You're Mine
Chapter 6
Oh Sehun and Xi Luhan (GS)
AU, Romance || Chaptered
2015©Summerlight92
.
.
.
Tak terasa sudah 1 minggu Luhan tinggal di rumah Sehun.
Pagi ini, Luhan terlihat menuruni tangga dengan mata setengah terpejam. Sesekali ia menutup mulutnya yang menguap lebar karena rasa kantuk yang kembali menyerang. Luhan tak peduli bagaimana penampilannya sekarang, rambut yang masih berantakan, dan wajah khas orang bangun tidur. Sebab perutnya sudah minta diisi ketika ia terbangun beberapa menit yang lalu.
"Apa tidurmu nyenyak?"
Suara itu sukses menghentikan langkah kaki Luhan.
Ia menoleh. Sepasang mata rusanya terpaku pada Sehun yang sedang duduk di ruang makan. Laki-laki itu sudah berpenampilan rapi dengan pakaian khas orang kantoran. Kemeja putih polos dengan dasi motif garis, lalu dipadu bawahan celana hitam. Rambut hitamnya sedikit ditata ke atas dengan sentuhan gel. Wajah Sehun tampak segar, apalagi dengan aroma parfum yang menguar dari tubuhnya. Sangat fresh tapi kental akan aroma maskulin.
Luhan tertegun. Untuk sesaat ia serasa terhipnotis oleh penampilan Sehun yang menurutnya luar biasa tampan ini.
"Kau kelaparan, ya?" Sehun mengamati penampilan Luhan dari atas hingga bawah. "Begitu bangun langsung ke sini."
Lamunan Luhan seketika buyar. Buru-buru ia memperhatikan penampilannya dan saat itu juga, ia merasa malu. Dibandingkan Sehun yang terlihat dewasa, ia malah terlihat seperti remaja malas dengan rambut acak-acakan, kaos kusut, dan hot pants.
Tak ingin semakin malu, Luhan memutar arah. Berniat meninggalkan ruang makan.
GREP!
Tiba-tiba sesuatu menahan langkah kakinya. Luhan menoleh dan mendapati Sehun sedang mencekal pergelangan tangannya. Luhan menunduk ketika merasakan tangan Sehun bergerak-gerak di atas kepalanya.
"Begini lebih baik," Sehun menatap puas pada hasil kerjanya yang merapikan rambut Luhan. Ia pandangi gadis itu yang masih menunduk. Sehun bisa melihat rona merah menghiasi pipi Luhan.
CUP!
Dalam sepersekian detik, Sehun mengecup pipi Luhan, membuat gadis itu mendongak ke arahnya dengan mata membulat sempurna.
"Tak peduli bagaimana penampilanmu, bagiku kau selalu terlihat cantik," ucap Sehun dengan senyum nakalnya.
BLUSH!
Luhan tidak tahu lagi harus berkata apa. Mendadak ia seperti lupa bagaimana caranya bernapas. Ya Tuhan, apa barusan Sehun memujiku?
"Ayo, kita sarapan," Sehun menuntun Luhan mengikutinya kembali ke ruang makan. Lalu ia menarik salah satu kursi untuk Luhan tempati—tepat di sebelahnya.
Luhan tidak memberikan penolakan ketika Sehun dengan senang hati mengoleskan selai ke atas roti—menyiapkan sarapan untuknya. Luhan mulai terbiasa dan sejujurnya ia menyukai itu. Ia akui dirinya sangat menyukai semua bentuk perhatian yang Sehun berikan padanya. Entah sejak kapan perasaan itu muncul, tetapi setelah pembicaraan Luhan dengan ibunya beberapa hari lalu, Luhan seperti mendapat pencerahan.
Hatinya terasa menghangat setiap kali ia berada di dekat Sehun.
Hatinya selalu berbunga-bunga setiap kali ia menerima perhatian dari Sehun.
Hatinya pun selalu berdebar-debar setiap kali Sehun memberikan sentuhan lembut untuknya.
"Apa rencanamu hari ini?"
Luhan yang sedang menikmati sarapannya sedikit tersentak mendengar pertanyaan Sehun. Dilihatnya laki-laki itu sedang menyesap secangkir kopi yang sudah dihidangkan.
"Ngg ..." Luhan berpikir sebentar. "Aku ingin jalan-jalan saja."
"Ke mana?" tanya Sehun ingin tahu.
Luhan menggeleng, "Belum tahu. Tapi, aku ingin pergi naik angkutan umum."
Sehun tampak keberatan, "Tidak. Kau pergi diantar Jiyoung. Biar aku membawa mobilku sendiri."
"Tapi—"
"Tidak ada penolakan!" Sehun berucap dengan tegas. "Aku tidak mau kejadian sebelumnya terulang lagi."
Luhan terdiam sejenak, kemudian ia kembali memperlihatkan senyuman terbaiknya. Dalam hati Luhan merasa senang. Tidakkah sifat Sehun barusan seperti kekasih yang protektif?
"Baiklah ..." Luhan akhirnya menuruti kemauan Sehun. Batinnya ingin menolak, tetapi jika berhubungan dengan perhatian yang diberikan lelaki itu, entah mengapa Luhan tidak mampu untuk berkata 'tidak'.
Sehun tersenyum melihat kelakuan Luhan yang penurut. Ia pun segera menyelesaikan sarapannya, tak ingin berlama-lama karena khawatir nantinya ia malah membolos untuk tidak pergi bekerja. Luhan terlalu menggemaskan dengan penampilannya yang seperti remaja itu.
"Aku berangkat dulu. Nanti kutelepon," Sehun mengusap lembut rambut Luhan, lalu mendaratkan kecupan di kening gadis itu. "Lekas mandi. Kau bau," bisiknya dengan nada mengejek.
"YA!" Sebelum mendapat amukan Luhan, Sehun sudah berlari lebih dulu menyelamatkan diri. Tawanya pecah memenuhi seisi rumah, membuat Luhan semakin tertunduk malu. Apalagi ada beberapa pelayan dan juga Bibi Jung yang sempat melihat kegiatan mereka di ruang makan.
"Menyebalkan," desis Luhan. Namun ia tak bisa menyembunyikan senyum yang kian merekah di bibirnya. Sekali lagi, Luhan merasakan kebahagiaan ketika Sehun memberikan perhatian untuknya.
Bolehkah aku berharap jika hubungan kita menjadi kenyataan, Oh Sehun?
.
.
.
"Kau sudah mengumpulkan informasi yang kuminta?"
Jihoo mengangguk. Saat ini ia sedang menghadap Sehun yang baru saja tiba di kantor. Jujur, ia sempat kaget ketika mendapat perintah dari Sehun untuk menyelidiki Kris Wu—yang diketahuinya berstatus sebagai pimpinan Wu Corporation di cabang Korea.
"Maaf jika saya baru memberikannya sekarang, Tuan," ucap Jihoo merasa bersalah. Seharusnya ia bisa memberikan laporan itu beberapa hari yang lalu. Namun Jihoo ingin mendapatkan informasi itu sebanyak-banyaknya dan selengkap-lengkapnya. Jadilah ia membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan permintaan Sehun.
"Tidak masalah," Sehun merespon dengan santai. "Setidaknya kau mendapatkan data yang banyak dan lengkap. Benar begitu?"
Jihoo mengangguk. Ia pandangi atasannya yang mulai membaca hasil laporannya tentang Kris.
"Nama aslinya Lu Yifan, lalu berganti marga setelah diangkat menjadi anak oleh Wu Shuhuan, pendiri Wu Corporation." Sehun sedikit melebarkan matanya. "Dia anak angkat Wu Shuhuan?"
"Iya, Tuan. Dari informasi yang saya dapatkan, Tuan Kris memang anak angkat dari pendiri Wu Corporation. Beliau diadopsi oleh Wu Shuhuan dan istrinya saat berusia 15 tahun. Tepatnya setelah orang tua kandungnya meninggal."
Dengan sedikit tergesa-gesa, Sehun membuka lembaran laporan tersebut. Ingin mencari data mengenai orang tua kandung Kris.
"Ayah kandungnya seorang pengangguran, gemar berjudi, dan bermabuk-mabukan. Ibu kandungnya bekerja sebagai pelayan keluarga Wu Shuhuan." Sehun melotot. "Jadi, orang tua angkatnya—"
"Benar, Tuan," Jihoo tersenyum tipis saat melihat ekspresi kaget di wajah Sehun. "Sejak kecil, Tuan Kris ikut ibu kandungnya yang bekerja sebagai pelayan dan tinggal di rumah keluarga Wu. Beliau sendiri sudah dianggap anak oleh Presdir Wu beserta istrinya. Presdir Wu Shuhuan dan istrinya tidak mempunyai anak, dan beliau membutuhkan seorang penerus. Itulah alasan mengapa mereka mengadopsi Tuan Kris yang waktu itu menjadi yatim piatu setelah kematian orang tuanya."
