~ Not Over You ~

...

..

sebelumnya...

"Lu, ada apa?"

Ia diam sesaat menatap sendu kekasihnya itu. Menimbulkan suasana hening terjadi diantara mereka dengan hanya suara rintikan hujan masih menemani keduanya dari luar sana. Sebelum akhirnya ia bersuara lagi. Mengatakan suaru hal yang mungkin tak pernah Sehun kira akan mendengarnya dari mulut kecil Luhan.

"Sehun, putuskan aku sekarang juga!"

Chapter 07

..

...

...

Mungkin benar tak akan pernah ada dipikiran seorang playboy sepertinya, jika selama ia berhubungan dengan siapa pun yang pernah menjadi mantannya diluar sana. Karena biasanya hanya ia yang akan bertindak dalam hal kapan memutuskan para mantannya itu.

Tapi hal ini...

Namja kecil yang masih bertemu tatap dengannya saat inilah Sehun rasa telah berhasil menjungkir-balikkan dunianya. Ia tak menyangka jelas karena selama ini tak pernah seserius ini menanggapi hal sepeleh yang memang selalu ia sepelehkan. Dan sekali lagi Luhan telah berubah semuanya. Wajahnya yang tadi tampak biasa saja, kini seketika berubah drastis tak bersahabat.

Ia tampak ingin mengeluarkan semua kata kasar betapa ia saat ini dalam keadaan tak baik. Lantas satu tangannya ia angkat dan dengan secara tak sengaja menekan kuat dagu kecil didepannya itu dengan tangannya tadi. Mengangkatnya tanpa perasaan hingga mengakibatkan sang pemilik merintih kecil.

"Se-Seh-"

"katakan sekali lagi apa yang tadi kau katakan!" desisnya kasar seakan ingin menakuti siapa dan apa pun yang tengah berada dihadapannya detik ini.

"i-itu...akhh...s-sakitt" dan ringisan sakit ia terima langsung.

"kau mau merusak kesenanganku saat ini hah?" sekali lagi untuk hari ini ia membentak kuat tanpa perduli jika sosok kecil didepannya akan ketakut dengan apa yang ia lakukan.

"akuu...aku ingin k-kau memutuskanku Sehunn"

Lantas dengan kasar ia lepaskan cengkramannya didagu Luhan dan membuat wajah namja itu tertunduk tak berdaya. Ia memundurkan tubuhnya menjauh, hingga jarak begitu banyak diantara keduanya. Dibawah sana kedua tangannya mengepal erat menahan rasa emosi yang tiba-tiba keluar darinya sambil tatapan tajam ia tujukan pada sosok tak berdaya disana.

"Xi Luhan jangan bercanda! Kau mengatakan ingin putus dariku? Ck, bodoh!" umpatnya tak perduli. Disana Luhan terlihat mengangkat wajahnya perlahan, memandangnya dengan tatapan yang jujur Sehun sangat tak suka.

"kau...tidak bisa!"

"waeyo?"

Sehun tersenyum miring menanggapinya sambil kepalanya ia gelengkan tak setuju. Dan kembali menatap sangat tak enak pada Luhan.

"kau memikirkan apa hah? Jangan membuatku ingin tertawa mendengarnya" dan Luhan balas dengan gelengan pula menandakan ia tidak sedang bercanda atau apa pun. Ia hanya ingin mengatakan apa yang memang ia inginkan. Bahkan dari raut wajahnya pun bisa disimpulkan saat ini.

"Sehun, putuskan aku!" ucapnya sekali lagi agar Sehun mengertinya. Tapi namja pucat itu justru balik mengelak tak terima, bahkan sudah siap ingin beranjak pergi dari sana.

"sudahlah, jangan berbicara lagi!" serunya memerintah dengan tubuhnya sudah ia balikkan hendak pergi. Sebelum itu ia kembali bersuara.

"jangan memikirkan apa pun, karena aku sangat tak suka membicarakan hal seperti ini sekarang, kau tau itu?!" ia melangkah pergi dari dapur itu dan Luhan disana dengan cepat turun dari pantrynya. Berlari kecil mengejar Sehun didepan sana.

"tidak, aku menginginkan hal ini Sehun. Aku ingin kita akhiri hubungan ini karena, kau tau? Kita tak seharusnya seperti ini, kita-" Luhan menghentikan ucapannya kala Sehun berbalik cepat kearahnya dan mereka berdiri berhadapan dengan tatapan semakin tajam itu sang playboy mengeluarkannya.

"Wae? Katakan padaku! Kenapa kau begitu ingin putus dariku hah?" Ia terdiam menundukan wajahnya akibat tak tahan akan tatapan mematikan dari namja tinggi disana.

"Kau selalu mengatakan hal-hal seperti ini, berkata bahwa hubungan kita tidak benar? Sebenarnya apa maumu hah? Ingat kau yang memulai semua ini bukan?, kau yang memintaku apa kau lupa itu?!" Sehun sekali lagi membentak karena ia Merasa semakin tersulut emosinya sendiri. Luhan kembali mengangkat wajahnya takut-takut.

"Aku tau itu..." cicitnya pelan membalas.

"Lalu apa? Kenapa kau terus bertindak seakan ingin mendesakku?, kau-"

"Aku hanya merasa ini sudah cukup terjadi, aku ingin ini berakhir..." Sehun terlihat mengeraskan rahangnya, ucapan Luhan benar-benar telah membuat suasana hatinya memburuk. Ia menggeram kasar.

