The Wall

.

.

.

.

.

Chapter VII

.

.

.

.

.

Sejak insiden di rumah keluarga Park, hubungan Chanyeol dan Baekhyun berubah senyap. Baekhyun benar-benar menghindari Chanyeol, walau untuk menyebut namanya. Reaksi ketiga sahabatnya pun diabaikan. Kyungsoo bahkan menanyakan kelanjutan hubungan mereka setiap hari. Pemuda bermata bulat itu mendadak khawatir hal buruk sedang terjadi.

Hari ini, pemotretan itu di mulai. Huang Zi Tao sudah menyiapkan segalanya saat keempat pemuda itu datang. Sehun membulatkan matanya takjub. Ini pertama kalinya ia melihat Huang Zi Tao, idola Irene, mantan kekasihnya. Model terkenal itu benar-benar cantik. Pantas saja Kris bersedia melakukan segala hal demi istrinya.

"Kalian sudah datang? Oh, dimana Chanyeol?"

Suasana penuh warna diantara keempatnya berubah kelam dan canggung. Beberapa hari ini nama Chanyeol menjadi momok tersendiri diantara mereka. Sesuai dugaan, Baekhyun merengut dan berubah diam.

"Oh, dia akan datang, Nona Huang." Kyungsoo berbicara sebagai penyelamat. "Kau tahu, pertunangan Chanyeol dan Baekhyun mendekati harinya. Esok mereka sudah harus berangkat ke Jeju. Chanyeol pasti sibuk mengurus beberapa hal— sementara Baekhyun disini."

"Benar juga. Lusa adalah pestanya." Zitao menatap wajah Baekhyun dengan pandangan bersedih. "Maafkan aku mengganggu waktumu."

Baekhyun tersenyum. "Bukan masalah. Aku sudah bersedia sejak awal."

"Terima kasih. Baiklah, bagaimana kalau kita mulai berganti busana dan make up?"

.

.

.

Dua hari yang bagai dua tahun. Jika waktu bisa diulang, sekali saja, Chanyeol ingin memperbaiki sikapnya. Ia ingin kembali ke saat empat tahun yang lalu. Melepaskan segala kebodohannya terhadap Baekhyun dan membuat mereka sebagai dua orang dengan masa lalu indah.

Tapi, jelas, itu tidak mungkin.

Sejak dua belas menit yang lalu, sesungguhnya, mobil Chanyeol sudah berada disana, di depan tempat pemotretan Baekhyun dan ketiga temannya. Ia bisa saja langsung turun, tersenyum bodoh dan menyapa Baekhyun. Paling-paling, tunangannya itu hanya akan menamparnya.

Tunangan. Cih. Chanyeol bahkan ragu Baekhyun masih menganggap hubungan mereka. Sungguh, ia sangat menyesal. Dua hari yang lalu, dia benar-benar gila. Kenyataan Baekhyun mulai bisa menerimanya membuat Chanyeol terobsesi, dan kembali ingin memilikinya. Hal yang salah, mengingat ia bahkan sudah meminta maaf atas perlakuan kurang ajarnya empat tahun yang lalu.

'Tok Tok'

Kaca yang diketuk itu membuat Chanyeol menoleh. Dilihatnya, refleksi tubuh Sehun dari dalam. Anak seusia Baekhyun itu memberi gestur, meminta Chanyeol untuk keluar. Dengan dahi berkerut, Chanyeol membuka pintu mobilnya dan berdiri di hadapan Sehun.

"Sesuatu terjadi?"

Sehun mendengus. "Ya. Sejak dua hari yang lalu."

"Apa maksudmu?" tanya Chanyeol, sedikit bingung.

"Baekhyun menjadi aneh. Maksudku, dia jadi rajin, dan bertambah diam. Jika biasanya dia acuh dengan semua lelaki yang menyapanya, kali ini tidak. Dia bahkan memaklumi aksi junior yang dengan sengaja menepuk bokongnya."

"Apa?!"

