[Fake Lover] [YoonMin]

Author : Littlesugar

Tittle : Fake Lover Chapter 7

Main Cast : Min YoonGi a.k.a Suga (uke) – Park Ji Min a.k.a Jimin (seme)

Support Cast : - Jeon Jungkook (Min Jungkook karena jadi adik Yoongi)

Kim Taehyung

Jung Hoseok

Other cast

Rate : T

Genre : Romance

Warning : Boy x Boy – typo bertebaran – cerita bisa jadi kurang menarik/?

Ingat ya, disini Taehyung – Jimin – suga itu seumuran. Dan Jungkook hanya satu tahun dibawah mereka. Terimakasih :3

Fanfiction ini terinspirasi dari Komik nya Mikase Hayashi – Fake Lover.

.

.

Happy Reading

.

.

oOo

Aku masih menyukainya.

Cepatlah pergi...

Kalau aku lihat sosok Jimin dan dengar suaranya, aku tidak ingin berpikir apapun lagi.

.

.

"Hari ini upacara, kau tidak lupa kan?"

Kedua manik hitam Taehyung terpaku pada sang sahabat spesialnya tengah membasahi surai coklatnya didalam Toilet sekolah. Kemudian tangan kecil sahabatnya itu, Yoongi mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang bertengger dilehernya.

"Hehe, aku bangun kesiangan." Yoongi menoleh pada Taehyung dan memamerkan deretan gigi putihnya. Taehyung menghela nafas dan menggelengkan kepalanya pelan.

"Kau benar-benar datang ke sekolah dengan muka bantal, Min Yoongi." ucapan Taehyung hanya dibalas dengan senyuman polos dari Yoongi. Taehyung benar-benar gemas dibuatnya.

"Aku berpikir, mana boleh pingsan saat upacara. Lalu aku memaksakan diri untuk tidur tapi tidak bisa, akhirnya aku kesiangan." Yoongi menjelaskan sembari mengancingi kemeja sekolahnya dengan buru-buru. "Dan lagi, aku lupa bawa dasi." Kekehan Yoongi terdengar saat ia melanjutkan ceritanya membuat Taehyung memutar kedua bola matanya malas, seakan tau jika ini akan terjadi.

SRET

"Nih, pakai dasiku saja." Dengan sekali tarikan, dasi yang tadinya terlihat sangat rapih dibalik kerah baju Taehyung terlepas. Dan selanjutnya, Taehyung dengan gesit memakaikan dasinya itu kepada Yoongi.

"Eh! Tidak usah, Taehyung-ah."

Yoongi mencoba menghentikan gerakan tangan Taehyung yang tengah membuat simpul pada dasinya yang ia kenakan pada Yoongi. Namun, Taehyung tidak berhenti dan malah mempertemukan keningnya dengan kening Yoongi.

"Terus terang, kau ini membuatku cemas." Ucap Taehyung yang lebih tepatnya berbisik didepan Yoongi. ketika hembusan nafas Taehyung menerpa kulit wajah Yoongi, entah kenapa Yoongi merasa kedua pipinya menjadi hangat. Oh tuhan! Pasti Taehyung melihat dengan jelas rona merahnya kini.

"Terimakasih, Taehyung." Yoongi berujar pelan.

"Sama-sama." Taehyung mengusak rambut basah Yoongi dengan sayang. Tidak lupa dengan cengiran khas Kim Taehyung.

Yoongi merasa senang karena ia sadar jika ia banyak dikelilingi oleh teman-teman baiknya terutama Taehyung. Namun semua kebaikan orang-orang itu selalu membuatnya teringat pada Jimin. Dan ia tidak mengerti kenapa rasanya Yoongi masih merasa kesepian.

Seperti sesuatu menghilang...

Dari pandangannya.

.

.

.

Fake Lover

.

.

.

Semua siswa-siswa SMA Bangtan bergegas menuju lapangan sekolah untuk mengikuti upacara. Seorang siswa lelaki dengan sengaja membelokkan langkah kakinya masuk kedalam Ruang Kesehatan sekolah dan bukannya ke lapangan.

