DISCLAIMER

Visual Novel Little Busters! (Original, EX (Ecstasy)/ME) by Key Visual Studio 2007 - 2008

Fanfic 'Amnesia' by Sachiya Haruyuki 2015


Fallen

*put*

"Nah ini. Bagaimana?"

Giliran Kyousuke yang menaruh kartu miliknya ke tengah meja. Mata scarletnya langsung menatap ke arah Riki. Menunggu giliran selanjutnya.

Tetapi,

"…"

"Hei, Riki. Giliranmu."

Riki malah tak bereaksi sama sekali. Nampaknya ia tak mendengar panggilan dari Masato.

"Huh? Hei, Riki…"

Sampai akhirnya giliran Kyousuke yang mencoba memanggilnya.

"Riki."

"U-Uh?"

Benar saja. Riki baru bereaksi ketika Kyousuke memanggilnya.

"Ya ampun. Kenapa kau melamun?"

"Apa sesuatu terjadi padamu? Belakangan kau selalu bersikap begitu."

"T-Tidak terjadi sesuatu kok."

"Tidak, kurasa kau mulai bertingkah aneh."

"Benar sekali."

Kengo langsung mengiyakan pernyataan Kyousuke.

"Sejak kau sering bersama seito kaichou akhir-akhir ini, kau tampak sedikit tegang."

"Hoo. Tumben seito kaichou mau bersamamu."

Tentu saja ini menjadi hal baru bagi mereka. Pasalnya yang mereka tahu dari sang ketua OSIS, dia sama sekali tak mau berurusan dengan Little Busters. Malah sang ketua OSIS sendiri yang menyatakan Little Busters seperti geng berandalan awalnya gara-gara ulah si leader sendiri, yaitu Kyousuke.

"A-Aku hanya tertidur, ini selalu terjadi…"

"Kau yakin baik-baik saja, Riki?"

Rin nampaknya sedikit khawatir juga dengannya.

"Bisa jadi, karena cinta?"

*siiing*

Ucapan mendadak Kyousuke membuat suasana kamar Riki-Masato seketika menjadi tegang. Cinta, bagi mereka itu bukanlah sesuatu hal yang baru. Tapi jika itu menimpa Riki, tentu saja menjadi hal yang berbeda.

"Cinta?"

Dan pertanyaan polos Rin langsung menghancurkan ketegangan di dalamnya.

"Tunggu dulu, Riki. Jangan bilang kau jatuh cinta dengan seito kaichou!?"

Tentu saja Riki sangat terkejut mendengarnya.

"H-Hei! Apa yang kau bicarakan!?"

"Itu benar, Riki! Kau pasti sedang jatuh cinta!"

Sayangnya Kengo juga ikut menyetujui pernyataan Masato.

"Hentikanlah, Kengo! Kenapa kau bisa berpikir seperti itu!?"

"Sebelumnya aku mau tanya padamu, Riki."

Riki langsung menoleh ke arah Kyousuke yang menatapnya serius.

"Pernahkah kau sekali merasakan yang namanya jatuh cinta?"

"…"

Riki hanya menunduk mendengar pertanyaan Kyousuke. Kalau soal pernah atau tidak, tentu saja ia mengalaminya di 'dunia itu' ketika dengan Rin. Namun itu sebenarnya bukan murni cinta. Atau mungkin yang seharusnya begitu.

Sekalipun Riki memang dari awal tidak benar-benar merasa jatuh cinta pada siapapun. Minimal baginya, rasa suka dan kagumnya pada Kyousuke itu sudah cukup. Tapi,

"T-Tentu saja aku sudah pernah merasakannya dengan Haruka dulu!"

*facepalm*

Kyousuke menepuk dahinya sendiri. Ia lupa jika dulu Riki dan Haruka pernah berpacaran sebelumnya.

Tunggu dulu.

"Riki, kau tahu kau pernah berpacaran dengan Saigusa sebelumnya. Bagaimana perasaanmu saat kau mengingat itu?"

"Soal itu kau tak perlu tanya lagi, Kyousuke. Tentu saja aku…"

Sedih. Terlalu sedih membayangkan sang kekasih yang dicintainya tahu-tahu sudah meninggal dunia. Apalagi karena dibunuh. Dan itu cukup membuat Riki memalingkan wajah nya ke arah lain.

Dan disaat itu pula, ia melihat ada sesuatu di balik pintu kamarnya.

'Bayangan?'

Apa ada seseorang sedang menunggu di depan pintu?

"Siapa disana?"

