereka katakan, karena hingga saat ini pun mereka masih menyembunyikan banyak hal darinya. Jadi ia merasa sudah sewajarnya jika ia tidak bisa sepenuhnya mempercayai mereka.

Mereka tidak mengatakan padanya bahwa ia dulu adalah seorang shinobi Konoha. Mereka juga tidak mengatakan bahwa Kakashi-san dan Sakura-san adalah teman setim-nya -meskipun ia masih tidak tahu siapa satu lagi rekan mereka. Dan ia juga merasa, ada sesuatu yang lebih besar lagi yang disembunyikan oleh mereka tentang dirinya, entah apa itu.

Ia mungkin masih belum mengerti benar mengenai dunia tempat ia berada ataupun bagaimana cara kerja dan hukum didalamnya. Mengenai manusia dan segala permasalahanya. Ataupun mengenai hal-hal yang berkaitan tentang shinobi, chakra, Konoha, ataupun Negeri Elemental. Namun itu bukan berarti ia tidak bisa berpikir.

Tidak memiliki ingatan tentang masa lalunya membuat dirinya dikuasai oleh rasa ingin tahu yang sangat kuat. Ia menghabiskan seluruh waktunya untuk membaca buku dan gulungan, melihat, mendengar, dan merasakan segala hal yang ada di sekitarnya, mencoba untuk menemukan satu atau dua keping ingatannya. Meskipun hingga sekarang pencariannya masih belum membuahkan hasil, namun hasil dari pengetahuan barunya dan pengamatannya malah membuatnya menemukan sesuatu yang lain untuk direnungkan. Seperti fakta yang sudah ia temukan sebelumnya tadi.

Jika ia hanya sekedar seorang anak yatim piatu biasa yang tinggal sendirian di sebuah apartemen, tidak mungkin semua orang yang sekarang dikenalnya adalah shinobi. Tidak mungkin ia mendapatkan perhatian lebih dari seorang pemimpin desa. Dan tentunya, tidak mungkin juga ia diawasi oleh sekelompok orang bertopeng setiap harinya.

Sejak ia tinggal di rumah Iruka, ia selalu merasa ada beberapa pasang mata yang selalu mengawasinya. Awalnya ia hanya menganggap itu perasaannya saja. Mungkin ia terlalu terbawa oleh mimpinya buruknya yang hampir setiap hari menghantuinya. Tapi terkadang, ia bisa melihat sekelebat warna putih di balik bayang-bayang pepohonan di sekitar rumah Iruka.

Mereka tidak pernah memasuki rumah, hanya berkeliaran di sekitar halaman atau di hutan kecil yang ada di belakang rumah. Ia akui mereka memang pandai menyembunyikan diri mereka. Namun mereka tidak pandai untuk menyamarkan bau mereka dengan lingkungannya. Jika ia berkonsentrasi, ia bisa mengetahui dimana mereka bersembunyi, dengan menggunakan indera penciuman dan pendengarannya. Bau metal dan karat -bau darah yang menguar dari tubuh mereka terasa sangat kontras dengan bau rumput dan kayu di sekitar rumah. Terkadang ia juga mendengar suara dahan pohon yang berderak, seperti ada orang yang mendarat diatasnya.

Iruka juga sepertinya tahu mengenai keberadaan mereka. Meskipun ia tidak pernah melihat Iruka berbicara langsung dengan mereka, namun terkadang ia melihat pria itu memandang jauh kearah bayang-bayang pepohonan yang gelap, dan memberikan semacam isyarat dengan tubuhnya -meskipun tidak terlalu kentara.

Mereka adalah ANBU, pasukan elit khusus yang mengurus misi-misi berbahaya dan bekerja dibawah perintah Hokage secara langsung, atau begitulah yang Iruka katakan padanya. Pasukan bertopeng yang sangat disegani oleh penduduk maupun shinobi Konoha. Mereka adalah sekumpulan orang-orang yang mendedikasikan seluruh hidup, jiwa, dan raga mereka untuk Konoha. Mereka secara berani menelan rasa kemanusiaan mereka demi kepentingan Konoha. Mereka adalah para kesatria Konoha yang sebenarnya.