Sehun mengangguk-anggukan kepalanya. Ia kembali membaca laporan mengenai Kris. Ketika Sehun membaca penyebab kematian orang tua kandung Kris, wajah Sehun seketika berubah pucat.
"I-Ini ..."
"Tuan?" Jihoo menyadari perubahan wajah Sehun.
"Apa ini benar?" Sehun bermaksud meminta kejelasan dari Jihoo. "Ibu kandungnya tewas di tangan ayah kandungnya sendiri?"
Jihoo mengangguk kaku, "Iya, Tuan. Kemudian ayah kandungnya—"
"Cukup!" Sehun menutup laporan yang sedang dibacanya itu. Ia meletakkan berkas itu di atas mejanya, memilih menyudahi kegiatannya yang mengorek informasi tentang Kris. "Terima kasih sudah membantuku."
Jihoo tetap bergeming. Ia masih penasaran dengan tujuan Sehun menyuruhnya mencari informasi seputar Kris. "Tuan, bolehkah saya tahu alasan Anda menyelidiki Tuan Kris?"
Sehun terdiam sejenak, sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Kau jangan khawatir. Ini masalah pribadi. Sama sekali tidak ada hubungan dengan pekerjaan."
Jihoo tersenyum lega.
"Jam berapa kita mengadakan pertemuan dengan pihak Wu Corporation?" tanya Sehun teringat akan agenda pekerjaannya hari ini.
"Kurang lebih sekitar 2 jam lagi, Tuan."
"Baiklah, kau boleh keluar," ucap Sehun mempersilakan Jihoo meninggalkan ruangannya. Lelaki itu pun membungkuk sopan dan berjalan keluar dari ruangan Sehun.
Sepeninggalan Jihoo, Sehun menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang ia duduki. Matanya kembali menatap berkas informasi yang baru saja diterimanya dari Jihoo. Pikiran Sehun kacau setelah mengetahui fakta mengejutkan dari mantan kekasih Luhan itu.
.
.
.
"Kau boleh pulang."
Jiyoung tetap bergeming. Bagaimanapun ia sudah berjanji pada Sehun dan juga dirinya sendiri untuk tetap menemani Luhan ke manapun gadis itu pergi. Sesaat yang lalu, ia mengikuti Luhan ketika gadis itu sibuk menjelajah pusat kota Seoul. Kini mereka sudah berhenti di depan kedai minuman bubble tea, dan Luhan sepertinya mulai jengah karena terus-menerus diikuti oleh Jiyoung.
"Tapi Nona, saya sudah berjanji pada Tuan Sehun untuk selalu mengikuti Anda," Jiyoung menarik napas sejenak, "ke manapun Anda pergi."
"Aku tahu," Luhan tersenyum senang, "Tapi kau terlihat kelelahan, Jiyoung. Aku tidak mau kau jatuh sakit."
Jiyoung tertegun. Tidak menduga jika kekasih tuannya itu mengetahui kondisinya yang memang sedang tidak cukup fit. "Nona ..."
"Pulang dan beristirahatlah," bujuk Luhan. "Masalah Sehun, biar nanti aku yang memberitahunya. Lagi pula sekarang aku sudah mempunyai ponsel. Aku bisa menghubungi Sehun, begitu juga sebaliknya. Aku jamin kejadian sebelumnya tidak akan terulang lagi."
Jiyoung terdiam cukup lama. Keraguan masih tercetak jelas di wajahnya. Namun melihat wajah meyakinkan Luhan, Jiyoung tak bisa berbuat banyak. Hatinya tersentuh atas kebaikan Luhan yang ikut memikirkan kondisinya. Sungguh, Jiyoung merasa senang karena tuannya memiliki kekasih sebaik Luhan.
"Baiklah, Nona. Saya akan pulang," Jiyoung menuruti ucapan Luhan, "Mohon Nona untuk selalu berhati-hati."
Luhan mengangguk, "Aku tahu. Hati-hati saat mengemudi. Sampai di rumah, kau harus beristirahat. Mengerti?"
Jiyoung tersenyum dengan anggukannya. Laki-laki itu pun masuk ke mobil, hingga perlahan mobil itu bergerak meninggalkan Luhan yang masih berdiri di depan kedai.
Setelah memastikan kepergian Jiyoung, Luhan bergegas memasuki kedai minuman bubble tea tersebut.
"Selamat datang," sambutan dari pelayan kedai dibalas senyuman oleh Luhan. Gadis itu melangkah mendekati meja pemesanan.
"Anda mau memesan apa?" tanya pelayan itu dengan ramah.
"Ah, tunggu sebentar," ucap Luhan sambil berisyarat dengan tangannya. Ia masih mengamati papan menu yang ada di belakang pelayan. Ada berbagai jenis bubble tea yang dijual di kedai tersebut.
Kedai minuman bubble tea yang didatangi Luhan itu memang belum lama dibuka—kurang lebih sekitar 3 tahun. Berkat respon positif dari pembeli, sekarang kedai tersebut termasuk salah satu kedai minuman bubble tea favorit di pusat kota Seoul. Apalagi lokasinya yang terbilang strategis, yakni berada di sekitar area sekolah dan kampus.
"Aku pesan bubble tea rasa Taro saja," ucap Luhan pada pelayan.
"Baik, tunggu sebentar."
Luhan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sebagian pengunjung adalah kalangan muda, mulai dari anak sekolah sampai mahasiswa. Meski baru pertama kali datang, Luhan langsung menyukai suasana di tempat tersebut.
"Ini pesanan Anda, Nona."
"Oh, terima kasih," balas Luhan ramah.
"Sama-sama," pelayan itu tersenyum. "Ngg ... maaf, Nona. Kalau boleh tahu, apakah Anda orang China?"
"Eh, bagaimana kau bisa tahu?"
Pelayan itu tersenyum, "Karena caramu berbicara bahasa Korea mengingatkanku pada pemilik kedai ini. Kebetulan dia juga orang China dan sudah cukup lama tinggal di sini. Bahkan sampai menikah dengan orang Korea."
"Benarkah?" Tiba-tiba saja Luhan menjadi penasaran dengan pemilik kedai tersebut. "Boleh aku bertemu dengannya?"
"Tentu saja. Kebetulan dia sedang ada di sini. Bersama putri kecilnya yang baru lahir," Luhan terkekeh karena pelayan itu termasuk banyak bicara—dalam artian gemar berbagi cerita tentang orang lain. Tentunya yang bersifat positif.
Luhan memilih duduk di tempat yang berdekatan dengan meja pemesanan tadi. Ia mulai meminum bubble tea yang sudah dipesannya. Jemari tangannya sesekali bermain di atas meja—sekedar menghilangkan rasa bosannya selagi menunggu kedatangan pemilik kedai itu.
"Di mana dia?" Samar-samar Luhan mendengar suara lain di belakangnya.
"Ah, dia duduk di sana," Luhan langsung berdiri setelah yakin bahwa suara itu adalah suara gadis yang melayani pesanannya tadi. Ia pun berbalik, siap untuk bertemu dengan pemilik kedai tersebut. Mata Luhan tiba-tiba membulat sempurna saat melihat sosok perempuan yang berdiri di depannya.
"Yixing-jie?"
Reaksi perempuan itu pun tak jauh berbeda, "Luhan?"
Sungguh di luar dugaan, ternyata pemilik kedai tersebut adalah teman yang sempat ingin ditemui Luhan sesampainya di Korea.
.
.
.
Sehun membubuhkan tanda tangannya pada kontrak kerjasama yang ditawarkan Kris, selaku CEO dari Wu Corporation untuk cabang Korea. Setelah berdiskusi selama hampir 2 jam, mereka pun mencapai kesepakatan bersama dan pertemuan itu diakhiri dengan penandatanganan kontrak kerjasama.
"Semoga kerjasama kita bisa berjalan baik, Sehun-ssi." Kris mengulurkan tangannya ke arah Sehun lebih dulu. Wajahnya menyiratkan kelegaan yang luar biasa atas hasil dari pertemuan mereka.
Sehun tersenyum tipis dan menyambut uluran tangan Kris. "Ya, semoga saja. Senang bisa bekerja sama denganmu, Kris-ssi."
