Ryu D.[onquixote] Doflamingo presents…
Brother
Naruto Shippūden x One Piece
―Χ―
Mungkin Bagi Beberapa Dari Kalian, Fic Ini Jelek, Penuh Dengan Typo, Alur Kecepetan, Gaje, Humor Yang Terkesan Garing, Atau Yang Lainnya. Tapi Ingat, Author Sendiri Merupakan Seorang Newbie Yang Hendak Menuangkan Imajinasinya Di Situs Ini. Tolong Hargai Dengan Mengklik Tombol Review Dan Berikan Komentar Kalian! ^^
―Χ―
Chapter 7 : Impel Down ― Part 2.
[Impel Down, LV. 2, Mōjū Jigoku.]
Lift yang dinaiki Hancock, Hannyabal, Domino, Momonga, dan Aokiji perlahan mulai meninggalkan area level 1. Mereka juga telah melewati Guren Jigoku yang berisi Red Forest yang terdiri dari Kenju (Sword Tree.) dan Haribarisō (Neddle Grass.). Sungguh siksaan di level 1 saja sudah membuat Hancock bergidik. Bagaimana tidak? Hutan merah yang terdiri dari tanaman-tanaman tajam yang siap menebas, menusuk dan membelah setiap tahanan Impel Down. Ini baru level 1, Hancock tak dapat membayangkan bagaimana dengan level-level dibawahnya.
"Selamat datang di Level 2. Atau biasa disebut dengan, Mōjū Jigoku." Hannyabal menginterupsi para tamu Impel Down.
Akhirnya, terlihatlah level 2. Tak jauh berbeda dengan level 1, disini juga tersebar penjara-penjara dalam jumlah sangat banyak. Bedanya, ditempat ini penuh dengan berbagai makhluk aneh. Hancock dan Momonga sedikit mundur kebelakang saat melihat sesosok manusia banteng dengan gada besi berjalan kearah mereka.
Menyadari sikap waspada Hancock dan Momonga, Hannyabal hanya menghela nafas, "Tenanglah, Momonga-san, Hancock-dono. Dia adalah Minotaurus salah satu penjaga penjara Impel Down. Tak usah takut." Ujar Hannyabal.
Hancock dan Momonga melepas sikap waspada mereka. Namun, kemudian Hancock melihat segerombolan makhluk biru dengan kapak yang berlari-lari, "Terus, bagaimana dengan makhluk biru bersuara monyet itu?" Tanya Hancock.
Hannyabal melirik Domino yang dibalas oleh anggukan perempuan itu, "Itu adalah Blugori. Singkatan dari Blue Gorrila. Mereka hanyalah penjaga patroli." Jelas Domino.
Hancock mengangguk pelan. "Sokka."
Sementara itu, Aokiji hanya berdiri di pinggir sambil menyender ke dinding serta menyilangkan tangannya memasang pose berfikir. Momonga yang melihat Aokiji beringkah aneh memutuskan bertanya pada sang Admiral, "Ano, Aokiji-san. Adakah sesuatu yang mengganggu anda?" Tanyanya.
Aokiji yang menunduk kemudian mengangkat kepalanya menatap Momonga kemudian menggeleng pelan, "Tidak ada." Ucap Aokiji kemudian menatap Hancock yang berdiri tak jauh di depannya, "Hancock-dono, setelah kita sampai di level 4, bisakah kau meluangkan waktumu sebentar sebelum kita melihat Hiken no Ace untuk bicara empat mata?" Tanya Aokiji dengan mata menyipit.
Momonga, Hannyabal dan Domino hanya menaikkan sebelah alis bingung. "Hm? Apa maksudnya? Aokiji-dono?" Tanya Hannyabal pada Aokiji.
Bukannya menjawab, Aokiji semakin menajamkan pandangan pada Hancock, "Bagaimana?"
Hancock masih memasang wajah datarnya. Berusaha setenang mungkin. Padahal, isi hatinya sangat jauh berbeda dengan ekspresi wajahnya saat ini. Apakah Aokiji sudah tahu tentang Luffy? Apakah dia akan ditangkap? Bagaimana dengan Luffy? Jika benar, tentu saja dia harus menghindari ini! Hancock yang selesai berkutat dengan fikirannya kemudian menatap Aokiji dengan tatapan datarnya, "Maaf, tapi aku tak bisa." Ucapnya.
Aokiji menaikkan alisnya bingung, "Kenapa?"