Dan berdasarkan informasi yang ia dapat dari buku, selain bekerja di luar dinding desa, mereka juga melindungi desa dari dalam. Setiap hari, mereka selalu berpatroli di antara jalan dan gang, mengawasi dari atap-atap rumah, dan melihat dari bayang-bayang pepohonan Konoha. Itu semua menjadi bagian dari tugas mereka sejak dihapuskannya satuan Pasukan Polisi Militer Konoha, yang dulu semua anggotanya adalah shinobi klan Uchiha. Pembantaian klan Uchiha beberapa tahun lalu menyebabkan pasukan yang bertugas sebagai penjaga keamanan didalam desa itu tidak berfungsi lagi.

Awalnya ia menganggap kehadiran ANBU adalah hal yang wajar. Mereka memang bertugas untuk menjaga desa, bukan? Jadi kehadiran satu atau dua ANBU di sekitaran rumah memang bukan hal yang perlu dipertanyakan. Namun setelah seminggu penuh ia perhatikan, mereka tidak pernah berpindah dari tempat mereka. Bukankah seharusnya mereka berpatroli?

Tentunya hal ini membuat ia menemukan satu kesimpulan baru. Para ANBU itu bukannya sedang bertugas untuk mengawasi desa, tapi untuk mengawasi rumah Iruka. Lebih tepatnya, mengawasi dirinya.

Jadi, apa yang membuat dirinya begitu istimewa hingga ia mendapat penjagaan dari pasukan elit ini?


Iruka tersenyum sendiri ketika melihat gambar yang diberikan Naruto ketika ia pertama kali tiba dirumahnya. Gambar yang kini telah terbingkai rapi itu kini sengaja ia pajang dapurnya, tepat di dinding sebelah meja makan. Gambar itu memang sederhana, seperti gambar yang biasa dibuat anak umur lima atau enam tahun, namun Iruka bisa tahu siapa sosok-sosok yang Naruto gambar.

Gambar itu berisi lima lima orang yang sedang berada di sebuah ruangan yang terlihat seperti sebuah kedai, dengan sudut pandang gambar diambil dari sisi samping kedai. Terlihat seorang anak lelaki berambut pirang dan bermata biru duduk diapit oleh orang tua yang memakai jubah putih panjang dan seorang laki-laki yang memiliki bekas luka dibagian atas hidungnya. Satu-satunya perempuan yang ada disana terlihat sedang memberikan makanan pesanan dari balik meja layan. Tak jauh dari perempuan itu, berdirilah seorang pria tua yang sedang sibuk dengan berbagai macam bahan makanan. Semua orang disana tampak tersenyum senang. Iruka bahkan bisa merasakan kehangatan yang dipancarkan dari gambar sederhana itu.

Iruka tahu persis kenapa Naruto bisa menggambar wajah-wajah itu, meskipun ia mungkin sudah melupakan sebagian orang-orang disana. Sandaime-sama, Teuchi-san dan Ayame mungkin adalah orang-orang yang paling berharga bagi Naruto. Mereka adalah orang-orang pertama yang mengenalkan seperti apa rasanya disayangi.

Diinginkan.

Bagi anak yang tidak pernah merasakan hal semacam itu semasa hidupnya, pengalaman itu pasti sangat berbekas didalam dirinya. Tak heran jika secara tidak sadar Naruto menggambar sebuah memori yang sudah terpendam jauh itu.

Ia merasa senang karena dirinya juga disertakan dalam gambar itu. Jika seperti itu, bukankah ia juga termasuk orang yang berarti bagi Naruto?

Ah, mungkin lain kali ia bisa mengajak Teuchi-san dan Ayame ke rumahnya, jika Hokage-sama mengizinkan, tentunya.

Iruka kemudian mengalihkan pandangannya ke arah roka (1) yang menghadap taman belakang, tempat dimana Naruto biasa bergelut dengan berbagai macam buku, gulungan, kuas dan tinta.

Sejak Naruto melihat koleksi buku-bukunya yang tersimpan rapi didalam sebuah rak besar dirumahnya, tak pernah sekalipun ia menghabiskan harinya tanpa membaca. Memang sangat mengejutkan pada awalnya, melihat Naruto yang dulunya sangat anti dengan buku, kini malah sangat terobsesi dengan benda itu.

