Disclaimer: semua chara yang aku pake milik diri mereka sendiri dan keluarganya.

Genre: romance, gak punya ide ff ini genrenya apa…

Main pair: HaeHyuk, JongKey, 2min, KyuMin, HanChul, YunJae and Yoosu (yang terakhir tidak meyakinkan)

Rate: T

WARNINGS: typho tak terkendali, jalan cerita hancur, gak nyambung, author masih sangat baru, OOC tingkat akut, gak jelas, gak layak baca, susunan kalimat yang sangat rancu dan masih banyak lagi.

Taemin: 16 tahun

Donghae, Hyukjae a.k.a Hyukkie, Key, Kyuhyun, Sungmin, Minho, Jjong: 17 tahun

Kangin: 20 tahun

Kisah nyata: semuanya dikurangi 3 tahun, kecuali Taemin 2 tahun dan Hyukkie dikurangi 4 tahun.

Note: buat eunhyuk, mau aku sebut eunhyuk/hyukjae/hyukkie gak pa-pa ya? dan hal yang sama juga berlaku buat sungmin/minnie dan lainnya. Panggilan selalu berubah sesuai mood Vi#plak# intinya dua-duanya/tiga-tiganya panggilan buat orang yang sama kok!

.

Flashback:

Yah, kalau boleh jujur. Aku memang –mungkin- masih memiliki perasaan pada Kyuhyun seperti sebelumnya, tapi perasaanku pada Donghae sekarang sungguh masih membingungkan.

Dan entah setan mana yang telah menghasutku mulutku telah angkat bicara bahkan sebelum aku selesai berpikir.

"Baiklah aku menyetujuinya!"

.

.

.

# # #

.

.

.

#Lee Hyukjae POV

Saat ini suasana ruang tamu sangat tegang, aku duduk di salah satu kursi bersama Umma, sedangkan Appa sendiri duduk di kursi tunggal. Tepat di hadapan kursi yang aku gunakan, ada Donghae -yang bisa dibilang datang dengan penampilan menawan- yang terlihat duduk dengan santai. Tapi, jika seseorang melihat dengan seksama pada matanya maka orang tersebut dapat melihat kegugupan yang tersembunyi di sana.

Jika ada yang bertanya apa yang menyebabkan adanya suasana seperti ini? Maka jawabanya adalah kedatangan Donghae yang mengajak aku berkencan di akhir pekan. Sebenarnya aku sudah memperingatkan dia kalau Appa dan Umma masih belum tahu apa-apa saat da baru datang -kebetulan aku yang membukakan pintu, tapi dia terlalu keras kepala dan mengatakan semua akan baik-baik saja, dan inilah hasilnya.

"Apa kau serius tentang perasaanmu pada Eunhyukkie, Lee Donghae?"

"Sangat serius, Songsaenim."

"Bagaimana keluargamu? Kau yakin mereka tidak keberatan?"

Aku tahu apa maksud Appa, walaupun hubungan sesama jenis sudah bukan hal yang tabu lagi, tapi keluarga Donghae adalah keluarga yang cukup terhormat dan masih memegang teguh norma yang berlaku di masyarakat. Jadi bukan tidak mungkin mereka masih berpikiran jika hubungan sesama jenis adalah suatu hal yang tabu.

"Mereka sudah lama mengetahui tentang perasaanku pada Enhyukkie, dan mereka sama sekali tidak keberatan dengan hal itu."

Aku melotot tajam ke arah Donghae, bagaimana mungkin orang tuanya sudah tahu? Sejak kapan? Kenapa aku sama sekali tidak tahu? Kenapa dia tidak memberitahuku tentang semua itu? Dan dari semua pertanyaan yang berputar di dalam pikiranku, ada satu pertanyaan yang sangat menggangguku,

'Sejak kapan dia seserius ini tentang hubungannya denganku?'

"Ini akan menjadi yang terakhir -jika jawabanmu mampu membuatku puas. Apa kau yakin kalau kau serius dengan hubunganmu dengan Hyuukkie? Dan apa kau yakin kau tidak akan menyesal nantinya? Aku tidak ingin hal seperti ini hanya dijadikan mainan!"

