~ Anything For You ~
.
.
.
YeWook Drabble Fic © R'Rin4869
.
.
.
Rated : T
Pairing : Yesung x Ryeowook
Genre : Romance, Humour, Family
Diclaimer : God, Their Family, Fans, but the story is Mine
Warning : OOC, YAOI, Typos, M-Preg, etc, because my fic isn't perfect~
Don't Like Don't Read!
This fic is dedicated for my beloved OTP - The Turtle & The Giraffe
.
.
.
Seven : Perfect For You
.
.
.
Jalan-jalan di kota Seoul mulai menggelap, burung gereja berkicau lirih, mulai meninggalkan dahan-dahan pohon maple yang gundul, hasil dari fenomena vegetasi meranggas pada musim gugur. Lampu-lampu menyala terang, mencoba menandingi terangnya matahari di siang hari walau jelas tidak berhasil.
Traffic jam sudah lewat, berhubung sekarang sudah masanya makan malam dimulai. Tapi itu tidak berarti aktivitas jadi menyurut. Khas ibukota sekali. Beberapa kendaraan melaju di jalanan dengan kecepatan standar, sejalan dengan kesibukan yang sudah turun intensitasnya. Berkendara dengan santai menjadi pilihan banyak orang, termasuk dengan mobil cukup bermerk satu itu yang kini menurunkan kecepatannya dan menyelip ke jalur paling kiri, membiarkan mobil-mobil lain di belakangnya lewat lebih dulu.
Dua orang di dalamnya tidak terlibat pada pembicaraan apapun, yang berarti suasana dalam mobil itu hening.
Kelamnya malam di luar jendela mobil terpantul pada mata sewarna coklat yang menyerupai karamel lembut, membiaskannya dalam bentuk bayang-bayang samar yang terlalu abstrak untuk dapat ditebak. Ekspresinya datar, simpel, dia bosan. Untuk mengalihkan kebosanan dia menoleh pada pria dengan surai coklat acak di sampingnya yang serius mengemudi. Tebakannya salah, ini malah membuatnya makin bosan saja. Pria itu menyetir seolah sedang berada di hutan, berkonsentrasi penuh pada kemudinya.
Mulutnya berdecih pelan. Yang ternyata mengundang perhatian dari sang pengemudi.
"Kau kenapa, Ryeowook-ah?"
Ryeowook cemberut, memperlihatkan ekspresi muram menggemaskan yang dapat disamakan dengan hewan imut sekelas anak anjing.
"Bosan," Jawabnya pendek.
Yang duduk di sampingnya hanya tersenyum kecil.
"Tumben sekali kau jadi terlihat hiperaktif. Biasanya mendengarkan musik sudah cukup untukmu."
"Ini berbeda, Yesung hyung. Aku juga tidak tahu, yang jelas aku bosan sekali sekarang."
Yesung manggut-manggut. Tidak tercetus satupun solusi berharga untuk kekasihnya yang masih cemberut itu, dan Ryeowook agak jengkel karenanya. Tapi yah, dia mencoba bersabar.
Hari ini mereka pulang dari pemotretan di luar kota, Ryeowook sengaja memilih bersama Yesung dan pulang ke Seoul secepatnya dibanding melewatkan waktu semalaman penuh di sana bersama semua kru. Dia ingin ketenangan, dan jika ada orang yang tepat untuk memberinya ketenangan, orang itu adalah Yesung, sang kekasih yang telah menjalin hubungan dengannya cukup lama.
Tapi lebih parah dari ketenangan yang dia maksud, Yesung malah bisu sekalian malam ini. Jauh lebih buruk dari apa yang dia harapkan. Setidaknya kan ada obrolan ringan atau apalah yang membuat suasana hatinya membaik. Jangan seperti ini, lama-lama dia jadi tidak betah di dalam mobil. Terjebak dengan rasa pengap yang luar biasa menyiksanya.
Berkutat dengan segala pemikiran itu, Ryeowook menghela napas sekali lagi.
.
.
.
"Ayo turun,"
Suara dengan nada halus itu membuyarkan segala macam lamunan yang berada di kepala Ryeowook. Dia menoleh cepat, berusaha mengetahui keadaan saat ini. Matanya menangkap bayangan yang tidak biasa di luar jendela.
'Sejak kapan parkiran dorm berubah jadi sungai?'
Pikiran bodoh itu masuk begitu saja, membuatnya meringis agak malu. Tentu saja bukan, karena dia memang tidak berada di parkiran dorm, melainkan di tepi sungai Han, yang baru dikenalinya setelah melihat lebih seksama.