Sebenarnya wajar jika Naruto menjadi seperti itu. Hokage-sama mengatakan, orang amnesia akan selalu berusaha, bahkan bisa dibilang terobsesi untuk mencari ingatannya yang hilang. Mereka selalu merasa ada bagian dari mereka yang tidak lengkap. Janggal.

Orang amnesia tidak bisa hidup seperti orang pada umumnya. Mereka hanya hidup di masa kini. Mereka tidak bisa hidup dalam bayangan masa lalu yang tidak mereka miliki, dan mereka juga tidak bisa hidup dengan berorientasikan pada masa depan. Itu dikarenakan, untuk dapat membangun masa depan, manusia harus memiliki masa lalu mereka untuk menjadi panduannya. Jadi, sebelum Naruto menemukan kembali ingatannya, dia akan selalu terjebak di masa kini. Ia tidak akan bisa untuk bermimpi, bercita-cita, ataupun berkeinginan untuk melakukan sesuatu di masa depan.

Perkembangan pengetahuan Naruto yang cukup pesat akibat buku-buku itu semakin hari semakin membuatnya khawatir, karena pertanyaan yang diajukan anak itu padanya semakin sulit untuk dijawab. Misalnya saja anak itu pernah menanyakan tentang serangan Kyuubi tiga belas tahun lalu, pembantaian klan Uchiha, atau bahkan tentang Ne (Root), yang bisa dibilang merupakan salah satu rahasia terbesar Konoha.

Biasanya ia hanya akan mengalihkan pertanyaan Naruto, menuntun anak itu secara tidak sadar ke topik lain dan membuatnya untuk melupakan topik utama yang sedang dibicarakannya. Tapi metode itu sudah tidak mempan lagi padanya, membuat Iruka harus mencari cara lain agar tidak membocorkan semua informasi, namun juga menjaga kepercayaan Naruto dengan tidak membohonginya terlalu sering atau terlalu kentara.

Iruka dalam hati menggelengkan kepalanya. Naruto, dengan kemampuan observasinya, akan segera mengetahui apakah orang itu berbohong atau tidak dengan melihat ekspresi wajah dan bahasa tubuh. Akan sangat merepotkan tentunya bagi orang yang belum terbiasa untuk ber-poker face. Tapi bagi seorang shinobi seperti dirinya, keahlian seperti itu adalah salah satu hal dasar yang harus dipelajari. Well, peraturan shinobi nomor 23; seorang shinobi tidak boleh menunjukkan emosinya. Sebagai seorang pengajar di akademi, tentunya ia harus memahami seluruh isi buku tentang kode etik shinobi, bukan?

Jadi untuk saat ini, jika Naruto menanyakan hal-hal yang cenderung menyangkut tentang masa lalunya, atau hal-hal yang bersifat rahasia, Iruka hanya akan menjawabnya dengan jawaban yang tidak lengkap (2), atau jawaban fakta yang sudah dicampur dengan sedikit kebohongan disana-sini.

Sebenarnya bukan maksud Iruka untuk membohongi Naruto, atau mencegahnya untuk mencari lagi ingatannya, karena ingatan Naruto memang tidak mungkin bisa kembali dengan sendirinya. Ia hanya tidak ingin apa yang ia takutkan menjadi kenyataan.

Jika Naruto tahu bahwa ia dulu menjalani hari-hari dengan dikelilingi oleh orang-orang yang tidak menginginkan keberadaannya, mendengar orang-orang saling berbisik dibelakangnya, atau diperlakukan secara tidak adil oleh penduduk desa, Iruka takut anak itu akan membenci Konoha, dan dirinya. Iruka tidak ingin itu terjadi.

Jadi, sebisa mungkin Iruka menjauhkan Naruto dari semua hal yang berkaitan dengan masa lalunya. Meskipun hanya sesaat, ia tidak ingin Naruto mengenal kehidupannya di masa lalu.

Dilihatnya Naruto telah beranjak dari tempatnya dan tengah menuju ruangan tempat ia berada, dapur yang juga merangkap sebagai ruang makan. Tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya dari bukunya, anak itu duduk di salah satu kursi yang berhadapan langsung dengan kursinya.

