Hajimemashite, Minna…
Watashiwa ~ Ruki ~ desu
Disclaimer : Tite Kubo
Warning : Typo ,OOC, AU
Pairing : IchiRuki
Rate : T
Trim'z ama semua yang udah nge'r'viu
Kurochi Agitohana
edogawa Luffy
dorami fil
Aine Higurashi
Azalea Yukiko
Yupi -AkaiYuki- Kurosaki
Arlheaa
Yanz Namiyukimi-chan
Ichiruya Ruru Kuchiki
SoraHinase
Meyrin Mikazuki
chikara kyoshiro
Aika Ray Kuroba
So-chand cii Mio imutZ
Shinigami Yui Kurosaki
Yurisa-Shirany Kurosaki
Yuki-ssme
Jee-ya Zettyra
choCo purPLe
ojou-chan
Michi no ShiroYuuki
yuuna hihara
Juliette Vannesa Michaelis
Minami Kyookai
liekichi chan
Kurosaki ILda-chan
bl3achtou4ro
ochibi4me
Hanayu Chachappy
Lenalee Shihouin
erikyonkichi
^_^ Kilas balik chap 6
Ichigo yang berkorban untuk Rukia hanya bisa terbaring lemas di atas kasur. Di saat Ichigo dan Rukia hanya berdua saja, datanglah sosok yang mengejutkan di hadapan mereka, ia ingin mencium Iblis Ichigo…
~Prince Of The Hell Or Heaven~
== Ruki ==
Chapter 7
Sangat cepat, tanpa disadari Rukia, gadis itu kini tengah berada di samping Ichigo, wajahnya pun sudah sejajar dengan milik Ichigo, bibir mereka sangat dekat, hampir menyentuh. Rukia hanya bisa terpaku di tempat.
"Apa ini?" tanya Rukia dalam hati menatap seringai tajam dari seseorang yang berusaha mencium Ichigo di depan matanya.
*(n_n)*
Semakin dekat, Rukia hanya bisa melebarkan mata melihat gadis di depannya tersebut, ia berusaha untuk menggapai bibir Ichigo. Ichigo hanya diam, ia juga memasang ekspresi terkejut hingga tak dapat melakukan apa pun.
Dengan gerak cepat Rukia meraih kedua bahu gadis tersebut, gadis yang tanpa ragu-ragu hendak mencium Iblis Ichigo di depan matanya. Di cengkramnya kuat kemudian ia dorong ke belakang.
Bruk!
Sang gadis jatuh terduduk di lantai. Sedangkan Rukia masih diam, tangannya mengerat sempurna. Ichigo masih saja berekspresi terkejut. Di dalam hatinya, ia bertanya-tanya, kenapa Rukia melakukan hal itu?
Ichigo hanya menatap Rukia datar, sedangkan Rukia menatap ke arah lantai, arah bawah dari dirinya. Ia juga terkejut dengan tindakannya barusan. Apa hak Rukia melarang hal itu terjadi?
"Rukia… kau…" kata Ichigo pelan namun terputus oleh teriakan seseorang.
"Hei! Apa yang kau lakukan?" tanya gadis tersebut kemudian.
Gadis dengan sayap putih di sebelah kiri dan sayap hitam di sebelah kanan. Gadis dengan mata lebar berwarna orange, rambut yang dikuncir kuda dengan pita berwarna merah.
Ia nampak manis dengan rok terusan bermodel balon berwarna merah, dengan pita besar berwarna putih tepat di daerah dadanya. Membuat ia nampak kontras dan berwarna. Ia terlihat begitu marah saat ini.
"Ja… jangan menyentuhnya," kata Rukia dengan nada misterius, masih dengan menatap arah bawah.
Sebelah alis Ichigo terangkat, menandakan bahwa ia tidak mengerti maksud Rukia mengatakan hal itu pada gadis yang kini terduduk kesal di atas lantai. Mungkinkah Rukia merasa terganggu?
"Apa hakmu melarangku! Aku adalah kekasih Ichigo yang ke…" kata gadis dengan nama Senna itu lantang namun segera terputus.