Hancock tersenyum tipis, "Kau tahu sendiri kan kalau kita sudah dalam masa pra-peperangan? Kita tak bisa membuang-buang waktu hanya untuk pembicaraan empat mata yang tak penting. Dan seperti yang kau tahu juga, aku tak boleh berlama-lama disini karena aku juga harus mengikuti persiapan peperangan di Marineford bersama Sichibukai yang lain." Senyuman Hancock semakin lebar merasa dirinya menang.
Aokiji tersenyum, "Maaf. Tapi, ini juga pembicaraan yang penting. Kalau soal persiapan itu, kurasa aku juga lebih terburu-buru sebagai seorang Admiral daripada kau yang seorang Sichibukai. Dan kurasa, kau memiliki maksud lain sehingga menolak berbicara denganku." Ucap Aokiji.
'Sial!' Rutuk Hancock. Aokiji benar-benar mengetahuinya! Kalau begini, dia wajib menerima ajakannya agar tak dicurigai. Tapi, bagaimana dia melepaskan diri dari Aokiji? Pria itu bukanlah tipikal orang yang mudah terpesona dengan kecantikan wanita, ditambah lagi, kemampuan Mero Mero-nya tidak berfungsi kali ini. 'Sudahlah, pikirkan nanti saja.' Batin Hancock tetap berusaha tenang.
Seluruh pasang mata kini mengarah pada Hancock. Sang Hebihime kemudian memandang Aokiji dengan tatapan yakin, "Kurasa kau ada benarnya. Baiklah. Hanya empat mata." Ucap Hancock.
"Hanya empat mata." Balas Aokiji kemudian melirik kearah Momonga dan Hannyabal, "Bagaimana? Kalian setuju?" Tanya Aokiji.
Hannyabal dan Momonga saling pandang kemudian mengangguk bersamaan, "Baiklah. Jika itu permintaan anda." Ucap Momonga. "Anda bisa memakai ruangan khusus di kantor opsir lantai 4." Tambah Hannyabal.
Aokiji mengangguk, "Terimakasih."
―Χ―
[Impel Down, LV.4 Shōnetsu Jigoku.]
DDDRRRRTTTT!
DEEEKKKGGH!
"Kita sudah sampai."
Setelah lift terhenti di level 4, Hancock, diikuti, Hannyabal, Domino, Momonga dan yang terakhir, Aokiji, keluar dari lift setelah pintu terbuka. Di level 3, mereka sudah cukup merasa kepanasan. Namun, setelah tiba di level 4, mereka sadar kalau panas disini jauh lebih tinggi dari level diatasnya.
Setelah tiba, mereka langsung disuguhkan dengan pemandangan berwarna kemerahan. Merah akibat bara api. Dan, dihadapan mereka juga terdapat tungku raksasa yang berisi cairan kemerahan. Di tengahnya, terdapat sebuah jembatan yang terbuat dari baja melintasi tungku yang sangat panas tadi. Tampak puluhan tahanan sedang melakukan kerja rodi, mengangkat kayu dan melewati jembatan tadi. Asap yang dihasilkan tungku tadi, disalurkan keatas melalui sebuah kipas ventilasi yang langsung menuju level 3.
"Sungguh, penjara yang mengerikan." Gumam Momonga yang dibalas anggukan oleh Hannyabal.
Hannyabal dan Domino kemudian memposisikan diri dihadapan Hancock, Momonga, dan Aokiji. "Kita sudah sampai di level 4. Setelah ini, kita akan berjalan menuju kantor Kepala Opsir Magellan. Lalu, Domino akan mengantarkan Hancock-dono dan Aokiji-dono ke ruangan khusus yang tadi kusebut." Jelas Hannyabal yang dijawab dengan anggukan dari ketiga orang itu.
Selama perjalanan, Aokiji, Hancock, dan Momonga terus melihat kesegala arah. Keringat terus membasahi tubuh. Mereka bisa melihat orang-orang yang mengangkat barang melewati lautan api dalam keadaan yang menyedihkan. Namun, ada juga yang tampaknya tak terlalu terpengaruh dengan penyiksaan disini. Contohnya, sosok yang saat ini dilihat Aokiji. Salah satu anak buah Crocodile, Mr.1 Daz Bonez. Tampak dia menjalankan seluruh hukuman tanpa terpengaruh panas, lelah atau yang lain. Membuktikan daya tahan tubuhnya yang sangat luar biasa.
Tak lama, akhirnya mereka bertemu dengan seorang pria dengan badan tinggi besar. Memakai baju hitam, memiliki tanduk dan sayap pada kepala dan punggungnya. Pria itu bernama Magellan, sang kepala opsir penjara Impel Down.