"Kau terlihat sangat serius, Naruto. Buku apa lagi yang sedang kau baca?" tanya Iruka sambil meletakkan mangkuk berisi nasi dihadapan Naruto.

"Bijuu. Lebih tepatnya tentang Kyuubi no Kitsune."

Iruka berusaha sebaik mungkin untuk tidak menunjukkan emosinya. "Apakah penjelasanku kemarin kurang memuaskanmu?"

Naruto meletakkan bukunya dan menatap Iruka dengan mata kelabunya, "Didalam buku ini dijelaskan bahwa bijuu adalah makhluk yang terbentuk dari sekumpulan chakra dalam jumlah yang sangat besar. Jadi, jawabanmu tentang Yondaime Hokage telah membunuh kyuubi tidak masuk akal. Sangat tidak mungkin untuk bisa membunuh makhluk yang tidak benar-benar memiliki 'tubuh'. Jika pun ada sesuatu yang bisa menghancurkan tubuh bijuu, maka secara teori, sang bijuu akan kembali terlahir, karena bijuu pada dasarnya adalah chakra itu sendiri. Entah dengan cara apa atau berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangkitkan kembali seekor bijuu, tidak ada yang tahu, karena hingga saat ini pun tak ada seorang pun yang bisa menghancurkan bijuu." Sepanjang penjelasannya, tak ada sedikitpun perubahan nada yang ditunjukkan oleh Naruto.

Iruka memikirkan jawabannya secara hati-hati. "Kau benar. Memang jika dipikir lagi, sangat tidak mungkin untuk membunuh bijuu."

"Jadi, aku pikir, Yondaime pasti menyegelnya di tubuh seseorang."

Iruka hampir tersedak oleh air yang baru saja diminumnya. "Kenapa kau begitu yakin, Naruto? Mungkin saja Yondaime-sama memang benar-benar membunuh kyuubi. Dan seperti kau katakan tadi, tak ada yang tahu kapan kyuubi akan ber-reinkarnasi lagi... Mungkin saja setahun lagi? Sepuluh tahun? Seribu tahun? Tak ada yang tahu."

"Konoha tidak akan membiarkan kyuubi untuk mati begitu saja. Karena bagaimanapun juga, jika kyuubi mati, tidak ada jaminan bahwa kyuubi akan terbentuk lagi di Konoha. Bagaimana jika kyuubi malah tertangkap dan disegel oleh desa lain? Atau bahkan-"

"Yo!"

Untuk pertama kalinya, Iruka merasa bersyukur dengan kedatangan Kakashi yang selalu saja tak diundang dirumahnya. Dilihatnya pria itu dengan santainya berdiri menyender di pintu dapur. Satu tangannya ia masukkan ke dalam kantong celananya, sedangkan tangan satunya lagi sibuk memegang buku kepercayaanya. Mata tunggalnya tersenyum begitu berhadapan dengan mata Naruto.

"Selamat siang, Kakashi-san."

"Maa, bukankah sudah kubilang untuk memanggilku Kakashi saja, Naru-chan?" Kakashi kemudian bergerak mendekati meja makan dan mengambil salah satu kursi yang masih kosong; diantara Iruka dan Naruto yang duduk berhadapan.

"Akan kulakukan jika kau berhenti memanggilku dengan sebutan itu." Tanpa sadar, Naruto menggeser tubuhnya menjauhi Kakashi, mencoba menjaga jarak. Anak itu memang masih belum terbiasa dengan kontak orang lain.

"Kau mau ikut makan siang dengan kami, Kakashi-san?" Iruka menggunakan kesempatan ini untuk mengubah topik pembicaraan. Ia tidak ingin Naruto meneruskan topik yang membuatnya tidak nyaman ini.

"Tentu. Jika tidak merepotkan."

"Tentu saja tidak," kata Iruka sambil memberikan semangkuk nasi kepada Kakashi.

"Terima kasih."

"Nah, semuanya... Selamat makan!" seru Iruka dengan diikuti yang lain.

