Hi! This is taegerlily

.

.

BREATHE

.

.

"Bernafaslah."

"Aku akan baik-baik saja."

"Tanpa dia."

..

Awan dengan corak gelap menggantung di setiap sudut langit Busan saat Jungkook membuka matanya. Perubahan cuaca itu seakan-akan berkolerasi dengan isi hatinya. Tiba-tiba penuh dengan kekacauan.

Baru saja Jungkook membiarkan dirinya untuk berbaring mengistirahatkan diri dan mungkin mengikuti kemauan tubuhnya untuk jatuh tertidur. Saat itu, Busan masih menampakan diri sebagai senja yang berangin. Namun kini, ketika Jungkook menyorotkan kedua matanya kedepan, mengkonsumsi wajah tenang yang pulas, milik Kim Taehyung, sahabatnya selama bertahun-tahun, yang mungkin, beberapa menit lalu, telah menyatakan perasaannya ke Jungkook secara setengah sadar.

Kini, Busan berubah mendung dan bersiap menumpahkan berjuta-juta titik air ke tanah, bangunan, pohon,

dan Jungkook.

Otaknya mencoba memberitau Jungkook bahwa yang ia dengar barusan hanyalah sepenggal kalimat-kalimat tak masuk akal yang diucapkan tanpa nalar yang berarti.

Sebuah kesemuan.

Ucapan semu yang lolos dari bibir seseorang yang baru saja mengkonsumsi ibuprofen kedalam tubuhnya. Seseorang yang berada dalam tahap sedatif seperti Taehyung tidak mungkin punya kontrol atas apa yang keluar dari mulutnya. Begitu kata otak Jungkook.

Tapi telinganya yang terbuka dan awas sepanjang senja itu tidak mungkin membohonginya. Tidak ketika setiap kata demi kata diucapkan dengan artikulasi yang lebih dari jelas untuk ditangkapnya.

Kalimat itu disana dan nyata. Tersaji dihadapannya dengan begitu murni tak ternoda dari kebohongan apapun.

Jika kau bilang Jungkook terkejut, itu artinya kau meremehkannya karena sekarang, kecamuk dihati pria itu melebihi apapun yang pernah dirasakannya sebelum ini. Jungkook bingung dan tidak bisa berbuat apapun. Ia menatap tepat kearah Taehyung dengan sudut pandang yang berbeda walaupun semua aspek dari wajah itu masih sama dengan apa yang ia lihat satu ataupun dua tahun lalu. Tetapi kini, Jungkook bahkan tidak begitu mengenal orang yang terbaring disampingnya itu. Ia takut menyentuh Taehyung, ragu untuk mengusap keringat di keningnya.

Begitu kuatnya sebuah pernyataan, Jungkook seperti dirubah menjadi orang asing selama beberapa menit.

Ia benar-benar tidak punya petunjuk apapun.

Untuk menghadapi Taehyung ketika pria itu terbangun nanti, adalah sebuah teka-teki tersulit.

.

BREATHE

.

Taehyung bisa mendengar samar-samar suara hujan yang bertemu dengan permukaan atap rumahnya. Nyaring dan berhasil membangunkan Taehyung dari tidur yang nyaman. Jari-jari tangan Taehyung merasakan pergerakan di tempat tidur. Memaksa pria itu untuk membuka mata sepenuhnya. Ada bagian kosong disebelah Taehyung yang beberapa waktu lalu, ia yakin, diisi dengan kehadiran Jungkook.

Tetapi Jungkook tidak benar-benar pergi. Ia masih disana walaupun jarak diantara kedua sahabat itu melebar. Ketika Taehyung mengalihkan pandangannya mencari sang pria, ia menemukan Jungkook yang tengah duduk dipinggir tempat tidur. Membelakangi Taehyung dan memberikannya punggung yang bidang.

"Kook" panggil Taehyung dengan suara lemah dan masih sedikit serak.

Ia yakin, intonasinya tak tinggi dan volume tuturannya saat itu begitu kecil. Jadi Taehyung sedikit heran ketika Jungkook terlihat terkejut dengan suaranya namun tidak langsung merespon. Jungkook tampak memerlukan beberapa saat untuk diam dan bertahan dengan posisinya membelakangi Taehyung sebelum akhirnya membalikkan bahu itu dan bertemu pandang dengannya.

Taehyung melempar senyuman kecil. "Kau benar-benar tidak akan pulang? Bibi pasti menunggumu, Kookie."