Kris tersenyum puas, tanpa menyadari gelagat Sehun yang sedari tadi menahan sikap dinginnya.
Ayolah, di depan Sehun sekarang berdiri sosok mantan kekasih Luhan—gadis yang sekarang berstatus sebagai kekasihnya. Meskipun belum sah secara resmi, sebab masih terhalang akan sandiwara yang sedang keduanya mainkan.
Dan lagi, beberapa jam lalu Sehun sudah mengetahui semua tentang Kris. Satu-satunya yang belum Sehun pastikan adalah alasan Kris memutuskan hubungannya dengan Luhan. Firasat Sehun mengatakan, kemungkinan alasannya berkaitan dengan masa lalu laki-laki itu.
Sehun menebak jika Luhan pasti tidak tahu seperti apa masa lalu Kris—yang kini telah ia ketahui dari laporan yang dikumpulkan Jihoo.
"Kalau kau tidak keberatan, bagaimana jika kita makan siang bersama?" tawar Kris. "Anggap untuk merayakan keberhasilan pencapaian kesepakatan kita dalam pertemuan kali ini."
Sehun mendongak, cukup kaget dengan ajakan Kris.
"Terima kasih tawaranmu, Kris-ssi. Tapi ... maaf. Aku sudah ada janji dengan seseorang," tolak Sehun dengan halus.
"Ah, pasti seseorang yang sangat spesial," Kris tersenyum paham melihat ekspresi Sehun. "Kekasihmu. Right?"
Sehun mengangguk. "Ya, dia kekasihku," jawabnya dengan bangga. Dalam hati ia menyeringai—dan dia adalah mantan kekasihmu.
"Sudah kuduga," Kris tertawa kecil. "Orang seperti dirimu tidak mungkin belum mempunyai kekasih."
Sehun tersenyum tipis. Melihat Kris dan sekertarisnya sudah berdiri, Sehun ikut berdiri dari kursinya. Hal serupa juga dilakukan Jihoo. Laki-laki itu langsung berjalan mendekati Sehun, lalu berdiri di belakangnya.
"Mungkin lain waktu kita bisa makan bersama, Sehun-ssi," Kris kembali menawarkan ajakan makan bersama. "Dan kau bisa mengajak kekasihmu itu."
Aku tidak yakin akan mengajak Luhan untuk bertemu denganmu. Sehun hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
Mereka pun berpamitan. Sehun menyuruh Jihoo untuk mengantarkan Kris dan sekertarisnya keluar meninggalkan ruangan.
Sehun menatap datar pada pintu ruangan yang sudah tertutup. Mereka sudah pergi dan kini hanya ada dirinya yang masih tinggal dalam ruangan. Sehun menjatuhkan tubuhnya kembali di atas kursi, lalu melonggarkan simpulan dasinya. Ia menghela napas panjang, sembari memijat pelipisnya.
Sehun kembali menilai bagaimana sosok Kris. Menurutnya, laki-laki berambut pirang itu memang tergolong tampan. Apalagi perawakannya yang lebih tinggi dari Sehun—sangat proporsional layaknya seorang model. Sehun pun menilai jika Kris orang yang cerdas dan memiliki kepribadian yang baik.
Hanya saja, Sehun tak pernah mengira jika orang seperti Kris mempunyai masa lalu yang terbilang kelam.
DRRT! DRRT!
Sehun menyambar ponselnya yang mendapat panggilan masuk dari Joonmyun.
"Halo?"
"Sehun, apa kau sibuk?"
"Tidak, Hyung. Kebetulan pekerjaanku sudah selesai. Aku baru mau keluar untuk menikmati makan siang. Ada apa?" tanya Sehun keheranan.
"Kebetulan sekali. Istriku baru saja meneleponku. Dia menyuruhku untuk mengundangmu makan siang di apartemen kami. Kau mau?"
"Benarkah?" Sehun menimang-nimang sejenak. Lalu seulas senyum merekah di bibirnya. "Baiklah, aku mau. Sekalian aku ingin melihat putrimu yang baru lahir."
"Bagus. Kita bertemu di sana. Sampai nanti."
"Ya, sampai nanti, Hyung."
PIP!
Sehun memandang layar ponselnya selama beberapa detik. Secepat kilat ia menghubungi Luhan, bermaksud mengajak gadis itu untuk ikut memenuhi ajakan makan siang Joonmyun. Sehun terus menunggu, namun sampai panggilan ketiga, Luhan tak kunjung menjawab panggilannya.
"Ya ampun, ke mana lagi gadis itu?" gerutu Sehun kesal. Lagi, ia kembali merasa gelisah. Tetapi Sehun mencoba bersikap tenang dan memilih untuk menghubungi Luhan nanti, setelah ia sampai di apartemen Joonmyun.
.
.
Luhan memandangi bayi mungil yang tengah tertidur dalam box bayi. Entah sudah berapa lama kegiatan itu ia lakukan begitu sampai di apartemen Yixing. Sesaat yang lalu, mereka masih mengobrol di kedai bubble tea milik ibu muda itu. Namun setelahnya, Yixing mengajak Luhan berkunjung ke apartemennya, sekaligus mengajaknya makan siang.
"Jiejie, putrimu sangat cantik," Luhan berjalan keluar dari kamar putri Yixing. "Siapa namanya?"
Yixing yang masih bergelut di dapur hanya mengulum senyum, "Jinhee. Namanya Kim Jinhee."
Luhan mengangguk-angguk. Ia pun baru tahu jika suami Yixing bermarga Kim.
"Kapan kau tiba di Korea?" tanya Yixing penasaran.
"Ngg ... sekitar seminggu yang lalu, Jie," jawab Luhan sambil duduk di kursi ruang makan yang berdekatan dengan dapur. "Dan aku mencarimu di apartemen lamamu. Ternyata kau sudah pindah, bahkan sudah menikah dan melahirkan seorang putri. Huh, kau benar-benar tega tidak memberitahuku kabar bahagia itu, Jie."
Yixing meringis lebar sambil menggumamkan kata maaf. "Kenapa kau tidak menghubungiku?" tanyanya heran.
Luhan menghela napas panjang, "Setiba di Korea ponselku hilang, Jie."
"Benarkah?" Yixing menoleh dengan wajah kagetnya. "Lalu, apa yang terjadi padamu setelah itu? Sekarang kau tinggal di mana?"
"Ngg ... itu ..."
"Apa bersama Kris?"
DEG!
Yixing tak menyadari perubahan ekspresi wajah Luhan. Ibu muda itu masih fokus menyelesaikan masakan terakhirnya. Baru setelah menyadari tak ada jawaban dari Luhan, Yixing menoleh ke arah gadis itu. "Ada apa?" tanyanya bingung. Terlebih saat mendapati wajah sedih Luhan.
"Hubungan kami sudah berakhir, Jie," jawab Luhan lirih.
Yixing memekik kaget. "Sejak kapan?"
"Hampir 1 bulan."
Yixing buru-buru meletakkan peralatan masaknya setelah selesai memasak. Ia beralih sejenak pada Luhan. Yixing tahu, Luhan sedang membutuhkan teman untuk bercerita.
Luhan adalah adik kelas Yixing sewaktu mereka berada di bangku sekolah dasar. Meski usia mereka terpaut 5 tahun, baik Luhan maupun Yixing tetap menjalin komunikasi yang baik. Ketika Yixing memutuskan untuk melanjutkan studinya di Korea, Luhan sangat sedih karena harus berpisah dengan perempuan yang sudah ia anggap layaknya kakak kandung sendiri itu.
Namun mereka tak putus komunikasi begitu saja, apalagi di zaman modern seperti sekarang. Yixing terus berbagi cerita seputar kehidupannya di Korea, termasuk memberitahu alamat apartemen lamanya pada Luhan. Seandainya jika sewaktu-waktu Luhan datang berkunjung.
Yixing juga tahu mengenai hubungan Luhan dan Kris. Termasuk hubungan jarak jauh yang sempat dijalani keduanya.
"Kenapa kalian berpisah?"
"Katanya dia lelah dengan hubungan kami," Luhan menjawab dengan nada sedih. "Dia mengakhiri hubungan kami. Tepat saat hari jadi kami yang ke-3."
"APA?!" Lagi-lagi Yixing berteriak. "Keterlaluan. Dia jahat sekali melakukan itu."
"Ya, dia memang keterlaluan," Luhan tersenyum kecut. "Aku tidak percaya begitu saja dengan alasannya. Itulah sebabnya aku datang ke sini untuk menemui Kris. Aku ingin tahu alasan yang sebenarnya mengapa dia mengakhiri hubungan kami."