Seperti biasa, Kakashi adalah orang pertama yang menghabiskan makanannya terlebih dahulu. Entah trik apa yang pria itu gunakan untuk bisa melahap seluruh hidangan didepannya dalam waktu kurang dari satu detik. Iruka yang sudah terbiasa melihat tingkah Kakashi hanya menggelengkan kepalanya maklum. Tapi tidak bagi Naruto.

Bukannya terbiasa, rasa penasaran Naruto malah semakin meningkat. Maklum saja, karena bisa dibilang, anak itu masih belum tahu bagaimana sikap Kakashi jika menyangkut maskernya. Bahkan ia pun ragu bila ada seseorang setingkat kage yang bisa membuka paksa potongan kain yang menutupi sebagian wajah pria itu. Bahkan kabarnya, Yondaime-sama, jonin pembimbing Kakashi waktu itu juga sempat dibuat penasaran dengan wajah dibalik masker itu. Tapi tetap saja, tak ada satupun orang yang berhasil mengungkap salah satu misteri terbesar Konoha tersebut.

Naruto biasanya akan memfokuskan seluruh perhatiannya ke arah Kakashi, memandang intens wajah Kakashi tanpa berkedip sedikitpun, berharap bisa melihat apa yang ada dibalik masker pria itu. Bahkan ia sampai rela membiarkan ramennya mendingin hanya untuk bisa melihat, walaupun sekilas, wajah Kakashi ketika pria itu makan. Tapi, seperti biasa, tak ada satupun usahanya yang berhasil. Membuat Naruto semakin frustasi dengan setiap kegagalan yang diperolehnya.

"Kakashi-san," panggil Naruto ketika lagi-lagi ia gagal memuaskan keingintahuannya.

"Ya, Naru-chan?" Alis Naruto berkedut mendengar nama panggilan yang ditunjukkan Kakashi padanya.

"Kenapa kau menutupi wajahmu?"

Iruka dan Kakashi memandang Naruto dengan alis terangkat, karena tidak ada seorangpun yang pernah menanyakan hal seperti itu secara terang-terangan pada Kakashi.

"Kenapa tidak?" tanya Kakashi balik.

"Tidak semua orang melakukan seperti apa yang kau lakukan."

"Hmm... memang benar. Lalu?"

"Itu terlihat... aneh."

"Ada yang lebih aneh dariku."

"Tentu saja tidak ada yang lebih aneh dari itu."

"..."

"..."

"Tunggu sampai kau melihat dua makhluk hijau yang selalu meneriakkan semangat masa muda."

Naruto tampak bingung, namun Kakashi memotongnya sebelum anak itu bertanya lebih jauh mengenai dua makhluk hijau yang dimaksudnya tadi. "Lupakan. Setelah dipikir-pikir, akan lebih baik jika kau tidak bertemu dengan mereka. Sangat berbahaya untuk kesehatan mentalmu."

Wajah Naruto kini terlihat lebih bingung dari sebelumnya. Anak itu kini sedikit memiringkan kepalanya, dengan kedua matanya ia sipitkan hingga hampir tak ada pupil atau iris yang terlihat. Dengan tiga garis horizontal yang menyerupai kumis kucing di kedua pipinya, ekspresi Naruto saat ini terlihat seperti seekor rubah.

Raut wajah tak biasa Naruto ini sukses mengundang senyum geli untuk muncul di wajah Iruka.

"Tidak usah terlalu dipikirkan, Naruto. Lebih baik kau habiskan makananmu. Siang nanti kita akan kedatangan Hokage-sama dan Sakura, bukan?"

Naruto mengalihkan pandangannya ke Iruka dan mengangguk pelan.


Sakura kembali menguatkan dirinya ketika ia dan Tsunade sudah berada di depan pintu gerbang rumah keluarga Umino. Seperti hari-hari sebelumnya, ia memasang senyum kecil di bibirnya, dan berusaha untuk mempertahankan senyum itu hingga pertemuannya dengan Naruto sudah selesai. Selama itu, ia akan duduk menemani Naruto membaca di roka, bercerita mengenai kesehariannya sebagai seorang genin, menjawab beberapa pertanyaan yang terkadang diajukan Naruto, dan ikut menyirami tanaman-tanaman milik Naruto yang ada di taman. Ya, itulah yang sudah dua minggu ini ia lakukan.