"Ya!" Sehun ikut berteriak gemas. "Tapi, tidak apa, suruhan Minhyuk telah memastikan junior itu meninggalkan Korea. Hanya anak dari pengusaha pinggiran."

Chanyeol mengusap wajahnya frustasi. "Dimana Baekhyun?"

"Masih berkemas di dalam." Ucap Sehun, sedikit menghela nafas. "Hey, Chanyeol, aku tidak tahu apa masalah kalian. Tapi, percayalah, Baekhyun adalah tipe fair-play person. Katakan apa isi kepalamu, maka dia akan membuka seluruh hatinya. Well, itu saranku sebagai sahabat."

Chanyeol termenung. Kepalanya bagai kosong sesaat, mencoba memproses ucapan Sehun. Beberapa detik, matanya berubah, memancarkan sinar hangat disertai senyum yang tulus.

"Aku mengerti. Terima kasih, Sehun."

.

.

.

Pemotretan tadi berjalan lancar dan sempurna. Baju-baju dan make up dari tim Zitao membuat Baekhyun dan ketiga temannya terlihat menakjubkan. Fotografer berkata semua foto mereka bagus dan tidak memerlukan banyak proses editing. Ia bahkan berjanji, malam ini, foto mereka bisa di sebar di media sosial sebagai teaser dan pancingan terhadap netizen.

Sementara beberapa kru mulai merapikan peralatan, Baekhyun masih disana. Zitao sibuk dengan wardrobe-nya sementara ketiga teman Baekhyun sudah pergi duluan, mengejar waktu untuk urusan pribadi mereka. Tadinya, Baekhyun ingin segera pulang dengan menelepon supir pribadinya. Tapi, entah sial atau apa, ibunya lah yang menelepon lebih dulu. Sudah bisa ditebak, wanita itu meminta Baekhyun mengajak Chanyeol untuk makan malam di kediaman mereka. Dan Baekhyun tidak punya alasan berkata tidak.

"Baekhyun-ssi." Seorang wanita, koordinator gaya dari perusahaan Zitao memasuki ruangan tempatnya duduk. "Chanyeol-ssi mencarimu. Dia ada di lobby."

Baekhyun sedikit terkejut, namun tetap mengangguk. "Terima kasih, Noona. Aku akan kesana."

Wanita itu mengangguk dan kembali menutup pintu. Baekhyun menghembuskan nafasnya karena mendadak tegang. Pemuda itu berdiri dan menggenggam tasnya. Ia memakai mantel abu-abu miliknya dan mulai berjalan keluar, menuju tempat Chanyeol menunggu.

Langkahnya yang pelan menjadi semakin pelan saat mendekati lobby. Dari jauh, siluet jangkung pria yang berstatus tunangannya itu sudah terlihat. Baekhyun menahan nafas dan menghembuskannya. Ya. Dia harus berani. Dia benar dan Chanyeol salah. Mungkin sebuah tamparan bisa mengingatkan pria itu.

Baekhyun terus melangkah. Gerakan kaki beralas sepatu sport itu berhasil didengar Chanyeol. Baekhyun menatapnya tanpa takut. Chanyeol mulai berdiri, tersenyum dan berjalan menghampirinya. Benar, Baekhyun, kau harus menamparnya. Tangan Baekhyun sudah terangkat dan perkiraannya hampir tepat. Hampir, jika saja Chanyeol tidak bergerak cepat dan memeluk dirinya erat. Baekhyun membeku. Tidak, ini diluar perkiraannya.

"Maafkan aku, Baekhyun, maafkan aku."

Suara berat dan aroma mint dari nafas Chanyeol membuat jantung Baekhyun berdetak lebih cepat. Bibirnya kelu dan kata-katanya seolah tertelan balik ke dalam tenggorokannya. "A-aku.."

"Dengar." Chanyeol, akhirnya, melepaskan pelukan itu dan beralih memegang erat kedua bahu Baekhyun. Mata bulat itu menatap tepat kedalam bola mata si mungil. "Aku tahu aku gila. Aku brengsek. Aku adalah yang terburuk. Aku tahu. Aku mohon maafkan aku, Baekhyun. Maafkan aku."