Dengan wajah masam, lelaki itu berjalan menuju tempat duduk didalam Ruang Kesehatan kemudian mengeluarkan sebuah buku dan tempat pensilnya. Tanpa ia sadari seorang guru kesehatan masih terlihat sibuk didalam sana.

"Jimin?"

Lelaki tadi menoleh dengan wajah yang masih dalam kondisi mood yang tidak baiknya. Sang guru tertawa kecil melihat ekspresi muridnya.

"Kenapa tertawa?" Tanya Jimin terdengar ketus.

"Haha, wajahmu aneh. Ada apa?" guru itu ternyata Hoseok. Hoseok menghampiri Jimin dan menarik salah satu kursi disampingnya. Mereka duduk bersebelahan.

Jimin terdiam sesaat menatap Hoseok. Hoseok masih melihatnya dengan tatapan bertanyanya.

"Apa aku orang yang tidak baik?"

"Hah?" Hoseok sedikit terkejut mendengar pertanyaan aneh dari Jimin. Jimin kembali terdiam. Dari raut wajahnya yang serius terlihat ia benar-benar memikirkan sesuatu yang sulit, pikir Hoseok. "Ah, Iya, mungkin kau memang orang yang baik." Lanjut Hoseok kemudian.

Dan untuk kesekian kalinya Jimin terdiam. Tetapi beberapa saat kemudian, Tangannya mengambil sebuah pensil mekanik berwarna merah tua dari tempat pensilnya. Mata hitamnya menerawang pada pensil itu. Tentang Yoongi...

Flashback on...

Beberapa hari setelah peresmian status Pacar Bohongan. Jimin dan Yoongi selalu menyempatkan diri bertemu agar bisa membiasakan diri masing-masing. Seperti hari ini, tidak sengaja mereka berpapasan didepan gedung kelas Akselerasi, Jimin tidak membuang kesempatan dan langsung mengajak Yoongi belajar bersama di Ruang Kesehatan.

Disinilah mereka, didalam ruang kesehatan yang sepi dan atmosfer kecanggungan yang sangat terasa.

Sesekali Yoongi melirik Jimin yang tengah menatapnya, bukan membaca buku yang ada dihadapannya. Itu membuat Yoongi bingung, ini acara tatap menatap atau belajar bersama.

"Mau tukaran pensil?" Tanya Jimin tiba-tiba. Tidak perlu waktu lama, Yoongi mengangguk cepat.

"Aku ingin pensilmu yang paling bagus." Jimin mengeluarkan semua isi tempat pensil Yoongi diatas meja, begitu juga tempat pensilnya. "Dan kau boleh memilih sendiri yang punyaku." Lanjutnya kemudian.

"Em.. Yang mana saja boleh?" Tanya Yoongi memastikan dan dijawab oleh anggukan dari Jimin.

"Kalau begitu aku ingin yang ini." Yoongi mengambil pensil mekanik berwarna kuning milik Jimin. Jimin melihatnya sebentar dan kembali memilih. Tak lama Jimin melebarkan cengiran dibibirnya ketika matanya menemukan pensil pilihannya.

Pensil mekanik milik Yoongi yang berwarna merah tua dengan model yang simple namun menarik dan cocok untuk orang seperti Yoongi. Dengan cepat tangannya meraih pensil itu.

"Baiklah, aku ambil yang ini ya." Seru Jimin kemudian menunjukkan pensil pilihannya pada Yoongi.

"WAAH!" Yoongi membelalakan kedua matanya ketika melihat Jimin akan memasukkan pensil yang Jimin pilih dari tempat pensilnya. Yoongi teringat sesuatu, kalau pensil itu adalah pensil manteranya. Dengan menuliskan permohonan di secarik kertas dan masukkan kertas tersebuat dengan 10 batang pensil kedalam pensil tersebut.