"Ck, semudah itu kau mengatakannya. Kau pikir aku akan melakukannya apa? Kau lupa jika tidak segampang itu aku langsung memutuskannya. Aku bahkan belum merasa puas denganmu" Tangan Luhan ikut terkepal erat dibawah sana, karena ia juga baru sadari jika Sehun benar belum merasa terpuaskan olehnya.

"Seharusnya kau tau itu!, aku baru mendapatkan setengah dari apa yang aku inginkan darimu, jadi jangan pernah mengatakan hal itu lagi!"

"Kalau begitu, apa? Apa yang harus aku berikan padamu agar kau merasa terpuaskan?" Sehun tersentak ketika Luhan juga meninggikan nada bicaranya, terlebih dengan apa yang baru saja namja kecil itu katakan. Ia tak menyangka bagaimana bisa Luhan berkata seperti itu didepnnya saat ini.

"Katakan padaku! Apa itu?, maka aku akan memberikannya kepadamu Sehun, dan lekaslah putuskan aku!"

Ia menunduk lagi untuk menyembunyikan raut wajah menyedihkannya itu. Ia bahkan rasanya ingin menangis saja saat ini. Dan hatinya entah mengapa sangatlah terasa sakit dan sesak didadanya. Sementara didepannya Sehun tampak masih pada ekspresi andalannya dengan semakin datar Akibat menahan emosinya. Lalu ia tertawa remeh, benar meremehkan apa yang telah Luhan ucapkan.

"Walaupun aku mengatakannya dan dengan kau benar memberikan apa yang aku mau darimu, aku akan langsung memutuskanmu begitu? Apa kau berpikir seperti itu?" Tanya Sehun tapi Luhan tak menjawabnya apa pun. Lantas Sehun kembali tertawa menyebalkan memberi sedikit waktu hening terjadi sejenak diantara mereka. Sebelum Luhan akhirnya bersuara lagi yang malah mengejutkan dirinya.

"Jika kau tidak bisa melakukannya, tidak bisa memutuskanku...kalau begitu biarkan aku yang memutuskanmu Oh Sehun, maka hubungan ini berakhir!"

JDERR...

Suara gemuruh petir terdengar tiba-tiba bersamaan dengan Suara lantang Luhan yang telah mengatakan hal yang mengejutkan untuk Sehun. Disana sang playboy terpaku menatapnya tak percaya. Bahkan kedua mata tajam itu tak kunjung berkedip karena begitu terkejutnya.

"A-apa?"

"Yah, aku yang akan memutuskanmu"

Saat itu raut wajah Sehun benar-benar terlihat sangat memburuk. Sangat datar dan tatapan tajam menusuk jelas sekali terlihat jika namja pucat itu benar-benar marah sekarang. Begitu emosinya Sehun bahkan tak perduli dengan apa yang ia lakukan selanjutnya.

SRET

Mencengkram kuat tiba-tiba kerah seragam Luhan hingga membuat tubuh yang lebih kecil tertarik cukup kasar kedepan. Dengan kedua matanya berkilat tajam menatap penuh emosi pada kekasihnya itu seakan ingin menghancurkannya.

"Dengar, playboy tidak pernah diputusi dan playboy hanya akan memutuskan kekasihnya. jadi kita tidak akan pernah putus, sebelum aku yang memutuskannya, kau mengerti!"

Membentak kesekian kalinya tepat didepan wajah sendu Luhan. Lalu ia lepaskan cengkramannya itu kasar dan lagi tubuh Luhan sampai terdorong kebelakang.

"Aku rasa kau tidak bodoh untuk tidak mengerti apa yang aku katakan ini padamu, ingat itu baik-baik! Dan aku tak ingin mendengar apa pun lagi yang kau katakan padaku mengenai hal ini"

TAP

TAP

BRAK

Luhan menjatuhkan dirinya kelantai begitu Sehun telah pergi dan menghilang dibalik pintu rumahnya. Namja pucat itu telah pergi setelah berucap dan membanting pintu depan dengan sangat kasar dan kuat. Pergi keluar entah kemana yang bahkan diluar jelas-jelas masih dalam keadaan hujan deras tak kunjung berhenti. Pada saat itu Luhan disana duduk tak berdaya dengan wajah yang telah basah dialiri oleh air matanya sendiri. Ia menangis seorang diri yang hanya ditemani oleh gemuruh hujan dan petir dari luar rumahnya.

Sehun pergi, pergi meninggalkannya dengan segala rasa emosi yang namja itu rasakan. Dan Luhan yakini Sehun pasti marah padanya, sangat marah malah dengan apa yang telah ia katakan semuanya.

.

.

.

~ Not Over You ~

.

.

.

Luhan tidak tidur dengan baik semalam. Saat terbangun kepalanya terasa sakit dan semua yang ia lihat terlihat bergoyang seakan ingin runtuh. Bahkan ketika ia mampu berjalan dengan kepala terasa memberat dikamar mandi ia justru memuntahkan apa yang sebenarnya tak ada yang ia muntahkan selain cairan bening dimulutnya.

Ia merasa tak enak pada tubuhnya Lemas seperti tak ada tenaga, tapi ia memaksakan dirinya untuk tetap bergegas berangkat kesekolah pagi ini. Dengan hanya memakan roti bakar dan sedikit susu ia berjalan pelan keluar dari rumahnya. Ia buka dan menutup rapat pintu rumahnya, hingga tak lupa untuk menguncinya lagi.

Ketika kakinya untuk kembali melangkah berbalik tepat didepan pagar besi rumahnya ia berdiri terpaku disana. Menatap nanar kedepan tanpa berkata sedikit pun. Saat ia menyadari sesuatu lantas ia tersenyum miris. Apa yang kau harapkan Luhan? Dia tidak akan ada disana seperti hari-hari sebelumnya. Dimana sosok tinggi pucat itu akan memberinya senyuman mempesona disana.