"Aku tahu!" kata Rukia yang kini sedikit mengarahkan pandangannya ke depan, hanya menatap tembok, tak berani menatap siapa pun.
Semua terdiam, terkejut? Tentu saja. Sekarang mereka serempak untuk tak angkat bicara, berharap Rukia menjelaskan apa maksud dari tindakan kasarnya.
"Eee… a-aku… aku hanya…" kata Rukia gugup, ia baru sadar dengan tindakan bodohnya.
"Apa?" tanya Senna menatap tajam Rukia, sengaja membuatnya terdesak.
"Ma-maaf! Aku hanya merasa Ichigo masih terluka parah jadi…" kata Rukia lirih sambil menatap Senna.
"Rukia…" kata Ichigo lirih menatap gadis yang tengah bingung harus mengucapkan apa lagi untuk membela dirinya.
Di tatapnya lelaki berambut jingga itu oleh Rukia. Mata Rukia seperti menyiratkan suatu kekecewaan. Tapi ia tahu, Iblis Ichigo adalah seorang maniak playboy. Ia jadi malu sendiri dengan apa yang ia perbuat tanpa status itu.
"Ah! Aku tidak akan mengganggu kalian! Lebih baik, aku keluar saja! Maaf," kata Rukia dengan senyum lebar, yang 100% terlihat terpaksa.
Ichigo hanya diam, ia hanya bisa melihat punggung Rukia yang perlahan menjauh dan menghilang di balik pintu. Ia tahu apa yang Rukia rasakan sekarang.
Senna hanya terdiam, kemudian menatap Ichigo dengan pandangan sinis. Gadis itu menyeringai sesaat dan dengan cepat dijitaknya lelaki tersebut.
Bletak!
"Hei! Apa yang kau lakukan?" bentak Ichigo yang kini hanya bisa meringis di tempat.
Gadis itu kini berjalan dan duduk di samping tempat tidur Ichigo. Ditatapnya dalam lelaki dengan rambut jingga tersebut. Ichigo hanya membalasnya dengan tatapan datar.
"Ck, jadi kau melakukan hal ini demi gadis itu?" tanya Senna dengan helaan napas ringan.
"Bukan urusanmu!" kata Ichigo sambil membuang muka ke samping.
Senna nampak kecewa sekarang, karena ia tahu, Iblis Ichigo tak pernah sekali pun berkorban seberat ini kepada para pacar-pacarnya di Dimensi langit sana.
Termasuk Senna, pacar ke-3 dari Iblis Ichigo. Senna berpikir, mungkin gadis ini lebih istimewa, lebih istimewa dari semua korban Ichigo.
"Kau tahu kan? Pengobatan manusia takkan berpengaruh bagi seorang Iblis?" tanya Senna kemudian.
"Aku tahu, dan aku tidak peduli," kata Ichigo datar.
Ternyata benar, Ichigo sangat mengistimewakan gadis itu. Bukankah suatu bahaya besar bila ia memindahkan suatu luka itu pada tubuhnya?
Bisa saja ia mati perlahan kalau tidak segera diobati oleh pihak Dimensi langit. Karena pengobatan di dunia manusia tak dapat memberi pengaruh yang berarti bagi makhluk di Dimensi langit seperti mereka.
Senna mulai berpikir keras sekarang. Bukan hal yang baru, seorang Iblis Ichigo yang notabene adalah seorang penggoda, memiliki mainan baru.
Semua pacar Ichigo juga mengerti, karena bisa menjadi salah satu mainan Iblis Ichigo adalah kehormatan yang begitu berharga bagi mereka. Sungguh bodoh.
"Tangkap ini," kata Senna datar, melempar suatu benda kecil ke arah Ichigo.
Dengan sigap Ichigo menangkapnya, sebagai respon dari gerak reflek yang ia miliki. Ditatapnya sekilas sesuatu itu, sebuah permen berbentuk lingkaran berwarna hitam.
"Makan itu, kau akan segera sembuh," kata Senna datar yang kini berjalan mendekati jendela kamar Rukia.
Ditatapnya Senna sekilas oleh sepasang mata musim gugur itu. Ia tak menduga, Senna akan menolongnya seperti ini. Padahal, jelas-jelas ia memadunya.