*run*

Bayangan itu tiba-tiba saja menghilang dari pandangan. Sepertinya ia sedang berlari ketika Riki memanggilnya. Namun,

*tripped* *fall*

Sesaat kemudian ia mendengar suara benturan yang cukup keras. Seperti tersandung sesuatu. Buru-buru Riki langsung keluar dari kamarnya.

"H-Hei! Apa kau baik-baik sa- Eoh?"

"Adudududuh…"

Rupanya ada seorang gadis yang terantuk kakinya sendiri dan jatuh dengan tidak elitnya. Posisinya tengkurap. Hampir saja memperlihatkan bagian bawah tubuhnya. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, gadis itu adalah,

"F-Futaki-san?"

Sementara Kanata sendiri yang masih merasa sakit di bagian kakinya menoleh ke arah Riki yang berada di belakangnya. Entah mengapa raut wajahnya langsung memerah.

Dan sesegera mungkin Riki menutup matanya dengan tangan kanannya.

"K-Kau tidak melihatnya kan, Naoe?"

"T-Tidak…"

Memangnya apa yang dilihat Riki? Ah sudahlah.

[Skip Time]

"A-Aku benar-benar tak sengaja mendengarnya. M-Maafkan aku."

Kepala Kanata menunduk sembari meminta maaf karena kesalahan yang tak sengaja ia perbuat. Rin masih sibuk memijat kaki kiri Kanata yang sedikit sakit karena tak mungkin membiarkan Riki yang melakukannya.

"Aku malah tak tahu kalau Futaki-san dari tadi ada di depan pintu."

"Aku pikir kau sedang sendirian makanya aku tak jadi masuk."

"Kau lupa aku juga sekamar dengan Masato?"

"Eh?"

Kanata langsung menatap si pria berotot itu sementara yang bersangkutan hanya tertawa kecil.

"Aku lupa."

Mendadak Kyousuke jadi kepikiran.

"Kalau memang ada sesuatu yang pribadi kenapa kau tak mengajak Riki keluar sebentar?"

"Eh?"

Memang itu sebuah ide bagus. Tapi akan lebih baik jika saat ini Kanata tidak memegang jabatan sebagai ketua OSIS. Bisa dicap buruk nantinya jika ada yang melihatnya keluyuran bersama laki-laki disaat malam larut.

"Nah sudah. Apa kakimu sudah bisa digerakkan?"

Rin mengakhiri kegiatan memijatnya. Kanata langsung mencoba menggerakkan kakinya sedikit. Tidak terlalu sakit seperti sebelumnya.

"Terima kasih, Natsume-san." Kanata langsung mencoba berdiri walaupun sedikit limbung. "Dan, benar. Aku ingin bicara sebentar dengan Naoe."

Sementara si pemilik nama langsung menoleh. Menatap Kanata dengan bingung.

"Aku?"

[Skip Time]

Aku hanya kebingungan saat membiarkan Kanata-san menarik tanganku. Ia mengajakku keluar asrama dan akhirnya sampai ke sebuah area taman. Dia mengajakku duduk di sebuah kursi panjang.

Tapi aku ingat, itu bukan hanya sebuah kursi biasa bagiku. Ada banyak guratan dimana-mana. Dan sepertinya itu baru saja diperbaiki. Mungkin bekas guratannya memang sengaja dibiarkan begitu saja. Dan itu sudah pasti kursi yang dulu sering ditempati olehku dan mendiang Haruka.

"Banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu, Riki." Kanata-san mulai angkat bicara duluan. "Bagaimana rasanya setelah mengingat kembali kekasihmu dulu?"

Rupanya langsung ke topik pembicaraan serius. Mengingat namanya saja sudah membuatku merinding. Aku jadi ingat bagaimana ekspresi Kanata-san saat itu ketika kutemui di rumah sakit.

"Tentu saja aku sangat sedih mengingatnya. Tapi mungkin tak sesedih dirimu."

"Sudah kuduga kau akan bilang begitu." kemudian Kanata-san mengalihkan pandangannya menuju langit. "Biar bagaimanapun, Haruka tetaplah adikku yang sangat aku sayangi. Aku akan melakukan apapun untuk melindunginya."

"Bahkan dengan menikah muda sekalipun?"

"Iya… Hei! Jangan diingat yang itu!"

Haha. Bagaimana aku tak mungkin melupakannya? Aku ingat betul dulu Kanata-san pernah dijemput paksa oleh seseorang yang diduga merupakan suruhan dari keluarga Futaki untuk memintanya menikah muda. Tentu saja aku dan Haruka tak menerima itu lalu membuat rencana gila bersama Little Busters untuk menggagalkan pernikahannya dan membawa Kanata-san lari. Kalau dipikir memori itu sangat lucu jika diingat lagi.