Kalau Jimin membaca kertas yang ada didalamnya itu bisa gawat. Ah, jangan sampai terjadi...

"Jimin! Ambil saja yang lain, jangan yang itu!" Yoongi mencoba meraih kembali pensil yang berada dalam genggaman Jimin. dengan cekatan Jimin menjauhkan pensil tersebut dari Yoongi.

"Tidak." Jawab Jimin dengan tegas dan semakin menjulurkan tangannnya ke udara setinggi mungkin guna menjauhkan pensil itu dari Yoongi. Yoongi yang kesulitan terus mencoba meraihnya. Ia sudah menarik-narik kerah seragam Jimin agar mengembalikannya namun hasilnya nihil. Percuma.

CKLEK

"Wah, wah, ada pasangan sedang asyik bermesraan didalam Ruang kesehatan." Beriringan dengan suara pintu yang terbuka, suara Hoseok-sensei membuat Yoongi dan Jimin menoleh. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Jimin, ia segera memasukkan pensil itu kedalam tempat pensilnya dengan senyuman puasnya.

"Ini telah menjadi milikku."

Flashback Off

"Akhir-akhir ini Yoongi tidak kesini, ya? apa kalian sedang bertengkar? Kalau tidak cepat berbaikan nanti malah semakin kacau, loh." Ujar Hoseok disamping Jimin yang sedang melamun.

Suara Hoseok ternyata menyadarkan Jimin dari lamunannya. Jimin mendecak sebal sebelum ia menatap kembali pensil ditangannya.

"Iya, Iya, orang yang sebentar lagi menikah malah mengomentari hubungan orang lain, huh? Urus saja urusanmu sendiri."

"Yak! Aku kan sudah berpengalaman!" Hoseok men-deathglare Jmiin setelah mendengar kalimat menyakitkan dari Jimin. Hoseok beranjak dari tempat duduknya menuju meja lain disudut ruangan.

Seketika kedua alis Jimin bertemu. Terlihat garis kecemburuan, kemarahan dan kebingungan dari wajah Jimin.

"Ish, mendadak dia ingin menjadi pacar bohonganku. Lalu dia sendiri yang ingin melihat matahari terbenam dan banyak bicara... yah, walaupun aku yang mengajak dia berkencan sih. Tapi, di hari itu dia malah pulang bersama lelaki lain! Sekarang? Dia bilang dia suka orang lain dan ingin selesai denganku? Semuanya sesuai dengan keinginannya sendiri!" Celotehan panjang terus berderet keluar dari bibir tebal Jimin dengan Ibu jarinya yang sibuk menekan ujung pensil mekanik milik Yoongi membuat semua isi pensil yang masih utuh didalamnya berjatuhan diatas meja.

"Argh! Aku sudah tidak peduli!" Jimin menghela nafasnya kasar.

"Hei Jimin, apa yang kau gumamkan, sih? Kau memang selalu bersikap paling jago. Tapi, kau kan tidak punya pengalam dalam cinta!" Hoseok ikut mengomel dibelakang Jimin setelah mendengarkan dengan samar celotehan Jimin.

Dan tanpa dosanya, Jimin tidak mendengarkan sama sekali apa yang dikatakan Hoseok. Dirinya sibuk memasukkan kembali isi pensil yang berjatuhan kedalam pensilnya lagi.

"Kembalikan saja deh." Ucapnya dengan sesantai mungkin walau masih bisa dilihat dari wajahnya yang terlihat masih ditekuk.

Tiba-tiba pergerakan Jimin terhenti ketika ia melihat sesuatu ada didalam pensil yang tadinya milik Yoongi itu. Seperti kertas, ah, itu memang kertas.

Sret!

Setelah ditarik keluar, kertas itu terbuka. Ada tulisan didalamnya.

AKU AKAN SELALU MENYUKAI JIMIN. TIDAK AKAN ADA ORANG LAIN YANG MENGGANTIKANNYA, WALAUPUN AKU BILANG SEBALIKNYA AKU YAKIN AKU TENGAH BERBOHONG. AKU BENAR-BENAR MENYUKAINYA. AKU HARAP JIMIN AKAN MEMBALAS SELURUH PERASAANKU.