Ucapan Appa sangat tegas saat ini tapi…,

"Aku sangat serius. Jika aku tidak serius, aku tidak akan ada di sini, dan sama sekali tidak pernah terpikirkan dalam otakku untuk bermain-main dengan segala hal yang menyangkut perasaanku apa lagi menyangkut perasaan Hyukkie, dan sejak aku memutuskan untuk serius dengan Hyukkie, aku tahu dan aku yakin-

Apa pun yang terjadi nanti aku tidak akan menyesal telah melakukan hal ini."

Harus aku akui kalau ucapan Donghae lebih tegas dari ucapan Appa. Aku bisa melihat binar kepuasan melintas sesaat di mata Appa atas jawaban Donghae. Tapi bukan berarti ini sudah selesai, karena nyatanya Appa masih menatap tajam tepat ke mata Donghae.

Aku tahu apa yang sedang Appa lakukan, mencari kepastian. Appa pasti ingin memastikan kalau ucapan Donghae tadi bukan hanya bualan. Karena Appa selalu percaya kalau perkataan yang bisa dipercaya hanya 'perkataan' yang diucapkan oleh mata seseorang.

"Baiklah aku percaya pada ucapanmu, jangan sampai kau menyia-nyiakan kepercayaan ini. Karena, aku tidak yakin akan memberimu kesempatan kedua." Ucap Appa, dan terasa jelas jika suasana di ruangan ini sudah tidak tegang seperti sebelumnya.

"Terima kasih, Songsaenim!"

"Tapi-" Aku kembali menegang saat Appa kembali menampilkan raut seriusnya yang juga membuat suasana kembali menjadi kaku. Aku pikir ini semua sudah selesai.

"-Kau jangan berbicara terlalu kaku di luar lingkungan sekolah, aku jadi merasa sangat tua dan kolot. Aku akan lebih menghargai jika kau mau berbicara seperti dengan keluargamu sendiri saat di luar lingkungan sekolah."

Aku bisa melihat Donghae menghembuskan napas dan menyunggingkan senyum lega. Aku tahu dia sangat tenang dan senang sekarang, karena aku juga merasakan hal yang sama. Aku merasa sangat lega dapat kembali merasakan suasana yang relax seperti ini setelah berdiam diri dalam waktu yang tidak singkat di suasana kaku tadi.

"Tentu, Hangeng-Songsaenim,"

Tidak ingin membuang kesempatan emas untuk segera kabur secepatnya, aku langsung bertanya dengan wajah memelas pada Appa.

"Jadi, aku bisa pergi sekarang, kan, Appa?"

Appa menatapku dan tersenyum saat mendengar ucapanku. Well, sepertinya aku mendapat sinyal yang cukup baik. Appa mengangkat tangannya dan mengelus pelan rambutku.

"Kau boleh pergi. Tapi ingat, jangan pulang terlalu malam."

Aku cemberut, karena perlakuan Appa, ayo lah, saat ini aku sudah bukan anak kecil lagi!

"Yak! Appa! Aku sudah besar. Tapi tenang saja, aku akan pulang cepat." Ucapku sambil menepis pelan tangan Appa yang masih bertengger di kepalaku.

Aku hanya bisa merenggut kesal saat melihat Appa dan Eomma -yang sedari tadi hanya diam saja melihat interaksi Appa dan Donghae- malah menertawakan aku, dan kekesalanku semakin besar ketika menyadari jika Donghae justru terkekeh pelan melihat interaksiku dengan Appa.

"Hah, kalian menyebalkan! Aku pergi saja!"

Tanpa menunggu reaksi dari Appa, Eomma atau Donghae, aku langsung berdiri dan berjalan keluar dengan menghentak-hentakkan kakiku. Kekanak-kanakan memang, tapi inilah aku saat aku berada di dalam lingkungan keluargaku.

Aku terus berjalan dan meninggalkan Donghae di dalam bersama Appa dan Eomma sambil menenangkan debaran jantungku yang entah kenapa tiba-tiba menjadi semakin tidak terkendali saat melihat raut wajah Donghae sesaat sebelum aku pergi.