"Dari mana kau mendapatkan benda ini? Dan… kenapa kau menolongku?" tanya Ichigo kemudian.
Senna membalikkan tubuhnya, menatap Ichigo dengan tatapan lembut.
"Aku mencurinya dari Unohana-sensei. Aku tidak ingin kau mati di sini," kata Senna dengan senyum manis.
Ichigo hanya membalas senyuman Senna dengan lekuk bibir datar. Kemudian ditelannya permen berwarna hitam tersebut hingga masuk melalui kerongkongannya. Ia bersyukur, gadis ini mau menolongnya.
"Kenapa kau bisa tahu kalau aku sedang terluka?" tanya Ichigo yang kini mengambil posisi untuk duduk di atas kasur, menatap Senna tajam.
"Insting… dan, aku mendapat laporan dari Neliel, pacarmu yang ke-278 itu…" kata Senna santai sambil membalikkan badan kembali menatap alam di luar kamar yang ia huni melalui jendela.
"Kau ingat kan, Ichigo? Kau harus segera kembali ke Dimensi langit, kau tidak bisa berlama-lama di sini," kata Senna kemudian.
Ichigo hanya menundukkan kepalanya, seolah-olah lantai adalah objek yang begitu menarik untuk ia lihat saat ini. Ia juga merasa berat, mungkinkah ia akan kembali?
"Aku tahu itu," kata Ichigo lirih.
"Kau harus segera menyelesaikan misimu, dan tinggalkan gadis itu. Kembalilah bersama kami di Dimensi langit," kata Senna berusaha membujuk.
Ichigo tak menjawab pertanyaan dari Senna. Ia tengah dilanda dilema berat. Ia tahu, Iblis seperti dirinya takkan mungkin bisa berlama-lama berada di Dunia manusia.
Selain itu, ia harus memilih, hidup di Dimensi langit, atau mati perlahan di Dunia manusia. Mungkin orang waras akan memilih untuk kembali ke Dimensi langit, tapi… kondisi ini berbeda.
"Kau tahu kan? Misi dan peraturannya?" tanya Senna begitu melihat ekspresi kebimbangan dari wajah Ichigo.
"Ya, aku tahu," kata Ichigo dengan nada lesu.
"Baguslah," kata Senna bersiap melompat dari jendela yang menjadi tempatnya masuk.
Begitu Senna pergi, bibir Ichigo bergerak, menandakan ia tengah mengatakan sesuatu,
"Dengan melakukannya, aku mengalami déjà vu, kau tidak mengerti…"
*(n_n)*
Saat ini Rukia tengah terduduk lesu di bangku taman kecil yang terletak di samping rumahnya. Bangku berukuran sedang dengan peneduh berupa pohon besar di sampingnya.
Ia tengah memikirkan sesuatu, tepatnya memikirkan apa yang Ichigo dan gadis itu lakukan di dalam sana. Memang ia tak berhak memikirkan hal itu, karena Ichigo bukanlah apa-apa baginya.
"Ah, sudahlah!" kata Rukia lumayan kencang diiringi helaan napas panjang dan gerakan menutup mata.
Sepertinya ia mulai lelah dengan apa yang ia pikirkan saat ini. Dan tanpa Rukia sadari, sesosok lelaki tengah mengendap-endap di belakang tubuhnya.
Ia baru saja turun dari langit. Ia nampak segar dengan sayap hitam gagahnya yang membentang sempurna saat ia mendarat dan menginjakkan kaki di tanah.
Di tatapnya punggung mungil itu dengan tatapan teduh, seringai tajam mulai nampak dari lekuk bibirnya. Perlahan ia mendekat dan dilingkarkannya kedua tangan itu untuk memeluk gadis mungil itu dari belakang.
Ia rengkuhkan tubuhnya memeluk gadis tersebut dengan tampang jail seperti biasa. Ia hanya ingin hubungannya kembali normal. Di dekatkannya bibir miliknya ke arah telinga Rukia, ia berbisik,
"Apa yang kau pikirkan, Tuanku?" katanya dengan nada menggoda.
