| HUNHAN | DARK & GOLD | CHAPTER 7 |
Author : LarasAfrilia1771
Genre : Drama, Angst, Tragedy, YAOI, Romance, Little action
Cast : Lu Han
Oh Sehun
Wu Yifan
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
.
A/N : Judul FF ini terispirasi dari salah satu iklan kesukaan saya. Cerita milik saya almiah, buka remake apalagi jiplak punya orang. Tanpa ada unsur menjelek - jelekkan tokoh saya ciptakan ff ini (?) Juga Luhan punya keluarganya semua member juga kecuali sehun yang mutlak punya saya bhaqq ^o^
.
.
Summary
Setiap orangtua pasti ingin anaknya menjadi penerus keluarga. Orangtua yang berpangkat jendral dengan kekayaan berlimpah tak menjamin keinginannya pada Luhan sang anak bungsu. Luhan terlahir dengan figur yang berbeda dari keluarga kemiliteran Choi. Lemah lembut, penyayang juga cantik meski Luhan seorang namja. Keluarga Choi menjadi khawatir akan hal itu, mereka takut Luhan akan diperebutkan oleh siapapun yang menginginkannya.
.
.
.
_Sebelumnya_
Sehun memeluk erat tubuh itu, menempatkan di posisi ternyaman pada tubuhnya. Ini bukanlah suasana pagi yang menyenangkan baginya, terlalu menyakitkan hingga ia pun bingung harus melakukan apa. Ia terlalu terkejut.
"Sehun" Lirih Luhan yang berada di pelukan Sehun. Masih sedikit sesegukan akibat darah yang belum juga berhenti untuk keluar.
Sehun segera menatap Luhan, mengelus pipi tirus itu sambil mengucapkan kata – kata penenang.
"Bertahanlah Lu"
.
.
.
.
_D&G_
Kini Luhan tengah berada di ruang gawat darurat sekarang. Entahlah, Sehun ingin sekali mengetahui keadaan Luhan sekarang. Namja tampan itu hanya dapat menggigit resah kukunya, kepanikan melandanya sekarang dimana mereka sudah berada di Seoul kembali setelah menetap beberapa waktu di bangunan dalam hutan itu.
Sehun hanya bisa mondar – mandir di depan pintu tersebut. Ya, Chanyeol sedang mengantar Baekhyun untuk memeriksa kondisinya. Sehun merasa bersalah memang, namun sepertinya bukan saatnya meminta maaf sekarang.
Hingga dirasa dirinya lelah untuk terus melakukan hal konyol ini. Ia dudukan diri pada kursi tunggu disana. Memijit pelipisnya sesaat sebelum ia menengadah menatap langit – langit ruang tersebut. Jangan sampai terjadi hal buruk pada Luhan, ia tak akan membiarkan itu terjadi.
.
.
"Pasien terlalu kelelahan sehabis operasi, jadi saya menyarankan untuk beristirahat total agar tidak mengganggu proses penyembuhan paska operasi, beruntung pasien tak kekurangan darah"
"Ne, tapi apakah ini tidak fatal. Melihat sebelumnya dia muntah darah?"
"Ini memang dapat dikategorikan fatal, namun kita dapat mencegahnya dengan cara memberikan beberapa obat juga terapi. Pasien juga harus dirawat terlebih dahulu"
Dan saat itulah Sehun menyanggupi semua apa yang diperintahkan oleh sang dokter. Demi kesembuhan Luhan ia akan mengorbankan apapun, karena ini juga kesalahannya.
"Baiklah, terimakasih dok"
.
.
Chanyeol menatap Baekhyun yang masih terduduk disebelahnya. Setelah melakukan pemeriksaan mereka segera pergi untuk mengambil obat di apotek rumah sakit tersebut. Namja tinggi itu terus memerhatikan Baekhyun yang nampak serius dengan keterdiamannya. Entah apa yang dipikirkan Chanyeol, ia hanya bisa tersenyum saat mengetahui Baekhyun beberapa kali mengedip hingga menoleh kearahnya.