Sekali lagi, Jungkook tidak langsung memberikannya tanggapan. Pria itu hanya menatap Taehyung dengan sedikit kerutan di keningnya yang mengundang kebingungan dihatinya.

'Apa aku baru saja membuatmu kesal?'

Setelah waktu yang menurut Taehyung terlalu lama, Jungkook menggelengkan kepalanya. "Aku sedang bersiap untuk pulang, hyung." katanya kemudian mengambil tas yang tergeletak didekat kaki tempat tidur. Lalu Jungkook kembali tidak mengucapkan apapun. Ia berdiri dan mengenakan ranselnya disatu bahu. Untuk kesekian kalinya membelakangi Taehyung.

"Tapi diluar hujan, Kook. Kau bisa tunggu sebentar—"

"Tidak perlu. Aku harus segera pulang." Jungkook memotong. Cepat dan mengejutkan Taehyung.

Tubuh itu berbalik menghadapnya sebentar. Hanya untuk mengonfirmasi bahwa Taehyung tidak membutuhkan bantuan lagi dan sudah bisa mengatasi masalahnya sendiri. "Kau sudah merasa lebih baik?" tanya Jungkook dengan nada suara yang, entahlah, terdengar, sedikit dingin.

Ketika Taehyung memberi anggukan sebagai jawaban, itu saja, cukup untuk meyakinkan Jungkook untuk keluar dari sana dan menerjang hujan pulang. Karena itu, ia kemudian berjalan dengan langkah kaki yang sembrono menuju pintu kamar Taehyung. Secepat mungkin tidak melihat kearah mata sahabatnya lebih lama dari ini.

"Kalau begitu telepon aku jika kau butuh sesuatu, hyung." Jungkook sampai didekat pintu ketika ia berhenti sebentar hendak melanjutkan kalimatnya. "Terutama yang tidak bisa kau kerjakan sendiri."

Kemudian ia melanjutkan langkahnya. Jungkook bisa lebih cepat menghilang dari sana jika saja Taehyung tidak memanggil namanya dan terpaksa menghentikan langkahnya keluar dari kamar itu. Dari atmosfir itu.

"Jungkook!" sahut Taehyung sambil mencoba untuk bangkit dan duduk. Ingin sekali Jungkook berteriak kearahnya agar tidak bangun dari posisi tidur itu dan terus beristirahat, tetapi untuk saat ini, dengan sebab yang tidak jelas, Jungkook tidak punya keberanian untuk melakukannya.

"Ada apa lagi, hyung?" tanyanya singkat.

'Ada apa lagi? Sekarang kau terdengar seperti kerepotan datang kesini.' Taehyung benar-benar tidak mengerti perubahan asing dihadapannya itu.

"Ganggangsullae. Kau jadi menonton pertunjukan itu denganku, kan?"

Hanya sebatas pundak yang kaku, anggukan kepala seadanya, dan gumaman "Ya." yang super singkatlah yang menjadi jawaban Jungkook atas pertanyaan itu. Berbanding sangat jauh ketika beberapa waktu lalu Taehyung mengajak sang sahabat di kafetaria dan bisa merasakan antusiasme dari pancaran mata Jungkook saat menyetujui ajakannya.

Tetapi Taehyung harus belajar lebih percaya. Lebih memiliki keyakinan pada sahabatnya itu. Lagipula Jungkook tidak pernah melanggar janjinya

… bukan?

.

BREATHE

.

Setelah kehadiran Jungkook dirumahnya beberapa hari lalu, Taehyung mau tak mau terhisap kembali ke kenyataan bahwa kapten lacrosse bernomor punggung 31, Jeon Jungkook, sudah membagi sebagian besar dari waktunya untuk tim dan untuk Jieun. Sehingga itu artinya, Taehyung akan kembali mengecap rasa pahit akan absennya Jungkook disamping Taehyung hampir setiap saat.

Tetapi kehampaan yang dirasakan Taehyung kali ini amatlah berbeda. Ia tidak tau apa yang terjadi setelah malam itu, tapi Jungkook serasa bertransformasi menjadi orang asing dalam sekejap. Ada sebuah dinding besar yang secara ajaib muncul berdiri tegak diantara Taehyung dan Jungkook. Dia bertingkah seakan dia bukan orang yang ada disamping Taehyung untuk hampir setengah umurnya dibumi.