Sontak Rukia langsung melebarkan matanya. Dengan gerak reflek sebelah tangannya menyikut ke arah belakang, dan hal itu berhasil mengenai tulang kering Iblis tersebut. Ya, siapa lagi kalau bukan Iblis Ichigo.
"Ouch!" pekik Ichigo tertahan.
Di peganginya, tulang rusuk dari tubuhnya sendiri. Ia sedikit mundur ke belakang dan tetap mengaduh kesakitan.
Rukia mulai menyadarinya, itu Ichigo! Dengan gerak cepat Rukia menuju ke arah lelaki yang tengah mengaduh kesakitan tersebut.
"I-Ichigo, kau tak apa-apa kan? Ichigo?" kata Rukia dengan nada penuh kekhawatiran.
Ichigo diam-diam hanya tersenyum menyeringai, melihat perilaku Rukia yang sangat mengkhawatirkannya. Dengan gerak cepat dibawanya Rukia lebih mendekat dengan cara menarik sebelah tangannya.
Di peganginya dagu mungil dari wajah cantik gadis tersebut, membawanya menatap langsung ke arah mata Ichigo. Iris musim gugur itu bertemu langsung dengan iris violet Rukia.
"Kau mengkhawatirkanku, Manis? Aku senang," kata Ichigo dengan nada yang terkesan menggoda.
Semburat merah mulai nampak dari wajah Rukia. Memang ini bukanlah hal pertama Iblis Ichigo menggodanya, tapi… setelah apa yang terjadi akhir-akhir ini, nampak sedikit berbeda.
"Sial, dia mempermainkanku lagi!" kata Rukia dalam hati.
Segera didorongnya tubuh itu menjauh, sebenarnya ia ingin langsung mencium Ichigo untuk merubahnya menjadi Kaien. Tapi entah kenapa, ia tak sanggup menahan gejolak mendebarkan di dalam dirinya.
"Aku benci padamu!" teriak Rukia di depan Ichigo.
Rukia pun mulai berbalik dan berjalan menjauhi Ichigo. Ichigo hanya terdiam di tempat. Ia masih bingung? Apakah ia iblis yang pantas untuk dibenci? Lebih tepat adalah iblis yang patut untuk dipuja. Ya, itulah keyakinan Iblis Ichigo.
Namun Rukia terhenti saat mencapai 3 langkah menjauhi Ichigo, ia merasakan deguman keras pada kepalanya. Perlahan ia bisa merasakan, suatu cairan asing mengalir bebas dari hidungnya.
Dengan perasaan takut, ia gapai cairan itu, diusapnya sekilas, dan ia tatap kemudian. Sesuatu yang ia benci dan terlalu sering dilihatnya akhir-akhir ini.
Kini wajahnya nampak pucat dan bibirnya semakin mengering dan memutih. Ia tetap berdiri hanya saja tak mampu untuk berjalan lagi. Diusapnya kasar cairan itu dari wajahnya.
Ia mengusapnya dengan ganas, seolah-olah takut setitik saja tertinggal di sana. Ia nampak gelagapan saat ini.
Ichigo yang berhasil sampai tepat di belakang Rukia hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati, kenapa gadis ini berhenti?
Di tariknya perlahan tubuh Rukia, memutarkan tubuh mungil tersebut untuk menatap dirinya. Rukia yang memang berbadan lemah pun reflek terdorong oleh tarikan Ichigo dan kini mereka saling berhadapan.
Di tatapnya dalam-dalam gadis di depan matanya itu, terlihat sedikit berbeda dari sebelumnya, ia nampak lesu dan sangat pucat.
"Rukia, kau kenapa?" tanya Iblis Ichigo lembut.
"…" Rukia tak menjawab pertanyaan dari Ichigo. Ia tengah terhanyut dalam rasa sakit yang ia rasakan.
Ichigo menggoyangkan tubuh Rukia dengan kasar, berharap Rukia bisa menjawab kekhawatiran Ichigo yang meludak-ludak.
"Oi, Rukia!" teriak Ichigo keras menanggapi kediaman gadis tersebut.