"Wae?" Ujar Baekhyun.
"Kau sedang memikirkan apa?"
"Aku hanya pusing"
Dan ucapan Baekhyun adalah kebohongan. Ia sedang memikirkan rencannya untuk melarikan diri dari namja tinggi disebelahnya ini. Ini kesempatan bagus untuknya agar bisa kabur dengan cepat, karena sekarang ia sangat tahu lokasi ini.
"Kau mau tunggu disini atau ikut denganku?" Baekhyun segera menggeleng, membiarkan Chanyeol untuk mengambil obatnya sendiri.
"Kau saja aku pusing" Baekhyun mencoba memegang kepalanya agar lebih meyakinkan. Chanyeol yang melihat itu segera menyetujuinya tanpa ada kecurigaan apapun. Ia berjalan menuju tempat obat, meninggalkan Baekhyun di kursinya sendiri. Padahal setelah Chanyeol pergi namja mungil itu akan lebih leluasa untuk lari darinya. Chanyeol nampaknya sudah terhanyut dengan acting Baekhyun yang sangat meyakinkan. Meski begitu Baekhyun tetap waspada dengan sekitar.
.
.
"Atas nama Byun Baekhyun" Tanya seorang penjaga apotek.
Chanyeol mengangguk, mengambil obat itu setelah menebusnya.
"Terimakasih"
Dan saat itulah Chanyeol menatap kursi itu kosong. Sebelumnya Baekhyun duduk manis di kursi itu, namun sekarang namja mungil tersebut telah pergi dengan cepat. Chanyeol mendecih sebelum matanya menatap sosok yang nampak sedang berlari di ujung sana. Tanpa tunggu lama ia mengejar Baekhyun. Belum terlalu jauh dan ia bisa mendapatkannya kembali.
"SHIT"
.
Baekhyun berlari dengan terburu – buru untuk segera keluar dari rumah sakit ini. Biarkan saja ia egois sekarang karena tak bisa membawa Luhan pergi bersamanya. Habisnya mau bagaimana lagi, ia sangat bingung sekarang. Dan untuk kesempatan ini ia tak akan menyia – nyiakannya.
Deru napasnya terdengar berat saat mata itu menatap koridor yang nampak sangat panjang dihadapannya. Tempat ini sangat sepi sekali, dan tak ada suster yang biasanya menjaga. Baekhyun terus saja berlari, menuruni tangga darurat hingga ia sampai di lantai bawah.
Baekhyun berkali – kali mengatur napasnya yang putus – putus. Seraya menoleh ke belakang jika saja Chanyeol masih mengejarnya.
Baekhyun memegang lututnya dan terdiam sebentar. Sungguh ia kelelahan sekali seperti ini, kepalanya pun maasih terasa pusing. Dan samar – samar ia mendengar langkah kaki yang mendekat. Baekhyun segera menoleh, hingga ia melihat Chanyeol yang mencoba lari ke arahnya. Baekhyun mendesah, ia kembali berlari sekuat tenaga saat berkali – kali Chanyeol memanggil namanya.
"BAEKHYUN"
Tidak, aku tidak boleh tertangkap
Terus berlari hingga tak sengaja ia menabrak tubuh yang lebih besar darinya. Baekhyun sontak terkejut, melihat siapa yang kini berada di hadapannya.
"YIFAN"
GREP
Langkah cepat yang sedari tadi Chanyeol pertahankan luntur sudah, saat melihat siapa yang kini berada di hadapannya. Bukan takut dengan sosok yang tengah dipeluk Baekhyun. Hanya saja ia merasa dadanya tiba – tiba sakit saat menyaksikan itu.
Baekhyun nampak memeluk Yifan dengan erat, menatap ke arahnya dengan takut. Baekhyun yang tak tahu apa – apa dan dengan tiba – tiba terjebak dalam situasi ini.
Namja tinggi itu dapat melihat bagaimana Baekhyun yang berusaha berbicara sesuatu pada Yifan. Langkah pastinya ia bawa menuju ke arah dua namja itu, terkesan biasa saja padahal dirinya telah menahan mati – matian rasa aneh yang terus menggerogotinya.