Setiap hari ia akan datang ke rumah Iruka, entah bersama seseorang atau hanya dia sendiri, dan menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersama Naruto. Memang sulit, dan jika ia tidak benar-benar menguatkan hatinya, ia mungkin sudah kabur dan bersembunyi, menolak untuk memandang kedua bola mata kelabu yang tampak tak bernyawa itu. Tapi, ia kembali mengingatkan dirinya, bahwa dia juga salah satu orang yang menyebabkan Naruto seperti itu. Jika ia menengok ke masa lalunya, entah berapa kali ia sudah mengabaikan, mengejek, merendahkan, dan bahkan menyakiti, fisik dan mental Naruto.

Mungkin ia terlalu egois, berpikir bahwa jika ia melakukan semua ini, maka dosa-dosanya di masa lalu akan terhapuskan. Naruto mungkin sudah melupakan semuanya, semua kesalahan yang sudah ia perbuat, namun... tentu tidak adil bagi Naruto, bukan?

Seakan ia sudah mencuri barang yang sangat berharga bagi Naruto, dan bagaikan pahlawan kesiangan, ia membawakan barang yang hilang itu kepada Naruto yang sedang dilanda kebingungan.

Orang yang seharusnya disalahkan malah menjadi orang yang disanjung. Kira-kira seperti itulah penggambaran yang tepat tentang apa yang sedang ia lakukan sekarang. Menyedihkan, tapi ia juga tidak tahu apa lagi yang bisa ia lakukan saat ini.

Setibanya didepan rumah bergaya tradisional itu, Sakura langsung disambut oleh senyum ramah Iruka. "Selamat siang, Hokage-sama, Sakura. Silahkan masuk, kebetulan Kakashi-san juga sedang bersama kami."

Iruka menuntun mereka melewati genkan menuju washitsu yang berukuran cukup luas. Dari sana, terlihat Naruto dan Kakashi yang sedang duduk santai di roka. Masing-masing tampak serius dengan buku yang mereka baca. Naruto lah yang pertama kali menyadari kehadiran mereka. Sakura langsung melempar senyum begitu matanya bertemu dengan mata Naruto. Seperti biasa, Naruto akan membalasnya dengan anggukan kecil sebelum akhirnya kembali fokus dengan bukunya.

"Akan kubawakan teh untuk kalian," kata Iruka sambil berlalu menuju dapur.

"Kalian sudah datang rupanya. Apa kalian sudah selesai latihannya?" tanya Kakashi tanpa mengalihkan matanya dari bukunya.

"Sudah," jawab Tsunade sambil mengambil tempat kosong diantara tumpukan buku dan gulungan disana. "Sakura lagi-lagi berhasil menguasai teknik sulit dalam jangka waktu yang mengejutkan."

"Itu karena penjelasan Tsunade-shisou yang sangat jelas dan rinci," kata Sakura merendah. Dia memilih tempat di samping Naruto, yang langsung segera menjauh begitu menyadari bahwa Sakura duduk terlalu dekat dengannya. Ia megabaikan tatapan simpatik yang diberikan Tsunade dan Kakashi padanya.

"Apa yang sedang kau baca, Naruto?" tanya Sakura.

"Kyuubi."

"Monster rubah berekor sembilan itu?" Naruto menjawabnya dengan gumaman pelan.

"Kudengar dia membunuh ribuan penduduk dan shinobi Konoha waktu itu." Lagi-lagi Sakura hanya ditanggapi dengan gumaman oleh Naruto.

"Bahkan Yondaime-sama harus mengorbankan nyawanya untuk menghentikan monster itu." Kali ini bahkan tidak ada respon dari Naruto.

Sakura mulai merasa jengah dengan situasi yang dihadapinya. Memang sulit untuk mengajak Naruto berbicara, apalagi jika dia sudah terfokus dengan bukunya. Sepertinya hanya Kakashi lah yang bisa membuat Naruto bereaksi lebih. Meskipun sebagian besar adalah reaksi negatif yang keluar.

