Raining on Thursday
Hujan semakin deras. Awan mendung semakin gelap. Matahari siang itu sudah tak terlihat lagi. Sesekali petir menyambar. Suaranya menggema ke penjuru Kanto yang ramai.
"Matt, bisakah kau matikan game consolemu sebentar? Kita berlibur ke Jepang bukan hanya untuk main game, kan?" ujar anak berambut pirang pada anak yang sedang bermain game di hadapannya.
"Sebenarnya ini salahmu juga Mello, di Jepang banyak game yang bagus, jadi aku justru makin sering main game," ujar anak yang dipanggil Matt itu. Mello cemberut mendengar reaksinya.
Mello menghela napas. "Matt, aku tahu di Jepang banyak game yang bagus, makanya aku mengajakmu ke sini… TAPI BUKAN BERARTI KAMU BISA MAIN GAME TERUS!! SINI BIAR KUBAKAR!!" seru Mello sambil berusaha menarik game dari tangan Matt.
"Iya, iya, aku berhenti main game, jangan dibakar," ujar Matt. Ia segera mengesave gamenya dan meletakkannya di luar jangkauan tangan Mello.
"Hujan ya?" tanya Matt sambil melihat ke luar jendela.
"Udah dari tadi kali, ke mana aja lu?" ujar Mello sinis.
Matt membuka goggle kuningnya tercinta dan dengan matanya yang biru ia menatap Mello lembut. Wajah Mello memerah. Ia teringat kembai alasan mengapa ia menyukai Matt. (karena ganteng!! XD)
"Apa kau ingat pertama kali kita bertemu, Mello?" tanya Matt dengan suaranya yang merdu.
Mello yang wajahnya kini menjadi semerah tomat mejawab dengan terbata-bata, "Te… tentu saja aku ingat! Tidak mungkin aku lupa saat pertama kali bertemu denganmu."
(Flashback)
Hari itu Mello pertama kali memasuki Whammy House. Namun hari itu juga ia merasa tidak puas dengan anak-anak yang berada di sana. Setelah terlibat perkelahian yang cukup sengit dengan beberapa anak sebayanya di Whammy House itu, ia pergi ke luar dari gedung di tengah hujan deras. Ia berjalan tak tentu arah dalam hujan sampai kakinya menuntunnya ke sebuah tempat tak jauh dari Whammy House.
Dan anehnya tempat yang pertama ia singgahi adalah sebuah pemakaman lokal.
Mata Mello memandang ke dalam pemakaman. Ia melihat seseorang.
Seorang anak laki-laki yang kira-kira sebaya dengannya berdiri tegar ditengah hujan deras dan awan mendung. Angin kencang menerpanya, namun ia sama sekali tak bergerak. Rambutnya yang kehijauan menutupi matanya yang tertutup goggle orangenya. Ia menatap dua makam yang berada di hadapannya.
Dia adalah Matt.
Mello memang tidak terlalu yakin bahwa orang itu Matt, namun berdasarkan ciri-ciri yang disebutkan oleh Roger mengenai orang yang posisinya telah digeser oleh Mello dalam urutan pewaris nama L, anak yang dihadapannya itu cukup mirip.
Sangat mirip sebenarnya, ia memakai baju belang-belang hitam putih, vest bulu berwarna putih, dan goggle oranye.
Mello menebak makam yang ada di hadapan Matt adalah makam kedua orangtuanya. Mr. dan Mrs. Jeevas. Mereka meninggal dalam kecelakaan mobil, meninggalkan Matt sendirian.
"Matt masih merasa dirinyalah yang bersalah atas kematian kedua orang tuanya," begitu Roger berkata padanya.
Jadi Mello memberanikan diri menegur orang yang bernama Matt ini.
Tapi bukan Mello namanya kalau dia menegur dengan cara baik-baik.
"HEH, betul kau yang bernama Matt??" tanya Mello.
Anak yang dipanggilnya itu menoleh. Wajahnya tampak bingung.
"… Kau bicara padaku?" tanya Matt. Suaranya yang lembut dan wajahnya yang terlihat tampan membuat jantung Mello berdegup kencang.
"Tentu saja aku bicara padamu!! Kau pikir aku bicara pada siapa?? Mayat??"
Wajah Matt terlihat mengerut saat Mello berkata 'mayat'. Mello merasa sedikit bersalah. Namun bukan Mello namanya bila ia sudi meminta maaf pada orang yang baru dikenalnya. Ia merasa perlu memberi motivasi pada orang ini. Matt terlihat sudah kehilangan tujuan hidupnya.
"Aku tahu ini makam kedua orang tuamu, tapi apa kau pikir mereka akan senang melihatmu hujan-hujanan di hadapan makam mereka seperti ini? Mereka orang tuamu! Mereka pasti ingin kau bahagia! Kau pikir memaksakan diri hujan-hujanan begini akan membuat mereka senang? Kau harusnya malu pada mereka! Kau harus menjalani hidupmu dengan lebih baik dan membuat mereka bangga! Bukan malah menyianyiakan hidupmu dengan menyesal begini!" ujar Mello pada Matt.