Tidak ada...

Hanya ada kekosongan disana, ia sendiri tanpa ada siapa pun atau namja itu. Luhan sadar sendiri dia tidak akan datang hari ini untuk menjemputnya. Dan seharusnya ia tak memikirkan hal itu. Tetap seperti biasa berangkat kesekolahnya seorang diri bukannya hal yang sering ia lakukan. Lantas untuk apa ia tetap berdiri disana?. Luhan menggelengkan kepalanya sesaat sebelum akhirnya ia bergerak benar melangkah pergi dari rumahnya seorang diri kesekolah.

Selepas pergi tanpa ia ketahui sebuah mobil sport mewah berjalan pelan tepat dibelakangnya. Setia mengikutinya tanpa lepas bahkan saat namja rusa itu telah berada dibis umum yang melaju menuju salah satu sekolah elit dikota mereka. Didalam mobil tersebut untuk kedua kalinya Sehun hanya bisa diam memandang wajah manis Luhan didalam bis tersebut.

.

Sampai diarea sekolah elit Genie SHS sekolahnya, Luhan berjalan tenang dihalaman luas depan gedung sekolah mereka. Membiarkan angin pagi perlahan menghembuskan setiap langkahnya disana.

BRUMM...

Dan ia sontak menolehkan kepalanya kebelakang begitu suara gemuruh sebuah mobil mewah terdengar memasuki kawasan sekolah. Benar saja mobil sport merah datang dari arah belakangnya, ia jadi berhenti ditepat ia berdiri masih memandang kearah mobil disana yang telah terparkir sembarangan itu. Hingga sosok yang ia kenal telah keluar dari mobil tersebut dengan angkuh. Sampai-sampai selanjutnya terdengar riuhan suara yeoja-yeoja datang menyerbu sosok itu.

Mereka disana berjalan bersama berbincang-ria yang bahkan sosok itu sudah mengeluarkan senyuman mautnya. Dan mereka mulai berjalan mendekati tempat Luhan berdiri memandang mereka. Luhan tak pernah mempermasalahkan saat-saat Sehun selalu berada diantara para yeoja dan wanita cantik mana pun. Karena ia tau memang seperti itulah sosok seorang playboy sekolah mereka. Ia bisa menerima itu tanpa ada keluhan atau apa pun, namun berbeda kali ini saat Sehun yang terlihat begitu acuh melewati dirinya tanpa melirik sedikit pun.

Bahkan namja pucat itu hanya lewat tersenyum lebar pada para yeoja disekelilingnya begitu ramah. Tanpa lirikan, tatapan dan sapaan seakan Luhan tak ada disana. Saat itu namja berkebangsaan asli china itu tertunduk dengan senyum maklum tersemat diwajah manisnya. Ia mengerti, ia paham akan situasi seperti ini terjadi padanya. Sehun marah padanya dan ia bisa Apa? Selain diam membiarkan semuanya terjadi. Pikirnya inilah hal yang bagus, dimana Sehun akan lekas melepaskan dan membuangnya jauh.

.

.

.

~ Not Over You ~

.

.

.

"Hey, cepat sebelum yang lain datang!"

"Aku tau, aku sedang mencari bukunya tau..."

Ia masih sibuk menggeledah isi tas didepannya itu, sementara kedua temannya lebih sibuk lagi melihat-lihat suasana kelas mereka yang sepi dan hanya ada mereka disana. Memantau jikalau ada seseorang yang mungkin akan kekelas mereka. Was-was takut ada yang melihat akan apa yang tengah mereka lakukan sekarang dan tentu tak boleh siapa pun tau hal ini selain mereka bertiga.

"Bagaimana sudah ketemu belum?" Tanya lagi salah satu temannya disana. Tepat setelah itu apa yang ia cari pun akhirnya ketemu. Ia tersenyum senang.

"Ahaa...ketemu bukunya!" Serunya senang

"Kalau begitu cepat!"

"Arra, hahh...akhirnya, ck setelah ini kau tamat Xi Luhan" ia tertawa menang sambil memegang erat sebuah buku catatan berwarna putih ditangannya itu. Lalu ia kembali membenahi tas hitam yang telah ia geledah itu sebaik mungkin. Agar nantinya sang pemilik tidak mengetahui apa pun perbuatan jahatnya ini.

"Sudah, ayo kita pergi sekarang!" Ujarnya begitu telah berlalu menuju tempat kedua temannya didepan pintu kelas mereka.

"Heoh, kajja sebelum ada yang lihat kita" mengangguk bersama lantas ketiga yeoja itu pun pergi meninggalkan kelas mereka yang sepi itu. Diiringi tawa senang dari ketiganya bagaimana mereka telah membayangkan jika rencana mereka ini akan berhasil.

.

.

.

~ Not Over You ~

.

.

.

Bell masuk telah berbunyi lantas seluruh siswa kembali memasuki kelas mereka masing-masing. Begitu pula dengan ketiga namja bertubuh kecil ini, bersamaan masuk dengan saling melemparkan senyuman atau canda tawa. Saat masuk pun semua telah menempati bangkunya. Tepat setelah dua menit berlalu kemudian guru pelajaran mereka masuk untuk memulai kembali pelajaran. Seperti dikelas 11-3 saat ini pelajaran sejarahlah mereka terima.

"semua kumpulkan tugas hari ini, dan buka buku paket halaman 172 sekarang!" Perintah guru sejarah mereka yang mana meminta untuk segera mengumpulkan buku tugas mereka. Dan semua siswanya pun sibuk menyerahkan buku tugas mereka kedepan kelas pada meja guru disana.