Baekhyun menelan ludahnya. "Kau juga minta maaf sebelumnya."

"Aku akan meminta maaf seumur hidupku, jika perlu." Balas Chanyeol.

"Dan itu berarti kau akan melakukan kesalahan seumur hidupmu?"

Chanyeol menggeleng. "Baekhyun.."

"Chanyeol-ah, aku ingin mempercayaimu. Aku sangat ingin. Tapi, bahkan, aku tidak pernah tahu apa yang kau pikirkan. Aku.."

"Aku mencintaimu."

Dua kata dan Baekhyun berhenti bicara. Pemuda itu bahkan berusaha agar ia tidak menggigit lidahnya sendiri karena terkejut. Bola mata sipitnya membesar, menatap wajah Chanyeol yang begitu serius. Baekhyun kembali menelan ludahnya.

"Kau.."

"Itu yang aku pikirkan." Chanyeol kembali bersuara. "Aku bukan pria yang sempurna, Baekhyun. Kau tahu itu. Siapapun mengira aku adalah pria gila yang kabur karena menolak dijodohkan. Aku tahu kau tidak mencintaiku. Tidak apa. Aku memahaminya."

Baekhyun menatap iris kelam Chanyeol. "Lalu mengapa kau mengatakan itu? Bukankah itu berarti kau butuh jawaban?"

"Aku tidak perlu itu saat ini. Aku hanya perlu kau tahu dan mempercayaiku. Itu saja, Baekhyun."

Baekhyun mengepalkan jemarinya, mencoba menetralkan detak jantungnya yang menggila. "Beri aku waktu."

"Ya." Chanyeol tersenyum. "Tentu. Sekarang, mari kerumahmu. Ibumu mengirim pesan untuk segera pulang beberapa menit yang lalu."

.

.

.

Oh Sehun bukanlah tipe pria yang cepat terlarut dalam kesedihan. Namun, keputusan mendadak Irene saat membatalkan status pertunangan mereka membuatnya selalu kepikiran, bahkan emosi di saat-saat tertentu. Sejauh ini, Irene benar-benar memenuhi kriteria yang diinginkannya. Gadis itu, walau bukan dari keluarga kaya, selalu menolak pemberian materil Sehun. Ia juga tidak manja dan cerdas.

"Ck."

Sehun memukul setirnya pelan. Ia bahkan tidak yakin jika usahanya membuat Irene kembali akan berhasil. Gadis itu sangat keras kepala. Ia akan berkata hitam untuk hitam dan putih untuk putih. Sehun menghela nafas. Kakinya menekan pedal rem pelan saat lampu lalu lintas berubah merah.

"Bae Irene. Kau yang gila atau aku yang tergila – gila."

Kekehan Sehun menjadi satu satunya suara di mobil itu. Beberapa mobil mulai ikut berhenti di samping dan belakangnya. Sebuah mercedes mewah berhenti di sisi mobil Sehun. Pemuda itu menoleh dan dahinya dengan cepat berkerut. Disana, di mobil mewah itu, Daehyun duduk di kursi penumpang, dengan seorang wanita berambut pendek di sisinya.

Wanita itu terlihat lebih tua dari Daehyun. Namun, Sehun mengakui, cantiknya bukan main. Tapi, tunggu. Sehun serasa pernah melihat wajahnya. Otaknya berputar, mencoba mencari informasi soal wanita itu. Wajah familiar, khas luar Korea, luar biasa cantik—

'Ah, iya.'

Sehun meraih sebuah majalah dashboard-nya. Majalah bisnis bulan lalu yang mengulas habis kerajaan bisnis di Shanghai. Wajah wanita berambut pendek menjadi sampulnya. Sebuah tulisan besar nama dan beritanya terpampang jelas.

Yuan ShanShan: Putri kerajaan iklan China, resmi membeli saham Seoul's Secret?

Dahi Sehun berkerut. Namun, kemudian ia mengendikan bahunya tidak peduli dan melempar majalah itu kembali ke dashboard. Lampu hijau berganti dari lampu merah dan mobil Sehun kembali terpacu cepat.