Dikoridor saat mereka hampir bersentuhan bahu, Jungkook tidak menyapanya dengan senyuman kelinci yang selalu ia pasang layaknya sebuah rutinitas ketika bertemu Taehyung. Di kafetaria, Jungkook juga tak sedikitpun memberikan perhatiannya kepada Taehyung yang jelas-jelas duduk disalah satu meja - dengan kroket yang telah dingin dan tidak tersentuh- tepat didepan meja Jungkook yang ia tempati bersama gerombolan satu timnya. Bahkan sebuah lambaian tangan sederhana dari pria itu, nihil. Baiklah, ia akan berhenti mengeluh tentang Jungkook yang tidak lagi berangkat dan pulang dari sekolah bersamanya. Namun ketika sahabatnya itu menghindari tatapan matanya di tangga dan secara terang-terangan tidak merespon ajakan Taehyung untuk mencoba karakter baru di game favorit mereka, Taehyung mulai mempertanyakan ini semua.

Ia dibuat seperti orang linglung. Tersesat. Taehyung berbaring ditempat tidurnya dengan pikiran yang mengelana akan dimana letak kesalahan yang ia buat hingga Jungkook berubah menjadi sedingin itu.

Kemudian sebuah pengingat di otaknya berdering.

Tiga hari menjelang Ganggangsullae play.

Samar-samar suara dibenak Taehyung menggema.

'Aku mungkin tidak lagi ingin percaya.'

.

BREATHE

.

"Jimin-ah…." Taehyung mengeluh dengan tarikan nafas panjang. Ia membenamkan kepalanya dan menempelkan pipi kananya ke permukaan meja dengan bibir dimajukan dan dibuat seimut mungkin. Ada beberapa hal yang terkadang bisa membuat Taehyung berusaha lebih keras untuk membuat berbagai macam aegyo dihadapan Jimin. Ketika Taehyung lupa membawa dompet dan sangat ingin membeli tiga kaleng soda dari vending machine, saat pria itu meminjam catatan matematika Jimin dari kelas minggu lalu dimana Taehyung memutuskan untuk melamun membayangkan menjadi karakter dari overwatch, atau ketika Taehyung menatap terlalu lama roti kacang merah Jimin yang masih hangat dan berharap sedikit aegyo akan membuat Jimin membaginya.

Ah ya, jangan lupakan yang satu ini : Taehyung dengan tugas sejarah yang terabaikan artinya Taehyung yang penuh dengan aegyo.

"Jangan coba-coba, Tae." tegas Jimin sambil membalikkan lembar demi lembar komik one piece nya yang Taehyung yakin adalah salah satu hasil klaim sepihak Jimin dari kamar Yoongi-hyung. Sesungguhnya, ia tidak terkejut. Jimin bermain kekamar Yoongi begitu sering hingga melebihi keberadaan adik laki-lakinya sendiri.

"Chim-chim…."

"Tidak."

"Ayolah, sekali ini saja."

"Itu yang kau katakan untuk yang kedelapan kalinya."

"Kutraktir ramyun pedas."

Jimin berdecak. Tidak mengalihkan perhatiannya dari lembaran komik. "Kau serius mengapresiasiku dengan sebungkus mi instan? Kim Taehyung kau benar-benar mahluk murah."

Suara lenguhan menjengkelkan kembali terdengar dari Taehyung. "Akan kutambah ayam katsu."

"Penawaranmu masih terlalu dibawah batas."

"Aku mohon, chim-chim! Kau kan tau bagaimana tidak bersemangatnya aku jika itu berhubungan dengan membaca dan sejarah. Nopeeee! Kombinasi terburuk! Aku tidak akan pernah bisa cukup termotivasi untuk menyelesaikannya."

Kali ini gantian Jimin yang menghela nafas. "Taehyung, aku tidak akan mengerjakan tugas sejarahmu hanya karena kau malas melakukannya."

"Hei, malas dan tidak termotivasi itu dua hal yang berbeda."

"Yah, teruslah mengatakan hal tak masuk akal itu pada dirimu sendiri."

Taehyung mendengus kesal. "Jungwoo dan tugas bodohnya itu."

"Dia gurumu, idiot. Tunjukkan sedikit kesopanan."

Taehyung memutar bola matanya mendengar kata 'kesopanan' disebut saat menyangkut tentang guru sejarah itu. "Menulis review setelah menghabiskan membaca buku sejarah yang tebalnya cukup untuk menggantikan bantalku? Ewh. Itu adalah taboo untukku, asal kau tau, Chim."

"Pertanyaan serius Kim Taehyung" mulai Jimin dengan alis terangkat sambil menutup komiknya. Kali ini ia telah benar-benar membalikkan tubuhnya menghadap Taehyung.

"Apa kau tidak berniat sama sekali menyelesaikan sekolahmu disini dan melanjutkannya ke universitas?"