Tangannya bergerak untuk membuka pintu, menyentaknya hingga terbuka dan kemudian turun. Baru saja kakinya menapak pada tanah, gelombang hawa dingin menghantamnya.
Sial!
Dia tidak suka ini, lebih tepatnya dia tak suka hawa dingin seperti ini. Batinnya mencemooh sedikit soal pilihan Yesung yang membawanya ke sini alih-alih ke dorm mereka yang dilengkapi penghangat. Meski begitu Ryeowook tidak mengeluh keras-keras tentang ini. Dia mulai merasa tempat ini tidak buruk. Udaranya cukup segar, walaupun baunya tercampur dengan bau lapuk daun. Tapi Ryeowook cukup menyukainya, apalagi ditambah dengan fakta perasaan pengapnya di mobil tadi sudah sirna.
Yesung berada di depan. Mungkin hanya semeter lebih jauh, dan makin dekat. Namja itu mengulurkan tangannya pada Ryeowook, yang langsung disambut dengan genggaman hangat. Yesung tahu betul apa yang diinginkan oleh Ryeowook. Hanya saja dia tak mau membongkarnya dengan berkata gamblang. Begini sudah lebih dari cukup.
Tanpa suara Ryeowook mengikuti langkah Yesung, yang kini membawanya menelusuri bagian sisi sungai yang berumput. Melihat hitamnya air sungai, pantulan dari gelapnya langit malam. Suasana tenang itu membawa kedamaian tersendiri bagi keduanya. Di sela-sela aktifitas mereka yang memang selalu dikelilingi orang banyak, tempat sepi merupakan satu yang jarang mereka jajaki.
Yesung berhenti, setelah sekitar dua puluh meter mereka berjalan. Tak ingin terlalu jauh lagi.
"Hyung,"
"Hm?"
"Di sini menyenangkan juga." Komentar Ryeowook, tersenyum.
Yesung berpaling ke arah kekasih mungilnya itu. Terkekeh sedikit.
"Kupikir tadi kau tidak mau turun." Godanya.
Kepala Ryeowook menggeleng. "Tidak."
Yesung menarik Ryeowook agar berada lebih dekat dengannya, kemudian memeluknya tepat di pinggang, bagian kesukaannya. Ini nyaris seperti adegan romantis di drama, salahkan hobinya yang suka sekali menontonnya. Tapi setidaknya ini berguna, karena jujur saja Yesung bukan tipikal yang romantis. Apalagi soal berkata-kata, payah sekali. Lagu-lagu romantis yang dinyanyikannya selama bertahun-tahun tidak memberikan inspirasi apapun rupanya. Agak miris.
Ryeowook tersenyum menerima perlakuan itu. Menatap tetap ke depan, namun tangannya menelusuri tangan Yesung yang melingkar di pinggangnya. Mengelusnya dengan sayang. Bintang-bintang bertaburan bak permata yang ditebar di lembaran karbon hitam, hanya saja yang ini jauh lebih indah. Malam ini terang, bahkan bulan penuh. Sekarang purnama.
"Pemandangannya indah." Ryeowook menunjuk apa yang dilihatnya.
Mata kelam Yesung mengikuti arah yang ditunjuk oleh Ryeowook, tapi tak lama. Dia berpaling lagi ke arah kekasihnya.
"Menurutku kau lebih indah." Sahutnya.
Ryeowook mendengus. "Jangan menggombal."
Yesung tertawa kecil mendengarnya. Itu memang tidak cocok dengan imagenya, tapi apa salahnya menggombal untuk kekasihmu sekali-kali?
Tangan Ryeowook menemukan jemari kecil milik Yesung, kemudian menautkan jarinya sendiri di sana.
"Menurut hyung..." Suara Ryeowook terdengar agak sayup, efek angin yang baru saja bertiup di sana. "Akan berapa lama kita bisa seperti ini?"
Pertanyaan itu cukup berani. Tapi Yesung tenang-tenang saja mendengarnya. Seolah ini adalah pembicaraan yang biasa didengarnya.
"Kenapa? Kau tidak yakin kita bisa bertahan?" Yesung bertanya balik, mencoba melirik ekspresi Ryeowook dari samping.
"Ahniyo, hanya bertanya." Jawaban Ryeowook sama tenangnya, walau tak bisa dipungkiri dia jadi agak gelisah sekarang.
"Tenanglah, aku akan mempertahankanmu sebisa mungkin."