.

.

.

Makan malam di kediaman keluarga Byun sedikit berbeda malam ini. Tepat pukul tujuh malam, beragam menu makanan sudah tersedia diatas meja. Ayam panggang, kimchi, Ikan goreng pedas, Enchilada favorit Baekhyun, juga sup makaroni dan sosis saus manis favorit Chanyeol. Beberapa pelayan menuangkan jus jeruk di masing-masing gelas.

"Wah, wah, lihat ini."

Byun Jaehyun terkekeh begitu memasuki ruang makan. Pelayan-pelayan tadi mundur dan memberi hormat kepadanya. Di belakang Jaehyun, Hyesun ikut tersenyum. Chanyeol dan Baekhyun berada paling belakang, mengikuti kedua Byun senior duduk di kursi makan.

"Lihatlah, Chanyeol." Hyesun menunjuk semangkuk besar sup makaroni. "Aku sampai menelepon ibumu demi bertanya apa makanan kesukaanmu. Baekhyunie, kau harus ingat ini. Chanyeol sangat menyukai sosis saus manis."

Baekhyun tersenyum manis, menanggapi ucapan ibunya. Sebelum kesini, ia dan Chanyeol sepakat menutupi apa-apa yang terjadi diantara mereka berdua. Sejak tadi, Baekhyun dan Chanyeol bahkan bergandengan tangan, saling menggoda dan melempar senyum manis. Hal-hal kecil itu membuat Hyesun dan Jaehyun tersenyum bahagia, mengira segala hal baik-baik saja.

"Kalian akan berangkat jam berapa untuk besok?"

Suara Jaehyun, yang tengah menyendok sup makaroni ke mangkuknya, membuat Chanyeol menoleh. Pemuda itu tersenyum dengan sopan. "Kami mendapat tiket siang hari. Orangtuaku mengusahakan agar aku dan Baekhyun bisa melihat sunset di sana."

"Oh, luar biasa." Sahut Hyesun. Ia menatap wajah anaknya. "Baekhyunie-ku mendapat mertua yang pengertian."

Tawa berderai diantara ketiga orang disana, minus Baekhyun yang hanya bisa mengusahakan senyum manisnya. Helaan nafasnya lirih terdengar. Ia menatap kedua orangtuanya. Jaehyun dan Hyesun yang sangat menyayanginya. Rela mencarinya belasan tahun. Dia tidak boleh mengecewakan mereka berdua dan menghapus senyum bahagia itu.

Matanya beralih melirik Chanyeol. Pria ini, entah bagaimana Baekhyun harus mendeskripsikannya. Terutama, bagaimana ia menyatakan cinta beberapa jam yang lalu. Jujur saja, Baekhyun tidak menemukan kebohongan dalam perkataan Chanyeol. Tapi, ia tidak tahu bagaimana hatinya bisa menerima itu, sesuatu seperti mengganjalnya.

.

.

.

"Baekhyunie, lihatlah."

Baekhyun menaruh gelas berisi air putih di meja makan, dan berjalan lebih cepat ke arah Chanyeol yang sedang mengobrol dengan ayah dan ibunya. Hujan kembali mengguyur kota, dan Chanyeol diminta menginap. Baekhyun ingin menolak, namun urung ketika memikirkan hal-hal buruk soal berkendara ditengah hujan. Untungnya, Hyesun tahu diri untuk tidak menaruh mereka dalam satu kamar. Para pelayan kini telah sibuk mempersiapkan kamar tamu untuk Putra keluarga Park.

"Foto kalian sudah keluar. Zitao mengerjakannya dengan cepat."

Hyesun mengernyit. "Foto?"

"Ah." Chanyeol tersenyum tak enak. "Temanku, Zitao, meminta Baekhyun dan tiga temannya untuk menjadi model promosi koleksi fashion terbarunya."

"Oh, benarkah? Apa Sehun bisa berkespresi dengan baik?" sahut Jaehyun. Tawa kembali berderai di ruang keluarga.