Mendengar universitas disebut, ekspresi Taehyung berubah menjadi lebih semangat. "Tentu saja aku lebih dari berniat. Aku tak sabar meninggalkan gedung tua ini secepat mungkin. Dan kota ini."

"Kalau begitu kerjakan tugasmu, bodoh! Nilai dari tugas itu akan membantu akumulasi nilai akhirmu, asal kau mau tau. Dan kalau kau beruntung, kau bahkan bisa mempresentasikannya didepan semua murid."

Lidah Taehyung keluar memasang ekspresi jijik saat mendengar kata 'presentasi' yang artinya ia harus tampil didepan banyak orang dan berlagak seakan dia begitu pintar dengan kacamata dan pointer. "Chim-chim, tapi membaca buku setebal itu butuh waktu yang lama, dan dua hari lagi aku harusnya bersenang-senang di ganggangsullae play!"

"Kalau begitu bukankah lebih baik kau mulai mengerjakannya dari sekarang?" sudut bibir Jimin naik dan memasang wajah mengolok. Ia terlihat puas dengan pertahanan kuatnya terhadap mata dan bibir yang memohon dari Taehyung kali ini.

"Jimin-ah…" oke, mungkin Taehyung sedikit putus asa. Jangan salahkan dia yang membenci pelajaran membosankan itu. Duduk berjam-jam dengan buku yang lebih berat daripada dua balok yang disatukan, menggunakan kacamata preskripsinya dibawah lampu meja, berkutat dengan nama-nama serta tahun-tahun yang tertulis begitu banyaknya, serta harus menulis kembali review dari beribu-ribu kalimat itu. Siapa yang sukarela melakukan itu semua?! Bukan Kim Taehyung, tentu saja. Oke, jangan pikir ini sebagai bentuk bahwa Taehyung bukan penduduk yang baik. Ia cinta mati dengan negaranya. Tetapi untuk menuruti Jungwoo dan segala macam perintah tak masuk akal yang keluar dari mulut gurunya itu, mungkin Taehyung harus menolak.

Gelengan kepala Jimin berikutnya berhasil membuat Taehyung membenturkan kepala ke permukaan keras meja. Mengerang ketika merasakan keningnya yang sedikit nyeri karena kebodohannya sendiri.

"Lagipula dimana kau bisa menemukan buku Samguk Yusa di era modern seperti sekarang?" tanya Taehyung dengan mulut dan hidung yang masih mencium meja.

Jimin meletakkan komiknya dan beralih mengelus dagu membuat gesture seperti sedang berpikir keras walaupun hanya bertujuan memperolok Taehyung. "Aku yakin dengan sangat, kalau di era modern ini, kita masih punya pusat kumpulan berbagai macam buku bernama… ah aku lupa.. perpustakaan? Ya, perpustakaan. Yang mungkin, kalau kau mau sedikit saja membuka mata, sekolah ini juga punya satu." Jimin mengakhiri dengan berdiri dari bangkunya disamping Taehyung dan mengetok pelan kepala temannya yang masih terlihat putus asa itu.

"Semoga beruntung, Tae."

"Ah, dan kalau kau sulit menemukan bukunya, tanyakan petugas perpustakaan untuk mencarikannya untukmu. Walaupun aku yakin kau akan langsung bertanya tanpa mencarinya lebih dahulu."

Taehyung mengangkat kepalanya, memasang sorot mata mengintimidasi. "Aku akan menemukannya sendiri. Kim Taehyung tidak semalas itu, Tuan Park."

Jimin hanya tertawa kecil kemudian meninggalkan ruang kelas.

.

BREATHE

.

Pada kenyataannya, Kim Taehyung, memang semalas itu.

Menginjakkan kaki kedalam tempat itu untuk pertama kalinya, membuat Taehyung sedikit merasa kasihan pada dirinya sendiri serta bertanya-tanya apa saja yang ia telah lakukan selama bersekolah hingga melewatkan semua waktunya untuk pergi kesini dan membaca.

Bau buku spontan memukul hidungnya saat ia mendorong pintu perpustakaan. Diluar bayangannya, ruangan itu ternyata lebih besar. Rak-rak tinggi diletakkan berjajar hingga kebagian belakang ruangan dengan tag-tag yang ditempelkan untuk membantu siswa menemukan buku yang mereka cari.

FISIKA – MATEMATIKA – BAHASA INGGRIS – TATA BOGA – KIMIA – LOGARITMA-

"Wow, mereka membuat kategori logaritma sendiri? Bukankah itu masih bagian dari matematika?" Taehyung menatap jengah pada tag-tag yang belum juga menunjukan tulisan yang ia mau.