Magellan melihat kearah orang-orang didepannya. Dia kemudian memperkenalkan dirinya, "Namaku Magellan. Kepala Opsir Penjara Impel Down." Magellan sempat mendapat glare dari seseorang saat mengucapkan itu, "Senang bertemu dengan kalian semua, Hancock-dono, Momonga-dono, Aokiji-dono. Dan, selamat datang di level 4." Magellan mengakhiri sesi perkenalan.
Domino kemudian maju dan memberi hormat pada Magellan. "Kalau begitu, saya meminta ijin untuk memakai ruangan L4-X007 atas nama Admiral Aokiji." Ucap Domino.
Magellan mengangguk. "Ijin diberikan. Kami akan menunggu kalian selama 20 menit. Setelah itu, kita akan berangkat ke level 6." Ujar Magellan.
Domino mengangguk, "Satu lagi, kita mendapat laporan kalau Douke no Buggy, tahanan level 1 melarikan diri dari selnya." Lapornya.
Magellan menghela nafas,―
"BERHENTI MENGHELA NAFAS! NAFASMU TERBUAT DARI RACUN BODOH!" Teriak Hannyabal panik.
Namun dia telat memperingatkan. Racun berhasil keluar sedikit yang membuat orang-orang disitu sedikit batuk, "Baiklah Domino, laporanku sudah kuterima." Ucap Magellan.
"Uhuk! Maaf, kalau begitu, kami permisi dulu." Domino memberi hormat, "Mari, Hancock-dono, Aokiji-dono." Domino kemudian berjalan bersama Aokiji dan Hancock menuju ruangan L4-X007.
―Χ―
[Impel Down, LV.4, Special Room L4-X007.]
Setelah berjalan sebentar, akhirnya Aokiji, Domino dan Hancock tiba didepan sebuah pintu besar. Pintu tersebut terbuat dari besi dan memiliki tulisan L4-X007. Domino kemudian membuka pintu besi itu, "Baiklah, silahkan masuk." Ucapnya.
Setelah Aokiji dan Hancock masuk, Domino langsung memulai penjelasan, "Inilah L4-X007. Ruangan ini biasa digunakan untuk pembicaraan antara Inspektur Magellan dan Wakil Inspektur Hannyabal. Ruangan ini dilengkapi dengan pendingin ruangan sehingga anda tidak akan merasakan efek panas dari level 4." Domino menjelaskan.
Aokiji dan Hancock mengangguk. "Kalau begitu, saya akan menunggu diluar." Ucap Domino kemudian berjalan keluar ruangan lalu menutup pintu tadi.
Didalam…
Disebuah meja ditengah ruangan, Hancock dan Aokiji duduk saling berhadapan. Ruangan ini memang benar-benar dirancang untuk pembicaraan empat mata. Pendingin ruangan disini juga sangat luar biasa, sampai-sampai tak ada rasa panas disini, yang ada hanya rasa sejuk yang sangat menenangkan.
Hancock POV.
Aku melihat Aokiji dengan pandangan tajam, "Jadi, apa yang kau mau!?" Tanyaku ketus.
Aokiji menyeringai membuatku tak nyaman, "Aku ingin membicarakan tentang, Monkey D. Luffy." Aokiji memberikan penekanan pada kata terakhir.
Tubuhku menegang seketika. Aku menunduk, tak berani menatap sang admiral. Dugaanku benar, Aokiji menanyakan perihal Luffy. Tapi, bagaimana Aokiji bisa tahu kalau akulah yang membawa Luffy ke Impel Down. Oh Tuhan, jika kau ada, selamatkanlah aku dari sini!
Jika sudah begini, pasti dia akan langsung menangkapku jika dia tahu kalau akulah yang membawa Luffy kemari. Dan jika begini, Luffy pasti ditangkap karena dia sudah ketahuan. Dan statusku sebagai Sichibukai juga pasti dicabut. Itu berarti, Amazon Lily dalam bahaya!
Aku sudah mengacaukan semuanya..
Minna, Gomenasai.
"Kenapa kau membawa adikku kemari?" Tanya Aokiji memecah lamunanku.
Eh, tunggu dulu…
Adik!?
Hancock POV End.
―Χ―
[Marineford.]
Fred, Charles Fred. Merupakan seorang Vice-Admiral muda bekas didikan dari seorang Admiral legendaris, Zephyr. Dia adalah Vice-Admiral yang dipercaya Sengoku untuk mengatur persenjataan Marine. Mulai dari meriam, senjata tajam, senjata laras sampai kapal perang. Pokoknya, orang yang bertanggung jawab penuh atas persenjataan Marine yang dirancang ilmuan Vegapunk adalah Fred.