"Eh?" kedua mata Jimin membulat ketika ia selesai membaca sebuah permohonan yang tertulis pada secarik kertas yang ia temukan didalam pensil Yoongi. "Apa ini?"

"Ada orang yang kusukai sekarang"

Tiba-tiba Jimin teringat kata-kata Yoongi saat ia memutuskan untuk menyelesaikan hubungannya dengan Jimin. Jadi apakah ia berbohong sekarang. Jimin ingin memastikannya.

Min Yoongi...

Berhasil membuat Jimin kebingungan.

.

.

.

Lapangan SMA Bangtan terlihat sudah begitu ramai dengan para siswa-siswi yang mulai berbaris. Tidak terkecuali dengan Yoongi dan Taehyung yang mencari tempat untuk berbaris.

"Yoongi-Hyung!" seseorang memanggil Yoongi dari arah belakangnya membuat Yoongi refleks menoleh dan melihat Woozi tepat dibelakangnya. "Aku tadi melihat seseorang dari kelas Akselerasi menyelipkan secarik kertas pada bingkai potretmu. Apa dia pacarmu?" Tanya Woozi dengan polosnya.

"Eh, apa katamu?" Yoongi mengedipkan beberapa kali kedua matanya yang terlihat menggemaskan. Woozi mengangguk dengan cepat pada Yoongi.

"Ng— Aduh, aku ke toilet dulu ya!" Yoongi segera berlari dari lapangan kembali memasuki gedung sekolah. Taehyung dan Woozi yang ditinggalkan begitu saja hanya saling bertatapan dengan bingung.

"Hm?"

.

.

Kaki ramping Yoongi terus berlari melewati banyak ruangan kelas. Sebenarnya, satu tujuannya sekarang yaitu Ruang Pameran dimana Jimin yang ia sudah pasti yang menyelipkan kertas yang seperti dikatakan Woozi tadi.

"Dimana? Dimana? Dimana?" Sesampainya Yoongi didepan hasil potretnya ia langsung mencari-cari dimana Jimin sudah menyelipkan kertas itu.

"Ah! Ini dia!" Kedua manik matanya berbinar ketika ia berhasil menemukan kertas yang dimaksud.

KURASA KOMPOSISINYA TERPOTRET DENGAN BAGUS.

Yoongi menghela nafas kecewa. Seharusnya, dia sudah dapat menduga jika Jimin hanya akan memberinya tulisan yang tidak penting.

Tadinya Yoongi berniat melipat kembali kertas itu sampai ia melihat lipatan lain terselip dibingkainya. Kertas lagi?

Sret!

PADAHAL PADA HARI ITU AKU INGIN MENGANTARMU KERUMAH.

Hah...

Jimin...

"Berbohong dari mana sampai mana?"

Tanpa Yoongi duga, suara Jimin tepat terdengar dibelakangnya. Dengan cepat Yoongi membalikkan tubuhnya, namun itu membuat Yoongi terlihat terpojokkan oleh Jimin.

"Ke—kenapa mendadak ada disini..." Yoongi masih tidak bisa menghilangkan keterkejutannya namun sepertinya Jimin tidak memperdulikannya. Jimin mendelik ketika ia melihat dasi yang dipakai Yoongi.

"Dasi ini besar, tidak seperti yang biasa kau pakai. Ini dasi orang lain?" Entah memang benar atau hanya Yoongi yang merasa, tatapan dan ucapan Jimin semuanya penuh dengan penekanan.

"I—Ini dasi Taehyung." Yoongi menjawab sembari mendorong dengan perlahan kedua bahu Jimin.

"Jadi, dia orang yang kau sukai huh? Kalian sekarang sudah jadian? Kau memilih dia dibanding aku karena tidak mengantarmu pulang, begitu?"