-SENI- BIOLOGI- SASTRA KOREA- 'Baiklah. Cukup sampai disitu.' Taehyung menghentikan langkahnya dan berbalik menuju meja dibagian depan perpustakaan. Mencari petugas atau siapapun yang bisa membantunya menemukan Samguk Yusa.

Taehyung harus menganggap dirinya beruntung karena petugas perpustakaan yang Jimin maksud ternyata bukan seorang wanita tua dengan kacamata tebal dan kerutan kening yang menempel diwajahnya selama 24 jam. Petugas itu tidak lain juga hanya seorang siswa seperti dirinya sehingga Taehyung tidak akan ragu-ragu untuk langsung menyuruh dia untuk menemukan buku yang ia cari sementara Taehyung hanya akan duduk manis, menunggu.

Ketika ia melihat wajah dibalik komputer di konter itu, Taehyung tersenyum lebar. Keberuntungan ganda. Sang petugas ternyata adalah Minjae. Adik kelas yang menabraknya beberapa waktu lalu dan menawarkan tiket gratis untuknya sebagai kompensasi. Adik kelas yang manis.

Tampaknya Minjae masih belum menyadari kehadiran Taehyung disana. Sesuatu dikomputernya pastilah begitu menyita perhatian lelaki itu. Daftar buku yang baru masuk atau mungkin daftar siswa yang melewati tenggat waktu pengembalian, Taehyung tidak benar-benar peduli.

"Woah, Minjae Saja. Kau benar-benar pekerja serabutan disekolah ini, ya?" Taehyung menyandarkan kedua tangannya keatas konter. Godaan itu berhasil mengusik Minjae dari pekerjaannya dan langsung mengangkat kepala menemukan Taehyung yang tersenyum jahil memperhatikan.

"Ah! Sunbae-, maksudku, Taehyung." Minjae lantas bangkit dari kursinya. Merapikan tag menggantung di saku yang menunjukan dirinya sebagai petugas perpustakaan. "Sedang apa disini? Kau biasanya tidak pernah terlihat berada diperpustakaan?"

"Heh, bagaimana bisa kau berasumsi sangat mudah kalau aku tidak pernah kesini?" protes Taehyung mendengar sedikit sarkasme yang dilempar adik kelasnya itu.

"Mm, karena aku petugas perpustakaan?" double sarkasme.

Oke, Taehyung lupa itu untuk sedetik. "Bukan berarti itu membuatmu mengawasi perpustakaan sepanjang hari." dan ia masih balik melawan.

"Taehyung, aku disini pagi sebelum bel masuk berbunyi, siang saat jam istirahat, dan sore hari setelah bel pulang dinyalakan."

"Yeah, dan kapan saat kau sedang tidak bertugas?"

"Tentu saja saat pelajaran dimulai."

"Pantas saja kau tidak pernah melihatku. Aku keperpustakaan saat kau sedang tidak bertugas."

Minjae mengangkat alisnya sambil menyunggingkan senyum. "Artinya kau membolos kelasmu sendiri untuk datang kesini?"

"Astaga, aku menyerah." Taehyung mengangkat kedua tangannya keudara. "Untuk ukuran seorang junior, kau tentunya punya mulut yang cukup berani, Minjae Saja."

Mendengar itu, Minjae tertawa kecil. Menghabiskan waktu dengan Taehyung seperti ini terasa santai dan menyenangkan. Tidak perlu adanya formalitas, bahasa yang sopan seperti seorang junior ke seniornya, dan juga senyuman kaku. Taehyung yang sudah Minjae perhatikan dari jauh saat ia pertama kali datang kesekolah ini, namun baru bisa berbicara dengannya beberapa bulan kemudian, telah berhasil mengambil lebih banyak bagian hati Minjae hanya dengan kepribadian dan senyumannya.

"Baiklah, buku apa yang sedang kau cari?"

Ekspresi Taehyung seketika menyala. Berharap jika Minjae mengeluarkan pertanyaan seperti itu, artinya ia akan menemukan bukunya untuk Taehyung tanpa harus menyuruh Taehyung kembali ke jajaran rak dan mencarinya sendiri. "Samguk Yusa. Aku perlu itu untuk tugas sejarahku."