.
"Yifan, tolong aku"
"Baekhyun, hey kau kemana saja?"
"Tolong aku Yifan..Aku..dan..—
"Yifan-shii, lama tak bertemu"
Chanyeol segera memotong apa yang Baekhyun ingin katakan sebelum Baekhyun benar – benar mengucapkan sesuatu yang akan membahayakan dirinya. Yifan segera membalas sapaan itu dan merasa aneh dengan sikap Baekhyun sekarang. Di tempat seperti ini tiba – tiba Baekhyun datang dan juga ada Chanyeol disana.
"Yifan..ayo kita pergi" Baekhyun mencoba untuk meminta Yifan untuk pergi dari tempat ini.
"Kau sebenarnya kenapa?. Baek jangan bilang kau sedang ada tugas di rumah sakit ini hingga tak bisa membalas pesanku"
Baekhyun tak menjawab pertanyaan tersebut malah menatap mata bulat Chanyeol yang menatapnya dengan tajam dan membuat Baekhyun menciut ditempat.
Yifan sendiri merasa aneh dengan keadaan sekarang. Dimana ia sudah lama tak bertemu Baekhyun juga Chanyeol yang memang sudah tak bekerja lagi pada keluarganya.
Merasa hatinya semakin memanas saat melihat bagaimana Baekhyun yang memeluk tubuh itu. Chanyeol memilih untuk lebih mendekat, sepertinya ini tak terlalu baik namun ia akan mencoba.
"Baekhyun, kita harus bicara"
Lengan Baekhyun dicekal oleh Chanyeol, membuat Yifan mengernyit menatapa pemandangan dihadapannya. Sepertinya mereka memiliki hubungan.
"Baekhyun kau mengenal Chanyeol?" Tanya Yifan.
"Dia kekasihku"
Baekhyun sontak melebarkan matanya, menatap tak percaya ke arah Chanyeol sebelum ia menatap Yifan. Oh kenapa harus seperti ini, bibirnya tiba – tiba terasa kelu untuk berbicara.
"Akhh, Baekhyun kau tak pernah mengatakan jika kau telah memiliki kekasih" Itu adalah Yifan dengan semua pukulan keras pada jantungnya. Pelukan Baekhyun segera ia lepas begitu saja. Tersenyum terpaksa sebelum ia menyuruh Chanyeol untuk membawa Baekhyun pergi.
"Sepertinya aku harus pergi. Chanyeol kau bisa membawa Baekhyun sekarang"
"Yifan tunggu.. Aku ingin bicara, Chanyeol buk—
"Sudahlah, Chanyeol membutuhkanmu"
Hati Baekhyun terasa remuk atas sikap Yifan kepadanya. Sedangkan Chanyeol masih memegang lengannya namun belum untuk membawanya pergi. Baekhyun hanya bisa memanggil – manggil Yifan yang kini mulai berjalan pergi. Oh sungguh ia merasa dalam keadaan drama TV yang sangat dramatis. Padahal jauh dari kebohongan ini ia hanya berusaha meminta tolong pada Yifan. Tak tahukah jika ia membutuhkan namja itu.
Pegangan pada lengannya segera ditepis begitu saha. Baekhyun menatap kesal ke arah Chanyeol yang masih menatapnya.
"KENAPA KAU MENGHALANGIKU PERGI, BUKANKAH AKU BUKAN SIAPA – SIAPA KALIAN" Bentakkan itu membuat Chanyeol bungkam. Ini memang bukan kali pertamanya ia dibentak oleh Baekhyun, namun ini lain namja mungil itu telah benar – benar murka.
"KAU JAHAT, DASAR SIALAN AKU INGIN PERGI"
Teriakan itu membuat Chanyeol merasa ada sesuatu yang benar atas ucapan Baekhyun. Kenapa bisa namja mungil itu masuk kedalam kehidupannya hingga membuat Chanyeol bingung sendiri. Ya, Sehun telah memerintahnya untuk melepas Baekhyun, tapi apakah tidak masalah. Baekhyun mengetahui semua rencana mereka mengenai Luhan.
