Mereka berdua menari diiringi senja. Waktu yang kata orang-orang merupakan waktu yang paling disukai para nelangsa. Mereka berdua menari khas klan Uchiha, tarian yang katanya ditarikan pada waktu-waktu paling mengembirakan. Keduanya tak peduli pertentangan itu. Yang mereka sadari, hanyalah senyuman lebar yang terpatri di wajah masing-masing.
Mereka lupa bahwa di dimensi ini, senja selalu abadi.
.
.
.
SEKAI NO FUIN
Naruto punya Masashi Kishimoto, tapi fic ini karya Ricchan
yang terinspirasi dari banyak sumber termasuk fic senpai yang lain
mohon maaf jika ada kesamaan dan kesalahan, fic ini hanya untuk kesenangan bersama
.
.
.
Chapter VII
"Keraguan"
.
.
.
Hinata jarang keluar ruangan pribadinya hari-hari belakangan.
Minggu lalu dia sadar bahwa para tetua berencana agar Hanabi menggantikan posisinya sebagai pemimpin klan. Isu yang sudah begitu sering ia dengar, bahkan sudah jauh-jauh hari ia mempersiapkan diri untuk kejadian satu ini. Namun, dua hari yang lalu ia justru mendengar desas-desus dirinya dan Sasuke.
"Nona tak seharusnya bersanding dengan mantan nuke nin tingkat S"
"Dasar tak tahu diri! Hyuuga yang terhormat justru merendahkan dirinya sendiri. Bahkan Nona tak menggubris baik kedatangan Kazekage tempo hari"
"Aku baru tahu kalau Nona begitu pandai menarik hati lelaki. Kau paham maksudku kan?"
Hinata tersentak saat Tenten berada tepat di hadapannya. Kali ini, gadis itu membiarkan rambutnya tergerai, tanpa cepol. Pakaiannya putih-putih.
"Aku sudah mengetuk pintu Hinata" ujar Tenten tertawa ringan. Ia bisa menangkap dengan jelas keterkejutan di mata Hyuuga muda.
Hari ini, Hinata dan Tenten sudah berjanji untuk mengunjungi makam Neji. Siapa pun shinobi di Konoha kiranya tahu perasaan sang gadis china pada pemuda jenius Hyuuga. Bahkan kini, di saat semua orang berpakaian serba hitam, gadis itu memutuskan untuk memakai terusan putih.
"Orang bilang, kita mengenakan pakaian hitam untuk menunjukkan kesedihan kita atas kepergian orang yang kita sayang. Kau tahu, Hinata! Kupikir itu egois! Setidaknya untuk Neji! Ini bukan berarti aku tidak sedih atas kepergiannya. Sama sekali tidak! Namun, saat ku pikir-pikir ulang. Saat aku mengingat lagi bagaimana dia hidup. Kematian tidaklah seburuk itu.
Kita anggap saja bahwa Neji tengah beristirahat. Kau tahu kan? Orang-orang jenius selalu seperti itu. Mereka mengerjakan segala sesuatu lebih cepat dari kita, karena itu dia bisa tenang dan beristirahat lebih cepat dari kita.
Neji tak akan menyesali keputusannya. Melindungimu, melindungi Naruto. Dia memiliki kematian yang membanggakan sebagai seorang shinobi.
Jadi biarkan hari ini aku berpakaian serba putih. Supaya Neji bisa langsung menemukanku di antara para pelayat yang datang. Biar dia tahu, bahwa aku paham dia bahagia di sana."
Waktu itu, air mata tak bisa berhenti mengalir di mata Tenten. Namun saat menyapa Neji, senyuman gadis itu adalah yang paling hangat.
"Ayo kita berangkat!" Tenten memecah lamunan Hinata. Menarik lengan gadis itu dan menuntunnya menuju pemakaman.
.
.
.
Sasuke menuntun gadis bulannya menuju sebuah kursi di taman yang sepi. Pemuda itu baru sadar bahwa sang gadis telah berdiri di hadapan makam sepupunya semenjak pagi, sama sekali tidak bergeming meskipun satu per satu pelayat sudah berhanjak pulang. Sasuke tak pernah peduli dengan ritual-ritual yang menurutnya merepotkan, apalagi pemakaman. Dia bahkan yakin dia tak akan sadar bahwa Hinata sudah berdiri seharian penuh di hadapan makam Neji, jika saja dia tak kebetulan lewat dan melihat wajah gadis itu kelewat pucat dengan kaki gemetaran.
"Apa kau bodoh?" tanya Sasuke sinis. Dia tak suka melihat Hinata menunduk diam tanpa pancaran hidup di matanya.
"Aku bodoh, Sasuke!"
Sasuke tak menginginkan jawaban begitu. Dia hanya ingin menyampaikan rasa tidak sukanya, dengan cara yang sedikit 'lembut'. Ia mendengus. Dan hal itu sama sekali tidak memperbaiki suasana. Akhirnya pemuda itu mengalah dan memutuskan duduk tepat di samping Hinata.
"Ada apa?" tanya Sasuke setelah melewatkan pertengkaran batin dengan dirinya sendiri. Antara memutuskan bertanya atau tetap diam.