Saat Luhan pula membuka tas ranselnya guna mengambil buku tugas miliknya. Seketika ia terdiam ditempatnya menatap tasnya itu. Ada yang aneh karena ia tak menemukan buku tugas miliknya ditas. Kembali ia mencarinya disana, tapi lagi ia benar tak menemukannya. Sampai akhirnya menggeledah tasnya itu. Kyungsoo memperhatikannya disana.

"Lu, ada apa?" Tanyanya penasaran sampai Baekhyun pun ikutan beralih padanya.

"Buku tugasku...tidak ada" jawabnya mulai panik.

"Apa?"

"Bagaimana bisa? Coba kau cari lagi, mungkin terselip disana" usul Baekhyun yang sudah berdiri disampingnya. Kembali ia mencari, lalu mendesah resah karena hasilnya sama saja.

"Benar tidak ada..."

"Atau mungkin kau lupa menaruhnya Lu"

Ia menggelengkan kepalanya karena merasa sangat yakin jika bukunya ada ditasnya itu. Ia bahkan ingat benar semalam setelah mengerjakan tugas itu, ia langsung memasukkannya didalam tas itu. Jadi tidak mungkin jika tertinggalkan.

"Bagaimana ini?"

"Cari lagi!"

"Ada apa ini?"

Semua terdiam melihat kearah bangku Luhan, dimana guru mereka telah berada disana bertanya apa yang terjadi. Luhan jadi semakin panik saja.

"I-itu ssaem..."

"Buku tugas saya tidak ada ssaem" jujurnya karena ia tak bisa berbuat apa-apa. Bukunya entah bagaimana benar hilang ditasnya saat ini.

"Tidak ada?" Tanya wanita paruh baya yang menjadi guru mereka itu. Luhan pun mengangguk pasrah disana.

"N-ne" semua memandang kearahnya.

"Tidak ada atau kau tidak mengerjakannya tuan Xi?"

"A-animnida, saya mengerjakannya ssaem semalam dan saya sudah meletakkannya didalam tas, t-tapi-"

"Jadi kau mau bilang bukumu itu hilang tiba-tiba didalam tas begitu?" Wanita itu memotong ucapannya, hingga akhirnya Luhan kembali mengangguk menunduk. Wanita itu menghela nafasnya perlahan.

"Baiklah, jika benar hilang kau tau bukan apa yang akan terjadi jika kau tidak mengumpulkannya hari ini?"

"Ne ssaem..."

"Keluar!"

Baekhyun dan Kyungsoo hanya bisa menatap iba pada sahabat mereka satu itu, karena bagaimana pun juga mereka tau Luhan pasti akan kena hukum akibat tidak mengumpulkan tugasnya hari ini. Lantas tanpa berkata apa pun lagi Luhan sempat membungkukkan tubuhnya pada wanita itu, sebelum ia keluar dari kelas mereka. Menjalani hukuman yang biasa mereka dapatkan saat tak mengumpulkan tugas.

"Kita mulai sekarang pelajarannya!"

Hhhh...

Menghela nafas pelan Luhan keluar kelas dan berjalan kesisi koridor dekat pintu kelas mereka. Disana ia mendudukkan dirinya dilantai, lalu mengangkat kedua tangannya keatas. Yah, saat ini ia tengah menjalankan hukumannya dengan duduk diluar kelas tidak boleh masuk selama pelajaran berlangsung. Dan disana ia seorang diri menjalani hukumannya. Menahan rasa pegang dikedua tangannya itu. Ia tekuk wajahnya kebawah menatap diam lantai yang ia pijak saat ini.

Ia merasa heran saja karena bagaimana bisa buku tugasnya hilang begitu saja. Yang bahkan ia sangat yakin jika buku itu bukan ketinggalan dirumahnya. Jelas pagi tadi pun ia masih sempat melihat bukunya itu. Dan ini aneh, seperti ada sesuatu yang telah membuat bukunya itu hilang. Yang jelas karena hal itu ia jadi dihukum dan nilainya pun akan berkurang. Sungguh sial baginya. Lantas ia kembali mendesah pasrah, biarlah toh ia sekarang dihukum.

.

Diwaktu yang sama ketiga namja tinggi yang sangat terkenal dikalangan siswa lain, berjalan beriringan dikoridor kelas dengan santainya. Mereka sampai tak perduli jika saat ini pelajaran masih berlangsung dan mereka hanya berkeliaran diluar kelas tanpa masuk guna mengikuti pelajaran pula.

Mereka antara lain Chanyeol, Kai dan sang playboy Sehun. Usai dari tempat perkumpulan mereka rencananya ketiga namja itu akan langsung kelapangan basket sekolah mereka yang berada didalam gedung. Disana mungkin mereka akan sedikit berlatih terlebih untuk Sehun sendiri. Walau pergelangan kakinya masih sedikit terasa nyeri jika terlalu digerakkan, tapi ia selalu memaksakan dirinya sendiri.

Saat ketiganya berada dilantai dua tepat didaerah kelas 11-3 mereka masih ribut bercerita-untuk Kai dan Chanyeol, sementara Sehun tak melakukan apa pun selain acuh dan diam tetap pada jalannya sendiri tanpa niat ikut masuk kedalam pembicaraan tak penting kedua lainnya. Jelas didekat kelas itu yang tadinya Kai dan Chanyeol masih berbincang, mereka seketika teralih saat bersamaan mereka melihat pemandangan didepannya. Mereka berhenti membuat Sehun heran dan ikut berhenti pula.