Kini, seluruh prajurit Marine disuguhkan oleh pemandangan yang langka. Fred, salah satu Vice-Admiral yang terkenal dengan kepiawaiannya memainkan persenjataan, tengah berlari dengan tergopoh-gopoh di sepanjang koridor Marineford sambil membuka pintu setiap ruangan yang dia temukan, berusaha mencari sahabat seperjuangannya yang kini menjabat sebagai seorang Admiral, Kuzan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Aokiji. Oh! Tak lupa juga dilengkapi dengan rutukan-rutukan seperti : 'Keparat itu.'ditambah dengan rutukan lain seperti, 'Membuatku repot saja.' Yang membuat seluruh prajurit yang memperhatikannya hanya Sweatdrop.
Melihat ke masa lalu, Kuzan dan Fred memang merupakan sahabat dekat. Mereka sudah dekat sejak mereka memulai pelatihan Marine di bawah komando Zephyr. Terkadang, para Marine dibingungkan dengan persahabatan mereka. Bagaimana bisa seseorang yang sangat rajin dan telaten seperti Fred bisa akrab dengan seseorang yang malasnya gak ketulungan seperti Kuzan.
Tapi, memang, itulah yang membuat mereka unik. Bahkan, Zephyr-sensei pun mengakuinya. Mereka saling menutupi kekurangan. Terkadang, Fred selalu mengomel tentang sifat malas Kuzan. Yah, walaupun Kuzan tak pernah mendengarkannya, tapi persahabatan mereka, selalu dan semakin berwarna.
Kembali ke Marineford, beberapa saat kemudian, Fred tiba dibagian toilet. Melihat 2 pintu disana, Fred langsung saja mendobrak pintu dengan tulisan 'MEN'. Masih dalam perasaan kesal, Fred mulai membuka pintu kamar mandi satu persatu. Akhirnya, dia sampai di pintu terakhir. Fred membuka pintu tadi dengan pelan. Saat pintu itu terbuka, Fred langsung menyeringai senang saat apa yang dia cari berada di depan matanya.
Kuzan dengan tidak elitnya tertidur di WC dengan wajah yang tertutupi oleh koran. Dengan bibir yang miring-miring karena menahan amarah, serta perempatan di dahi, Fred langsung mengambil sebuah ember yang berisi air kemudian menyiramkannya ke pria malang itu.
"CEPAT BANGUN KAMPRETTTT!"
BYURR!
" &%#!$...?"
―Χ―
Beberapa menit kemudian, Kuzan dan Fred tiba di ruangan rapat. Setelah basah kuyup akibat disiram Fred, Kuzan menggunakan kemampuan Hie Hie-nya untuk membekukan air yang membasahi tubuhnya lalu menghancurkannya. Jadi, dia tak perlu menahan malu karena basah kuyup sambil berjalan kearah ruangan rapat.
Meskipun begitu, nasib sial masih menggandrungi si pria es. Sepanjang perjalanan dari toilet menuju ruang rapat, Fred tak henti-hentinya ngomel-ngomel gaje pada Kuzan. Tentu seluruh prajurit yang melihat itu kembali dibuat sweatdrop akibat tingkah 2 sahabat yang disegani di Marine ini.
Kembali ke cerita, Sengoku yang melihat kehadiran Kuzan dan Fred langsung memberikan pertanyaan, "Kemana saja kau!?" Tanya Sengoku.
Bukan Kuzan yang menjawab tapi Fred, "Dia tertidur di toilet." Ucap Fred yang langsung membuat para petinggi sweatdrop. Minus Sakazuki yang memandang Kuzan dengan glare. Yah, walau glare Sakazuki tak terlalu dianggap Kuzan.
Sengoku menghela nafas, "Baiklah, karena kau sudah berada di tempat ini, silahkan duduk di tempat kalian masing-masing." Perintah Sengoku, "Rapat kita mulai."
―Χ―
[Impel Down, LV.4, Special Room L4-X007.]
Hancock POV
Kudongakkan kepala menatap Aokiji dengan tatapan bingung. Namun, betapa terkejutnya diriku saat tidak menemukan Aokiji disana. Yang ada hanyalah seorang pria dengan rambut kuning dengan set Tuxedo putih. Tapi, siapa orang ini!?