Sementara itu, Baekhyun mengambil alih laptop yang tadi berada di hadapan Chanyeol ke pangkuannya. Ia menggerakkan kursor benda elektronik itu pelan-pelan. Zitao mengunggah foto mereka di instagram khusus brand fashion-nya. Baru saja lima belas menit, ribuan komentar dan likes membanjiri postingan tersebut.

Brand new fashion of #Zitao wear by oohsehun mrkanggun dokyungsoo & baekhyunee92 for your #new #life. Grab it on our special shop and website. Available for worldwide shipping. #catchoutfordiscount #comment #your #favorite

1.400.057 likes, 11253 comments

parkayoung: Tuan Muda Oh Sehuuuuuun.

Azova10: parkayoung dia milikku. Tapi lihatlah, tidakkah kau berpikir bokong baekhyunee92 sangat bagus?

chanbaekkr_club: Apa Chanyeol tidak diikutsertakan?

deestacia: Azova10 parkayoung dasar wanita-wanita mesum.

cactus93: kyungsooooooo-ie!

chanbaekyuu:Baekhyun sungguh luar biasa. Tapi yang lain juga menakjubkan. TT_TT aku tidak bisa memilih.

btype_b: Aigooo. Lihatlah Kang Minhyuk! Tampannyaaa!

Baekhyun tersenyum geli. Komentar-komentar itu membuat moodnya menanjak naik. Ia begitu serius, hingga tanpa sadar, Chanyeol ikut tersenyum di sampingnya.

"Mereka benar. Kau menakjubkan."

Jemari Baekhyun berhenti bergerak. Ia berdehem sedikit dan menyadari jika para Byun senior sudah tidak ada disana. Baekhyun menghela nafas. Matanya menutup sebentar. Perlahan, kepalanya menoleh, dan Baekhyun merasa itu adalah pilihan yang salah.

Mata Baekhyun seolah terkunci. Pandangan Chanyeol yang teduh membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Dari jarak sedekat ini, pemuda itu sangatlah tampan. Mata besar dan hidung mancung, serta bibir tebal yang sempurna, membuat Chanyeol bagai dewa dari surga. Darah Baekhyun berdesir cepat, membuat wajahnya merah padam.

Si mungil itu berdehem. "Aku harus menyiapkan selimut."

Selanjutnya, bisa ditebak, kaki-kaki mungil Baekhyun bergerak cepat. Berdiri dan berlari, menjauhi Chanyeol yang kimi terkekeh. Menikmati setiap tingkah lelaki favoritnya.

.

.

.

"Apa kau yakin semuanya ada disini?"

"Iya, Nyonya."

"Termasuk alat make up, piyama, dan pakaian dalam mereka?"

"Iya, Nyonya."

Junsu menghela nafasnya lega. "Ah, syukurlah. Dan sampai dimana Putra kita dan keluarga Byun, suamiku?"

Yoochun terkekeh dan menunjuk kearah pintu masuk bandara. "mereka sudah disana."

Chanyeol dan Baekhyun berjalan dengan Jaehyun dan Hyesung di masing-masing sisi mereka. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang lewat lima belas menit. Itu artinya mereka akan dipanggil ke dalam bandara beberapa menit lagi. Junsu tersenyum lebar dan bergerak memeluk Hyesun.

"Apa putraku menyusahkanmu kemarin?"

Hyesun terkekeh. "Tidak sama sekali. Putramu sungguh menakjubkan."

"Kalian benar-benar tidak pergi bersama kami?"

"Maafkan aku, Hyung." Jaehyun berujar sedih. "Aku hanya perlu menyelesaikan satu rapat. Kami akan menyusul esok pagi."

Hyesun mengangguk. "Kami titip Putra kami."

"Bukan masalah. Dia juga akan segera menjadi putraku."