Jimin melayangkan semua pertanyaan tanpa henti. Kedua mata Yoongi terasa berputar dan sulit untuk berpikir mendengar pertanyaan beruntun Jimin.

"Aku tidak paham maksudmu." Jawab Yoongi pelan dan kembali mendorong kedua bahu Jimin. Jimin merasa dijauhkan kembali mendekatkan tubuhnya pada Yoongi. Mengunci Yoongi diantara kedua lengannya.

"Jawab pertanyaanku!" Jimin terdengar sudah sangat geram terhadap Yoongi. Yoongi merasa terus dipaksa tanpa ia sadari sudah mengerucutkan bibirnya. Yoongi juga jadi kesal dan malu dibuatnya.

"Pertanyaan apaan?!"

Jimin merogoh saku celananya. Dibukanya secarik kertas kecil dihadapan wajah Yoongi. Itu kertas permohonan Yoongi tentang Jimin. "Jawab ini! Kau masih terus menyukaiku kan?!"

Yoongi membulatkan kedua matanya menatap kertas yang ada ditangan Jimin. Kertas itu yang seharusnya tidak pernah boleh Jimin membacanya. Yoongi lupa soal pensil yang masih ada di Jimin. Yoongi benar-benar lupa...

Sekarang sudah ketauan. Apa yang harus Yoongi lakukan?

Jimin memasukkan kembali kertas itu kedalam saku celananya. Dan beralih menatap Yoongi dengan tatapan seriusnya. Yoongi masih terdiam.

"Kau serius waktu bilang tentang kencan impian itu?"

"..."

"Lalu, kapan kau menyukai orang lain?"

"..."

"Sekarang kau menyukai Taehyung?"

"Taehyung hanya sahabatku."

"Terus kenapa kau mau saja diantarnya pulang? Kenapa kau mau memakai dasinya?"

"Aku lupa bawa dasi, Taehyung baik jadi dia meminjamkannya kepadaku."

Jimin menjauhkan dirinya dari Yoongi, membuang tatapannya kesembarang arah. Dan Yoongi bersumpah saat ini rona merah terlukis dikedua pipi Jimin.

"Baik apanya? Karena dia mengantarmu pulang naik sepeda?" Jimin mengepalkan kedua tangannya erat. "Aku juga baik padamu, Yoongi."

"..." Yoongi dapat melihat kesungguhan dan keinginan dari sorot mata Jimin. Walau tatapan itu tak tertuju pada Yoongi. Apa ini artinya Jimin juga...

"M—Maksudku, kalau aku mau, aku bisa lebih baik darinya."

Jimin mendudukkan dirinya diatas lantai Ruang pameran. Tubuhnya jadi terasa lemas jika ia terlalu banyak berkata jujur. Detak jantung Jimin sampai berdetak tak terkontrol seiringan dengan rona merah yang semakin membuatnya panas.

Melihat Jimin kini berbeda, Yoongi kembali berpikir. Jimin kan' menyukai Hoseok-sensei, tetapi mengapa ia mengatakan hal seperti itu pada Yoongi. Mana yang bohong dan mana yang benar? Yoongi ataupun Jimin tidak mengerti.

"Sejak awal—" Yoongi berjongkok dihadapan Jimin. "—Sampai sekarang, aku selalu." Terlihat wajah Yoongi yang ikut memerah dan air mata yang menggenang dikedua matanya. "Aku selalu menyukaimu!"

"!"

"Aku menyukaimu, Park Jimin." Ulang Yoongi sekali lagi yang kali ini tanpa keraguan. Yoongi menunduk dalam. Takut jika Jimin akan mengatakan hal-hal diluar dugaan lagi. Yoongi takut kalau Jimin hanya membuatnya semakin berharap tanpa kepastian darinya.

Tidak lama kemudian, raut wajah Jimin berangsur-angsur semakin tenang. Tatapan penuh kebingungan tadi melembut karena pernyataan Yoongi.

Perlahan, Jimin mengangkat dagu Yoongi agar Yoongi kembali memandangnya. Yoongi yang hampir saja menangis mendongakkan kepalanya, melihat Jimin tersenyum aneh.