"Tapi sungguh. Aku tak menyangka kau dan Haruka akan berbuat sampai sejauh itu dan bahkan meminta teman-teman mu untuk menolongku."

"Tentu saja. Lagipula, Kanata-san tetaplah temanku."

"Jadi kau ikut menolongku bukan karena aku adalah seito kaichou atau hanya kakak dari kekasihmu?"

Aku menggeleng. Menyangkal pertanyaan darinya.

"Kanata-san tetaplah temanku. Teman kami semua. Apapun yang terjadi."

"T-Teman, ya?"

Muka Kanata-san mendadak jadi memerah mendengar kata-kataku tadi. Dan aku bisa melihat perlahan-lahan tangan kanan Kanata-san bergerak mendekati tangan kiriku. Berniat menggenggam tanganku.

Wah, ada apa ini?

"Kau tahu? Aku sempat mendengar pembicaraanmu dengan teman-temanmu dari luar kamarmu. Aku merinding ketika kalian mengaitkan pembicaraan antara kau dan aku."

"E-Ehh? J-Jadi kau tadi menguping!?"

"A-Aku tak sengaja mendengarnya!"

Ah sial. Tahu begini aku tak perlu bersikap aneh barusan. Tapi bukannya dia sudah pernah bilang sebelumnya?

Sebentar. Kenapa situasinya jadi tegang begini? Ayolah, bicaralah sesuatu!

"K-Kanata-san?"

"H-Ha'i?"

Kepalaku agak tertunduk. Tak yakin menanyakan ini padanya. Sekian lama aku mengenal Haruka lalu berpacaran dengannya sebelum akhirnya ada kabar bahwa dirinya dibunuh, ada satu hal yang membuatku penasaran.

"Ketika kau tahu aku memacari adikmu, bagaimana perasaanmu?"

"…"

Pada akhirnya aku benar-benar menanyakan itu. Tapi reaksinya bisa kutebak. Kanata-san menjadi diam. Kepalanya ikut tertunduk.

Aku mungkin tak begitu mengingat bagaimana masa-masa ketika aku dan Haruka berpacaran saat itu. Dan aku juga tak begitu tahu bagaimana perasaan Kanata-san ketika aku memacari adiknya. Sebagai seorang kakak, aku tahu mengalah adalah cara yang terbaik baginya. Dan itu sudah umum.

Tetapi, jika itu seorang Kanata-san,

"Sakit…"

Aku rasa itu takkan mungkin.

"Begitu… ya?"

Karena semenjak awal, aku tak hanya memperhatikan Haruka semata. Aku ingat betul itulah yang kulakukan selama ini.

"Sedih…" Kanata-san menekuk lututnya lalu menyembunyikan wajahnya. "Tapi aku tak bisa menunjukkannya pada Haruka. Aku tak mau ia mengkhawatirkanku lebih jauh lagi. Ia sudah dewasa. Dan ia tahu apa yang harus dilakukannya, demi kita berdua."

Ya. Padaku sebagai kekasihnya, dan pada dirinya sebagai kakaknya. Aku tahu itu. Tidak. Sejak awal aku sudah tahu.

Dibalik dirinya yang selalu dengan mudah menyembunyikan emosi yang sebenarnya dari wajahnya, aku tahu satu hal yang tak mampu ia rahasiakan dariku.

"Aku bahkan hampir berharap semuanya hanyalah mimpi yang mungkin akan hilang ketika aku terbangun. Tetapi… Ketika mendengar Haruka meninggal, aku sadar itu adalah kenyataan. Aku semakin merasa bersalah. Saat itu aku tak bisa membayangkan apa yang terjadi denganmu jika kau mengetahuinya. Ini seperti hukuman bagiku karena selalu berpikiran buruk pada kalian berdua…"

Jika aku boleh berpikiran buruk, mungkin yang ia maksud adalah kapan kami berdua putus. Tapi jika memang demikian, maka dugaanku sebelumnya sudah pasti benar.

"Lalu soal kau memaksakan diri itu juga karena…"

Kanata-san menganggukkan kepalanya.

"Aku ingin menebus dosaku. Malah saat itu aku berpikir seharusnya aku saja yang mati."

Sebesar itukah rasa bersalah yang dimilikinya terhadap adiknya? Jika begitu, maka sudah sering ia melihatku bersama Haruka selama ini. Hanya saja,

"Itu… Tidak baik…"

Kanata-san langsung menoleh padaku.