"Hun, bukannya itu kekasihmu?" tanya Chanyeol

"itu Luhan bukan?" Kai ikutan, mendengar nama Luhan disebut oleh kedua sahabatnya itu Sehun mengerutkan alisnya. Dan ikut melihat kearah yang sama dengan arah dimana kedua namja itu tatapi. Hingga disana ia juga melihatnya dimana sosok kecil yang mereka maksud itu tengah duduk dipinggir koridor dekat pada pintu masuk kelas 11-3.

"sedang apa dia disana?"

"aku rasa dia tengah dihukum."

Sehun menatapinya diam, Luhan yang benar tengah dihukum seorang diri diluar kelas. Sampai ketiganya masih disana menatapi Luhan sekitar dua menit berlalu. Sebelum Sehun bergerak lebih dulu melangkah kedepan. Melangkah angkuh meninggalkan keduanya.

"oi, tunggu Sehun..."

Sehun?

Mendengar nama itu Luhan yang tadi diam menunduk, kini ia angkat wajahnya beralih pada arah sampingnya. Dan terlihat matanya menangkap sosok pemilik nama yang tadi ia dengar itu. Disana Sehun berjalan angkuh menatapnya tajam nan dingin. Saat itu rasanya jantungnya berdetak lebih hanya karena bertemu tatap pada kekasihnya itu. Ia masih terdiam terus memandang Sehun yang semakin dekat kearahnya berada.

Pada saat namja pucat itu telah berada ditempat yang sama dengannya, Luhan merasakan dadanya sesak seketika. Bagaimana ia melihat dengan jelas Sehun tepat didepannya membuang muka, memutuskan lebih dulu kontak mata mereka dan sang playboy kembali melewatinya acuh. Tanpa ada perkataan apa pun ia dapatkan selain tatapan datar itu. Sama seperti pagi tadi.

Sehun benar marah padanya

ia kembali menundukkan kepalanya menyembunyikan wajah sendunya itu. Membiarkan kedua sahabat kekasihnya menatapinya tak mengerti dan berlari menyusul Sehun didepan sana.

.

.

.

~ Not Over You ~

.

.

.

"Lu..."

"Hm?"

"Kau tidak apa-apa?" Luhan menatap bergantian kedua namja didepannya itu, lalu tersenyum kecil kepada mereka.

"Memangnya aku terlihat kenapa?" Tanyanya balik

"Hah...bukan seperti itu, hanya kau sejak tadi diam saja dan melamun?"

Ia menghela nafas pelan sesaat dan menggelengkan kepalanya. Bertanda jika ia baik-baik saja, walau sebenarnya saat ini kepalanya terasa berat akibat terlalu banyak berpikir. Berpikir tentang ha yang sungguh membuatnya merasa lelah. Ia mencoba untuk menghilangkan segala pikirannya itu, tapi ia tak mampu membuatnya berhasil walau sudah berusaha semampunya.

"Atau kau memiliki masalah?" Tersenyum kecil lagi menanggapi pertanyaan khawatir dari keduanya. Baekhyun yang melihatnya mendesah kesal paham jika Luhan mungkin menutupi sesuatu yang tidak mereka ketahui.

"Aku heran padamu, sebenarnya kami dianggap apa olehmu?"

"Byun, kau bicara apa? Tentu saja kalian sahabatku bukan"

"Yah, tapi tampaknya kau banyak memiliki rahasia dari kami" ketusnya sambil berpout kecil dan Luhan malah terkekeh mengejek.

"Aku merasa tak memiliki rahasia apa pun."

"Bohong!" Timbal Kyungoo kini karena ikut merasa kesal pula pada namja rusa disana.

"Ayolah, kalian terlihat memojokkanku sekarang" tangan jahil Baekhyun bergerak kedepan menarik ujung hidung Luhan dengan jari-jarinya itu. Sampai pemilik hidung merintih kecil

"Aaakhhh..sakit Byunn..."

"Aaa...rasanya aku ingin menculikmu dan mengurungmu didalam kamarku, kau membuatku gemas rusaa" Baekhyun Kegemasan sambil terus menarik hidung kecil itu tanpa perduli si punya makin menjerit kesakitan.

"Byun lepaskan sakittt...aaaa" si pelaku malah terkekeh gemas melihat Luhan seperti itu padanya. Merengek kecil minta dilepaskan dan Kyungsoo tersenyum menyaksikannya didepan mereka.

"Tidak mau, karena kau terus seperti itu pada kami"

"Seperti apa? Akhh Byuunnn..." tertawa jahil sekarang apa lagi melihat hidung yang ia tarik itu terlihat memerah ulahnya.

"Baekhyun, sudah kasihan Luhan!" Erai Kyungsoo tak tega Luhan terus merengek kesakitan. Jadinya mau tak mau merasa kasihan pula Baekhyun pun pada akhirnya melepaskan tangannya dihidung namja rusa itu. Langsung saja Luhan mengusapnya ribut, mengusap hidungnya yang benar terlihat memerah. Juga berengut lucu pada Baekhyun disana.

"Hidungku pasti memerah sekarang huhh..." rengutnya lucu Baekhyun dan Kyungsoo malah jadi merasa gemas sendiri melihatnya. Betapa lucunya tingkah sahabat mereka ini.

"Sangat memerah seperti hidung badut hihihiii..."

"Byun menyebalkan, dan kau juga Do..."

"Eh? Kenapa aku juga?" Kesalnya sampai ia beranjak dari bangkunya sendiri berjalan keluar kelas tiba-tiba. Keduanya jadi menghentikan tawa mereka bersama melihat kepergian Luhan.