Minjae mengernyit bingung karena buku yang Taehyung sebut sangatlah mudah ditemukan di rak sejarah Korea. Mengingat bagaimana seringnya siswa siswi mencari Samguk Yusa, Minjae memutuskan untuk menyusunnya ditempat yang mudah untuk dilihat dan digapai. "Taehyung, rak sejarah ada dibaris ke sebelas, dan buku itu ada di nomor—"

"Minjae Saja." Taehyung memotong dengan mata yang mendelik. "Aku tidak datang kesini dan memberitaumu buku yang kucari hanya untuk mendapatkan peta dimana aku bisa menemukannya."

"Lalu, untuk apa—"

Taehyung memotong sekali lagi. "Kau petugas perpustakaan, bukan? Tidakkah kau lihat kalau kedua mataku ini tidak dirancang untuk menemukan judul buku tertentu ditengah tumpukan masif itu? Bantu aku mencarinya, kau adik kelas." Ibu jari Taehyung kemudian terangkat menunjuk kearah rak-rak dibelakang punggungnya. "Maksudku, carikan untukku."

Minjae merespon dengan memutar bola matanya, seolah enggan namun ia tidak menolak.

.

BREATHE

.

Saat suara buku berbentur dengan meja kayu didepannya terdengar, Taehyung membuka matanya lebar. Ia tau kalau Samguk Yusa adalah buku sejarah yang tebal, tapi ia tidak mengira buku itu akan setebal ini. Menyelesaikan Samguk Yusa dalam dua hari tampaknya sangatlah mustahil.

"Kenapa? Bukankah itu buku yang kau cari?" Minjae duduk dihadapannya dan menatap heran saat Taehyung masih memasang muka terkejut semenjak ia membawakan buku itu kehadapannya.

"Apa kau yakin ini Samguk Yusa yang ku inginkan?" Taehyung menelan ludahnya dan masih tidak membuat pergerakan apapun untuk menyentuh benda itu.

"Satu-satunya." Jawab Minjae meyakinkan.

"Terakhir kali aku melihatnya, Samguk Yusa tidak setebal ini. Bukankah ada versi yang lebih pendek? Aku butuh buku yang lebih tipis, Minjae-ah. Kau punya itu disini kan?" Mata Taehyung memancarkan harapan yang walaupun tidak akan terjadi.

"Apa kau bahkan pernah membaca Samguk Yusa? Riwayat tiga kerajaan tidak mungkin ditulis dengan singkat. Semua detil, semua nama, semua peristiwa harus ditulis dengan baik dan tidak ada yang boleh terlewatkan. Menulisnya dengan singkat artinya memperolok sejarah negara kita sendiri, Taehyung."

Kedua alis Taehyung bertemu. Matanya menyipit menyorotkan pandangan seolah menusuk. "Minjae Saja, sekarang kau terdengar seperti Jungwoo."

"Jung… maksudmu Jungwoo songsaenim?"

"Yep. Satu-satunya. Orang yang memberikan tugas tak masuk akal. Menyuruh kami untuk menulis review setelah menghabiskan buku setebal ini dalam waktu singkat? Apa dia gila? Kau juga berpikiran sama denganku, kan?"

Minjae hanya mengangkat bahunya ringan. Itu tidak terdengar begitu buruk. "Aku biasa mengerjakan hal semacam ini. Membaca dan menceritakan kembali menurutku bukan hal yang sangat berat."

Taehyung menarik nafas. "Hah? Apa kau berkualisi dengan Jungwoo sekarang? Kau benar-benar murid serabutan, Minjae."

Minjae terkekeh kecil, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Berhenti mengataiku seperti itu. Aku hanya sedikit lebih rajin daripada siswa lainnya."

Pada akhirnya, buku itu tersentuh juga oleh Taehyung. Namun bukan dengan tangannya yang membuka lembar demi lembar, melainkan dengan kepalanya yang sekarang berada diatas buku yang masih tertutup. Bau lembab dari buku tua itu menusuk masuk kedalam hidungnya. Taehyung mengerang. Ini akan jadi mimpi buruk baginya.

"Bagaimana caranya aku bisa menyelesaikan ini dalam dua hari?" rengek Taehyung masih dengan kepala yang tidur diatas buku. "Neraka. Mimpi buruk. Kiamat."

Minjae yang masih memperhatikan semua keluhan-keluhan yang keluar dari Taehyung tampak memikirkan sesuatu. Taehyung yang seperti ini terlihat lebih menggemaskan dan mungkin sedikit berhasil menggerus hatinya untuk akhirnya menawarkan bantuan. Pertama tiket gratis, dan sekarang tugas sejarah? Minjae benar-benar mempertanyakan dirinya.