"Buka dasimu." Perintah Jimin dengan nada datarnya.

"Kenapa?"

"Tukar dasi itu dengan punyaku, cepat!"

Yoongi hanya mengangguk dan melepaskan dasi Taehyung yang ia kenakan, lalu Jimin melepas dasinya kemudian memakaikannya pada Yoongi.

"Statusmu sebagai pacar bohongan sudah selesai sekarang, kan?"

Sekali lagi, Yoongi harus terdiam dengan kedua mata kecilnya yang membulat. Warna merah kembali terlukis diatas kedua pipi putih Yoongi.

'Maksud Jimin tadi, apa sekarang aku menjadi pacar sungguhannya?'

"Coba katakan sekali lagi."

"Ka—katakan.. apa?" Yoongi memandangi Jimin yang terlihat salah tingkah. Ia mengerti perkataan tadi tapi ia hanya ingin memastikan. Sebenarnya, sekarang itu bagaimana...

"Kau menyukaiku." Jawab Jimin menatap Yoongi dengan lekat. Yoongi mengembungkan kedua pipi merahnya. Merasa dipermainkan.

"Ukh! Aku menyukaimu." Yoongi berucap pelan. Senyum lebar pada bibir Jimin tidak dapat tertahan lagi. benar-benar rasanya sungguh membahagiakan. Dan melihat Yoongi sekarang sangat menggemaskan. Jimin ingin menggigit pipinya.

"Apa? Aku tidak mendengarnya." Tatapan jahil mulai terbaca dari kedua mata Jimin membuat Yoongi mengerucutkan bibir tipisnya.

"Aku menyukaimu, Park Jimin jelek!" Jimin terkekeh pelan mendengarnya dan wajah Yoongi semakin memerah seperti kepiting rebus sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih pucat.

"kau juga bilang, dong!" Yoongi mencubit perut Jimin dengan gemas. Jimin mengaduh sesaat dan kembali tertawa.

"Tidak mau." Dengan sengaja, Jimin menjulurkan lidahnya. "Terlalu murahan untuk diucapkan. Hehe."

"Hah...?" Yoongi menatap horror pada Jimin. "Kau sangat sulit dimengerti ya, Jimin."

Jimin kembali mendekatkan dirinya pada Yoongi. Ia mencondongkan tubuhnya dan mempersempit jarak wajahnya dengan wajah Yoongi. "Kalau begitu, kutunjukkan dengan ciuman, bagaimana?"

"YAK! Tidak mau!"

.

.

.

Untuk menggapai Cinta Sungguhan...

Sepertinya masih butuh perjuangan berat...

Tapi, perlahan aku mengerti, cinta ini berhasil tersalurkan padanya...

Dengan begitu, aku tidak akan lagi mecoba untuk berhenti mencintainya.

END or TBC—

Annyeong!

Littlesugar here!

Akhirnya kita bertemu lagi dichapter terakhir Fake Lover, atau mungkin masih ada yang mau dilanjutkan? ;w;

Masih mau lanjut atau udah puas sampai disini? ;w;

Haha, sebelumnya terimakasih banyak yang sudah menjadi readers setia Fake Lover, untuk siders, yang mem-favorite, mem-follow, me-review, memberikan kritik, saran dan tambahan juga! love attack untuk kalian semua!

Fanfiction ini tidak akan terus berlanjut tanpa kalian~ fufu~

Dan... Yang mau kenalan sama sugar atau kasih ide Fanfiction yang kalian mau tapi harus Suga sebagai tokoh utamanya ya dan harus uke hehe, bisa invite 588FB019 /promosi/ ! Ayo berteman, sugar orangnya imut kok(?)~ /^0^)/

Okay, untuk yang terakhir, ditunggu review kalian! Kritik dan sarannya lagi juseyo~ biar sugar lebih semangat buat fanfiction lainnya X3

Sekian! Annyeong~

*Pyeong