"Yak, kau mau kemana rusa?"

"Luhan...Luhan..." teriak keduanya disana memanggil, tapi Luhan tak memperdulikannya karena ia masih merasa sedikit kesal.

"Ini karenamu Baek" tuduh Kyungsoo menunjuk Baekhyun.

"Aku kan hanya bercanda, ck rusa itu..."

.

Diluar Luhan berjalan tanpa arah Masih mencibir lucu kedua sahabatnya itu. Meruntuk tak jelas sesekali mendengus kecil tanpa memperdulikan beberapa tatapan aneh dari siswa lain yang ia lewati.

"Mereka benar menyebalkan huhh...pasti hidungku jadi memerah...haish Byun jelek sialan!" Umpatnya sambil mengusap kembali hidungnya itu berengut lagi.

Sampai saat ia akan berbelok kearah belokan koridor ujung. Ia terlonjak kejut karena begitu berbelok ia berpas-pasan dengan sosok Sehun didepannya. Lantas ia menghentikan langkahnya, bahkan Sehun pun tak bisa mengelak bahwa ia sama terkejutnya.

Namun detik berikutnya ia kembali pada wajah datar tak perduli. Melangkah kembali tak menghiraukan keberadaan Luhan disana. Luhan yang lagi Sehun bertingkah seakan menganggap dirinya tak ada hanya bisa terdiam untuk kesekian kalinya. Sehun jelas sedang tak ingin bertemu tatap dengannya. Makanya namja itu lagi-lagi hanya melewati dirinya seperti itu dan ini yang ketiga kalinya untuk hari ini.

Ia tau mengapa Sehun begitu marah padanya prihal kejadian semalam. Semua karena ucapannya itu yang entah Sehun sungguh tak suka saat ia mengatakannya. Namja itu bahkan membalasnya berkata jika mereka tidak akan pernah putus sebelum sang playboy sendirilah yang akan memutuskannya.

Tapi layaknya seperti ditusuk oleh sebuah pisau tajam, Luhan merasa lebih sakit ketika Sehun bersikap seperti ini padanya. Menjauhinya dan menganggapnya tak ada itu jauh lebih menyakitkan dari pada diputuskan. Hingga ia hanya bisa kembali diam membisu dan membiarkan Hal ini terjadi padanya.

Ia tersenyum miris untuk dirinya sendiri. Dengan tubuhnya yang terasa melemas ia melangkah perlahan entah kemana.

Sementara Sehun yang masih berjalan semakin jauh, terhenti seketika. Berdiri diam menatap tak menentu didepannya. Pikiran dan perasaannya terasa mengganjal tiba-tiba. Tepat setelah ia berlalu melewati namja kecil itu tadi. Ia benar masih marah pada namja itu, merasa kesal akibat perkataan Luhan padanya semalam. Tapi ia juga tak mengerti mengapa ia jadi bertingkah kekanakan seperti ini pada kekasihnya itu.

Menjauhi dan mengacuhkan keberadaannya yang mana itu bisa menyakiti namja itu. Tapi keegoisannya? Membuat ia seakan bukan akan hal itu dan berulah benar ingin menyakiti Luhan. Selama ini ia baru merasa perasaannya dipermainkan oleh apa yang namanya berhubungan dengan mainannya sendiri. Karena selama ini ialah yang selalu mempermainkan perasaan siapa pun yang menjadi kekasihnya.

Luhan berbeda

Luhan-lah yang mulai menyadarkan dirinya dari segala permainan yang telah ia buat sendiri.

Menyadari hal itu lantas ia berbalik seketika. Menggeram sesaat sebelum ia berlari kearah dimana Luhan berada.

.

.

.

~ Not Over You ~

.

.

.

GREB

Sehun menahannya, selama lima detik terjadi mereka saling bertatapan. Sampai Sehun membawanya terdorong kebelakang dan terkurung diantara tubuh tinggi sang playboy dan tembok dibelakangnya. Ia jelas terkejut bagaimana Sehun tiba-tiba berlari kearahnya dan hingga akhirnya mereka masih saling menatap disana.

"Sehun..."

selama itu Pula ia baru bisa menyerukan nama sosok didepannya ini. Yang bahkan kalau boleh jujur sejak tadi ia sangat ingin menyerukannya langsung dari mulut kecilnya. Namun selama itu pula ia hanya bisa menahannya, menyebutkan cukup didalam hati saja. Maka saat ia berhasil melakukannya tepat didepan sang pemilik nama, Luhan merasa ada rasa legah ia rasakan sekarang.

Dan ketika ia akan menyerukannya kembali sebuah bibir tipis menyelimuti permukaan bibir kecilnya. Ciuman yang seharusnya sudah ia dapatkan dari sosok itu, baru inilah terjadi. Sehun menciumnya lebih, mengulum belah bibir ronanya penuh. Ia pejamkan kedua matanya merasakan bagaimana Sehun bergerak seakan tak ingin kehilangan rasa manis pada ciuman mereka. Kemudian membuka mulutnya sukarela agar Sehun menjelajahi mulut hangatnya didalam sana.

"Emmphhh..."

"Ssshh..."

Tanpa ada kata pelan Sehun malah semakin bertindak tak sabaran. Seperti kesetanan ia merengkuh erat tubuh Luhan kedalam tubuhnya. Menekannya agar tubuh mereka sama sekali tak berjarak sedikit pun. Ia rindu, ia gila betapa ia menginginkan sosok didalam rengkuhannya ini. Membawa bersama dalam rasa kekacauan yang melanda pada pikiran juga perasaannya.