"Jika aku melepaskanmu, apakah kau akan tutup mulut mengenai Luhan?"
"Tidak, tidak akan aku secepatnya akan melaporkan kalian secepatnya"
"OK, aku tak akan melepaskanmu"
Dan saat itulah Baekhyun ditarik secara paksa oleh Chanyeol pergi. Ia hanya bisa meronta dan mencoba melepas pegangan itu, sedangkan Chanyeol tetap menggeret Baekhyun. Jawaban Baekhyun sungguh membuatnya berubah pikiran, anak ini terlalu gegabah padahal menurutnya ini adalah kesempatan besar. Baekhyun adalah anak yang polos juga bodoh.
.
.
.
_D&G_
Sehun hanya bisa menatap tubuh terbaring Luhan yang nampak sangat tenang ditempatnya. Sesekali ia mengusap peluh yang menghiasi sekitar dahi namja cantik itu.
Mungkin tindakan Sehun selama ini terlalu berlebihan. Luhan benar – benar masih harus menjalani perawatannya. Ohh, entah setan apa yang membuat Sehun menggila kala itu. Ia terlalu menginginkan Luhan, lebih dari rasa menyukai. Obsesi berlebihnya membuat sosok yang ingin ia miliki menjadi seperti ini. Terlalu egois, dan Sehun akan berusaha menjadi namja yang tak terlalu mengandalkan ego.
Setidaknya ia akan merawat Luhan dengan baik. Membiarkan keluarganya mencari keberadaan sang anank hingga lelah dan ia yang berusaha mati – matian untuk menghindari Siwon juga Yifan. Masih terasa egois memang, tapi menurut Sehun ini sempurna baginya.
Setelah berkonsultasi dengan sang dokter. Sehun segera pergi menuju ruang rawat, dan entah harus berbuat apa lagi ia hanya terduduk disisi ranjang sebari mengamati wajah damai itu.
"Maafkan aku Lu, tapi jujur aku melakukan ini karena aku—
CKLEK
Pintu terbuka dengan tiba – tiba sebelum Sehun menyelesaikan ucapannya. Melirik ke arah samping dimana ada Chanyeol disana dengan Baekhyun yang nampak ditarik paksa olehnya.
"Sehun, aku pikir ini bukanlah tempat yang aman. Barusaja aku bertemu Yifan disini.."
"Dan kau tak membiarkanku pergi bersamanya" Baekhyun memotong ucapan Chanyeol begitu saja, membuat namja tinggi itu kesal.
"Jika Luhan harus dirawat lebih intensif, mungkin kita harus pindah dari rumah sakit ini"
Ucapan Chanyeol ada benarnya, mungkin tanpa sepengetahuannya nanti Yifan akan mudah merebut Luhan kembali. Jangan sampai itu terjadi.
"- Jika tak punya banyak waktu Sehun. Aku ingin sekarang kita pergi"
Sekilas Chanyeol melirik ke arah Baekhyun yang masih ditahan dengan lengannya. Maksud ucapannya tadi bukan semata – mata mengenai Luhan saja, namun ia merasa sangat tak suka jika Baekhyun kembali ke kehidupannya dan bertemu kembali dengan Yifan. Cukup saat tadi saja.
"Ya aku mengerti, tapi melihat kondisinya sangat tak mungkin jika Luhan dipindahkan sekarang. Kau lihat dia belum sadar"
Chanyeol mengerti sebelum ia duduk di sofa dengan tangan yang masih menahan lengan sang namja mungil. Jelas Baekhyun kesal, tadi kesempatan terbesarnya untuk pergi dan membokar semuanya, namun entah kenapa tuhan tak memihaknya sekarang.
Baekhyun berusaha untuk melepaskan cekalan pada lengannya itu. Aishh tangannya sudah keram sekali dicekal seperti ini. Dengan sekali hentakan Baekhyun dapat melepasnya, menatap tajam Chanyeol yang berada tepat disebelahnya.