Yixing mengangguk-angguk, "Lalu, apa rencanamu setelah bertemu dengannya? Apakah ada kemungkinan kalian bersatu kembali?"
"Tidak, Jie. Itu tidak mungkin," Luhan berkata dengan tegas. "Beberapa waktu lalu aku melihatnya bersama seorang gadis. Kurasa dia sudah menemukan penggantiku."
"Ey, jadi dia berselingkuh?"
Luhan menggeleng sambil tersenyum lucu, "Aku tidak mau berspekulasi terlalu jauh. Walaupun sejujurnya aku sempat menangis setelah melihat kebersamaan mereka. Tapi—"
Yixing menatap Luhan yang berhenti berbicara.
"Dia terlihat bahagia saat bersama gadis itu. Jika Kris sendiri sudah menemukan kebahagiaannya, bukankah aku sendiri juga harus seperti itu, Jie?"
Yixing cukup terkejut mendengar penuturan Luhan yang terkesan bijak. Biasanya, Luhan yang ia kenal akan menangis setiap kali patah hati. Apalagi Yixing masih ingat ketika dulu Luhan begitu membanggakan sosok Kris sebagai kekasihnya. Tetapi sekarang, kenapa Luhan seolah sudah bisa menerima hubungan mereka yang telah berakhir?
"Kau ...," Yixing menatap Luhan penuh selidik. "Apa kau juga sudah menemukan pengganti Kris di hatimu?"
Pertanyaan Yixing tepat sasaran. Lihat saja bagaimana wajah Luhan sekarang. Semburat rona merah itu menghiasi pipinya, membuat wajahnya tampak menggemaskan—seperti remaja yang sedang jatuh cinta.
"Ah, jadi benar ya?" Yixing tersenyum nakal. "Kau sudah menemukan pengganti Kris?"
"I-Itu ..."
TING! TONG!
Luhan bernapas lega karena obrolan mereka terhenti oleh suara bel apartemen yang berbunyi. Yixing sempat mendengus kesal karena belum sempat mendengarkan jawaban Luhan.
"Aku akan tetap menagih jawabanmu, Lu," ujar Yixing sebelum pergi dari dapur. Luhan hanya terkekeh mendengarnya.
Saat Yixing kembali menemui Luhan, ia datang bersama seorang laki-laki berparas tampan. Luhan langsung menebak laki-laki itu adalah suami Yixing.
"Luhan, kenalkan dia suamiku, Kim Joonmyun," Yixing beralih pada suaminya. "Dia temanku dari China yang pernah kuceritakan padamu."
"Oh," Joonmyun tersenyum ramah kepada Luhan. "Senang bertemu denganmu, Luhan."
Luhan membungkuk sopan, "Senang bertemu denganmu, Oppa."
"Dia belum datang?" bisik Yixing sambil menengok ke belakang.
"Sudah," Joonmyun ikut menengok ke belakang. "Tadi aku bertemu—ah, itu dia!"
Obrolan keduanya yang dilakukan sambil berbisik membuat Luhan mengernyit heran. Apalagi saat melihat pasangan suami istri itu berjalan ke arah pintu, seperti menyambut seseorang yang baru saja datang. Ketika Luhan hendak melangkah menyusul mereka, gadis itu membelalak kaget. Ia dikejutkan dengan kemunculan Sehun dari belakang Joonmyun dan Yixing.
"Sehun?"
"Luhan?" Sehun sendiri juga kaget mengetahui Luhan berada di apartemen Joonmyun dan Yixing. "Sedang apa kau di sini?"
"A-Aku ..."
"Tunggu, kalian sudah saling kenal?" tanya Yixing menyela. Sama seperti Joonmyun, keduanya memandang Sehun dan Luhan dengan sorot mata menyelidik.
"Tentu saja, Noona."
Luhan bisa mencium gelagat mencurigakan dari Sehun. Terlebih saat lelaki itu berjalan mendekatinya, lalu dengan seenaknya merangkul pundaknya. "Luhan ini kekasihku," ucapnya dengan santai.
"APA?!"
.
.
.
Luhan mengerucutkan bibirnya kesal, sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang dari apartemen Joonmyun dan Yixing. Gadis itu tak menoleh sedikit pun ke arah Sehun. Lebih memilih memandang ke arah luar—di mana jalanan kota Seoul terlihat ramai dilalui pejalan kaki, juga kendaraan yang berlalu lalang.
"Luhan?"
Luhan membuang muka. Tidak merespon panggilan Sehun yang terdengar lembut.
"Kau marah padaku?" Sehun mulai jengah dengan sikap Luhan. "Kali ini apa lagi kesalahanku?"
Luhan tidak menjawab. Gadis itu masih melanjutkan aksi bungkamnya. Sehun menarik napas panjang. Kebiasaan Luhan yang satu ini menurutnya sangat menyusahkan.
"Lu—"
"Kau membuatku berada di posisi sulit," Luhan memotong ucapan Sehun. "Yixing-jie sangat kaget saat kau mengaku pada mereka jika kita ini sepasang kekasih."
"Memangnya kenapa?" Sehun bertanya dengan wajah polosnya.
"Karena dia juga tahu kalau aku belum lama putus dari Kris, bodoh!" Emosi Luhan menyembur tak terkendali. "Yixing-jie itu temanku dan dia tahu soal hubunganku dengan Kris sebelumnya. Bodoh!"
"Bisakah kau berhenti mengataiku bodoh?" Sehun mencengkeram kuat kemudi mobilnya. Ia menyalurkan emosinya yang terpancing karena ucapan Luhan pada benda berbentuk lingkaran itu, "Mana aku tahu jika teman yang ingin kau cari sebelumnya itu Yixing-noona. Lagi pula, Joonmyun-hyung sendiri sudah tahu lebih dulu tentang statusku yang sudah mempunyai kekasih. Kau masih ingat saat aku mengajakmu ke pusat perbelanjaan kota Seoul?"
Luhan terdiam.
"Client yang sedang kutemui waktu itu adalah Joonmyun-hyung, dan saat kau meneleponku, dia melihat nama kontakmu muncul di layar ponselku. Kau tentu tidak lupa 'kan nomor ponselmu kusimpan dengan nama Honey?"
Luhan membeliak, barulah ia menoleh ke arah Sehun setelah teringat dengan masalah penamaan kontak nomor ponsel mereka. Luhan semakin kesal saat melihat Sehun kini justru menyeringai nakal padanya.
"Ck, menyebalkan!" gerutu Luhan masih kesal. Sekarang ia bingung, penjelasan apa yang harus diberikannya pada Yixing jika bertemu lagi dengan perempuan itu. Sesaat yang lalu, sebelum ia dan Sehun meninggalkan apartemen mereka, ibu muda itu sempat memberikan pesan singkat, namun cukup membuat Luhan frustasi.
Kau berhutang penjelasan padaku, Nona Xi
Satu-satunya yang terlintas dalam benak Luhan adalah menceritakan fakta yang ada, bahwa ia dan Sehun hanya melakukan sandiwara.
Terlalu lama sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri, Luhan tidak menyadari mobil yang mereka naiki mulai memasuki area parkir yang cukup luas. Di depan sana, Luhan bisa melihat hamparan air sebuah sungai yang beriak tenang.
"Ini di mana?" tanya Luhan kebingungan. Namun tak berselang lama, sepasang mata rusa itu bersinar terang. Takjub dengan pemandangan indah di depan mereka.
"Sungai Han," jawab Sehun seadanya.
"Sungai Han?!" Sesuai dugaan, Luhan langsung berseru senang mendengarnya. Dalam hitungan detik, Luhan sudah melompat turun dari mobil. Lalu berlari-lari kecil menghampiri sebuah kursi panjang yang berjejer di sepanjang tepian Sungai Han.
Sehun dibuat tertawa oleh perubahan sikap Luhan yang begitu drastis. Sesaat yang lalu, Luhan melakukan aksi bungkam selama perjalanan, diikuti umpatan kekesalan yang keluar dari bibir mungil gadis itu. Dan beberapa detik yang lalu, Luhan sudah kembali seperti biasa. Bertingkah seperti anak kecil setelah mendapatkan hadiah kejutannya.
Sehun menyusul Luhan yang dilihatnya sedang merentangkan tangan. Tampak menikmati angin semilir di sekitar mereka. Sehun terpaku pada wajah Luhan yang terlihat cantik saat gadis itu memejamkan matanya.