Ketika mereka terlepas kilatan matanya menajam pada satu titik tepat dikedua manik rusa yang telah terbuka dihadapannya ini. Nafasnya memburu seperti dikejar-kejar oleh perasaannya sendiri. Ia kacau dan ia tidak tau mengapa ia seperti ini. Bahkan semakin larut kedalam ketika merasakan betapa halus dan lembutnya belaian tangan Luhan dirahangnya.

"Sehun..."

Tidak Luhan...jangan seperti ini! Kau membuatku kacau

Ia menggeram hingga akhirnya menyerah dan kembali melumat kasar bibir kecil yang telah menyerukan lembut namanya itu. Luhan merelakannya, separuh dirinya dikuasai oleh sosok Sehun. Hatinya, perasaannya dan raganya diporak-porandakan oleh sang playboy kekasihnya itu. Karena menolak atau memberontak pun hasil yang sama ia akan dapatkan, karena ia tak mampu melawannya.

Ia jatuh pada apa yang ia buat dan ia mulai saat ini.

Pada Sehun...

Tangannya yang telah menyentuh rahang Sehun ia bawa kini kearah leher namja itu. Ingin melingkarkan indah kedua tangannya disana, pada saat ia benar akan melakukannya Sehun lebih dulu mendorong dan membuat tubuh kecilnya terhuyung kebelakang. Sehun melepaskan seketika tautan mereka. Maka ia terkejut menatap sang playboy tersebut. Dengan tatapan penuh tanda tanya.

"Seh-"

"Kau ingin lekas putus denganku'kan?" Bertanya-tanya mengapa seketika Sehun seperti ini padanya? Bahkan mendadak bertanya hal seperti itu padanya. Luhan tak mampu memberi jawaban apa pun yang hanya bisa diam memandang tak mengerti sosok sang playboy ini. Ketika ia baru akan menggerakkan mulutnya untuk bersuara Sehun kembali bertindak lebih dulu.

SRET

"Ini..."

menarik paksa kalung yang telah ia beri pada Luhan dileher kekasihnya itu, dan memperlihatkannya tepat didepan sepasang manik rusa itu. Tak sampai sedetik kemudian Sehun melempar jauh kalung ditangannya itu kearah sebuah kolam Kecil didepan mereka

Entah kemana kalung itu jatuhnya. Mata Luhan terbelalak melihatnya karena terkejut.

"Se-Sehun..."

"Kalung itu...jika kau berhasil menemukannya, maka aku akan memutuskanmu!"

Setelah itu Sehun kembali pergi dari hadapannya begitu saja. Meninggalkannya sendiri berdiri terpaku disana. Luhan beralih memandang kolam disana dimana kalung itu mungkin ada disana. Meringis kecil sambil berpikir apakah ia harus mencarinya disana?.

Dan ia mendesah kasar ketika bell masuk telah berbunyi.

.

.

.

~ Not Over You ~

.

.

.

Hujan kembali membasahi semua ada yang diluar dengan begitu derasnya kini. Membuat para makhluk merasa enggan untuk keluar. Bahkan langit benar terlihat gelap tanpa ada sinar matahari.

Kaca jendela kelas yang berembun dan dialiri air hujan adalah satu objek pandangan untuk Luhan. Saat hampir seluruh siswa dikelasnya berkemas untuk siap pulang, ia hanya masih duduk tenang dibangkunya. Menatapi derasnya hujan diluar sana. Bahkan Baekhyun dan Kyungsoo sudah siap untuk pulang.

"Lu tidak pulang?" Kyungsoo menghampirinya membuyarkan lamunannya itu lantas ia menoleh.

"Kalian pulang saja lebih dulu, aku ada urusan" balasnya tersenyum

"Urusan? Apa?"

"Kyung, kajja kita pulang, Lu" Baekhyun mendatangi mereka pula.

"Tidak kalian berdua saja"

"Wae? Kau tidak pulang?" Ia menggelengkan kepalanya.

"Aku ada keperluan sebentar"

Baekhyun tampak menghela nafas pelan, lalu beralih pada Kyungsoo disebelahnya.

"Baiklah, ayo kita pulang Soo!" Ajaknya lagi mendapat anggukkan dari yang Diajak.

"Lu, kita pulang duluan yah"

"Heum, hati-hati dijalan..."

"Byee Lu"

Kepergian kedua sahabatnya Luhan kembali menghela nafas dan beralih pada kearah jendela itu lagi. Menatapnya sesaat sebelum ia beranjak menyimpun perlengkapan belajarnya kedalam tas ransel miliknya. Bergegas pula untuk keluar kelas mereka yang sudah tampak sepi.

Ia harus melakukan sesuatu sebelum pulang. Mencari sesuatu yang benar harus ia dapatkan segera. Lantas ia berlari cepat saat sudah berada diluar. Berlari dikoridor sekolah menuju kesuatu tempat. Tepat dilantai dasar dekat gedung olahraga tempat dimana ia bersama Sehun tadi.

Disana ia berhenti berlari menatap bingung kesegala arah sambil memikirkan sesuatu. Hujan masih melanda begitu deras. Tapi ia harus menemukan kalung itu, yah kalung pemberian Sehun yang mana telah dibuang oleh sang playboy itu. Kalung itu pula ia harus mencarinya sekarang. Maka dengan nekatnya ia melepaskan kedua sepatunya juga tas ranselnya itu. Tak lupa ia menggulung celana seragamnya sedikit keatas sebatas lutut.