Sehun yang acuh saat matanya tak sengaja melirik kelakuan kedua namja disana. Ia menghiraukan itu dan lebih fokus pada Luhan yang kini nampak melakukan pergerakan kecil.
Senyuman terpatri di wajah dingin itu saat beberapa kali Luhan mencoba untuk membuka kedua kelopak matanya. Hingga perlahan mata itu sudah terbuka sempurna meski terlihat masih enggan untuk melakukan itu.
Luhan yang masih terbaring hanya bisa melihat bagaimana Sehun yang sedang tersenyum kearahnya. Saat matanya sudah membuka mata seperti ini tiba – tiba Sehun tersenyum kearahnya. Membuat Luhan berkali – kali bahagia entah kenana, dan ia merasa malu sekali.
"Sebentar ya, dokter akan datang untuk memeriksa kondisimu"
Dan Luhan menggangguk pelan, menatap sekelilingnya dimana ia kini tengah berada di sebuah ruangan yang tak lain adalah kamar rawat rumah sakit.
Luhan tak terlalu memikirkan saat matanya melihat Chanyeol dan Baekhyun yang nampak sedang berbicara di sofa berdua. Mengacuhkannya dan larut dalam perbincangan yang entah membahas apa. Yang bisa tertangkap olehnya adalah dimana Baekhyun yang terus menerus mendorong bahu Chanyeol entah kenapa, mungkin ia kesal.
.
"Apa yang kau rasakan, sakit dibagian mana?"
Beberapa kali Sehun telah menanyakan itu dan Luhan berkali – kali menggeleng tidak atas pertanyaan tersebut. Sesekali tersenyum samar saat dirasa berkali – kali Sehun mengecupi wajahnya.
"Kau tahu aku sangat bersalah sekali, maafkan aku" Sehun membenamkan wajahnya pada sisian ranjang, membuat suaranya teredam dibalik itu dan Luhan tak bisa untuk dengan jelas mendengarnya.
Luhan tak ambil pusing, rasanya kerongkongan ini sangat kering sekali. Ingin berbicara pun rasanya susah dan Luhan meminta Sehun untuk membawakannya minum.
Karena posisi Sehun yang sedang menelungkup pada ranjang, Luhan jadi kesusahan untuk meminta. Namun dengan sigap Chanyeol menghampirinya, memberikan sebuah gelas berisi air untuk ia minum.
Luhan menerimanya, Sehun mengubah posisinya dan dengan sigap mengambil alih gelas itu. Sehun hanya bisa menatap Luhan yang kembali terpejam sesaat. Namja cantik itu benar – benar nampak kelelahan.
"Jika lelah kau bisa tidur lagi, asal kau janji jangan tidur terlalu lama" Usapan yang diterima Luhan membuat bulu kuduknya meremanang. Ini terlalu membuatnya gila, setiap sentuhan yang diberikan Sehun membuatnya gila.
Senyuman samar terpatri saat matanyapun perlahan meredup. Sehun tetap mengelus dahi itu, sebelum dokter datang mungkin ia harus melakukan ini karena kelihatannya Luhan nampak nyaman dengan ini.
BRAKK
Suara pintu yang dibuka cukup keras membuat semua yang berada diruangan menoleh. Bukanlah seorang dokter yang Sehun harapkan, melainkan..
"Jangan bergerak"
Sehun menatap tak percaya apa yang kini tengah berada dihadapannya. Yifan juga Siwon, Ohh Sehun pikir ini adalah suatu petaka yang benar – benar mebahayakan. Ia kalah cepat oleh mereka yang dengan lebih cekatan melacak keberadaan mereka. Sehun maupun Chanyeol diam ditempat, menatap kedua namja disana yang sudah mengacuhkan pistol kearahnya.
Yifan berjalan menuju kearah Sehun yang berada tepat disamping ranjang Luhan. Ada rasa tak percaya saat mendapati seseorang yang sangat ia percayai adalah seorang penculik adiknya. Yifan sungguh tak percaya dengan apa yang kini ia lihat sekarang. Dimana Sehun juga Chanyeol orang kepercayaan keluarganya yang dengan tega menculik Luhan tanpa masalah apapun.