'Saat tertawa, dia sangat tampan…,'

Aku menggeleng pelan saat pikiran aneh merasuki otak-ku, entah kenapa sejak aku berpacaran dengan Donghae, aku semakin sulit mengendalikan detak jatungku dan akhir-akhir ini hal itu terjadi semakin sering dan parah. Aku khawatir kalau ini gejala kalau aku sakit jantung.

.

.

.

# # #

.

.

.

#Lee Donghae POV

Aku tersenyum lembut saat melihat Hyukkie pergi dengan wajah yang merah membara, entah karena marah atau malu.

Hanya Eunhyuk, hanya Lee Hyukjae yang bisa membuat aku seperti ini, aku tahu itu. Dan aku juga tahu kalau perasaanku pada Hyukkie bukan main-main, tapi ini adalah perasaan yang sesungguhnya, perasaan yang tulus keluar dari hatiku. Bukan perasaan yang selalu diumbar dan dikhianati dengan mudah oleh orang-orang seumuranku lainnya.

"Donghae-ah, masih ada yang ingin aku bicarakan denganmu."

Saat mendengar suara Hangeng-seongsaenim aku segera mengurungkan niatku untuk segera bangun dan menyusul Hyukkie. Aku menatap lurus ke arah Hangeng-seongsaenim. Dari sikap Hangeng- saat ini aku tahu kalau ini adalah suatu hal yang penting.

"Bukannya aku tidak percaya padamu. Tapi aku ingin bertanya sekali lagi, apa kau serius dengan semua ini?"

Tanpa perlu berpikir panjang, aku sudah tahu jawaban yang harus aku katakan.

"Aku sangat serius Seongsaenim, aku adalah orang yang memulai semuanya dan itu semua murni pilihanku sendiri. Dan aku sudah memikirkan semuanya, semua kemungkinan bahkan sampai yang terburuk. Aku tidak akan pernah menyesal dengan keputusanku saat ini dan sejak awal aku sudah bertekad akan melakukan yang terbaik untuk Hyukkie dan hubunganku dengan Hyukkie."

"Baiklah aku percaya padamu. Tapi ingat, sekali saja kau mengecewakan aku, jangan pernah berharap kalau semua akan bisa kembali sama seperti saat ini lagi."

"Aku mengerti, Songsaenim." Ucapku dengan nada serius. Sudah aku katakan kalau aku tidak main-main bukan?

"Ya sudah, susullah Hyukkie, aku rasa sekarang dia sedang mengomel sendiri dan menahan kesal."

Aku tersenyum dan langsung bangkit dan berjalan menuju pintu.

"Dan Donghae-ah…,"

Tepat satu langkah sebelum aku keluar dari pintu masuk rumah Hyukkie, aku kembali menengok ke belakang saat mendengar Hangeng-songsaenim memanggilku lagi.

"Kau bisa memanggilku Ahjusshi jika kita sedang di luar lingkungan sekolah."

"Tentu, Hangeng-ahjusshi."

.

.

.

# # #

.

.

.

#Lee Hyukjae POV

Aku merenggut saat melihat Donghae akhirnya keluar juga dari rumah, kalau saja tadi Donghae tidak segera menunjukkan batang hidungnya, aku pasti sudah membatalkan rencana jalan-jalanku dengan Donghae dan memilih menghabiskan waktuku di rumah. Huh, aku yakin kalau tadi Appa pasti mengatakan sesuatu pada Donghae di belakangku sampai Donghae menghabiskan waktu yang tidak sebentar di dalam sana sementara aku sudah menunggu sendiri di sini.

Aku menatap sinis pada Donghae yang dengan ringanya masuk ke kursi pengemudi dan menjalankan mobil tanpa mengatakan apa-apa padaku yang sudah menunggunya sangat lama.

"Jangan menatapku seperti itu." Aku menghela napas pelan, enggan membalas ucapannya, aku lebih memilih mengendalikan ekspresiku agar menjadi lebih biasa dan mengalihkan tatapanku ke luar.

Awalnya aku ingin tidak peduli, tapi sepertinya rasa penasaranku sudah sangat besar, jadi dari pada aku mati karena penasaran aku lebih memilih untuk menuruti rasa penasaranku untuk menanyakannya langsung pada Donghae.