Baru saja ia ingin membuka mulut untuk mencoba kembali membuka percakapan, Naruto sudah terlebih dahulu memangilnya. "Sakura-san."

"Y-Ya?" Ia merasa tidak nyaman ketika berhadapan langsung dengan mata kelabu Naruto.

"Bisakah aku minta tolong padamu?"

"Tantu saja!" sahut Sakura, senang karena akhirnya bisa melakukan sesuatu yang berguna untuk Naruto.

"Tolong ceritakan mengenai tim geninmu."

"Eh?" Dari semuanya, kenapa Naruto harus meminta hal itu? "E-Eto... Rekan tim geninku..."

"Bukankah kau juga bisa bertanya padaku, Naru-chan?" timpal Kakashi dengan senyumnya yang biasa. "Aku juga bagian dari timnya Sakura."

Sakura melempar tatapan penuh terima kasih pada Kakashi. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia katakan untuk menjawab pertanyaan Naruto.

"Aku tidak ingin mendengarnya darimu," jawab Naruto datar.

"Kenapa tidak?"

"Kau menyebalkan."

Jawaban tak terduga Naruto sontak membuat semuanya terkejut. Sedetik kemudian suara dengusan pelan terdengar dari arah Tsunade. Sakura melihat masternya itu tengah menutupi mulutnya dengan sebelah tangannya, mencoba menahan suara tawa yang ingin keluar. Sakura juga merasa bibirnya tengah membentuk senyum geli saat ini.

"Maa... Kau membuat hatiku teluka, Naru-chan," kata Kakashi sambil memasang wajah pura-pura terluka.

"Wah, wah... Kalian sedang bersenang-senang rupanya," kata Iruka sambil membawakan sepoci teh dan sepiring anpan. "Apa yang sudah kau katakan pada Kakashi-san, Naruto?"

Setelah satu menit berlalu, tak kunjung ada jawaban yang keluar dari mulut Naruto, membuat Iruka mengernyitkan alisnya bingung. Dilihatnya anak itu kini tengah duduk tegak dengan pandangan kosong ke depan. Buku yang sedari tadi dipegangnya kini tergeletak terlupakan dipangkuannya.

"Ada apa Naruto?" tanya Iruka khawatir.

"Diluar," kata Naruto pendek sambil mengarahkan pandangannya ke arah gerbang depan.

"Akan kuperiksa," kata Tsunade dengan nada serius. Wanita itu segera bangkit dan berjalan menuju halaman depan. Posturnya terlihat kaku dan waspada. Kakashi mengekor tak jauh dibelakangnya.

Sakura yang penasaran juga segera menyusul kedua gurunya. Ia ingin tahu apa yang menyebabkan mereka terlihat begitu serius.

Setibanya di depan gerbang, Sakura dihadapkan dengan pemandangan yang membuatnya langsung memasang kuda-kuda taijutsu. Tangan kanannya tanpa sadar bergerak mengambil kunai yang tersimpan di kantong di paha kanannya.

Seorang wanita muda, dengan memakai kaos jaring-jaring ketat yang dilapisi mantel coklat panjang tengah dikepung oleh beberapa orang bertopeng hewan. Di tangan kanannya, terlihat sebuah katar yang menyembul keluar dari balik lengan mantel panjangnya, dan di tangan kirinya telah tersedia beberapa senbon yang terselip diantara jari-jarinya. Pose tubuhnya menunjukkan bahwa ia tengah bersiap untuk bertarung. Aura tegang menguar dari kedua pihak yang tengah saling berhadapan.

"Anko! Apa yang kau lakukan disini?!"


(1) Roka adalah bagian berlantai kayu yang ada dipinggir rumah tradisional Jepang, seperti teras.

(2) Jawaban tidak lengkap atau vague answer, disini saya merujuk ke jawaban yang hanya menyatakan setengah fakta. Seseorang yang sudah ahli dalam seni ini akan mampu memberikan jawaban yang seolah-olah sudah menjawab pertanyaan si penanya dan membuatnya puas dengan jawaban yang diberikan. Namun sebenarnya si penanya tidak mendapat informasi apa-apa dari jawaban tersebut.