"Dimana Aokiji? Dan, siapa kau!?" Tanyaku waspada.
Aku bisa melihat pria tadi menyengir. Aku sedikit terkejut saat dia menyengir. Oh! Sungguh sebuah cengiran yang sangat mirip dengan Luffy. "Perkenalkan, namaku Namikaze D. Naruto, kakak dari Monkey D. Luffy." Ucap pria itu memperkenalkan diri. "Dan, yang kau maksud Aokiji, bisa kau bilang itu adalah penyamaranku." Tambahnya lagi sambil tersenyum.
Sial! Kenapa senyuman itu sangat mirip dengan Luffy sih!? Tidak! Hatiku ini hanya untuk Luffy! dia sudah mengucapkan Aishiteru padaku tadi! Berarti sebentar lagi kami akan menikah. Tentu saja aku tidak boleh mengkhianati Luffy. Tapi, tunggu dulu! Apa katanya tadi? Kakak?
"Kakak?" Tanyaku memastikan, "Apa maksudmu dengan kakak?"
Pria itu tertawa, "Hahaha! Yah, seperti yang kau tahu, aku kakaknya Luffy." Ucapnya.
Eh!? Kakak Luffy? Walaupun mereka tidak mirip, tapi aku memang sempat merasakan aura yang sama dengan Luffy saat dia menyengir. Jadi, dia adalah kakaknya Luffy? Hebat juga dia bisa mengetahui kalau akulah yang membawa Luffy. Tapi, bagaimana dia bisa tahu kalau aku yang membawa Luffy kemari?
Aku menghela nafas untuk menenangkan diri, "Baiklah. Memang aku yang membawanya kemari. Dia memintaku untuk membawanya ke Impel Down dengan memanfaatkan posisiku sebagai Sichibukai." Ucapku.
Terlihat kakak Luffy mengusap dagunya dan memasang pose berfikir, "Hm... dia pasti ingin menyelamatkan Ace." Gumamnya pelan walau masih dapat kudengar. "Tapi bagaimana dia bisa tahu tentang eksekusi Ace?" Tanyanya padaku.
Aku hanya tersenyum. Hebat juga dia kebal terhadap pesonaku ini, "Oh, ayolah. Semua orang juga tahu tentang eksekusi Ace!" Ucapku sedikit sarkastik, "Bukankah beritanya sudah tersebar di koran?" Tanyaku padanya.
"Ppffftt.. HUAHAHAHAHAHA!"Bukannya menjawab, kakak Luffy malah tertawa terbahak-bahak, "Jadi, maksudmu Luffy membaca koran, begitu?" Aku mengangguk, "HAHA! Tak kusangka dia mau membaca koran!" Ucapnya.
Memang sih Luffy orangnya tidak terlalu perduli dengan benda kertas penuh tulisan itu. Dia bahkan tak mengetahui apapun tentangku yang sudah terkenal sebagai Kaizoku Jotei. Ternyata, orang ini memang benar-benar kakak Luffy. Dia tahu segala hal tentang pria yang kusukai itu! Ini kesempatan langka!
Aku tersenyum, "Oh, ya! Ngomong-ngomong, bagaimana kau tahu kalau Luffy ikut bersamaku?" Tanyaku berbasa-basi sebelum menyampaikan niat terselubungku.
Pria itu hanya tersenyum tipis, "Dari awal aku melihatmu, aku sudah tahu kalau kau menggendong Luffy dibalik jubahmu. Dan ternyata perkiraanku itu terbukti saat aku melihat Luffy keluar dari ruang pemeriksaan setelah kau selesai diperiksa oleh wanita pirang itu." Ucapnya.
Aku memasang tampang menyelidik yang dibuat-buat, "Aku tidak percaya bahwa kau itu adalah kakaknya Luffy! Jika kau benar-benar kakaknya, coba sebutkan apa saja yang dia sukai!" Tanyaku. YES! Niatku akhirnya dimulai!
Pria tadi tertawa kecil, "Sudahlah, Hebihime.. Kau menyukai adikku kan?" Ukh! Secara spontan badanku mengejang. Sial! Darimana dia tahu!? Seolah bisa membaca pikiranku, dia menjawab, "Aku sudah tahu. Luffy mengatakan Aishiteru padamu tadi kan?" Tanyanya.
Ah, Ya! Luffy, dia mengatakan itu padaku tadi. Oh, rasanya dunia ini bagaikan surga. Tiba-tiba, aku merasakan kakiku lemas. Oh Tuhan, sepertinya aku akan pingsan.