"Apa yang kau dan Appa bicarakan tadi?" Aku kembali menatap tajam ke arah Donghae yang sekarang sedang fokus menyetir.

"Bukan sesuatu yang penting." Ucapnya dengan nada datar tanpa menatapku –yah mungkin ini karena dia sedang menyetir, dan itu membuat aku kembali merasakan kesal yang sudah sempat menghilang dari diriku.

"Katakan apa itu!" Well, aku sudah penasaran dan aku harus mengetahui semuanya. Kali ini Donghae menoleh sesaat ke arahku, dan dia menghela napas pelan sebelum menjawab.

"Dia memberiku sedikit peringatan." Aku mengangguk pelan mendengar jawabannya, walaupun tidak terlalu jelas untuk orang lain, tapi itu sudah cukup jelas untukku.

"Kau beruntung Kangin-hyung sedang tidak di rumah." Gumamku pelan.

Donghae tertawa pelan ketika mendengar gumamanku yang sebenarnya tidak cukup pelan untuk merahasiakan apa yang aku gumamkan pada dia, dan aku memang tidak bermaksud merahasiakannya sama sekali.

"Kau benar-"

Yah, memang kalau Kangin-hyun ada, dia pasti tidak akan langsung percaya begitu saja pada Donghae, pasti Kangin-hyung akan jauh lebih sulit dari pada Appa, dan aku sangat yakin kalau aku akan berkencan dengan dia yang wajahnya sudah mendapat 'hiasan' langsung dari tangan Kangin-hyung.

"Tapi, aku tahu walaupun tadi ada Kangin-hyungmu, aku pasti tetap bisa meyakinkan dia."

Aku mencibir pelan mendengar jawabannya, yah, aku juga tahu kalau -Walaupun ada Kangin-hyung- semua akan tetap berakhir sama. Entah apa yang akan Donghae katakan atau lakukan, tapi aku tahu dia bisa meyakinkan Kangin-hyung.

"Jadi, sekarang kita akan pergi kemana?"

Aku memang tidak tahu dia akan mengajakku ke mana, jangankan tempat tujuan kencan ini –yang bisa dibilang kencan pertamaku dengan Donghae-, aku bahkan tidak tahu kalau hari ini dia akan datang ke rumahku dan dengan gamblangnya berkata pada Appa kalau dia ingin mengajak aku kencan, seakan-akan dia adalah makhluk paling tidak berdosa di dunia.

"Kau punya ide?"

"Aku tidak punya ide, bagaimana bisa kau mengajakku kencan tanpa pemberitahuan dan tanpa tujuan seperti ini?"

Dia hanya mengangkat bahu dan tersenyum sambil menoleh ke arahku. Beruntunglah dia karena di sekitarku tidak ada benda yang bisa aku lempar ke mukanya, sungguh senyuman dia sangat membuat aku kesal!

.

.

.

.

.

Pada akhirnya kami pergi Amusement Park, yah, ini tidak buruk, mengingat taman hiburan adalah salah satu tempat yang paling aku suka di dunia. Donghae berjalan sambil menggenggam tanganku. Yah, aku sendiri sih tidak keberatan. Entah kenapa, genggaman tangan Donghae terasa hangat dan nyaman.

Kami mencoba banyak permainan bersama. Sebenarnya aku sedikit berharap dia takut bermain roller coster…, entah aku harus kecewa atau malu jika ingat permainan tadi.

Saat itu aku sangat senang bermain roller coster dan teriak sepuasnya tanpa memedulikan sekitarku, dan saat kereta melambat, jantungku hampir saja keluar dari tubuhku saat aku menengok ke arah Donghae dan menemukan jika dia sedang menatapku dalam dengan senyuman terpoles indah di wajahnya.

Dan itu berakhir dengan aku yang buru-buru keluar dari roller coster begitu saja dan meninggalkan dia dengan alasan ingin membeli minum.

.

.

.

.

.