"Ah! Lepaskan aku! Kau tak perlu tahu!" kata Rukia judes sambil menampik kedua tangan Ichigo yang menyentuh tubuhnya.
"Kau kenapa, sih?" tanya Ichigo dengan kerutan dalam di dahinya, ia nampak tak terima dengan jawaban acuh dari Rukia.
"Urusi saja pacar-pacarmu itu! Dasar mesum!" kata Rukia judes yang kini berbalik lagi untuk menghindari tatapan Ichigo.
Tentu saja Ichigo tak kan menerima hal itu begitu saja, ditariknya paksa kedua bahu rendah milik Rukia, ia tarik dan ia hantamkan kasar menabrak dahan pohon yang menjadi peneduh mereka sedari tadi.
Nampak Rukia sedikit meringis atas hantaman yang cukup kuat tersebut. Nampaknya Iblis Ichigo marah.
"Kau tuli? Katakan! Apa yang terjadi padamu?" teriak Ichigo pada Rukia.
Rukia hanya menatap ke arah sepatu miliknya. Sama sekali tak memiliki niat untuk menjawab pertanyaan Ichigo.
Dengan lembut disentuhnya dagu Rukia kembali, ia amati wajah yang kini berada dekat di depannya.
"Tunggu, ini…" kata Ichigo menatap fokus wajah Rukia.
Wajah Ichigo semakin mendekat, lelaki tersebut melihat sesuatu yang ganjil dari paras cantik Rukia, suatu noda yang tak bisa di anggap wajar. Tapi Ichigo ingin melihatnya lebih dekat, memastikan dirinya sendiri.
"Sial, apa yang harus aku lakukan?" tanya Rukia dari dalam hati.
Dengan sedikit meninggikan dagu Rukia, wajah Ichigo semakin mendekat, napas Ichigo menerpa sempurna bagian dahi dan poni hitamnya.
Deg!
Debaran jantung Rukia pun berpacu sangat kencang. Ia menakutkan 2 hal, rahasia penyakitnya terbongkar dan wajah memerahnya karena malu akan terlihat jelas oleh Ichigo.
"Ah! Bagaimana ini?" teriak Rukia dari dalam hati, menunjukkan bahwa ia tengah frustasi saat ini.
Dipejamkannya kedua violet itu kuat-kuat, semoga saja noda itu benar-benar hilang.
Di sisi lain
"Hei, kalian berdua!" teriak suatu suara, yang jelas-jelas itu suara dari Hisana, kakak Rukia.
Dengan cepat Ichigo dan Rukia menolehkan wajahnya ke arah sumber dari suara tersebut. Dengan cepat Rukia mendorong dada bidang Ichigo. Membawanya menjauh dari hadapannya.
Dengan senyum lebar, Hisana menyambut reaksi terkejut dari kedua pasangan itu. Di kedipkannya sekilas mata kanannya. Ichigo hanya sweatdrop di tempat.
"Hahaha, maaf mengganggu acara kalian. Kakak harus pergi dan besok pagi akan pulang. Jadi kau harus pulang sekarang, Ichigo," terang Hisana berteriak sekeras mungkin.
Ichigo menggaruk sekilas kepalanya, memang tak seharusnya ia berada di rumah Rukia terlalu lama, ia terlihat oleh manusia.
"Ya!" teriak Ichigo tak kalah kencang.
"Baiklah, aku akan berangkat sekarang! Hahaha, kau tahu, Rukia? Aku di jemput Byakuya-sama!" teriak Hisana ceria sambil melompat-lompat kegirangan.
Rukia hanya menghela napas ringan, entah kenapa hatinya jauh lebih tenang sekarang. Padahal ia tengah bersaing untuk mendapatkan Byakuya jauh hari sebelum ini. Ia nampak tak tertarik lagi.
"Ya, selamat bersenang-senang," kata Rukia dengan nada datar.
Hisana hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan kedua pasangan yang masih terdiam di tempat itu. Dilihatnya sekilas wajah Ichigo yang masih menatap kepergian kakaknya.
"Kau bisa tidur di kamar kakakku, atau di atas. Terserah, aku malas merubahmu menjadi Kaien," kata Rukia datar dan kini ia berjalan menjauhi Ichigo.