"Tapi aku senang. Setidaknya adikku itu mendapatkan hati wanita cantik." Ucapnya membuyarkan fantasi cintaku.
"Jadi, kau akan mendengarkanku bukan?" Tanyanya. Sontak saja aku langsung berdiri tegap. Aku memegang sebuah buku dan pena. Bersiap mendengarkan hal-hal yang disukai Luffy.
"Baiklah, hal-hal yang disukai oleh Luffy adalah…"
"Maafkan saya, Hancock-dono, Aokiji-dono, tapi waktu kita sudah habis." Tiba-tiba saja Denden Mushi yang berada ditengah-tengah meja bersuara.
"Ah! Maaf ya, mungkin lain kali." Ucap pria tadi yang kini sudah kembali dalam tampilan Aokiji kemudian dia berjalan keluar.
Aku mengepalkan tanganku. Urat-urat mulai menonjol dibagian dahiku. Aura merah pun menguar dari tubuhku. Sialan perempuan itu. Gara-gara dia aku jadi tak tahu apa yang disukai Luffy. Setelah ini, aku akan merubahnya jadi batu, kemudian aku akan memecahkannya, lalu setelah pecah aku akan merubahnya lagi jadi manusia sehingga dia akan kembali dengan kondisi tubuh terpotong-potong!
GGRHHHH!
Hancock POV End.
―Χ―
[Kurama, Beberapa Jam Lalu.]
Naruto memandang lautan Calm Belt yang tak beberapa jauh darinya. Dia sekarang masih berfikir tentang bagaimana cara memasuki Impel Down. Meski 'Kurama' sekarang berbentuk kapal Marine, tetap saja kapalnya tak memiliki lapisan Kairoseki dibawahnya. Nah, jika begitu, sudah pasti para Sea Kings akan mengejarnya. Bukannya Naruto tidak bisa melawan para Sea Kings itu, tapi dia tidak bisa menjamin keselamatan kapalnya.
Kemudian, apabila dia bisa melewati para Sea Kings dengan kapal ini, bagaimana cara dia melewati gerbang keadilan yang merupakan pintu masuk Impel Down? Satu-satunya cara adalah menunggu kapal Marine yang asli sedang dalam kunjungan ke Impel Down. Tapi, apakah ada? Suasana Marine saat ini lagi tegang-tegangnya. Semua pasukan sedang dalam persiapan perang untuk melawan Shirohige-jiji.
Tapi, sepertinya Dewi Fortuna berpihak pada Naruto. Dari kejauhan, Naruto melihat 2 buah kapal berbeda. Menggunakan teropong, Naruto akhirnya dapat melihat 2 kapal tadi. 1 kapal Marine dan 1 kapal bajak laut. Dan dilihat dari arah pergerakan kapal Marine, kapal itu tak ada niat menyerang kapal bajak laut tadi melainkan terus bergerak kearah Impel Down.
"YATTA! Akhirnya keberuntungan berpihak padaku!"
Naruto berteriak kegirangan. Sekarang, dia hanya perlu membawa 'Kurama' kesebelah kapal Marine itu. Jadi, Naruto dapat mengikuti mereka masuk ke Impel Down. Tapi, bagaimana Naruto agar tidak dicurigai? Jika dia sudah bersama kapal Marine itu dan memasuki areal Calm Belt, pasti para Sea Kings akan mengincar Naruto. Para Marine itu pasti akan mencurigai kapal miliknya karena ternyata tak memiliki lapisan Kairoseki. Dan lagi, hanya ada dirinya sendiri dikapal ini! Bukan hanya tampilannya yang tak menandakan kalau dirinya seorang Marine, Naruto juga tak punya anak buah seperti petinggi Marine lain!
Kacau!
Kalau begini, cara untuk memanipulasi 'Kurama' menjadi kapal Marine, GAGAL TOTAL.
Cara kedua.
Bagaimana dengan menyerahkan diri pada kapal Marine itu?
'Tidak.' Batin Naruto pelan.
Ya, Naruto bukanlah seorang kriminal. Tak ada satupun yang tahu kalau dirinya adalah murid dari Akagami no Shanks. Dan lagi, jika dia menyerahkan diri dan dipenjara di Impel Down, itu hanya akan menghambat rencananya menyelamatkan Ace dan alhasil, adiknya itu akan dieksekusi.
KAAKKK!