Tanpa memperdulikan hujan yang deras ia langsung berjalan ketempat kolam itu berada. Memasukkan dirinya kedalam kolam tersebut. Hingga ia mulai mencari kalung itu dan membiarkan tubuhnya terbasahi oleh air hujan. Ia juga tidak perduli dengan tatapan dan bisikan siswa lain yang melihatnya saat ini. Ia hanya perlu tetap mencari kalung itu saja.

.

Sementara itu Sehun baru saja keluar pula dari kelasnya. Berjalan kepinggir kelas menatapi hujan yang turun Tepat didepannya. Ia ulurkan satu tangannya kedepan guna merasakan jatuhnya air hujan tersebut mengenai telapak tangannya itu. Teralih saat seseorang memanggilnya

"Woy, Hun Sungyeol hyung memintamu untuk menemuinya digedung olahraga sekarang!" Seru seseorang itu.

"Heoh, aku akan segera kesana" balasnya sebelum beranjak pergi menuju ketempat yang dipinta oleh seniornya itu.

Ia telah menuruni tangga kelantai dasar, lalu berbelok untuk berjalan kearah beradanya gedung olahraga sekolah mereka. Dengan santainya sesekali ia akan memutar malas bola matanya saat beberapa kali bertemu dengan para yeoja yang mengagumi dirinya disana. Tepat saat sudah dekat digedung tersebut.

Seketika ia mengerutkan alisnya kala kedua mata tajamnya menangkap tubuh seseorang didepan sana, tepat disebuah kolam kecil sekolah mereka tampak tengah mencari sesuatu disana. Dan bodohnya lagi seseorang itu membiarkan dirinya basah dibawah guyuran air hujan yang semakin derasnya. Ia penasaran siapa sosok itu yang tertindak bodoh disana, ia berjalan semakin dekat pulang.

Sebelum ia melebarkan kedua mata tajamnya begitu ia jelas melihat siapa sosok itu. Disana ia menggeram keras lalu berlari kesana.

"Luhan!"

Teriakan itu sempat menghentikan kegiatan Luhan. Namja rusa itu menoleh cepat pada arah sosok namja pucat yang sudah berdiri menatapnya tajam.

"Sehun?"

"Apa yang kau lakukan disana hah?" Tanya Sehun setengah membentak, Luhan hanya menatapnya sejenak menjawab dan kembali mencari sesuatu itu.

"Mencari kalung"

Saat itu Sehun mengeraskan rahangnya marah.

"Bodoh!, disaat hujan seperti ini kau mencarinya? Jangan gila Luhan!" Teriaknya marah, tapi Luhan tampak tak perduli dengannya yang masih sibuk mencari kalungnya itu.

"Keluar dari sana sekarang!" Sehun memerintah tegas lantas Luhan balas dengan gelengan kepala menolak.

"Tidak, sebelum aku menemukannya Sehun-ah"

"Jangan bodoh!, lekas keluar!" Pintanya lagi, dan sekali lagi pula Luhan menolak mentah-mentah tetap untuk mencarinya. Hal itu membuat Sehun semakin marah disana, marah akan tindakan bodoh Luhan hanya karena kalung pemberiannya itu. Dan karena itu Sehun ikut bergerak mendekatinya, membiarkan dirinya diguyur oleh hujan pula.

"Kau tuli? Lekas keluar dari sana kataku!" Luhan beralih padanya menatapnya teduh dan menggeleng menolak lagi.

"Tidak akan, Sehun pergilah! Biarkan aku mencarinya"

"Dasar bodoh! Kau nekat mencarinya apa karena begitu ingin putus dariku?" Luhan kembali mencari sambil tetap menyahuti ucapan Sehun disana.

"Anya, bukan begitu...aku tetap harus mendapatkannya Sehun, itu kalung darimu" katanya membungkukkan tubuhnya agar kedua tangannya dibawah sana bisa mencari kalung tersebut didalam kolam kecil itu.

"Persetan dengan kalung itu, dengar aku bisa memberikanmu lebih dari kalung itu Luhan. Jadi lekas keluar dari sana!"

Sekali lagi Luhan tak menghiraukan segala perintahnya. Bahkan ia merasakan kepalanya seketika terasa berdenyut dan ia masih nekat menahannya. Tubuhnya pun sudah terasa dingin dan bergetar kecil.

Ia kedinginan akibat air hujan terus membasahi tubuhnya. Sampai penglihatannya jadi sedikit memburam tapi ia masih nekat mencari kalung tersebut. Sehun pun sudah dibuatnya marah karena tak diperdulikan. Lantas sang playboy ikut memasukkan dirinya kedalam kolam itu. Menarik lengan Luhan agar namja itu berhenti bertingkah bodoh.

"Hentikan Xi Luhan!" Bentaknya marah tapi Luhan menepis genggaman namja pucat itu dilengannya.

"Tidak, biarkan aku mencarinya!"

Sehun kesekian kalinya menggeram murka sebelum kembali hendak menghentikan namja rusa itu. Tapi sebelum itu terjadi saat ia memegang kedua lengan Luhan. Ia melotot kejut dengan apa yang terjadi selanjutnya.

BRUK

Luhan yang tak bisa lagi menahan rasa pusing datang dikepalanya. Seketika ambruk tepat didalam pelukkan Sehun.

Saat itu Sehun mengumpati segala kebodohan namja yang berada dipelukkannya itu.

"Lu...Luhan bangunlah!, Xi Luhan...Shit!"

"Xi Luhan bangunlah...kumohon, Luhannn!"

.

.

.

~ T.B.C ~


ceritanya makin ngdrama banget yeh plus gaje hehehee...

yg penting saya tetap lanjut guys

jangan bosan untuk tetap review yah^^

sampai jumpa dichap depan^^

xdhinnie0595

01/08/2016