Matt mengerjapkan matanya. Belum pernah ia diceramahi dengan keras seperti ini. Bahkan orang tuanya pun belum pernah memarahinya dengan keras. Namun ceramah keras Mello entah kenapa seperti menghilangkan beban yang dipikulnya selama ini.
Matt tersenyum pada Mello. Wajah Mello memerah melihat wajah Matt yang tampan.
"Terima kasih. Siapa namamu?" tanya Matt.
"Namaku Mello."
Melihat wajah Mello yang bersemu merah, Matt teringat kata terakhir ibunya sebelum meninggal.
"Mail, temukanlah orang yang mencintaimu apa adanya, dan lindungilah ia dengan sebaik-baiknya."
'Ibu, sepertinya aku telah menemukan orang yang dapat menerima keadaanku dan merubahku ke arah yang lebih baik, bukannya hanya mencintaiku apa adanya,' pikir Matt.
(flashback ended)
"Aku sangat berterima kasih padamu saat itu Melo."
"A… aku hanya melakukan hal yang menurutku harus kulakukan Matt."
"Aku benar-benar tidak menyangka bahwa hujan akan mempertemukanku dengan belahan jiwaku," ujar Matt sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Mello dan…
Mereka berciuman di dalam ruangan yang hangat, di saat hujan turun dengan derasnya…
I know you, but I know you not
I need you, but I need you not
I want you, but I want you not
But somewhere under the rain
Our kiss just as passionate as lovers
And I can't help but wonder
If we are meant to be together…
Jantung L berdetak kencang saat anak yang baru dilihatnya itu menghampirinya.
'Apa yang akan dia lakukan? Kenapa ia berlari mendekatiku? Aduh… bagaimana aku harus bereaksi? Pikir L, pikir! Kenapa aku jadi tidak konsentrasi begini?' pikir L kalut.
Belum selesai ia berpikir, Raito sudah sampai ke tempatnya.
"Ryuzaki, apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kita sudah menjadwalkan akan bertemu besok di tempat ini?" Raito bertanya sambil tersenyum. Jantung L berdetak kencang melihat senyumman Raito yang terlihat tulus.
'Ia seperti malaikat bila tersenyum… tapi dia bilang Ryuzaki? Siapa itu?' L bertanya-tanya.
Tiba-tiba pemahaman terlintas di benaknya. 'Ryuzaki yang di sebutkan anak ini pasti B! Kalau bukan dia siapa lagi? Tapi… kalau aku menyamar dan berpura-pura jadi B…'
L mulai berkata, "Aku…"
Tiba-tiba Raito memotong ucapannya, "Maaf sepertinya aku salah orang, maaf mengganggu, sampai jumpa."
Raito berlari meninggalkan L yang kebingungan sendiri.
"Dia bisa… membedakan aku dengan B?" tanya L heran.
'Tapi dia bilang sampai jumpa, apa artinya aku akan bertemu dengannya lagi?'
When I see you under the rain,
My heart skip a beat
When I hear your voice under the rain,
My face blushed a bit
While I now stand under the rain,
I wonder if there will be a second time to meet
Raito mempercepat langkahnya. Wajahnya memerah karena malu.
'Seharusnya aku berpikir dulu sebelum bertindak. Orang itu… walaupun mirip, ia bukan Ryuzaki…' pikir Raito.
'Walaupun penampilannya mirip, namun mata Ryuzaki berwarna merah, sedangkan mata orang itu hitam pekat. Suara keduanya juga berbeda, suara Ryuzaki agak lebih berat. Lagipula… Ryuzaki yang aku kunal lebih kelam dan selalu melihat sesuatu yang seolah berada di atas kepalaku, bukan menatap langsung ke mataku…'
"Aku memang terlalu banyak berpikir," keluh Raito sambil berlari ke rumahnya.
We meet under the rain
But will it be the end?
I don't know, but my feeling for you remains
And if it is the real end, I'm not sure if I can stand
Wuoooo!! Selesai!! Great!!
Aduh, entah kenapa ini fic jadi poem fic (--;) oia, puisi yang ada di atas itu buatan kakak saia yang ce loh! Saia tak sengaja nemu kertas puisi di antara kardus-kardus bekas (harta karun memang benar2 ada!! XD), lalu langsung saia masukkan ke fic inih!!
Di Chapter kali ini saia sengaja menampilkan MxM, namun saia masih agak canggung menulis tentang pairing ini, abis, ini bidang kk saia sih!! (sekedar pemberitahuan, kk saia ngarang fic DN cross over ama Ayat2 Cinta, pairingnya MxM!! Belom di post, sih, tapi rencananya di post pertengahan mei. XP)
Seperti yang saia informasikan dalam fic kemarin, intercon rumah saia mau diputus dua minggu ke depan, jadi saia belum bisa lanjutin (T.T) tapi ntar saia bakal balik lagi dengan terusannya!!
Bagi kk2 yg telah membaca dan mereview karya saia ini saia ucapkan terima kasih banyak! Nanti saia lanjutkan lagi cerita ini…. (kok kesannya kaya mau perpisahan yah?)
Review plz??