Saat Naruto tengah memikirkan cara menyusup ke Impel Down, tiba-tiba saja seekor News Coo (Burung camar pengantar surat.) terbang melewati kapalnya dan menjatuhkan sebuah koran. Naruto mendongak keatas melihat koran yang jatuh itu kemudian menangkapnya. Naruto langsung membuka koran dan melihat halaman depannya. Dapat Naruto lihat gambar 3 orang admiral Marine pada halaman depan.
Tiba-tiba saja, sebuah bola lampu komikal muncul dikepala Naruto.
'Aku dapat ide!' Batin Naruto semangat.
Tanpa membuang waktu, Naruto langsung menyatukan kedua tangannya, "Mokuton : Narikawari! (Wood Release : Body Substitution.)."
Dari lantai kapal, muncul puluhan kayu yang langsung membungkus tubuh Naruto. Tak lama, kayu-kayu tadi hilang menampilkan Naruto yang sudah berganti sosok menjadi seorang Aokiji. Naruto, yang kini menjadi sosok Aokiji mengambil sebuah sepeda yang entah dia dapat darimana, lalu mengangkat sepeda itu dan melompat kebawah dimana sudah ada jalur putih disana. Setelah itu, Naruto mengarahkan tapak tangannya kearah 'Kurama'. Dari tangannya, muncul kayu-kayu yang membungkus kapalnya. Lalu, kayu-kayu yang membungkus 'Kurama' tadi menyusut menjadi seukuran bola ping-pong kemudian melesat kearah Naruto. Naruto menangkap bola kayu itu lalu menaruhnya didalam kantong.
"Yosh! Saatnya pergi!"
―Χ―
Setelah kembali dalam rombongan, Magellan, Momonga, Domino, Hannyabal, Naruto (Masih Dalam Penyamaran Aokiji.), dan Hancock langsung melanjutkan perjalanan mereka menuju level 6, tempat dimana Portgas D. Ace ditahan. Sepanjang perjalanan, Magellan dan Hannyabal terus saja mencuri-curi pandang pada Hancock. Tapi, sang Kaizoku Jotei tak memperdulikan hal itu. Dari tadi, dia tak henti-hentinya mengglare Domino, walau tak disadari wanita pirang itu. Naruto yang melihat tingkah Hancock, hanya memutar mata bosan dan memasang tampang tak peduli.
Momonga melirik kesekeliling lorong yang mereka lewati. Dia agak menggigil disini, "Sungguh dingin." Gumamnya.
Domino melirik Momonga kemudian mengangguk, "Yap. Tepat disebelah kita adalah level 5, Gokkan Jigoku. Sesuai dengan julukannya, tempat ini sangat dingin. Bahkan dinginnya masih terasa di tempat ini, walau sudah di halangi oleh dinding tebal." Ucapnya menjelaskan.
Beberapa saat kemudian, mereka mendapati sebuah pintu besar dengan tulisan 'LEVEL 6' diatasnya. Dibalik pintu tersebut, ternyata ada sebuah tangga yang langsung menurun ke level 6. Mereka akhirnya sampai di level 6. Keadaan ditempat ini, sangatlah sunyi dan mencekam.
Hancock, Naruto, dan Momonga terus mengobservasi tempat ini sampai Magellan menginterupsi mereka, "Kita telah sampai di Level 6, Mugen Jigoku." Ucapnya.
Para tahanan level 6 terus memperhatikan rombongan itu dibalik jeruji mereka. Tentu saja, tahanan level 6 yang 99% dari mereka berjenis kelamin laki-laki, langsung berteriak-teriak kegirangan akan kedatangan Hancock.
"WOO! Itukan Kaizoku Jotei, Boa Hancock!?"
"KAWAI DESU NE~!"
Hancock menggeram pelan. Teriakan itu… Hancock sangat membenci teriakan itu. Dimanapun dia berada, pasti selalu mendengar teriakan-teriakan aneh seperti itu. Lain soal kalau di Amazon Lily. Disana, Hancock juga sering mendengar teriakan seperti itu. Tapi, para penduduk Amazon Lily yang menyorakinya tak bermaksud tak senonoh. Mereka meneriaki Hancock dengan rasa hormat dan tujuan menghormati. Lain hal dengan para pria ini, mereka meneriaki dengan maksud menggoda. Hanya satu kata menurut Hancock yang cocok untuk mereka.
Menjijikkan.
Magellan, Domino, Hannyabal, Naruto, Momonga, Hancock, serta beberapa penjaga lain masih berjalan melewati penjara-penjara itu untuk menuju tempat Ace ditahan. Semakin lama, teriakan-teriakan untuk Hancock semakin banyak dan semakin mengganggu. Terselip juga diantara teriakan-teriakan itu hal yang tak sopan. Namun Hancock masih berusaha menahan diri. Walau dia sudah sangat marah, tapi selama belum ada yang mencapai 'batas merah' kesabarannya, Hancock tidak perlu mengamuk.