"Aku sungguh tak percaya ini" Dengan pistol yang mengarah pada kepalanya, Sehun tetap diam tak bergeming. Bergerak sedikit mungkin saja nyawanya akan melayang percuma. Maka dari itu Sehun memberi ancang – ancang pada Chanyeol untuk menunggu hingga mereka lengah.
Yifan menatapnya Luhan iba, melihat bagaimana kondisi sang adik yang nampak terbaring diranjang. Luhan menatap kakaknya, ingin berujar namun rasanya usah sekali dan ia hanya bisa untuk menatap setiap pergerakan kakaknya.
Sehun melirik kearah Chanyeol yang tengah diawasi leh Siwon dengan pistolnya. Sedangkan Baekhyun nampaknya tak bisa berkata apa – apa lagi. Antara senang juga tegang.
Untuk kali ini Sehun melihat tak adanya pasukan yang akan sigap dibelakang mereka. Apa mungkin ini ketidak sengajaan yang baik dengan rencana yang telah mereka buat.
.
_Flashback_
"Pasien di ruangan VIP atas nama Luhan ingin dipendahkan ke ruangan rawat yang lain. Tolong kau urusi itu"
Yifan yang sedang melakukan administrasi melirik ke arah karyawam yang berbicara tadi. Nama yang sangat familiar, tak alain adalah nama adiknya Luhan.
"Maaf, bolehkah saya melihat data pasien yang bernama Luhan tadi" Sang suster menyetujuinya, menyerahkan kertas berisikan data pasien di rumah sakit ini.
"Silahkan tuan"
Yifan mengambilnya, segera ia membaca setiap bait tulisan dimana data – data yang tercantum didalamnya, jelas pasien bernama Luhan ini sangat baru, baru kemarin ia masuk ke rumah sakit ini.
Setelah membaca semuanya dengan tatapan menyelidik akhirnya ia kembali memberikan data itu pada sang petugas. Tanpa tunggu lama ia pergi, menemui Siwon sang Appa yang pasti menunggunya di ruangan dokter, karena beberapa menit lalau mereka sempat berbincang dengan dokter rumah sakit mengenai luka mereka maisng – masing.
.
.
"Ini gigitan anjing, untung lukanya tak terlalu dalam jika tak segera diobati bisa bahaya" Sang dokter berbicara, Siwon hanya mengangguk paham. Ia menunggu Yifan yang katanya senang mengurusi biaya administrasi mereka.
"Ku dengar anak bungsumu hilang? Bagaimana bisa?" Siwon tersneyum samar sebelum membalas pertanyaan itu. Sedikit lagi ia bisa menemukan anaknya, tapi ada saja penghalang yang datang. Siwon tak mengerti modus si penculik.
"Ya entah kenapa nasibku sungguh sial. Aku juga tak tahu pasti, enta ingin apa aku tak mengerti"
"Nama anakmu Luhan bukan?, kemarin baru saja ada pasien yang bernama Luhan. Entahlah meskipun aku tak tahu benar wajahnya, mungkin saja itu anakmu" Candaan sang dokter membuat Siwon tertawa, mana mungkin si penculik membawa anaknya ke rumah sakit. Lagipula untuk apa, memangnya ada penculik yang sebaik itu.
"Kau ini bercanda. Mana mungkin" Elak Siwon.
"Mungkin saja, kau bisa memeriksanya barang sebentar. Siapa tahu, tak ada yang mengetahui itu bisa saja pasien kemarin adalah anakmu.
Siwon nampak berpikir. Lelucon garing yang membuat dirinya tertawa. Ya ini memang tertawa namun didalam hatinya ia berpikir, apa mungkin yang dikatakan dokter itu benar.
CLEK
Suara pintu ruangan dibuka oleh seseorang. Disana Yifan dengan raut wajah yang sulit diartikan. Siown menatapnya aneh sebelum bertanya mengenai administrasi.