"Kurasa, walaupun kau tak menyukainya tetapi berpikiran buruk bukanlah ide yang bagus. Itu sama saja kau iri dan dengki pada adikmu."

"Um… Kau benar… Aku sudah berdosa selama ini."

Tapi ia terlambat menyadarinya. Setelah ia kehilangan adiknya baru ia mengetahui apa yang ia perbuat selama ini lalu menyesalinya.

"Dan kurasa, aku sudah tak mungkin dicintai olehmu."

"Eh?"

Walaupun aku sudah tahu itu tetapi tetap saja, mendengar itu langsung darinya membuatku terkejut. Hanya saja, kenapa?

"Ya. Aku memang menyukaimu. Seperti halnya adikku menyukaimu."

"…"

Biasanya orang akan senang mendengar ini. Apalagi dari seseorang yang disukainya, siapa yang menolak? Tetapi khusus untukku,

"Aku tidak bisa…"

"Ya, aku sudah tahu. Jadi aku tidak-"

"Bukan begitu. Maksudku…"

Bukannya aku menolak. Tapi dosa bagiku jika aku berpaling. Karena yang pernah kupacari adalah adiknya. Dan kini ia sudah meninggal. Bagaimana aku bisa memilih? Ya, aku sangat mencintai Haruka. Sangat menghargai persahabatanku dengan Kanata-san. Sangat mengagumi ikatan persaudaraan antar keduanya.

Dan keduanya sama-sama mencintaiku. Karena itu, tabu bagiku untuk berpaling.

"Jika aku berpaling darinya, kau pasti berpikir aku hanya mempermainkan perasaannya." aku juga ikut menekuk lututku dan menyembunyikan wajahku. "Tapi aku tak bisa menggantungkan perasaanmu juga. Aku tak mau kau terluka karenaku, meski aku sudah lama mengetahuinya."

"Eh? Jadi kau sudah tahu tentangku?"

Ups. Sepertinya aku terlanjur mengatakannya. Sebaiknya aku menjelaskannya saja padanya langsung.

"Saat aku berpacaran dengan adikmu, sebenarnya aku sendiri juga mengkhawatirkanmu. Kau selalu berusaha untuk mengawasi kami diam-diam walau dari jauh. Tiap kali kami berdua dirundung masalah pribadi justru kaulah yang paling khawatir. Kau selalu mencoba untuk menghubungiku. Kau pikir Haruka tak mengetahuinya juga? Ia sering cerita padaku tentang apa yang kau lakukan."

"Begitukah?"

"Makanya… Aku tahu bagaimana perasaanmu saat itu ketika Haruka meninggal…"

Bukan semata-mata karena kesedihan. Aku tahu ada yang lebih daripada itu. Rasa bersalah, sesal, aku tahu ia merasakan itu.

Hanya saja, ada satu hal yang sangat kusesali dalam hidupku. Dan sama seperti dirinya, baru sekarang aku menyadarinya.

"Maaf."

"Kenapa, Riki?"

"Maafkan aku…"

*teared*

"Maafkan kelemahanku…"

Air mataku menetes. Aku tak tahu mengapa demikian. Tapi rasanya seperti semua kebimbanganku terungkap saat ini.

Aku memang mencintainya. Sangat mencintai Haruka. Dan aku menyesal karena berpura-pura kuat di depan orang yang lebih menyayangi dirinya ketimbang aku.

"Riki…"

Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Dan aku terus saja menangis.

Haha. Sungguh cengeng. Tapi, sayang. Hatiku memang mudah tersayat ketika tak ada teman-temanku disini.

*pat* *hug*

Karena disisiku saat ini hanya ada dia. Hanya ada Kanata-san, yang juga merindukannya.

"Aku tak tahu apa yang membuatmu begini, tapi kuharap kau mau untuk tak berpura-pura lagi, Riki."

Ya. Aku takkan berpura-pura lagi. Aku memang sedih. Sangat sedih. Seharusnya ekspresi ini yang kutunjukkan saat mengetahui Haruka meninggal. Sayang, egoku terlalu kuat hanya untuk sekedar bersedih.

Dan kali ini, aku bahkan menangis di pelukan seorang perempuan. Di malam yang kian larut, bintang tak lagi gemerlap. Bulan pun nampak sedikit memancarkan cahayanya. Mungkinkah mereka ikut bersedih atas yang kami berdua alami?

Aku tak tahu.

Tapi aku sadar satu hal.

'Sayonara, Haruka…'

Sudah saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal.

~ To be Continued ~