Omake

Kelas Anko-sensei

"Kalian!" seru Anko sambil menghempaskan tinjunya ke meja guru didepannya, membuat semua anak-anak didalam kelas terlonjak dari tempat duduknya. "Jawab pertanyaanku. Jika kalian salah, kalian harus berlari mengelilingi Konoha sepuluh putaran, dan jika kalian benar, kalian hanya perlu mengelilingi Konoha sebanyak lima putaran. Dan jika tidak ada yang menjawab," Anko memasang seringai sadisnya, "akan kujadikan kalian cemilan untuk Hebi-chan."

Semua murid langsung mengangguk ketakutan. Tak ada satupun dari mereka yang berniat untuk menjadi makanan ular raksasa yang seringkali dipanggil Anko di kelas mereka.

"Apa yang menjadi penyebab perang dunia shinobi kedua?" tanya Anko sembari memainkan kunai di tangan kanannya.

Sang pahlawan, seorang anak laki-laki berkacamata yang terkenal sebagai murid paling pintar di kelas, dengan ragu-ragu mengangkat tangannya. "Se-Setelah tercapai perjanjian perdamaian untuk mengakhiri pe-perang dunia pertama, ke-kelima desa tersembunyi mengalami kerusakan yang sangat parah. Akibatnya... akibatnya terjadi masalah ekonomi serius di kelima desa. Se-Semuanya saling berlomba-lomba untuk memperluas wilayah ke-kekuasaan untuk menambah sumber daya. Karena itulah perang untuk mem-memperebutkan wilayah terjadi." Sepanjang penjelasannya, suara anak malang itu semakin pelan, seolah kepercayaan dirinya perlahan-lahan hilang.

Seringai sadis Anko semakin lebar setelah mendengar jawaban murid itu. "Salah!" Semua murid disana terlonjak kaget, karena mereka merasa jawaban yang diberikan sudah benar. "Kenapa?!" teriak salah seorang murid tidak terima.

"Yang menjadi penyebab perang dunia shinobi yang kedua adalah karena kelima desa saling berlomba-lomba untuk mendapat resep rahasia dango mitarashi yang dimiliki Salamander Hanzo di Ame," kata Anko dengan nada serius yang jarang digunakannya.

. . .

"Huh?" Raut kaget dan marah diwajah para murid digantikan dengan raut bingung.

BRAK!

Lagi-lagi terdengar suara meja yang terkena tinjuan Anko.

"Kalian dengar aku! Yang menjadi penyebab perang dunia shinobi kedua adalah perebutan resep rahasia dango mitarashi yang dimiliki Salamander Hanzo! Sekarang, cepat kalian berlari mengelilingi Konoha sebanyak sepuluh putaran!" perintah Anko dengan wajah sangar.

"Tapi..." Terdengar salah seorang murid perempuan yang mengeluh.

"Hoo... Jadi kalian tidak mau kuberi sepuluh putaran?" tanya Anko dengan senyuman manis. Terlalu manis hingga membuat sebagian besar murid dibuat merinding dengan sikap Anko yang tiba-tiba sangat OOC.

"Y-Ya, Sensei..." cicit murid perempuan tadi.

Senyuman manis Anko seketika berubah menjadi seringai ratu iblis. "KALAU BEGITU KALIAN SEMUA LARI DUA PULUH PUTARAN! Dan bagi kalian yang tidak sanggup... Hebi-chan akan dengan senang hati menemani kalian..." Detik itu juga seekor ular berukuran raksasa muncul dibelakang Anko dibarengi dengan kepulan asap tebal. Mata kuningnya menatap tajam para murid yang tengah membeku ketakutan. Lidahnya yang bercabang dijulurkan, menimbulkan suara desisan menyeramkan.

"TUNGGU APA LAGI?!" Teriakan Anko sukses menyadarkan murid-murid malang tersebut dari ketakutan mereka.

"GYAAAAAAAAA!"


AN:

Tak bosan-bosannya saya mengucapkan terima kasih bagi yang sudah memberikan review, mem-fave, dan meng-alert cerita ini!

I hope ya all enjoy this chapter!

X

Jika ada saran, kritik, atau pertanyaan, silahkan review!