"Appa, ini mungkin gila tapi aku rasa Luhan ada disini" Yifan mengutarakan itu bergetar. Semua yang berada di ruangan menatapnya tak percaya. Siwon jelas yang sangat tak percaya. Baru saja ia berbincang tentang anaknya yang hilang dan mendadak Yifan datang berbicara seperti itu.
"Apa maksudmu?"
"Tak ada waktu lagi Appa. 220 Ruang VIP lantai tiga"
.
_Flashback End_
.
.
Pintu ruangan rawat dibuka oleh seseorang. Dokter yang menangani Luhan datang dengan pandangan tak mengerti karena sekarang ruangan itu dipenuhi banyak orang juga pistol yang mengacung tepat pada kepala kedua namja itu.
Saat Yifan juga Siwon lengah, Sehun dan Chanyeol tak menyia – nyiakan kesempatan ini. Dengan bela diri yang mereka kuasai akhirnya mereka sudah bisa terlepas dari kukungan itu. Chanyeol yang mengambil alih lengan Siwon yang sudah ia sekap dibelakang begitu pula dengan Yifan.
"Sialan" Yifan berusaha untuk melepas kukungan pada lengan dibelakangnya itu. Namun ia kalah cepat karena Sehun telah mendahului dengan memukul punduk Yifan dengan keras.
BRAKK
BRAKK
Dua orang gugur begitu saja dengan mudah ditangan Chanyeol maupun Sehun. Mereka menyeringai bersamaan. Luhan yang masih terbaring menatapnya tak percaya, ia menangis saat melihat tubuh kedua keluarganya tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Baekhyun pun sama ia menatap tak percaya keduanya. Sedangkan sang dokter sudah pergi entah kemana, mungkin dokter itu takut.
Pinstol yang sedari tadi ditangan Yifan maupun Siwon terjatuh begitu saja. Baekhyun menggapai benda itu yang tergeletak di lantai dan mengacungkan tepat ke arah Chanyeol.
"Jangan bergerak" Baekhyun dengan beraninya mengacungkan pistol ke arah Chanyeol. Namja tinggi itu menyeringai, ia tahu Baekhyun ingin membela kedua namja yang telah tergeletak tak sadarkan diri ini. Dengan tangan yang bergetar ketakutan Baekhyun mencoba memegang erat benda itu. Kali pertama dalam hidupnya memegang benda yang tak semestinya berada di tangannya sekarang.
Chanyeol menatapnya remeh, ingin bergerak sebelum Baekhyun berucah sedikit teriak.
"DIAM, ATAU KAU KU TEMBAK" Jerik Baekhyun membuat Chanyeol menatapnya tajam. SI mungil ini memang bertindak gegabah sekali.
Sehun yang melihat itu hanya bisa tersenyum remeh. Baekhyun rupanya lupa dengan berapa pistol yang mereka punya.
KLEK
Pistol sudah diacungkan lagi oleh Sehun ke arah Baekhyun. Jelas Baekhyun kalah telak karena ia tak berpikir jika kedua namja itu pasti memiliki pistol dai sakunya.
"Tembak Chanyeol, dan aku akan menembakmu" Ucapan dingin Sehun membuat Baekhyun mati kutu. Ia bingung harus melakukan apa.
Chanyeol mendecih, sesantai mungkin untuk menghadapi Baekhyun dengan semua tindak gegabahnya. Ia pikir bisa dengan mudah mengacaukannya.
Baekhyun menyerah, menurunkan pistol yang diarahkan kepada Chanyeol. Sehun mendekat denga pistol yang terus diarahkan pada Baekhyun sebelum pistol itu bebnar – benar diletakkan ke lantai.
"Tak semudah itu untuk lari dan mengacaukan semuanya. Jadi diamlah sebelum peluru ini menancap tepat di kepalamu"
Sehun mengucapkan itu tepat ditelinga Baekhyun. Membuat namja mungil itu ingin menangis saja. Kenapa hidupnya menjadi seperti ini, sungguh ia tak mengharapkan kehidupan sekarang.