Belum sampai ia menggapai langkahnya yang ke-3. Tubuhnya lemas seketika. Dengan gerak lambat ia terhuyung ke arah samping dan jatuh ke tanah.
Bruk!
"Rukia!" teriak Ichigo panik.
Dengan segera ia menghampiri gadis tersebut, ditepuknya pelan pipi dari gadis berpawakan kecil itu, ia nampak cemas.
"Rukia! Ba…" kata Ichigo namun terputus.
Ia dapat merasakan suhu tubuh Rukia yang sangat panas, napasnya juga kian memburu. Nampak jelas bibir pucat itu berusaha keras saat menghirup udara di sekitarnya.
"Ba-badannya panas sekali!" kata Ichigo sambil menyentuh dan sedikit menekan dahi Rukia.
Dengan perlahan, dibawanya Rukia dengan bridal style menuju ke dalam rumah, menjauhi taman sepi tersebut. Di dalam perjalanan menuju kamar Rukia, sepertinya gadis tersebut sedang mengigaukan sesuatu.
"… s… k… t…" desisnya pelan.
Ichigo dengan tatapan tajam manatap ke arah Rukia. Wajah itu nampak kesakitan, Ichigo merasa sangat iba dengan ekspresi wajah seperti itu.
Dengan mata masih terpejam sempurna, gadis itu mengangkat tangannya dan menjalar menuju dada bidang Ichigo yang kini menggendongnya.
Dicengkramnya kuat kemeja putih yang Ichigo kenakan, Ichigo nampak terkejut dengan aksi Rukia. Rukia berusaha merapat pada tubuh Ichigo, ia berkata,
"Sa-ki…t"
"Sa-sabarlah, Rukia. Aku akan menyembuhkanmu," kata Ichigo gelagapan.
Kamar Rukia
Dibaringkannya lembut gadis tersebut di atas kasur yang beberapa saat yang lalu menjadi tempatnya untuk beristirahat.
Diarahkannya sepasang tangan besar itu sejajar dengan dada Rukia, perlahan muncullah sinar kebiruan dari kedua telapak tangannya, sepertinya ia ingin mengambil rasa sakit itu lagi.
Dengan gerak lemas, Rukia mengangkat sebelah tangannya. Menggenggam sebelah tangan Ichigo semampunya. Ichigo terkejut, dihentikannya ritual itu sementara waktu, menunggu rekasi Rukia yang telah menghentikan langkahnya.
"Jangan… biarkan saja," kata Rukia lirih.
"Ta-tapi, Rukia… aku tidak tega dengan…"
"Aku baik-baik saja… tetaplah di sini…" kata Rukia sambil tersenyum manis ke arah Ichigo.
Ichigo memandang melas gadis tersebut, tatapannya kosong. Dengan cepat ia raih tangan yang telah menghentikan usaha berbahayanya itu.
Ichigo tahu, ia bisa menyerap segala hal yang Rukia katakan 'sakit', meskipun ia harus menerima resiko besar dari perbuatannya. Ia tidak akan takut, ia senang melakukannya. Seolah menciptakan déjà vu-nya sendiri.
"Aku akan ada di sini, selamanya…" kata Ichigo sambil menggenggam erat sebelah tangan Rukia yang terasa hangat bahkan panas, ia biarkan sejajar dengan kepalanya yang kini bersandar di atas ranjang Rukia.
Rukia hanya tersenyum, Iblis Ichigo begitu manis memperlakukannya kali ini. Namun rasa sakit itu semakin menghujam tubuhnya begitu kuat.
Ia tidak sanggup lagi, dengan gerak perlahan, ditutupnya kedua iris violet itu secara tenang.
"Semoga akan baik-baik saja," kata Rukia dari dalam hati.
T`B`C`
Ruki berharap para Autor tetap semangat meng'update Fic'na ia? IchiRuki ghi sepi nui... Ruki jadi gag tega... OK! Ruki ucapkan beribu maaf, kalau Ruki pernah buat salah ama CinQuw semua... ^^
Arigatou and Mata Ashita "^_^"
R P
E L
V E
I A
E S
W E