"Dari dulu aku ingin sekali ke sini," kata Luhan setelah membuka matanya. "Ternyata benar, tempat ini sangat indah."
"Akan lebih indah lagi jika kau datang di malam hari," sahut Sehun meyakinkan.
"Benarkah?"
Sehun mengangguk.
"Kalau begitu, aku akan datang ke sini lagi di malam hari," kata Luhan antusias.
Sehun tersenyum, "Tentu. Kita akan ke sini lagi di malam hari. Bersama-sama."
Wajah Luhan bersemu merah mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan Sehun. Seketika ia merasa gugup saat Sehun berjalan mendekatinya. Luhan bergeser—berusaha menjauhi Sehun namun laki-laki itu terlanjur menarik tubuh mungilnya ke dalam dekapannya.
"Se-Sehun?" Luhan nyaris kesulitan bernapas ketika tangan kekar Sehun melingkar di sekitar pinggangnya. Matanya membeliak saat dagu Sehun mendarat di bahu kanannya.
"Sebentar saja, Lu," Sehun berujar dengan nada seduktif. Posisi ini kembali mengingatkan Luhan pada kejadian waktu itu—saat ia berkunjung ke rumah paman dan bibi Sehun.
Ingin rasanya Luhan melepaskan diri dari pelukan Sehun yang semakin erat. Tetapi entah mengapa dewi batinnya justru memilih untuk membiarkan Sehun memeluknya. Karena sejujurnya Luhan pun merasa nyaman saat Sehun memberikan kehangatan melalui pelukan itu.
Sehun semakin melesakkan wajahnya di perpotongan leher Luhan, membiarkan indra penciumannya menghirup aroma madu kesukaannya yang menguar dari tubuh gadis itu.
Sementara Luhan, ia terlihat berusaha keras mengendalikan debaran jantungnya yang semakin tidak terkendali. Darahnya berdesir ketika Sehun mengecup lembut leher jenjangnya yang mulus. Luhan mulai terbuai dengan cumbuan yang diberikan Sehun padanya.
Perlahan Sehun memiringkan wajahnya, agar bisa menatap langsung mata rusa milik Luhan yang telah memikatnya sejak pertemuan pertama mereka.
Luhan tahu apa yang akan dilakukan Sehun ketika wajah lelaki itu semakin mendekat. Tetapi ia tidak punya tenaga untuk menghindar, karena pandangannya seolah terkunci pada tatapan teduh milik Sehun. Bahkan tanpa mendapat perintah dari otaknya, mata Luhan secara refleks terpejam—bersamaan dengan gerakan cepat dari Sehun ketika mendaratkan ciumannya di bibir Luhan.
Sehun tidak menduga jika Luhan akan membalas ciumannya yang perlahan semakin menuntut. Terlebih saat kedua tangan Luhan mulai melingkar di lehernya. Sehun bersorak gembira atas balasan yang diberikan Luhan. Salah satu tangannya menahan tengkuk Luhan—bermaksud memperdalam ciuman mereka, sementara tangan lainnya masih melingkar pada pinggang gadis itu.
Tak ada satu pun dari mereka yang mencoba untuk menghentikan ciuman. Kenyataannya, mereka sudah terbuai dengan sensasi gelenyar dari ciuman yang semakin memabukkan itu.
.
.
You're Mine
.
.
Kesabaran Sehun sedang diuji.
Terhitung sudah 1 minggu Luhan menghindari Sehun—sejak kejadian di Sungai Han terakhir kali. Gadis itu seolah menjaga jarak dengan Sehun, termasuk saat mereka berada di rumah.
Ketika waktunya makan, Luhan memilih duduk agak berjauhan dari Sehun. Ia memilih hanya membalas obrolan Sehun seperlunya. Setelah selesai makan, Luhan memilih kabur ke kamarnya atau ke tempat mana saja asalkan bisa terhindar dari Sehun. Bahkan saat mereka berpapasan, Luhan memilih memutar arah. Menghindari Sehun seolah laki-laki itu adalah virus mematikan yang berbahaya.
Sehun jelas saja marah dengan sikap Luhan yang menurutnya lagi-lagi sangat kekanakkan. Tetapi ia tidak bisa berbuat banyak untuk menghentikannya. Ia tahu alasan di balik perubahan sikap Luhan ini. Ciuman itu.
"Kau bahkan membalas dan juga menikmatinya. Kenapa sekarang malah menghindariku?" gumam Sehun sambil memandang punggung Luhan yang menjauh saat mereka berpapasan di ruang tengah.
Sehun mendesah frustasi. Ingin sekali Sehun merangsek maju, menarik paksa Luhan agar mau menatapnya, lalu mengeluarkan protes atas sikap Luhan yang terus menghindarinya. Namun Sehun memilih menahan keinginannya itu. Ia sadar, Luhan butuh waktu untuk sendiri.
Sehun akan datang menemui Luhan jika gadis itu sudah siap dan bisa berpikir dengan jernih. Dan saat hari itu tiba, Sehun tak akan membuang waktunya lagi. Ia harus secepatnya mengungkapkan perasaannya pada Luhan.
.
.
.
Luhan duduk merenung di bangku taman belakang rumah. Entah sudah berapa kali gadis itu menghela napas panjang—seolah ada beban pikiran yang berat memenuhi kepalanya.
Luhan sadar jika tindakannya yang memilih menghindari Sehun belakangan ini telah melukai perasaan lelaki itu. Tetapi Luhan tidak punya pilihan untuk melakukannya, sebab ia terlalu malu untuk bertemu dengan Sehun.
Bayang-bayang kejadian di Sungai Han terakhir kali terus melintas dalam kepalanya. Luhan dibuat bingung oleh reaksinya waktu itu yang membalas ciuman Sehun, bahkan secara tidak sadar terlihat menikmatinya.
"Seharusnya kau menahan diri, Xi Luhan," kalimat itu terus keluar dari bibir Luhan setiap kali ia menyalahkan dirinya sendiri. Bukan tanpa alasan kenapa Luhan beranggapan bahwa ia seharusnya menahan diri. Karena hati Luhan sendiri masih bimbang atas perasaannya sendiri. Apakah ia menyukai Sehun atau tidak?
Tetapi jika tubuhnya bergerak tanpa mengikuti perintah otaknya, melainkan hatinya, bukankah itu sudah jelas jika ia memang menyukai Sehun?
"Argh!" Luhan mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia butuh seseorang untuk teman cerita. Seseorang yang bisa memberikan solusi terbaik untuk masalah ini.
"Sebaiknya aku pergi ke tempat Yixing-Jie," putus Luhan sambil beranjak dari bangku taman. Pandangan Luhan berhenti sejenak pada Bibi Jung yang terlihat berjalan masuk ke dalam rumah. "Bibi Jung!" serunya memanggil perempuan setengah baya itu.
Bibi Jung hampir saja terpeleset karena kaget mendengar teriakan Luhan. Sementara si pelaku yang hampir membuatnya mengalami kesialan itu hanya meringis lebar.
"Iya, Nona?" Bibi Jung tersenyum lembut.
"Apa Jiyoung mengantar Sehun pagi ini?"
"Tidak, Nona. Tuan Sehun mengendarai mobilnya sendiri," jawab Bibi Jung. "Perlukah saya memanggil Jiyoung?"
Luhan mengangguk, "Suruh Jiyoung bersiap-siap. Aku ingin dia mengantarku ke suatu tempat."
"Baik, Nona." Bibi Jung terdiam sejenak. Hal itu membuat dahi Luhan berkerut. Gadis itu pun mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamarnya.
"Ada apa, Bi? Apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan padaku?
"Ngg ... ini soal Tuan Sehun," Bibi Jung terlihat ragu. "Apa Nona dan Tuan Sehun bertengkar? Belakangan saya sering melihat Anda menghindari Tuan Sehun."
Luhan terdiam. Dalam hati ia merasa bersalah karena sikapnya pasti telah memancing kecurigaan para pekerja di rumah Sehun, tak terkecuali Bibi Jung. Bagaimanapun perempuan itu adalah pengasuh Sehun sejak kecil. Ia yang paling peka di antara pekerja lainnya.
"Bibi tidak perlu khawatir," Luhan tersenyum tipis. "Masalah kami akan segera selesai. Percayalah."
Seketika wajah Bibi Jung berubah cerah. Ia lalu undur diri dari hadapan Luhan, meninggalkan gadis itu yang masih terdiam di tempatnya.
Luhan mendongak, menatap langit yang sedang cerah. Tanpa sadar ia menyunggingkan bibirnya hingga melengkung sempurna. Benar, ia harus secepatnya menyelesaikan masalah ini.