"Aku tak ingin pulang" jawab Hinata.
Sasuke paham betul perasan 'tak ingin pulang' itu. Selalu ada alasan yang cukup hebat sehingga bisa membuat seseorang tidak ingin pulang. Seperti malam dimana Sasuke menyaksikan sendiri Itachi membantai habis klan Uchiha. Alasan itu kuat, dia benar-benar tak ingin pulang. Tapi Hyuuga masih tetap utuh. Klan mereka baik-baik saja, setidaknya begitu yang Sasuke tahu sampai beberapa jam yang lalu. Ia ingin bertanya kenapa, namun lidahnya tiba-tiba kelu.
Dia tak suka bicara tentang luka. Pun dengan alasan yang membuat seseorang tak ingin pulang.
"Bawa aku bersamamu, Sasuke!" pinta Hinata. Tangan gadis itu gemetaran menggenggam tangan Sasuke yang jauh lebih besar dan hangat.
Ini kontak fisik pertama yang dilakukan Hinata duluan.
"Aku ingin melihat senja Sasuke, seperti terakhir kali aku melihatnya denganmu"
"Kau tak akan suka"
"Kenapa?"
"Tempat itu tak akan terasa sama! Senja yang kita lihat waktu itu hanya akan terasa menyedihkan saat hatimu memutuskan bersedih!"
Hinata bangkit. Berjalan pelan meninggalkan Sasuke yang masih tak tahu harus berbuat apa. Hal terakhir yang bisa Sasuke lihat di mata gadis itu, adalah kesedihan.
Sasuke ingin sekali mengucapkan maaf
.
.
.
Tes!
Liquid merah kental jatuh. Tanah yang lembab membuat merahnya tersamarkan warna coklat lumpur.
Hinata memegangi kepalanya. Matanya sama sekali sudah tidak bisa menangkap bayangan lebih dari satu meter. Selebihnya hitam. Selebihnya menghantam kepalanya.
Nafasnya satu-satu, terasa berat dan menyesakkan. Hinata duduk bersandar di salah satu pohon. Dia cukup jauh dari pusat keramaian. Hanya mereka yang menyengajakan datang yang bakal melewati tempat ini.
Hinata sama sekali tak berdoa siapa pun datang dan menolongnya. Justru ia benar-benar ingin sendiri saat ini.
Perkataan Tenten membayang lagi di benaknya.
"Apa memang kematian tidaklah seburuk itu? Apa benar ia bisa beristirahat setelah semua ini berakhir?"
Kelam memangsa kesadarannya. Hinata tak sadar Sasuke berlari seperti orang kesetanan saat sadar bahwa gadis yang ia ikuti diam-diam sejak tadi bukan hanya sekedar beristirahat.
"Jangan membuatku takut, Hinata!" bentak Sasuke.
Tubuh Hinata yang makin hari terlihat ringkih berada dalam dekapan pemuda bulan. Portal terbuka. Sasuke langsung meloncat masuk. Hanya ada satu orang dalam benak Sasuke yang bisa menolong. Tsunade!
.
.
.
Waktu itu ruangan Hokage sedang dalam keadaan tegang. Perbincangan apakah perlu diutus tim untuk memastikan kunci dunia di labirin bawah konoha dalam keadaan aman menimbulkan pro dan kontra. Celetukan Naruto nyatanya membawa pengaruh cukup besar kali ini. Hanya Tsunade dan Raikage yang bersikeras untuk mengutus tim terbaik. Mizukage dan Tsuchikage menggeleng mentah-mentah. Lebih baik bersiap untuk menghadapi musuh dengan kekuatan penuh, dibanding mengutus ninja terbaik hanya untuk hal yang belum pasti.
"Bagaimana pendapatmu Kazekage-dono? Suaramu akan jadi penentu dari keputusan kita saat ini" desak Tsuchikage.
Gaara masih tak bergeming.
Mengirim ninja terbaik seperti Naruto, Shikamaru, Temari, dan yang lain berarti mereka harus siap kehilangan potensi terbaik mereka. Namun di sisi lain, kunci dunia harus dipastikan aman dan tidak jatuh ke tangan pihak yang mengaku sebagai Akatsuki. Ini pilihan berat.
Gaara menghela nafas.
"Portal?" heran Mizukage saat sebuah lobang hitam tiba-tiba muncul di sudut ruangan.
"Ku pikir ruangan ini aman Hokage!" tambah Raikage.
Tsunade tak menjawab. Ia beranjak ke arah portal. Tsunade yakin ini portal milik si Uchiha terakhir.
.
.
.
To be continued
.
.
.
Doumou minna-san!
Ricchan udah kangen nih. Terimakasih atas review yang bikin kangen ricchan terbayar sedikit demi sedikit, hehehe...
Maaf kalau chap ini agak pendekan. Chap depan bakal mulai ngebahas akatsuki lagi, jadi terpaksa dipotong supaya ga bingung bacanya.
Oh ya, ricchan mau ngadaian survei kecil-kecilan nih,,
Tipe cowok/cewek seperti apa yang ingin reader kencani (pacaran)?
Tipe cowok/cewek seperti apa yang ingin reader nikahi?
Arigatou gozaimasu!
See you next time~~