Maka di sinilah aku sekarang, menunggu Donghae dengan menahan kesal di salah satu stand minuman yang pertama kali aku temukan sendirian. Aku tekankan sekali lagi, SENDIRIAN. Entah ke mana perginya ketua OSIS sombong itu. Aku pikir dia akan langsung menyusulku, huh awas saja jika dia ternyata tergoda oleh puluhan gadis centil yang entah kenapa selalu ada di sekitarnya itu.

Aku terus mengetuk-ngetukan jariku di meja tempat aku duduk sambil menahan bosan dan kesal.

'Huh kalau tahu seperti ini lebih baik aku pulang saja.'

Aku baru saja berdiri saat merasakan sebuah lengan melingkar di pinggangku da sebuah kecupan mendarat di pelipisku dan di detik selanjutnya aku sudah melihat wajah menyebalkan ikan cucut -yang sudah membuatku menunggu untuk yang keduakalinya dalam satu hari ini- di hadapanku.

Dan sebelum aku bisa membuka suara dan mengutarakan kekesalanku, sekali lagi aku merasa jantungku hampir copot saat melihat kyuhyun sedang menatap tajam ke arahku, dan tepat di sampingnya, aku bisa melihat Sungmin melingkarkan tangannya di lengan Kyuhyun.

Sungguh tatapan mata itu membuatku ingin menghilang dari tempat ini sekarang juga.

.

.

.

.

.

Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Sebelumnya, aku sedang pergi kencan dengan Donghae, lalu tiba-tiba Donghae menghilang dan kembali dengan membawa pasangan KyuMin bersamanya.

Dan sekarang, aku berakhir dengan duduk berdua dengan Kyuhyun di café sedangkan Minnie pergi untuk membeli makanan atas permintaan Kyuhyun karena café ini memang tidak menyediakan makanan –tapi aku curiga Kyuhyun memiliki maksud lain, dan Donghae yang baru saja pergi ke toilet.

Sungguh, aku sama sekali tidak pernah mengharapkan jika kencan pertamaku akan seperti ini. Ini sama sekali bukan situasi yang aku inginkan. Di mana kekasihku pergi ke toilet dan aku tidak bisa melakukan apa pun di bawah tatapan penuh intimidasi dari kekasih orang lain yang juga berstatus sebagai selingkuhanku.

Ck, menyebalkan. Dan membingungkan.

"Bisakah kau berhenti memberi glare padaku, Kyu?" Aku semakin merasa jengah saat menyadari Kyuhyun sama sekali tidak menghilangkan glarenya padaku.

"Terserah kau, aku mau ke toilet."

Sebelum aku bisa melangkah lebih jauh dan kabur dari hadapan Kyuhyun, aku bisa merasakan ada seseorang yang menahan lenganku dan aku hanya bisa mendecak saat menyadari itu adalah tangan Kyuhyun. Di saat seperti ini, siapa lagi?

"Diam di sini!" Aku hanya memutar bola mataku karena kesal saat mendengar ucapannya yang penuh dengan nada perintah. Dia pikir aku akan takut?

"Jangan kekanakan, Kyu. Kenapa kau semarah ini? Aku bahkan tidak marah melihat kemesraanmu dengan Sungmin!" Aku semakin kesal saat Kyuhyun sama sekali tidak menjawab pertanyaanku dan malah bertingkah seakan dia mengabaikan ucapanku.

Dengan rasa kesal aku menghentakkan tanganku dan berniat pergi dari hadapannya saat itu juga. Entah kenapa saat ini aku menjadi sangat kesal dan benar-benar tidak ingin melihat wajah Kyuhyun. Tapi, sekali lagi aku di buat kaget saat merasakan Kyuhyun menarik tanganku dan menyeret aku keluar dari café itu begitu saja.

Kyuhyun membawaku ke samping café yang memang tidak mungkin di lalui oleh orang, sepertinya tempat ini dijadikan jalan masuk yang digunakan oleh pekerja yang langsung menuju dapur café. Setelah yakin kalau Kyuhyun tidak akan menarik aku lagi, aku menghentakkan tanganku. Aku sudah siap berteriak padanya. Tapi, hanya dalam satu detik, Kyuhyun membuat aku membatalkan niatku.