"Hei, ini tidak seburuk itu, Taehyung. Aku sudah menyelesaikan Samguk Yusa dan ceritanya tidak seberat yang kau bayangkan."

Dengan gumaman rendah Taehyung kembali mencela. "Yeah, aku bisa tebak itu. Kau mungkin tidur dengan sastra kuno sebagai temanmu."

Helaan nafas kecil lolos dari bibir Minjae. "Aku menawarkanmu bantuan, Taehyung. Karena aku sudah pernah membaca habis buku itu, aku tau semua highlight nya dan akan lebih mudah untukmu menulis review tanpa perlu membaca semua isi buku. Kau hanya perlu menulis apa yang keluar dari mulutku dan menambahkan sedikit tanggapan, dan tugasmu selesai."

Rahang Taehyung terbuka mendengar kalimat-kalimat itu. Minjae yang duduk dihadapannya seketika berpendar dan muncul halo terang disekitar kepalanya. Taehyung harus mengecek kembali apakah manusia didepannya ini benar-benar bukan malaikat karena disetiap pertemuan mereka Minjae selalu memberikan keberuntungan tanpa akhir untuknya. Maka Taehyung meraih tangan Minjae yang tergeletak diatas meja. Menggenggamnya erat dan menautkan jemari mereka lalu mengarahkannya ketengah dada Taehyung. "Kim Taehyung berhutang seumur hidupnya padamu, Minjae Saja."

Tanpa Taehyung sadari, perlakuannya itu baru saja membuat semburat merah muncul perlahan-lahan dari pipi Minjae hingga ketelinganya. Ia bersyukur dengan penerangan perpustakaan yang remang sehingga ia yakin rona itu tidak dapat ditangkap oleh mata Taehyung. Minjae menarik tangannya pelan dari genggaman Taehyung dan mencari-cari hal disekitarnya untuk dilihat. Kemana saja asal jangan tepat ke mata Taehyung.

"Kau.. kau berlebihan."

Tawa kecil dari Taehyung serta mata yang menyorot dengan menawan membuat waktu bertugas Minjae menjadi sepuluh kali lebih baik.

.

BREATHE

.

"Cium aku."

Kata-kata itu lebih terdengar seperti perintah daripada permohonan. Dan ini pertama kalinya Jungkook mendengar Jieun mengeluarkan nada seperti itu saat mereka sedang berdua. Jieun biasanya penuh dengan kelembutan dan mata yang berbinar saat meminta hal seperti ini pada Jungkook, jadi saat Jungkook melihat netra sang kekasih yang keras ditujukan untuknya, tentu saja ini hal baru baginya.

"Hei, ada apa, hm?" Jungkook meraih tengkuk Jieun. Mengelus kulit halus disana dan memusatkan perhatiannya pada kekasihnya.

"Harusnya aku yang bertanya itu padamu, Jungkook."

Kening Jungkook mengerut. Ia menyingkap rambut panjang Jieun yang tergerai bebas dan menyisipkannya kebelakang telinga wanita itu. "Ada apa denganku?"

"Kau melamun semenjak kita sampai disini. Kau seperti tidak mendengarkanku dan bahkan membiarkan es krim milikmu mencair, Jungkook."

Benar, es krim didalam cup yang beberapa menit lalu ditata dengan cantik menggunakan wafer dan cokelat kini sudah sepenuhnya meleleh menyerupai susu dan tidak terlihat cukup menggiurkan untuk dikonsumsi. Apa Jungkook baru saja membiarkan itu terjadi?

"Maafkan aku…" Ia menyingkirkan cup itu dari meja dan bergerak meraih tangan Jieun, menyematkan jari-jari mereka. "Ulangi ceritamu. Aku janji akan mendengarkan."

Jieun menggeleng pelan. Walaupun netranya telah melembut, tapi masih ada keraguan tergambar diwajahnya. "Itu tidak lagi penting sekarang. Sebaliknya, aku ingin kau yang bercerita. Katakan apa yang begitu mengganggumu sampai kau bisa terlihat kehilangan arah seperti ini, Jungkook."

Memangnya apa?

Apa yang membuatnya tidak begitu fokus sepanjang hari bahkan saat bersama kekasihnya?

.

.

.

Ketika Jungkook menutup mata, hanya satu wajah yang terbayang dibenaknya. Hanya satu memori yang berputar dikepalanya. Tentu saja. Bagaimana ia akan melupakan itu? Wajah pulas dengan bibir yang sedikit terbuka, meloloskan kata demi kata yang masih menghantuinya sampai detik ini. Kenyataan bahwa Taehyung melihat Jungkook melebihi seorang sahabat membuat temperature tubuhnya naik. Apa Jungkook marah? Apa Jungkook merasa dikhianati?