Masalah hatinya terhadap Sehun.
Luhan butuh kejelasan dari Sehun. Bagaimanapun laki-laki itu harus bertanggung jawab karena telah membuat Luhan kembali jatuh cinta untuk kedua kalinya.
.
.
.
"Minumlah." Yixing menyodorkan secangkir teh herbal untuk Luhan. Kemudian ia kembali ke kamar Jinhee untuk sekedar memastikan putrinya itu sedang tertidur.
Beberapa menit yang lalu, Yixing dibuat kaget dengan kedatangan Luhan di depan pintu apartemennya. Apalagi dengan wajah kelelahan seperti kurang tidur. Dalam hati ia menebak, kali ini masalah apa lagi yang sedang dipikirkan Luhan? Kris atau ... Sehun?
"Sudah siap bercerita?" tanya Yixing begitu melihat Luhan meletakkan secangkir teh herbal yang baru saja diteguknya. Luhan mengangguk kecil seraya tersenyum imut.
"Tanyakan apa yang ingin kau ketahui, Jie," Luhan berkata dengan nada tenang. "Aku akan menjawabnya."
Yixing terkekeh, "Baiklah. Aku tidak akan berbasa-basi lagi."
Luhan tertawa. Ia memberi isyarat pada Yixing untuk melanjutkan kalimatnya.
"Kau dan Sehun ... apa kalian benar-benar menjalin hubungan?"
"Tidak, Jie. Kami hanya melakukan sandiwara."
Yixing membeliak, "Sandiwara? Tapi ... bagaimana bisa?"
Luhan menghela napas panjang, "Ceritanya panjang, Jie," kata Luhan dengan nada terdengar putus asa. Ia pun menceritakan kejadian yang sebenarnya. Dari awal pertemuannya dengan Sehun di kedai ramyeon waktu itu, sampai akhirnya ia tinggal di rumah Sehun, dan berakhir menjadi kekasih laki-laki itu—dalam sebuah sandiwara yang mereka mainkan.
Yixing jelas terkejut mendengar penjelasan dari Luhan. Bagaimanapun ia turut andil atas apa yang dialami Luhan. Kalau saja ia memberitahu Luhan jika ia sudah pindah dari apartemen lamanya, tentu Luhan tidak akan mendapatkan kesulitan seperti ini setelah tiba di Korea.
"Maafkan aku, Lu.," Yixing menunduk dengan wajah bersalahnya. "Seharusnya aku memberitahumu kalau aku sudah pindah dari apartemen lamaku."
Luhan menggeleng, lalu menggenggam tangan Yixing dengan erat. "Tidak, Jie. Ini bukan salahmu. Semua sudah terlanjur terjadi. Lagi pula, Sehun sudah berjanji akan membantuku mencari Kris."
Wajah Yixing perlahan berubah. "Apa dia sudah menemukan keberadaan Kris?" tanyanya penasaran.
"Kurasa belum," Luhan menghela napas panjang dengan tangan yang menyangga kepalanya.
"Bagaimana dengan perasaanmu terhadap Sehun?"
Glek! Luhan terkesiap mendengar pertanyaan Yixing. Wajahnya seketika memerah. Hal itu sontak membuat Yixing tersenyum lebar.
"Kau ... jatuh cinta padanya. Benar 'kan?"
"I-Itu ..."
Yixing semakin senang menggoda Luhan. "Tidak apa-apa, Lu. Aku tidak akan kaget jika kau menyukai Sehun. Itu sangat wajar, mengingat banyak gadis yang menyukainya."
Luhan membelalakkan matanya, "Benarkah?"
Yixing mengangguk, "Sehun itu adik kelas kami semasa kuliah. Dia dan Jongin—adik Joonmyun, termasuk mahasiswa populer waktu itu. Banyak gadis yang mengejar-ngejar mereka agar bisa menjadi kekasih mereka."
"Tunggu—" Luhan menangkap fakta lain yang mengejutkan dari Yixing. "Barusan kau bilang Jongin adik Joonmyun-oppa? Apa yang kau maksud itu Kim Jongin yang berprofesi sebagai dokter? Laki-laki yang berkulit tan itu?"
"Kau sudah pernah bertemu dengan Jongin?" tanya Yixing tak kalah kaget.
"Iya, Jie. Dia pernah menyelamatkanku dari bahaya. Bersama Kyungsoo juga," jawab Luhan semakin membuat Yixing terkejut. "Jadi, dia benar-benar adik Joonmyun-oppa."
Yixing mengangguk. "Woah, tidak kusangka dunia ini benar-benar sempit," serunya senang.
"Ya, kau benar, Jie." Luhan tertawa, begitu juga dengan Yixing.
"Sebentar," Yixing menghentikan tawanya sejenak. "Aku masih penasaran dengan kau dan Sehun. Apa selama kalian bersandiwara, kalian juga melakukan skinship?"
Luhan mengerjap lembut, berusaha mencerna pertanyaan menjurus dari Yixing.
"Bergandengan tangan, berpelukan," Yixing menatap Luhan penuh arti, "seperti yang biasa dilakukan pasangan kekasih pada umumnya."
Luhan mengangguk.
"Ciuman?"
Wajah Luhan kembali memerah. Sambil menunduk, ia mengangguk pelan.
"Di bibir?" tanya Yixing tidak percaya.
Lagi, Luhan hanya mengangguk pasrah.
"Ya ampun, Lu ..." Yixing menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kalau seperti itu bukan sandiwara lagi namanya. Sudah pasti kalian melakukannya atas dasar suka sama suka, alias cinta. Kenapa tidak menjadi pasangan kekasih sungguhan saja? Malah melakukan hal konyol seperti itu. Dasar."
Luhan melotot mendengar sindiran Yixing. Ibu muda itu hanya tersenyum jahil ke arahnya. Kemudian menggenggam tangan Luhan dengan penuh kelembutan.
"Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku, Lu," Yixing tersenyum. "Kurasa sudah waktunya bagimu untuk melupakan kisah cintamu bersama Kris. Kau mungkin memang masih ingin mencari tahu alasan Kris memutuskan hubungan kalian. Tapi, kau juga berhak mendapatkan kebahagiaanmu sendiri, Lu. Dan aku percaya, Sehun orang yang tepat untuk menggantikan posisi Kris."
"Kenapa Jiejie bisa seyakin itu?" tanya Luhan heran.
"Sekarang aku sudah menikah, Lu," Yixing tertawa kecil. "Aku jadi lebih peka terhadap sesuatu yang berhubungan dengan cinta. Sewaktu Sehun memperkenalkanmu sebagai kekasihnya di hadapan kami, aku bisa melihat kesungguhan dari sinar mata Sehun. Kurasa, Sehun tidak menganggap hubungan kalian adalah sandiwara. Aku yakin dia menganggapmu sebagai kekasihnya—dalam artian yang sebenarnya."
Luhan tercenung. Kata-kata Yixing meresap dalam otaknya. Ia mengingat kembali bagaimana perhatian Sehun selama mereka melakukan sandiwara itu.
Jika Sehun melakukannya karena sandiwara, jelas perhatian yang diberikan lelaki itu terkesan berlebihan. Tetapi jika Sehun melakukannya karena memang menganggap Luhan sebagai kekasihnya, maka itu tidak akan menjadi masalah.
Siapapun pasti akan memberikan perhatian lebih untuk kekasihnya.
.
.
.
"Hyung!"
Chanyeol mendongak. Matanya menatap ke depan—tepatnya pada laki-laki yang baru saja masuk ke ruang kerjanya. "Jongin?"
Jongin tersenyum sambil memegang sesuatu di tangannya. Ia pun menyodorkan benda tersebut pada Chanyeol. "Minggu depan aku dan Kyungsoo akan menikah. Jangan lupa datang, Hyung!"
"Woah, benarkah?!" Chanyeol berseru senang. "Selamat untuk kalian. Aku tidak menyangka akhirnya Kyungsoo benar-benar akan menikah dengan orang sepertimu."
"Ya! Apa maksudmu, Hyung?!" Jongin kesal dengan nada mengejek dari ucapan selamat yang diberikan Chanyeol.
Sedangkan laki-laki bermarga Park itu tertawa puas melihat wajah kesal Jongin.
"Apa Sehun ada di ruangannya, Hyung?" Jongin abaikan sejenak ejekan Chanyeol. Ia sengaja datang ke kantor Sehun dan Chanyeol untuk mengantarkan undangan pernikahannya dengan Kyungsoo. Sekalian mengunjungi kedua sahabatnya itu.