Saat ini aku hanya bisa diam dan membiarkan Kyuhyun memeluk aku sepuasnya, karena dari pelukannya aku tahu kalau Kyuhyun sedang dalam keadaan kalut sekarang. Aku tahu dan aku mengerti apa yang Kyuhyun rasakan, karena aku sadar juga merasakan hal yang sama seperti dia.

"Bisakah kau jangan terlalu mesra dengan Donghae? Setidaknya saat kau tahu jika aku bisa melihatnya?"

"Maafkan aku, tapi seperti yang kau tahu, aku tidak bisa menolak Donghae." Aku bisa mendengar Kyuhyun menarik napas dan perlahan dia melepaskan pelukannya di tubuhku.

Wajah Kyuhyun sangat berantakan, dan aku membencinya. Aku lebih suka Kyuhyun yang berkharisma seperti biasanya, bukan Kyuhyun yang seperti ini.

"Kita harus kembali sekarang, aku takut Sungmin atau Donghae kembali dan tidak menemukan kita di tempatnya." Ucapku tanpa menatap ke arahnya.

Dan aku lebih membenci diriku sendiri yang sudah kejam padanya di saat dia kacau. Tapi aku tidak memiliki pilihan, aku tidak ingin salah satu dari mereka curiga. Kyuhyun hanya mengangguk dan kemudian pergi meninggalkanku di belakangnya dan hanya bisa menatap punggung Kyuhyun yang entah kenapa terlihat sangat rapuh.

Tepat saat aku dan Kyuhyun baru saja duduk di tempat semula kami, Donghae kembali dan langsung duduk di sampingku. Aku hanya bisa berdo'a semoga dia tidak menyadari keganjalan yang ada diantara aku dan Kyuhyun. Hanya beberapa saat setelah Donghae kembali, Sungmin datang dengan sekantong makanan di tangannya.

Dan siang itu aku menghabiskan makananku tanpa bisa menatap mata Kyuhyun maupun Donghae. Dan terus berdo'a agar keadaan tidak akan menjadi lebih buruk.

Sepertinya hari ini ada banyak hal yang terjadi.

.

.

.

.

.

Tbc

a/n: yang penasaran sama akhir kencan mereka, silahkan berfantasi sepuasnya #dibakar# maafin Vi-chan yang amat yeppo dan sedikit kyeopta ini karena menghilang seenaknya. Sebenernya sesuai janji aku mau up load ff ini di ultah taeminnie…, tapi ternyata aku mendadak bego dan gak bisa bikin ff…,

dan Vi harap semoga bakal ada readers yang tetep inget sama ff ini setelah ini, soalnya Vi gak mungkin up date cepet…, soalnya Vi mau sedikit lebih serius belajar…, #semoga Vi bisa#

dan aku dah janji gak mau up date atau baca ff yang berhubungan dengan yaoi di bulan puasa #baca sering ngelanggar sih…, tapi yang aman# dan katanya ada penghapusan ff ya? Padahal Vi ngarep ff ini kehapus biar gak usah dilanjutin loh! Tapi harapan Vi tidak tercapai…,#pundung#

dan biar gak di hapus admin pusat…, aku mau berhenti ngelanggar guildness dan gak ngasih balasa review Cuma thanks aja…, gak papa ya?

Big thank's for:

Kyukyu| Anchofishy| Chwyn| ressijewelll| asdfghjklhyuk| Kaguya| Bunnyminimi Cloudsomnia| hyukhyuk| CieZie kyuhyunnie AdmrHyukkie| sora tuing-tuing| Rizki| dhianelf4ever| Anchofy| FinEvil7|

Dan sekali lagi, maaf atas keterlambatan up date-nya, dan maaf karena chap ini pendek…,dan juga maaf karena typo(s) nya

Dan Vi-chan yang unyu-unyu ini mau nanya…, siapa yang mau ff ini berakhir sad anding dan sapa yang mau happy ending?

Berhubung ini aku nyontek dari kisah nyata dan di dunia nyata akhir kisah mereka gantung, jadi aku mau bikin ending sendiri…, siapa yang mau sad ending? Happy ending?

.

.

.

DON'T BE SILENT READER! XD