.

.

.

Jungkook menggeleng. Tersenyum hangat. Ia mengelus pipi Jieun dengan punggung jarinya. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku hanya sedikit gugup dengan pertandingan melawan tim dari Ilsan minggu depan. Itu saja."

Jieun mengulum bibir bawahnya. "Kau yakin itu saja?" jari-jari langsingnya menyentuh kerah seragam Jungkook.

Detik berikutnya, Jungkook tidak mengangguk maupun mengiyakan. Pria itu hanya mendekatkan wajah mereka berdua dan bergerak mencium Jieun. Mengecupnya, menggerakan tautan bibir mereka. Jungkook dapat merasakan sedikit rasa es krim yang tertinggal disana. Manis dan harum. Persis seperti Jieun.

Mungkin berbohong untuk kali ini adalah ide yang baik.

.

.

Matahari mulai menyingkir dari Busan. Sepasang kekasih menyusuri jalanan yang ikut memiliki aksen oranye karena pantulan dari langit. Jungkook memang ada disana. Disamping Jieun dan menggenggam tangannya. Berjalan dengan tangan bergandengan. Setiap orang yang lewat pasti berpikir bahwa pasangan itu terlihat begitu manis. Tetapi sekali lagi, Jungkook menatap kosong kedepan. Pikirannya berlalang buana ketempat lain.

Sudah berapa lama ia tidak lagi menyusuri jalan ini dengan Taehyung. Kapan terakhir kali Jungkook bercengkrama dengan sahabatnya mengiringi langkah-langkah kaki mereka menuju rumah. Melakukan marathon dadakan karena Taehyung yang begitu jahil dan ingin memancing sisi kompetisi Jungkook atau memutuskan untuk mampir dan melahap kue beras pedas dikedai favorit mereka.

Jieun tidak begitu menyukai makanan pedas jadi Jungkook ragu untuk membawa wanita itu kesana. Jika Jieun adalah definisi dari cokelat, es krim, dan semua yang terasa manis, Taehyung adalah soda, odeng, tteokboki, dan ramyun. Semua makanan favorit Jungkook.

Tetapi kenapa ia tiba-tiba membandingkan sahabat dan kekasihnya seperti ini?

.

.

.

Remasan halus ditangannya menyadarkan Jungkook dari kekacauan itu. "Jungkook, kau tidak mendengarkanku lagi." Sudut bibir Jieun turun dan hidungnya mengerut kesal. Spontan Jungkook mengutuk dirinya. Ia merasa bersalah pada wanita itu. Bahkan Jungkook sendiri telah kehilangan hitungan berapa kali ia melamun hari ini.

"Jieun, maafkan aku. Mungkin aku sedikit lelah karena latihan yang terus diforsir. Kau bilang apa tadi?"

Ia juga kehilangan hitungan akan banyaknya Jieun menghela nafas hari ini. "Ganggangsullae, Jungkook."

Jantung Jungkook berdebar.

Ia harap ini bukan hal yang ia pikirkan.

"Kau tau pertunjukan yang diadakan sekolah kita itu kan? Bagaimana kalau kita pergi berdua? Aku rasa itu akan menyenangkan. Anggap saja ini sebagai kencan kita berikutnya."

Rasanya sebuah tulisan besar tiba-tiba dijatuhkan ke kakinya.

'Kau sudah membuat janji terlebih dahulu dengan orang lain'

Kata-kata itu bermain dan berlari-lari di pikiran Jungkook. Seperti hantu yang melayang-layang seenaknya.

.

.

.

Mereka berhenti ditengah langkah. Jieun menatap tepat kekedua matanya. Sisa-sisa sinar matahari yang ingin pergi dari langit menyentuh wajah kekasihnya dan membuat wanita itu terlihat bahkan lebih cantik dari biasanya.

"Jungkook?" panggil Jieun ketika Jungkook belum juga memberikan respon.

Beberapa detik Jungkook hanya diam dan tampak berpikir sebelum akhirnya pria itu mengangguk.

"Baiklah. Ayo pergi berdua."

.

.

To Be Continued.

.

.

I hope you enjoyed the updated chapter!

Oh ya, baru tau kalau ada mobile app nya dan baca ff dari app itu jadi lebih mudah, suer.

Yg minta smut sabar yaa, enaena mesti ada prosesnya haha

.

.

Semua review pasti aku baca karena hanya itu yang bikin semangat ngelanjutin..

I love my readers so much 3