Chanyeol mengangguk, "Dia ada di ruangannya, tapi ..."
Jongin mengernyit heran. "Apa terjadi sesuatu?" tanyanya seolah bisa membaca pikiran Chanyeol.
"Entahlah, Jongin," Chanyeol menghela napas panjang. "Belakangan Sehun terlihat menyeramkan. Rasanya dia kembali seperti dulu. Sehun yang dingin dan bersikap tidak peduli dengan sekitar."
"Benarkah?" Jongin terkejut. "Apa dia bertengkar dengan Luhan?"
"Kau pernah bertemu dengan Luhan?"
Jongin mengangguk.
"Kurasa kau benar," Chanyeol menyandarkan kepalanya. "Sepertinya dia sedang bertengkar dengan Luhan."
Baru saat Jongin ingin berbicara, ia justru dikejutkan dengan ponselnya yang berbunyi. Ia pun buru-buru menekan tombol hijau setelah tahu jika Kyungsoo yang menghubunginya.
"Halo?"
"..."
"Iya, aku masih di kantor Sehun dan Chanyeol-hyung. Ada apa?"
"..."
"Beritahu Sehun untuk menjemput Luhan di tempat Yixing-noona? Tunggu, bagaimana bisa dia ada di ... baik, baik. Akan segera kusuruh Sehun untuk menjemput Luhan."
PIP!
"Ada apa, Jongin?" tanya Chanyeol penasaran. Terlebih saat mendengar nama Luhan dan Yixing. Chanyeol sendiri memang mengenal pasangan Joonmyun dan Yixing, karena mereka bertiga kebetulan satu angkatan sewaktu kuliah dulu.
"Tadi kau bilang ... Luhan ada di tempat Yixing? Mereka saling mengenal?"
Jongin mengangguk, "Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Hyung. Nanti jika sudah kudapatkan informasi yang jelas, aku akan menceritakannya padamu."
Chanyeol tersenyum, "Baiklah. Sebaiknya kau segera temui Sehun. Mungkin jika dia datang menjemput Luhan, hubungan mereka bisa membaik."
"Ya, semoga saja, Hyung," Jongin tertawa kecil lalu berpamitan dengan Chanyeol. Setelahnya ia bergegas menuju ruangan Sehun yang berada satu lantai di atas ruangan Chanyeol.
Kedatangan Jongin langsung disambut wajah kelelahan Jihoo. Jongin meringis. Seburuk apa kondisi Sehun sampai Jihoo pun tak luput menerima dampaknya?
"Aku ingin bertemu Sehun," ucap Jongin penuh wibawa.
Jihoo membungkuk sopan kemudian membukakan pintu ruang kerja Sehun, mempersilakan dokter muda itu untuk masuk ke ruangan Sehun.
Begitu masuk, Jongin disambut suasana tak mengenakkan dari dalam ruangan. Matanya langsung tertuju pada Sehun yang sedang duduk di kursi kebesarannya. Laki-laki berkulit pucat itu tampak sibuk berkutat dengan setumpuk berkas di atas meja. Namun Jongin bisa melihat aura yang redup dan suram mengelilingi Sehun.
"Sehun?"
Hening. Tak ada respon yang terdengar dari Sehun.
"Oh Sehun?"
Lagi, Jongin dibuat kesal karena Sehun tak kunjung menjawab panggilannya. Dengan sekuat tenaga, Jongin melempar undangan pernikahannya dengan Kyungsoo ke arah Sehun.
BUGH!
Benda berbentuk kotak itu mendarat tepat mengenai wajah Sehun.
"Ups ..." Dengan wajah tidak berdosanya, Jongin hanya bereaksi santai melihat sorot mata membunuh dari Sehun. "Maaf. Aku sengaja."
Sehun mengepalkan tangannya kuat-kuat. Setelahnya ia menghela napas panjang, sambil mengurut hidungnya yang terasa nyeri karena ulah Jongin.
"Pergilah ke tempat Yixing-noona."
Sehun menaikkan salah satu alisnya, "Untuk apa?"
"Menjemput Luhan," Sehun membeliak. "Kekasihmu itu berkunjung ke sana dan sekarang malah tertidur."
"Benarkah?"
Jongin mengangguk. "Jemput dia dan selesaikan masalah kalian."
"Kenapa kau—"
"Untuk masalah cinta aku lebih berpengalaman darimu, Oh Sehun," Jongin tersenyum bangga.
Sehun mencibir, tapi enggan membalas perkataan Jongin. Sekarang ia jauh lebih peduli dengan urusan Luhan.
"Hei, kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?" Jongin dibuat bingung saat melihat Sehun sudah membereskan meja bahkan berdiri dari kursinya. "Aku baru saja mengantar undangan pernikahanku dengan Kyungsoo. Kau tidak ingin memberi ucapan selamat untukku?"
BLAM!
Jongin melotot ke arah pintu ruangan yang sudah tertutup rapat. Sehun sudah pergi, meninggalkan Jongin yang masih berdiri dengan wajah bodohnya. "YA! OH SEHUN!"
.
.
.
"Sudah menghubungi Sehun?"
Kyungsoo mengangguk. Ia baru saja tiba di apartemen Yixing—satu jam yang lalu.
"Sebenarnya aku menghubungi Jongin, karena kebetulan dia sedang di kantor Sehun," jawab Kyungsoo sembari terkekeh. Ia melirik sekilas ke arah sofa di ruang tengah. Di sana, Luhan terlihat nyenyak dalam tidurnya. Kyungsoo baru tahu jika Luhan berteman dengan Yixing.
"Kyung, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"
"Tentu, Eonni. Tanyakan saja."
"Sejak kapan kau tahu jika Luhan adalah kekasih Sehun?"
"Ngg ..." Kyungsoo berpikir sejenak, "Kurasa sekitar satu minggu yang lalu."
Yixing mengangguk-angguk. "Bagaimana menurutmu? Tentang mereka berdua."
Kyungsoo tersenyum, "Mereka pasangan yang cocok. Dan kulihat, Sehun sangat mencintai Luhan."
Yixing mengernyitkan dahinya, menghadiahi sorot mata bertanya pada Kyungsoo. Calon adik iparnya itu pun mulai menceritakan pertemuan pertamanya dengan Luhan, sewaktu ia dan Jongin menolong Luhan yang hampir saja menjadi korban pelecehan.
Lalu ketika Luhan jatuh sakit dan Sehun meminta Jongin datang untuk memeriksanya. Kyungsoo bercerita jika Sehun terlihat sangat mencemaskan kondisi Luhan. Dengan penuh perhatian, Sehun begitu telaten merawat Luhan.
"Benarkah Sehun melakukan semua itu?"
Kyungsoo mengangguk, "Aku belum pernah melihat Sehun bersikap seperti itu, Eonni. Karena itu aku tidak meragukan perasaan Sehun kepada Luhan. Kurasa dia sangat mencintai Luhan."
Yixing bernapas lega, lalu tersenyum bahagia.
"Memangnya ada apa, Eonni?" Kyungsoo mendadak penasaran. "Kenapa tiba-tiba menanyakan mereka?"
"Ah, tidak. Bukan apa-apa," Yixing hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Kyungsoo.
Obrolan mereka pun terhenti saat terdengar suara bel berbunyi.
"Itu pasti Sehun!" seru Yixing gembira, lalu langsung berlari ke arah pintu. Kyungsoo yang melihat Yixing begitu bersemangat menyambut kedatangan Sehun hanya menatapnya dengan keheranan.
KLEK!
"Noona ..."
Yixing tersenyum pada Sehun, "Masuklah. Dia ada di ruang tengah."
Sehun mengangguk, lalu berjalan menuju tempat yang diberitahukan Yixing. Ia tak sengaja berpapasan dengan Kyungsoo.
"Hai, Sehun," sapa Kyungsoo, lalu menyadari hidung Sehun yang memerah. "Ada apa dengan hidungmu?"
Sehun meringis, "Ini perbuatan calon suamimu. Dia melempar undangan pernikahan kalian tepat mengenai wajahku."
"Ya ampun, Jongiiin ..." Kyungsoo mendesis kesal. "Maafkan sikapnya, Hun. Biar nanti aku yang menghukumnya."
Dalam hati, Sehun menyeringai puas. Setidaknya ia berhasil membalas kelakuan usil sahabatnya itu. "Selamat ya, Kyung. Akhirnya kau benar-benar akan menikah dengan Jongin," ucap Sehun memberikan selamat. Yixing yang mendengar obrolan mereka pun turut merasa bahagia.