Nada suara Yesung yang lembut itu serasa meluluhkannya. Ryeowook kembali tenang, namun tidak dengan pikirannya. Ada sesuatu yang menganggunya sedikit.
"Tidak akan meninggalkanku?" Dia bertanya, dengan nada yang seolah mengharap untuk diyakinkan.
Yesung mengangguk, lebih cepat dibanding dugaan Ryeowook.
"Kau milikku, kekasihku, aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku. Kecuali..."
"Kecuali apa?" Ryeowook mendesaknya.
Yesung tersenyum masam. "Kecuali jika kau sendiri yang meminta itu, aku tidak akan egois lagi untuk mencoba menahanmu lebih lama."
Dada Ryeowook bagai disiram dengan es. Mati rasa sejenak. Akankah dia bersikap seperti itu nanti? Ingin meninggalkan Yesung?
"Tidak!" Itu hampir terdengar seperti pekikan. "Aku tidak peduli, jika memang hyung harus egois untuk mempertahankanku, aku...aku bersedia. Aku mengizinkannya."
Yesung tersentak sedikit. Kepalanya menunduk kali ini, bertumpu pada bahu sempit milik Ryeowook. Menghela napas di sana.
"Aku tidak mau egois terhadapmu."
"Tapi itu harus, hyung! Memangnya hyung rela melihatku dengan orang lain?" Ryeowook memaksa, dengan keras kepala.
"Jika orang itu bisa membuatmu lebih bahagia..."
"Tidak. Akan." Ryeowook menahan napasnya. Pemikiran macam apa itu? Apa kurang jelas lagi apa yang diinginkannya? "Kebahagiaanku adalah bersamamu! Tidak ada yang lain!"
Yesung membalik tubuh Ryeowook. Meminta perhatian penuh dari karamel itu yang sekarang bersinar galak, menandakan dia tak ingin dibantah.
"Dengarkan aku, Kim Ryeowook," Yesung memulai, tersenyum manis. "Aku tentu akan mencegahmu mendapatkan orang lain selain aku. Aku akan berusaha yang terbaik untukmu agar kau tidak menemukan siapapun yang bisa membuatmu berpaling. Aku akan terus menggenggam tanganmu, seerat yang aku bisa. Tapi jika kau yang memintaku melepasmu, aku bersedia untuk itu. Kebahagiaanmu jauh lebih penting."
Alunan suara Yesung tak ubahnya seperti nada-nada lagu penuh irama memikat bagi Ryeowook. Seperti selantun puisi indah miliknya pribadi. Dan Ryeowook berjanji akan mengingat kata-kata itu selamanya. Ini adalah kali pertama bagi Yesung untuk membicarakan apa yang dia putuskan, apa yang dia rasakan dan inginkan dalam satu kalimat panjang. Ryeowook tak memiliki hasrat untuk mendebat lagi. Dia menjatuhkan tubuhnya di dada Yesung.
Dadanya menghangat dengan luapan perasaan sayang untuk namja itu.
"Gomawo~" Bisik Ryeowook. "Tapi jangan pernah memaksakan dirimu untuk jadi sempurna untukku, hyung. Aku mencintaimu apa adanya. Kau sudah jauh dari kata sempurna."
"Aku harap itu jujur, karena aku merasa sebaliknya." Yesung agak mengeluh.
Kemudian Ryeowook tertawa mendengarnya. "Aku jelas jujur. Hyung saja yang kurang percaya diri."
"Kalau begitu kau mau membantuku jadi lebih percaya diri?" Tawar Yesung.
"Kau sudah mendapatkanku duluan dibanding orang lain, berbangga hatilah sedikit, Kim Jongwoon."
Yesung tergelak. "Aku cukup puas mendengarnya."
Jemari Yesung menelusuri tulang pipi Ryeowook yang tinggi.
'Manis'
Inner Yesung. Benar, ada bagusnya dia berbangga hati tentang ini. Karena namja ini adalah miliknya, kekasihnya yang mencintainya, sama seperti dia yang mencintai Ryeowook sepenuhnya.
"Kau juga sempurna, Ryeowook."
Bisikan itu terdengar menggoda dalam suara husky milik Yesung. Pipi Ryeowook merona tanpa bisa dicegah.
"Kulitmu dingin," Yesung berkomentar. Agak khawatir tentang itu. Mungkin tidak seharusnya dia membawa Ryeowook berjalan-jalan di udara terbuka ketika malam dingin seperti ini. Bisa saja Ryeowook sakit.
