Kisah Cinta Diwaktu SMA
by : annoying-keinda
A/N : Aduuh lama banget ya saya ngga nge-update. Lagi sibuk banget sama kerjaan OSIS sama tugas sekolah bikin karya tulis. Nah, karena saya sudah selesai dengan karya tulis saya (yang baru aja dikumpulin), saya memutuskan untuk melanjutkan cerita saya.
DISCLAIMER : Saya tidak punya Fairy Tail, dan semoga pemilik sebenarnya, Hiro Mashima, selamat dari tsunami.
CHAPTER BERAPA YAA? CHAPTER 7 DENG HEHE...
Dalam hitungan 1 minggu 3 hari lagi, SMA Fairy Tail akan mengadakan Mid-Test. Seluruh anak-anak SMA Fairy Tail mulai grasa-grusu belajar buat test itu. Tak terkecuali Natsu. Natsu yang biasanya outgoing, sekarang lebih suka mengurung di kamarnya atau di kamar Erza untuk belajar. Kamar Erza?
"Hey, Natsu! Kenapa kalau kamu belajar harus di kamarku?" Tanya Erza memergoki Natsu yang lagi tiduran diatas tempat tidur Erza sambil membaca buku biologi.
"Bosan kalau aku belajar di kamarku terus." kata Natsu nyengir ke Erza.
"Ya sudahlah..." Erza menyerah dan duduk di kursi meja belajarnya (atau lebih tepat meja kerja ayahnya sebelum menjadi pembalap jalanan).
Setelah lama Erza berkutat dengan buku biologinya terdengar dengkuran Natsu yang tak asing lagi bagi Erza. Erza melirik ke jam di dindingnya. Pukul 23.00. Pantaslah bagi Natsu untuk tertidur. Tak ingin membangunkannya, Erza mengendap keluar dari kamarnya menuju kamar Natsu untuk tidur.
Pagi harinya Erza terbangun oleh sinar matahari yang mengenai wajahnya. Sakit kepala dirasakannya. Erza bangkit dari tempat tidur Natsu menuju dapur untuk membuat sarapan. Sampainya di dapur Erza melihat Natsu dengan 2 sandwich telur.
"Hari ini aku yang masak sarapan sebagai ganti aku numpang dikamarmu." kata Natsu sambil nyengir lebar.
"Hei, Erza Kau tak apa? Kau terlihat pucat?" kata Natsu menyadari wajahnya pucat.
"Aku tak apa Natsu. Hanya kecapekan." kata Erza. Natsu menyentuh dahinya.
"Tapi kau... OH TIDAK!" Natsu kaget saat tiba-tiba Erza terjatuh pingsan.
Natsu membopong Erza ke sofa ruang tamu dan meraih telepon.
"Halo... Aku butuh ambulans. Secepatnya!" kata Natsu pada lawan bicaranya.
2 menit kemudian ambulans datang menjemput. Erza langsung dinaikkan ke ambulans. Erza belum tersadar sejak tadi. Ini membuat Natsu sangat panik. Natsu ikut ke ambulans.
"Hey, apakah dia baik-baik saja?" tanya Natsu pada salah satu perawat di ambulans.
"Tenang saja istrimu tak apa..." kata perawat itu.
"Istri? Dia hanya pacarku..." muka Natsu memerah. Memang postur tubuh Natsu dan Erza yang tinggi membuat mereka berdua terlihat lebih dewasa.
"Maaf, saya tidak tahu kalau dia pacar anda." kata perawat tadi.
Natsu hanya melihat wajah Erza yang pucat.
'Istri? Mungkin suatu saat...' pikir Natsu.
Ambulans sampai di rumah sakit. Erza dilarikan ke UGD. Sedangkan Natsu harus menunggu diluar. Kemudian dokter keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan Erza dok?" tanya Natsu.
"Dia tak apa. Hanya kecapekan berat. Namun dia butuh istirahat." kata dokter itu.
Natsu langsung masuk ke ruang UGD. Melihat Erza tersadar dari pingsannya.
"Hey, kau tak apa?" tanya Natsu pada Erza.
"Aku tak apa Natsu." jawab Erza.
"Maaf, Erza akan melakukan beberapa tes sebentar lagi. Anda bisa keluar sebentar." kata seorang perawat.
Natsu mencium dahi Erza. "Aku akan kembali." kata Natsu.
Setelah Natsu pergi datang seorang perawat pria berambut biru membawa benda berwarna merah. Hydrant.
"Selamat tidur Erza..." BUNK... Erza dipukul pria itu dengan hydrant.