Tapi tidak untuk yang ini.
"Suit-suit! Sayang, goyangkan bokongmu untuk kami!"
"Kau lebih cantik tanpa pakaian! Tunjukkan kemulusan dan kemolekkan tubuhmu!"
Itu sudah kelewatan.
Hancock yang mendengar itu menunduk dengan muka memerah padam. Dengan cepat, dia langsung merebut pistol yang dipegang salah seorang penjaga penjara kemudian langsung menarik pelatuknya kearah 2 orang yang bicara tak sopan tadi.
DOR! DOR!
2 kriminal tadi langsung tewas dengan kepala yang tertembus timah panas. Seluruh orang membelalakkan matanya akibat tindakan Hancock yang sungguh diluar dugaan. Sontak saja, seluruh teriakan yang beberapa saat lalu terus bergema, terpaksa berhenti akibat suara letupan dari pistol yang digunakan Hancock.
Hancock kemudian melirik Magellan, "Maaf kalau aku membunuh 2 tahananmu." Ucapnya kemudian mengembalikan pistol yang dipegangnya kepada sang pemilik yang masih terbengong ditempat.
Magellan mengeluarkan sebuah buku tahanan kemudian membacanya lalu mengangguk, "Tak apa. 2 tahanan tadi adalah Zonkey Vod dan Xerox Walt. Mereka berdua seharusnya dihukum mati seminggu yang lalu. Jadi, anggap saja yang tadi itu adalah eksekusi mereka." Ucap Magellan kemudian menutup buku tahanannya dan memasukkannya lagi ke balik jasnya. "Dan aku juga minta maaf atas perkataan mereka tadi." Magellan membungkuk dan dibalas anggukan Hancock.
"Lalu, Portgas D. Ace ditahan di sel 6-P135, kita akan segera menuju kesana." Tambah Magellan.
Setelah insiden tak terduga itu, tour menuju sel 6-P135 tak lagi diwarnai dengan teriakan menggoda. Melainkan hanya diwarnai dengan keheningan, bisik-bisik, dan suara langkah tapak kaki.
―Χ―
"Portgas D. Ace, kami punya tamu untukmu!"
Ace mendongak melihat sekumpulan orang didepannya. 2 orang kepala opsir penjara, 2 orang Marine, seorang Sichibukai, dan beberapa opsir penjara. Ace menatap tajam mereka, "Apa yang kalian mau?"
Magellan menatap Hancock, "Jadi, ada yang ingin kau ucapkan padanya?" Tanya Magellan.
Hancock melirik Naruto. Naruto membalas tatapan Hancock dengan tatapan 'aku-yang-akan-memberitahunya' dan dibalas anggukan Hancock, "Aku hanya ingin melihatnya saja. Bagaimana denganmu?" Tanya Hancock pada Naruto.
Naruto mengangguk, "Ya, aku ingin bicara sebentar dengannya. Bisa kalian tinggalkan aku sebentar?" Tanyanya.
Magellan mengangguk, "Baiklah, kami akan kembali ke Level 4. Jika ada sesuatu, silahkan gunakan ini." Ucap Magellan kemudian melempar sebuah Denden Mushi pada Naruto.
"Baiklah."
Setelah melihat orang-orang tadi menjauh, Naruto langsung duduk di depan sel Ace kemudian menatap Ace dengan senyuman.
"Apa maumu brengsek?" Tanya Ace ketus.
"Begitukah caramu menyapa kembali kakakmu setelah sekian lama?"
Ace membelalakkan matanya, "Naruto-niichan?"
To Be Continiue…
And Cut!
Yo! Minna! Gomen Atas Keterlambatan Updatenya, Seperti Yang Saya Bilang Di Chapter 6 Kemarin, Ternyata Saya Benar-Benar Sibuk Di Minggu Pertama Sekolah. Dan Baru Sekarang Sempat Di Update.
Oke, Arc Impel Down Sudah Dimulai. Dan Tampaknya Naruto Akhirnya Berjumpa Dengan Ace! Hahaha! Banyak Yang Bingung Di Chap 6 'Kenapa Naruto Gak Nampil?'. Sebenernya, Naruto Udah Tampil Kok. Hahaha!
Oke, Sampai Disini Dulu, Sampai Jumpa Di Chapter 8!