"Aku tidak apa-apa," sahut Ryeowook, sedikit berbohong. Selintas ide muncul di benaknya setelah itu. "Tapi aku membutuhkanmu untuk tetap hangat, hyung~"
Yesung terkekeh. Mengerti benar maksud Ryeowook kali ini.
"Dengan senang hati,"
Tangan Yesung mengangkat dagu Ryeowook secara perlahan, menatap dalam ke maniknya sebelum dia memejam. Mendekatkan wajahnya ke wajah Ryeowook, membiarkan bibir mereka bertemu dalam satu ciuman hangat yang penuh kasih sayang. Dia melumat bibir tipis itu dengan lembut, tidak perlu nafsu di sini. Mereka memiliki lebih dari sekedar itu. Yang lebih murni, dan tak ternilai.
.
.
.
"Kyuhyun! Kita kembali saja!"
Tangan Sungmin setengah menyeret tubuh Kyuhyun. Menjauh dari tempat dimana ada bayangan dua orang yang saling berciuman mesra tanpa sadar dengan kehadirannya.
"Tapi Sungmin hyung, wow, apa kau tidak ingin mengabadikan momen ini? Mungkin bisa jadi dokumentasi sedikit." Kyuhyun menyeringai, mengeluarkan ponselnya dari saku.
Sungmin menggeram kesal dengan kelakuan maknae itu. Kesalahannya adalah ketika dia merasa melihat mobil Yesung yang terparkir di pinggir jalan dan memutuskan keluar untuk mengecek. Ternyata dugaannya benar, hanya saja mobil itu tidak ada penumpangnya. Beruntung dia hanya pulang dengan Kyuhyun, Eunhyuk dan Shindong yang fua disebut terakhir sementara itu kini tertidur di mobil. Jadi untuk memastikan tidak ada sesuatu yang buruk, Sungmin mencari Yesung bersama Kyuhyun yang masih terbangun.
Nah, setelah mencari-cari sedikit, ujungnya hanyalah adegan mesra yang dia lihat dari sepasang kekasih itu. Menyebalkan juga. Ketika pikirannya berlarian cemas antara kemungkinan-kemungkinan buruk yang dialami Yesung ataupun Ryeowook, nyatanya dua orang itu dalam keadaan baik-baik saja. Amat baik malah, Sungmin mendengus.
Tanpa peringatan Sungmin menarik tangan Kyuhyun lebih keras sebelum bocah itu mendapatkan apa yang dia mau. Sudah pasti untuk mengejek Yesung dan Ryeowook nantinya.
"Masuk, Kyu, atau kau kutinggal di sini." Sungmin mengancam agak galak.
Wajah Kyuhyun merengut mendengarnya. Maknae dengan julukan evil itu sama sekali tidak bertingkah evil kali ini. Ekspresi itu sama lucunya dengan maknae di grup lainnya. Andai saja Kyuhyun tetap seperti itu, para fans pasti tertawa melihat drastisnya dia berubah. Dari setan penganggu, menjadi seperti anak kecil yang pemarah.
'Eh? Tapi kapan Kyuhyun mau bersikap manis di depan fans?'
Sungmin menggeleng. Rahasia umum jika maknae Super Junior itu tidak ada manis-manisnya sama sekali. Mengerikan, apalagi mulut pedasnya.
"Kau sangat melindungi pasangan itu, hyung." Komentar Kyuhyun.
"Yah," Sungmin menutup pintu di sebelahnya setelah Kyuhyun masuk di kursi belakang. Mengangkat bahu acuh. "Aku hanya ingin melihat orang lain bahagia. Itu kan bukan kesalahan."
Kyuhyun memutar bola matanya. "Sangat baik hati."
"Terima kasih, Kyu."
Sungmin tersenyum sebelum menyalakan mesin mobilnya dan melaju pergi dari tempat itu.
.
.
.
- Fin -
.
.
.
Fluff sekali di chapter ini~~
Tapi biarlah, toh memang inti buat chapter ini seperti itu kkkk~
Lagi-lagi Rin mengucapkan jeongmal gomawo buat semua review yang masuk untuk chapter kemarin~~ banyak banget yang seneng YeWook jadian XD
Oh ya abaikan notes di bawah ini ya.
So, selamat menikmati~~^^
.
.
.
Chapter 7 : Failed. Kamu tahu ngga ada apapun di bulan ke 7, mengecewakan ya? Haaah... Maaf...
.
.
.
- 7 Sept' 13 -
.
.
.
- Ye & Wook -
.
.
.