"Ayo kita pergi"
Intrupsi Sehun membuat Chanyeol segera membawa baekhyun untuk berdiri. Baekhyun sedikit takut saat kakinya menginjak sedikit tubuh Yifan yang tergeletak tak sadarkan diri. Baekhyun berharap mereka belum mati sebelum benar – benar menemukan Luhan.
"Aku pikir kita harus cepat pergi, sebelum para petugas rumah sakit tahu"
Sehun menyanggupi saran Chanyeol, mencoba membawa Luhan yang sejak tadi hanya diam saja. Namja cantik itu terlanjut takut hanya untuk berbicara. Sehun dan Chanyeol membuatnya merinding ketakutan dengan semua perbuatannya.
.
Luhan hanya bisa menatap ke arah leher Sehun yang menggendongnya bak pengantin. Kembali ia merasakan dejavu, dimana kejadian penculikan pertama didalam rumah sakit. Ya seperti waktu itu dimana Sehun dan Chanyeol yang membawanya pergi. Ini jelas sama dimana Sehun dan Chanyeol dengan masker hitam mereka.
Lain halnya dengan Baekhyun. Namja mungil itu terus saja ditarik oleh Chanyeol secara paksa. Baekhyun jelas menolak, namun bukan waktu yang tepat untuk melakukan itu karena Chanyeol mengancamnya akan membunuhnya.
"Diam, atau kau ingin aku bunuh sekarang" Ucapan tajam itu membuat bulu kuduk meremang. Tak bisa untuk berteriak dengan suaranya yang kencang karena sekarang jangankan seperti itu, ia sungguh merasa sangat tertekan.
Hingga beberapa lama mereka sampai di gerbang utama. Sebenarnya Sehun tak ingin keluar melalui pintu utama ini, namun bodohnya dia karena menyimpan mobil tepat di parkiran depan rumah sakit.
"Rumah sakit ini nampak sepi." Ujar Chanyeol pada Sehun.
"Benar, Yeol kau bawa mobilnya" Sehun menyerahkan kunci mobil, melirik sekilas kearah Baekhyun yang terus merunduk dalam. Cihh, sok ketakutan sekali.
Namun sebelum mereka melangkah lebih jauh. Tanpa sepengetahuannya, beberapa orang berseragam menghampiri mereka. Mengepung sebari mengarahkan pistol ke arahnya.
Sehun pikir ini adahal taktik Siwon juga Yifan. Bagus sekali hingga ia tak bisa berkutik sekalipun.
Mereka smeua terdiam termasuk Baekhyun snediri. Yifan dan Siwon nampak berjalan ke arahnya dengan seringayan yang membuat mereka kesal.
"Kalian tak bisa lari lagi" SIwon mendekat mencoba mengambil Luhan dari gendongan. Sedangkan Yifan sudah siap untuk membuka masker itu. Ia ingin mengetahui siapa penculik tersebut.
SREKK
Masker itu sudah terlepas dan untuk kali ini Yifan sungguh tak percaya dengan siapa yang berada dihadapannya sebelum ia menarik paksa Baekhyun disana. Saat ia bertemu dengan Baekhyun juga Chanyeol tadi ia sudah menaruh curiga pada mereka. Dan sekarang ia sudah tahu siapa dibalik ini semua.
"Apa maksud semua ini?"
TBC~~
Tarik napassss keluarin ~HUHHHHH~~~
Hiatus lama dan gak tahu makin lama ini ff makin absurd bin GAJE. Saya mau yang minat aja buat menyempatkan review ff ini. Yang merasa kecewa tolong maafin aku ya, akhir – akhir ini rada runyem gak tahu kenapa. Dan coming soon ada ff baru gak tahu bakal bagus atau enggak semoga aja bisa dijadikan bahan bacaan lagi hehe.
Maafin kalo ada Typo bahasa yang kurang srek. Karena mungkin itu semua adalah kesengajaan saya. Maaf ya sekalian ...