ERZA'S POV
Gelap seluruhnya gelap. Aku tak dapat melihat apa-apa lagi setelah pria rambut biru itu memukul kepalaku dengan hydrant. Sangat menyakitkan. Yang ada dalam pikiranku sekarang hanyalah Natsu yang akan datang membantuku. Namun pikiranku itu kini lupus sudah. Aku merasakan tubuhku dibopong dengan kasar. Setelah itu aku tak dapat merasakan apa-apa lagi. Yang kudengar hanya suara teriakan familiar dan suara Natsu. Apakah aku diculik? Apakah yang terjadi? Aku tak tahu.
Aku membuka mataku. Sangat berat. Aku melihat sekelilingku. Kamarku. Bukan. Ini kamar Natsu. Aku dapat mencium baunya di bantal. Kemudian aku melihat sesosok dengan wajah khawatir. Natsu.
"Natsu? Apa... yang... terjadi?" kataku dengan berat.
"Gerard hampir menculikmu. Untung saja aku dapat melihatnya." katanya tersenyum lega menyadari aku terbangun.
Aku menyentuh dahiku. Sakit. Aku benar-benar dipukul hydrant oleh Gerard.
"Aku akan pergi ke sekolah. Jaga dirimu baik-baik." Natsu mencium bibirku kemudian mencium dahiku dan pergi meninggalkan ruangan.
Setelah beberapa saat kemudian. Aku mendengarpintu berderit terbuka. Aku menengok. Seseorang dengan tudung datang memasuki kamar Natsu. Bagaimana caranya dia masuk? Kemudian Natsu juga masuk ke kamar.
"Aku lupa. Mystogan datang untuk menjengukmu." kata Natsu.
"Thanks Natsu." katanya dengan nada yang sangat familiar.
"Mungkn kau akan bingung, Erza atau Natsu... maaf..." lanjutnya sambil membuka tudungnya.
"KAUU...!"
Aku terkaget melihat pria berambut biru itu melepaskan tudungnya. Mystogan adalah Gerard?
"Bukan aku bukan Gerard. Aku saudara kembar Gerard." terangnya.
"Bagaimana..? Caranya?" tanyaku.
"Dia tak akan pernah tahu kalau aku saudara kembarnya." katanya.
"Aku diadopsi oleh keluarga yang sudah lama tak punya anak. Jauh sebelum Gerard." lanjutnya.
"Maafkan perbuatan adikku yang telah menculikmu. Aku datang kesini untuk tidak dendam padanya." katanya.
Aku hanya mengangguk kecil sebagai tanda permaafan.
"Natsu..." aku menengok untuk melihat Natsu yang hanya tersenyum padaku. Dia sudah tahu sejak lama.
"Aku cuma gak mau kamu gak tahu." kata Natsu, lalu mencium bibirku.
"Aku akan berangkat ya..." Natsu dan Mystogan keluar dari kamar. Aku sendiri sekarang
TOK...TOK
Kudengar ketukan pintu asing. Kemudian pintu terbuka. Seseorang berambut biru dengan seragam sekolah yang tak familiar datang masuk. Ini bukan Mystogan. Tetapi Gerard Fernandes. Yap. Dia masuk ke kamar ini.
"Erza... Maafkan aku..." katanya mendekati diriku.
Aku hanya menggeleng-geleng. Kurasakan tangannya menyentuh wajahku. Kemudian kurasakan dia menciumku.
...
BAK! "Aku PULAAANG... eh..." Natsu yang membuka pintu kamarku dengan tiba-tiba langsung kaget dengan Gerard yag menciumku.
"Natsu?" aku juga kaget melihatnya.
"Kau... Ternyata..." Natsu melihat wajahku. Penuh sesal dan matanya mulai berkaca-kaca.
Natsu langsung beranjak pergi dari rumah dengan motor ayahku. (A/N : Hmmm... Setelah ngeliat review, saya baru ingat... Natsu punya motion-sickness. Tapi tak apalah karena sudah sejauh ini.) Aku tak pernah melihatnya kembali ke rumah.
1 MONTH LATER...
Berminggu-minggu sudah Natsu tak mau bicara denganku. Dia hanya berbicara dengan Gray dan Gajeel. Lucy pun sepertinya sedang marahan dengan Gray. Juvia menjadikannya sakit hati. Gray baru saja tertangkap basah pacaran dengan Juvia 2 hari yang lalu. Aku, hanya bisa melihat Natsu yang tak pernah tersenyum lebar lagi. Akhir-akhir ini Gerard sering sekali mengunjungi rumahku. Hingga akhirnya Gerard mengajakku ikut bersamanya ke prom di sekolahnya. Sekolah elit yang sangat terkenal.
Aku menerima tawaran Gerard. Mungkin aku akan lebih tenang jika aku bersama Gerard. Kuharap tak akan terjadi apa-apa sebelum prom itu dimulai...
TO BE CONTINUED
A/N : Maaf, maaf saya lama banget ngga update. Sibuk nih sama kerjaan sekolah yang padet banget. Dan kayaknya update selanjutnya akan agak lama. But, Review please!