Kyungsoo tersenyum, "Terima kasih, Hun. Kau juga harus secepatnya menyusul kami."
"Tentu," jawab Sehun yakin. Ia lalu berjalan mendekati sofa panjang yang ditempati Luhan. Sesaat perhatiannya terpaku pada wajah tenang Luhan yang sedang tertidur. Sehun memberanikan diri untuk membelai wajah itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ia kembali melakukan kebiasaannya. Mengecup kening Luhan saat gadis itu tertidur.
Yixing dan Kyungsoo nyaris menjerit melihat sikap Sehun itu. Rasanya mereka seperti baru saja menonton adegan dalam sebuah drama.
"Maaf jika Luhan sudah membuat kalian repot," ucap Sehun setelah membopong tubuh Luhan. Gadis itu masih tertidur dan terlihat semakin meringkuk dalam gendongan Sehun.
"Tidak masalah," Yixing tersenyum, lalu melirik Kyungsoo. "Titip Jinhee sebentar. Aku akan mengantar Sehun sampai ke depan."
Kyungsoo mengangguk. Ia biarkan Yixing berjalan mengikuti Sehun yang menggendong Luhan.
"Sehun ..."
Panggilan Yixing membuat Sehun berhenti sejenak, "Ada apa, Noona?"
Yixing sudah memutuskan untuk bertanya pada Sehun. Ia ingin memastikan sendiri bagaimana perasaan Sehun terhadap Luhan.
"Aku sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Luhan. Soal sandiwara itu dan kau yang sudah berjanji akan mencari keberadaan Kris."
Sehun terbelalak mendengar rentetan kalimat Yixing. Ia ingin menjawab tetapi perempuan itu terlanjur berbicara lagi.
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu," Yixing melirik Luhan yang masih tertidur. "Apa kau menyukainya?"
Sehun bungkam.
"Apa kau mencintai Luhan?"
Melihat sorot mata berharap dari Yixing, Sehun tersenyum. "Ya, Noona. Aku mencintainya," jawabnya dengan penuh kesungguhan.
"Aku senang mendengarnya," Yixing mengusap surai Luhan. "Bisakah kau berjanji padaku? Bisakah kau berjanji untuk membahagiakan Luhan?"
Sehun mengangguk, "Tentu, Noona. Aku berjanji. Aku pasti akan membahagiakannya."
Yixing tersenyum lega. Kini ia tidak perlu khawatir lagi soal perasaan Sehun. Ia hanya berharap semoga laki-laki itu segera mengungkapkan perasaannya itu pada Luhan. Agar keduanya tidak lagi memainkan sandiwara konyol itu dan resmi menjadi sepasang kekasih.
.
.
.
"Eungh ..." Luhan terbangun ketika merasakan lehernya sedikit kaku. Gadis itu mengerjap lembut—masih berusaha mengenali di mana keberadaannya sekarang. Setelah 30 detik berlalu, Luhan membelalak ketika menyadari ia sudah berada di dalam mobil yang ia yakini adalah mobil Sehun. Kenapa aku bisa di sini?
Wajar jika Luhan kebingungan. Seingatnya ia tertidur di sofa ruang tengah apartemen Yixing. Namun begitu terbangun, ia sudah berada di mobil Sehun.
Luhan melirik pada kursi di sebelahnya—kosong. Ia memutuskan turun dari mobil, bermaksud mencari keberadaan Sehun. Sesekali gadis itu menguap lebar karena masih merasakan kantuk. Ia mengucek matanya, supaya bisa melihat sekitarnya dengan lebih jelas.
"Ini di mana?" Seperti orang bangun tidur pada umumnya, kesadaran Luhan belum sepenuhnya terkumpul. Gadis itu memicingkan matanya, berusaha mengenali bangunan yang berada di depannya.
"Supermarket?" Luhan terdiam sejenak. "Apa dia ada di dalam?"
Hanya sekedar memastikan, Luhan pun melangkah masuk ke supermarket. Tetapi orang yang ia cari tidak ada. Luhan buru-buru keluar dan kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia menggeram frustasi karena tidak menemukan keberadaan Sehun di manapun.
"Ish, di mana laki-laki itu?!" gerutu Luhan dengan bibir mengerucut lucu.
Luhan berjalan ke arah kanan, masih dengan tujuan mencari keberadaan Sehun. Ia paling tidak suka ditinggal sendirian di dalam mobil saat tak sengaja tertidur—kebiasaannya sejak kecil. Jadi tidak heran jika Luhan memilih untuk mencari Sehun, ketimbang menunggu lelaki itu di dalam mobil.
Langkahnya yang sedikit terburu-buru membuat Luhan beberapa kali bersenggolan dengan sebagian pejalan kaki. Beruntung Luhan masih bisa menjaga keseimbangannya. Namun ketika ia bersenggolan dengan seorang laki-laki berperawakan jangkung, keseimbangan Luhan goyah. Gadis itu pun jatuh terduduk di jalan.
"Aduh!"
"Oh, maafkan aku," Samar-samar Luhan mendengar suara laki-laki yang baru saja menabraknya itu. Luhan hanya menepuk-nepuk tangannya, sebelum pandangannya beralih pada tangan yang mengulur di depannya. "Kau baik-baik saja?"
Luhan mendongak, berusaha melihat bagaimana rupa laki-laki yang baru saja menabraknya dan sedang mencoba membantunya berdiri. Bentuk dari tanggung jawabnya karena sudah membuat Luhan terjatuh.
Pandangan mereka bertemu. Waktu terasa berhenti saat kedua bola mata itu saling menatap.
"Luhan?"
Luhan tidak tahu lagi harus berkata apa. Sungguh, ini adalah pertemuan yang tidak terduga.
"Kris?"
.
.
.
TO BE CONTINUED
A/N : Mana Sehun? Sehuuun? *teriak pake toa*
Luhan kok ditinggalin sih? Jadinya ketemu deh sama Kris *oke, abaikan kalimat yang satu ini*plak* kekeke
Buat yang penasaran seperti apa masa lalu Kris, coba kalian ingat lagi obrolan Luhan sama ayahnya di chapter kemarin, lalu kalian kaitkan sama laporan yang dikasih Jihoo sama Sehun di atas ^^
Udah bisa nebak? Atau masih bingung? Hehe, tenang aja. Nanti bakalan aku perjelas kok (nggak tahu di chapter berapa kekeke)
Dan yang bagi penasaran siapa sih temen Luhan yang pengen ditemui sewaktu pertama kali tiba di Korea. Tarraaaa! Jawabannya adalah Yixing.
Dalam cerita ini, dunia berasa sempit ya karena tokohnya saling kehubung hehe ^^v
Oke, sebelumnya mau ngucapin makasih buat yang udah review di chapter terakhir kemarin. Wow, nggak nyangka mengalami peningkatan dibandingkan chapter sebelumnya (hampir 60).
Saya ucapkan makasih banyak buat kalian semua yang udah review maupun favorites + follows FF ini. Alhamdulillah udah di atas 100. Thank you sooooo much
Kalau ada yang tanya ini berapa chapter, saya sendiri belum tahu. Saya nulis mah ngikutin alur cerita yang muncul di otak aja. Ngalir gitu, nggak mau maksain atau buru-buru pengen selesai. Soalnya konflik utamanya aja juga belum keluar (duh, apaan lagi ini kekeke)
Sampai jumpa di chapter selanjutnya (^_^)
Special Thanks to :
anisaberliana94 | DEERHUN794 | minrin-oh | Rin SNL | Seravin509 | AmeliaOh 21 | Angel Deer | Misslah | Yohannaemerald | artiosh | hunexohan | Nurul999 | JonginDO | BabyCoffee99 | Vinka668 | Lisasa Luhan | deerhanhuniie | Lucky8894 | Arifahohse | munakyumin137 | Annisawinds | Wind Noona | Hnh | Annis khupluk | Guest | KyuMinElfcloud | ByunBaek614 | DinkyAA | Juna Oh | Kim YeHyun | lulu-shi | Nisa Aprilia | nik4nik | kenlee1412 | RealCY | Selenia Oh | deva94bubletea | yousee | Ahn exo-l | LieZoppii | Fishy1398 | A-hunhan-taoris | Sherli898 | JungKimCaca | Guest | Aura626 | niasw3ty | Guest | Okta HunHan | Honeybbh | Skymoebius | skeyou | sherly-gdragon | Baekkiechuu | chenma | HunHanCherry1220 | Eghaa Jung
P.S : Maaf kalau nggak bisa balas satu per satu *bow*