Ucapan Junsu membuat ketiga orang tua lain kembali tertawa. Baekhyun dan Chanyeol masih disana, masih dengan interaksi yang canggung. Baekhyun jelas menjauhi putra tunggal Park itu. Sejak tadi, jemarinya sibuk dengan handphone – nya, membalas ucapan-ucapan dari ketiga sahabatnya. Chanyeol pun begitu. Beberapa rekan bisnisnya memberi selamat, disertai konfirmasi mereka yang akan hadir pada pesta utama esok malam. Sebuah suara khas terdengar, panggilan untuk pesawat yang akan dinaiki keluarga Park dan juga Baekhyun.

"Sudah saatnya." Junsu tersenyum, memberi gestur yang dipahami langsung oleh pelayannya. Pelayan pria itu bergerak membawa koper-koper mereka.

"Baekhyunie. Telepon kami begitu sampai, okay?"

Jaehyun mengelus rambut putra satu-satunya itu. "Kamo akan menyusul besok. Jaga diri baik-baik."

Baekhyun mengangguk dan tersenyum. Ia memeluk kedua orangtuanya sebelum berbalik dan mengikuti Yoochun dan Junsu yang berjalan lebih dulu. Dibelakangnya, ada Chanyeol yang kini merangkul pundak sempit Baekhyun.

"Tolong, jangan menolak dulu." Pinta Chanyeol. "Aku hanya akan menjagamu."

.

.

.

Daehyun menaruh belanjaannya diatas wastafel toilet pria. Tidak seperti biasanya, toilet di pusat perbelanjaan tersebut tidak ramai. Hanya ada satu bilik yang tertutup dan tidak ada satu orang pun selain Daehyun di spot pencucian tangan. Dering handphone mengalihkan perhatiannya. Daehyun segera mengangkat panggilan tersebut begitu melihat nama di layar.

"Ya?" sahutnya.

"Kau belum bersiap – siap?"

"Belum." Daehyun bicara sambil merapikan rambutnya. "Aku haru saja berbelanja tuxedo baru. Aku harus tetap terlihat tampan di mata Baekhyun."

"Ck. Mereka akan bertunangan dan kau masih saja mengharapkannya."

"Oh, kufikir kau akan mengacaukan pesta mereka?" balas Daehyun. Dahinya berkerut bingung.

"Aku tidak bilang begitu. Aku hanya bilang, aku akan membuat hidup pertunangan mereka tidak baik."

"Terdengar seperti mengancam dengan permen kapas beracun." Daehyun terkekeh. "Manis namun mematikan."

Sebuah kekehan terdengar di seberang sana. "Sudahlah. Percepat persiapanmu dan segera berangkat. Ikuti mereka dengan baik. Aku sudah mempersiapkan segalanya."

"Tentu. Aku akan cepat."

Sedetik setelahnya, Daehyun memutuskan sambungan telepon tersebut. Handphone itu kembali ditaruhnya di saku jeans. Lelaki itu bersiul, merapikan rambut dan tersenyum senang melihat wajahnya yang memang tampan. Ia mengambil tas belanjaan miliknya dan bergegas melangkajh keluar dari toilet.

Tanpa tahu, jika orang di dalam bilik mendengar segalanya. Tanpa tahu, orang itu kini keluar, mengepalkan tangan dengan wajah memerah yang menahan amarah. Tanpa tahu, dia baru saja memancing sahabat berani mati dari seorang Byun Baekhyun. Oh Sehun —orang itu— menelepon sebuah nomor.

"Minhyuk hyung, bisa kita bertemu? Tidak, tidak, hanya kita berdua. Kyungsoo sedang bersama Jongin—baiklah, sampai bertemu."

.

.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

.

.

Ciaaaaaaaaaa. Selamat ulang tahun EXO-L. Semoga kita bertemu di tahun-tahun selanjutnya.

Omong-omong saya update bareng Blood Type-B, parkayoung, Azova10, sama JongTakGu. Cusss di cek lapak mereka.

Anyway ini saya pasti update telat karena harus nunggu sinyal Bagus. /sigh.

Pokoknya, happy birthday EXO-L. Maaf jika ini masih atau semakin jelek. Chapter depan ayo kita main-main di jeju~